Author's Note: OOC yang amat sangat tapi, saya cuma lagi bikin kesan Mello sebagai pangeran iseng dan berjiwa bebas^.^

Chapter 1: Phobia

Mello menguap dan menguap, ia masih duduk di ranjang. Kenapa? Lantaran mami Ridner menyuruhnya. Membosankan sekali... Karena penasaran, Mello akhirnya berdiri dan berjalan menuruni tangga secara perlahan.

"Mello-san!!!!" Dua suara yang nyaris identik berteriak di waktu yang bersamaan.

"HUWAAAA!!!!!!!!" Mello yang lagi mengendap-endap di tangga langsung jatuh dengan kepala duluan... Ia melihat kebelakang untuk menemui dua pelayan setianya, L dan B. "FUCK YOU!!!" L dan B adalah anak kembar, hanya mata mereka saja yang berbeda warnanya. Mereka memang aneh, tiba-tiba bisa muncul dan meneriakan nama Mello yang lagi bengong, nguping atau mengendap-endap, menyebabkan ia jatuh terjungkang.

"Mello-san, bukannya Ridner-sama menyuruh kamu diam di kamar?" Oh, sekedar informasi, L dan B adalah dua orang pelayan spesial yang diberi ijin untuk memanggil Mello dengan 'kamu'.

"Tapi aku penasaran! Maksudku, ada pangeran kan? Aku ingin melihat seperti apa orangnya!"

"Akh, percuma sajalah..."

"Percuma apanya?! Siapa tau dia memang pria idamanku?!"

"Percuma saja melihatnya, Mello-san... Pangeran yang satu ini bukan orang murahan. Dia terkenal tidak pernah jatuh cinta, orangnya juga penyendiri. Tidak ada yang mengetahui sifatnya. Dia juga imut, sayang sekali kalau tampangnya disia-siakan dengan orang kasar sepertimu… Err, maksud kami…"

"Diam kalian! Aku tetap mau kesana!"

"Kami akan laporkan ke Ridner-sama loh."

"Kalian tidak bisa." Mello tersenyum tiba-tiba, senyuman yang mengerikan. "Kalian tidak akan berani..." Ia mengeluarkan sesuatu di kantong celananya. Selembar foto. Melihat foto itu, L dan B langsung berteriak.

"HIEEEE!!! BAGAIMANA KAMU BISA DAPET FOTO ITU, MELLO-SAN?!?!"

"Mudaaaah. Kalian terlalu keras tau! Kalau kalian memberitahu ini kepada mami, aku akan beberkan foto ini ke seluruh rumah." Ia menunjuk-nunjuk foto B dan L yang lagi berciuman dengan badan yang telanjang.

"Y-ya! Kami akan... menjaga ini sebagai rahasia!!! Tapi berikan kami foto itu!!"

"BLEEEEHH!!!!" Mello menjulurkan lidahnya dan loncat ke bawah dari lantai dua, mendarat mulus dan kabur. "COME AND GET IT!!!"

"MELLO-SAN!!!!!!" Dengan cepat, mereka mengejar Mello. Mello berlari ke belakang taman, melewati gunung dan lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman, bertualaaaannggg... (APAAN SIH?!)

Kaki Mello sudah terlatih. Dalam waktu yang singkat, ia dapat memanjat tembok istananya dan mengambil beberapa penghapus sebelum menyambiti B dan L dibawah yang ngga bisa-bisa manjatnya. Lalu, ia meloncat kebawah lagi, memutar badannya dan mulai berlari. Kali ini, ia berjalan melewati taman bunga. Ia merentangkan tangannya untuk mengambil banyak sekali bunga-bunga kecil yang bisa menyangkut di pakaian bila dilempar (tadi saya main bunga ini disekolah XD). Mello berbalik, melihat B dan L masih mengejar. Sambil tertawa, ia melempar semua bunga itu, mereka berteriak kaget, namun, teriakan tidak menyelamatkan mereka dari bunga yang menyangkut di rambut dan baju putih mereka.

Kali ini, Mello mengambil rute di mana kolam ikan berada. Tiba-tiba ia terjatuh dan B serta L meloncat untuk menangkap Mello namun, Mello melakukan koprol, membuat mereka tercebur di kolam. "HAHAHA!!!" Tawanya. "HAHAHAHAHAHAHAHA!!!!! KALIAN DILAPISI BUNGA BEGITU!!!"

"MELLO-SAN!!!!!" Mereka menggeram marah namun, akhirnya menghela napas.

"Menyerah? Aku kan hanya bercanda. Jangan laporkan mami ya." Ia melempar foto haram itu ketika seekor burung sedang terbang di antara mereka. Alhasil, burung itu bercicit kaget dan nge-rem.

SKIIIIIDDDD (HAH?!)

Burung tersebut jatuh ke tanah dengan darah keluar dari hidung... Walah, burung bisa mimisan juga... Burung bokep dasar.

Mello berjalan kembali menuju istana sementara B dan L sedang mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api dan membakar foto itu (bukannya bisa bakar di dalem aja yah?). Ia merapikan rambutnya dan berjalan masuk dan mengintip. Matanya terbuka cukup besar, membuat tikus kabur (LOH?). Ya ampun, ternyata pangeran yang ini… tampan sekali… Rambutnya berwarna merah terang, sepertinya bukan di cat, sangat menawan. Rambut pangeran itu sudah melebihi kemauan Mello. Ketika ia menjilat bibirnya yang mungkin kering… SEKSI!!! Mello udah ngeblush geje layaknya fujoshi. Matanya, matanya!! Andai saja ia bisa melihat mata orang ini..!! Mello membungkukan tubuhnya lebih lagi. Sedikit lagi, sedikit lagi… mousukoshi… MOUSUKOSHIIIII!!!!!!!!!!!

BRAK

Mello jatoh. Otomatis, semua orang di meja melihatnya. Ada papih, mamih, ayah pangeran tampan itu dan sang pangeran menawan yang sangat ganteng, cool, kakkoi dan perfect di mata Mello. Eh tunggu! Kok si pangeran ga ngeliat Mello sih?! Abis ngelirik sebentar, dia langung nengok ke tempat semula lagi! Dasar jutek! Dan cool… Mello ngeblush lagi.

"Mello! Kamu ngapain disitu?! Dasar bandel, udah mamih bilang kamu harus diem di kamar! Anak nakal!" Mami Ridner berjalan ke arah Mello dan menjewer kupingnya.

"Adoh mamih, sakiiiitt!! Mangap deh mih!! Abisnya Mello kan penasaran siapa tamu kita!"

"Kamu ini! Bandel sekali! Ngga ada coklat selama satu hari!"

"APAH?!" Bersamaan dengan itu, petir menggelegar di depan dan hujan turun deras, mematikan api unggun L dan B yng akhirnya nyala… YAH! Fotonya belon kebakar! Sial! "MAMIH! AMBIL APAPUN DARI PADAKU TAPI COKLATKU, MIIIIHH!!!" Mello berlutut. Kalo udah masalah coklat, anak yang satu ini rela harga dirinya hancur berkeping-keping.

"I-Iya, Ridner-san, jangan begitu sama Mello…" Pangeran kuda putihnya Mello tersenyum.

OEMJIH!!! Seketika itu juga, hujan reda dan matahari bersinar kembali… L dan B marah-marah.

"Baiklah kalau Matt-kun yang meminta…" Ridner ketawa-ketiwi geje. "Mello! Kamu tidak boleh seperti itu lagi!" Ketika menengok untuk menasihati Mello, putra tercintanya itu telah raib hilang dari hadapannya.

"Namaku Mello!" Ia memegang tangan si pangeran kuda putih aka pangkuti dan menggoyangkannya ke atas dan bawah dengan cepat. Tiba-tiba, keringat bermunculan di wajah sang pangkuti.

"A-aku Matt." Katanya cepat sebelum menarik tangannya kembali dan membuang mukanya dari Mello.

"Senang berkenalan denganmu!"

"Y-ya…" Suaranya bergetar.

"Mello, kamu ada date kan sama Near!" Ridner mengingatkannya.

"HALAH! Si albino itu mah biar nge-date sendiri ajah!" Mello langsung berkata ketus.

"Mello!"

"Iya, mamih…" Si blonde itu berjalan dengan terseok-seok. Sampe-sampe badannya di bawah, layaknya dokter ngesot (O.O).

Ketika Mello pergi, Matt mengusap keringat dinginnya dan mengelap tangan yang dijabat oleh Mello. Wajar, Matt itu… fobia sama blonde!! Jadi dulunya, ketika ia berumur 15 tahun, ia pernah bersahabat dengan seorang gadis blonde namun, ternyata sang gadis adalah seorang penipu, ia hanya mendekati Matt karena hartanya saja, saudara-saudara! Alhasil, ia yang sudah jatuh cinta kepada cewek tersebut langsung patah hati dan nangis semalem suntuk di kamar sambil maen game (?). Dia langsung menamatkan Fire Emblem 7 yang Hector Hard Mode dalam 1 jam saja dan mendapat rank S pula… (saya sih butuh satu bulan tanpa cheat, itu aja jedotin kepala ke tembok dulu O.O) Karena masih depresi, ia terus menangis sambil maen Tale of the Abyss yang juga tamat dalam 2 jam saja… Sejak saat itu, ia tidak bisa dekat-dekat dengan blonde!

Matt adalah anak yang pintar. Pengetahuannya selangit sementara pengetahuan Mello se-galaksi dan pengetahuan Near se-surga dan neraka. Meskipun begitu, Matt malasnya setengah mati! Tapi otak fotografi yah susah deh. Udah pinter pinter aja…

Tunggu, kita udah keluar dari cerita sebenarnya. Kesimpulannya adalah:

Matt fobia sama orang blonde

Yup, mamih Ridner juga blonde, makanya Matt jaga jarak dan sebisa mungkin ngga bertatap mata. Tunggu, papih Rester juga blonde! Kasian Matt…

Mello berjalan-jalan di belakang taman, ia benar-benar menyukai Matt! Pikirannya tidak bisa berpaling dari Matt seorang! Arh, tampan sekali kau pangeran dari kerajaan Emperium! Mello masih daydream tentang pangerannya itu ketika ia tersandung sesuatu dan kecebur ke kolam dan air muncrat kemana-mana. Ketika ia mau marah-marah, ternyata ia tersandung kaki L yang masih saja duduk bersama B untuk membuat api unggun! Kasian amat sih.

"Jah! Mati lagi!" Mereka berteriak kesal.

"Sialan kalian! Lihat aku jadi basah gini!!" Mello menunjuk-nunjuk bajunya.

"Mello, kamu sedang apa di kolam?" Suara misterius yang sudah tak asing itu terdengar.

"Argh, here we go again." Cibirnya.

TBC? :3