#avii-chan
.
.
.
.
Ini Perintah!
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
"Hinata, bagaimana keadaan sekolahmu?" tanya Hiashi pada Hinata.
"Biasa aja, yah,"
Perlu diketahui, Hinata adalah anak dari pemilik sekaligus Direktur dari Perusahaan Tambang paling besar dan ternama di negara Jepang. Hidup mereka sangat bercukupan.
Hinata bersekolah di sekolah elit yang semua muridnya adalah keturunan orang kaya. Berbeda dengan Sasuke yang bersekolah di sekolah biasa namun sekolahnya dikenal memiliki murid-murid berprestasi di bidang akademik maupun non akademik. Jadi jika kita bandingkan, sekolah Hinata memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan diisi oleh murid-murid kelas atas. Sedangkan sekolah Sasuke memiliki prestasi yang tinggi namun diisi oleh murid-murid dari kalangan biasa.
"Bagaimana nilaimu? Masih yang terbaik?" tanya Hiashi lagi.
"Sekolahku bukan sekolah Sasuke-kun, ayah. Tidak ada murid pintar di sekolahku, wajar saja bila nilaiku yang terbaik terus," jawab Hinata dengan muka datar. Ia memang kurang puas dengan sekolahnya yang sekarang. Walaupun orang-orang akan iri habis-habisan jika mereka mengetahui bahwa Hinata bersekolah di sekolah yang nomor 1 fasilitasnya tapi Hinata malah berharap bisa terlepas dari sekolah tersebut. Baginya, apa serunya sekolah jika tanpa belajar pun ia akan mendapat peringkat pertama. Sama saja seperti buang-buang waktu.
30 menit pun berlalu. Setelah puas menonton tv, Hinata pun bangkit dari tempat duduknya lalu mengucapkan selamat malam pada ayahnya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai 2. Sebelum menaiki tangga, ayahnya memanggilnya.
"Hinata,"
Hinata mendengar namanya dipanggil lalu menghadap ke ayahnya.
"Iya, ayah?"
"Bersekolahlah di sekolah Sasuke,"
1 detik..
2 detik..
3 detik..
"Ehh?!" Hinata shok. Walaupun ia memang berharap bisa bersama dengan Sasuke terus, ia tidak pernah membayangkan jika mereka bersekolah di sekolah yang sama.
"Apa kamu mau? Sekolah Sasuke memang tidak sebagus sekolahmu yang sekarang, tapi ayah yakin masa depanmu akan lebih terjamin jika kau bersekolah di sana. Selain itu, ayah jadi lebih lega dan tidak khawatir padamu karena ada Sasuke yang bisa menjagamu," jelas Hiashi panjang lebar. Ia memang sudah memikirkan ide ini sejak beberapa bulan terakhir.
Karena lawan bicaranya masih diam dan belum membalas perkataannya, Hiashi pun melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kalau kau tidak mau-"
"Aku mau, ayah! Kapan aku bisa masuk sekolah?"
.
.
.
.
.
.
.
"Sasuke-kun,"
"Iya, nona?"
"Bagaimana keadaan sekolahmu?"
"Hn?" Sasuke bingung. Ini pertama kalinya Hinata menanyakan keadaan sekolahnya.
"Baik-baik saja, nona," jawab Sasuke singkat, padat, jelas.
"Bukan itu," ujar Hinata sambil menunggu jawaban Sasuke berikutnya. Melihat Sasuke yang bingung dengan pertanyaannya. Hinata pun lanjut berbicara.
"Sudahlah. Oh iya, besok pagi kau tidak perlu datang membantuku merapikan rambutku," kata Hinata sambil tersenyum-senyum.
"Hn? Kenapa?" tanya Sasuke curiga dengan Hinata yang sejak tadi tidak menghentikan senyumannya.
"Tidak apa, "
"Apa ada masalah pada sekolah nona?" tanya Sasuke karena ia merasa ada yang tidak beres pada Hinata. Biasa Hinata sudah tidur jam segini, tapi hari ini ia malah mengajak Sasuke berbicara lebih lama dari biasanya. Selain itu, hal dibicarakan juga tidak seperti biasanya. Dan ini yang paling parah, Hinata meminta agar Sasuke tidak usah datang merapikan rambutnya besok pagi. Selama ini Hinata tidak pernah merapikan rambutnya sendiri. Ia memang pernah memcoba merapikan rambutnya, tapi alhasil rambutnya harus dipotong 5 cm gara-gara kekeringan.
"Sekolahku?" Hinata agak kaget dengan pertanyaan Sasuke namun dengan tanpa mengubah ekspresi wajahnya, ia langsung melanjutkan kalimatnya, "Biasa saja,"
Sasuke kembali mengernyitkan alisnya. Melihat tingkat Sasuke, Hinata cepat-cepat menyelesaikan pembicaraan mereka sebelum makhluk jenius itu tau apa yang ada dipikirkan Hinata.
"Aku sudah mau tidur. Selamat malam, Sasuke-kun," kata Hinata dan langsung membungkusi tubuhnya dengan selimut, seperti biasa.
Sasuke yang melihat Hinata tiba-tiba mengucapkan selamat malam pun semakin bingung. Ia tak mau Hinata banyak pikir karena hal itu bisa mengganggu kesehatan Hinata.
"Sekolahku juga seperti biasa, nona. Aku menikmatinya, kok," Hinata yang mendengar ucapan Sasuke kembali tersenyum, walaupun Sasuke tidak bisa melihat senyuman manisnya tersebut.
"Andai saja nona juga bisa menikmatinya,"
nona. juga. bisa. menikmatinya.
"Ehh?!" Hinata terbangun dari tempat tidurnya. Wajahnya memerah setelah mendengar ucapan Sasuke barusan. Tanpa ia sadari keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Ia lalu menatap Sasuke. Apa Sasuke tidak tau efek ucapannya pada Hinata.
"Ehh?!" Sasuke kaget dengan reaksi Hinata. Ia baru sadar akan hal yang dia ucapkan. Ia mulai salah tingkah. Perlahan tapi pasti wajahnya juga ikut memerah. Sebelum wajahnya meledak, ia pun berniat untuk segera menjelaskan ucapannya dan meninggalkan kamar Hinata.
"Maksud saya, mm, semoga nona menikmati sekolah nona juga. Selamat malam," kata Sasuke lalu dalam sekejap meninggalkan kamar Hinata.
'Hampir saja,' batin Sasuke di luar kamar Hinata.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke POV
Hari ini aku bangun lebih lama dari biasanya. Tapi masih ada sisa waktu setengah jam sebelum aku berangkat sekolah.
Biasanya pada jam segini, aku sudah sampai di mansion Hyuga dan sedang merapikan rambut Hinata. Namun hari ini ia menyuruhku untuk tidak datang. Aneh-aneh sana dia. Sudahlah, kuharap rambutnya baik-baik saja.
Lebih baik aku langsung ke sekolah saja daripada mikirin yang tidak-tidak.
.
.
.
.
.
.
.
"Yo, teme!" suara yang tidak asing itu masuk ke telinga Sasuke.
"Hn," gumam Sasuke seperti biasa, lalu melanjutkan kalimatnya, "Tumben kau baru datang?"
"Hn? Bukan aku yang terlambat datang, kau yang datang lebih awal, teme," sahut Naruto sambil melingkari tangannya di bahu Sasuke lalu berseringai.
"Apa kau datang awal karena berita itu?" tanya Naruto sambil memasang muka jahil.
Sasuke mengernyitkan alisnya, "Berita apa?"
"Kau tidak tau? Di kelasmu akan ada murid baru dan kau tidak tau?" sahut Naruto setengah berteriak. Ia yang tidak sekelas dengan Sasuke saja tau.
"Hn? Iya? Aku baru mendengarnya," ujar Sasuke datar lalu melanjutkan perjalanan ke kelasnya, meninggalkan Naruto yang heran padanya.
'Ckck.. Teme, sebenarnya otak jeniusmu itu kau gunakan untuk apa saja, sih?'
.
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain..
"Hinata-sama, ada apa dengan rambut anda?" kata Kakashi, supir pribadi keluarga Hyuga yang melihat Hinata mengikat satu rambutnya dengan asal-asalan.
"Aku mencoba untuk mengeritingkannya seperti yang biasa Sasuke-kun lakukan. Tapi ada yang aneh, sepertinya alatnya rusak. Jadi kuikat saja dulu,"
"Oh.. Apa kita langsung berangkat ke sekolah, Hinata-sama?" kata Kakashi sambil membukakan pintu mobil untuk Hinata.
"Ke rumah Yamanaka dulu, ia akan menata rambutku,"
"Hn? Tumben anda sampai menyuruh Yamanaka-san membantu anda menata rambut," kata Kakashi yang dibalas dengan senyuman lembut Hinata.
'Karena aku tidak mau Sasuke-kun melihatku berantakan,' batin Hinata sambil terus tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
"Woi.. Woi.. Kurenai-sensei sudah datang! Duduk! Duduk!"
Pagi ini suasana kelas XI IPA-1 Konoha Senior High School lebih bising dari biasanya. Kiba yang sejak tadi berlarian mengejar anjingnya, Choji yang tiba-tiba saja lari menuju ke kantin walaupun bel sudah berbunyi, Naruto dari kelas XI IPA-2 yang masih saja berkeliaran di sana dan belum kembali ke kelasnya.
"XI IPA-1! Tertib!" teriak Kurenai. Dan alhasil dalam sekejap, tidak ada lagi suara yang dikeluarkan dari semua penduduk XI IPA-1, termasuk Naruto yang diam-diam duduk di belakang Sasuke, bermaksud menyembunyikan diri dari Kurenai.
"Seperti yang sudah kalian ketahui, hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Ia pindahan dari Konoha International School. Jadi bantulah dia dalam beradaptasi," kata Kurenai.
Kelas yang semula sudah hening mendadak menjadi bising lagi. Tidak ada yang menyangka bahwa anak baru itu adalah pindahan dari sekolah mahal.
"Konoha International School?!"
"Apa tidak salah?!"
"Orang kaya dong?!"
"Tapi kenapa dia pindah ke sini?!"
"Ngomong-ngomong dia cewek atau cowok?"
Semua murid mengeluarkan pendapatnya. Ada yang merasa aneh. Ada yang senang. Ada yang bingung. Ada yang lebih bingung lagi. Tidak terkecuali Sasuke.
'Konoha International School?! Hinata?!' batinnya.
"Silakan masuk," kata Kurenai sambil melihat ke luar pintu, mempersilahkan murid baru itu masuk.
Kelas kembali diam. Murid perempuan memandangi murid baru tersebut dengan kagum. Sedangkan murid laki-laki tengah berbunga-bunga melihat murid baru tersebut.
Kulitnya putih. Rambutnya panjang bergelombang. Matanya menunjukkan kelembutan. Wajahnya juga sangat menawan.
"Cantiknya," kata beberapa murid perempuan.
"Silakan perkenalkan dirimu," kata Kurenai pada murid baru itu.
"Namaku Hyu-"
"Nona?!" sahut Sasuke dengan suara yang cukup keras namun ia segera membungkam mulutnya sendiri. Untung saja orang-orang masih sibuk mengagumi Hinata, bisa gawat kalau orang-orang tau apa yang barusan ia katakan. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi. 'Kenapa dia ada di sini?'
"Sasuke-kun," kata Hinata sambil memasang senyumannya. Walaupun senyumannya itu ditujukan pada Sasuke, murid laki-laki yang melihatnya pun bisa mudah meleleh.
"Dia memanggil namamu, teme. Kau mengenalnya?" bisik Naruto pada Sasuke. Yang dibisiki hanya diam saja tanpa memandang Naruto. Masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Kalau kau mengenalnya, sampaikan salam dariku pada dia, ok?" bisik Naruto tanpa merasakan aura buruk mengelilinginya akibat ucapannya barusan.
"Namaku Hyuga Hinata. Aku pindahan dari Konoha International School. Salam kenal, semuanya,"
"HYUGA!?" satu kelas shok.
'Bisa gawat,' batin Sasuke setelah melihat reaksi teman-teman sekelasnya.
"Hyuga, duduklah di..." Kurenai tengah sibuk mencari tempat duduk untuk Hinata. Lalu..
"Uzumaki! Apa yang kau lakukan di sini? Kembali ke kelasmu! teriaknya pada Naruto yang pada akhirnya ketahuan.
"Maaf sensei," kata Naruto sambil tertawa tanpa rasa bersalah.
"Aku cabut dulu, teme," bisiknya pada Sasuke lalu lari ke kelasnya sebelum diteriaki Kurenai untuk kedua kalinya.
"Duduklah di bangku itu," kata Kurenai sambil menunjuk ke kursi yang baru saja ditinggali Naruto. Kursi di belakang Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
"Nona," Sasuke memanggil Hinata.
Kurenai baru saja meninggalkan kelas, pertanda jam istirahat sudah tiba. Jadi ini saatnya Sasuke menginterogasi Hinata. Tidak peduli bahwa mereka sudah menjadi pusat perhatian kelas dalam sekejap.
"Kenapa nona bisa bersekolah di sini?" tanya Sasuke tanpa basa-basi.
"Aku yang salah dengar atau memang Sasuke-kun memanggil anak baru itu dengan sebutan nona?" bisik beberapa murid perempuan yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Ini anjuran ayah, Sasuke-kun. Dan panggilah aku Hinata. Status kita sekarang adalah teman sekelas,"
Sasuke tidak habis pikir. Mengapa Hiashi menyekolahkan Hinata di sini. Hinata sudah terbiasa bersekolah di sekolah mewah. Pasti akan susah baginya untuk beradaptasi dengan sekolah barunya.
Di sini tidak ada lift, tidak ada eskalator, tidak ada kolam berenang, tidak ada restoran. Tidak seperti Konoha International School yang serba ada. Dan lagi, Hinata menyuruhnya untuk tidak menggunakan panggilan nona. Mana bisa ia lakukan. Sudah 7 tahun sejak terakhir kali Sasuke menyebut nama Hinata. Selain itu di sekolah ini kan...
"Sasuke-kun!" teriak seorang murid perempuan yang tiba-tiba datang lalu duduk di meja Hinata agar Sasuke dan Hinata tidak dapat saling berpandangan.
'Sial..' batin Sasuke. Hal yang ia khawatirkan sudah tiba.
"Sasuke-kun, jangan berselingkuh di hadapanku!" ujar murid berkacamata itu dengan centil.
"Minggir, Karin. Aku sedang berbicara," kata Sasuke yang sangat terganggu dengan kehadiran penggemarnya yang satu ini.
"Oh, jadi kau si Hyuga itu. Kuperingatkan ya, walaupun kuakui kau cantik, tapi takkan kuserahkan Sasuke-kun padamu," kata Karin sambil memandangi Hinata.
Wajar saja Karin cemburu. Karin adalah salah satu dari ratusan penggemar Sasuke di sekolahnya. Dan dari apa yang dia dengar, ada murid baru di kelas Sasuke yang memanggil Sasuke dengan nama kecilnya. 'Padahal hari ini masih hari pertamanya, tapi kenapa ia sedekat ini dengan Sasuke-kun?'
Hinata bingung. Ini pertama kalinya ada orang yang duduk di mejanya dan memperingatinya. 'Apa yang dikatakan dia?' batin Hinata yang tidak bisa mencerna perkataan Karin.
"Hinata, ikut aku," kata Sasuke lalu langsung menarik tangan Hinata dan membawa Hinata ke tempat yang lebih sepi, mengabaikan Karin dan murid-murid lain yang tengah memandangi mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Hinata POV
Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa mendengar Sasuke-kun memanggilku "Hinata", bukan "Nona". Saat ia menarikku keluar dari kelas, banyak sekali murid perempuan yang memandanginya dan menyebut-nyebut namanya. Aku baru tau bahwa Sasuke-kun adalah murid populer di sekolahnya. Bisa dikatakan dia adalah idola di sekolah ini.
Memang tidak heran sih. Dari yang aku dengar dari ayah, Sasuke-kun selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Padahal kegiatan sehari-harinya adalah mengurusiku. Terkadang aku sampai lupa bahwa Sasuke-kun masih seorang pelajar, mungkin karena aku tidak pernah melihatnya belajar. Selain itu, dia memiliki figur tubuh yang sempurna dan wajah yang sangat tampan. Wajar saja tidak ada murid perempuan yang bisa mengabaikannya.
Setelah berlarian selama beberapa menit, akhirnya Sasuke melepaskan tanganku. Saat kusadari, kami sudah berada di atap sekolah. Ini pertama kalinya aku berada di tempat seperti begini. Aku tidak dapat menemukan tempat seperti ini di sekolah lamaku. Memang tempat ini tidak begitu bersih, ada beberapa meja dan kursi rusak yang diletakkan asal-asalan, ada genangan air di sudut ruangan, ada beberapa vas bunga besar yang ditanam tanaman hias. Pagar pembatasnya pun sudah karatan.
Setelah puas melihat-lihat, aku balik memandangi Sasuke-kun. Ia nampak kelelahan setelah berlari-lari. Ia duduk di lantai tanpa peduli debu-debu yang menempel di lantai. Aku tidak tau apakah aku juga bisa duduk di tempat begini. Aku pun memilih jongkok di samping Sasuke-kun. Setelah nafasnya stabil, ia pun akhirnya membuka pembicaraan.
"Apa kau tidak apa-apa bersekolah di sini?" tanyanya padaku namun yang ditatapnya bukan aku, melainkan langit.
"Hm, aku akan berusaha menyesuaikan diri," ujarku dengan percaya diri agar tidak membuat Sasuke-kun khawatir.
Diam-diam kulirik Sasuke-kun. Ternyata ia sudah tidak memandangi langit. Ia sedang memandangiku. Kuharap wajahku yang panas ini tidak memerah.
"Semua murid di sini sudah tau bahwa kau adalah keturunan Hyuga. Karena itu, berhati-hatilah dalam bergaul. Aku tidak mau kau bergaul dengan orang sembarangan. Dan kalau ada hal yang tidak kau pahami, kau boleh meminta bantuanku, Hinata," kata pemilik wajah datar.
Ia mengkhawatirkanku? Tidak. Tidak. Mungkin ia merasa bertanggung jawab padaku karena hanya ia yang kukenal di sekolah ini. Betul, betul, pasti begitu.
Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang berbeda pada Sasuke-kun yang duduk di sebelahku saat ini. Ia tidak lagi memanggilku "nona", tidak lagi menyebut dirinya dengan "saya". Ia memanggilku "Hinata", bahkan ia tidak lagi menggunakan "anda", melainkan "kau". Menyebutkan dirinya dengan panggilan "aku".
Aku sadar, Sasuke-kun yang 7 tahun lalu, sedang berada di sampingku.
Aku senang.
.
.
.
.
to be continue...
.
.
.
.
.
.
.
saia balik lagi dengan second chapter. makasi buat:
- Author tanpa nama-san yang udah koreksi typo saia, saia bakal lebih hati-hati lagi senpai ^0^ salam kenal juga, makasi banget ya!
- Po-san, yosh ini update-an nya. makasi udah bersedia ngereview ya!
- Mamoka-san, makasi udah ngedukung fic ini ya, ini update-an! makasi juga udah review, ini buat saia seneng banget (^0^)/
- hime namikaze-san yang udah ngefav fic ini, makasi banget ya! ^3^
yosh bagaimana pendapat reader tentang chapter 2 ini? btw ini sudah cukup panjang belum?
review sangat ditunggu~! Arigatou \(^0^)/
.
.
.
.
#avii-chan
