Sebagai calon mata-mata, aku sudah menghadapi cukup banyak hal menyeramkan. Tapi kurasa inilah yang paling menyeramkan—walau ini juga agak...menyenangkan.
Hari ini aku datang ke latihan pagi klub American football, memulai tugas manajer pertamaku. Saat aku datang, mereka sedang melakukan lari-lari keliling lapangan, dan aku melihat si anak monyet dari kelas 1—bukannya dia klub baseball?
"Heii, semua," sapaku riang. Orang-orang yang ada di lapangan tersenyum dan menyapa balik. Aku melihat Sena, Kurita, anak monyet dari kelas 1, dan... Hiruma.
PRO DAN KONTRA MENJADI MANAJER KLUB AMEFUTO KETIKA KAPTENNYA ADALAH SETAN DARI NERAKA LAPIS 7
Daftar oleh: Mamori Anezaki
Pro: Kau lebih mudah mengawasi Sena.
Kontra: Kau lebih sulit mengawasi Sena di luar kelas karena tugas dari Hiruma—dan sekolah— banyak sekali.
Pro: Sebenarnya aku memang butuh sedikit kecepatan kerja.
Kontra: Tapi yang kudapat kecepatan-kerja-super-cepat-kalau-lambat-pantatku-bolong-kena-tembak-dan-aku-benar benar-nggak mau-pantatku-diperiksa-oleh-patologi-forensik.
Pro: Kenalanku bertambah banyak.
Kontra: Musuhku bertambah satu.
Pro: Aku akan mengakuinya—bau kopi hitam itu memang enak, meskipun tidak seenak rasanya.
Kontra: Sulit sekali menahan diri menaruh CHCI3—kloroform—racikan sendiri di kopi Hiruma.
Pro: Kadang Kurita membeli kue sus. Dalam jumlah banyak.
Kontra: Dan Hiruma membeli senjata. Dalam jumlah lebih banyak.
Pro: Kau lebih dari seorang manajer biasa.
Kontra: Nggak ada yang tahu itu dan kau nggak bisa memberitahu mereka.
Kau bisa lihat bagaimana Hiruma seakan-akan jadi akar semua masalahku (kecuali yang terakhir, tapi...kau tahu maksudku). Aku benar-benar nggak mengerti kenapa orang sebengis itu bisa ada di dunia ini—akhir-akhir ini aku melakukan perbandingan antara Youichi Hiruma dan Adolf Hitler, omong-omong.
Saat aku menuliskan 'pro-dan-kontra-menjadi-manajer-klub-football', Sanae berada tepat disebelahku, dan ia terus memperhatikanku menulis. Matanya selalu melebar kalau aku mulai menulis kata "Hiruma".
"Kau naksir dia?" tanyanya. Aku memutar bola mata. "Nggak! Kalaupun aku suka padanya, pasti aku akan sengsara setengah mati. Kalaupun kami sampai menikah dalam sebulan juga akan cerai. Bukan, bukan sebulan—kurang dari seminggu! Atau saat resepsi aku akan lari ke pengadilan dan mengajukan surat cerai. Ya, kurang lebih begitu."
Sanae menatapku. "Manusia berbicara lebih banyak kalau apa yang dikatakannya tak sesuai dengan pikirannya."
Sanae sudah menceritakan macam-macam padaku, dan aku selalu tahu kalau dia berbohong. Aku tahu dia bohong soal pernah ke Namibia dan memantu orangtuanya mengekspos sekitar 30 jaringan narkoba, tapi dia nggak bohong soal menang duel tangan kosong lawan seorang pedagang senjata ilegal di Kairo. Aku sama sekali nggak berpikir bahwa dia bisa saja melakukan hal yang sama padaku—membuka kebohonganku kapan saja. Ah, kenapa aku bodoh sekali?
"Kau tahu," katanya lagi, "Aku pernah bertemu anak di Rwanda yang berbohong jauh lebih baik darimu. Oh, dan dia bahkan nggak bisa berbicara."
Matanya mengatakan bahwa dia nggak bohong.
Aku menghela nafas. "Tapi aku nggak bohong soal aku nggak naksir dia."
Sanae hanya menyeringai. "Soon, Mamori, very soon."
Sore ini pelajaran olahraga hanya diikuti cewek-cewek karena para cowok diberikan materi lain.
"Menyamar," bisikku pada Sanae, saat ia sedang berlatih tendangan samping metode Rodriguez. Ia berhenti melakukannya dan melempar dirinya ke matras di sebelahku.
"Kita nggak bisa pamer di sekolah mata-mata, karena semua orang disana juga bisa melakukan apa yang kita bisa," kata Sanae, "Dan kalau kita pamer keahlian mata-mata di sekolah biasa...tahu kan."
"Kalau begitu jangan pamer." kataku. Eits, jangan salah—karena jujur saja, sebenarnya aku memang selalu gatal untuk menunjukkan keahlianku. Apalagi di depan Hiruma.
Ah. Hiruma. Orang itu lagi. Kenapa sih aku selalu memikirkannya? Sinetron banget. Aku nggak mau di akhir cerita, kami bakal berciuman, pacaran dan punya tiga anak keesokan harinya. (Apa katamu, aku melewatkan bagian pernikahannya? ...Oh, astaga, aku nggak tahu apa aku harus menambahkannya atau tidak...)
Aku melihat Sanae yang hampir saja melakukan Manuver Scherbatsky pada seorang cewek yang memang terkenal menyebalkan. Dia hendak melakukannya—sudah sampai pada gerakan ke-3 dari 5, lalu seakan baru ingat, ia langsung berhenti dan menggeleng kepalanya. Dan itulah yang memang seharusnya dilakukannya. Kami nggak boleh mengekspos sekolah asli kami sama sekali.
Ia kembali lagi, di tempat duduk yang sama dengan yang tadi, menghembuskan nafas panjang.
"Kau tadi berhenti karena menyamar atau karena kau memang tidak mau melukainya?" tanyaku. Aku menatapnya. Tatapan matanya berkata bahwa yang pertamalah yang benar, namun menurutku ia juga memikirkan alasan yang kedua, karena kau benar-benar nggak mau ditendang di perut kalau bench press-mu 179 kg.
"Kau," dia menodongku. "Melindungi Sena karena menyamar atau karena benar-benar ingin melindunginya?"
"Dua-duanya."
Ia tersenyum. "Seperti itulah."
"Anezaki! Kigihayama! Kembali berlatih!" seru guru olahraga kami.
Aku bangkit, dibantu oleh Sanae, lalu kembali bermain dodgeball bersama cewek-cewek lainnya. (Tentu saja berkat fleksibilitas kami, kami nggak terkena bola sampai jam olahraga berakhir.)
"Mamoooorriiiii!" Dua sahabatku, Sara dan Ako, menghampiriku dengan kagum dan terengah-engah. "Gimana caranya kamu salto lalu mendarat di tangan waktu menghindari bola? Keren bangeeet!"
Sanae menatapku aneh seraya membuka lokernya. Dan aku sama sekali nggak menyalahkannya soal itu—akulah yang mengingatkannya soal tugas menyamar dan kini akulah yang mengekspos sekolah kami.
"Eeh... Aku..." Kau mata-mata, Mamori, bohong saja nggak bisa? "Ingat, kan, dulu kita ikut klub tenis? Pelatih mengajarkanku..." Secara teknis bukan bohong—pelatihku di sekolah mata-mata memang mengajariku.
"Ooh, ajari kami dong!"
Aku mulai kehabisan kata-kata waktu Sanae mengangkat suaranya.
"Nggak, dia nggak akan mengajarimu," katanya, "Aku tahu butuh latihan yang sangat berat dan lama. Aku tahu—ibuku mantan atlet." Informasi soal ibunya bohong, tapi soal 'latihan berat' itu benar.
Sara dan Ako mengangguk-angguk. "Yahh... coba kami latihan dari dulu. Eh, sudah, ya, Mamo, Sanae!" mereka keluar dari ruang ganti sambil bercakap-cakap.
Sanae terkikik. "Nggak heran kau dapat nilai terendah di materi Ilmu Berbohong-nya Miss L."
Di kelas ini, aku mencoba mempraktikkan salah satu pelajaran pertama yang kudapat di sekolah mata-mata.
Ada 5 murid yang mencontek. 2 anak saling bekerjasama, 2 anak lainnya juga, dan 1 anak mencontek dari salah satu 4 anak itu.
Cowok di sebelahku punya 7 pensil mekanik dan 9 pensil HB, lalu 4 pulpen, tapi dia memilih menggunakan spidol yang hampir habis, dimana seharusnya kami menggunakan pensil 2B.
Aku sudah selesai mengerjakan soal-soal ini sejak 15 menit yang lalu, dan aku hanya menunggu orang lain untuk mengumpulkan terlebih dahulu. Ya, kadang aku juga memiliki sifat-sifat cewek biasa—seperti panik kalau ada jerawat. Bagaimanapun, kau nggak bisa menyangkal kalau mata-mata juga manusia.
Aku melirik Sanae, yang juga telah selesai, dan melakukan hal yang sama persis denganku—menunggu.
Seorang cowok bangkit dari kursinya dan menyerahkan lembar kerjanya, dan 15 anak langsung bangkit untuk ikut menyerahkannya juga, termasuk aku dan Sanae.
Aku keluar kelas bersama Sara dan Ako, menuju kantin yang ada di sebelah kiri kelas kami. Kau hanya tinggal melewati beberapa belokan.
Sampai disana—seperti yang sudah diduga—sudah banyak murid yang ramai membicarakan ulangan tadi. Kurasa memang mereka tidak bisa melihat 'siasat' guru kami yang menjebak kami di nomor delapan—tahu kan, soal yang kelihatannya gampang ternyata kompleks dan tidak ada yang menyadari itu. Kurasa hanya murid-murid sepintar aku, Sanae, atau Yukimitsu Manabu—anak kelas 3 yang jidatnya lebar yang bisa melihat jebakan itu, atau... Hiruma.
Ngomong-ngomong soal Hiruma...
"Ke ke ke!" tawa setan itu sekarang bukan hanya familiar di telingaku, tapi mengganggu, "Jadi, aku tak perlu bayar, kan?"
"T-T-T-T-Tidak," jawab ibu kantin yang ketakutan.
Kulit-kulitku mulai gatal. Mungkin aku ditakdirkan memiliki ruam bila marah, karena percayalah, aku juga pernah begini di sekolah—sekolah mata-mata dan sekolah biasa. Aku nggak tahu apa cewek-cewek biasa juga mengalaminya.
"HIRUMA!" teriakku sekencang-kencangnya. Hiruma menoleh dengan malas. Tangannya ditaruh dibelakang leher, alisnya dinaikkan, dan ia meniup permen karet tanpa gulanya. "Apaan sih?"
"Kau gila ya?" aku bisa merasakan satu kantin hening, dan itu bagus, karena Hiruma bisa mendengarku lebih jelas—teriak-teriak itu menguras tenaga bahkan bagi mata-mata, "Kau belum puas apa mengancam orang-orang? Kenapa tidak sekalian kau ancam...uhh...presiden Amerika?"
Kuakui, aku kedengaran sangat payah dengan membawa-bawa nama presiden Amerika, tapi itu lebih baik daripada dicurigai sebagai cewek nggak biasa karena menyebut-nyebut Rafael Trujillo—diktator Dominika, dibunuh tahun 1961—atau Assaat, pemangku sementara jabatan kepresidenan Indonesia. Yang nggak semua warganya tahu dia pernah jadi presiden.
"Ke ke ke, bisa saja kalau aku mau." jawabnya santai. Dia, dengan sok mengintimidasi, mengeluarkan AK-47 dari kantongnya. Huh. Silakan kalau mau pamer. Aku punya revolver 28mm Pfeifer Zeliska di rumahku, yang kusimpan dengan sangat baik.
"Kau tahu," kataku, merasakan gatal-gatal di seluruh tubuhku, "Bahkan setan nggak mau menerimamu di neraka."
"Terserah," katanya. "Tidak berminat ke sana juga."
Aku menggigit bibir. Orang—setan?—ini membuatku sangat marah. Sangat. Kau sudah tahu itu. Aku bahkan nggak bisa baca tatapan dari Sanae, yang kira-kira mengatakan 'Lakukan saja manuver Leighton, tapi sampai gerakan keenam' atau 'Ada .45 caliber di tasku'.
"Benarkah kau nggak minat ke sana?" tanyaku lagi. "Kau salah satu dari mereka. Kau dapat perjalanan gratis."
Ia menoleh padaku. "Bukankah tadi kau yang bilang bahkan setan nggak akan menerimaku?"
Oke, Hiruma memang pintar. Aku akan mengakui itu. Dan dia nggak gampang lupa.
Debat dengan jenius memang susah. Tapi debat dengan orang bodoh lebih susah lagi—dia akan menarikmu ke bawah ke dalam jurang kebodohannya.
Kurasa aku perlu merevisi lagi kenapa aku memilih bergabung dengan klub Amefuto. Aku harus melihat lagi daftar pro-dan-kontra ku.
Kalau membuat daftar pro dan kontra, aku nggak pernah lihat berapa jumlah kontra/berapa jumlah pro. Aku selalu melihat apakah pro-nya benar-benar menguntungkan atau apa kontra-nya benar-benar...menyesakkan. Dan di kasus ini kontra-nya benar-benar menyesakkan sampai aku tidak rela keluar.
Aku jadi ingat guruku di sekolah mata-mata, yang kalau kuberitahu namanya disini, tidak akan berarti apa-apa baginya juga. Karena setiap tahun dia akan operasi wajah, mendapat sidik jari baru, dan kalau kau bertanya kenapa ia belum berganti kelamin, itu hanya masalah waktu. (Dan kudengar wajah barunya tahun ini cukup keren. Sayang aku tidak sempat melihatnya.)
Dialah yang mengajariku agar jangan melihat dari jumlah, tapi dari isi. Perumpamaannya, kau tentu nggak mau mengajar di kelas penuh anak-anak kaya tapi suka melempar upil.
Kadang-kadang sekolah mata-mata nggak cuma mengajarimu menjadi kuat dan keras. Mereka juga mengajarimu cara bertahan dalam hidup—maksudku bukan hanya bertahan dengan cara berkelahi.
Update kilat! *ketahuan udah ngerjain sebulan yang lalu* Lain kali harus pura-pura belum selesai chapternya~ *plak*
Makasih kak arumru-tyasoang yang menjadi reviewer pertama cerita ini. Makasih ya kak kritiknya, aku bakal berusaha lebih baik :D
Izzy out, thanks for reading!
