Happy reading yeoreobun... ^^,

.

.

.

GS, No Bash please ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

ChikinChikin

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 2

Help

Previous chapter

Kyungsoo seorang gadis pemilik restoran kecil, ChikinChikin. Suatu hari ada seorang pria, yaitu Jongin, datang ke restorannya yang sudah tutup. Jongin memaksa untuk diberikan seporsi ayam pedas manis. Tapi, Kyungsoo tidak memberikannya karena semua menu sudah habis. Kemudian, mereka kembali bertemu saat Jongin diminta menemani neneknya pergi ke pasar. Jongin membeli kopi di convenience store, tapi ternyata ia tidak membawa dompet dan di sakunya tidak ada uang sama sekali. Ternyata Kyungsoo berada di situ, Jongin meminta Kyungsoo meminjamkan uangnya untuk membayar kopi yang Jongin beli. Kyungsoo yang akan pulang ke rumahnya setelah berbelanja tidak sengaja menabrak mobil Jongin. Jongin meminta Kyungsoo untuk membayar sebagian biaya perbaikan mobilnya. Tapi ternyata Kyungsoo harus memabar 10 juta won. Kyungsoo bingung dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu.

.

.

.

.

"Kyungsooya, kau yakin mau menjual restoranmu? Kau baru saja memulainya. Baru satu bulan".

"Lalu aku harus bagaimana? Menjual organ tubuhku untuk membayar ini?", ucap Kyungsoo sambil menunjukkan kertas bertuliskan biaya perbaikan mobil. Baekhyun terdiam. Ikut berpikir, mencari cara untuk membantu temannya.

.

.

.

.

Kyungsoo membuka restorannya dengan tidak semangat. Otaknya terus berpikir. Apa yang harus ia lakukan untuk membayar ganti rugi pada Jongin. Dia berharap semoga hari ini dia tiba-tiba menemukan sekantong uang sebanyak 10 juta won. Meskipun itu tidak mungkin, Kyungsoo tetap berharap. Walau tidak menemukan itu, setidaknya buatlah dia mudah untuk membayar uang itu. Papan yang menggantung di pintu restorannya sudah berganti dengan bacaan OPEN.

Karena masih pagi jadi restoran masih sepi, belum ada yang datang. Kyungsoo diam, duduk di balik mesin kasir. Sambil menopang dagu, mata bulat Kyungsoo memandang kosong ke luar jendela restorannya. Dia benar-benar tak habis pikir, semuanya terjadi pada Kyungsoo. Lonceng yang menggantung di pintu restoran berbunyi. Ada yang datang. Kyungsoo langsung bangun dari duduknya untuk memberi salam pada pelanggan.

"Selamat datang...", sapa Kyungsoo dengan suara lantang sambil membungkukkan badannya.

Kyungsoo terkejut saat melihat siapa yang datang ke restorannya. Itu neneknya Jongin. Wanita 68 tahun dengan rambut pendek khas orang-orang tua, mengenakan bloose motif bunga-bunga berwarna pink, dengan tas yang menggantung di lengan kanannya. Nenek memiliki aroma khas, wangi bunga lavender. Begitu ia masuk, Kyungsoo bisa dengan jelas mencium wangi bunga lavender.

"Oh, halmeoni. Selamat datang". Halmeoni menganggukkan kepalanya menerima salam dari Kyungsoo.

"Aku ingin dua porsi ayam pedas manis".

"Baik. Makan disini atau dibawa pulang?", tanya Kyungsoo sopan.

"Satu porsi aku makan di sini saja".

"Baiklah. Silakan duduk". Sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan halmeoni, Kyungsoo memberikan segelas teh hangat untuk halmeoni.

Setelah selesai Kyungsoo memberikan pesanan halmeoni. Halmeoni langsung menyantap ayam pedas manis dengan lahap. Halmeoni selesai menikmati ayamnya. Di kasir Kyungsoo memberikan bungkusan berisi ayam pedas manis yang halmeoni pesan juga.

"Terima kasih. Silakan datang kembali".

Halmeoni yang sudah di depan pintu restoran membalikkan badan dan bertanya pada Kyungsoo.

"Bagaimana masalahmu dengan Jongin?".

"Ah... itu...-"

Kyungsoo menceritakan semuanya pada halmeoni yang kembali duduk di restoran untuk mendengar cerita Kyungsoo.

"Benarkah sebanyak itu?". bahkan halmeoni pun kaget mendengar banyaknya uang yang harus Kyungsoo bayar.

"Aigu, sudah aku katakan padanya jangan membeli mobil yang mahal. Karena seperti ini yang aku takutkan".

"Lagi pula aku juga salah, halmeoni. Tidak hati-hati".

"Lalu sekarang bagaimana? Kau sudah mendapatkan uangnya?".

Kyungsoo menggeleng, "belum".

"Aku berencana untuk menjual restoran ini, tapi hasil dari menjual restoran juga belum cukup. Aku masih harus mencari sisanya", ujar Kyungsoo.

"Astaga, kasihan sekali kau".

"Kau tinggal sendiri?", tanya halmeoni.

"Tidak, aku tinggal bersama ayah dan ibuku".

"Mereka tahu tentang ini?"

"Tidak. Jangan sampai mereka tahu. Aku bisa-bisa menjadi santapan mereka jika mereka tahu".

Halmeoni tertawa mendengar perkataan Kyungsoo.

"Aku menawarkan bantuan padamu. Tapi kau juga harus membantuku".

"Maksud halmeoni?".

"Aku akan meminjamkan uang 10 juta won padamu, tapi kau bekerja di rumahku. Kau bisa memasak, kan?".

"Iya".

"Kau bekerja di rumahku, hanya memasak dan menyiapkan makanan untukku dan Jongin. Kau bisa mengganti uang yang aku pinjamkan dengan bekerja denganku. Bagaimana?".

Kyungsoo terdiam. Bekerja hanya memasak dan menyiapkan makanan? Ini kesempatan bagus. Kyungsoo jadi tidak perlu repot mencari pekerjaan pengganti. Ini juga tidak terlalu sulit. Tanpa pikir panjang Kyungsoo mengiyakan tawaran halmeoni.

.

.

.

.

Kyungsoo mulai bekerja sore hari ini. Kyungsoo hanya perlu memasak dan menyiapkan makan untuk halmeoni dan Jongin. Pagi hari pukul 8 untuk sarapan. Lalu, siang hari pukul 1. Kemudian, makan malam pukul 7. Untuk sarapan, Kyungsoo bisa datang ke rumah halmeoni terlebih dahulu sebelum ke restoran. Kyungsoo bisa menutup restorannya sebentar untuk memasak dan menyiapkan makan siang. Untuk makan malam, Kyungsoo bisa menutup restorannya lebih cepat. Lagi pula jarak antara restoran dengan rumah halmeoni tidak terlalu jauh.

Kyungsoo sudah sibuk di dapur. Menu yang dimasak halmeoni serahkan pada Kyungsoo. Halmeoni bilang yang terpenting ada ayam. Karena Jongin tidak akan makan jika ada ayam. Untuk makan malam hari ini Kyungsoo akan memasak brokoli, wortel dan jagung yang ditumis dengan ayam krispi. Kyungsoo selalu bisa berpikir cepat mau memasak apa hanya dengan melihat bahan-bahan yang ada.

"Kau benar-benar pandai memasak", puji halmeoni.

"Biasa saja, aku hanya hobi memasak".

"Itu bagus".

Satu jam sudah Kyungsoo berkutat di dapur. semua masakannya sudah siap. Di meja makan sudah rapi tertata semua masakan Kyungsoo. Brokoli yang ditumis dengan ayam, sup tahu, dan kimchi. Halmeoni sudah duduk di meja makan, menunggu Jongin pulang dari kuliahnya. Kyungsoo sedang membereskan dapur. Kyungsoo tidak bisa meninggalkan dapur yang berantakan jika selesai memasak. Terdengar suara bel berbunyi.

"Itu pasti Jongin", seru halmeoni. Setelah membuka kunci pagar, halmeoni berdiri. Lalu halmeoni memencet tombol password kunci pintunya. Kyungsoo yang melihat merasa anh, kenapa halmeoni harus mengunci pintunya jika dia ada di rumah, padahal pagarnya sudah terkunci juga.

Jongin berjalan menuju pintu dengan wajah lemas. Menenteng tas gendongnya. Jongin belum tahu kalau Kyungsoo bekerja membantu halmeoni. Jongin mengetuk pintu yang terbuat dari kaca. Halmeoni sudah menunggu Jongin. Saat Jongin masuk, Jongin terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di dapur.

"Kau! Apa yang kau lakukan disini?". Kyungsoo tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya memberi salam.

"Simpanlah tasmu. Bersihkan dirimu. Lalu kita makan malam".

"Halmeoni, kenapa dia ada disini?".

"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang masuklah kamarmu. Mandi lalu kita makan malam".

Dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Kyungsoo, Jongin naik ke lantai atas menuju kamarnya. Kyungsoo benar-benar akan menjalani hari yang berat selama ia bekerja disini. Tapi, mau bagaimana lagi. Kyungsoo ingin urusannya dengan Jongin cepat selesai. Walau ia harus datang kesini dan akan bertemu dengan, itu tidak akan jadi masalah. Hanya beberapa menit bertemu.

Jongin sudah selesai mandi. Ia turun untuk makan malam bersama halmeoni. Kyungsoo belum pergi, halmeoni meminta Kyungsoo untuk ikut makan malam bersama. kyungsoo sudah menolak tapi halmeoni memaksa. Jadi terpaksa Kyungsoo duduk di meja makan. Astaga, ini berarti Kyungsoo akan lebih lama melihat Jongin. Jongin sudah duduk di meja makan. Kyungsoo mengambil nasi untuk halmeoni dan Jongin. Kyungsoo sedari tadi berusaha agar matanya tidak saling bertemu dengan mata Jongin yang sedari tadi juga menatapnya tajam-tajam.

"Bagaimana Jongina? Enak?", tanya halmeoni. Jongin mengangguk.

"Ini semua Kyungsoo yang memasak".

Mendengar apa yang dikatakan halmeoni Jongin batal menyuapkan sendok berikutnya.

"Terlalu asin, dan sayurannya terlalu matang?".

Kyungsoo menyicip masakannya. Rasanya baik-baik saja. Lalu Kyungsoo melihat sayurnya, dan mencicipinya juga. Sayurannya juga baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan masakannya. Kyungsoo lalu melirik sinis pada Jongin yang duduk di depannya.

"Benarkah? Menurutku baik-baik saja", ucap halmeoni.

"Aku sudah kenyang", ujar Jongin. Lalu pergi keluar. halmeoni yang melihat sikap cucunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maafkan Jongin. Lama-lama dia tidak akan seperti ini".

"Ah, tidak apa-apa halmeoni". Kyungsoo ingin pergi juga tapi Kyungsoo tidak enak meninggalkan halmeoni yang makan sendirian.

Kyungsoo selesai makan malam, begitu pun dengan halmeoni. Kyungsoo lalu membereskan meja makan. Mencuci piring-piring dan sendok-sendok yang kotor. Setelah selesai Kyungsoo bersiap untuk pulang.

"Halmeoni aku pamit untuk pulang".

"Ah, baiklah. Terima kasih Kyungsooya. Besok masakan lagi makanan yang enak", ujar halemoni.

Kyungsoo melangkah keluar. Saat membuka pagar Kyungsoo melihat pria berdiri bersandar di tembok pagar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya. Kyungsoo menarik nafas panjang, ternyata masih belum selesai. Jongin lalu menghalangi Kyungsoo keluar.

"Apa yang kau lakukan disini?". Kyungsoo belum merespon perkataan Jongin.

"Apa kau mau membujuk halmeoni, agar menyuruhku untuk tidak meminta uang untuk memperbaiki mobilku?".

Mata Kyungsoo yang tadinya hanya melihat ke sepatunya sekarang beralih menatap Jongin.

"Ya! Uang itu akan aku bayar. Besok. Jadi kau tidak perlu khawatir. Lalu, aku disini berkerja. Ingat .JA", seru kyungsoo, memenggal kata bekerja untuk memperjelas ucapannya.

"Kau bekerja sebagai apa?".

"Kau akan tahu besok, aku bekerja sebagai apa disini. Minggirlah. Aku mau pulang". Jongin tak lagi berkomentar, ia menepi memberi jalan pada Kyungsoo.

.

.

.

.

Pukul 5 pagi Kyungsoo sudah bangun. Ia bersiap-siap untuk pergi ke rumah halmeoni. Sebelum pergi Kyungsoo menelepon Baekhyun yang masih tertidur, Kyungsoo meminta Baekhyun untuk mengambil daging ayam di kios ayahnya dan mengantarkan ke restoran. tepat pukul 6 pagi Kyungsoo sudah tiba di rumah halmeoni. Halmeoni yang tadi terbangun untuk membukakan pintu kembali masuk ke dalam kamarnya. Kyungsoo tentu, langsung sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Sarapan hampir siap. Halmeoni sudah menunggu sejak tadi.

"Kyungsooya, tolong bangunkan Jongin".

"Heh? Aku halmeoni?".

"Oh.. bangunkan Jongin. Kamarnya di lantai atas. Tepat setelah tangga kamar dengan pintu warna biru".

Kyungsoo menuruti perintah halmeoni, meski sebenarnya ia tidak ingin. Kyungsoo menaiki anak tangga, naik ke lantai dua menuju kamar Jongin. Kyungsoo langsung tahu dimana kamar Jongin. Di lantas atas ada beberapa kamar lainnya. Tapi hanya kamar Jongin yang pintunya berwana biru, sedangkan yang lainnya berwarna putih. Kyungsoo mengetuk pintu Jongin. Ketukan pertama tidak ada respon. Kyungsoo kembali mengetuk pintu kamar Jongin, kali ini Kyungsoo cukup keras mengetuk pintunya. Saat akan mencoba mengetuk kembali pintunya, pintu kamar Jongin terbuka. Jongin yang matanya belum sepenuhnya terbuka, berdiri di depan pintunya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Halmeoni, aku masih ingin tid-". Jongin mebuka matanya dan melihat Kyungsoo yang berdiri di depan kamarnya.

"Kau! Apa yang kau lakukan dirumahku?".

"Hanya informasi, setahuku ini rumah halmeoni. Aku sudah bilang padamu kemarin kalau aku bekerja disini".

"Kau bekerja untuk membangunkanku?".

"Ah, yang benar saja. Halmeoni menyuruhmu turun untuk sarapan". Kyungsoo tak mengatakan apapun lagi. Kemudian pergi kembali ke bawah. Jongin masih berdiri di pintu kamarnya, melihat Kyungsoo yang turun kembali ke bawah. Jongin akhirnya turun dan sekarang sudah duduk di meja makan.

"Kyungsooya, makanlah dulu sebelum kau pergi", ajak halmeoni.

"Tidak perlu halmeoni. Aku harus segera ke restoran".

"Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu nanti siang".

"Halmeoni, dia bekerja sebagai apa disini?", tanya Jongin.

"Dia hanya memasak dan menyiapkan makanan untuk kita".

"Heh?"

"Kyungsoo yang memasak dan menyiapkan makanan untuk sarapan, makan siang dan makan malam kita".

"Setiap hari?".

"Tidak, akhir minggu dia tidak perlu datang".

"Kenapa dia?"

"Aku suka masakannya. Masakan Kyungsoo enak. Sudah tidak perlu berkomentar lagi tentang Kyungsoo".

.

.

.

.

Restoran cukup ramai. Kyungsoo terus memandangi jam tangannya. Sudah hampir pukul 1. Kyungsoo harus segera pergi ke rumah halmeoni. Tapi Kyungsoo tidak bisa menyuruh semua pelanggannya pergi. Kyungsoo mencoba menelepon Baekhyun, memintanya untuk membantu Kyungsoo. Tapi Baekhyun tidak bisa karena sedang bekerja. Tak lama Jongin datang ke restoran Kyungsoo.

"Ah, kebetulan kau datang". Kyungsoo lalu menghampiri Jongin yang masih berada di depan pintu. Memakaikan celemek yang di pakai Kyungsoo pada Jongin. Jongin mematung tidak mengerti.

"Ya! Apa yang kau lakukan?"

"Aku harus ke rumahmu untuk menyiapkan makan. Sebentar lagi makan siang. Aku takut halmeoni marah. Kau lihat kan pelangganku sedang ramai. Kau jaga restoranku sebentar. Jika semua sudah selesai makan kau langsung tutup restorannya dan langsung ke rumah. Semua harga dan pesanan mereka ada di meja kasir kau tinggal mengetik angkanya".

"Heh?"

"Jangan lupa pasang papan 'TUTUP SEMENTARA'...", ucap Kyungsoo yang sudah melangkah keluar.

.

.

.

.

Chapter 2 done! Thank you for reading my story reader ^^, apalagi sampai suka ceritaku

I always waiting your review... ^^.

Apalagi silent readernya, I always waiting your review..

Wait for next chapter ^^,

Kamsahabnida ^^, *bowing* *kisshug*