Papa GoTo

Chapter 2: Him

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuXNaru

Rated: T

Warning: AU, Gaje,aneh,typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sasuke),de-el-el.

Genre: Family, Hurt/Comfort.

Summary: Ditinggal mati ibu? 'Rasanya seperti ikut mati juga'. Harta warisan diperebutkan saudara licik? 'Hn. Enyahkan mereka'. Penampakan seorang kakak kelas berandalan yang blonde dan mengaku sebagai ayahmu? 'What the HECK!'

DON'T LIKE,DON'T READ!

.

.

.

"Aku turut berduka cita, Sasuke-kun."

"Pasti berat untukmu."

"Kami turut berbelasungkawa."

Sasuke mencibir dingin mendengar kata-kata penghiburan dan ucapan bela sungkawa dari teman sekelasnya juga para guru. Kabar kematian Mikoto tersebar dengan cepat. Berita duka dari seorang idola sekolah yang terkenal dingin sangat menarik perhatian, terlepas dari betapa sensitifnya topik tersebut.

Tidak banyak orang yang cukup mengenal kehidupan Sasuke hingga merasa begitu sedih atas kematian ibunya. Mereka lebih cenderung bersikap… lebih berhati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Lebih atas nama simpati sesama manusia, bukan sebagai teman dekat. Bahkan ada beberapa yang hanya merasa tertarik dengan ekspresi Sasuke ketika diselimuti duka, mengingat pemuda itu sangat jarang mengubah air mukanya.

Sasuke amat memahami hal itu, karenanya ia memilih bersikap tak acuh. Menganggap semua ucapan dan perhatian ambigu yang diterimanya hanyalah angin lalu. Baginya mengulang kenangan bersama sang ibu dalam pikirannya hingga ia tak akan pernah melupakan semua memori itu jauh lebih penting daripada menanggapi segala omong kosong yang diberikan padannya.

Hidup manusia itu singkat, ia paham itu. Ada beberapa orang yang siap jika salah satu dari orang yang mereka sayangi pergi, dan akan melanjutkan hidup mereka bersama kenangan indah yang ada dalam ingatan mereka.

Tapi Sasuke bukan orang seperti itu.

Uchiha Sasuke mungkin dikenal dingin dan tak mampu menaruh minat pada hal sekelilingnya. Tapi ia mempunyai perasaan yang halus jika menyangkut ibunya. Sedari kecil diasuh oleh seorang ibu yang penuh kasih dan siap mendengar semua kisah hidupnya, peran yang begitu krusial hingga ia menganggap bahwa ia hanya membutuhkan sosoknya untuk bisa hidup, adalah alasan yang cukup kuat hingga ia merasa sehancur ini.

Ia pincang.

Ia cacat. Sebelah kaki dan tangannya sudah pergi.

"Kalian tidak perlu repot-repot menghiburku," desis Sasuke dingin. "Aku bisa mengatasi semuanya. Sendiri."

Dan dengan itu sosoknya menjauh, menghilang di balik tembok besar yang memisahkan dirinya dan semua orang.

.

.

.

Kali ini remaja itu duduk di bangkunya yang terletak di sudut kelas, tepat di samping jendela. Mata hitamnya memandang keluar dimana murid senior kelas 3 sedang berolahraga. Tanpa ia sadari perhatiannya tertuju pada sosok dengan helaian pirang yang menyilaukan, dan ia tampaknya berada dalam masalah.

"Sesuatu menarik perhatianmu, Sasuke?"

Melirik, Sasuke mendapat Neji sedang menyeringai padanya.

"Bukan urusanmu." Balas Sasuke ketus. Dia memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya pada buku yang terbuka begitu saja di atas mejanya.

"Ah," pekikan kecil Neji mencuri perhatiannya. "Sepertinya sebentar lagi senpai yang disana itu akan berkelahi. Lagi." Tambahnya dengan nada geli. Sasuke tahu bahwa pemuda itu membicarakan Naruto.

Yeah, siapa yang tidak kenal Uzumaki Naruto? Berandalan dari kelas khusus, kelas yang diisu-isukan hanya memiliki 10 anggota kelas saja. Bukan sembarang orang yang bisa belajar di kelas itu. Haruslah orang yang memiliki reputasi buruk, mempunyai catatan kriminal, dan dikaruniai tampang yang akan membuat setiap orang gemetar ketakutanlah yang bisa mendapat kursi kehormatan disana.

Mereka menyebut diri mereka Akatsuki.

Dan pemuda pirang yang disana itu adalah pimpinannya.

"Kudengar Uzumaki-senpai melawan geng dari sekolah di Kanto sendirian. Itu berarti wilayah Kanto sudah berada dalam kekuasaannya, hm?" gumam Neji lagi. Mendengar itu Sasuke hanya mendengus sebelum kembali melanjutkan bacaannya.

'Si Dobe itu…'

.

.

.

Flashback

"Kau mengerti, Senpai? Ini adalah acara keluarga Uchiha. Kenakan setelan yang kuberikan padamu tadi malam dan bersikaplah selayaknya kau dididik tata krama. Lepas tindikan yang ada di telingamu, jangan lupa untuk membawa berkas-berkasnya."

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu terkekeh geli. Siapa sangka seorang Uchiha Sasuke bisa berbicara sepanjang itu?

"Jika kau punya waktu untuk tertawa, kenapa kau tidak mengurus anakmu saja?" ucap Sasuke tajam seraya memberikan tatapan dingin pada chibi Naruto yang tengah memakan sarapannya. Pipinya berlepotan saus dann tangannya amat kotor.

"Naru-chan…" desah Naruto dengan raut terhibur. Dengan lembut diusapnya pipi chibi Naruto dengan tisu, tak lupa jemari kecilnya.

Mata Sasuke menyipit tak suka. Pemandangan keluarga harmonis ini membuatnya muak. Apa-apaan sikap Naruto yang terlalu memanjakan anaknya itu? Tersenyum saat putranya membuat kekacauan? Yang benar saja.

Fugaku tidak akan pernah bersikap seperti itu.

Seharusnya Naruto mendelik, memberikan tatapan penuh peringatan dan cibiran dingin tentang betapa tak sopannya ia. Sifat keras dan disiplin akan melahirkan kesempurnaan, semua orang tahu itu. Tetap tersenyum walaupun buah hatimu membuat kesalahan hanya akan membuatnya lemah dan manja.

Sasuke kuat dan sempurna, dan ia tak pernah mendapat perlakuan sehangat itu dari ayahnya.

"Kau pikir siapa dirimu, Bocah? Mengotori ruang makan seenaknya." Komentar Sasuke ketus. Dapat dilihatnya bocah itu tersentak lalu memasang wajah sedih.

"Dia masih kecil, Sasuke." bela Naruto, cepat-cepat menghibur anaknya agar tidak menangis. Diusapnya kepala chibi Naruto sambil menggumamkan kata 'kau anak pintar, belajarlah makan sendiri sampai kau bisa'.

Mau tidak mau Sasuke menjatuhkan sumpitnya. Sungguh, wajah sangar itu sama sekali tidak cocok dengan semua perlakuan lembut yang dia tunjukkan. Sebelah telinga yang ditindik, kalung bertali hitam yang menggantung di lehernya, headband besar seperti montir bengkel, dan kumis yang terlihat seperti goresan bekas perkelahian? Tampang seperti yakuza itu tidak akan cocok melakukan apapun kecuali berkelahi.

Dia baru saja melihat sisi lain dari Naruto, ketua geng Akatsuki yang membawahi geng-geng di seluruh Tokyo.

"Aku selesai." Ucap Sasuke lalu beranjak dari kursinya. Dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Naruto yang menyuruhnya untuk meminum susu yang dibuatkan pemuda pirang itu. Memangnya siapa dia? Balita?

Diam-diam Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Sore ini keluarga Uchiha akan mengadakan pertemuan yang akan membahas tentang hak waris Sasuke. Kemungkinan besar Fugaku tidak akan hadir,mengingat betapa sibuknya ia mengurus kehidupannya yang tidak berharga itu. Tidak masalah, ia sudah diwakilkan oleh Shisui dan ia tidak sabar untuk menunjukkan pada lelaki tua itu bahwa ia tidak berhak menerima sepeser pun harta Mikoto.

Sasuke tidak pernah mengira bahwa akan ada hari dimana ia merasa berterima kasih pada Naruto.

.

.

.

Sasuke melihat jam tangannya dengan gelisah. Sudah setengah jam berlalu dan Naruto belum juga menampakkan batang hidungnya. Anggota keluarga yang lain juga sudah mulai kelihatan jengah, terutama Danzo. Kakek tak sadar umur itu menghela napas berkali-kali dan menggumamkan sesuatu tentang betapa sibuknya ia.

Hanya Sai yang terlihat tenang-tenang saja. Wajah pucat pemuda itu terlihat culas, seakan sedang menanti sesuatu yang menarik. Dan mau tak mau Sasuke menduga-duga apakah saudaranya itu mengetahui sesuatu tentang Naruto.

Hm, mungkin saja.

Jujur, Sasuke tidak terlalu peduli. Prioritas utamanya sekarang adalah menunjukkan status Naruto dan segera mengenyahkan nama Fugaku dari daftar ahli waris. Lalu ia akan menendang Naruto dari rumahnya setelah ia berusia 18 tahun, menikah, mempunyai anak, menguburkan istrinya yang (harus) mati lebih dulu dan mengirim anaknya ke asrama militer hingga ia bisa minum teh di beranda rumahnya dengan tenang.

Hidup yang menyenangkan, tentu.

"Sasuke, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan pada kami?" tanya Danzo, tak sabaran. Sasuke hanya mendengus dan melirik jam tangannya. Kenapa Naruto belum datang juga?

"Tenanglah…" suara Sai terdengar amat jelas di ruangan yang luas itu. "Aku yakin Sasuke-kun tidak akan mengumpulkan kita semua tanpa alasan. Bukan begitu, Sasuke-kun?" lanjutnya dengan senyum yang terlalu dibuat-buat, sukses menciptakan kernyitan risih di dahi Sasuke.

"Yeah, tentu saja." jawabnya singkat. Oke, sekarang Sasuke benar-benar khawatir. Apa jangan-jangan senior bodoh itu tidak tahu lokasi pertemuannya dan malah tersesat? Jika itu benar, ia tidak akan segan-segan mencabuti seluruh rambut yang ada di tubuh pemuda blonde itu dan menempelkan fotonya di mading sekolah.

Percayalah, ia benar-benar serius.

"Suara apa itu?"

Pikiran khas yandere Sasuke buyar seketika saat telinganya menangkap suara gaduh dari luar. Merasakan firasat buruk, Sasuke hendak bangkit dan menyelidiki asal suara sebelum pintu geser mahal kediaman Uchiha itu terbuka dengan kasarnya.

"Maaf aku terlambat!"

"…"

Refleks Sasuke menjatuhkan dagunya. Matanya terbelalak dengan gaya yang amat menyedihkan bagi standar Uchiha sehingga—sumpah demi apapun—ia akan membuat Naruto membayar untuk momen langka itu suatu saat nanti. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Mereka terpaku melihat seseorang berambut pirang tengah berdiri di depan mereka.

Bukan, bukan karena rambut pirangnya. Tapi karena pakaian sosok itu terlihat sangat berantakan dengan sobekan di sana-sini. Noda pasir dan darah juga mendominasi kemeja putih yang ia kenakan. Belum lagi wajahnya yang 'dihiasi' lebam biru dengan luka melintang di bawah matanya yang masih terbuka. Perban kotor yang tampaknya dililit dengan ceroboh menutupi sebelah matanya, terus ke atas hingga menutupi dahi yang sepertinya juga berdarah.

Atau lebih tepatnya, bocor.

"Na…" Sasuke membuka mulutnya tanpa sadar. Matanya mengikuti aliran darah yang menetes dari dahi Naruto.

"Ru…" kini oniksnya menatap lengan Naruto yang memar.

"To…"

"Oh, shit!" dengan ngeri Sasuke melihat Naruto mengumpat sambil memandang jari telunjuknya yang tanpa banyak bicara tangannya yang sehat mengenggam jemari malang itu—

KRAK!

Dan mengembalikannya ke posisi yang benar.

"Kyaaa!" seorang wanita paruh baya yang disinyalir sepupu Mikoto menjerit. Tidak berlebihan, sebenarnya. Mengingat penampilan Naruto bak preman baru bangkit dari kubur cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu menahan teriakan di tenggorokan mereka.

"Hah…" raut wajah Naruto menunjukkan ekspresi kesakitan saat jarinya berhasil ia luruskan kembali. "That f*cking brats… wait 'til I chop their di*ks and throw it to a dam*-shitty bi*ches, they motherfuc*er." Gerutunya seraya mengacungkan jari tengah, refleks preman.

"…"

Oh, sial…

Adakah kata-kata yang bisa menggambarkan betapa heningnya suasana di ruangan itu sekarang?

"Ah, jadi kau orangnya?" keheningan yang menyakitkan itu diakhiri oleh sebuah suara yang terdengar amat terhibur. "Senang bertemu Anda, Uzumaki-san."

Sasuke yang baru tersadar dari kondisi syoknya kini men-deathglare Naruto. "Naruto!" seru Sasuke, naik darah. Ini benar-benar keterlaluan. Apa-apaan si idiot bule ini?! Bukankah ia sudah bilang bahwa ini adalah pertemuan besar keluarga Uchiha? Lalu kenapa dia datang dengan penampilan tak pantas dan mengucapkan kata-kata yang tingkat kenistaannya setinggi langit sedalam lautan itu?!

"Kau mengenal dia, Sai? Sasuke?" tanya Shisui ragu-ragu, tak yakin apakah salah satu dari anggota keluarga mereka bisa mengenal orang yang tampaknya sudah bolak-balik masuk penjara ini. Dan apakah dahi itu benar-benar bocor?

"Ti—ya."

"Tentu saja." sahut Sai mengulum senyum. Matanya menatap langsung safir Naruto yang tampak terkejut saat menyadari keberadaan Sai.

"Kau?" bisiknya. Sai mengangguk ramah, menuai senyuman di bibir Naruto yang sobek.

Merasa adegan nostalgia yang manis tidak cocok untuk situasi yang ada, Danzo bangkit dari posisi duduknya dan menuding Naruto. "Siapa kau?! Apa yang kau lakukan disini, hah?! Ini pertemuan pribadi keluarga Uchiha!" serunya murka. Beberapa anggota keluarga lain mengangguk dalam diam, kelihatannya masih takjub dengan penampilan Naruto yang 'wow'.

Sasuke memijat pelipisnya. Ia sudah menduga bahwa semua ini tidak akan mudah, tapi ia tidak menyangka bakal serumit ini.

"Begini saja…" suara Sasuke sukses memperoleh semua atensi. "Jika kukatakan bahwa keberadaan pria ini," Sasuke menunjuk Naruto. "Ada hubungannya dengan pertemuan yang sedang kita langsungkan, apa kalian akan percaya?"

Dan ekspresi mencela yang ditunjukkan semua orang mengindikasikan bahwa tidak akan ada gunanya untuk mengenalkan si blonde ini lebih jauh.

"Yang benar saja, sampah masyarakat seperti dia bahkan tidak pantas untuk berada disini."

"Dan apa-apaan penampilannya itu?! Tidak bisakah ia melihat bahwa ini pertemuan orang-orang terhormat?"

"Lalu kenapa penjahat ini bisa masuk?! Penjaga! PENJAGA!"

"Kalian benar-benar menyebalkan." Gumam Sasuke dingin. Dengan kasar ia melempar berkas yang ia sembunyikan sedari tadi ke lantai, membuat kertas-kertas itu berserakan.

"APA-APAAN KAU?!" teriak Danzo murka. "DIMANA SOPAN SANTUNMU, SASUKE?!"

Mendengus, Sasuke bangkit dari posisi duduknya dan menggamit lengan Naruto. "Simpan teriakanmu setelah melihat kertas itu, Pak Tua. Masalah ini sudah selesai." Ucapnya datar, menarik Naruto agar mengikutinya keluar ruangan.

"Hei, Sasuke… Bukannya kau bilang kau ingin mengenalkan aku pada anggota keluargamu yang lain?"

Twitch!

"Idiot!" seru Sasuke seraya memukul kepala Naruto. Teriakan pilu Naruto menggema di koridor saat kepalanya yang sudah sakit kini semakin berdenyut nyeri.

"Sasu-chan… kau tega sekali padaku." Rengek Naruto, membuat Sasuke meringis jijik dan bergegas berjalan mendahuluinya.

"Sebaiknya kau jelaskan apa yang terjadi padamu di rumah, atau kau akan—"

"INI TIDAK MUNGKIN!"

Langkah Sasuke terhenti. Seringai mengembang di wajah tampannya. Oh yeah, untunglah ia belum melangkah terlalu jauh sehingga ia bisa mendengar suara nyanyian indah Danzo disana.

"—lupakan saja."

"Huh?"

Tersenyum culas, Sasuke berbalik menatap Naruto.

"Kau berguna kali ini, jadi aku akan memaafkanmu, Naru-senpai."

End Flashback

"Jadi luka-luka itu…" gumam Sasuke tanpa sadar. Mungkinkah ia dikepung oleh berandalan dari Kanto ketika dalam perjalanan ke ruang pertemuan? Jika itu memang benar, suatu keajaiban ia masih bisa berjalan dan mengumpat—hal pertama yang ia lakukan di hadapan para familinya—mengingat berandalan Kanto suka menggunakan senjata dalam perkelahian.

"Kau mengatakan sesuatu, Sasuke?"

Lagi-lagi Neji memandangnya penuh minat. Mengibaskan tangannya, Sasuke kembali menatap Naruto yang kini diseret-seret oleh Guy-sensei.

"Aku hanya tidak suka dengan… semua luka di wajahnya." Ucap Sasuke dengan nada mengambang. Matanya terpancang pada wajah Naruto yang terlihat kecil dari sini, namun memar dan perban yang melilit kepalanya entah kenapa terlihat jelas.

Pasti benar-benar menyakitkan.

Dagu Neji tergelincir dari telapak tangannya. Alisnya naik seiring dengan keterkejutan yang terpacu dari bisikan Sasuke. Demi apa… ada apa dengan Sasuke hari ini?

Neji tahu bahwa semua orang pasti akan merasa terpukul d engan kematian ibunya. Tapi melihat ekspresi Sasuke yang seperti ini rasanya terlalu… ganjil.

"Kau baik-baik saja, Sasuke?" tanya Neji hati-hati. Sasuke memutar kedua bola matanya.

"Urus saja dirimu sen—"

"NARU-CHAN!"

Bukan hanya mereka berdua saja yang terdiam, tapi semua orang yang di kelas juga. Dalam hati bertanya-tanya siapa orang yang mampu mengeluarkan suara sebesar itu hingga terdengar bahkan sampai ke lantai dua.

Dan alangkah terkejutnya Sasuke saat seseorang melompati mejanya dan terjun langsung ke bawah melalui jendela, mendarat tak jauh dari Naruto yang meronta-ronta dalam cengkraman Guy-sensei.

"Lepaskan Naru-chan! Lepas! Lepas! Le—"

"Diam kau, Tobi! Kau—OI GURU SIALAN! LEPASKAN AKU!"

"Hohoho… tidak sampai kau setuju masuk ke klub judoku."

"Kubilang tidak ya tidak! Aku lebih senang berkelahi daripada berlatih tidak jelas seperti itu!"

"Sensei anak baik, lepaskan Naru-chan!"

"Jangan memanggilku Na—HEI! KEMANA TANGANMU MERAYAP?!"

"Hohoho…"

Sasuke memijit pelipisnya frustasi. Kenyataan bahwa pemuda bodoh di bawahnya itu sebenarnya adalah ayah tirinya membuat mood Sasuke jatuh ke tingkat terendah.

Ia memang sedang dalam tahap penyangkalan. Siapa yang tidak akan syok jika orang yang paling bermasalah di sekolah muncul tiba-tiba dan mengaku sebagai suami kedua ibunya?

Dan ia sudah punya anak, damn it! Umur mereka hanya berbeda 2 tahun dan disaat ia masih berstatus sebagai siswa kelas satu, Naruto sudah menjadi seorang suami dan ayah!

Ini tidak adil!

'Eh?' Sasuke mengerjapkan matanya. 'Apa yang baru saja kupikirkan?' batinnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya dalam beberapa hari saja kebodohan Naruto sudah menular padanya.

Lagi-lagi mata Sasuke mengikuti gerak-gerik Naruto, seakan ia sudah terprogram untuk itu. Menyaksikan si blonde itu bertengkar konyol ternyata lebih menghibur dari yang ia kira.

"Shit! # *$*##^%!" dahi Sasuke berkedut mendengar kata-kata kotor yang diucapkan Naruto. Kemana Naruto-senpai yang penyayang, baik hati, dan lemah lembut yang ia tunjukkan saat bersama anaknya?

'Naru-senpai, kau idiot.' Batin Sasuke dengan muka datar. Apa yang Mikoto lihat dari preman seperti dia? Kaya tidak, tampan amit-amit. Belum lagi kelakuannya yang menyebalkan dengan anggota gengnya yang kasar itu.

Sasuke masih sibuk dengan pikirannya sehingga ia tidak menyadari Naruto mendongak dan memperhatikannya. Semburat merah menghiasi pipi pemuda blonde itu saat mengetahui bahwa Sasuke melihat tingkah konyolnya dari tadi.

"Minggir!" bentak Naruto kasar, bergegas pergi dari jarak pandang Sasuke yang menyeringai melihat kekikukan Naruto, kemudian mendengus geli ketika pemuda itu dikepung oleh anak buahnya yang berebutan menarik perhatiannya.

Sementara Sasuke terkekeh kecil, Neji menaikkan sebelah alisnya takjub. Baru kali ini ia melihat seorang Uchiha Sasuke berganti-ganti ekspresi dalam 5 menit saja. Dan ia semakin takjub ketika menyadari bahwa objek yang membuat perubahan menyeramkan di wajah Sasuke adalah kakak kelas mereka, Naruto-senpai.

Neji tersenyum dalam hati. Sepertinya ada sesuatu yang menarik.

.

.

.

"Naru-channn! Papa pulanggg!"

"PAPA!"

Peluk.

Sasuke memutar kedua bola matanya dan kembali membaca. Berakhir sudah waktu bersantainya.

"Coba lihat, Naru-chan… Daddy membelikan permen loli ini untukmu!" seru Naruto seraya memberikan beberapa tangkai permen lollipop besar dari tas sekolahnya. Mata Chibi Naru berbinar-binar senang dan mencium pipi Naruto.

"Hahaha! Kau benar-benar manis, Naru-chan. Kau sudah makan? Father membeli daging untuk makan malam."

"Nalu tunggu Otou-san pulang."

Naruto tertawa lepas. Diacak-acaknya rambut Chibi Naru dan mengecup dahinya.

"Hmph!" dengus Sasuke muak. Bertingkah seperti keluarga harmonis di rumah orang lain setelah Mikoto meninggal adalah tindakan paling menjijikkan yang pernah ia lihat. Seakan tidak terjadi apa-apa, dengan seenaknya ia menampakkan wajah buruknya dan memainkan peran 'ayah teladan' sementara di luar sana ia bahkan tidak lebih baik daripada kucing liar.

"Bagaimana denganmu, Sasuke? Apa kau setuju kita membuat sukiyaki untuk makan malam?" tanya Naruto ramah, menunjukkan kantung berisi daging kepada Sasuke.

"Sasu-niichan suka daging sapi?" kali ini Naruto versi mini yang bertanya. Tangan mungilnya menarik ujung baju Sasuke dan ia mendongak, tersenyum.

"Uhuk!" refleks Sasuke memencet hidung mancungnya dan mengambil tisu terdekat. Dengan panik ia mengusap darah yang hampir mengalir ke bibirnya. "Daging, huh? Bo-boleh juga…"

Naruto diam-diam menyeringai. Jadi bahkan patung es gagal macam Sasuke tidak tahan dengan keimutan Naru-chan, hm? Perpaduan antara kelembutan Mikoto dan manisnya wajah Naruto memang tidak tertandingi.

Seandainya reputasi Naruto lebih baik tanpa luka baru setiap harinya di wajah, mungkin orang akan setuju kalau dia manis. Sedikit.

"Ne, ne…" Naruto menepuk tangannya. "Sebaiknya kau mandi dulu, Naru-chan. Bersihkan badanmu sebelum makan malam, oke?"

Chibi Naru mengangguk bersemangat. Malu-malu ia melirik Sasuke tanpa melepaskan genggaman tangannya pada ujung baju Sasuke. "Umm… Nii-chan…"

Berusaha mengumpulkan kembali sifat stoicnya, Sasuke menyahut. "Hn."

"Kita mandi belsama, ya?"

BRAK!

Dagu Sasuke jatuh dengan tidak elitnya. "Apa?"

"Benar juga!" Naruto menyeringai iblis. "Kau bisa membantu menggosok punggung Naru-chan, Sasuke."

Sasuke men-death glare Naruto. Dia bisa mencium maksud terselubung dari Naruto.

"Tidak."

"Oh, ayolah… Apa salahnya? Dia kan cuma anak kecil yang tidak berdosa, kan?"

'Dia benar-benar ingin mempermainkanku.' Batin Sasuke geram. Tangannya sudah gatal ingin memukul dan menjambak Naruto, tapi diurungkan niatnya karena kekerasan tidak baik untuk dilihat anak kecil.

"Ya, ya… Sasu-niichan?" rayu Chibi Naru menguatkan genggaman tangannya. Malah sekarang ia berjinjit dan menunjukkan mata bulat biru besarnya yang inosen itu pada Sasuke.

"Ti—" menelan ludah. "—Dak"

"Kau pemuda berhati dingin, Sasuke. Teganya kau menolak permintaan tanpa motif terselubung dari balita inosen seperti itu. Ini tidak seperti kau seorang pedofil, kan?"

"Gah! Kau iblis bermuka dua!" seru Sasuke, menuding Naruto. "Kenapa bukan kau saja yang memandikannya?"

"Tapi Nalu maunya sama Cuke-niichan!"

Thump!

"Aku… mengerti." Sasuke menyambar selembar tisu. "Tunggu aku di kamar mandi, nanti aku menyusul."

Wajah Chibi Naru mencerah dengan mata biru yang bersinar terang. Pipinya yang gemuk merona merah dan gigi depannya yang menyerupai kelinci tampak ketika ia tersenyum lebar.

"Hum! Nalu tunggu ya, Nii-chan! Muach! Muach!" ucapnya senang seraya memberikan kiss bye mautnya, sukses membuat Sasuke megap-megap.

"Hati-hati, Sayang… Jangan berlari, lantainya li— Uhuk!" Naruto terbatuk ketika ia merasakan lehernya tercekik oleh sebuah tangan alabaster. Dengan panik ia meronta-ronta dan betapa kagetnya ia saat ia mengetahui bahwa Sasuke mencekik, mengangkat tubuhnya ke udara hanya dengan sebelah tangan saja.

'Ku-kuat sekali!'

"Kau sampah masyarakat…" ucap Sasuke dengan nada rendah berbahaya. "Apa yang kau ajarkan pada bocah sial itu, hah?! Menyerang orang dewasa dengan aksi seduktif seperti itu… APA KAU INGIN MENGHANCURKAN MASA DEPANNYA?!"

Bulir besar keringat mengalir dari pelipis Naruto. Cekikan Sasuke memang menyakitkan, tapi kata-katanya yang di luar karakter itu lebih menyakitkan kalau dilewatkan begitu saja.

"Ja-jadi… kau berpikir bahwa aksinya seduktif, huh? Tak kusangka…" ujar Naruto dengan nada miris, miris karena lehernya masih berada dalam bahaya dan miris karena seorang Uchiha Sasuke ternyata sangat gampang dipermainkan.

Petir ilusi diikuti seekor naga meraung muncul dengan hebohnya di belakang Sasuke. Tangannya yang mencengkram leher Naruto bergetar, lalu terlepas seiring dengan tubuh Sasuke yang terhuyung limbung ke belakang.

'A-apa yang baru saja kupikirkan…'

.

.

.

Naruto mengusap kepala Sasuke yang tertidur lelap dengan hati-hati, khawatir jika Sasuke adalah tipe orang yang akan terbangun dengan sedikit sentuhan saja. Di sampingnya Chibi Naru juga tertidur dengan posisi kepala tergeletak di lengan Sasuke.

Anaknya yang imut itu bersikeras ingin tidur bersama Sasuke, sehingga walaupun ini sudah tengah malam, ia membangunkan Naruto dan memaksanya untuk mengantarnya ke kamar Sasuke. Awalnya Sasuke yang ternyata masih terbangun mengamuk, mengeluarkan kata-kata pedas dan berusaha mati-matian untuk menakuti Chibi Naru. Tapi sekali anak preman ya, anak preman. Entah kemana perginya rasa takut Chibi Naru terhadap Sasuke saat pertama kali bertemu dengannya.

"Aku mempunyai kedua putra yang hebat…" bisik Naruto penuh kasih. Dia amat bersyukur atas anugerah yang diberikan padanya. Siapa yang menyangka terlepas dari semua kelakuan buruknya, ia masih diberi kebahagiaan?

Walaupun kebahagiaan itu akan berakhir setelah Sasuke mencapai usia dewasanya.

Naruto tidak keberatan walau tidak bisa dipungkiri hatinya amat sakit. Sasuke juga anaknya, anak tirinya yang ia sayangi. Melihat wajah Sasuke seakan-akan ia melihat Mikoto. Cara mereka berjalan, menggerakkan tangan, bahkan reaksi mereka ketika gugup sama persis. Ia merasa seperti memiliki Mikoto lagi.

"Bolehkah aku melihatmu seperti aku melihat ibumu, Sasuke?"

Bisik Naruto sebelum menyelimuti tubuh kedua putranya dan mematikan sakelar lampu.

.

.

.

To Be Continued

*bangun dari hibernasi* Err… hai?

A-ano… mungkin ada yg lupa ama fict ini, mengingat apdetnya yang… ugh *nggak sanggup ngomong*. Ja-jadi sebelumnya Rei minta map karena terlalu lama nangkring di goa, habis entah kenapa masa hibernasi Rei lebih lama dari biasanya… *senyum gugup*

Langsung aja ya, bales reviewnya.

Tsukihime Akari

Naruto gak kreatip, makanya dikasi nama sama. :3
Hmm… ini kayaknya SasuNaruSasu deh, nggak papa, kan? Naru yang kecil apa yg besar ya? *sing a song* *ditembak*

Soal Itachi nanti diceritain. Tunggu aja ya. Sori lama apdet… dan makasih reviewnya. ^_^

Ariza

Ini kayaknya SasuNaruSasu, deh… *nggak yakin juga*. Tergantung Ariza-san aja maunya apa. ^_^

Ini udah apdet. Maaf kalo lama dan makasih reviewnya…

Kishu Mars

Ini udah apdet. Maaf ya, lama… -_-

Thanks reviewnya…

ukkychan

Itu juga manga favorit Rei. Walau pun manga lama tapi tetep bagusss… ,

Makasih reviewnya…

Vivinetaria

Ini dilanjutin kok… Dan soal masalah-masalah itu, ntar dijelasin sedikit demi sedikit.
Salam kenal juga, Vivi. *btw namanya kayak nama guru b. inggris Rei deh… -3-

Zaky UzuMo

Ini udh diapdet. Makasih ya…

Rikyuu chan

Yosh, Ini udah dilanjutin! Salam kenal juga, ya? ^_^

Makasih reviewnya…

widi orihara

rei Cuma ngambil judul ama ide ceritanya aja, soalnya nggak tau mau kasih judul apa. Hehehe…

Iya, ini udah lanjut. Makasih reviewnya, ya…

Nothing-Name

Ini udah apdet. Makasih reviewnya ya…

Earl Louisia vi Duivel

Iya dong, kalo bisa dapet yg muda ngapain sama yang tua? *ajaransesat.

Makasih reviewnya, ya…

Guest

Ini udah dilanjutin. Makasih ya…

Yu

Ok, ini udh lanjut. Makasih reviewnya…

Nitya-chan

Yosh, ini chap 2 nya! Makasih reviewnya…