...
THE HEIRS EXO VERSION
EPISODE 1
(I'll protect you)
...
WARNING : GS - OOC - Typo(s)
Hurt/Comfort
No Bash - No Plagiarism
Happy Reading!
Sinopsis Episode 1
KRIS POV
Aku akan melingdungi orang - orang yang aku cintai, walaupun itu dengan cara menyakiti mereka dan menghancurkan hatiku.
Ini semua berawal dari salah paham, Suho tidak mau mengerti dan Aku harus menyembunyikan Yixing, karena mamaku tidak akan puas jika gadis tak berdosa itu belum mati.
Kenapa mamaku sendiri selalu memberikan aku pilihan yang sulit, kenapa aku begitu takut dan rapuh jika menghadapinya?
Hanya kau sahabat yang bisa aku percaya.
Aku tidak ingin adikku sendirian, aku mohon jadilah penggantiku, gantikan posisiku sebagai seorang kakak.
Happy Reading!
EPISODE 1
(I'll protect you)
18 Juli 1995
(Beijing, China)
Kris kecil sedang duduk diruang belajarnya. Dia terlihat sangat antusias mempelajari bahasa Korea, nampak seorang guru berdiri didekatnya untuk memonitor perkembangan membaca tulisan hangul anak itu. Kris memang anak yang pintar dan cepat belajar, hanya saja tolong jangan berikan dia mata pelajaran sejarah, karena dia tidak suka mengingat tanggal dan sesuatu yang sudah terjadi. Karena itu, dia sering dimarah oleh papanya sendiri karena Kris masih tidak bisa mengingat sejarah perkembangan Sinopec Group, perusahaan yang dimasa depan akan dia pimpin.
Ya benar, bocah kecil yang hampir genap berusia 10 tahun itu bukanlah bocah kecil biasa. Di usianya yang sekecil itu bahkan dia sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang Presiden direktur, menggantikan ayahnya nanti. Kris adalah seorang putra mahkota dan sebuah perusahaan minyak dan gas terbesar di Cina sedang menantinya di masa depan.
Tepat saat jam menunjukkan pukul 5 sore waktu Beijing, Kris akhirnya menyelesaikan jam bimbingan belajar privat Bahasa Koreanya. Kris yang setelah itu merasa bebas memutuskan untuk berjalan - jalan keliling rumah, hanya hal itu yang ingin dia lakukan saat ini. Tapi Kris malah menggerutu kesal ketika hujan tiba - tiba mengguyur kota Beijing
Kris adalah anak tunggal, ayahnya Presdir Wu sangat sibuk begitu pula dengan Nyonya Wu yang selalu setia mengikuti kegiatan sang Presdir. Dan hal yang paling dibenci Kris adalah menjadi sendirian. Dia paling tidak suka sendiri, dia butuh seorang teman, paling tidak satu saja. Kris memang tidak pernah pergi ke sekolah reguler, guru lah yang akan datang ke rumahnya untuk mengajari Kris.
TING TONG
Bel pintu depan seketika berbunyi, seorang pelayan langsung saja membuka pintu.
"Permisi, apa ini benar kediaman Presdir Wu Hangeng?"
Seorang wanita berdiri di depan pintu masuk utama, keadaannya sangat kacau, wanita itu basah kuyup dan menggendong seorang bayi ditangannya.
"Anda siapa?" tanya pelayan itu
"Aku Liu Xian Hua, aku kemari mencari Presdir Wu" jawab wanita itu lagi
"Maaf, tapi Presdir Wu sedang tidak ada di sini, beliau sedang ke Korea untuk perjalanan bisnis. Minggu depan dia baru pulang"
Mendengar penuturan sang pelayan, wanita itu nampak sangat kecewa. Bibirnya bergetar dan air matanya jatuh tak terasa. Bayi yang ada dalam gendongan wanita itu nampak kedinginan, namun bayi kecil itu tetap tenang.
"Mungkin anda bisa kembali lagi minggu depan" kata pelayan itu mengusir si wanita dengan halus.
"Tapi aku tidak tau harus kemana, aku tidak punya siapa - siapa di Cina" jawab wanita itu.
Si pelayan baru saja akan menutup pintu jika tidak Kris kecil datang dan menghentikan pelayan itu. Kris tau bahwa si pelayan tadi sebenarnya berbohong, papanya tidak sedang di Korea, itu adalah alasan yang selalu pelayan gunakan untuk mengusir tamu - tamu yang dianggapnya tidak penting. Itu adalah suruhan mamanya sendiri, tapi kali ini sungguh Kris tidak tega melihat sang bayi yang ada digendongan wanita itu jika harus berada di luar saat hujan lebat.
"Anda bisa tunggu di sini dan pergi ketika hujan sudah reda, bayi anda pasti sangat kedinginan"
Jangan heran jika yang baru saja berbicara adalah seorang Kris Wu, dia memang sudah cukup dewasa di usianya yang hampir 10 tahun itu.
"Pelayan, tolong siapkan air hangat untuk nyonya ini dan juga siapkan baju ganti." kata Kris
"Tapi tuan muda..."
"Dia adalah tamuku sekarang.." bantah Kris.
.
.
Setelah beberapa saat wanita itu dan bayinya sudah selesai membersihkan diri.
"Ayo kita makan malam dulu, aku tidak suka makan malam sendiri... jadi bisakah nyonya ikut bersamaku? Aku juga sudah meminta pelayan membuatkan bubur untuk bayi anda" kata Kris dengan senyum ramahnya.
"Apa kau adalah anak Presdir Wu?" tanya wanita itu, Kris hanya memberikan anggukan pada wanita itu karena mulutnya sendiri sedang sibuk mengunyah.
"Maafkan aku..." lirih si wanita bermarga Liu itu.
"Apa nyonya adalah teman papa ku?" gantian wanita itu yang mengangguk untuk pertanyaan Kris
"Boleh aku menggendong bayi anda? Dia nampak menyukaiku, dari tadi memandangiku terus"
"Tentu saja, bayi ini baru berusia 1 tahun.."
"Siapa namanya?"
"Namanya Shi Xun"
"Wu Shi Xun..." bisik wanita itu dalam hati.
Entah kenapa Kris sangat menyukai bayi itu, dan mereka nampak sangat cepat akrab bersama. Hayalan anak itu kini melayang, berandai - andai jika saja bayi lucu itu adalah adiknya. Dia pasti akan menyayangi bayi itu dengan sepenuh hatinya, tidak akan membiarkan si kecil tampan dipangkuannya sendirian.
"XIAN HUA!" terdengar pekikan presdir Wu ketika melihat seorang wanita yang dikenalnya dan putranya tengah duduk bersama.
"Hangeng gege!" wanita itu langsung berdiri dan menghambur kepelukan papa Kris. Kris yang bingung hanya mengernyitkan keningnya, dia sendiri tak berani terlalu fokus pada wanita itu dan papanya, dia terlalu sibuk dengan bayi kecil di pangkuannya.
"Kenapa kau bisa disini Xianhua? Bagaimana bisa kau dari Canada kemari?" Hangeng nampak bingung
"Aku melarikan diri dari rumah, aku tidak tahan lagi... aku ingin bertemu denganmu, gege... aku kemari membawa anak kita ge.."
Hangeng tercengang kaget, begitu juga dengan Kris. Kris tidak menyangka bahwa doanya barusan terkabul, anak yang dipangkunya adalah adik kandungnya sendiri. Tapi kenapa bisa berbeda ibu?
Beberapa tahun yang lalu Presdir Wu memang pernah menetap di Canada, dia tidak mengajak serta Nyonya Wu karena perushaan di Cina harus diurus juga bukan? Dan saat di Canada, bertemulah Presdir Wu dengan seorang wanita bernama Liu Xian Hua, anak relasi bisnis Hangeng pada saat itu. Dan mereka saling jatuh cinta, Nyonya Wu yang mengetahui hubungan gelap sang Presdir, akhirnya dia meminta Presdir untuk pulang dan malah membangkrutkan perusahaan keluarga Liu di Canada tanpa sepengetahuan Presdir Wu. Dan tanpa sepengetahuan presdir Wu pula, ternyata saat itu Xianhua sedang hamil.
"Apa - apaan ini? Kenapa wanita jalang ini ada dirumah kita?" Heechul baru saja masuk ruang tengah, emosinya mencuat drastis ketika mendapati wanita yang dibencinya setengah mati tengah berada di hadapannya.
"Dia akan tinggal di sini, dia dan anaknya akan tinggal di rumah ini!" kata sang Presdir
"Apa katamu? Dia dan siapa? Anaknya?" Heechul lalu menoleh pada bayi yang kini sedang mengusap - usap wajah Kris.
Terjadilah pertengkaran hebat malam itu, dimana Heechul dan Hangeng saling berteriak satu sama lain. Kris sendiri berinisiatif untuk pergi dan menjauh, tidak lupa dia membawa sang bayi ikut bersamanya.
Kini Kris dan Sehun kecil sedang bermain di atas tempat tidur Kris, walaupun yang diajaknya bermain adalah seorang bayi yang belum bisa bicara, tapi entah kenapa Kris merasa nyaman dan senang bermain bersama. Tentu saja, karena bayi itu adalah adiknya, temannya yang pertama.
"WU YI FAN! Jauhi bayi itu sekarang juga! Pelayan, ambil bayi itu dan kembalikan dia pada pelacur itu!"
Pelayan yang dibentak nyonya Wu segera menuruti perintah, Kris tak bisa melawan jika sang mama sudah marah.
"Mulai sekarang, jangan pernah bersikap baik, berhubungan atau dekat dengan bayi itu lagi! Mengerti?!"
"Tapi ma... dia kan anak papa juga, berarti dia adikku!"
PLAK!
Heechul menampar Kris kecil hingga anak itu mengeluarkan airmatanya karena sakit dan shock
"Dia bukan adikmu Kris! Dia musuhmu! Dia adalah anak haram dari papamu!"
"Mama..."
"Jauhi dia! Mama tidak mau tau, pokoknya kau tidak boleh dekat dengan dia! Dia musuhmu, mulai sekarang dia adalah ancamanmu! Kau adalah satu - satunya pewaris Sinopec Group, dan dia tidak boleh mengambil secuilpun darimu!"
"Tapi dia tidak tau apa - apa ma... dia masih bayi dan..."
"Apa kau menyayanginya?"
"Aku butuh teman dan Shi Xun adalah teman pertamaku sekaligus adikku, aku ingin dia tetap berada di sini dan dekat denganku ma!"
"Baiklah... jika kau tidak ingin mama membunuh anak itu, maka turuti saja apa kata mama! Karena jika sampai mama mendengar berita bahwa kau dan Shixun bersama - sama, maka esok harinya kau tidak akan bertemu dengan bayi itu lagi!"
Dan mulai saat itulah, Kris tidak lagi berani dekat pada Sehun. Kris tau ancaman mamanya tidak pernah main - main. Seberapapun Kris ingin mendekati Sehun tapi Kris lebih memilih untuk bersikap dingin pada anak itu, itu semua Kris lakukan untuk menjaga Shixun, melindungi Shixun dari hal - hal yang tak terduga yang bisa saja mamanya lakukan.
18 Maret 2001
(Beijing, China)
"Ada apa kau menghadapku Yifan?" kata Hangeng sambil mengerutkan keningnya.
Tidak biasa memang anak putra sulungnya yang berusia 16 tahun itu datang menghadapnya secara pribadi seperti ini.
"Apa guru matematikamu harus diganti lagi?" tanya Heechul yang kebetulan ada di sana.
"Sekolahkan Shixun di sekolah reguler! Aku tidak mau melihatnya berada dirumah ini seharian penuh lebih lama! Dia mengganggu konsentrasiku belajar!" kata Kris tiba - tiba
Tahun ini memang tahun pertama Sehun seharusnya masuk sekolah, Presdir Wu sudah berencana menyekolahkan Sehun di rumah seperti Kris. Namun nampaknya Kris yang sudah tumbuh cukup tinggi itu tidak menyukai rencana itu. Jika Heechul yang membantah keinginan Hangeng mungkin dia tidak akan mau menurutinya, tapi yang memintanya kali ini adalah Kris, dan permintaan itu bukanlah suruhan Heechul. Sontak saja wanita cantik berstatus Nyonya besar itu sangat bahagia dengan permintaan putranya kali ini.
Hangeng yang selalu merasa tidak enak pada Kris karena dia pernah berselingkuh dan mengakui anak haramnya itu tentu tidak bisa mengelak. Dia juga menyayangi Kris, dia tidak ingin kedua anaknya berdendaman seperti kedua istrinya.
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan menyekolahkan Shixun di sekolah reguler."
"Terimakasih papa"
Kris langsung keluar ketika permintaannya dituruti.
"Gege... gege... lihat! Shixun bisa membuat pesawat dari kertas, kemarin Shixun lihat gege membuatnya lalu aku menirunya!" Sehun berlari dan menghampiri Kris bersama pesawat kertas kebanggaanya. Anak itu memang sangat cerdas, dia bisa mempelajari apapun bahkan lebih cepat dari kemampuan Kris.
"Menyingkir dariku sekarang juga! Aku tidak mau melihatmu!" Kris terus saja berjalan tanpa melihat raut wajah Sehun yang berubah muram
"Tapi aku butuh teman, tidak kah gege mau bermain bersamaku sekali saja?" Sehun memelas.
"Jika kau bermain denganku maka nyawamu hanya bisa bertahan hingga malam ini! Minggir sekarang juga!"
Sehun menangis, dan Kris tampak tak peduli. Kalimat terakhir yang Kris ucapkan begitu persis dengan ancaman Heechul pada Kris setiap saat dia tertangkap basah sedang memandang kearah Sehun atau tersenyum melihat kepintaran anak itu.
"Tenang saja adikku, jika kau butuh teman maka sebentar lagi kau akan mendapatkannya... kau akan masuk kesekolah reguler, dan disana kau akan bertemu banyak teman, jadilah anak yang baik dan bertemanlah dengan baik... aku harap kau tidak kesepian seperti aku"
Kris membatin dalam hati, itulah alasan utama Kris mengapa dia meminta Hangeng untuk menyekolahkan adiknya disekolah reguler. Dia ingin Sehun punya teman.
2 September 2003
(Cambridge, America)
Kini usia Kris menginjak 18 tahun, sudah saatnya dia berkuliah. Presdir Wu sudah memutuskan bahwa dia akan mengirim Kris ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya di Harvard University. Hangeng ingin Kris menjadi pemimpin perusahaan yang kuat dan cerdas, maka dari itu dia sangat yakin bahwa Kris mampu menyelesaikan kuliah di bidang bisnisnya di luar negeri.
Dan ini adalah hari pertamanya berkuliah disana. Angin berhembus cukup sejuk di sisa - sisa musim panas yang berganti ke musim gugur, Kris berjalan menyusuri jalan setapak yang akhirnya membawa langkah kaki jenjang Kris pada sebuah gedung asrama.
Sebuah gedung setinggi 4 lantai menjulang di hadapannya, dan sebuah plang terpasang dekat gedung itu bertuliskan "Canaday Hall", sama persis dengan yang tertera di berkas penerimaannya. Gedung itu adalah salah satu gedung asrama milik Harvard University, khusus diperuntukkan untuk mahasiswanya tinggal selama bersekolah di sana. Kris walaupun dia adalah seorang putra mahkota, tapi dia menolak fasilitas yang presdir Wu berikan, dia lebih memilih untuk tinggal di asrama. Kris ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki teman sekamar.
"Hello... name and faculty please..." sapa seorang resepsionis di loby asrama tersebut ketika Kris menghampirinya.
"My name is Kris Wu, Business and Economics Faculty" jawab Kris mantap.
"Your room is 312, here your key... welcome to Harvard Mr. Wu" sambut sang resepsionis
Kris tidak langsung meninggalkan loby itu, dia terlebih dahulu mengecek tas dan barang - barangnya.
"Hi! I'm Richard Park from Business and Economics Faculty" sebuah suara menggelegar dari seseorang berwajah asia menghiasi seluruh loby.
"Wellcome Mr. Park, your room is 312... I think you can see your roommate here Mr. Wu!" sang resepsionis melirik kearah Kris yang juga melihatnya.
"Hi! I'm Richard Park! Nice to meet you! Oh my GOD! We are roommate!" pria bertelinga lebar itu langsung menggenggam tangan Kris dan tersenyum lebar.
"Hi Richard, I'm Kris. Kris Wu! I'm from China!" Kris menjabat tangan pemuda itu.
"I'm from Korea!"
Dua pria asia itu akhirnya menuju ke kamar mereka. Mereka berdua kemudian menjadi sangat akrab, pria bernama asli Park Chanyeol itu memang sangat cepat akrab dengan siapapun. Mungkin jika dia di suruh tinggal di dalam kandang kambing selama 2 jam, maka kambing itu juga akan jadi sahabat Chanyeol.
.
Sore harinya mereka berjalan - jalan bersama membeli beberapa kebutuhan. Saat mereka sedang duduk dan minum kopi di sebuah cafe tiba - tiba seorang pria berwajah asia menepuk bahu Chanyeol.
"Oh... norang!" kata Chanyeol dengan tatapan wajah malas.
"Aku kira kau baru datang besok, kenalkan dia teman baruku... Kris, kenalkan dia sahabatku. ya,,, Kris ini orang Cina tapi dia sangat fasih berbahasa Korea"
"Ahahaha... ibuku adalah orang Korea, maka dari itu... aku sedikit menguasainya!" Kris merendah
"Hei My name is Francis Kim. Nama asliku Kim Suho... panggil aku Suho!" Suho menjabat tangan Kris
"Nama asliku Wu Yifan, tapi aku lebih suka dipanggil Kris... panggil saja Kris!" Kris tersenyum manis.
"Suho-ah, akhirnya aku berhasil menemukan pewaris yang sama kayanya denganmu!" Chanyeol bersmirk girang
"Nugu?" jawab Suho sok cool
"Kris! dia adalah Putra Mahkota Sinopec Group yang terkenal itu!" pekik Chanyeol
"Benarkah? Wah, perusahaan kita memiliki relasi yang baik! Aku dari Hyundai Group!" sambut Suho
"Wah, dimasa depan berarti kita akan saling bekerjasama!" Kris ikut tersenyum
"Tidak hanya kita berdua, tapi si idiot Chanyeol juga. Karena dia adalah calon pemimpin CJ Group yang menguasai bidang ekspedisi di seluruh Asia!" kini giliran Suho yang menyombongkan Chanyeol
"CJ Group? aku dengar perusahaan itu bahkan melebar ke bidang Entertainment" Kris menyambut.
Mulai dari sanalah ketiga calon CEO perusahaan besar Asia itu mulai bersahabat. Ketiganya sama - sama kuliah di jurusan yang sama, mereka hampir tidak bisa dipisahkan.
12 April 2004
Hari ini adalah hari ulang tahun Sehun yang ke 10. Kris tau itu dan Kris ingin sekali merayakan ulang tahun adik yang sangat terpaksa harus dia benci itu. Kris sedang memandang sebuah kue dengan sepuluh lilin menyala diatasnya, Kris memejamkan mata lalu berdoa. Doanya hanya satu, semoga Sehun selalu bahagia dan tidak mengalami kesulitan apapun di Cina, karena bagaimanapun dia tidak bisa menjaga Sehun di sana. Setelah dia selesai berdoa dia lalu meniup lilin - lilin itu.
"Seingri Kuile Wu Shi Xun!" gumamnya.
"Apa anda keberatan membagi kue itu denganku?" Seorang anak laki - laki berkulit tan menghampiri Kris yang duduk di sudut sebuah cafe.
"Tentu saja tidak, ayo bergabung..." Kris tersenyum ramah. Itu adalah senyuman asli seorang Kris Wu.
"Namaku Kim Jongin, disini orang - orang memanggilku Alex Kim. Apa hari ini adalah ulang tahunmu?" anak bernama jongin itu cukup cerewet rupanya, Kris sangat menyukai kecerewetan itu. Jujur saja, anak itu mengingatkannya pada Sehun.
"Namaku Kris! Bukan, hari ini adalah hari ulang tahun adikku, tapi dia ada di Cina!" jawab Kris masih dengan senyumnya.
"Beruntung sekali adikmu itu, aku sangat ingin punya seorang hyung, tapi orang tuaku bilang cukup satu aku saja sebagai anak mereka!" gerutu Jongin sambil memakan kuenya.
"Kalau begitu, kau bisa menjadikan aku hyungmu jika kau mau!" Kris menawarkan diri.
"Oh jinjayeo? kau sungguh - sungguh? Aku bisa memanggilmu Hyung?" anak itu nampak sangat bersemangat, apalagi ketika Kris mengangguk mantap dihadapannya.
"Oh Jongin! disini kau rupanya!" seorang gadis berdimple mendekati anak itu, Kris yang seperti mengenal suara itu lalu berbalik.
"Kris?"
"Yixing?"
"Oh kalian berdua saling mengenal?" ucap jongin yang masih sibuk dengan kuenya.
"He is my friend!" jawab yixing tegas
"Really? Not boyfriend?" Jongin menyelidik, sontak itu membuat rona merah di pipi keduanya.
"Bagaimana kau bisa di sini Jongin? Ayo kita pulang sebelum eommamu panik!" Yixing menarik tangan Jongin
"Dia siapa?" tanya Kris bingung
"Dia Kim Jongin, aku bekerja part time sebagai pengasuhnya dan juga sebagai guru lesnya. Dia adalah seorang anak dari pemilik pabrik anggur terkenal di sini, jadi kedua orang tuanya sangat sibuk di perkebunan dan pabrik" jelas Yixing.
Hari itu berakhir dengan Yixing dan Kris menemani Jongin di rumahnya. Kris sangat menyukai Jongin, Jongin selalu mengingatkannya pada Sehun, apalagi mereka berdua seumuran. Bermain dengan Jongin seperti ajang penghapusan rindu Kris pada Sehun. Dan mulai sejak itu Yixing dan Kris sangat rajin menjaga Jongin bersama - sama.
21 Desember 2005
(Cambridge, America)
Suho sedang duduk disebuah bangku taman, mengamati seorang gadis berdimple yang sudah lama diincarnya. Namun Suho terlalu takut untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Tentu bukan karena Suho tidak mengenal gadis itu, dia dan Yixing adalah sahabat baik.
"Kenapa kau melamun?"
Tanpa Suho sadari, Yixing datang mendekatinya. Suho segera memegang dadanya seketika, takut Yixing menyadari bahwa jantungnya kini sedang ingin melompat keluar.
"Aku... sedang memikirkan... kau..." Suho terbata - bata
"Bagaimana bisa memikirkan aku?" Yixing mengerutkan keningnya
"Entahlah, mungkin karena aku merindukanmu, akhir - akhir ini kau sibuk mengurusi bayi bernama jongin itu!" Suho seolah merajuk
"Kenapa kau tidak ikut denganku? Kris saja selalu ikut jika aku bertemu dengannya.." ungkap yixing, dia sangat ingin Suho bisa selalu berada dengannya.
"Apa? Kris selalu ikut bersamamu?" tersirat semburat cemburu pada wajah angelic itu.
"Iya, dia selalu bersamaku jika aku bersama jongin!" Yixing kembali tersenyum
"Apa kau menyukainya?" yang suho maksud adalah 'apakah yixing menyukai kris?'
"Tentu saja, aku menyukainya!" dan yang yixing maksud adalah 'tentu saja aku menyukai pekerjaan menjaga anak itu'
Salah paham pertama sudah terjadi. Sejak itu Suho sering tidak menanggapi Kris, Suho selalu saja terlihat kesal jika dia bertemu Kris, apalagi jika kebetulan Kris sedang bersama yixing. Chanyeolpun heran, yang biasanya Suho tidak pernah melewatkan menonton basket bersama Kris kini terlihat enggan. bertemu Krispun enggan.
12 Februari 2006
(Cambridge, Amerika)
"Kau kenapa Kris? Kenapa ngos - ngosan begitu?" tanya Chanyeol pada Kris
"Apa aku terlambat? Dimana Professor Edward?" Kris nampak masih mengatur napasnya.
"Dia sedang ada rapat dan memberi kita tugas. Ya...kenapa bisa terlambat? OH! Kau terlambat bersama Yixing?" Suara Chanyeol yang begitu besar walaupun dia sedang berusaha untuk berbisik tetap saja terdengar oleh yang lain, salah satunya Suho yang duduk sekitar dua baris dari Chanyeol dan Kris sekarang.
Suho langsung menoleh ke belakang, dia mendapati Kris dan Yixing dengan tampilan sedikit acak - acakan, keringat bercucuran dan napas yang masih ngos - ngosan.
"Jongin demam tinggi hari ini, kami berdua baru saja membawanya ke rumah sakit." Yixing berkata setelah napasnya teratur
"Oh anak kecil itu? Ya... kalian berdua ini sudah seperti sepasang suami istri yang sudah memiliki anak saja... mengurus anak kecil itu dengan sepenuh hati, benar - benar seperti orang tuanya saja..." Chanyeol menyindir dan Suho masih tetap menguping.
"Ya... jaga bicaramu! Aku hanya menganggap Jongin itu seperti adikku sendiri, aku juga punya adik di Cina yang seumuran dengannya!" Kris membantah
"Oh... Adikmu pasti beruntung memiliki kakak sepertimu," Chanyeol sedikit mencibir dengan senyuman bodohnya
Suho yang tak tahan lagi dengan percakapan itu segera menutup bukunya dan merapikan mejanya lalu pergi meninggalkan kelas mereka. Yixing dan Kris hanya mampu menatap namja tampan itu berlalu dengan wajah yang nampak muram.
"Chanyeol-ah.. kenapa akhir - akhir ini Suho menjauh dari kalian?" Yixing memulai
"Aku tidak tau, yang jelas dia agak aneh akhir - akhir ini. Dia suka marah tidak jelas dan bilang sekarang aku lebih asik dengan Kris, padahal tidak begitu" Ujar Chanyeol dengan wajah berpikir keras
.
Setelah menyelesaikan tugas, akhirnya Kris, Chanyeol dan Yixing pun berpisah. Chanyeol harus segera pergi untuk bergabung bersama club musik, sedangkan Yixing dan Kris harus kembali ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Jongin.
Kini Kris dan Yixing sedang berjalan beriringan melewati taman di kampus mereka menuju tempat parkir, Yixing hanya terus diam tak berbicara. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Suho. Suho yang selalu bersikap aneh dan menjauh darinya akhir - akhir ini.
"Apa kepalamu isinya hanya Suho?" Kris membuka pembicaraan
"Huft... kau satu - satunya orang yang tau Kris" desahnya pelan.
"Lalu?" Kris menoleh pada wajah murung wanita manis disebelahnya
"Entah kenapa hatiku sering sakit ketika Suho menjauh dari kita semua" Yixing menghela napas kemudian
"Kau merindukannya.." gumam Kris dan Yixing mengangguk "Aku mencintainya Kris, aku mencintai Suho!" jawab gadis polos itu
"Okay! Kau milik Suho... tapi kapan aku boleh memberitau Suho jika kau mencintainya?" tantang Kris
"Jangan! jangan pernah kau beritau padanya jika aku mencintainya... aku malu Kris! Aku takut dia tidak akan menyukaiku!"
"Dia tidak akan tau perasaanmu jika kau tidak mengutarakannya Xing!" Kris berhenti berjalan dan Yixing juga berhenti sesaat kemudian
"Aku hanya gadis biasa Kris, mana mungkin dia menyukaiku.."
"Kau kenapa jadi tidak percaya diri begini, apa kau yakin Suho tidak menyukaimu juga?"
"Aku hanya malu.."
"Kau mencintainya tidak?"
Kris meninggikan nada suaranya, dia kesal pada Yixing yang pemalu ini. Dan dia juga tidak suka jika Yixing tidak mau mengutarakan perasaannya, menurut Kris tidak ada salahnya wanita mengakui perasaannya duluan.
"Iya, aku sangat mencintainya"
"Oke ayo ikut aku!"
Kris menarik tangan Yixing dan membawanya ke suatu tempat yang dia yakini Suho pasti ada di sana. Dan benar saja, di sebuah taman di tengah perkumpulan club golf, Suho sedang tertawa bersama beberapa orang.
"Suho... bisa minta waktu? aku ingin bicara" Kris mendekat dengan senyum bersahabat
"Oh liat siapa yang datang, Kris dan Yixing... bukankah mereka nampak serasi?" Suho berteriak diantara kerumunan itu dan semuanya mengangguk, sangat berbeda dengan Yixing dan Kris yang menatap Suho tidak mengerti.
"Suho, aku dan Yixing..."
"Semua sudah jelas Kris, kau bahkan tau aku bagaimana terhadap gadis yang kau pegang tangannya itu kan?"
Suho menaikkan sebelah alisnya, Kris memang tau Suho menyukai Yixing, tapi Suho sama saja, dia tida mengizinkan Kris untuk memberitahu gadis itu. Dan malah salah paham dengan kedekatan Yixing.
"Suho! Aku dan Yixing tidak..."
"Aku tidak peduli, lagi pula aku tidak akan lagi menyukai gadis sok polos dan sok pintar seperti dia, karena aku sekarang sudah bersama dia.." Suho menarik seorang gadis berambut pirang yang dikenal sebagai pemain golf terbaik di Harvard. Mereka lalu berciuman begitu panas, dihadapan Yixing dan Kris. Semua orang menyambut itu dengan sorak bahagia, berbeda dengan Yixing yang mulai bergetar dalam tangisnya. Hatinya begitu sakit kali ini, itu karena dua hal. Pertama, Suho menghinanya dan Kedua, Suho mencium gadis lain.
"Ya... Kalian semua harus tau, Bahwa KRIS WU dan ZHANG YIXING... mereka memiliki hubungan khusus dan mereka selalu berkencan diluar kampus! Tapi itu baik - baik saja karena aku sudah punya kekasih yang Hot!" teriak Suho ketika dia selesai berciuman dengan perempuan tadi.
Jujur, saat itu Kris sangat kesal, Kris kesal namun tidak berani melakukan apapun. Terang saja, karena Kris adalah putra mahkota Sinopec Group dan Suho adalah putra mahkota Hyundai group, jika Kris menyerang Suho saat ini juga, pasti berita itu akan santer menyebar dan membuat saham kedua perusahaan jadi bermasalah. Akhirnya Kris memilih pergi bersama Yixing yang sudah berurai air mata..
.
Berita tentang Kris dan Yixing yang berpacaran pun tersebar. Chanyeol yang kaget mendapatkan berita itu langsung mengkonfrimasi itu pada Kris dan Kris yang tentunya sangat percaya pada Chanyeol segera menjelaskan masalah itu. Lagi - lagi karena Kris adalah seorang putra mahkota Sinopec Group, beritanya yang berpacaran dengan Zhang Yixing mulai santer terdengar hingga ketelinga Nyonya besar Wu bahkan dalam kurun waktu yang tidak sampai 1 hari.
"Apa? Kris memiliki seorang kekasih? Siapa dia?" tanya nyonya besar pada informan kepercayaannya
"Dia bernama Zhang Yixing, teman sekelas Tuan muda, nyonya" jawab pria itu.
"Oh... perusahaan apa yang dimiliki oleh orang tuanya?" tanya Nyonya itu sambil memainkan gelas Winenya
"Maaf nyonya, tapi gadis itu hanyalah gadis biasa. Dia juga yatim piatu, dia bersekolah di harvard karena beasiswa nyonya!" jawab informan itu
"Mwo? Gadis yatim piatu biasa? Kris tidak boleh bersatu dengan gadis kumuh seperti itu. Singkirkan gadis bernama Yixing itu sekarang juga! Lenyapkan dia, kesalahannya adalah sudah berani melangga derajatnya sebagai rakyat jelata!" Nyonya besar nampak sangat murka akan itu.
.
Dua hari setelahnya, yixing baru saja pulang dari menjaga Jongin. Seperti biasa Kris bersamanya. Gadis itu jadi pemurung sekarang, setelah kejadian itu, senyumnya sangat sulit untuk dimunculkan, bahkan Jongin sampai heran kenapa pengasuh kesayangannya itu menjadi aneh.
Mereka berdua berpisah arah ketika sampai di sebuah persimpangan. Dorm yixing dan Kris memang berbeda. Ketika Yixing hendak menyebrang jalan, Kris yang masih berdiri di pinggir jalan untuk melihat papan pengumuman menangkap pemandangan aneh. Sebuah mobil melaju kencang. Tepat menyasar Yixing yang sedang menyebrangi jalan itu.
"YIXING AWAS!"
GDBRUUGH
AAARRRGGHHHH
Suasana tiba - tiba jadi mencekam, tubuh yixing tergeletak kaku dipinggir trotoar, keadaannya sangat parah. Kris sejenak terdiam, dia tidak percaya apa yang dia lihat. Bukan tidak percaya yixing tertabrak. Tapi dia masih belum bisa percaya jika orang yang mengemudi mobil itu adalah orang kepercayaan ibunya yang selalu menguntitnya belakangan ini.
Kris langsung menelpon Chanyeol untuk meminta bantuan dan segera melarikan Yixing ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan intesif dari dokter terbaik. Chanyeol mendapat tugas untuk berjaga di ruang emergency sementara Kris dia pergi ke suatu tempat.
"Tuan Xiah, bisakah kau menyiapkan aku sesuatu?" kata Kris melalui sebuah telpon umum.
"Siapkan sebuah rumah, terserah tuan di mana yang jelas tidak di Amerika dan tidak di Asia! Siapkan sebuah rumah legkap dengan akomodasi dan siapkan untuk keperluan rawat kesehatan." kata Kris lagi.
"Aku juga memintamu mencari gadis bernama Zhang Xiumin di Changsa. Ajak dia kerumah itu, bilang padanya kakaknya akan menyusul!"
Kris mengeset sebuah rencana. Itu adalah rencana besar, dia berniat menyembunyikan Yixing beserta adiknya. Dan dia meminta bantuan Tuan Xiah, pengacara kepercayaan ayahnya yang tidak diketahui oleh nyonya Wu. Kris tau, mamanya tidak akan berhenti mencelakakan Yixing jika gadis itu belum menghilang. Dan Kris juga tidak habis pikir, kenapa mamanya bisa secepat itu bertindak hingga mengacaukannya bahkan mencelakakan orang lain yang tidak bersalah.
Tengah malamnya Kris langsung mengirim Yixing menggunakan helikopter pribadi rumah sakit menuju tempat yang aman sebelum akhirnya dia dipindahkan ke tempat yang sudah disiapkan Kris.
Dan keesokan harinya...
"MWO? Yixing meninggal?" Suho bagaikan tersambar petir di pagi hari.
Suho langsung berlari mencari Chanyeol dan Kris untuk memastikan, namun dua orang itu sudah tidak ada. Kris dilaporkan tengah kembali ke Cina untuk liburan akhir tahun, dan Chanyeol juga sama, dia dikabarkan tengah berlibur di Korea.
Suho marah. Entah marah pada dirinya yang terlalu pengecut sehingga tidak pernah berani mengakui perasaanya pada Yixing dan dengan jahatnya telah menghina Yixing dan Kris ataukah dia marah pada Kris yang dengan seenaknya mengambil yixing darinya?
Entahlah, yang jelas Suho sudah tidak berniat lagi menuntut ilmu di negeri paman sam lagi. Dia memutuskan untuk pindah dan berkuliah di Korea saja.
Suho pulang ke korea membawa dendam dalam dirinya. Dendam yang dia tujukan kepada Kris, yang dia anggap sebagai mantan sahabatnya itu. Dalam hati Suho bertekad akan menghancurkan kehidupan Kris, merebut semua yang Kris punya seperti apa yang dia anggap Kris lakukan.
Maret 2006
(Beijing, China)
Kris memang pulang ke Cina. Dia pulang tepat setelah dia memastikan bahwa Yixing dan adiknya sudah tiba di tempat tujuan mereka.
.
Begitu dia menginjakkan kakinya di Cina, salah seorang ajudan yang Presdir Wu tugaskan untuk menjemput Kris memberikan kabar mengejutkan.
"Tuang Muda, Presdir Wu... Dia mengidap stroke dan sekarang kondisinya sangat parah!" kata Ajudan itu
Kris sedikit melotot karena berita itu, dia tentu terkejut namun dia hanya memasang wajah datar seperti biasa lagi dan berkata. "Mungkin sudah waktunya".
.
Kris masuk kedalam rumah, tanpa disangka senyuman manis seorang anak berusia 12 tahun langsung menyapanya.
"Selamat datang gege..." kata anak itu riang. Kris tidak membalas, dia hanya berjalan menjauh, langsung menuju ke kamar pribadi Nyonya besar Wu, dimana dia sudah ditunggu.
"Aku pulang ma" kata Kris begitu pintu kamar yang dia masuki di tutup oleh pelayan. Nyonya Wu kini sedang terdiam dan menerawang kearah luar melalui jendela besar kamarnya.
"Kau sudah dengar berita tentang papamu?"
"mm"
"Dia sudah tidak berdaya lagi Kris, dan kau tau apa artinya?"
Kris tidak menjawab
"Ini adalah kesempatan kita untuk menguasai Sinopec Group secara utuh!"
"Mama..."
"Aku sudah mengurus semuanya Kris, kau hanya tinggal mengikuti permainan ini, kau adalah kesatriaku nak... kau harus menuruti kata - kata mamamu, jika kau tidak mau sesuatu terjadi pada orang - orang yang kau sayangi seperti kekasihmu yang mati itu kan?"
Kris membelalak, ternyata benar itu ulah mamanya. Dan begitulah mamanya, selalu menyakiti siapapun orang yang dia tidak sukai, atau menghalangi jalannya untuk menguasai perusahaan. Kris takut. Kris tak ingin siapapun tersakiti.
"Sekarang kau sapa dulu mayat hidup tak berdaya itu, aku masih ingin kau tampak berbakti kepadanya!"
.
Kris keluar dari kamar mamanya dan berjalan menyusuri koridor panjang. Kris berhenti di ujung koridor, lalu mengetuk pintu yang berada dihadapannya.
"Kris, anakku... kau sudah pulang?" seorang wanita yang masih terlihat manis diusianya menyapa Kris dengan ramah.
"Aku bukan anakmu!" Kris berkata dingin, namun wanita itu hanya tersenyum
"Baiklah, ayo masuk... papamu sedang tidur, sebentar lagi jadwalnya minum obat, dia pasti bangun" kata istri kedua presdir Wu yang juga merupakan ibu kandung Sehun.
Kris diam tidak menjawab, dia hanya duduk di ruang kosong tempat tidur sanga papa bersama ibu Sehun yang duduk di kursi di sampingnya.
"Apa kuliahmu lancar nak? Apa kau menyukai tinggal di Amerika?" tanya wanita itu lembut, Ibu Sehun memang selalu bersikap lembut dan tulus menyayangi Kris, walaupun Kris sebenarnya juga menyayangi wanita itu, tapi dia selalu bersandiwara untuk menyembunyikan perasaannya.
"Papa dan mamamu sangat merindukanmu, aku dan Shixun juga..."
"Terimakasih karena sudah menjaga papa dengan baik" kata Kris singkat.
"Kris... apa itu kau?" suara lirih presdir Wu memanggil anak sulungnya
"Ini aku pa..."
"Xianhua, bisa kau tinggalkan kami sebentar?"
Wanita itu mengangguk dan langsung meninggalkan Kris dan papanya berdua.
"Kau sudah besar nak, usiamu sudah 21 tahun, sudah saatnya untuk bicara serius padamu. Aku selama ini menutup mata pada apa yang Heechul perbuat, aku tau nak... kau tersiksa, maafkan papamu yang tak berdaya ini."
Kris menggenggam tangan papanya kemudian presdir wu kembali berkata
"Dengan keadaanku yang seperti ini, kapan saja aku bisa mati. Aku sudah tak lagi bisa melindungimu nak, aku berharap padamu. Jujur padaku, apa kau menyayangi adikmu? Shixun?"
Kris mengangguk, air matanya mulai jatuh
"Aku mohon, jaga dia. Hanya kau yang bisa menjaganya saat ini. Aku sudah tak lagi berdaya, aku mempercayakannya padamu. Aku mempercayakan Shixun dan Sinopec group padamu. Kau harus kuat, aku minta maaf jika permintaanku mengharuskanmu untuk berperang melawan mamamu sendiri. Aku minta maaf nak.."
Kris sudah mulai terisak, dia tak mengeri dengan apa yang dia rasakan saat ini. Dia begitu takut dan rapuh dalam dirinya, dibalik semua kebekuannya.
"Tentu kau sudah mengetahui pengacara Xiah kan? dia adalah orang yang akan membantumu, mamamu tak pernah tau tentang pengecara Xiah. Aku harap kau mampu berjuang dengan senjata yang kuberikan. Aku akan semakin lemah, tapi kau tak perlu khawatir padaku. Berjanjilah untuk selalu menjaga Shixun dan Sinopec Group"
.
Setelah pembicaraan panjang antara Kris dan Presdir Wu akhirnya Kris keluar dari kamar itu, dia segera menuju ke kamarnya dan menangis.
April 2006
(Beijing, China)
Nyonya Wu memanggil Kris ke ruangannya. Nampaknya wanita kejam itu sudah menyusun sebuah rencana dan dia ingin Kris segera melakukan rencana itu.
"Aku mau kau membuang Shixun ke Gansu!"
Kris yang tadinya menunduk tiba - tiba mendongakkan kepalanya setelah mendengar permintaan sang mama, membuang Sehun ke Gansu, yang merupakan daerah termiskin di Cina.
"Bawa anak itu ke Gansu dan buang dia di jalanan. Entah anak itu akan dipungut oleh orang atau berjuang hidup menjadi gelandangan atau apa sajalah. Aku tidak peduli, yang jelas aku tidak mau Shixun ada di sekitar Beijing untuk menganggu jalan anakku menguasai Sinopec Group" kata wanita itu lagi.
"Mama, kau tak perlu sejauh itu..."
"Jika kau tidak mau membuangnya, maka aku akan membunuhnya! Sudah baik aku membiarkan anak itu hidup!" jawab wanita itu kasar.
Kris nampak ingin membantah lagi namun Nyonya Wu kembali mengancam, "Kau ingin aku membunuhnya?"
.
.
.
Kris benar benar berkecambuk dalam batinnya sendiri. Dia tidak mau membuang Sehun. Sehun adikknya, dia tidak mau adikknya menderita. Dia bingung, wajah tampannya begitu kusut.
"Kau sedang mengahadapi masalah anakku?" ibu kandung Sehun menghampiri Kris yang sedang duduk menyendiri di taman belakang
"Aku melihatmu murung, jadi aku buatkan teh agar kau lebih rilex" wanita itu memang sangat baik.
"Apa kau percaya padaku?" tanya Kris tiba - tiba
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Walaupun aku memisahkanmu dari Shixun, apakah kau masih percaya padaku?"
"Aku mengenalmu Kris, walaupun kita tak pernah benar - benar bicara, tapi aku mengenalmu, kau juga anakku. Apapun yang kau lakukan, aku mempercayaimu. Aku dan Shixun, mempercayaimu!"
Kris langsung beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan wanita itu ditengah dinginnya udara taman belakang istana keluarga Wu. Kris segera menuju kamarnya dan mengambil tasnya. Tanpa berganti pakaian Kris langsung menggendong tasnya dan berjalan keluar.
"Kau mau kemana?" tanya Heechul melihat anaknnya yang baru akan memasuki mobil pribadinya
"Aku minta waktu dua hari, maka akan aku urus Shixun seperti permintaan mama!" jawab Kris kemudian masuk kedalam mobinya.
April 2006
(Seoul, Korea)
"Tuan muda, ada yang ingin bertemu dengan anda" seorang pelayan berbicara pada seorang pria yang tengah asik bermain dengan gitarnya.
"Nuguseo ajhuma?" tanyanya sambil melepas earphone di telinganya.
"Dia teman anda di Amerika tuan" jawab pelayan itu lagi.
Pria jangkung bertelinga peri itu langsung menuju keruang tamu dibawah, dan benar saja. Dia menemukan sesosok Kris sedang berdiri dengan tatapan panik. Ternyata dia kabur ke Korea, mencari solusi untuk masalahnya kali ini.
"Kris, apa kau sedang liburan di Korea? kenapa tidak mengabariku?" Chanyeol memeluk sahabatnya dan tersenyum gembira.
"Apa kita bisa menemukan tempat yang lebih privat untuk berbicara?" Kris nampak tegang, Chanyeol tak biasanya melihat Kris seperti ini.
"Okay, ayo kita ke kamarku!" Chanyeol kemudian berjalan dan Kris mengikutinya.
Setelah pintu kamar yang cukup luas itu ditutup, Chanyeol kemudian bertanya "Ada apa? kenapa kau pucat sekali?"
"Aku sudah pernah bercerita padamu tentang keadaan keluargaku kan? Tentang seberapa kejamnya mamaku dan hubnganku dengan adikku... aku sudah menceritakannya kan?" Kris memulai dan Chanyeol mengangguk
"Kini mamaku berpikir adikku adalah ancaman untuk posisiku sebagai pewaris perusahaan kami. Dan mamaku sudah kelewatan gila, dia ingin membuang adikku ke daerah terpencil. Dia ingin membuangnya!" Kris terduduk di sofa kamar Chanyeol, air matanya sudah jatuh.
"MWO? membuang adikmu?" Chanyeol juga tidak percaya.
"Dan jika aku tidak melakukannya, mamaku akan membunuh adikku!" Isak Kris, kini dia tidak lagi memikirkan harga dirinya yang jatuh karena menangis dihadapan sahabatnya
"Ibumu iblis atau apa Kris? kenapa sejahat itu?" Chanyeol menyerahkan tissue pada Kris.
"Chanyeol-ah... apa aku harus membuangnya?" Kris bertanya
"Aku tidak tau Kris, pilihannya hanya dua, membuang adikmu, atau dia dibunuh." Chanyeol ikut bingung, dia ingin sekali membantu sahabatnya tapi dia tak bisa berpikir dalam keadaan genting begini, dia tentu tau bagaimana gilannya nyonya Wu, dilihat dari tragedi Yixing.
"Boleh aku meminta bantuanmu?" tanya Kris tiba - tiba.
"Tentu saja! Apapun! Kau sahabatku! Aku akan membantumu! Pasti" Chanyeol yang memang setia kawan itu meyakinkan Kris.
"Aku akan membuang adikku. Tapi tidak ke tempat yang mamaku sebutkan. Aku akan membuang adikku padamu! Aku tidak mau dia hidup sendirian, dan menjadi gelandangan dijalanan. Aku akan membuangnya padamu!"
"Membuangnya padaku?"
"Tolong bawa dia pergi kemanapun kau mau, sembunyikan dia dari dunia ini Chanyeol-ah! Aku mohon..." Kris berlutut dihadapan Chanyeol, Chanyeol yang salah tingkah ikut melengsot kebawah dan mengangkat tubuh gemetar Kris
"Aku harus bawa adikmu kemana?"
"Kemanapun, jauhkan dia dari aku dan keluargaku, sembunyikan dia yeol..."
"Baiklah, aku akan melakukannya... Aku berjanji akan menyembunyikan dia..."
"Dan satu lagi, dan kali ini aku benar - benar memohon"
"Apa Kris?"
"Gantikanlah posisiku sebagai Kakaknya. Jadilah seorang kakak untuknya! Aku tidak mau dia tumbuh sendiri dan kesepian sebatangkara, aku mohon Chanyeol... gantikan posisiku sebagai seorang kakak untuknya... Aku tidak mau dia sendirian... aku mohon..."
"Baiklah, aku akan membantumu... dan aku akan merahasiakan ini pada seluruh dunia"
11 April 2006
(Beijing, China)
.
"Gege aku tidak mengerti apa yang gege bilang barusan..." Sehun yang tepat sehari lagi akan berusia 12 tahun itu berdiri dan menatap kedua bola mata tajam milik Kris.
"Kemasi barangmu dan tinggalkan rumah ini segera!" Kris mengulangi perkataanya, raut wajah dinginnya menyiratkan betapa bencinya dia melihat bocah dihadapannya itu.
"Gege... apa aku melakukan kesalahan? Gege aku mohon jangan usir aku dari sini.." Mata sayu Sehun mulai meneteskan air mata.
Seketika Kris memutuskan kontak mata tajamnya dan berbalik menatap jendela lebar yang berada di ruang kerja pribadinya itu.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, kau tinggal mengikutinya saja... tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali" Kris berkata dengan nada datar seolah kata - katanya hanya lah perintah biasa.
"Gege aku mohon jangan usir aku dari sini, aku berjanji aku tidak akan menjadi anak nakal dan menyusahkan, aku akan belajar lebih giat lagi ge... aku juga tidak akan mengganggu gege lagi...aku mohon..." Sehun memegang tangan Kris, kini suara anak itu sangat gemetar dan ucapannya terlontar ditengah sesenggukannya.
"Sampai kapan kau akan terus menjadi musuh yang lemah seperti ini?" Kris mengibaskan tangannya sehingga genggaman sehun terlepas dari tangannya. Sehun jatuh terduduk di samping Kris yang masih dengan datarnya memandang kearah luar jendela.
"Gege aku tidak mau pergi ge... maafkan kesalahanku ge... beri aku satu kesempatan lagi" Sehun memohon sambil memeluk kedua kaki jenjang Kris, masih dalam tangis yang semakin menjadi - jadi.
"Jika kau masih di sini maka aku tak akan segan - segan membunuhmu suatu hari nanti! Pergi dan tinggalkan rumah ini." Kris menendang tubuh mungil Sehun yang tadi memeluk kakinya.
Sehun tersungkur diatas karpet tebal yang membungkus seluruh lantai di ruangan itu. Kris baru saja keluar dan meninggalkan bocah kecil itu dalam tangisnya sendirian. Sehun tak mengerti kesalahan apa yang dia perbuat hingga Kris tega mengusirnya. Kris memang terkenal kejam dan seluruh rumah itu tau bagaimana Kris membenci Sehun sejak anak itu dilahirkan.
Tak lama setelah kepergian Kris, seorang pria bertubuh tinggi tegap memasuki ruangan itu.
"Ayo kita pergi Wu Shi Xun..." kata pria itu.
Sehun tak mempedulikannya, dia masih tenggelam dalam uraian air mata yang membuat bocah tampan itu nampak sangat kacau. Karena tidak mendapat respon dari Sehun, pria itu langsung memapah tubuh ringkih bocah itu keluar dari ruang kerja Kris dan memasukkannya ke dalam mobil.
Mobil yang membawa sehun menlaju dengan kecepatan sedang, Sehun sendiri masih terduduk lemas di jok belakang. Bocah itu memang sudah tidak menangis lagi, namun tatapan matanya hanya kosong menerawang ke langit mendung musim dingin di atasnya. Pria yang membawanya tadi menghentikan mobil yang membawa mereka, begtiu pintu di samping Sehun terbuka suara bising pun mulai terdengar dan keramaian mulai terlihat, banyak orang berlalu lalang membawa koper mereka.
'Bandara' pikir Sehun setelah dia melihat sekitarnya.
Sehun melihat pria bertubuh tinggi yang kurang lebih memiliki usia yang sama dengan Kris sedang mengatur beberapa koper di sebuah troli. Sehun berpikir dia pasti akan diajak pergi ke luar daerah dan diasingkan di sana. Jauh dari ayah yang selalu hangat padanya, jauh dari Kris kakak yang dia amat sayangi, kagumi dan hormati, jauh dari Heechul wanita paruh baya yang dia panggil mama dan juga jauh dari Xian Hua ibu kandung yang terpaksa dia pangggil bibi di depan umum.
"Ayo kita berangkat sekarang!" kata pria yang membawa Sehun, pria itu tersenyum namun Sehun hanya menatapnya kosong.
"Tunggu.." Sehun menghentikan langkahnya dan sontak sosok di depannya itu juga ikut terhenti.
"Apa aku boleh meminjam ponsel anda? Aku ingin berpamitan pada Gege dan Bibi" bocah itu masih nampak datar.
"Okay..." sahut orang yang diajaknya bicara kemudian menyerahkan sebuah ponsel pada Sehun.
Sehun yang memang pintar jadi dia sudah hapal betul nomor ponsel sang kakak, walaupun dia sendiri tidak pernah menghubunginya. Mungkin ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya Sehun menghubungi gegenya itu melalui nomor ponsel yang dihapalnya.
"Yeobuseo... museun iriya?" Kata Kris begitu telponnya tersambung, Sehun tidak mengerti bahasa apa yang baru saja gegenya itu bicarakan, tapi dia yakin itu adalah suara gegenya.
"Gege ini aku. Shi Xun.." kata Sehun kemudian. Namun tidak dijawab oleh Kris dan telepon itu nampak masih tersambung.
"Gege, maafkan aku jika aku melakukan kesalahan. Aku akan menuruti perkataan gege dan meninggalkan rumah, aku tidak tau orang yang bersamaku sekarang ini akan membawaku kemana. Tapi aku akan dengan senang hati mengikuti semua perkataan gege. Gege... tolong jaga Xianhua mama untukku..."
Kalimat panjang Sehun terhenti, airmatanya kembali jatuh, dan telponnya masih tersambung walaupun tak ada jawaban dari Kris.
"Gege aku menyayangimu..." kata Sehun akhirnya.
PIP
Setelah beberapa saat hening, sambungan itu akhirnya terputus oleh Kris. Sehun terdiam sejenak namun masih menggenggam ponsel itu, kembali kini dia menekan beberapa nomor yang dia yakin itu adalah nomor telpon ibu kandungnya.
"Hallo..." suara lembut itu, itu adalah suara mamanya sendiri. Sehun menarik napas basahnya dan segera berkata.
"Mama... ini aku, Shi Xun..." jawab Sehun berusaha nampak tegar, kali ini dia memanggil wanita itu dengan sebutan mama, tidak lagi bibi.
"Anakku, ada apa kau menelpon mama sayang? Apa kau di sekolah? Apa kau sakit? Apa gegemu marah padamu lagi?" tanya wanita itu dengan nada lembutnya
"Tidak ma, aku... hanya ingin berpamitan pada mama. Sepertinya aku akan pergi jauh, dan tidak bisa bertemu mama untuk waktu yang lama." katanya.
Hening sejenak karena Sehun sendiri tidak tau apa yang harus dia katakan lagi, dia tidak mau membebani wanita cantik itu dengan fakta dia diusir oleh gegenya sendiri dari rumah mewahnya. Wanita itu pun tanpa ditambah beban dari Sehun dia sudah memiliki banyak sekali beban.
"Anakku... Wu Shi Xun... kau adalah seorang putra keturunan keluarga Wu. Kau harus kuat dan selalu tegar, kau harus selalu menjadi positif dan tersenyum menghadapi apapun. Tidak ada hal yang berat di dunia ini jika kau selalu tenang dan tersenyum..."
Wanita itu nampak menenangkan Sehun yang suara isaknya terdengar oleh telinga sang mama seberapapun dia mencoba menyembunyikannya.
"Apapun yang dilakukan oleh gegemu, kau harus percaya padanya... kau harus selalu mempercayai gegemu, apapun yang dia lakukan padamu, seberapapun menyakitkannya, kau harus bisa menerimanya... kemanapun kau akan pergi dan dimanapun nantinya kau berada, hiduplah dengan baik dan jadilah anak yang baik dan pintar, jangan mengecewakan papa dan gegemu... mengerti?"
Wanita itu memang selalu mengajarkan Sehun untuk menerima semua perlakuan kasar Kris pada bocah itu.
"Aku selalu menyayangimu mama..."
"Mama juga sayang.."
PIP
Dan sambungan telepon itu akhirnya terputus. Sehun kemudian mengusap air mata yang membasahi pipinya, bocah itu lalu mengepalkan kedua tangannya dan menutup kedua matanya. Sehun menarik napasnya sepanjang mungkin kemudian mengehembuskannya dengan sekali hentakan. Tak lama kemudian dia membuka kedua matanya dan ...viola... sorot mata sendunya seketika berubah menjadi sorot mata tegar dan siap menghadapi apapun dihadapannya.
"Terimakasih ponselmu tuan, ayo kita berangkat" kata Sehun dengan tegas, pria yang bersamanya itu cukup kagum dengan perubahan sikap Sehun setelah menelpon gege dan mamanya. Anak itu kini seperti tak mengenal takut dan kuat. Sehun sendiri memang sudah bertekad untuk mengikuti semua perkataan sang gege dengan baik. Karena cita - cita terbesarnya adalah menjadi adik terbaik untuk Kris.
Kris masih berdiri di sebuah kamar, matanya menatap kosong kepada seorang pria yang belum cukup tua di usianya namun sudah terbaring lemah akibat stroke yang dia derita. Pria itu adalah papanya. Dan seorang wanita yang duduk di sebelah pria itu adalah Heechul, mamanya. Kris baru saja menutup telpon dari Sehun. Tatapan matanya masih tetap datar dan dingin.
"Apa kau sudah membereskan bocah itu?" Heechul berkata setelah yakin suaminya tertidur pulas.
"Aku tidak peduli akan bocah itu" jawab Kris seperti biasa dengan nada dinginnya
"Mulai hari ini kau adalah salah satu direktur di Sinopec Group. Dan aku akan menggantikan papamu di posisi presiden direktur. Aku tidak mau langkahmu terhalang, apalagi dihalangi oleh bocah sialan itu. Apa kau sudah menurutiku untuk menyingkirkannya?" tanya Heechul kini menatap tajam anaknya.
"Aku sudah menyingkirkannya hari ini" jawab Kris singkat
"Pastikan dia terasing dan kau buang dia sesuai dengan perintahku kemarin. Kau masih ingat perintahku?" Heechul menaikan sebelah alisnya
"Membuang bocah itu ke daerah Gansu dan menjadikannya gelandangan" jawab Kris.
"Dan ketika papamu bangun, bilang saja dia ke amerika untuk bersekolah atau apapun yang jelas jauhkan dia dari sini..." jawab Heechul puas dengan pekerjaan anaknya yang selalu menuruti keingnannya. Termasuk membuang anak tirinya ke daerah Gansu.
12 April 2006
Sehun membuka matanya. Dia mendapati tubuhnya terbaring di sebuah kamar yang cukup luas dan rapi. Seingatnya kemarin malam dia sampai di tempat yang entah dia sendiri tidak tau dimana, tempat ini terlalu asing baginya. Sehun hanya bisa duduk diatas tempat tidur nyamannya, seluruh kamar itu terlihat normal, hanya dia saja yang merasa aneh karena masih belum terbiasa.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dan seseorang baru saja masuk. Orang itu adalah pria yang kemarin membawanya ke tempat yang entah dimana ini.
"Kau sudah bangun?" kata pria itu, bahasa mandarinnya sedikit kacau dalam logat, tapi Sehun masih bisa mengerti.
Sehun hanya mengangguk, jujur saja sebenarnya dia merasa takut pada pria itu. Apalagi kini pria itu sedang tersenyum padanya, menampilkan deretan gigi - gigi putih yang rapi namun malah membuat pria tampan itu jadi agak bodoh dengan senyumnya.
"Selamat datang, kau berada di rumah kita. Dan kamar ini adalah kamarmu!" Kata pria itu dengan bangganya.
"Namaku Piao Chan Lie. Aku ditugaskan oleh sahabatku sendiri untuk menemanimu dalam pengasingan. Jangan kaget jika manusia dingin itu punya sahabat, hahahaha... hanya aku satu - satunya sahabat yang dia miliki, tapi itu tidak penting... yang terpenting sekarang aku harus mencuci otakmu..." Pria itu mengangkat kedua tangannya seperti akan melakukan gerakan sihir.
Sehun yang masih mencoba mengerti kini mengerutkan keningnya.
"Kau, mulai sekarang namamu bukan lagi Wu Shi Xun. Sekarang namamu adalah Park Sehun. Kau bukan lagi orang Cina, tapi mulai sekarang kau adalah orang Korea. Kau bukan lagi adiknya Kris, tapi mulai detik ini kau menjadi adik adikku. Dan start hari ini, kau dan aku akan menjalani kehidupan sebagai kakak dan adik yang baik. Mengerti?"
Sehun semakin mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti bagaimana dia bisa mengubah identitasnya seperti itu, bagaimana juga dia bisa menjadi orang Korea sedangkan dia belum pernah ke korea sama sekali dan tidak tau bahasa korea.
"Ini adalah misi yang aku kerjakan bersama Kris, aku tidak mau membocorkan misi itu, yang terpenting adalah kau harus tumbuh sebagai anak yang baik dan cerdas bersamaku disini. Aku juga tidak mau membocorkan alasan kenapa Kris memintaku untuk merubah identitasmu. Yang kau perlu lakukan adalah mengikuti aturan main dan jadi adikku!"
Sehun mengangguk tanda mengerti.
"Ingat, mulai sekarang namamu bukan lagi Wu Shi Xun. namamu adalah PARK. SE. HUN... kau adalah orang Korea, dan kau adikku! Ulangi!"
"Namaku Park Sehun, aku orang Korea dan kau adalah kakakku!" jawab sehun sambil mengangguk.
"Mulai sekarang hiduplah senormal mungkin bersamaku di sini. Jangan sampai orang lain mengetahui identitasmu. Ini semua demi kebaikanmu. Kau harus menerimanya karena ini adalah keinginan Kris!" kata Chanyeol yang sekarang adalah kakak Sehun.
"Aku mengerti, tapi bagaimana aku bisa jadi orang korea sementara aku tidak bisa bahasa korea." Sehun nampak bingung.
"Tenanglah adikku... karena aku ini sebenarnya orang Korea. Namaku asliku Park Chanyeol. Aku yang akan mengajarkanmu bahasa Korea. Dan kata pertama yang akan aku ajarkan padamu adalah. Hyung!"
"Hyung?"
"Hyung artinya Gege... panggil aku Chanyeol hyung!"
"Chanyeol hyung..."
"Aaaah... keyoupta..." Chanyeol mencubit pipi Sehun gemas
"Tapi tenang saja, kau tidak perlu terlalu menguasai bahasa Korea di sini... Apa kau menguasai bahasa lain selain mandarin?" tanya Chanyeol lagi
"mmm... aku cukup fasih dalam bahasa inggris.." Sehun menatap Chanyeol polos.
"Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu mengajarimu bahasa inggris juga... okay, karena semuanya sudah disiapkan... pakaianmu sudah ada di ruang wardrobe, ruangan itu ada dekat kamar mandi, kau tinggal masuk melalui pintu itu saja" Cahnyeol menunjuk sdatu pintu di sebelah kanannya.
"Rak buku itu kosong karena kau kan belum mulai sekolah, nanti pasti penuh... okay kalau begitu kau mandi dulu, setelah itu sarapan bersamaku dan kita jalan - jalan." Chanyeol mengedipkan matanya pada bocah yang masih terduduk di tempat tidurnya.
Sehun kemudian hanya mengangguk, setelah melihat itu Chanyeol lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Sehun.
"mmm... Tunggu, kita ada dimana sekarang? Apa kita masih di Cina? atau,... kita sedang berada di Korea?" tanya Sehun dengan tatapan polosnya.
Chanyeol berbaik dan kembali nyengir melihat betapa polosnya adik sahabat baiknya itu.
"Tidak... kita tidak sedang berada di dua tempat itu! Sekarang kita sedang berada di Edinburgh, Scotland... United Kingdom!" Chanyeol lagi - lagi tersenyum puas setelah melihat wajah bingung Sehun yang polos.
"Oh iya!... Happy Birthday Park Sehun! Mulai hari ini kau lahir kembali... adikku..." Chanyeol lalu mendekati anak polos itu lalu memelukknya erat
"Aku berjanji padamu Kris, dia aman di tanganku..."
.
.
.
TBC
.
.
.
Anyeonghaseo... The Heirs EXO Version sudah muncul nih Episode 1. Dan Ini satu dari 2 episode konflik di cerita ini. Dan sisanya adalah episode lovely fluffy lovey dovey para member EXO dengan official Paris.
.
Gimana episode 1nya? Kalian suka tidak? Author harap kalian suka... karena di episode ini khusus menampilkan Kris yang selalu dihadapkan oleh pilihan sulit karena kekejaman ibunya, dan awal mula kenapa Sehun dibuang dan menjadi adik dari Park Chanyeol. Dan bagaimanakah kehidupan mereka setelah ini? Bagaimana Kehidupan Sehun di Edinburgh Skotlandia?
Hehehe... apa kalian ingin cerita ini berlanjut? kekekekeke...
RnR Hajuseo...
.
.
Terimakasih untuk yang sudah mereview, balasan review akan dimulai dari review di episode 1, kekeke..
Makasi juga buat yang sudah follow dan favorite, atas Kritik dan sarannya juga...
Dan untuk pada SiDer, makasi juga nee...
.
.
Akhir kata author ucapkan,
AUUUUUUU... AH! SARANGHAEYEO!
CUPLIKAN EPISODE 2
"Kris! Kenalkan, dia Huang Zitao... Calon Istrimu" - Nyonya Wu
"Apa kau menikahiku hanya karena harta?" - Kris
"Ada apa dengan pria itu? Galak sekali!" - Tao
"Menjauh dariku sekarang juga!" - Kris
"Aku tidak akan pergi, aku istrimu!" - Tao
"Kalian akan pergi ke Korea, ada urusan bisnis di sana, sekalian kalian bulan madu kan?" - Nyonya Wu
"Maafkan aku, Zitao" - Kris
...
"Apa kau lupa aku ini putri Presiden? Kau mau kepalamu dipenggal sekarang?" - Luhan
"Papa tidak usah peduli padaku! Bukankah selama ini aku dibesarkan oleh uang?" - Luhan
"Kau akan aku beri satu kesempatan! Pergi dan hiduplah disana!" - Zhoumi
"Edinburgh? Bahkan aku tak pernah mendengar nama kota itu! Menyebalkan" - Luhan
...
"Hyung mau kemana?" - Sehun
"Aku harus kembali ke Korea, Appa menyuruhku untuk bertemu seseorang!" - Chanyeol
"Sehun! Kenalkan ini temanku yang sering kuceritakan, namanya Do Kyungsoo" - Xiumin
"Oh maafkan aku, aku baru pertama kali datang ke mari, namaku Kai!" - Jongin
...
"Aku mohon sembunyikan aku!" - Baekhyun
"Orang - orang itu memaksaku untuk menikah dengan laki - laki yang tidak aku kenal! AKu akan dijual!" - Baekhyun
"Kau aman bersamaku!" - Chanyeol
...
