Call Me Baby
Cast(s): Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Jongin, Ahjussi(?), etc.
Pairing: Chanyeol/Baekhyun
Genre: Romance, humor gaje.
A/N: sebelumnya, maaf banget kalo ini adalah FF tergaje yang pernah saya tulis. FF ini munculnya spontan, setelah saya baca jokes KFC pas tengah malam, tau kan jokes yang ada orang nelpon KFC terus bilang "Mas ayamnya ada?" bleh bleh bleh... nah gatau kenapa malah jadi gini, kadang juga saya nggak ngerti sama isi otak saya yang lebay. Please enjoy the last part!
Baekhyun menutup teleponnya dengan kesal. Ada apa hari ini? Mengapa semua pelanggannya begitu menyebalkan.
Orang iseng. Pasti orang iseng. Baekhyun menghentakkan kakinya kesal.
Sudahlah Baekhyun, jangan terlalu dipikirkan.
"Siapa itu Baekhyunnie?" Pamannya bertanya.
"Bukan siapa-siapa, paman, hanya orang iseng," Baekhyun menjawab, masih kesal.
Pamannya terkekeh, "Sabarlah Baekhyunnie, jarang ada kejadian seperti itu. Artinya kau beruntung."
"Ah paman," Baekhyun mem-pout-kan bibirnya.
"Paman hanya bercanda, jangan marah. Ah iya, pesanannya sudah siap, bisa tolong kau antarkan?"
Baekhyun mengangguk, menerima bungkusan dari pamannya.
"Maaf ya, Baekhyunnie, jadi merepotkanmu," pamannya menepuk pundak Baekhyun.
"Tidak apa-apa, aku senang bisa membantu paman," Baekhyun tersenyum.
"Kapan paman akan mendapatkan pengganti Yixing? Ah anak itu, mengapa ia harus kembali ke China?"
"Tenang saja, pasti paman akan mendapatkan pengganti Yixing-hyung," Baekhyun memakai helm-nya, "Aku berangkat dulu, paman!"
Baekhyun menaiki scooter milik pamannya, sudah tiga hari ini Baekhyun membantu pamannya mengantarkan pesanan. Biasanya, paman dan bibinya memiliki enam orang pegawai yang terbagi menjadi tiga shift, satu bekerja di restoran dan satunya mengantarkan pesanan, tapi Yixing-hyung yang biasanya mengantarkan pesanan saat malam hari mendadak keluar. Saat ini Baekhyun hanya mengisi posisi kosong tersebut sampai pamannya menemukan pegawai baru.
Sebenarnya, Baekhyun tidak tega jika tidak membantu. Paman dan bibinya sudah cukup tua, apalagi bibinya, sudah sering sakit pinggang, mana tega ia membiarkan mereka begitu saja. Sayang, mereka tidak mempunyai seorang anak, itulah sebabnya mereka memperlakukan Baekhyun seperti anak mereka sendiri. Inilah cara Baekhyun membalas budi.
Fighting Baekhyun! Baekhyun menyemangati dirinya sendiri.
.
Kyungsoo menjitak kepala Chanyeol.
"Aduh!" Chanyeol mengelus kepalanya, "Untuk apa itu?"
"Candaanmu tidak lucu lagi," Jongdae cemberut, "Kau pikir kau bisa lebih lucu dari aku?"
"Siapa yang bercanda?" protes Chanyeol.
"Ah.. Chanyeol pasti mabuk," Kyungsoo melihat kearah Jongdae dan Jongin.
"Aku tidak mabuk! Aku bahkan belum minum banyak," Chanyeol membela diri.
"Semua pemabuk juga bilang begitu," Kyungsoo mendengus.
"Aku serius! Aku sungguh-sungguh jatuh cinta, Kyungsoo," Chanyeol berusaha menjelaskan.
"Hyung!" Jongin memegangi kedua kaki Chanyeol, "Sadarlah! Jangan dengan Ahjussi itu, hyung!"
"Jongin!" Chanyeol berusaha melepaskan dirinya, "Itu bukanlah ahjussi itu, suaranya berbeda."
Jongdae mendongak, terlihat tertarik, "Benarkah? Lantas siapa lagi?"
"Entahlah," Chanyeol kembali tersenyum, kali ini memeluk salah satu bantal Kyungsoo, "Yang kutahu suaranya begitu indah."
"Suaranya?" Kyungsoo menatapnya tak percaya, "Kau hanya mendengarkan suaranya dan kau pikir kau jatuh cinta? Kau gila?"
"Arghh.. Kyungsoo, kau kan belum mendengar suaranya. Suaranya, sedikit serak tapi tetap lembut, jenis suara yang ingin kau dengarkan seharian, dan suara napasnya... Aku hampir merinding, Kyungsoo-ya... Suaranya begitu sempurna, kau juga pasti akan terpesona mendengarnya," Chanyeol menatap jauh ke depan dengan pandangan berbunga-bunga, namun kemudian menatap Kyungsoo tajam, "Tapi jangan coba-coba jatuh cinta padanya, dia milikku."
"Aku yakin dia mabuk," Jongdae menggeleng.
"Aku tidak mabuk! Kenapa kalian tidak mempercayaiku?" Chanyeol tersinggung.
Suara yang kudengar itu memang bukan suara ahjussi, kan?
Chanyeol bangkit dari sofa lalu meraih jaketnya, "Aku akan pergi kesana, dan membuktikannya sendiri."
Benar, aku harus memastikannya.
"Chanyeol!" Jongdae mengejarnya, tapi Chanyeol sudah terlanjur memakai sepatunya, lalu keluar dari pintu apartemen Kyungsoo.
"Yah hyung! Tunggu aku!" Jongin ikut mengejar Chanyeol, meninggalkan Kyungsoo yang hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Kyungsoo segera mengejar mereka setelah mengunci pintunya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka minum-minum lagi, ugh…"
.
"Yah Chanyeol!" Jongdae berusaha mengejar Chanyeol, "Untuk apa kau berjalan begitu cepat?"
"Kakimu saja yang pendek," Chanyeol menjawab remeh. Chanyeol sungguh beruntung Kyungsoo berada jauh di belakang, seandainya saja ia mendengar jawaban Chanyeol, Kyungsoo bisa saja menjewer telinga Chanyeol hingga kembali ke apartemennya.
Restoran ayam goreng itu tidak jauh dari apartemen Kyungsoo, hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Tidak lama, Chanyeol melihat pintu kaca dari restoran tersebut, dari luar terlihat tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang makan disana. Chanyeol buru-buru masuk dan berjalan kearah kasir, seseorang sedang duduk membelakanginya di dekat telepon.
Itu dia.
Chanyeol menepuk punggungnya, "Permisi—"
"Ah ya, maaf, mau makan disini?" sosok itu berbalik—
AHJUSSI?!
Chanyeol melotot.
Tidak mungkin—
"Mau pesan apa?" Ahjussi itu masih tersenyum ramah, mengenali Chanyeol, karena ia dan teman-temannya memang sering kesini.
"Eh tidak, tidak jadi, ahjussi," Chanyeol tersenyum kikuk, "Tiba-tiba saja laparnya hilang, hahaha…"
"Maaf ahjussi," Chanyeol membungkuk lalu segera kabur, meninggalkan ahjussi yang kebingungan.
.
"Yah! Benar kan itu ahjussi yang biasanya?" Jongin menarik Chanyeol dengan kesal, "Kami melihat semuanya dari luar."
Chanyeol diam saja, wajahnya terlihat kecewa.
Kyungsoo menghela napas, Jongdae menepuk lengan Chanyeol, "Sudahlah Chanyeol, mungkin kau salah dengar."
"Maaf," Chanyeol menunduk.
"Ayo pulang saja," Kyungsoo menarik Chanyeol, "Kalian boleh menginap di rumahku malam ini, aku lah rajanya, dan pesta hari ini belum selesai."
"Ronde kedua!" Jongin berseru, berlari meninggalkan tiga orang temannya, "Yang terakhir harus traktir soju!"
"Yah! Tidak ada soju lagi!" Kyungsoo berseru.
Chanyeol hanya tersenyum lemah.
Iya, mungkin ia hanya salah dengar, mana mungkin suara seindah itu nyata?
.
Dua hari sejak insiden ayam goreng, ya, Chanyeol menyebutnya begitu, tapi ia masih belum bisa melupakan suara indah itu. Tidurnya tidak nyenyak, ia dapat dengan jelas mendengar suara tawa itu dalam setiap mimpinya. Suara tanpa pemilik—
Entah mengapa Chanyeol masih yakin jika malam itu yang didengarnya bukanlah suara ahjussi.
Apakah itu efek telepon? Ponselku bermasalah?
Chanyeol meraih ponselnya, menghubungi nomor Jongdae
Tidak lama, terdengar suara Jongdae "Halo Chan—"
Chanyeol memutuskan panggilannya lalu melemparkan ponselnya sembarangan, untungnya ponselnya mendarat tepat di atas tempat tidurnya.
Tidak, bukan salah ponselnya… Suara Jongdae tetap terdengar menyebalkan seperti biasanya.
Tapi apa yang sebenarnya terjadi?
Chanyeol mengerang, berguling-guling di lantai.
Haruskah ia menelepon lagi?
Chanyeol merangkak keatas tempat tidurnya, meraih ponselnya lalu mencari nomor telepon restoran ayam goreng yang kini sudah tersimpan di kontaknya dengan nama 'ayam goreng' lengkap dengan emoticon 'love'—
Tolong jangan tanya kenapa—
Chanyeol sudah memutuskan untuk meneleponnya sekali lagi. Ia menggenggam erat ponselnya sebelum menekan option 'call'.
Chanyeol menghitung—
Satu detik—
Dua detik—
Ti—
"Selamat malam, xxx chicken, ada yang bisa kami bantu?"
Astaga.. Chanyeol belum siap, tapi astaga.. Suara itu lagi, Chanyeol tidak sedang bermimpi kan?
"A-ahjussi?" Chanyeol bertanya ragu-ragu.
"Ah ya? Ahjussi?" Suara itu terdiam sejenak, "Hmm, sebentar, sepertinya aku kenal suaramu—"
"Yah! Kau kan orang iseng malam itu?!" Chanyeol harus menjauhkan ponselnya, suaranya bahkan lebih kencang daripada Kyungsoo, tapi Chanyeol tetap bersorak dalam hati.
Ia ingat suaraku—
"Bukankah aku sudah bilang, jangan telepon lagi? Dasar."
"Tunggu! Tunggu! Jangan tutup teleponnya!" Chanyeol berseru—
—tut— tut.
Lagi-lagi…
Tanpa pikir panjang. Chanyeol segera menekan kembali option 'call'.
"Selamat malam, xxx chicken, ada yang bisa kami bantu?"
"Nomor teleponmu, please," Chanyeol memohon.
"Astaga! Kau lagi?" Kali ini Chanyeol mendengar suara menggebrak meja, "Untuk apa kau begitu ngotot menelepon? Kau sungguh mencari pamanku?"
Chanyeol bisa mendengar suara itu memanggil pamannya.
Paman? Apa dia adalah keponakan ahjussi?
"Halo?" Kali ini suara merdu itu telah berganti menjadi suara familiar ahjussi itu, "Siapa ini?"
"A-ah anu ahjussi—" Chanyeol menjawab kikuk.
"Ah bodohnya aku, pasti kau menelepon setelah membaca iklan yang kupasang. Ingin melamar kerja ya?"
"Eh?" Chanyeol melongo.
"Iya, restoran kami membutuhkan pegawai baru, asalkan bisa mengendarai motor, tidak masalah. Kau punya SIM kan?"
"Aku punya SIM," Chanyeol menjawab seadanya, masih bingung, "Tapi—"
Belum selesai Chanyeol menjawab, ahjussi itu sudah memotongnya, "Bagus, bagus! Siapa namamu?"
"Chanyeol, Park Chanyeol."
"Baiklah, Chanyeol. Kau diterima!" suara ahjussi terdengar senang, "Kau bisa mulai bekerja besok, datanglah pukul lima sore besok. Sampai jumpa besok!"
—tut— tut.
APA?
.
Esoknya, tepat pukul lima sore, Chanyeol datang ke restoran ayam goreng itu. Ia melangkah ragu, asal tahu saja ya, Chanyeol sudah menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menata rambutnya. Dalam hatinya, sangat berharap bisa bertemu dengan pemilik dari suara impiannya. Matanya bergerak untuk mencari ahjussi, tapi yang ia temui justru sosok yang lebih— umm.. mungil?
"Oh, selamat datang!" suara impian Chanyeol itu terdengar dari sosok mungil itu.
Chanyeol bahkan tidak dapat berkedip, di hadapannya berdiri seseorang dengan senyum manis, rambut pink-nya terlihat lembut seperti permen kapas— Chanyeol suka permen kapas—
Bolehkan aku mencicipinya?
Tiba-tiba saja jemari-jemari lentik terlambai di depan wajahnya.
"Halooo?" Pemuda itu tertawa, "Makan disini atau dibawa pulang? Ingin pesan apa?"
Yup. Tawanya jauh lebih ringan daripada lewat telepon.
Yup yup. Dan ia jauh lebih indah daripada bayangan Chanyeol.
"Di-dibawa pulang," Chanyeol menjawab gugup.
Bolehkah aku membawamu pulang?
Pemuda itu terkesiap, menatap Chanyeol lekat-lekat. Chanyeol menelan ludah, aku tidak mengatakan itu keras-keras kan?
"Tolong katakan sesuatu lagi, aku perlu memastikan sesuatu."
Dia ingat! Chanyeol tersenyum lebar.
"Err.. Nomor teleponmu, please?" cengir Chanyeol.
"Yah! Kau?!" Pemuda itu berseru sambil menunjuknya, namun buru-buru menjaga jarak.
"Baekhyunnie?" si ahjussi muncul entah darimana, "Kenapa kau berteriak? Apa ada masalah?"
"Dia, paman, masalahnya dia!" Baekhyun, hanya menunjuk-nunjuk Chanyeol, seolah menyalahkannya atas semua keributan yang terjadi.
"Oh! Apa kau Chanyeol?" Paman Baekhyun menyapanya ramah.
"Benar, ahjussi," Chanyeol membungkukkan badannya sopan, membalas sapaan si ahjussi.
"Baekhyunnie, kenalkan ini Chanyeol, ia akan bekerja disini, menggantikan Yixing," paman Baekhyun beralih menatap Baekhyun, lalu kembali pada Chanyeol, "Ini keponakanku, Baekhyun. Ia yang akan mengajarimu tentang pekerjaanmu."
"Hah? Paman serius?" Baekhyun kelihatan tidak puas, "Aku tidak pernah dengar soal itu! Kenapa harus aku?"
Pamannya menarik Baekhyun lalu berbisik, "Tolonglah, Baekhyunnie, kau kan tahu paman sudah tua—"
"Baiklah, baik," Baekhyun menghela napas, "Tapi aku hanya akan mengajarinya sekali, sekali saja."
"Terima kasih Baekhyunnie, setelah ini kau akan bebas, tidak perlu membantu paman lagi."
Baekhyun menatap Chanyeol malas, sebenarnya Chanyeol tidak melakukan hal yang buruk. Malahan, Chanyeol terlihat polos, tersenyum lebar seperti itu. Baekhyun menghela napas lagi, ia hanya merasa perlu waspada pada sikap aneh Chanyeol.
.
Entah mengapa, janji untuk mengajari Chanyeol satu kali berubah menjadi beberapa kali, dan akhirnya terus berkembang menjadi berkali-kali. Di depan paman Baekhyun, Chanyeol adalah pegawai yang cepat tanggap dan rajin, ahjussi itu sudah mulai menyukainya, memuji-mujinya di depan Baekhyun. Tentu saja hal ini membuat Baekhyun tidak terima.
Maksud paman, kerjanya jauh lebih baik dariku? Aku kan sudah lebih lama bekerja disini!
Baekhyun memelototinya saat Chanyeol bekerja, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat Chanyeol melakukan kesalahan, akan kubuktikan kalau kau tidak sebaik yang dikatakan pamanku, anak baru.
Chanyeol tiba-tiba menatapnya, lalu melambaikan tangan dengan cengiran bodohnya.
Yah! Aku hanya lima meter di hadapanmu, bodoh! Untuk apa melambaikan tangan, memalukan..
Baekhyun buru-buru membuang muka, sedangkan Chanyeol terkikik malu-malu melihatnya.
Baekhyun terus memperhatikanku!
Chanyeol melangkah keluar sambil senyam-senyum, ia menaiki motornya dan mulai menggunakan helm-nya.
Ya Tuhan... Apakah mungkin ia juga naksir padaku? Ya pasti begitu, pasti Baekhyun naksir padaku. Kau memang tampan, Park Chanyeol.
Chanyeol memandangi pantulan wajahnya dari kaca spion, terkikik, lalu segera berangkat. Sayang, ia tidak sadar ia lupa membawa pesanan ayam goreng yang seharusnya ia antarkan.
.
Baekhyun tidak habis pikir, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seorang Park Chanyeol? Hari ini ia mengawasi Chanyeol lagi. Tidak, ia sungguh hanya mengawasi supaya ia bekerja dengan baik, Baekhyun sama sekali tidak melirik wajah tampan Park Chanyeol kok. Setelah tiga hari yang lalu Baekhyun memergoki Chanyeol lupa membawa pesanan yang seharusnya ia antarkan, Baekhyun merasa ia harus memperketat pengawasannya pada Chanyeol.
Aku hanya tidak mau usaha pamanku merugi, Baekhyun berusaha meyakinkan dirinya.
Tapi hari ini, Chanyeol mengulangi kesalahannya.
"Yah! Kerjamu ini bagaimana? Ini sudah kedua kalinya, Chanyeol, kedua!" Baekhyun mengomel, "Bagaimana bisa kau pergi mengantarkan pesanan tapi kau lupa membawa pesanannya?"
"Maaf," Chanyeol menundukkan kepalanya, padahal sebenarnya dalam hati ia bersorak-
Chanyeol rela dimarahi Baekhyun semalaman.
Baekhyun tadinya ingin menakut-nakuti Chanyeol sedikit, sedikit ancaman akan memecatnya bukan masalah kan? Lagipula Baekhyun tidak benar-benar berhak memecatnya, pamannya lah yang berhak. Namun setelah melihat wajah imut- eh, maksud Baekhyun menyesal- Chanyeol, akhirnya Baekhyun luluh.
"Ah sudahlah, biar aku saja yang antar," Baekhyun menjulurkan tangannya, "Berikan helm dan alamatnya padaku."
"Sebentar," Chanyeol melepaskan helm-nya lalu memberikannya pada Baekhyun, tidak lupa juga memberikan secarik kertas berisi alamat pemesan.
"Aku pergi, kau bantu jaga," perintah Baekhyun, "Jangan macam-macam."
"Hehehe… Baiklah," Chanyeol menunjukkan cengirannya.
.
Baekhyun memencet bel rumahnya berkali-kali. Entah kenapa tidak ada tanda-tanda ada penghuni di dalam rumah itu.
Aneh, apakah pemiliknya sedang keluar rumah?
Baekhyun hampir saja kembali ke restoran saat ia melihat sebuah notes tertempel di pintu rumah.
.
'Tolong masukkan ayamnya ke meja dapur, kunci rumah ada di bawah keset, terima kasih'
.
Baekhyun mendengus kesal-
Merepotkan saja.
Tapi pesan itu tidak selesai sampai disitu, dibawahnya terdapat deretan nomor dan tulisan-tulisan kecil, Baekhyun bahkan harus mendekatkan wajahnya pada pintu.
.
'Oh ya, silakan dilihat-lihat rumah masa depanmu'
'p.s. karena kau tidak mau memberikan nomor teleponmu, biar aku saja'
'821xxxxxx – Park Chanyeol'
'Call me, baby? ;)'
.
Baekhyun mendelik-
"YAH! PARK CHANYEOL!" Baekhyun berteriak kesal, ia baru sadar telah dikerjai oleh Chanyeol.
.
Semuanya berwal dari sebuah dare.
Jongin tetap tergila-gila pada ayam goreng, Jongdae tetap bertingkah konyol, dan Kyungsoo masih berhasil menyembunyikan kesukaannya pada Pororo.
Ah ya, Baekhyun akhirnya menelepon Chanyeol, untuk memarahinya habis-habisan.
Tapi jangan bilang-bilang, Baekhyun diam-diam menyimpan notes itu di sakunya.
Dan setelah 614 kali saling bertelepon, akhirnya Baekhyun memanggil Chanyeol 'Baby'.
Begitulah, pada akhirnya si pengangguran Chanyeol berhasil mendapatkan pekerjaan dan kekasih.
-fin-
A/N: Kalau kalian baca sampai sini, tepuk tangan buat diri kalian sendiri, karena kalian tahan baca FF gaje macam ini.
Akhir kata, makasih udah baca, kalo ada saran, kritik, dll bisa tinggalin review.
Good day, guys!
