Hinata and Her Wish
Disclaimner: Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuke dan Hinata
Gendre: Romance, Family
Warning: Au, ooc, Typoo, Eyd masih kurang benar, dan segala kekurangan lain yang mungkin ada di fic pertama saya ini.
Summary: Disini, semua harapan dan impian seorang Hinata berkumpul. Banyak cerita yang terukir dan banyak kisah suka duka yang tidak mungkin bisa dilupakan. Hinata and Her Wish ...
Chapter 2
Hinata fov
Sekarang disinilah aku berada, disebuah kamar mewah yang telah disediakan oleh paman dan bibi untukku. Kuperhatikan seluruh isi kamar, ternyata paman dan bibi benar-benar sudah menjadi orang sukses di Konoha. Mereka menjadi lebih kaya dari dulu, benar-benar mengagumkan. Berkat usaha kerja keras mereka, semua impian yang paman dan bibi pendam akhirnya menjadi kenyataan. Hm ... kesuksesan paman dan bibi akan kujadikan sebagai motivasi. Aku akan meraih semua impianku, untuk menjadi seorang yang lebih berguna, bermanfaat dan bisa membahagiakan semua orang yang aku sayangi.
'Hinata pasti capek, istirahat dulu ya? kalau sudah waktunya makan malam, baru bibi akan panggil.'
Perkataan yang keluar dari bibir tipis Bibi Mikoto terngiang dipikirannku. Iya, sebaiknya aku memang harus tidur. Aku benar-benar lelah, enam jam menaiki kereta api sungguh bukan waktu yang singkat bagiku yang jarang sekali melakukan perjalanan panjang.
Aku berbaring diatas ranjang, memejamkan mata dan mulai masuk ke alam mimpi yang begitu menyenangkan. Aku lelah ...
Hinata fov end
.
.
.
Seorang pemuda dengan potongan gaya rambut khasnya menarik kursi makan terus duduk diatasnya. Alisnya berkerut seolah-olah sedang memikirkan satu hal yang begitu besar. Uchiha Sasuke, pemuda 16 tahun tersebut menatap ibunya yang sedang memasak dan kemudian tersenyum tipis.
"Kaasan," panggil Sasuke pelan.
Merasa ada yang memanggil namanya, perempuan berumur 38 tahun tersebut langsung menoleh sebentar pada anaknya sambil tersenyum tipis.
"Ada apa,Sasu-chan?" tanya ibu Sasuke lembut. Sasuke mendengus kesal, tidak suka dengan panggilan yang ibunya berikan.
"Kaasan, tidak bisakah kaasan berhenti memanggilku dengan sebutan mememalukan itu?" Sasuke berkata dengan malas, sudah lelah mengingatkan sang ibu untuk berhenti memanggilnya Sasu-chan.
"Hm ... khusus untuk kaasan boleh donk? Kaasan kan udah terbiasa." Wanita separuh baya tersebut langsung cemberut dan pura-pura marah pada Si Bungsu yang begitu disayanginya.
"Hahhh! Kaasan benar-benar ... Ugh!" Sasuke hanya bisa mengeram memendam rasa kesal.
"Hm ... jadi?"
"Terserah Kaasan saja." Tidak mau repot, Sasuke hanya bisa mengiyakan dan pasrah dengan panggilan memalukan yang sengaja dibuat Sang ibu untuknya.
Ibu dari dua anak tersebut tersenyum, berjalan mendekati anaknya sambil membawa lauk yang sudah siap disajikan.
"Kamu benar-benar anak Kaasan," Kata Mikoto sambil mengacak pelan Si bungsu kesayangannya.
"Kaasan, Hinata... Dia akan tinggal lama disini?" tanya Sasuke pelan dengan wajah tertunduk sehingga sang ibu tidak bisa melihat wajahnya yang sudah begitu memerah. Akhirnya pertanyaan yang udah lama dipendam tersebut bisa keluar dari mulutnya.
"Iya, mungkin sampa dia tamat sekolah, kenapa? Sasu-chan keberatan?" tanya sang Ibu lembut, tapi nada khawatir terdengar begitu jelas. Ya ... Mikoto takut kalau anak bungsunya itu tidak menyukai kehadiran Hinata dikeluarga mereka dan membuat keponakan cantiknya itu tidak betah tinggal di rumahnya.
"Tidak." Sasuke menggeleng pelan dengan wajah yang masih tetap menunduk. Mikoto tersenyum bahagia, bersyukur Sasuke sama sekali tidak keberatan.
"Yosh, kalau begitu bisa bantu kaasan membangunkan adikmu?" kata Mikoto penuh semangat.
"Ha, A-adik?" Sasuke tidak mengerti. Bukankah dia tidak punya adik, dia anak bungsu kan?
Mikoto tersenyum dan lagi-lagi mengacak rambut pantat ayam anaknya.
"Bangunkan Hinata, dia pasti masih tidur!" bisik Mikoto pelan sebelum beranjak kembali menyiapkan semua makanan untuk makan siang.
Blush ...
Tanpa Ibunya sadari, wajah Sasuke memerah saat sang ibu berbisik dan menyebutkan nama seorang gadis yang masih disukainya dari dulu.
"Membangunkan Hinata?" gumam remaja itu pelan.
.
.
.
Berlahan-lahan pintu kayu dengan cat berwarna kuning muda itu terbuka pelan dan menampikan sosok tinggi seorang pria yang sedang berusaha untuk menetralkan detak jantungnya, berusaha untuk stay cool dan menjaga image nya sebagai seorang Uchiha yang terkenal dengan wajah dan ekspresi datarnya.
'Tenang Sasuke, kau tidak akan mati hanya karena membangunkan gadis kecil yang tidur itu kan?' Pria itu membatin; menenangkan dirinya sendiri.
Deg ...
Detakan jantung yang tadinya berdetak dua kali lebih cepat kini semakin bertambah, wajah polos seorang lady hyuuga saat tidur, wajah tenangnya yang begitu indah membuat Sasuke tidak bisa menahan detak jantung yang begitu menyiksa. Mata pria itu terpaku, tidak bisa berhenti menatap wajah gadis yang sudah begitu lama tidak dilihatnya. Sasuke berjalan mendekat dan langsung menunduk, berusaha untuk merekam wajah Hinata sejelas mungkin.
"Kau semakin cantik, Hinata!" gumam Sasuke pelan.
Jari tangan Sasuke membelai pelan wajah mulus tanpa cela yang begitu indah dimatanya. Dari dahi turun ke mata, terus ke hidung, hingga akhirnya sampai pada titik dimana titik tersebut bisa membuat darah Remaja 16 tahun tersebut naik ke ubun-ubun. Tangan Sasuke berhenti pada bibir merah tipis yang begitu menggiurkan, begitu menggairahkan sehingga bisa membuat Sang remaja begitu ingin melahap habis bibir yang sekarang ditekannya pelan.
"Engh ..." Hinata mengeliat pelan, mungkin merasa terganggu dengan sentuhan lembut yang Sasuke berikan padanya. Gadis itu menggeser tangan Sasuke dan membuat tangan yang masih lemas tersebut jatuh lebih kebawah. Dalam tidur gadis itu tersenyum, tanpa menyadari bagaimana keadaan kakak sepupunya yang sekarang sedang membatu tanpa berani menggerakkan tangan dan tubuhnya sedikitpun.
Deg ...
Debaran jantung kian membara, wajah yang tadinya memerah kini langsung berubah pucat.
"Oi ... dimana kau menggeser tanganku bocah!" Pria tersebut menggeram kesal, matanya menatap tajam letak tangannya yang kini bertengger manis di dada Hinata, ditambah dengan pelukan gadis itu pada tangannya yang semakin membuatnya bisa menekan dada itu lebih kuat.
Glek ...
'Besar dan lem...'
Sasuke menelan ludah. Bisa-bisa hidungnya mimisan kalau lebih lama dalam keadaan seperti ini. Sasuke menunduk, mencoba memikirkan cara yang tepat agar dia bisa membangunkan sang putri tidur yang masih tertidur pulas di peraduannya.
'Kuso ... tidak ada cara lain.'
"Sasuke-Oniichan ..." Samar-samar Sasuke bisa mendengar bagaimana Hinata memanggil namanya saat tidur.
Blush ...
"Ee?" Sasuke mendapatkan sedikit kejutan yang bisa menghangatkan hatinya.
Hinata fov
"HEI, CEPAT BANGUN!" Teriakan keras dan sentakan kasar yang kudengar dan kurasakan langsung membuat alam mimpiku menghilang. Dengan tergesa-gesa dan masih dalam keadaan bingung, aku langsung bangkit duduk diatas ranjang dan menatap seseorang yang telah membangunkanku.
"H-h ..." Aku begitu terkejut, pandanganku masih kabur dan mulutku tidak bisa mengeluarkan kata sepatahpun. Aku gugup atau mungkin juga sangat takut, aku baru saja sampai di rumah ini, tertidur, dan langsung dibangunkan secara paksa. Kenapa? Aku melakukan kesalahan?
Kulihat wajah dingin dan datar dengan tatapan mata yang menusuk itu berdiri tepat di depanku, aku menatap matanya dengan tubuh bergetar, bibir tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dan mata indahnya sudah memanas. Aku akui aku memang cengeng, tapi aku akan berusaha untuk tidak menangis.
"O-Oni ..." Kucoba untuk menyapanya dan meminta maaf.
"Heh, cepat turun. Waktunya makan siang!" Kata-kata yang begitu dingin keluar dari mulut pria itu. Aku hanya mengangguk pelan tanpa berani menjawab kata-katanya. Aku terlalu takut, aku tidak mengenalinya. Waktu aku datang aku hanya sempat bertemu dengan paman dan bibi, dia siapa? Sasuke-niichan, atau Itachi-oniisan?
Brakkk ...
Kudengar pintu kamarku ditutup dengan kasar, ya Tuhan ... belum sampai sehari aku di rumah ini, tapi kenapa sudah ada yang memperlakukanku dengan kasar begini?
"Eemm ... tidak, aku tidak boleh berfikiran buruk. Dia pasti marah karena aku hanya tidur dan tidak membantu bibi menyiapkan makan siang. Ya ... tidak apa-apa, lain kali aku harus rajin agar aku tidak dimarah. Hm ..."
Aku ingin berfikiran positif, lupakan hal yang buruk dan ambil yang baiknya. Aku ingin dianggap baik oleh keluarga disini, aku ingin menjadi anak patuh dan taat yang tidak akan mengecewakan dan mempermalukan orang tuaku. Aku ingin membuat orang tersenyum saat mengingatku.
Kulangkahkan kakiku untuk segera keluar dari kamar dan ikut makan siang, aku tidak ingin pria itu marah lagi. Pria itu ... tampan juga, hm ...
Hinata fov end
Sasuke mengeram kesal, menyayangkan tindakan bodohnya yang bisa membuat dirinya di cap buruk oleh orang yang begitu disukainya.
"Ck ... sial!" umpat Sasuke sambil duduk di kursi makan, duduk didepan Sang ibu yang duduk manis didepannya. Mikoto tersenyum, menyadari sikap aneh anaknya.
"Hinata tidak ikut turun bersamamu?" tanya Mikoto lembut.
Sasuke menatap Sang ibu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Tidak!" lagi-lagi Mikoto hanya tersenyum melihat wajah Sasuke. Wanita itu menyadari pasti terjadi sesuatu, dia sudah hafal dengan sifat Sasuke dan semua orang pria yang tinggal di rumahnya.
"Bagaimana pendapatmu tentang Hinata, dia cantik kan?"
Blush ...
Wajah Sasuke langsung memerah dan sukses membuat Ibunya menahan perut agar tawa tidak meledak dan membuat Sasuke marah nantinya.
"Hm... kalian lucu!" kata ibu Sasuke gemas.
Sasuke hanya bisa mengeram kesal, bukan karena kata-kata ibunya. Tapi karena kata-kata dan sikap kasar yang ditunjukkannya pada Hinata.
'Dia pasti membenciku.'
"S-selamat siang Bibi!" Sapaan dari Hinata membuat sepasang ibu dan anak itu langsung terdiam dan menoleh pada sosok gadis cantik dan mungil yang berdiri tidak jauh dari mereka. Sang ibu tersenyum dan langsung memberi tanda pada Sasuke agar menarik kursi yang ada disamping anaknya tersebut dan mempersilakan Hinata duduk disampingnya.
Sasuke menurut tapi tidak mau mengeluarkan sepatah katapun untuk mempersilakan adik sepupunya untuk duduk disampingnya.
"Hinata, ayo makan. Duduk disamping Sasuke, kami sudah menunggumu!" kata Mikoto lembut dan tersenyum pada Hinata, kemudian memberikan deathglare pada anaknya yang hanya dibalas dengan tatapan malas sang anak.
"S-Sasuke?" Gadis pemalu itu menatap sang pria yang baru sebentar tadi membangunkannya dengan kasar.
"Ya, dia Sasuke, Kau tidak mengenalinya? Dia anak bibi yang dulu selalu bermain bersama Hinata-chan lo, masa' lupa?"
Sasuke mendengus kesal, sakit hati dengan perkataan ibunya. Hinata sudah lupa padanya? Benar-benar bukan sesuatu yang baik. seorang Sasuke Uchiha paling benci menjadi orang yang terlupakan.
"Aku tidak peduli dia ingat padaku atau tidak!" Sasuke menatap tajam pada Hinata, mengibarkan bendera perang pada seorang gadis yang masih begitu disukainya sejak dulu.
"A-aku ..."
"Duduklah bocah, aku sudah lapar!"
"Sasu-chan! Kenapa bicara kasar begitu?" Mikoto mendelik marah pada anaknya, tidak suka dengan tingkah kurang ajar yang diperlihatkan sang anak pada keponakannya.
Hinata hanya tersenyum, menunduk dan segera duduk disamping kakak sepupunya tersebut. Memilih untuk menyimpan kata-kata yang tadi ingin dikeluarkannya.
'Aku mengingatmu Oniichan, bukankah kita pernah berjanji untuk pergi sekolah bersama kalau sudah besar? Karena itulah aku pindah kesini. Aku ingin menepati janji kita, janji yang tidak pernah aku lupakan.kita berjanji untuk bersama-sama membahagiakan semua orang kan?'
Hinata tersenyum saat bayangan masa kecil bermain di pikirannya. Gadis itu menatap sang kakak sepupu yang kelihatan sibuk dengan makanannya. Gadis itu membulatkan tekad, saat ini Sasuke terlihat tidak menyukainya. Karena itu, dia akan jadi orang pertama yang saat ini ingin Hinata lihat senyum manisnya.
'Aku akan membuat Sasuke-niichan tersenyum dan akan selalu tersenyum saat mengingatku!'
Acara makan siang yang hanya dihadiri oleh tiga orang tersebut berlangsung dengan tenang, sesekali Mikoto mengajak Hinata berbicara, dan Sasuke hanya diam mendengarkan tanpa berani berkomentar. Berada di dekat Hinata membuat moodnya, ekspresinya dan sikapnya sangat tidak karuan. Yah ... namanya juga orang yang baru bertemu kembali dengan cinta pertama, pasti akan sedikit salah tingkah, kan?
'Kalau dia tidak mengingatku kenapa tadi dia ... memanggil namaku?'
Tbc ...
Chapter ini lebih panjang dari chapter pertamanya, maaf bagi senpai yang ingin jumlah katanya tetap seperti chapter yang kemarin.
saya benar-benar senang, ternyata masih ada author yang sudi meninggalkan review mereka untuk saya. Terima kasih ...
Balasan review non login:
Scarlet: maaf, disini Hinata belum bertemu dengan Itachi. Mungkin chapter depan baru bisa ketemuan senpai. Terima kasih sudah mau mampir ke fic saya.
Mamoka: terima kasih atas reviewnya, ini sudah dilanjutkan.
Untuk yang login udah semua saya balas, kan?
Sekali lagi terima kasih, segala kritik, saran dan apapun akan saya terima dengan lapang dada.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya. :D
Re edit: gui gui m.i.t
