Salam kenal, aku Kuroko Tetsuya.

Maukah kalian mengakuiku?

"PARA REPARASI TELEVISI"

Kuroko No Basket (c) Fujimaki Tadatoshi

Para Reparasi Televisi (c) Kaoru Ishinomori

.

.

.

#First Night#

Awalnya "Kiseki no Sedai" mengira bahwa Akashi hanya menggertak saja, mengancam supaya secara tersirat, mereka harus mengakui Kuroko. Tetapi Akashi tidak mau menerima itu. "Aku bisa membaca pikiran kalian dan aku tidak mau kalian terpaksa mengakui Tetsuya hanya karena tak ingin dia mati. Kalian harus benar-benar mengakuinya."

"Bagaimana mungkin ada orang yang bisa membaca pikiran –ssu?!"

"Ada, Ryota. Aku, dan aku selalu benar."

CHECKMATE (2).

Akashi berpaling menghiraukan Kise yang mematung. "Shintaro, di mana tikar bekasnya?"

Midorima mau tak mau memberikan tikar itu. Tidak ada yang tau bahwa ia sudah membersihkan tikar itu dari debu supaya meminimalisir Kuroko yang dijamin akan menderita sesak napas. Tikar bekas itu awalnya memang benar-benar tikar bekas, dari pernah menjadi alas sekumpulan anak untuk merokok bersama, sampai menjadi tempat legal bagi para binatang peliharaan untuk buang air.

Dengan enteng Akashi menerimanya, kemudian menatap "Kiseki no Sedai" satu per satu dalam diam. Ia tersenyum saat menyodorkan tikar itu kepada Kuroko. "Belum ada yang mau mengakuimu Tetsuya, silakan menerima tikar ini dan tidurlah di luar."

"Ngg, di mana anak itu?"

"Di sini," terdengar suara di sebelah Aomine, yang tadi bertanya.

"HUWAAA!" Aomine menoleh kaget. "Bagaimana mungkin kamu mendapat pengakuanku jika aku saja belum bisa mengakui keberadaanmu, mengerti!" tukasnya blak-blakan, dan secepat kilat ia langsung menyesali perkataannya itu.

Duh, duh, duh, dia kelepasan. Kalimat itu kan kalau dipikir-pikir sebenarnya itu menusuk banget. Tetapi ia diam dalam penyesalan, menunggu reaksi Kuroko. Namun yang ditunggu reaksinya hanya bisa diam saja.

Muka Akashi memerah lagi, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Ia memberikan tikar itu pada Kuroko yang langsung menerimanya.

"Aah.. ngantuk," Murasakibara menguap dengan malas. "Gue tidur dulu semuah," setelah mengucapkan itu ia bangkit, menaruh peralatannya di dekat televisi yang sejak tadi masih ia perbaiki dan berjalan menuju kamar.

"Aku juga deh. Aku ada kontes foto model jam tujuh pagi jadi harus sudah menepukkan tangan jam 6.50 –ssu!" Kise pun menyusul, dan memasuki kamarnya.

Kuroko memandangi ketiga pra-majikannya, Akashi, Aomine, dan Midorima, yang masih bisa bertahan. Aomine akhirnya mundur, ia memutuskan untuk tidur. "Aku tidur dulu. Selamat malam, selamat tidur, Tetsu."

"Terimakasih, ng.."

"Aomine Daiki," jawab Aomine, tau bahwa Kuroko belum mengetahui namanya.

"Ya. Terimakasih Aomine-kun," jawab Kuroko. Aomine masih memandanginya beberapa saat sampai kemudian melirik ke arah Akashi. Tatapannya seperti memaksa Akashi untuk membatalkan niat menyuruh Kuroko tidur di luar. Tapi yang ditatap hanya diam saja meskipun ia tau apa pikiran Aomine. Akhirnya Aomine pergi, dan Akashi memandangi Midorima.

"Tidur, Shintaro," titah Akashi.

Midorima mendelik, tetapi dia tidak juga membantah. Ia menatap Kuroko beberapa saat. Giginya bergemeletuk karena sudah gatal ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ia kemudian berbalik. Kalimat-kalimat baik pemberi semangat yang ada di kepalanya musnah sudah begitu mulutnya membuka mengatakan rentetan kalimat khasnya. "Usahakan tidak mati terlalu cepat, Kuroko."

Akashi menahan senyum. Ia tau betul apa yang sebenarnya ingin Midorima katakan. Begitu Midorima pergi, Akashi menatap Kuroko. Kuroko menelan ludah, ia masih mempunyai sepercik harapan supaya Akashi membatalkan niatnya itu. Di dalam rumah ini masih tergolong hangat karena ada perapian, tetapi di luar? Tumpukan salju berserakan di jalan, bahkan sekarang masih hujan salju.

Namun Akashi tidak membatalkan niatnya. Ia berbalik tanpa mengatakan apapun. Kuroko masih menunggu, sampai kemudian Akashi menaiki tangga menuju kamarnya. Kamar tidur "Kiseki no Sedai" memang semuanya ada di lantai dua.

Bahkan orang gila pun tau apa akibatnya dan tentu tidak mau jika disuruh tidur di luar. Kuroko mendesah, kemudian membuka pintu. Hawa dingin langsung menerpa, dan ternyata hujan salju itu lebih deras daripada yang diduga. Angin benar-benar kencang. Ini sih, pembunuhan secara perlahan-lahan namanya.

Kuroko melangkah ke luar sebanyak lima langkah, menggelar tikar, dan.. tikar itu kabur tertiup angin. Tentu saja Kuroko menangkapnya. Bagaimana bisa tidur jika alasnya ke mana-mana? Kuroko mondar-mandir mencari batu untuk menahan, tetapi sudah pasti tidak ada. Kalaupun ada ia tidak tau di mana.

Hanya ada satu kata selain dingin yang seperti sayatan: GELAP.

Sementara itu begitu Akashi sampai di lantai dua, ia menahan diri untuk melongo saat melihat para "Kiseki no Sedai" yang lain sedang mengamati Kuroko melalui jendela. "Apa-apaan kalian? Atsushi, Ryota, Daiki, Shintaro? Kalian tidak tidur?"

"Dia benar-benar sedang di ambang kematian.." komentar Murasakibara memandangi Kuroko yang melawan angin saja tidak sanggup, tidak mempedulikan apa perkataan Akashi.

"Yah," Akashi ikut bergabung, memperhatikan Kuroko yang berusaha menggelar tikarnya dan menahan agar tidak kabur dengan badannya sendiri. "Dia hanya ada di ambang. Dia tidak mati."

Aomine memutar bola mata. "Akashi," Aomine membalikkan badan ke arah Akashi. "Bagaimanapun juga, dia jelas-jelas akan mati. Sekarang baru jam delapan dan angin sudah sekencang ini. Apa kamu tidak tau bahwa pukul dua belas nanti akan ada badai salju? Dia akan beku!"

"Dia hanya akan beku," jawab Akashi kalem. Atau sadis.

"ITU BUKAN HANYA," Kise dan Aomine membantah bersamaan, sampai kemudian terkejut lagi dan pura-pura tidak tau akan kenyataan bahwa mereka mengatakan itu dalam waktu yang sama.

Tentu saja Akashi juga tau bahwa itu bukan hanya. Dipandanginya Kuroko lagi. Begitu anak itu mencoba berbaring, angin meniupnya sehingga ia berguling dan tikarnya kembali di bawa kabur oleh angin tersebut. Kuroko bangkit berdiri dan mengejar tikar itu lagi.

"Salah sendiri kalian tidak mengakuinya," kata Akashi lagi. Ia sendiri sudah mengakui Kuroko lebih dulu daripada mereka semua.

"Yaah, jika dia bisa melewati malam pertama, maka aku akan mengakuinya –ssu," pembelaan diri Kise benar-benar sama sekali tidak membangkitkan semangat yang lain.

Akashi hanya menunggu mereka selama beberapa menit, dan akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa mereka berempat tidak akan mau beranjak dari jendela sampai ia membawa Kuroko masuk rumah. Ia mengintip lagi dari jendela, hanya sekilas. Tidak perlu dilihat lagi, ia tau bahwa Kuroko sedang berada dalam penyiksaan dan sekarang ia tampak menderita.

Tapi mana mungkin ia melakukannya. Akhirnya ia berbalik dan memasuki kamarnya.

Kise menoleh ke belakang, memastikan bahwa Akashi tidak melakukan apa yang diinginkan rekan-rekannya. "Cih, dia benar-benar manusia berdarah dingin," decak Kise. "Bisa-bisa aku bangun kesiangan besok. Selamat malam," katanya kemudian berbalik.

Aomine mengikuti apa yang dilakukan oleh Kise itu. Tetapi ia melakukannya begitu Kise pergi supaya ia tidak mengetahuinya. "Sebenarnya kalau kita hanya menontonnya mati, kita akan lebih dibilang manusia yang lebih berdarah dingin," sela Aomine. "Aku tidur."

Midorima hanya diam saja, tidak menanggapi apa-apa, matanya masih tidak bisa berpaling. Murasakibara sibuk menghabiskan maibounya. Beberapa menit mereka habiskan dalam diam.

Tiba-tiba Murasakibara membuka jendela. Angin kencang pun datang menyerang. Kacamata Midorima pun sampai bergoyang-goyang dan lensanya pun basah terkena terpaan salju yang masuk. Ia melepas kacamata dan mengelapnya.

"Ah, benar-benar dingiin," keluh Murasakibara. Ia ternyata hanya membuang sampah maibou dan membiarkan angin membawanya, kemudian menutup jendela lagi. "Aku sudah kenyang, aku akan tidur."

Midorima tetap tidak mengatakan apa-apa. Begitu Murasakibara pergi, Midorima pun benar-benar semakin tidak tau harus melakukan apa. Ia sendiri tidak angkat suara sejak tadi, sama sekali.

Ia mengeluarkan selimut tebal yang sejak tadi ia sembunyikan, kemudian terdiam lagi. Tadinya ia ingin melemparkan Kuroko selimut ini, tapi melempar dari lantai dua dengan angin yang kemungkinan besar akan mencurinya benar-benar bukan ide bagus.

Masa' iya dia harus turun dan memberikan selimut secara langsung? Dalam mimpi saja.

Itu akan memalukan, jelas. Dan itu juga akan mengundang keinginan untuk membuka pembicaraan. Membuka teguran. Mengatakan sapaan kalimat basa-basi yang meskipun normal, tetapi mempunyai banyak arti. Lama tidak bertemu. Ya, mempunyai banyak makna.

Ia mencari-cari Kuroko lagi. Hari semakin gelap dan lama-lama Kuroko tidak terlihat juga. Tetapi ia masih bisa menemukannya. Tampaknya Kuroko sama sekali tidak berniat tidur, ia hanya menggelar tikar dan duduk memeluk kedua kakinya, kemudian berayun-ayun ke depan ke belakang.

Dia tidak tau apa 'asyik'nya menonton orang yang sedang berjuang untuk tetap hidup itu, sampai ia menyadari sudah jam satu pagi. Dia memalingkan wajahnya dari jam dinding yang sedang berdentang sebanyak satu kali itu ke arah jendela lagi.

Sialan. Dia benar-benar KEASIKAN MENONTON ADEGAN ORANG SEKARAT, dan itu buruk banget. Rasanya seperti ia benar-benar menjadi orang yang sangat sangat jahat.

Krek.. Blam.

"Eh?"

Terdengar suara orang terkejut karena melihatnya. Midorima menoleh ke belakang mencari asal suara itu, kemudian juga melongo. "Akashi?"

Yang dipanggil langsung mengganti ekspresi terkejut di wajahnya. "Kau belum tidur, Shintaro?" teguran itu sangat retoris, tentu saja tidak perlu dijawab. Sudah jelas Midorima masih terjaga di depan jendela itu.

Akashi memandangi Midorima dari bawah ke atas. Sekejap saja ia menemukan kejanggalan.

"Selimut yang bagus," sindir Akashi kemudian, sudah bisa menebak apa yang sebenarnya ingin rekan bersurai hijau nya itu lakukan. Midorima memandangi Akashi. Di tangan si rambut merah itu tergenggam sebuah kunci dengan gantungan pemberat. Ia juga langsung tau apa yang akan Akashi lakukan.

Akashi berjalan menuju jendela, membuka jendelanya. Diamat-amatinya Kuroko, sampai kemudian ia tertawa kecil, membuat Midorima menoleh pangling. "Dia kelihatan merana dan nista sekali ya," kata Akashi membuat Midorima diam-diam bergidik ngeri karena merasakan hawa pembunuh di sebelahnya.

Tetapi kemudian Akashi menaruh kunci dengan pemberat itu di tangan Midorima. "Lakukan, Shintaro," titah Akashi kemudian berbalik.

Midorima ingin memprotes, tetapi ia mengurungkan niatnya. Dipandanginya punggung Akashi sampai bocah SMP yang lebih pendek darinya itu masuk kamar. Kemudian ia memandangi Kuroko lagi. Jendela yang terbuka itu semakin menarik perhatian badai salju. Kalau ia tidak segera melakukan ini, maka Kuroko bisa.. Kuroko bisa..

Salah. Kalau dia tidak segera melakukan ini, maka kacamatanya akan semakin berembun.

Midorima pun menjatuhkan kunci itu.

Pluk!

Ditutupnya jendela, ia langsung bersembunyi. Dikiranya ia akan mendengar suara pintu terbuka atau semacamnya yang berhubungan dengan kunci itu, namun setelah beberapa detik tidak ada suara.

Kunci itu harusnya mengenai kepalanya. Apa mungkin dia tidur dengan posisi seperti itu? Apa mungkin Akashi menjahilinya sejak awal dan kunci itu sebenarnya tidak cocok dengan pintu manapun? Pikiran aneh menjalari kepalanya, tapi dibuangnya jauh-jauh. Masa' sih Kuroko sudah tidak dapat bergerak lagi? Masa' sih Kuroko sudah beku? Masa' sih Kuroko sudah ...

"Midorima-kun, ya?"

Darah di tubuh Midorima berhenti mengalir, menghadapi kenyataan bahwa orang yang tak ingin dilihatnya sekarang berdiri didekatnya.

Sekali lagi. DIDEKATNYA.

.

.

Bruk.

Sekejap kesadarannya menguap.


Preview for next chapter:

"Memangnya dia bisa melindungi kita dari apa? Kita kan sebenarnya nggak butuh bodyguard. Jadikan saja dia pembantu."
"Jangan bergerak atau ditembak!"
"Tak kusangka kamu bisa juga melakukan perbuatan itu, Tetsuya."

Segala kritikan diterima dengan tangan terbuka. Nee, RnR pleaseee? xD