Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
.
By Means of a Miracle
by Roux Marlet
Mystery/Crime, Friendship
Future Alternate Reality, Minor Original Characters, Characters' Death
.
Chapter 2: Blind as a Bat
.
.
.
"Kau serius, Kuroko?"
Tetsuya Kuroko, dalam seragam tim basket SMA Seirin, mengangguk tanpa ekspresi yang berarti. Hari itu pertama kalinya ia bermain dalam satu tim bersama Taiga Kagami.
"Luar biasa! Kau benar-benar anggota Generation of Miracles, tim basket SMP Teiko yang terkenal itu?"
"Pertama-tama, aku bukan anggota resminya, Kagami-kun. Anggota bayangan, mereka menjulukiku. Dan kami tidak seterkenal itu."
"Siapa bilang? Salah satu dari kalian bahkan termasuk nominasi atlet terbaik Asia tahun ini, untuk posisi shooter. Siapa namanya yang pakai kacamata itu... oh, ya. Shintarou Midorima."
.
.
.
.
"Bisakah kami mewawancara Anda selaku kepala divisi investigasi kepolisian Tokyo, Aomine-san? Kecelakaan seperti ini tidak biasa terjadi."
Pria berkulit gelap itu mengeluh sambil mengurut bagian belakang lehernya. "Aku tak punya waktu, maaf. Bisakah—"
"Tidak ada simpulan sementara bagaimana dokter muda ternama di Tokyo meninggal dalam kecelakaan mobil?" desak reporter wanita berambut merah muda itu.
"Tidak!" semprot Aomine. Sejak subuh ia sudah dipanggil untuk menangani kecelakaan di daerah utara itu. Pagi ini, bahkan di saat matahari belum terbit benar, selusin wartawan dari berbagai media menghalangi jalan masuknya ke kantor, dan salah satunya adalah orang yang sedang ingin dihindarinya.
"Belum ada yang bisa disimpulkan untuk saat ini," terdengar suara bernada diplomatis dari balik kerumunan. "Tim investigasi kepolisian akan segera bekerja bila mereka diberi cukup ruang."
Para pemburu berita itu pun mundur sedikit demi sedikit, dan Aomine beserta timnya bergegas masuk ke gedung itu dengan lega.
"Tidak ada ucapan terima kasih?" tegur polisi senior yang tadi berdiplomasi karena Aomine melewatinya begitu saja di pintu.
Daiki Aomine mendengus. "Terima kasih, Imayoshi-senpai," sahutnya setengah hati.
"Kenapa kau begitu bad mood? Apa karena pacarmu ada di luar tadi?"
Aomine berhenti dan tanpa mengubah ekspresi kesalnya dia menjawab, "Momoi tidak ada hubungannya. Dia selalu muncul di mana saja ada berita hangat. Dan dia bukan pacarku."
"Kuharap kau tidak membawa serta emosi pribadimu, kalau begitu," ujar Shoichi Imayoshi sembari mendorong jembatan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Divisi investigasi selalu perlu orang yang berkepala dingin, jadi—"
"Aku tidak akan mengecewakanmu," potong Aomine. "Uruslah divisi pengarsipanmu sendiri, aku baik-baik saja di divisiku."
"Aku bukannya ingin mengejekmu. Hanya memperingatkan. Karena kau baru tiga bulan menjabat, Kepala Divisi." Sambil berkata begitu, Imayoshi berjalan ke arah lorong yang berlawanan. "Jadi, kuharap misteri kematian Shintarou Midorima akan segera terpecahkan."
.
.
.
.
Kazunari Takao tampak seperti habis menangis saat Aomine mendatangi rumahnya di sebelah utara luar kota Tokyo pukul sembilan pagi. Kelopak matanya sembab dan pandangannya tidak fokus.
Mabuk, batin Aomine.
"Se-semalam," Takao berusaha bicara, "hampir pukul dua belas." Dia berhenti.
"Itu saat terakhir kau melihat Midorima?"
Takao mengangguk. "D-dia mengantarku pulang. Ka-kami baru saja p-pesta di rumah Otsubo-san. Mantan tim basket SMA Shuutoku."
"Pesta apa itu?" selidik Aomine dengan tatapan tajam.
"Ulang tahunnya," sahut Takao, "Otsubo-san." Dia cegukan satu kali dan menyadari raut wajah Aomine yang garang. "Tidak ada narkoba atau semacamnya! Tapi, yah... kuakui aku minum sake agak banyak... Tapi demi apapun, a-aku bersumpah bahwa Shin-chan... maksudku, Midorima-kun... tidak minum alkohol sama sekali. Dia dokter yang sangat peduli dengan kesehatan tubuhnya sendiri. A-anda juga mestinya tahu itu. Anda teman lamanya."
Aomine mencatat dengan gaya profesional, mengabaikan dua kalimat terakhir. "Jadi, Shintarou Midorima tidak sedang mabuk saat mengendarai mobilnya dari rumah Otsubo ke rumahmu ini. Apa yang terjadi padanya dalam perjalanan dari sini menuju rumahnya di Tokyo?"
Itu pertanyaan retoris yang sering digunakan Aomine untuk membuat tersangka yang bersalah menjawab "Aku tidak tahu" terlalu cepat. Tapi Takao terdiam dan berpikir keras sebelum menyuarakan memorinya.
"Kalau tidak salah—" cegukan lagi, "—ada yang aneh sebelum dia pergi." Pria berambut hitam itu menggeleng. "Sepertinya aku terlalu mabuk, aku tidak yakin..."
"Hal apa itu?"
Takao ragu-ragu.
"Setiap detil yang kausimpan untuk dirimu sendiri akan mempersulit polisi," desak Aomine lagi. "Kau juga berpendapat bahwa kecelakaan yang menimpa Midorima bukan akibat kelalaiannya sendiri, kau tadi bilang begitu padaku."
Sepasang mata sipit Takao memejam dan dia menarik napas dalam. Kelihatan jelas bahwa dia sangat sedih atas kematian Midorima, tapi dia berusaha membantu. "Benar. Dia bukan tipe orang yang akan berkendara malam-malam kalau dia tahu dirinya mengantuk. Ka-kalau iya, dia pasti minta menginap di sini—itu sudah pernah terjadi."
Aomine mengamati lawan bicaranya dengan seksama. "Jadi, apa yang aneh itu?"
Takao tidak langsung menjawab, seperti sedang mempertimbangkan jawaban. Akhirnya dia menunjuk matanya sendiri.
"Matanya..." Takao berusaha membelalakkan bola penglihatannya—seandainya situasinya tidak seserius ini, itu akan jadi pemandangan paling kocak yang pernah dilihat Aomine.
"Dia memelototimu?" usul si polisi.
"Bukan. Hanya saja... se-sepertinya bagian dalamnya melebar. Membesar. Apakah iris mata bisa seperti itu?"
"Kau yakin dengan apa yang kau lihat itu?"
"Cukup yakin. Karena saat itu dia melepas kacamatanya dan bertanya padaku apakah ada sesuatu di matanya, katanya pandangannya agak kabur." Takao tertawa kecil, tawa khas yang mengundang memori Aomine kembali ke satu dekade silam untuk sejenak. Mantan pemain basket SMA Shutoku itu melanjutkan,
"Kau bisa bayangkan, lucu sekali permintaannya itu. Dan kubilang padanya bahwa dia perlu pergi ke optik."
"Blind as a bat," bisik Aomine.
"Eh, apa?" ujar Takao.
"Apa saja yang dimakannya dalam pesta itu?" tanya Aomine lagi.
Takao mengingat-ingat sebentar lalu menjawab, "Katsudon dan sup kacang merah, juga beberapa macam salad. Aku dan yang lain juga makan makanan yang sama. Otsubo-san memasak semuanya sendiri."
"Siapa saja yang menghadiri pesta ulang tahun itu?" selidik Aomine sembari menambahkan nama Otsubo dalam daftarnya.
Takao menyebutkan beberapa nama.
Aomine menyelesaikan catatannya lalu berujar, "Terima kasih atas kerja samanya, Takao-san. Kami akan menghubungimu lagi."
"Sama-sama. Baiklah."
Sang tuan rumah dan tamunya berdiri—yang disebut lebih dahulu melakukannya dengan sedikit terhuyung. Dia mengantarkan petugas polisi itu hingga ke teras.
"Kalian tidak jadi mengadakan reuni itu?"
Pertanyaan dadakan dari Takao membuat langkah kaki Aomine terhenti di halaman rumah. Dia tahu persis maksud pertanyaan itu. Dengan tangan di saku dan ekspresi ogah-ogahan yang biasa ditampakkannya, kepala divisi investigasi itu menyahut terlalu cepat,
"Aku tidak tahu."
.
.
.
.
"Aku tahu. Daiki sudah menghubungiku tadi pagi. Tapi terima kasih. Bisakah kita bicara lagi nanti, Tetsuya? Pesawatku kena delay hampir dua jam dan aku terpaksa mencari sarapan di kantin Haneda."
"Baiklah, Akashi-kun. Maaf mengganggumu... Oya, apakah kau bertemu Kise-kun di Haneda...?"
Sambungan telepon sudah diputus. Kuroko menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan lesu.
Di hadapannya, Detektif Taiga Kagami tengah melahap burger yang keempat. "Kau bewum sawapam 'kan?" tanya sang detektif dengan mulut penuh.
"Aku belum sarapan, iya," sahut Kuroko, menyesali makaroninya yang hangus karena tidak segera dikeluarkan dari microwave-nya yang sudah agak rusak.
"Makanlah," ujar Kagami seraya menyodorkan piring burger yang isinya tersisa dua potong itu.
"Kau tidak pernah berubah, Kagami-kun." Kuroko mengambil sebuah dan mulai mengunyah.
"Berpikir itu juga perlu makan."
Kuroko melirik alat penunjuk waktu yang terpasang di dinding. "Sekarang sudah jam sepuluh. Kapan kau akan ke kantor polisi lagi?"
"Aku menunggu tim investigasi kembali dari tugasnya. Mungkin nanti sore. Kau sendiri, bukankah kau bisa saja menghubungi Aomine?"
"Dia belum membalas pesanku. Reuni kami dibatalkan."
"Reuni?" Kagami mengernyit.
"Ya. Generation of Miracles, setelah tidak saling bertemu selama delapan tahun," sahut Kuroko.
"Ooh!" Kagami mendadak jadi antusias. "Kalian berlima—berenam, maksudku—akan reuni di Tokyo?"
"SMP Teiko ada di Tokyo, Kagami-kun," balas Kuroko datar, "lagipula empat dari kami berenam tinggal di kota ini."
"Lalu—Midorima meninggal semalam," sambung Kagami dengan nada muram. "Dia lulus sekolah kedokteran dalam waktu cukup singkat, bukan? Dia memang hebat, si tsundere itu."
"Tidak baik membicarakan hal buruk tentang orang yang sudah tiada, Kagami-kun."
"Maaf, maaf... Aku hanya kepikiran, bagaimana dia bisa menabrak pembatas jalan dan terperosok ke hutan di bawahnya. Tampaknya dia bukan orang yang sebegitu ceroboh?"
"Setiap orang bisa berbuat kesalahan," ujar Kuroko. "Tapi, ya. Kupikir ada sesuatu yang menyebabkan Midorima-kun kecelakaan. Mungkin..."
Kagami merasa tertarik. "Kau punya hipotesa, Kuroko? Ceritakan padaku."
Kuroko menatap kawannya itu. "...Mungkin dia lupa membawa lucky item-nya?"
Kadang Kagami merasa bahwa di balik muka datarnya, Kuroko menyimpan selera humor yang sedikit lebih baik daripada Shun Izuki, senior Kagami dulu di departemen pemadam kebakaran, yang punya obsesi dengan haiku dan rima. Tapi ternyata mereka berdua sama garingnya.
"Aku hanya bercanda," ujar Kuroko cepat-cepat karena Kagami tidak tertawa sama sekali. "Ngomong-ngomong, ini tanggal tujuh."
"Hm? Lalu kenapa?"
"Midorima-kun pernah bilang bahwa tujuh adalah angka keberuntungan."
"Tapi sialnya, dia mengalami kecelakaan pada tanggal tujuh. Itu yang mau kaukatakan?"
Kuroko mengangguk. "Sayang sekali."
PIRIII~PIPIRIII~
Bunyi pesan masuk di ponsel Kagami sama berisiknya dengan pemiliknya. Kuroko mengamati teman SMA-nya yang sedang membaca tulisan di layar itu.
Setelah lulus dari SMA Seirin, Kuroko tidak kehilangan kontak dengan pemuda yang masuk akademi kepolisian bersama Daiki Aomine itu. Toh mereka masih tinggal dalam satu kota. Kuroko menekuni impian terpendamnya menjadi guru TK dan Kagami sempat menjadi petugas pemadam kebakaran selama setahun sebelum pindah haluan menjadi detektif swasta. Mereka berdua kadang bertemu beberapa minggu sekali, kebetulan saja, di restoran favorit mereka sejak SMA ini—Maji Burger. Kagami suka burger-nya dan Kuroko suka vanilla shake-nya. Di tempat ini mereka sering bertukar cerita dan Kuroko kadang memberi inspirasi bagi Kagami dalam memecahkan kasus.
Sebagai detektif, Kagami tidak banyak bergerak. Dia lebih suka meminta hasil penyelidikan polisi daripada mengintervensi gerakan mereka, tapi di balik itu dia punya intuisi yang peka.
"Dari divisi investigasi. Aku masih punya waktu sampai pukul tiga nanti... Kau bisa ikut denganku, Kuroko?"
"Ke mana?"
"Ke tempat... siapa," ujar Kagami seraya berdiri.
Kuroko bingung dengan kalimat Kagami yang seperti bertanya balik. "Ke mana, Kagami-kun?" ulang pemuda berambut biru langit itu.
"Ke rumah Kise, atau Murasakibara, atau Akashi. Satu orang lagi Generation of Miracles yang tinggal di Tokyo. Selain kau, Aomine, dan Midorima."
Kuroko paham sekarang. "Ke Toko Sweet Purple, kalau begitu. Murasakibara-kun adalah kepala koki sekaligus pengelolanya. Jam segini dia pasti ada di sana."
Kagami berseru kepada orang di balik etalase.
"Furihata! Kami hutang dulu, bayarnya besok, ya!"
Kouki Furihata, sang empunya restoran Maji Burger, menyahut dengan tak jelas yang sepertinya berarti 'Baiklah, dasar tukang hutang.'
.
.
.
.
"Semalam tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit untuk Dokter Midorima."
Pria berambut hitam dengan mata sipit yang memancarkan kecerdasan itu menjawab dengan tenang.
"Baiklah, Nijimura-sensei, yang selanjutnya perlu kami tahu, apakah Anda sebagai sejawat dokter tahu obat-obatan yang dikonsumsinya akhir-akhir ini?" Ryou Sakurai bertanya hati-hati.
"Tidak," sahut Nijimura tanpa ragu. "Midorima jarang sakit, dia hampir tak pernah minum obat."
"Ada laporan yang mengatakan bahwa semalam pupil matanya melebar dan pandangannya kabur," pancing Sakurai, yang sudah bertukar informasi dengan Aomine dan anggota divisi investigasi lainnya.
Nijimura tampak terkejut. "Benarkah?"
"Benar."
Dokter yang hanya beberapa tahun lebih tua dari Sakurai itu menautkan alisnya dalam-dalam dengan kedua tangan bersedekap.
"Belladona?" gumam sang dokter dengan suara sangat pelan.
"Maaf, apa?" tanya Sakurai.
"Oh. Itu nama obat, maafkan saya. Saya kira... dan saya cukup yakin... Midorima keracunan antikolinergik. Bisakah saya tahu hasil laboratorium forensik nanti?"
"Maaf, tapi yang boleh mengetahui data itu hanya dokter forensik kepolisian." Karena si dokter kelihatan tertekan, Sakurai menambahkan, "tapi jika dugaan Anda memang benar, kami akan sangat berterima kasih. Kami akan menghubungi Anda lagi, Nijimura-sensei."
.
.
.
.
"Murasakibara memang rajanya dalam hal makanan."
Bisikan Kagami itu nyaris tak terdengar oleh Kuroko yang sedang mengamati sebuah produk kue krim vanilla yang terpajang di rak kaca untuk display.
"Hei kau, ngapain kau di sini?"
Suara sang titan setinggi dua meter itu membuat Kuroko mendongak—juga Kagami.
Atsushi Murasakibara, dengan rambut senada dengan arti nama keluarganya, berdiri menjulang dengan celemek penuh krim dan kedua tangan memegang nampan berisi pastry.
"Lama tak berjumpa, Murasakibara-kun," ujar Kuroko dengan sopan-santunnya yang biasa.
Murasakibara tampak sedikit terkejut, tapi dia menguasai dirinya.
"Astaga, rupanya kau, Kuro-chin. Hawa keberadaanmu masih tipis saja. Kalau soal reuninya dibatalkan, aku sudah tahu. Soal Mido-chin meninggal, aku baru saja tahu. Mine-chin itu setengah-setengah sih kalau mengirim e-mail," gerutu Murasakibara sambil menata kue-kue penuh gula itu di rak kaca.
Karyawan-karyawan di situ menyibukkan diri di dapur yang dindingnya juga terbuat dari kaca. Murasakibara menyeret sebuah kursi dan mengempaskan pantat di atasnya sambil menyerukan perintah-perintah pada para juru masak.
"Duduklah," ujarnya pada Kuroko, menunjuk sebuah kursi lain. "Kau juga... Kaga-chin. Sesaat aku lupa namamu. Bagaimana aku bisa lupa? Kau yang mengalahkanku di Winter Cup saat kelas satu."
Murasakibara mengambil tiga cupcakes dari rak dan meletakkannya di meja dekat mereka. "Sambil makan, silakan." Dia langsung menggigit kue itu.
"Kami baru saja sarapan, Murasakibara-kun..." tolak Kuroko tanpa mengurangi kesopanannya. Kagami sendiri masih kekenyangan—tumben.
Pria berambut ungu itu tidak memedulikannya. Dia berseru ke arah dapur, "Cupcake-nya kurang manis!" dan disahuti oleh juru masak.
Seorang karyawan keluar dari dapur membawa nampan berisi tiga gelas milkshake.
"Vanilla untuk Kuro-chin," gumam Murasakibara pada karyawannya. Lalu ia bicara pada Kagami, "Aku tidak tahu Kaga-chin suka rasa apa, tapi menurutku blueberry adalah yang paling sempurna, jadi kupesankan minuman yang sama denganku."
Dua gelas berisi minuman berwarna biru keunguan dan satu lagi sewarna salju tertata rapi di meja itu.
Tiba-tiba, seorang pria masuk ke toko itu dengan gaya urakan. "Hoi, Murasakibara! Aku pesan dua lusin donat seperti minggu lalu, ya!" Dia tertegun di pintu, menyadari bahwa dia sebenarnya tak perlu berteriak karena si empunya toko berada di ruangan itu. Masa bodoh, ia berjalan mendekati meja Murasakibara dan kedua tamunya.
Pria berambut kelabu dengan beberapa anting di telinganya itu nyengir sebelum meletakkan beberapa lembar uang ke meja lalu menindihnya dengan cupcake Kagami yang belum tersentuh.
"Kirim ke rumahku, nanti ongkosnya kutambah. Kutunggu sebelum besok pagi, ya!"
Dan orang itu berlalu sambil meraih cupcake milik Kuroko seolah pria berambut biru itu tak ada di sana. "Terima kasih untuk sampel kue gratisnya!"
Pintu depan dibanting menutup, dan duo cahaya-bayangan itu melongo di hadapan si pemilik toko.
"Haizaki sialan," umpat Murasakibara, namun dia berdiri dari kursi dan meraih sebuah cupcake lagi dari rak untuk Kuroko. "Kau harus makan, Kuro-chin, kapan kau tambah tinggi kalau begini?"
"Kau selalu begitu padaku, Murasakibara-kun," komentar Kuroko, terdengar kurang senang. "Kenapa kau melayani pengunjung seperti itu kalau kau tidak suka?"
"Dia punya banyak uang, dan dia kenalan Aka-chin," sahut yang ditanya sambil meminum sedikit blueberry milkshake-nya. "Jadi, bagaimana anak-anak didikanmu, Kuro-chin? Mereka sudah bisa menggosok gigi sendiri?"
"Jangan menghinaku, Murasakibara-kun."
"Aku heran dengan kalian semua. Kalian bekerja di bidang yang bukan kesukaan kalian."
"Tidak benar. Aku menyukai mengajar anak-anak," bantah Kuroko.
"Kenapa Ki-chin berhenti jadi model dan malah jadi pilot? Kenapa Mine-chin yang pemalas jadi polisi? Kenapa Mido-chin mau mengurusi orang sakit? Kenapa kau maumengurusi bocah-bocah ingusan?" Dia menatap Kuroko. "Hanya Aka-chin yang pekerjaannya paling masuk akal bagiku, karena dia memang anak pengusaha."
"Kenapa Murasakibara yang suka makan menjadi seorang pastry chef?" sela Kagami, merasa geli.
"Karena," pria raksasa itu langsung menyahut, tapi berhenti di situ. Tiba-tiba dia tampak kehilangan kata-kata.
"Karena makanan manis itu terasa tidak enak kalau orang lain tidak tahu mengenainya. Begitu, 'kan, Murasakibara-kun?"
Yang ditanya menepuk puncak kepala Kuroko dan menyahut dengan nada melamun, "Tepat sekali, Kuro-chin."
Sebelum Kuroko sempat menyuarakan ketidaksukaannya terhadap perilaku si rambut ungu, pria itu menarik tangannya dan mengeluh keras.
"Aku tidak akan berpura-pura sedih untuk Mido-chin. Aku tidak suka reuninya dibatalkan, padahal sudah kusiapkan makanan enak untuk semua orang. Aku bahkan memesan penggorengan baru supaya kita bisa makan barbekyu."
.
.
.
.
"Aku heran padanya, Kuroko. Temannya meninggal, dan yang dipikirkannya hanyalah makanan."
"Murasakibara-kun memang seperti itu, Kagami-kun. Bukan berarti buruk—dia sebenarnya sedih. Dia hanya tidak mau mengatakan hal yang melankolis, seperti alasannya menjadi pastry chef tadi."
Kedua pria muda itu berhenti di persimpangan jalan. Kagami mengecek arlojinya.
"Baiklah kalau begitu. Aku mau ke kantor polisi sekarang. Kuharap Aomine dan timnya mendapat banyak hal."
"Sampai jumpa, Kagami-kun."
"Bye," sahut Kagami.
.
.
.
.
Daiki Aomine sebetulnya paling tidak suka menangani keluarga korban dalam kasus apapun. Terlalu banyak air mata, pasti. Tapi sebagai kepala divisi, dia harus bertemu dengan orang tua Midorima dan seorang adik perempuannya yang masih sekolah untuk memberi penjelasan.
Meskipun belum ada yang bisa dijelaskan.
Dugaan sementara bahwa Shintarou Midorima mengalami kecelakaan saat mengemudi karena obat antikolinergik pasti menimbulkan petaka bagi keluarga itu. Maka Aomine menyampaikan ringkasan seperlunya.
Bahwa Midorima kelelahan sehabis berpesta di rumah kawan lamanya dan tidak mengemudi dengan benar?
Tidak seperti Takao yang langsung tak setuju, keluarga Midorima menerima penjelasan itu dengan pasrah. Mereka hanya meminta agar proses autopsi bisa dipercepat sehingga mereka bisa segera memakamkan putra sulung keluarga itu.
Aomine meninggalkan kediaman Midorima sambil melihat jam tangan. Hampir pukul setengah empat. Seorang detektif cerdas tapi lebih pemalas dari dirinya pasti sudah menunggu di kantor. Pria berambut navy blue itu masuk ke dalam mobil dinas dan membuka ponsel. Supir kepolisian segera melajukan mobil itu menuju kantor pusat.
Sepuluh e-mail baru di ponsel Aomine, sembilan di antaranya dari Ryouta Kise. Aomine membuka satu yang dari Akashi.
Lalu lintas di sekitar Haneda macet. Seijuurou Akashi yang sedari pagi terlambat sarapan dan kena penundaan pesawat pastinya sudah sangat senewen ketika dia meminta Aomine menjemputnya dengan mobil polisi di bandara internasional Jepang itu—pukul dua belas kurang seperempat siang.
Dasar Akashi. Memangnya Aomine punya waktu seluang itu? Sekalipun misalnya ia sempat membuka e-mail itu tadi siang, permintaan mutlak nan egois itu pasti ditolaknya habis-habisan.
Hampir saja Aomine membalasnya dengan bertanya, 'Memangnya aku supir pribadimu?!' namun ia menyadari kuasa dari permintaan Akashi yang seenaknya itu. Kalau ada mobil polisi di bandara, orang-orang pasti akan memberi jalan.
Sambil menghela napas kesal, akhirnya Aomine membalas seperlunya pada Akashi—'Aku baru saja mengecek e-mail, maaf'—lalu mulai membaca e-mail pertama dari Kise.
Tch.
Rupanya Kise juga terjebak di Haneda. Dia tiba pada penerbangan pagi namun masih harus mengurus beberapa hal di bandara. Setelah memesan taksi dan masuk ke dalamnya, dia baru menyadari adanya kemacetan itu. Kise memang kurang pikir panjang kadang-kadang. Dan sembilan e-mail-nya berisi keluh kesahnya selama menunggu di Haneda.
Saat itu, Sakurai meneleponnya dan Aomine melupakan kemalangan Kise untuk sejenak.
"Hasil labfor sudah keluar?" tanyanya bersemangat. Dia mendengarkan penjelasan Sakurai dengan cermat.
"Memang ada atropine dalam jumlah yang tidak banyak di darahnya. Tapi cukup banyak untuk menimbulkan efek blind as a bat—midriasis dan pandangan kabur. Dia memang keracunan antikolinergik."
Atropine... Zat yang ditemukan dalam tanaman Atropa belladona. Nama belladona berarti 'wanita cantik' dalam bahasa Italia. Karena saat penemuan pertamanya di zaman Renaissance, zat itu disalahgunakan kaum wanita agar mata mereka tampak lebih molek dan melebar.
"Keracunan... atau peracunan?" tanya Aomine, lebih pada dirinya sendiri.
"Aomine-san... Detektif Kagami sudah menunggumu di kantor."
"Ya, ya, aku tahu."
Aomine menggigit bibir sambil memutuskan sambungan. Dia mengetik pesan baru:
Lembur di kantor, sepertinya tidak pulang malam ini. Tidak usah masak untukku.
Pesan itu dikirim pada nomor bersubyek Satsuki Momoi.
Wanita itu selalu ribut kalau Aomine tidak pulang ke apartemen—hanya karena mereka teman sejak kecil dan bertetangga sampai sekarang. Padahal pekerjaan Momoi sendiri juga menuntutnya untuk sering pulang malam. Kadang Aomine tidak suka tingkah Momoi yang seperti itu.
Sudahlah.
Ditariknya napas panjang dan sambil menguatkan hati dibalasnya e-mail Kise—yang pasti akan dibalas dengan e-mail keluh kesah yang lebih panjang.
.
.
.
.
Malam itu, masih di hari yang sama dengan kedatangannya kembali di Tokyo, Seijuurou Akashi membuka laptopnya dan memeriksa rencana anggaran belanja perusahaannya untuk tahun ini.
Pria berambut merah menyala itu akhirnya dijemput oleh supir keluarganya pukul dua belas siang tadi. Penerbangan yang ditunda, sarapan yang tertunda, dan reuni yang ditunda selamanya—benar-benar hari yang sempurna bagi raja absolut seperti Akashi yunior.
Jam dinding menunjukkan beberapa menit menjelang pukul delapan malam dan Akashi sudah merasa agak mengantuk. Dia menyingkirkan laptopnya dan menarik papan shogi lalu mulai menata bidak-bidaknya. Hobinya sejak SMP itu telah sukses mengantarkannya ke ajang catur dunia dan di negara-negara barat Seijuurou Akashi termasuk jajaran grandmaster termuda—yang sekaligus penerus perusahaan elektronik nomor satu di Asia Timur.
Selagi bermain catur Jepang melawan diri sendiri itu, ponsel Akashi berbunyi menandakan suatu proses yang sudah berhasil.
Sepasang iris heterokrom itu mengamati layar sebentar sebelum seulas senyum kecil terukir di wajahnya.
Transaksi sudah dilakukan. Satu juta dolar Amerika baru saja masuk ke salah satu rekeningnya—usaha sampingan yang sudah dilakukannya sejak usia SMA.
Sebenarnya, malam ini Murasakibara ingin mereka berlima tetap mengadakan reuni di toko pastry miliknya. Tapi Akashi tidak ingin berangkat. Bukan Generation of Miracles namanya kalau tidak ada Shintarou Midorima.
Diabaikannya pesan dari Kuroko tentang pemberitahuan itu. Dibereskannya peralatan shogi.
Akashi pergi tidur dalam empat menit setelah merebahkan kepalanya di bantal.
Untuk terbangun dengan sisa perasaan jet lag esok harinya dan langsung menerima kabar buruk lagi—
—Atsushi Murasakibara meninggal dalam kebakaran di toko pastry kebanggaannya, tengah malam sebelum tanggal delapan Januari.
.
.
.
to be continued.
.
Author's Note
.
Pekerjaan ketujuh tokoh utama (iya tujuh, banyaknya...) bukan hasil imajinasi Roux. Sumbernya buku Character's Bible dan saya baca di internet apa-apa aja pekerjaan alternatif para tokoh. Karena menyenangkan membayangkannya dan kebetulan cocok, jadilah pekerjaan-pekerjaan dalam cerita ini didasarkan pada Character's Bible.
Ide dasar cerita ini berasal dari salah satu mata kuliah saya, tentang lima tanda vital keracunan antikolinergik. Jumlahnya ada lima. Maka tokoh yang kena (bakal) ada lima. That simple. (Sekaligus hint untuk chapter lain ke depan...)
Midriasis, yang lebih dikenal dengan keadaan pupil mata yang berdilatasi, sebetulnya iris mata yang melebar.
Terima kasih untuk semua readers dan reviewers bab lalu, juga yang fave dan follow cerita ini. Jadi makin semangat untuk lanjut, dan sesuai janji saya update-nya ga lama-lama :)
Akhir kata, sumbangkan kritik dan saran kalian untuk penulis :3
Grazie~ terima kasih (lagi).
[Dan Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan...]
.
08-09 Februari 2016
