I Love My Boss2

Title : I Love My Boss

Writer : Helloannyeongg

Rated : T

Genre : Drama, Romance, Friendship, Family

Main Cast : HunHan ( Oh Sehun x Xi Luhan)

Other Casts : Exo official couples and SM artists

Semua Cast disini milik diri mereka masing-masing, orangtua, dan Tuhan. Author cuma memakai mereka sementara sebagai Cast di FF abal-abal author ini.

Warning : GS, TYPO(S), OOC dan Bahasa pun tidak baku.

Cerita ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan kejadian mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Cerita ini milik SAYA. Penulis cerita ini adalah SAYA. Ide dalam menulis berasal dari ide SAYA. Please don't be a PLAGIATOR!

::::::::::::::: *Helloannyeongg Present* ::::::::::::::

Aku Sehun. Demi belajar hidup mandiri, aku rela melepaskan semua fasilitas yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Aku lelah mencari pekerjaan kesana kemari dan semuanya ditolak. Untunglah saat aku mulai putus asa, ada seseorang yang menawariku pekerjaan. Dan apa pekerjaannya? Seorang bodyguard! Dan aku harus menjaga serta melindungi seorang gadis yang menurutku, manis.

.

*Helloannyeongg*

.

Aku tidak melihat Luhan di ruang tengah ataupun dapur. Barang belanjaannya pun masih tergeletak di atas meja. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar tidur Luhan untuk memastikan keadaannya. Dan apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi.

"Luhan?"

"Ada apa denganmu? Omo tubuhmu panas sekali."

Aku langsung menggendong tubuh Luhan dan membaringkannya di tempat tidur. Setelah itu aku segera menuju ke dapur untuk mengambil sebaskom air dan lap kain. Akhirnya sebaskom air aku dapatkan. Aku segera meletakkan lap kain itu di kening Luhan. Aku juga mulai menyelimuti tubuhnya yang mulai menggigil.

"Engg..." igau Luhan. Berulang kali aku mengganti kain untuk mengompres itu.

Sudah beberapa jam aku berada di samping Luhan. Untunglah panas nya sudah mulai sedikit menurun karena berulang kali aku mengganti kompresannya. Aku bermaksud untuk membuat bubur untuk makan malam Luhan. Ia butuh makanan yang hangat.

Saat aku selesai menyiapkan bubur, aku melihat Luhan yang berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar. Aku pun segera menghampirinya dan menuntunnya untuk duduk disofa.

"Lu? Jangan banyak bergerak dulu. Duduklah..." aku membantu mengatur bantal ataupun selimut kalau-kalau Luhan membutuhkannya.

"Kau jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau merasa sakit, bilang saja kau sakit. Jangan seperti ini. Kau membuatku khawatir tau..." entah kenapa aku begitu merasa sangat khawatir. Bukan hanya karena pekerjaanku yang harus melindunginya namun karena perasaan aneh itu.

"Nah makanlah dulu. Baru setelah itu kau minum obat. Ini..." aku memberikan semangkuk bubur yang aku buat tadi kepada Luhan. Namun ia hanya memandangi bubur itu tanpa berniat memakannya.

"Atau mau aku suapi?" Tawarku. Dia tidak menjawab apa-apa namun aku sudah mengambil mangkuk itu kembali. Aku akan menyuapinya.

"Fuhh fuhh aa~" aku menyodorkan suapan bubur pertama untuknya. Namun lagi-lagi Luhan hanya memandanginya saja. Ada sedikit rasa kesal dihatiku.

"Makanlah..." paksaku dan diapun memakannya. Tidak masalah jika ia hanya makan sedikit. Yang penting ia sudah makan dan bisa minum obat.

"Bagaimana rasanya?" Luhan hanya mengangguk saja. Aku pikir rasanya tidak terlalu buruk.

Luhan menghabiskan bubur buatanku itu tanpa sisa. Berarti buburku memang enak dong? Hahaha... Setelahnya, aku memberikan sebuah pil obat untuk Luhan. Pil berwarna pink obat penurun panas.

"Ini minunlah..." aku menyerahkan pil itu berserta segelas air untuk Luhan.

Glek Glek Glek

"Sudah? Nah kau tidurlah lagi. Kau harus banyak istirahat. Jika kau mau susu, ini aku sudah buatkan." Aku meletakkan susu hangat ke atas meja di ruang tengah, dekat sofa.

"Gomawo.." aku melihat Luhan hanya menatap segelas susu begitu saja.

"Atau kau ingin mandi? Biar aku siapkan air hangat untukmu." Tawarku dan aku segera bangkit namun Luhan menarik kembali tanganku.

"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya kok. Duduklah. Kau pasti lelah karena semalaman merawatku." Aku menatap wajahnya. Masih terlihat pucat dan ada sedikit keseganan atau ketidakenakkan di kata-katanya.

"Tidak kok. Aku baik-baik saja. Lagipula ini kan sudah tugasku untuk melindungi, menjaga serta merawatmu." Jawabku. Namun lagi-lagi Luhan tersenyum. Tersenyun paksa lebih tepatnya. Entahlah apa karena ia memang sedang sakit atau karena sesuatu yang lain. Aku juga tidak tahu.

"Sehun seperti apa yeoja yang kau sukai? Selama ini pasti kau pernah kan jatuh cinta?" Tiba-tiba Luhan menanyakan soal itu. Aku bingung harus menjawab apa.

"Yeo-yeoja? Yang kusukai? Tidak ada tipe spesial. Asal aku merasa nyaman padanya mungkin aku menyukainya." Hanya itu yang aku pikirkan.

"Mungkin? Apa selama ini kau..." Luhan menggantungkan pertanyaannya. Namun aku mengerti apa yang ingin diucapkannya.

"Belum. Aku belum pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Apalagi berpacaran. Aku belum memikirkan hal itu dulu." Aku memang belum terlalu memikirkan hal itu.

Luhan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Matanya terus menatapku namun sepertinya pikirannya sedang entah berada dimana.

"Kalau kau sendiri?" Tanyaku membuyarkan lamunannya.

"Aku? Sama saja. Semua namja sepertinya takut mendekatiku hahaha.. Ya kau tahulah siapa baba dan mama. Terkadang aku sedih juga memikirkannya. Harusnya aku sudah merasakan hal yang namanya jatuh cinta ataupun berpacaran. Namun semuanya yah seperti ini saja." Jawabnya panjang lebar dengan senyum paksa yang terkembang diwajahnya.

Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepalaku. Mungkin jika aku menjadi dirinya juga akan berpikiran sama sepertinya. Bayangkan saja. Dia anak seorang mentri yang terpandang di negara nya. Pasti orang-orang biasa atau namja-namja biasa akan segan mendekatinya. Tapi kemudian pikiranku terarah pada seorang namja.

"Kris? Bukankah kau bilang kau sempat menyukainya?" Lagi-lagi sepertinya aku membuyarkan lamunannya.

"Hah? Kris? Hmm lupakan saja hehehe..." Luhan terlihat salah tingkah. Jadi apa benar Luhan masih menyukainya hingga sekarang?

.

*Helloannyeongg*

.

Keadaan Luhan hari ini sudah membaik setelah 1 hari istirahat penuh di apartment. Dan hari ini ia memaksakan diri untuk masuk kuliah padahal wajahnya masih terlihat pucat. Aku sempat khawatir keadaannya akan memburuk jika ke kampus. Namun ia menyakinkanku jika keadaannya akan baik-baik saja.

"Aku ingin kuliah. Tenanglah aku sudah tidak apa-apa kok." Luhan sudah berpakaian lengkap dengan syal dan mantel tebal yang menyelimuti tubuhnya.

"Baiklah. Kajja kita berangkat." Kami pun akhirnya berangkat juga ke kampus bersama seperti biasa.

Ckitt

Mobil yang kukendarai sudah terparkir di area parkir kampus. Aku masih melirik ke arah Luhan. Apakah ia akan berubah pikiran atau tidak. Bisa saja ia ingin pulang karena masih merasa tidak enak badan.

"Kajja kita masuk. Aku tidak apa-apa. Tenanglah..." Luhan tersenyum dan masuk ke dalam gedung kampus sambil mengeratkan mantel dan syal yang dikenakannya.

"Kau duduk di sampingku saja ya nanti. Biar aku mudah menjagamu." Ucapku khawatir akan keadaannya.

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja kok." Luhan sudah melangkahkan kakinya memasuki gedung kampus. Akupun hanya mengikutinya saja.

"Lu... Kau tidak apa masuk hari ini? Wajahmu masih terlihat pucat." Baekhyun yang baru saja datang langsung menghampiri Luhan.

"Tidak apa. Aku baik-baik saja kok." Jawab Luhan sambil tersenyum. Baekhyun melirikku. Hanya Baekhyun yang tahu siapa aku sebenarnya karena Luhan yang menceritakannya.

"Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa melarangnya." Jawabku. Baekhyun hanya menghela nafasnya pasrah. Ia tahu bagaimana sifat Luhan yang sedikit keras kepala.

"Sudahlah kajja kita masuk!" Luhan sudah menarik tangan kanan Baekhyun dan mengajaknya masuk ke dalam kelas.

SKIP

Akhirnya kelas hari ini selesai juga. Aku mengajak Luhan untuk ke kantin. Mengajaknya untuk makan siang. Luhan sudah selesai merapikan semua bukunya saat seorang namja tinggi menghampirinya.

"Lu? Apa kau sakit? Kemarin kau tidak ke kampus ya?" Tanya namja tinggi itu yang bernama Kris.

"Ne.. Kemarin kau mencariku?" Tanya Luhan dan aku lagi-lagi harus memperhatikan kebersamaan mereka.

"Ne, tentu saja. Wajahmu masih pucat, Lu. Kenapa kau masuk? Harusnya kau istirahat saja." Kris mengusap rambut Luhan dengan lembut. Entah kenapa aku merasakan perasaan tidak suka melihat hal itu.

"Kau sama saja seperti Sehun dan Baekhyun. Aku tidak apa-apa kok, sungguh!" Jawab Luhan yakin.

"Sehun! Kajja kita ke kantin! Kris apa kau mau ikut?" Luhan menyadarkan lamunanku.

"Tidak. Aku ada kelas. Baiklah jangan terlalu lelah ya. Setelahnya kau harus pulang dan beristirahat. Sehun jaga Luhan ya..." kemudian Kris sudah keluar dari kelas kami.

"Kajja Sehun!" Luhan menarik tanganku. Ada perasaan senang ketika Kris tidak bisa ikut kami ke kantin.

"Habiskan buburnya, Lu..." aku membujuk Luhan untuk menghabiskan buburnya.

"Aniyo... Aku tidak mau. Aku bosan harus makan bubur terus." Luhan mempoutkan bibirnya jadi nampak lucu.

"Kau baru memakan beberapa sendok. Habiskan lalu setelah ini kau bisa minun obat." Bujukku. Namun Luhan terus menggelengkan kepalanya.

"Haa baiklah... Dasar yeoja keras kepala. Ini obatnya. Jika kau lapar, kau bilang padaku ya." Aku menyerah. Aku berikan pil obat untuk Luhan.

SKIP

Aku menyuruh Luhan untuk segera beristirahat di dalam kamarnya. Namun berkali-kali Luhan menolaknya. Ia selalu beralasan bosan. Padahal ia masih belum sehat. Aku mendudukkan diriku di sebelahnya saat ia sedang asik menonton TV.

"Haa kau ini. Kenapa tidak mau tidur? Kau harus banyak istirahat..." Aku memandangi dirinya yang masih asik menatap layar datar di hadapannya.

"Aku bosan." Keluhnya. Aku hanya bisa menghela nafas saja. Diluar juga sedang hujan deras.

GLEP

"KYAAA" Luhan berteriak cukup keras saat lampu di apartment ini tiba-tiba mati.

"Tenanglah.. Tidak apa..." aku mencoba menenangkannya. Tubuhnya sudah mulai bergetar.

Gluduk Gluduk Jderrr

Suara guntur mulai terdengar semakin nyaring. Tubuh Luhan terasa semakin bergetar. Aku memeluk tubuhnya mencoba menenangkannya.

"Takut... Aku takut gelap. Aku takut petir. Takut... hikss hikss" Luhan mulai terisak.

"Tenanglah... Ada aku disini. Jangan menangis..." aku mengelus punggungnya perlahan.

"Takut.. Aku takut Sehun... hikss hikss baba... mama... Aku takut... Hikss" Luhan semakin terisak di dalam pelukanku.

"Shtt tenanglah... Jangan menangis. Sebentar lagi keadaannya pasti akan baik-baik saja. Aku akan menelepon petugas apartment ini. Tunggulah." Aku pun segera mengambil ponselku dan mencari nomor petugas apartment itu.

"Yeobosaeyo? Maaf saya pemilik apartment nomor 365. Disini semua listrik mati. Apa anda bisa mengirimkan seorang petugas untuk melihatnya? Apa? Oh ada kerusakan. Jadi semua apartment mati listrik? Sampai kapan ini terjadi? Ah baiklah. Terima kasih." Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana.

"Kata petugas sedang ada kerusakan jadi sepertinya hari ini memang akan gelap seperti ini." Jelasku pada Luhan yang masih terisak.

"Bagaimana ini? Gelap. Aku tidak suka gelap. Hikss..."

Aku pun bingung. Jika menyewa hotel, sepertinya tidak mungkin bisa. Di luar sedang hujan deras dan jalan raya pun macet karena beberapa jalan tergenang air. Haa menyusahkan sekali. Aku khawatir pada Luhan yang takut gelap. Apa yang harus aku lakukan?

"Baiklah. Akan aku ambilkan lilin. Kau mau disini saja atau mau ikut?" Tawarku padanya.

"Ikut. Jangan tinggalkan aku sendirian. Gelap." Isaknya lagi.

"Ne, ne, ne... Pegang aku ya. Hati-hati jalannya." Aku pun mulai berjalan bersama Luham menuju ke dapur untuk mengambil lilin di bantu dengan sedikit penerangan dari ponsel milikku.

"Aduh..." Aku menahan tubuh Luhan yang hampir terjatuh karena tersandung kaki meja.

"Hati-hati... Perlahan saja jalannya..." Luhan mengangguk mengerti dan terus menggenggam erat tanganku.

"Nah ini lilinnya. Lalu dimana korek apinya ya? Hmm nah ini dia..." aku pun mulai menyalakan lilin itu. Luhan terlihat sedikit gembira. Apartmentnya jadi terlihat lebih sedikit terang.

"Aku letakan di ruang tengah saja ya..." aku membawa lilin itu ke meja di ruang tengah.

Tik Tok Tik Tok

"Sampai kapan ya akan seperti ini?" Tanya nya. Sepertinya ia mulai mengantuk. Wajar saja jam sudah menunjukkan pukul 21.00 KST. Semua masih begitu-begitu saja. Hujan yang masih turun deras dan listrik di apartment masih saja mati.

"Hoam..." aku melihat Luhan menguap dan membiarkan dirinya tetap terjaga.

"Kau sudah mengantuk? Tidurlah... Aku antarkan kau ke kamarmu."

"Tidak perlu. Aku masih belum mengantuk kok." Elaknya.

"Ya sudah bersandar disini saja." Aku menepuk-nepuk bahuku untuk menawarkan dirinya agar menyandarkan kepalanya.

"Tidak usah. Aku masih belum mengantuk kok." Elaknya lagi. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera menyandarkan kepalanya di bahuku.

"Ya Sehun apa yang kau..."

"Sudah diamlah. Pejamkan matamu dan tidurlah.."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian! Cepat! Pejamkan matamu dan tidurlah..." perintahku lagi. Dan akhirnya ia pun menuruti perintahku.

"Sehun... Bisa nyanyikan sebuah lagu untukku?" Pintanya.

"Mwo? Aku? Nyanyi? Aku tidak bisa menyanyi..." elakku. Sungguh aku memang benar-benar tidak bisa menyanyi.

"Jebal... Aku mohon. Menyanyilah... Please..." Luhan memohon-mohon kepadaku.

"Haa baiklah..." akupun menyerah dan mulai menyanyikan sebuah lagu.

'Naega nungama gidohan i sungani geudae ein mameul anajulge cheoncheonhi oneuri hanbeonui Chance na naeditneun cheot georeum...'

Aku mulai menyanyikan lagu yang berjudul Baby. Lagu yang aku sukai. Aku melirik Luhan dan ia sudah memejamkan matanya dan tertidur sambil menyandarkan kepalanya padaku. Aku tersenyum melihat ketenangan di wajahnya yang sudah tertidur.

'Maen cheoeum ne kkum, ne mal, geu nunmulboda jinhan tto cheongugui nektaboda dalkom haetdeon Yes, you are my baby baby baby, baby baby baby yaksokhae na meomchuji anheulge geudaeman bomyeo...'

"Jaljayo Lu..." ucapku sambil merebahkan tubuh Luhan yang sudah tertidur pulas di atas sofa dan mengambil selimut yang berada tidak jauh dari sofa dan mulai menyelimuti tubuhnya. Aku duduk di atas karpet dan menyandarkan punggungku di sofa dan mulai memejamkan mata untuk tidur. Aku kan tidak mungkin meninggalkannya sendirian disini di ruangan yang gelap. Dan aku pun masuk ke dalam alam mimpi indahku...

.

*Helloannyeongg*

.

Beberapa bulan kemudian...

Tanpa terasa sudah beberapa bulan ini aku bekerja sebagai bodyguard Luhan. Banyak yang aku alami bersama dengan Luhan. Dan akupun bisa lebih mengenal dan memahami sifatnya yang terkadang kekanak-kanakan namun juga menggemaskan.

"Sehun? Pulang nanti kau pulanh sendiri tidak apa kan? Aku sudah ada janji dengan Kris." Ucapnya membuat hatiku sedikit merasa hmm entahlah aku tidak begitu bisa menafsirkannya.

"Oh baiklah. Jangan pulang terlalu malam ya." Luhan hanya tersenyum menanggapi jawabanku lalu kembali lagi ke kursinya.

"Stt stt waeyo? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?" Tanya Kai yang baru saja datang.

"Aniyo... Gwenchana..." elakku.

"Apa semua ini karena Luhan?" Tebaknya.

"Iya kan? Pasti karena dia. Wae? Dia pergi dengan namja lain?" Tebaknya lagi. Aku hanya bisa menganggukkan kepala saja.

"Ckck makanya aku kan sudah bilang. Cepat nyatakan perasaanmu padanya. Tapi kau masih saja memendamnya ckck..."

Apa sih yang dikatakan Kai? Memendam apa? Aku? Kenapa? Dia itu aneh sekali. Luhan itu bossku. Boss yang harus aku lindungi dan aku jaga karena itulah aku merasa sedikit khawatir jika ia pergi dengan orang lain. Ya aku merasa khawatir. Sangat khawatir sehingga berat rasanya mengijinkan ia pergi dengan namja lain. Ada apa denganmu Oh Sehun? Biarlah Luhan ingin pergi dengan siapa. Itu bukan urusanmu Oh Sehun! Tapi kenapa perasaan itu muncul saat seperti ini?

"Yak Oh Sehun! Kau melamun kan... Kau memikirkan dia kan? Jujur saja pada perasaanmu jika kau itu sebenarnya menyukainya." Teriak Kai tanpa memperdulikan mahasiswa lain yang sedang memperhatikannya.

"Yak Kkamjong! Kau ini apa-apaan sih berisik sekali!" Ucapku sambil membekap mulutnya. Kai itu memang berisik sekali!

"Kau yang bodoh! Kenapa kau harus menutupinya? Sudahlah biar ia tahu bagaimana perasaanmu padanya. Jangan salahkan aku jika tiba-tiba ia malah sudah akan jadi milik orang lain." Ucap Kai. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku saja. Sungguh aku tidak sepenuhnya mengerti dengan arah pembicaraan Kai ini.

"Kau ini bicara apa sih. Sudahlah..." balasku acuh sementara Kai hanya bisa mendumel saja.

SKIP

"Ya kusut sekali sih wajahmu itu!" Ledek Kai saat kami baru saja keluar dari kelas.

"Biasa saja tuh. Matamu saja yang sedang tidak beres."

"Loh, loh, loh... Jelas-jelas wajahmu memang terlihat benar-benar kusut begitu."

"Diamlah Kkamjong! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sana pergilah dengan yeojachingumu itu!" Aku sungguh sedang tidak mood sekarang.

"Yak kau lupa? Kyungsoo kan masih belum kuliah. Dia masih di dalam perjalanan kembali ke sini." Kai kembali mengingatkan.

Aku lupa. Padahal kemarin Kai sudah cerita padaku jika Kyungsoo memang sedang berada di China untuk menjemput sepupunya yang akan pindah dan kuliah di Seoul.

"Nah karena aku juga sedang bosan, bagaimana jika kita pergi?" Tawar Kai.

"Malas. Aku sedang malas jalan-jalan sekarang. Aku ingin pulang dan istirahat." Balasku. Moodku memang sedang tidak bagus hari ini.

"Ayolah... Sekali-kali kita pergi." Ajak Kai lagi.

"Aishh baiklah... Jangan lama-lama ya!"

"Sip... Tapi pakai mobilmu saja ya. Mobilku kan sedang masuk bengkel tadi pagi."

Ya tadi pagi Kai menceritakan jika mobilnya terpaksa harus masuk bengkel karena tidak sengaja menabrak tembok pembatas di lapangan parkir kampus. Kai memang ceroboh sejak aku mengenalnya. Ini sudah yang kesekian kalinya aku mendengar mobil miliknya masuk bengkel karena menabrak sesuatu.

"Lebih baik lain kali kau tidak perlu membeli mobil jika tahu akan masuk bengkel terus. Ubah sifat cerobohmu itu dulu." Sindirku namun Kai hanya memasang wajah polos seolah tanpa dosa.

Tringg

Suara pintu lift terbuka. Kini aku dan Kai sudah menginjakkan kaki di salah satu pusat perbelanjaan besar di Seoul. Banyak siswa-siswi SMA bahkan mahasiswa yang hilir mudik di mall itu.

"Main billiard yuk." Ajak Kai.

"Malas. Tidak selera." Balasku. Sejak dulu aku memang tidak suka main billiard. Aku pikir main seperti itu hanya menghambur-hamburkan uang, tenaga dan waktu saja.

"Jadi kita mau kemana?" Tanyanya. Aku hanya membalas dengan mengangkat kedua bahuku tanda tidak tahu.

"Temani aku beli kado saja ya untuk Kyungsoo. Sebentar lagi kan Natal." Ajaknya lagi.

Aku baru sadar. Sudah memasuki bulan Desember dan musim dingin dan sebentar lagi Natal. Aku sama sekali tidak ingat. Huaa appa dan eomma pasti menyuruhku untuk merayakan Natal bersama mereka. Bagaimana ini? Bagaimana dengan Luhan? Bagaimana dengan pekerjaanku?

"Yak! Kenapa melamun? Temani aku beli kado Natal ya..." ajak Kai sekali lagi.

"Ne, ne, ne aku temani. Mungkin aku juga akan membeli sesuatu." Balasku.

Dan kami pun mulai masuk ke dalam sebuah toko yang bernuansa Natal. Seluruh toko itu sudah dipenuhi beragam pernak-pernik khas Natal. Aku mulai melihat-lihat sekeliling toko mencari sesuatu untuk dijadikan sebagai kado Natal.

Saat sedang asik berkeliling, aku menemukan sebuah kalung perak cantik di salah satu meja etalase di toko itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk rusa. Saat melihat kalung itu aku jadi memikirkan Luhan.

"Apa aku berikan ini saja untuk kado Natalnya?" Aku masih terus memperhatikan kalung itu.

"Hei Sehun! Sedang apa kau disini?" Kai mengagetkanku yang sedang asik memperhatikan kalung perak itu.

"Lihat-lihat. Kan tadi aku bilang aku juga ingin lihat-lihat."

"Hehehe nah menurutmu apa ya yang harus aku berikan untuk Kyungsoo?" Tanyanya.

"Mana aku tahu. Yang pacarnya siapa sih? Kau kan? Kau yang harusnya lebih tahu." Balasku. Kai ini memang terkadang rada aneh juga.

"Dia itu suka sekali masak. Hmm aku belikan apa ya?" Kai nampak berpikir.

"Belikan saja ia peralatan memasak." Usulku asal.

"Boleh juga idemu. Kajja temani aku lihat-lihat panci dan teman-temannya!" Kai segera menarik tanganku dan mengajakku menuju ke toko lain. Toko peralatan rumah tangga.

"Nah ini dia... Banyak juga ya peralatan memasak itu sebenarnya. Ckckck " Ucapnya.

"Tentu saja. Kau saja yang baru tahu. Biasanya yang memasak pembantumu sih." Sindirku.

"Hehehe... Sudahlah jangan dibahas. Aku bayar semua ini dulu ya..." Kai segera membawa barang belanjaannya ke kasir. Sementara aku menunggunya di luar toko.

"Lalu kau ingin beli apa untuk Luhan?" Tanya Kai setelah selesai membayar belanjaannya.

"Molla. Aku belum tahu." Jawabku jujur.

"Mau kembali ke toko tadi? Sepertinya tadi kau ingin membeli sesuatu juga kan disana?" Usul Kai sambil sibuk memeriksa kelengkapan belanjaannya.

"Ne. Kembali ke sana sebentar ya..." aku dan Kai pun kembali ke toko tadi.

"Permisi aku ingin membeli kalung ini..." aku menunjuk kalung perak berliontin rusa pada seorang pegawai toko itu.

"Maaf sebelumnya. Kalung ini kalung spesial dan harus dipesan dulu..."

"Dipesan? Berapa lama jadinya?" Tanyaku pada pegawai itu. Natal tinggal 2 minggu lagi.

"Sekitar 1 mingguan. Dan anda juga bisa menambahkan ukiran nama di kalung ini jika ada memesannya."

"1 minggu? Hmm..."

"Sudah pesan saja..." bujuk Kai.

"Baiklah saya akan pesan kalung ini." Jawabku akhirnya dan pegawai toko itu menyerahkan selembar form pemesanan padaku.

"Terima kasih atas pemesanannya..." ucap pegawai toko itu setelah aku memberikan form dan membayar kalung itu.

"Yak Sehun kita ke toko es krim itu sebentat yuk!" Kai menunjuk sebuah toko es krim yang cukup ramai yang ada di dalam mall itu.

"Baiklah. Kajja!"

Aku memesan secup ice cream mix choco sementara Kai memesan ice cream mocapucinno. Kami duduk di dekat kaca toko sambil menunggu pesanan ice cream kami datang.

"Natal nanti kau berkumpul dengan kedua orangtuamu kan?" Tanya Kai.

"Molla. Aku belum tahu." Jawabku singkat.

"Loh kok begitu? Bukankah setiap tahun kau memang diwajibkan merayakan Natal bersama keluargamu? Jika tahun ini kau tidak merayakannya, pasti kedua orangtuamu akan marah dan aku juga yang akan kena. Mereka pasti menanyakanmu padaku."

"Aku juga sedang memikirkannya. Jika Natal nanti Luhan akan rayakan di China, otomatis aku bisa merayakan Natal bersama keluargaku. Tapi aku kan belum tahu... Lagipula jika aku merayakan Natal bersama keluargaku, mereka pasti akan membahas masalah itu."

"Ajak saja Luhan merayakan Natal bersama keluargamu. Siapa tahu mereka suka dengannya dan masalah itu tidak akan terjadi."

"Apa maksudmu?"

"Kenalkanlah Luhan sebagai pacarmu pada kedua orangtuamu hahaha..."

"Yak! Lagipula mereka pasti tidak akan mengubah keputusan mereka. Kau tahu kan..."

"Apa? Lagipula masa sih kau tidak bisa mengatasi masalah perjodohan itu? Jadi kau hanya bisa pasrah saja mau dijodohkan? Haa payah kau!"

"Yak mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucapku pasrah.

Ya orang tuaku memang sudah menjodohkanku dengan seorang yeoja yang bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu siapa dia. Namanya pun aku tidak tahu. Aku tidak bisa menolaknya. Bagaimana bisa? Appa mengidap penyakit jantung. Setiap aku menolak keras masalah ini, ia akan marah dan jantungnya pasti kumat. Aku kan tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Jadi haaa aku hanya bisa pasrah saja. Dan menyiapkan diri saat hari pertunangan bahkan pernikahan tiba-tiba akan digelar oleh kedua orangtuaku.

"Terserahlah... Aku pulang! Supirlu sudah menungguku di luar. Kau sebaiknya pulang juga. Luhan mungkin saja sudah pulang." Pamit Kai.

"Baiklah... Bye..."

SKIP

Aku terbayang lagi masalah perjodohan itu. Ishh benar apa yang Kai bilang. Aku memang payah. Tidak bisa mengatasi masalah ini. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin melanjutkan perjodohan ini. Namun apa yang bisa aku lakukan? Aku terus membayangi masalah ini hingga tiba di apartment.

Saat memasuki gedung apartment, aku melihat sosok yang sangat aku kenal ingin masuk ke dalam lift. Aku pun mengejar sosok itu.

"Hei..." sapaku padanya.

"Hei... Kau baru pulang Sehun?" Tanyanya sambil menatapku.

"Ne. Aku habis menemani Kai membeli sesuatu. Kau juga baru pulang? Bagaimana acara jalan-jalanmu dengan Kris?" Aku memasang senyum paksaanku. Entah kenapa ada rasa sedikit tidak suka saat aku menanyakan hal ini.

"Ya begitulah. Kau sendiri?"

"Biasa saja." Jawabku tepat saat pintu lift terbuka.

"Mau aku buatkan makan malam?" Tawarku sebelum aku masuk ke dalam apartmentku.

"Tidak perlu. Aku masih kenyang kok. Kau istirahatlah. Kau pasti lelah." Jawabnya datar sambil mencoba tersenyum.

"Ne. Selamat malam. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku." Aku pun masuk ke dalam apartmentku.

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari Luhan. Kenapa aku merasa sekarang Luhan jadi lebih menjauh dariku. Senyum itu. Aku juga jadi jarang melihatnya. Aku hanya bisa melihat senyum itu jika saat ia bersama Kris. Aku merindukan sosok Luhan yang dulu. Akh apa-apaan kau ini Sehun? Jangan bilang kau memang menyukainya. Jangan Sehun! Kau jangan menyukainya!

Aku pun menghela nafas dalam-dalam. Melupakan semua masalahku dan masuk ke dalam apartment. Istirahat. Ya yang aku butuhkan sekarang mungkin istirahat.

.

*Helloannyeongg*

.

Drrttt Drrttt Drrtt

Tidur nyenyakku terganggu saat ponselku bergetar. Ish aku sungguh benci ada yang mengganggu tidurku. Lagipula ini masih dini hari. Terlalu pagi untuk bangun juga. Tidak aku pedulikan siapapun itu yang menelepon. Aku kembali mengeratkan selimutku dan mencoba tidur lagi.

Drrrttt Drrtt Drttt

Untuk kesekian kalinya aku mendapati ponselku terus bergetar. Aku kesal. Aku pun jadi terbangun dan segera meraih ponselku untuk melihat siapa yang berani meneleponku pagi-pagi seperti ini.

"Eomma?"

Pipp

"Yeobosaeyo? Eomma? Ada apa?" Aku merasa terkejut juga. Eomma biasanya tidak akan pernah menelponku dini hari seperti ini.

-Sehun.. Cepat ke sini. Ke rumah sakit. Appamu...- aku mendengar suara isakan eomma di ujung telepon.

"Waeyo eomma? Appa kenapa?" Tanyaku panik takut terjadi apa-apa dengan appaku.

-Appamu kritis Sehun. Jantungnya kambuh lagi...- semakin terdengar jelas isakan eomma di ujung telepon.

"Apa? Appa di rawat di rumah sakit mana? Biar aku kesana sekarang!"

-Seoul International Hospital. Cepatlah kau kesini...-

"Ne, eomma..." aku memutuskan sambungan teleponku. Aku segera mengambil jaket milikku, kunci mobil dan segera pergi menuju ke rumah sakit.

"Eomma... Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku saat aku sampai di rumah sakit.

"Jantung appamu kambuh saat ia tahu ada masalah di perusahaan. Perusahaan kita hampir bangkrut karena ada yang sengaja merubah laporan keuangan dan memakan uang perusahaan. Dan appamu yang memiliki penyakit jantung langsung pingsan saat mendengat kabar itu dari Sekretaris Choi." Jelas eommaku.

"Apa? Bagaimana mungkin?"

"Eomma juga tidak tahu. Eomma tidak tahu harus berbuat apa." Aku melihat eomma kembali terisak lagi.

"Sehun... Eomma mohon. Untuk sementara apa kau bisa menggantikan appamu? Atasi segala masalah di perusahaan. Karena cuma kamu harapan satu-satunya. Selamatkan perusahaan appamu itu Sehun..." eomma memohon-mohon padaku.

"Tapi eomma..."

"Eomma mohon. Kau tahu kan seberapa pentingnya perusahaan itu bagi appamu? Kau tahu kan bagaimana kerja keras appamu membangun perusahaan itu? Ayolah Sehun..."

"Haaa baiklah eomma baiklah. Sehun akan menggantikan appa sementara sampai appa sembuh." Jawabku akhirnya.

"Appamu pasti senang mendengarnya."

Haa dengan begini mungkin aku akan berhenti dari pekerjaanku bahkan mungkin aku juga harus mengambil cuti kuliah. Aku harus memfokuskan diriku pada perusahaan appa. Mianhae Lu... Aku tidak bisa lagi menjadi bodyguardmu.

SKIP

Aku kembali ke apartmentku lebih tepatnya apartmentku dulu saat aku masih menjadi bodyguard. Ya aku telah mengundurkan diri menjadi bodyguard. Aku datang ke apartment hanya untuk mengembalikan semua fasilitas yang pernah diberikan untukku dan mengambil semua barang-barangku. Tidak lupa aku juga meninggalkan sepucuk surat untuk Luhan. Aku sengaja tidak mau berbicara langsung padanya. Jujur ini semua bukan keinginanku. Namun ini semua harus aku ambil demi appa. Demi membangkitkan kembali perusahaan appa. Mianhae Lu...

"Sehun... Maaf eomma memaksamu untuk menggantikan appamu di perusahaan. Maafkan eomma..."

"Tidak eomma. Ini memang sudah tugasku."

Ya aku adalah anak satu-satunya mereka. Aku tidak mungkin melepaskan tanggung jawabku sebagai anak mereka. Aku harus membantu mereka apalagi sekarang ini sedang mendapat masalah.

"Nanti sekretaris Choi akan datang dan akan membantumu."

"Ne, eomma..." jawabku sambil menatap appa yang terbaring lemah di rumah sakit.

"Selamat pagi..." ucap seseorang yang baru saja datang.

"Selamat pagi sekretaris Choi. Nah Sehun ini dia sekretaris Choi. Dia yang akan membantumu."

"Selamat pagi Tuan Sehun. Senang bertemu denganmu."

"Selamat pagi..."

"Mari kita bicarakan soal perusahaan di luar saja." Aku mengajak sekretaris Choi untuk berbicara di luar.

"Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Kejadian ini kan sudah lama terjadi, tapi kenapa baru terlacak sekarang? Memang sebelumnya tidak pernah diperiksa?" Tanyaku pada Sekretaris Choi.

"Tentu saja kami selalu memeriksanya berulang kali."

"Tapi bagaimana bisa tidak ketahuan? Kerugian perusahaan ini mencapai 500 juta won. Tidak sedikit." Aku kembali melihat laporan-laporan yang ada di tanganku.

"Besok aku akan ke kantor. Dan aku mau semua karyawan yang biasa menginput laporan-laporan seperti ini menghadapku. Aku ingin berbicara dengan mereka. Apa mereka benar yang membuat laporan palsu seperti ini atau bukan." Perintahku pada sekretaris Choi.

Tak terasa hari terus berganti. Permasalahan di perusahaan appa sedikit demi sedikit mulai berkurang dan menemukan titik terang. Perusahaan appa bisa terselamatkan dan tidak jadi bangkrut. Dan kondisi appa juga sudah membaik bahkan hari ini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Aku menjemput appa pulang ke rumah sementara eomma menunggu di rumah.

"Yeobo Selamat Datang... Dan Selamat Natal..." eomma segera memeluk tubuh appa.

"Appa harus banyak istirahat. Biar aku bantu appa istirahat di kamar." Aku kembali membopoh tubuh appa dan berjalan ke kamarnya.

"Appa istirahatlah. Jangan terlalu banyak gerak." Saranku sebelum keluar dari kamar appa.

"Sehun... Terima kasih. Berkatmu perusahaan appa bisa terselamatkan."

"Sudah appa jangan memikirkan perusahaan dulu. Appa harus memikirkan kesehatan appa dulu. Istirahatlah..." aku pun menutup pintu kamar appa dan kembali ke ruang tengah tempat eomma berada.

"Sehun... Eomma ingin bicara denganmu."

"Ne. Ada apa eomma?"

"Masalah perjodohanmu itu. Besok mereka akan kesini. Sekalian melihat kondisi appamu." Jelas eommaku.

"Ne, eomma."

"Aku harap kau menyambut kedatangan mereka dengan baik ya. Jangan membuat appa dan eomma malu. Kau mengerti?"

"Ne, eomma."

Perjodohan itu lagi. Haa kenapa? Kenapa harus aku? Bahkan aku saja tidak mengenal yeoja itu. Bagaimana bisa aku menikahinya nanti? Dan ada satu yeoja dan hanya dia yang mengisi hatiku saat ini. Dia Luhan. Aku akui aku memang menyukainya. Aku baru sadar saat kami tidak bisa bertemi belakangan ini. Aku yang bodoh. Memang aku. Harusnya aku yang berusaha menemuinya terlebih dulu. Namun aku takut. Ya aku takut. Aku tidak bisa tiba-tiba datang kehadapannya bukan sebagai Oh Sehun bodyguardnya yang dikenalnya, melainkan Oh Sehun yang lain.

Natal. Ya aku berharap ada keajaiban Natal untukku hari ini. Bicara soal Natal, aku jadi melupakan sesuatu. Ku masuk ke dalam kamar tidurku. Aku buka semua laci mejaku. Dan oh aku menemukannya. Sebuah kotak berwarna biru yang berhiaskan pita putih. Itu adalah kado Natal yang sudah aku siapkan untuk Luhan. Aku segera berlari keluar kamar, mengambil kunci mobil dan pergi.

Dan disinilah aku. Di depan sebuah pintu bernomor 365. Sebelah tanganku menggenggam kotak biru sementara sebelah tanganku tergantung di udara. Ragu antara mau memencet bel dan memberikan kado itu langsung atau...

Ting Tong Ting Tong

Tanpa kusadari tanganku sudah memencet bel itu. Mati aku! Apa yang harus aku lakukan? Aku segera meletakkan kotak berwarna biru itu dan berlari sekencang-kencangnya. Bersembunyi dan segera masuk ke dalam lift. Fiuhh untunglah. Aku rasa aku tidam ketahuan. Yang penting aku sudah memberikan kado itu.

Aku sudah berada di basement tempat ku parkirkan mobil sport putih milikku yang appa hadiahkan saat aku ulang tahun yang ke 17. Namun entah kenapa hatiku menahanku untuk pergi. Aku melihat bayangan seseorang yang sangat aku kenali sedang berlari. Dan benar itu adalah Luhan. Ia sedikit terengah-engah dan selalu melihat kesekelilingnya seperti mencari seseorang. Sebelah tangannya memegang kotak biru yang aku berikan untuknya dan sepertinya ia memang sedang mencariku. Aku bersembunyi di balik mobil. Aku belum siap bertemu dengannya sekarang. Tapi aku juga tidak tega melihatnya. Aku sungguh merindukannya.

Tubuhnya mulai bergetar. Mungkin karena ia kedinginan. Bagaimana tidak? Dia hanya mengenakan sebuah kaus tipis saat udara sedingin ini. Aku mencoba menguatkan diriku. Aku benar-benar ingin menemuinya. Namun saat aku melangkahkan kakiku keluar dari persembunyian, sesosok yeoja cantik datang dan menyelimuti tubuh Luhan dengan mantel. Sepertinya itu memang mama Luhan. Aku jadi mengurungkan niatku kembali untuk menemuinya. Aku hanya menatap nanar Luhan dan mama nya kembali ke dalam gedung apartment. Setidaknya aku bisa melihatnya. Ya melihatmu, Xi Luhan.

Drttt Drtt Drrttt

"Yeobsaeyo?"

-Selamat siang. Maaf mengganggu anda. Ada seorang klien yang ingin bertemu dengan anda.-

"Apa? Tapi ini kan hari Natal, sekretaris Choi. Seharusnya ia juga tahu kita libur."

-Maaf saya juga sudah bilang begitu namun ia tetap ingin bertemu dengan anda.-

"Haaa baiklah. Dimana aku harus menemuinya?"

-Di cafe Bubble jam 3 nanti.-

"Baiklah aku akan menemuinya."

Pipp

Ada-ada saja. Ini kan hari Natal. Harusnya libur. Tapi kenapa klien ini malah ingin bertemu denganku? Aneh-aneh saja. Siapa sih klien itu?

Aku kemudikan mobilku ke cafe yang dimaksud sekretaris Choi dimana ada seorang klien yang sudah menungguku. Sesungguhnya aku malas. Namun mau bagaimana lagi? Aku memasuki cafe itu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari klien yang menungguku.

"Oh Sehun?" Ku putar kepalaku pada seseorang yang menyentuh bahu kiriku.

"Suho hyung? Apa kabar?" Tanyaku pada namja itu.

"Kabar baik. Duduklah disini..." aku pun duduk di salah satu kursi dihadapannya.

"Hyung sedang apa disini?" Tanyaku padanya.

"Menunggumu, tentu saja."

"Maksudnya? Jadi klien yang dimaksud oleh sekretaris Choi itu kau, hyung?"

"Ne. Tepat sekali hahaa..."

"Baru saja aku akan memaki klien yang main seenaknya mengganggu waktu liburanku." Candaku.

"Kau berani memaki klienmu, eoh? Hahaha..."

"By the way... Dia siapa hyung?" Tanyaku sambil menunjuk seorang yeoja yang duduk di sampingnya. Aku baru sadar jika sedaritadi ada yeoja itu. Mianhae...

"Kenalkan, Zhang Yixing. Dan ini Oh Sehun." Suho hyung memperkenalkan kami secara bergantian.

"Annyeonghasaeyo Oh Sehun imnida..."

"Annyeonghasaeyo... Lay imnida..."

"Lalu ada keperluan apa hyung memanggilku kesini? Bukannya hyung ke rumah saja."

"Aku hanya ingin memberikan ini. Aku tidak enak jika ke rumahmu. Apalagi aku dengar paman baru keluar dari rumah sakit ya? Bagaimana keadaannya?"

"Undangan? Minggu depan kalian akan menikah? Chukkae... Tapi kenapa kau baru memberitahukannya sekarang pada sepupumu ini, hyung?"

"Kau harus datang ya. Jangan sampai kau tidak datang!" Ancamnya.

"Ne hyung... Hahaha..."

SKIP

Kenapa hari cepat sekali berganti sih? Dan hari ini adalah hari yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak? Hari ini aku akan bertemu dengan yeoja yang akan dijodohkan denganku. Eomma sudah sibuk menyiapkan segalanya demi menyambut kedatangan calon besan? Mungkin... Sementara appa sedang duduk di sofa. Keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan aku? Hanya bisa berdoa semoga perjodohan ini batal.

"Sehun... Cepat turun. Mereka sudah datang." Ucap eommaku dari luar.

"Ne, eomma." Jawabku.

Aku pun keluar dari kamarku. Turun dari tangga dan menyambut kehadiran 'tamu'. Aku melihat seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya yang sedang bercengkrama dengan appa dan eommaku. Namun aku tidak melihat yeoja yang dimaksud.

"Sehun... Tao ada di halaman belakang. Temani dia ya..."

"Ne, eomma..."

Jadi yeoja itu bernama Tao? Aku saja batu tahu namanya hahaha... Aku melangkahkan kakiku ke halaman belakang. Disana aku melihat seorang yeoja dengan dress berwarna putih sedang duduk sendirian di pinggir kolam. Tapi sepertinya ada yang aneh dengannya.

"A-annyeong aku Sehun..." sapaku pada yeoja itu.

"Ne, annyeonghasaeyo aku Tao..." balas yeoja itu sambil menghapus air matanya.

"Waeyo? Kau menangis?" Tanyaku padanya.

"Aku... Aku tidak suka dijodohkan seperti ini..." jawab Tao sambil menahan air matanya kembali yang hampir jatuh.

"Akupun begitu. Tapi apa yang bisa kita lakukan?"

"Entahlah. Aku juga tidak tahu."

"Tapi sebelumnya maaf. Apa kau sudah memiliki kekasih?" Tanyaku.

"Belum. Tapi ada orang lain yang aku suka. Kalau kau?" Dia balik bertanya padaku.

"Aku juga. Tapi..."

"Dia menyukai orang lain?" Tebaknya.

"Bukan. Hanya saja aku tidak berani menyatakan perasaanku padanya."

"Wae?"

"Ada sedikit kesalah pahaman. Hmm lebih tepatnya ketidak jujuranku. Jadi aku ragu."

"Kau sendiri?" Tanyaku padanya.

"Kemarin ia menyatakan perasaannya padaku. Namun aku belum memberikan jawaban apa-apa padanya."

"Aku bingung. Bagaimana jika ia tahu aku yang sudah dijodohkan seperti ini?"lanjutnya. Aku melihatnya tertawa miris.

"Wah sepertinya kalian cepat sekali akrab ya... Sepertinya kita akan cepat menjadi besan ya hahaha..." canda eomma. Namun menurutku itu semua tidaklah lucu.

"Kami membawa kabar gembira untuk kalian. Bulan depan kalian akan bertunangan. Jadi semakin bertambah akrablah kalian..."

"Mwo? Bulan depan?" Aku membelalakkan mataku seolah tidak percaya dengan apa yang aku dengar ini.

"Ne. Kalian tidak perlu khawatir. Biar eomma yang siapkan semuanya untuk kalian. Kalian hanya perlu mempersiapkan diri saja." Jelas eommaku. Aku sungguh semakin tidak percaya lagi.

"Eomma jangan bercanda!"

"Eomma serius, Sehun. Nah kajja kita makan bersama. Ayo Tao..." eomma, appa berserta kedua orang tua Tao sudah masuk kembali ke dalam rumah.

"Bagaimana ini?" Aku melihat Tak yang terlihat tidak tenang. Aku tahu ia pasti juga merasa keberatan dengan semua ini.

"Tenanglah... Kita akan cari jalan keluarnya " aku kembali menenangkannya.

SKIP

Hari ini adalah hari pernikahan sepupuku, Suho. Aku pasti akan datang bersama kedua orangtuaku juga pastinya. Namun eomma dan appa memaksaku untuk mengajak Tao juga. Jadilah aku menjemputnya. Eomma dan appa sudah pergi terlebih dahulu. Ku lajukan mobilku melewati jalanan Seoul menuju ke rumah Tao, 'calon tunangan'ku.

"Tao-er Sehun sudah datang..." panggil sang eomma saat melihatku yang baru datang.

"Mainhae... Apa sudah menunggu lama?" Tanya Tao yang sudah tampil cantik dengan dress berwarna hitamnya.

"Belum kok. Kajja! Ahjumma kami pergi ya..." pamitku.

"Ne. Jaga Tao ya Sehun..."

"Maaf ya. Semua karena eomma dan appa yang memaksaku untuk mengajakmu ke pesta pernikahan sepupuku."

"Tidak apa. Aku tidak keberatan kok."

"Terima kasih..."

Akhirnya kami pun sampai di sebuah hotel tempat terselenggaranya pernikahan Suho hyung. Seperti pesta pernikahan kebanyakan, pesta ini juga di hadiri banyak pasangan. Aku tidak terlalu mengenal banyak orang-orang yang datang itu.

"Mau wine?" Aku tawarkan segelas wine kepada Tao.

"Boleh."

"Tunggulah. Akan aku ambilkan dulu. Tidak apa kan?" Dia pun mengangguk. Aku pun pergi untuk mengambil wine.

Saat aku berniat mengambil wine, tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seorang yeoja. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu di dalam tas nya sehingga tidak sadar menabrakku. Aku segera menarik tangannya saat dirinya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh di lantai.

"Mianhae... Jeongmal mi-... Sehun?" Aku mengerjap-ngerjapkan mataku seolah tidak percaya siapa yeoja yang aku tolong ini.

"Lu-Luhan?" Aku melihat yeoja itu menahan air matanya yang hampir mau keluar.

"Luhan kau sudah... Loh Sehun?" Aku menatap seorang namja tinggi yang mengenakan tuxedo berwarna putih menghampiri kami berdua.

"Sehun kau... Loh K-Kris?" Aku melihat Tao yang terkejut saat menatap Kris.

"Sehun Tao... Kalian sudah datang? Wah kau cantik sekali Tao... Kajja kalian ikut eomma. Eomma akan mengenalkan kalian pada tamu-tamu yang lain." Eomna segera menarik tanganku dan Tao untuk mengikutinya.

"Eomma..." aku melepaskan tangan eomma.

"Ishh... Permisi... Permisi..."

"Mohon perhatian semua..." ucap eommaku di sebuah mic. Eomma memaksaku dan Tao naik ke sebuah panggung kecil yang disediakan di pesta itu.

"Sebentar lagi keluarga kami, keluarga Oh akan mendapat seorang calon untuk anak kami, Oh Sehun. Dia adalah Huang Zitao anak dari pemilik Huang Company. Kami berharap kalian bisa datang di acara pertunangan anak kami bulan depan di..."

Eomma... Sungguh aku benci situasi seperti ini. Eomma mendeklarasikan aku yang akan segera bertunangan di dalam pesta pernikahan Suho hyung. Apa-apaan ini? Dan oh itu Luhan. Luhan mendengar semuanya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Dan Luhan? Dia pergi. Luhan kau mau kemana?

"Eomma, cukup!" Aku segera berlari dan berusaha mengejar Luhan yang sudah pergi keluar dari aula ini.

Aku mencari-cari Luhan di sekeliling hotel yang ada. Tapi aku tidak melihatnya. Namun aku tidak menyerah untuk mencarinya. Dan benar saja aku menemukannya terduduk di sudut koridor. Aku bermaksud menghampirinya namun Kris sudah terlebih dulu menghampirinya. Kris langsung memeluk tubuh Luhan yang sudah terisak. Tanganku bergetar. Kesal melihatnya. Harusnya aku yang memeluk Luhan. Saranghae Lu.. Jeongmal saranghae...

TAP TAP TAP

Aku memberanikan diri menghampiri mereka. Kris yang menyadari kehadiranku, segera melepaskan pelukannya dari Luhan. Luhan mengangkat wajahnya untuk melihatku. Aku melihat wajahnya sudah penuh dengan air mata. Aku tidak kuat melihat Luhan yang seperti itu.

"Lu... Aku ingin berbicara padamu..." ku sejajarkan diriku dengan dirinya. Kuhapus air matanya dengan ibu jariku.

"Kalian bisa bicara berdua. Aku pergi..." Krispun pergi meninggalkan kami berdua.

"Lu... Aku ingin berkata jujur padamu. Lu, Saranghae... Jeongmal Saranghae Xi Luhan..." ku peluk tubuhnya yang masih bergetar.

"Lu... Aku tahu mungkin kau merasa aku bohongi. Tapi jujur. Yang aku cintai itu kau. Pertunangan itu tidak pernah aku terima. Semua itu paksaan dari kedua orangtuaku." Aku mulai menjelaskan semuanya.

"Lu.. percaya padaku... Lu..." aku mengguncangkan tubuhnya lagi.

"Tapi kau sebentar lagi..."

Kuangkat wajahnya dan ku lumat bibir pink nya. Untuk membuktikan jika aku serius dengan ucapanku. Ku dengar isakan-isakan kecil dari Luhan di sela-sela ciuman kami. Ku hapus lagi air matanya yang terus keluar dari pelupuk matanya. Sungguh aku benar-benar mencintaimu, Xi Luhan.

"Sehun!" Teriak seseorang membuatku melepaskan tautan bibirku dengan bibir Luhan.

"Siapa dia? Ingat! Sebentar lagi kau akan bertunangan!" Teriak appaku penuh emosi.

"Appa yang aku cintai dia... Aku mohon appa mengertilah... Eomma..." aku memohon di hadapan eomma dan appa.

"Kau! Jangan maca- akh..." appa memegangi dadanya.

"Appa? Appa!"

"Kau lihat? Yeobo bertahanlah... Cepat bawa appa ke rumah sakit sekarang!" Aku pun segera membopoh tubuh appa dan segera membawanya ke rumah sakit.

In the hospital...

Eomma terduduk sambil menangis di koridor rumah sakit. Dan Tao yang terus berusaha menenangkannya. Sementara aku, aku hanya bisa mondar mandir mengkhawatirkan keadaan appa di dalam ruang UGD.

"Ahjumma tenanglah..." Tao menenangkan eommaku sementara Luhan yang ikut ke rumah sakit hanya bisa menatap pintu ruang UGD dengan wajah khawatirnya. Berulang kali ia menggigiti bibirnya.

"Lu... Waeyo?" Tanya Kris yang juga ikut ke rumah sakit.

"Aku khawatir... Paman Oh..."

CKLEK

Pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah seorang berjubah putih dokter yang menangani appa dan 2 orang perawat. Aku segera menghampiri dokter dan perawat otu untuk mengetahui kondisi appa.

"Dok bagaimana kondisi appaku?" Tanyaku pada dokter itu.

"Keadaannya sudah lebih baik. Untung saja segera di bawa ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit mungkin kemungkinan buruk itu akan terjadi. Sebaiknya tuan Oh jangan dibebani dengan berbagai masalah karena bisa mempengaruhi kondisi jantungnya." Jelas dokter itu.

"Baiklah. Terima kasih dok. Apa kami bisa menemuinya?"

"Tentu saja. Namun jangan terlalu banyak diajak bicara. Ia harua banyak beristirahat." Jelas dokter itu dan berlalu pergi.

"Yeobo... Untunglah kau baik-baik saja..." eomma memeluk tubuh appa yang terbaring lemah.

"Mianhae, appa..." aku meminta maaf kepada appa. Aku tahu aku yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini.

"Sehun... Appa mohon. Lanjutkan pertunanganmu dengan Tao ya..." ucap appa sedikit terbata-bata.

"Appa?" Aku melirik Luhan yang ada di ambang pintu.

"Appa aku keluar sebentar ya..." aku menghampiri Luhan dan mengajaknya pergi untuk berbicara berdua.

"Sehun... Apa yang perlu kita bicarakan lagi?" Ucapnya saat kami ada di taman di rumah sakit itu.

"Tapi Lu..."

"Sehun... Turuti saja permintaan appamu. Kau harus membuatnya bahagia." Sakit. Hatiku sakit saat mendengar apa yang diucapkan oleh Luhan.

"Lu?"

"Nado saranghae Sehun. Tapi aku memintamu untuk menuruti semua permintaan appamu. Lakukanlah jika memang kau benar mencintaiku. Dan perlu kau ketahui juga. Aku juga akan segera bertunangan dengan Kris."

"Lu? Kau..."

"Aku serius. Baba dan mama sudah sejak dulu menjodohkanku dengan Kris. Dan aku harap kau bisa bahagia dengan Tao. Jagalah dia. Lindungi dia seperti kau melindungiku. Cintai dia seperti kau mencintaiku."

"Luhan? Jangan bicara seperti itu!" Aku tak kuasa menahan air mata yang jatuh di pelupuk mataku. Ku peluk tubuhnya erat-erat seolah enggan melepasnya.

"Aku mohon. Berbahagialah Sehun. Dan aku juga akan bahagia. Bahagiakan Tao. Aku rasa dia memang yeoja yang sangat baik."

"Luhan... Aku tidak bisa!"

"Kau pasti bisa Sehun. Kau pasti bisa bahagia. Kajja kita kembali..." Luhan segera menarik tanganku dan kembali ke ruangan appa.

"Tao... Sehun... Turuti apa permintaan paman Oh. Lanjutkanlah pertunangannya. Kalian harus bahagia." Ucapnya sambil tersenyum.

"Luhan..." Kris menginterupsi Luhan.

"Sudahlah Kris... Biarkan mereka bahagia. Cinta harus mengorbankan segalanya kan? Jika kau memang mencintai Tao, biarkanlah dia berbahagia dengan Sehun. Aku yakin Sehun pasti bisa membahagiakannya. Aku pamit. Sehun kita tetap akan menjadi teman. Tao kau juga temanku. Kalian harus bahagia ya... Bye..." Luhan melangkahkan kakinya keluar dari ruang tempat appaku di rawat, begitupula dengan Kris.

"Lu..." aku mencoba mengejar Luhan namun eomma menahanku.

"Sehun. Kau dengar sendiri kan? Dia ingin kau melanjutkan pertunanganmu dengan Tao. Apa kau masih belum mengerti juga?" Ucap eommaku. Aku hanya bisa menggenggam tanganku erat-erat menahan semua rasa sakit, kesal, kecewa di hatiku.

"Baiklah. Demi Luhan. Aku akan melanjutkan pertunangan itu." Jawabku membuat appa dan eomma tersenyum tidak denganku ataupun Tao.

Aku duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Menutup wajahku. Mencerna semua situasi yang ada. Sakit hati, kecewa ya aku merasakannya. Cintaku pada Luhan memang terbalas. Namun takdir tidak menyatukan kami. Aku bisa apa? Aku mendengar sedikit perbincangan appa dan eomma yang bahagia dengan keputusanku tadi. Lebih tepatnya itu juga aku lakukan karena Luhan yang memintanya. Berulang kali appa dan eomma mengajak bicara Tao namun bisa ku pastikan jika Tao tentu saja juga tidak merasa bahagia. Bertunangan dengan orang yang tidak dicintainya.

"Sehun aku mau bicara..." ucap Tao yang menghampiriku.

"Ne. Bicara saja..." jawabku sendu.

"Kita bicarakan saja didepan ya..." Aku dan Tao pun keluar.

"Ada apa?" Tanyaku padanya.

"Soal pertunangan itu. Kau serius mau melanjutkannya?" Ia menatapku meminta kepastian dariku.

"Haaa aku juga tidak tahu, Tao. Aku tidak akan melakukannya jika Luhan tidak memaksaku. " Jawabku sambil tersenyum miris.

"Kau begitu mengorbankan perasaanmu. Luhan juga. Aku melihat ketulusan cinta kalian. Dan aku tidak mau merusak tali cinta diantara kalian. Sepertinya aku tidak akan melakukan pertunangan itu." Jelasnya dengan wajah serius.

"Tao?"

"Ini pilihanku, Sehun. Kau dan Luhan berhak bahagia bersama. Dan aku akan meraih cintaku sendiri. Kris." Aku melihat kesungguhan dari sorot mata dan senyumnya.

"Tapi..."

"Aku yang akan mengatasi semuanya. Biar aku yang akan bertanggung jawab. Aku jadi belajar apa itu ketulusan sesungguhnya dari dirimu dan juga Luhan. Kita berhak bahagia dengan pilihan kita." Aku mengganguk setuju. Tao. Tidak kusangka yeoja itu berkata seperti ini. Kris kau pasti bahagia mencintai yeoja yang sangat baik hati ini.

SKIP

Aku berdiri di depan sebuah cermin. Di dalam cermin terpantul jelas diriku yang sudah rapi dengan setelan jas yang aku kenakan. Hari ini adalah tepat hari pertunanganku dengan Tao. Ya benar kami tetap harus melaksanakan pertunangan ini meski jujur sebenarnya kami juga tidak mau. Sudah banyak cara yang kami lakukan namun tetap saja pertunangan ini tetap dilanjutkan.

"Sehun... Kau sudah siap?" Tanya appaku.

"Ne, appa." Jawabku sambil mencoba untuk tersenyum.

"Kajja kita keluar. Kita mulai acaranya." Appa menepuk bahuku dan berjalan keluar mendahuluiku.

Ku langkahkan kakiku keluar dari ruang kamar hotel ini. Pertunanganku memang diselenggarakan disebuah hotel mewah. Aku melihat punggung appa semakin lama semakin menjauh. Dan aku hanya berhenti di tempatku, enggan melanjutkan berjalan memasuki hall tempat pesta petunangan itu diselenggarakan. Ku pejamkan mataku dan ku hela nafas dalam-dalam. Aku mencoba menguatkan diriku. Kenapa? Karena hari ini pun merupakan hari pertunangan Luhan dengan Kris juga. Aku tidak bisa membayangkan yeoja yang aku cintai harus bertunangan dengan orang lain. Dan orang lain itu merupakan orang yang dicintai oleh calon tunanganku.

"Sehun kajja!" Panggil appa saat sadar aku yang berhenti mematung.

Aku melangkahkan kakiku lagi hingga tibalah di hall tempat pesta pertunanganku di gelar. Saat pintu dibuka, hall itu sudah ramai di hadiri berbagai tamu undangan. Dan aku juga melihat ada seorang yeoja juga masuk ke hall yang sama. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Pertunangan ini jadi benar-benar berlangsung.

Aku melihat senyum terukir di wajah appa dan eommaku. Mereka bahagia, iya aku rasa. Namun aku tidak. Bertunangan dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai mana mungkin kita merasa bahagia. Aku tidak salah kan?

"Lu?" Aku terbelalak saat mengetahui yeoja yang masuk ke hall yang sama, calon tunanganku adalah Luhan. Bukankah harusnya aku bertunangan dengan Tao? Ada apa semua ini?

"Sehun?" Aku melihat wajah Luhan yang sama terkejutnya denganku.

"Apa maksud semua ini?" Tanyaku sambil menatap appa dan eomma, meminta penjelasan.

"Terkejut? Hahaha..." aku menatap appa dan eomma bingung.

"Appa aku serius. Sebenarnya apa maksud semua ini? Lalu Tao? Dimana dia?" Ku edarkan pandangan ke sekelilingku.

"Aku disini..." ucap Tao yang baru saja tiba dengan Kris? Mereka saling bergandengan?

"Kalian? Semua ini?" Aku menatap Luhan. Ia pun sama bingungnya denganku.

"Kami baru saja menyelenggarakan pertunangan kami." Tao dan Kris sama-sama menunjukkan sepasang cincin yang mereka kenakan.

"Mwo?" Teriakku bersamaan dengan Luhan.

"Lulu... Baba dan mama setuju dan sangat setuju kok jika kalian bertunangan apalagi menikah." Ucap baba dan mama Luhan yang juga baru masuk ke dalam hall.

"Jadi selama ini kalian..."

"Tentu saja. Kami mengetes cinta kalian. Dan nyatanya berhasil kan? Hahaha..." tawa kedua orangtuaku, kedua orangtua Luhan, Tao Kris dan kedua orangtua mereka meledak bersamaan.

"Jadi semua ini rencana kalian?"

"Tidak sia-sia kan rencanaku. Aku bilang juga apa. Pasti berhasil hahaha..."

"Appa!" Teriakku membuat semua yang ada tertawa.

Dan jadilah aku bertunangan dengan Luhan. Tidak pernah aku bayangkan bisa jadi seperti ini. Sungguh. Dan lebih mengejutkan lagi ternyata semuanya memang sudah di setting rapi oleh kedua orang tua kami. Daebak! Aku yang ditawari bekerja menjadi bodyguard itu pun settingan yang sengaja dibuat agar aku bisa dekat dengan Luhan, yeoja yang sejak lama dijodohkan denganku.

Aku dan Luhan sudah resmi bertunangan setelah kami bertukar cincin. Kini tidak ada yang perlu kami pusingkan lagi. Kami sudah bisa bersama-sama. Ya, aku harap kami akan bersama-sama selamanya. Ketulusan, kesabaran memberikan kebahagiaan untukku. Aku harap kebahagiaan ini akan selalu kami rasakan selamanya.

"Dan sekarang bisa kita rencanakan kapan pernikahan mereka. Bagaimana jika bulan depan?" Usul appaku seenaknya.

"Ya appa!" Teriakku. Dan semuanya pun tertawa.

THE END

Annyeonghasaeyo... Ketemu lagi dengan author yang suka nulis FF abal-abal kayak gini hehehe... Mian update nya kelamaan karena author beberapa kali kehilangan arah buat lanjutin FF ini. Sedikit sulit karena seperti yang kalian tau FF ini sengaja dibuat dari dua sudut pandangan. Dari Sehun dan Luhan. Endingnya juga ambigu banget ya? Mianhae... Dan author butuh banget nih saran dari para readers sekalian untuk FF author selanjutnya. Thanks untuk yang udah baca dan berkenankah untuk mereview? Hehehe Byebye... See you soon at my new FF^^/

My Twitter:

Helloannyeongg (Mention for follback^^ Gomawo^^)