Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, chibi Sehun. Please! gk suka? Out don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Lonceng pintu toko berdentang, saat pria yang ada di dalam mimpi Minseok masuk ke toko mainannya. Atau lebih tepatnya, pria yang ada didalam dunia nyata seseorang, karena pria itu menggenggam tangan seorang anak kecil yang pasti adalah putrinya. Sementara si anak bergegas menghampiri komidi putar yang berputar perlahan disudut toko, sang ayah berjalan dengan lebih perlahan.
Sinar matahari bulan September yang terbenam perlahan memantul dirambut pria itu yang dipotong pendek. Saat pria itu melewati mainan mobil yang tergantung diatas, kepalanya ditundukkan agar tidak menabrak mainan tersebut. Pria itu bergerak bagaikan seorang atlet, santai tapi cekatan, memberikan kesan jika tiba-tiba kau melemparkan sesuatu padanya, ia akan menangkapnya tanpa ragu-ragu.
Saat merasakan ketertarikan Minseok, pria itu menoleh ke arahnya. Pria itu memiliki tulang yang kuat, rahang yang kokoh, dan mata yang sangat indah, seperti mata rusa, sehingga kau bisa melihatnya dari seberang toko. Meskipun pria itu memakau tapi tak ada kesan angkuh dalam dirinya...hanya kepercayaan diri yang besar dan tenang. Pria itu memakai celana jins belel, terlihat sedikit berantakan dan amat sangat seksi.
Dan sudah menjadi milik orang lain.
Setelah mengalihkan pandangannya dari pria itu, Minseok menyibukkan diri dengan mengambil mainan mesin tenun yang terbuat dari kayu. Dengan sangat hati-hati, ia membetulkan posisi beberapa lubang benang disana.
Sambil memasukkan tangannya ke saku, pria itu terus berjalan mengikuti putrinya. Pria itu tertarik dengan kereta yang berjalan ke sekekeling toko, jalurnya ditempatkan didekat rak yang tingginya hingga ke langit-langit.
Sejak dibuka tiga bulan yang lalu, toko Magic Mirror selalu ramai. Meja-meja dipenuhi oleh mainan model kuno: teropong, yo-yo buatan tangan, kendaraan dari kayu, boneka binatang yang terlihat seperti hidup, layang-layang yang kokoh.
"Itu Kim Luhan dan keponakannya, Sehun," gumam Lee Taeyeon, salah satu penjaga toko, pada Minseok. Taeyeon sudah pensiun dan bekerja paruh waktu ditokonya. Taeyeon adalah wanita tua yang bersemangat, yang sepertinya mengenal semua orang dipulau Jeju. Minseok, yang baru saja pindah kesini dari Busan pada musim panas lalu, menganggap Taeyeon sebagai sumber informasi yang sangat berguna.
Taeyeon mengenal semua pelanggan yang datang, sejarah keluarga mereka, selera pribadi mereka, dan ia juga mengenal nama cucu semua orang. Setiap kali Taeyeon berada ditoko, tak ada seorangpun yang pergi meninggalkan toko tanpa membeli sesuatu. sesekali Taeyeon juga menelepon pelanggan jika ada barang baru yang datang dan ia pikir mereka akan menyukainya. Saat kau tinggal dipulau, pemasaran dari mulut-ke-mulut menjadi teknik penjualan yang paling efektif.
Mata Minseok membelalak sedikit. "Keponakannya?"
"Iya, Luhan membesarkan anak itu. Ibu anak kecil yang malang itu meninggal dalam kecelakaan mobil sekitar enam bulan yang lalu. Jadi Luhan membawa gadis kecil itu dari Seoul kesini, dan mereka tinggal diperkebunan anggur dirumah adik Luhan yang bernama Kim Jongin. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kedua pria itu membesarkan seorang gadis kecil, tapi sejauh ini mereka bisa melakukannya dengan baik."
"Mereka berdua masih lajang?" Itu adalah pertanyaan yang bukan urusan Minseok dan tidak pantas diajukannya, tapi pertanyaan itu terlontar begitu saja sebelum ia bisa menghentikannya.
Taeyeon mengangguk. "Ada adik Luhan yang lain, Junmyeon, yang sudah menikah, tapi aku dengar pernikahan mereka sedang bermasalah." Taeyeon memberikan tatapan kasihan pada Sehun. "Anak itu harus memiliki sosok wanita didalam hidupnya. Aku pikir itu salah alasan kenapa dia tidak mau bicara."
Alis Minseok terangkat. "Maksudmu, dia tidak mau bicara pada orang asing?"
"Pada siapapun. Sehun tidak pernah lagi bicara sejak kecelakaan yang menewaskan ibunya."
"Oh," bisik Minseok. "Salah satu keponakanku tidak mau bicara pada siapapun disekolah, saat dia mulai memasuki sekolah dasar. Tapi dia bicara pada orang tuanya dirumah."
Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Sejauh yang kutahu, Sehun sama sekali tidak pernah bicara, dia membisu sepanjang waktu." Taeyeon memakai topi berbentuk corong berwarna pink yang dilengkapi dengan tudung, dan menarik tali karetnya ke bawah dagu. "Mereka berharap Sehun bisa mengatasi traumanya dan berbicara lagi. Dokter meminta mereka untuk tidak memaksanya."
Setelah mengambil tongkat dengan ujung berbentuk bintang yang berkelap kelip, Taeyeon kembali keruang pesta, dimana ada acara ulang tahun yang dilangsungkan disana. "Waktunya untuk memotong kue, wahai Raja dan Ratu!" Seru Taeyeon dan dibalas dengan jeritan melengking sebelum pintu tertutup dibelakangnya.
Setelah mengurus pembayaran pelanggan yang membeli boneka kelinci dan buku bergambar, Minseok menoleh ke sekeliling toko sampai ia berhasil menemukan Sehun kembali.
Anak itu sedang menatap rumah peri yang ditempelkan ke dinding. Minseok sendiri yang membuat rumah peri itu, menghiasi bagian atapnya dengan lumut kering dan tutup botol bercat emas. Pintu berbentuk lingkarannya terbuat dari jam saku yang sudah rusak. Sambil berjinjit, Sehun mengintip melalui jendela kecilnya.
Keluar dari belakang konter, Minseok menghampiri Sehun, dan melihat punggung anak itu yang tiba-tiba menegang.
"Apa kau tahu apa itu?" Tanya Minseok dengan lembut.
Sehun menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh pada Minseok.
"Sebagian besar orang berpikir itu rumah boneka, tapi sebenarnya bukan. Itu rumah peri."
Pada saat itu Sehun menoleh pada Minseok, tatapan anak itu berkelana dari sepatu sneaker Minseok hingga ke rambutnya yang berwarna merah.
Minseok merasakan dorongan kelembutan yang tak terduga saat mereka saling bertatapan. Ia melihat kesan kebimbangan seorang anak yang tidak lagi percaya pada keabadian dalam hal apapun. Tapi Minseok juga merasakan Sehun masih menyimpan sisi kekanakannya disuatu sudut didalam hatinya, siap untuk kembali dibangkitkan oleh sebuah keajaiban.
"Peri yang tinggal disana selalu pergi saat siang hari," jelas Minseok. "Tapi dia akan kembali pada malam hari. Aku yakin dia tidak akan keberatan jika aku membiarkanmu melihat ke dalam rumahnya. Apa kau mau melihatnya?"
Sehun mengangguk.
Dengan hati-hati, Minseok meraih kaitan yang ada dibagian samping rumah mungil itu dan membukanya. Bagian depan rumah tersebut terbuka dan menyingkap tiga buah kamar kecil yang dilengkapi dengan tempat tidur yang terbuat dari ranting...cangkir kopi bersepuh sebagai bathtub...meja yang berbentuk seperti jamur, dengan penyumbat botol anggur sebagai kursinya.
Minseok senang sekali saat melihat senyuman ragu-ragu tampak diwajah Sehun, memperlihatkan ompong dideretan bawah giginya. "Peri ini masih belum memiliki nama," ujar Minseok sambil berbisik penuh rahasia, dan menutup kembali rumah peri tersebut. "Dia tidak punya nama manusia. Hanya nama peri, yang tentu saja tidak bisa diucapkan oleh manusia. Jadi aku sedang mencari-cari nama untuk memanggilnya. Setelah aku menemukannya, aku akan mencatnya didepan pintu. Jika kau terpikir sebuah nama yang cocok, kau bisa menuliskannya untukku." Kata Minseok pada Sehun.
Sehun menggigit bibirnya, sambil menatap rumah itu dengan tatapan kosong.
Kemudian paman Sehun bergabung bersama dengan mereka, tangannya yang protektif melingkari bahu Sehun yang ringkih. "Apa kau baik-baik saja, Hunie?"
Suara yang menarik, dalam dan tenang. Tapi ada sorot peringatan dari tatapan yang diarahkan pria itu pada Minseok. Minseok mundur selangkah saat ia mendapati dirinya berhadapan dengan pria itu.
Minseok berhasil menyunggingkan senyuman tenang. "Hai, aku Kim Minseok. Ini tokoku."
Luhan tidak mau repot-repot menyebutkan namanya sendiri. Saat menyadari kekaguman keponakannya terhadap rumah peri tersebut, Luhan bertanya, "Apa rumah-rumahan itu dijual?"
"Sayangnya tidak. Itu bagian dari dekorasi toko." Saat menunduk ke Sehun, Minseok menambahkan. "Tapi tidak sulit membuatnya. Jika kau bisa menggambarkan rumah peri yang kau inginkan dan membawanya padaku, aku bisa membantumu membuatkannya." Minseok berjongkok didepan Sehun, agar bisa menatap langsung wajah gadis kecil itu. "Kau tidak akan pernah tahu kapan peri akan datang untuk tinggal didalamnya. Yang bisa kau lakukan hanyalah menunggu dan terus berharap."
"Aku rasa tidak..." ujar Luhan, tapi tiba-tiba pria itu terdiam saat Sehun tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menyentuh anting-anting kristal yang menggantung ditelinga Minseok, dan membuatnya berayun.
Ada sesuatu pada gadis kecil ini-dengan rambut ekor kuda yang rapi dan tatapan sedih-yang menampakkan kesan tertutup untuk melindungi dirinya sendiri. Minseok merasakan tikaman rasa sakit didadanya saat mereka saling bertatapan.
Aku mengerti, Minseok ingin berkata begitu pada Sehun. aku juga telah kehilangan seseorang. Dan tidak ada panduan bagaimana harus bersikap dalam menghadapi kematian seseorang yang sangat kau cintai. Kau harus menerima bahwa rasa kehilangan akan selalu menghantuimu, seperti catatan pengingat yang ditempelkan dibagian dalam jaketmu. Tapi masih ada kesempatan untuk memperoleh kebahagiaan. Bahkan kegembiraan. Minseok tidak akan membiarkan dirinya sendiri meragukan itu.
"Apa kau mau melihat buku tentang peri?" Tanya Minseok, dan ia melihat semangat muncul diwajah Sehun.
Saat Minseok berdiri, ia merasakan sapuan tangan Sehun di tangannya. Dengan sangat lembut, tangannya menggenggam tangan mungil yang terasa dingin itu.
Mengambil resiko menoleh kearah Luhan, Minseok melihat wajah pria itu berubah kosong, tatapan tidak ramahnya tertuju pada tangan Minseok dan Sehun yang saling menggenggam. Minseok bisa merasakan keterkejutan Luhan terhadap keterbukaan Sehun untuk bergenggaman tangan dengan orang asing. Saat Luhan tidak menunjukkan keberatan, Minseok membawa Sehun bersamanya menuju ke bagian belakang toko.
"Bagian...bagian buku ada di sebelah sini," ujar Minseok. Mereka sampai disebuah meja berukuran mungil yang dilengkapi dengan kursi. Saat Sehun duduk disana, Minseok menarik sebuah buku yang berat dan berwarna-warni dari lemari buku. "Ini dia," ujar Minseok dengan ceria. "Segala hal yang kau ingin tahu tentang peri." Buku itu dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat indah, pada beberapa halaman ada bangunan yang berdiri diatas buku. Sambil duduk dikursi kecil yang ada disebelah Sehun, Minseok membukakan buku tersebut.
Luhan berdiri didekat mereka, terlihat sedang memeriksa ponselnya, tapi Menyadari ketertarikan Luhan yang berusaha ditutup-tutupi. Meskipun Luhan bersedia untuk membiarkan Minseok berinteraksi dengan Sehun, tapi itu tidak akan terjadi tanpa pengawasan langsung darinya.
Minseok dan Sehun melihat bab yang berjudul "Apa yang Dilakukan Peri Sepanjang Hari", yang menunjukkan gambar para peri sedang menjahit pelangi yang terlihat seperti pita panjang, para peri yang sedang merawat kebun mereka, dan mengadakan pesta minum teh bersama dengan kupu-kupu dan kumbang.
Dari sudut matanya, Minseok melihat Luhan menarik salah satu buku yang masih terbungkus di lemari dan menaruhnya ke dalam keranjang. Minseok mau tidak mau melihat garis tubuh Luhan yang ramping, otot dibalik denim dan kaus abu-abu yang sudah belel.
Apapun pekerjaan Luhan, pria itu terlihat seperti seorang pekerja keras, dengan sepatu yang sudah usang, celana jins dan jam tangan yang bagus tapi tidak mewah. Disini kau tidak akan bisa menebak siapa yang miliarder dan siapa yang orang biasa.
Seorang wanita tua berjalan kearah meja kasir, dan Minseok mendorong buku tersebut lebih dekat pada Sehun. "Aku harus pergi untuk membantu seseorang," katanya. "Kau bisa melihat-lihat buku itu selama yang kau inginkan."
Sehun mengangguk, dengan lembut menyusurkan ujung jarinya diatas gambar pelangi yang timbul diatas permukaan kertas.
Saat Minseok membantu pelanggan membungkus kado, ia melihat Sehun dan Luhan sudah meninggalkan area buku dan sedang asyik mengamati rak yang berisi sayap di dinding. Luhan menggendong Sehun untuk bisa melihat sayap yang berada dibagian atas dengan lebih jelas. Perut Minseok bergelenyar saat ia melihat bagaimana kaus Luhan terangkat dan memperlihatkan otot kokoh dipunggungnya.
"Ini dia," ujar Minseok ceria, sambil menyodorkan kantong berisi kado tersebut kearah wanita tua itu.
"Itu kelihatannya sangat berat, nyonya Choi. Biar aku saja yang membawakannya ke mobilmu." Suara Luhan mengintrupsi sang wanita tua itu saat akan mengangkat kantong.
Wanita tua itu memandang wajah Luhan dengan ekspresi berseri-seri. "Terima kasih, tapi aku bisa melakukannya sendiri. Kau kesini menemani Sehun?" Sahut nyonya Choi yang ternyata tetangga dari Luhan dan Sehun.
"Iya." Mulut Luhan menyunggingkan senyuman miris.
Wanita tua itu menunduk untuk memandang Sehun. "Halo, sayang. Bagaimana kabarmu?"
Sehun mengangguk lemah dan tidak mengatakan apapun.
"Kau baru saja masuk sekolah dasar, iya kan? Apa kau menyukai gurumu?"
Sehun mengangguk lemah sekali lagi.
Nyonya Choi tergelak pelan. "Masih tidak mau bicara? Yah, kau harus segera memulainya. Bagaimana orang bisa mengetahui apa yang kau pikirkan, jika kau tidak mengatakannya pada mereka?"
Sehun menunduk dengan murung.
Meskipun kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk menyindir, tapi Minseok bisa melihat rahang Luhan menegang.
"Dia pasti akan bicara lagi jika waktunya sudah tepat," ujar Luhan dengan nada santai. "Nyonya Choi, kantong itu lebih besar daripada dirimu. Kau harus membiarkan aku membawakannya untukmu."
Wajah nyonya Choi berseri-seri saat Luhan mengambil kantong besar itu dari tangannya dan menemaninya berjalan menuju ke pintu. Luhan menoleh dari atas bahunya. "Sehun, tunggu aku disana. Aku akan segera kembali."
"Dia akan baik-baik saja disini," ujar Minseok. "Aku akan menjaganya."
Pandangan mata Luhan beralih sebentar kearah Minseok. "Terima kasih," ujarnya, lalu meninggalkan toko.
Minseok menghembuskan napas yang tertahan, merasa seperti anak kecil yang baru saja menaiki roller coaster ditaman hiburan, bagian dalam tubuhnya kembali ke tempatnya semula setelah sebelumnya diaduk-aduk.
Sambil bersandar dikonter, Minseok menatap Sehun dengan seksama. Wajah anak itu tegang, matanya terlihat terang tapi dalam, seperti kaca dipermukaan laut. Minseok mencoba mengingat-ingat lagi keponakannya, Chanwoo yang tidak mau bicara di sekolah. Kebisuan selektif, begitu istilahnya. Orang-orang sering berpikir sikap itu disengaja atau memang diniatkan, tapi sebenarnya tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, Chanwoo terus membaik, dan pada akhirnya mau merespons pendekatan sabar yang dilakukan keluarga dan guru-gurunya.
"Apa kau tahu kau mengingatkanku pada siapa?" Tanya Minseok dengan nada santai. "Little Mermaid. Kau pernah melihat filmnya, kan?" Minseok berbalik dan mengobrak-abrik isi laci lokernya dan menemukan sebuah cangkang kerang besar berwarna pink, bagian dari tema dekorasi pantai, yang rencananya akan segera mereka tampilkan. "Aku punya sesuatu untukmu. Sebuah hadiah." Sambil memutari konter, Minseok mengangkat cangkang agar bisa diamati Sehun. "Aku tahu kerang ini terlihat biasa saja. Tapi ada sesuatu yang istimewa tentang kerang. Kau bisa mendengar laut jika kau meletakkannya ditelingamu." Minseok menyerahkan kerang itu pada Sehun, anak itu memegangnya dengan hati-hati ditelinganya. "Apa kau bisa mendengarnya?"
Sehun merespons dengan mengangkat bahu. Jelas sekali trik suara laut dikerang sudah tidak lagi menarik.
"Apa kau tahu kenapa kau bisa mendengarnya?" Tanya Minseok.
Sehun menggelengkan kepalanya, terlihat tertarik.
"Sebagian orang...orang-orang yang praktis, para ilmuwan...berpendapat kerang bisa menangkap suara-suara dari luar dan menggemakannya didalam cangkangnya. Tapi sebagian yang lain" -Minseok menunjuk dirinya sendiri dan menatap gadis kecil itu dengan sorot penuh makna- "percaya bahwa ada sedikit keajaiban didalamnya."
Setelah mempertimbangkan itu, Sehun membalas tatapan Minseok dan menyentuh dadanya sendiri untuk menunjukkan bahwa ia juga memercayainya.
Minseok tersenyum. "Aku punya ide. Bawalah cangkang kerang ini pulang bersamamu dan berlatihlah untuk memasukkan suara-suara ke dalamnya. Kau bisa bernyanyi atau bersenandung ke dalamnya seperti ini..." Minseok menyenandungkan nada kedalam cangkang kerang kosong tersebut. "Mungkin saja suatu hari nanti itu akan membantumu menemukan kembali suaramu. Seperti yang terjadi pada Little Mermaid."
Sehun mengulurkan tangan dan mengambil cangkang kerang itu dengan kedua tangannya.
Pada saat itu, pintu terbuka dan Luhan melangkah masuk kedalam toko. Tatapan Luhan langsung tertuju pada Sehun, yang sedang menatap lekat bagian dalam cangkang kerang ditangannya.
Luhan membeku saat ia mendengar gadis kecil itu mulai bersenandung kedalam cangkang. Wajah Luhan berubah. Dan selama momen yang tidak terduga itu, Minseok bisa melihat beragam emosi tergambar diwajah Luhan: kekhawatiran, takut dan harapan.
"Apa yang kau lakukan Sehun?" Tanya Luhan dengan santai, sambil berjalan menghampiri mereka.
Gadis itu terdiam dan menunjukkan cangkang kerangnya pada Luhan.
"Itu kerang ajaib," Jelas Minseok. "Aku mengatakan pada Sehun dia bisa membawanya pulang."
Alis gelap Luhan turun, dan bayangan kejengkelan tampak diwajahnya. "Itu kerang yang indah," ujar Luhan pada keponakannya. "Tapi tidak ada yang ajaib dengan kerang itu"
"Oh, ada." Cetus Minseok. "Terkadang benda yang terlihat sangat biasa menyimpan keajaiban didalamnya...kau hanya harus mencarinya dengan lebih seksama."
Senyuman sinis tampak di bibir Luhan. "Baiklah," ujarnya ketus. "Terima kasih."
Terlambat, Minseok mengerti bahwa Luhan adalah jenis orang yang tidak mendukung berkembangnya imajinasi anak-anak. Dan Luhan tidak sendirian. Ada cukup banyak orang tua yang percaya bahwa anak-anak mereka akan lebih baik jika hanya dihadapkan pada kenyataan, bukannya dibingungkan oleh cerita rekaan, binatang yang bisa bicara, atau sinterklas. Tapi menurut pendapat Minseok, fantasi dan imajinasi membuat anak-anak bisa bermain dengan ide-ide kreatif mereka, bisa menemukan inspirasi yang mampu membuat mereka tenang. Tapi, bukan urusannya untuk menentukan hal semacam itu bagi anak orang lain.
Dengan perasaan malu, Minseok beranjak ke balik meja konternya dan menyibukkan dirinya sendiri dengan mencatat harga barang dikeranjang: buku peri, puzzle, tali lompat dengan pegangan kayu, dan ornamen peri dengan sayap warna-warni.
Sehun berjalan menjauh dari konter, sambil bersenandung pelan ke dalam cangkang kerang. Luhan menatap keponakannya, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Minseok. Ia bicara dengan suara jengkel, "Jangan tersinggung, tapi..."
Itu adalah kalimat pembuka setiap kali orang hendak mengatakan sesuatu yang akan menyinggung orang lain.
"...aku lebih suka bersikap jujur terhadap anak-anak, nona..."
"Nyonya..." ujar Minseok. "Nyonya Minseok. Dan aku juga lebih suka bersikap jujur pada mereka."
"Kalau begitu kenapa kau mengatakan pada Sehun bahwa itu kerang ajaib? Atau bahwa ada peri yang tinggal didalam rumah-rumahan yang menempel didinding?"
Minseok mengerutkan kening sambil menyobek nota pembayaran dari bundelnya. "Imajinasi. Permainan. Kau tidak tahu terlalu banyak tentang anak-anak, ya?"
Seketika itu juga terlihat jelas bahwa komentar Minseok tepat mengenai sasaran, bahkan hantamannya jauh lebih keras daripada yang diniatkan. Ekspresi wajah Luhan tidak berubah, tapi Minseok bisa melihat rona merah yang merayap ditulang pipi dan hidung itu. "Aku menjadi wali Sehun sejak enam bulan yang lalu. Aku masih dalam proses belajar. Tapi salah satu peraturanku dalam membesarkan Sehun adalah tidak membuatnya percaya pada hal-hal yang tidak nyata."
"Aku minta maaf,"ujar Minseok dengan tulus. "Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi hanya karena kau tidak bisa melihat sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak nyata." Minseok tersenyum meminta maaf pada Luhan. "Apa kau mau membawa nota membeliannya atau dimasukkan saja ke kantongnya?"
Mata yang memesona itu menatap langsung kedalam mata Minseok, dengan intensitas yang menyebabkan otaknya seolah menekan tombol control-alt-delete. "Masukkan saja kekantongnya." Mereka berdiri cukup dekat, sehingga aroma tubuh Luhan sampai kehidung Minseok, aroma yang luar biasa menggoda, wangi parfum yang keluar dari tubuhnya dan kopi. Dengan perlahan Luhan mengulurkan tangan ke seberang konter. "Kim Luhan."
Genggaman tangan Luhan terasa begitu kuat, tangannya terasa hangat dan kokoh. Sentuhan itu membangkitkan perasaan bergelanyar didalam perut Minseok.
Yang membuat Minseok lega, pintu toko terbuka dan seseorang masuk. Seketika itu juga Minseok menarik tangannya dari genggaman Luhan. "Halo," sapa Minseok dengan keceriaan yang berlebihan. "Selamat datang di Magic Mirror."
Luhan masih menatap Minseok. "Dari mana asalmu?"
"Busan."
"Kenapa kau pindah ke Jeju?"
"Sepertinya ini tempat yang tepat untuk membuka toko." Minseok mengangkat bahunya, untuk menyiratkan bahwa penjelasannya terlalu panjang. Tapi sepertinya Luhan tidak terpengaruh. Pertanyaan yang diajukannya terdengar lembut tapi mendesak, menunggu setiap jawaban dari mulut Minseok.
"Kau punya keluarga disini?"
"Tidak."
"Kalau begitu kau pasti mengikuti seorang pria ke sini."
"Tidak, aku...kenapa kau bertanya begitu?"
"Saat ada seorang wanita yang pindah kekota ini, biasanya selalu berkaitan dengan pria."
Minseok menggelengkan kepalanya. "Aku seorang janda."
"Aku minta maaf." Tatapan Luhan membangkitkan gelombang panas dan bergetar dalam diri Minseok, perasaan yang membuatnya sangat gelisah. "Sudah berapa lama suamimu meninggal?"
"Hampir dua tahun. Aku tidak bisa...aku tidak mau membicarakannya."
"Suamimu meninggal karena kecelakaan?"
"Kanker." Minseok sangat menyadari keberadaan Luhan, sisi maskulin dan vitalitas yang terpancar didalam diri Luhan, dan semua itu membuat sekujur tubuhnya terasa hangat. Sudah lama sekali ia tidak pernah merasakan ketertarikan semacam ini, intensitas yang begitu menggelora, dan ia tidak tahu bagaimana
harus meresponsnya. "Aku punya seorang teman yang tinggal disini...Baekhyun tahu aku ingin memulai hidupku yang baru disuatu tempat, setelah suamiku...setelah..."
"Baekhyun? Istri Park Chanyeol?"
Alis Minseok terangkat karena terkejut. "Kau kenal mereka?"
"Hanya sedikit orang dipulau ini yang tidak kukenal, karena...yah dulu, aku dulu penduduk asli disini sebelum memutuskan pindah lalu sekarang kembali lagi kesini." Mata Luhan menyipit penuh penilaian. "Mereka tidak pernah menyinggung tentang dirimu. Sudah berapa lama..."
Bisikan pelan menyela Luhan.
"Luham samchon."
"Tunggu sebentar, Sehun, aku sedang..." Luhan terdiam dan membeku. Ekspresi keterkejutan diwajahnya sangatlah lucu, tatapan takjubnya terarah ke anak kecil yang ada disampingnya. "Sehunie?" Luhan terdengar kehabisan napas.
Gadis kecil itu tersenyum gugup pada Luhan. Berdiri sambil berjinjit, Sehun mengulurkan tangan ke konter untuk memberikan kerang yang dipegangnya kepada Minseok. Dan Sehun menambahkan bisikan ragu-ragu, tapi bisa terdengar dengan sangat jelas, "Namanya Tinker bell."
"Peri itu?" Tanya Minseok dengan suara serak, sementara bulu kuduknya berdiri. Sehun mengangguk. Sambil menelan dengan susah payah, Minseok berhasil berujar, "Terima kasih, Sehun."
.
.
.
Tbc
.
.
.
_i'm back ^^ ada yang nunggu gk nih...thanks reviewnya dan maaf gk bisa bales satu-satu habis kalo ngetik dihp rada riwil sih (?) tapi mau memberitahu ini Lumin ya :3 dan gk da incest antara Kai dan Sehun :v duh ngeri jd keinget mem 'sini sama om' ...menurutku ini ceritanya ringan kok jd gk usah mikir terlalu serius hehe
Btw ada yg baca ini ada yang ngikutin ff ku yg hunkai gk sih? #kepo kalo ada cuman mo ngasih tau maaf 'i got you back' blom bisa diup date soalnya komputerku lagi trouble dan aku sudah nulis setengah jalan disana, malas harus ngulang dari awal lagi #maaf jd belum tau kpn bisa updatenya tp tetep aku lanjutin kok tenang ajah.
See u next chapter again ^^ review lagi please.
