Title : Aku. Butuh. Kamu

Author : Kimbaobei

Cast : Kim Joonmyun (Suho), Wu Yifan, Wu Sehun, Jessica Jung, Tifanny Hwang and other

Rating : T (mungkin berubah? kkk~)

Pairing : Krisho

Warning : Typo(s), GS for Suho

.

.

"You were more lovable than anyone else but why did you leave me?" – Cho Kyuhyun, At Gwnaghwamun

.

.

.

.

.

.

.

.

Sedari tadi jari jemarinya terus bergerak di atas ponsel tipis nan mahal miliknya. Mengetikkan serangkaian angka-angka yang merupakan nomor telepon dari sang kekasih yang tidak kunjung bisa dihubungi. Dua minggu sudah, mereka tidak bertemu. Rasa khawatir mulai menyelimuti perasaan pemuda yang kini tengah termenung di meja kerjanya. Dipandangi foto seorang gadis cantik yang sedang berpose manis pada wallpaper ponselnya.

"Jessica Jung.. Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" gumamnya.

Helaan napasnya terasa berat. Beban dibahunya benar-benar sudah tidak mampu ia tanggung sendiri. Kenapa ia tidak bisa bersama kekasihnya ketika masalah tengah menderanya, itulah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalanya.

Wu Yifan butuh Jessica Jung.

Itulah yang ia tuliskan di secarik memo kuning dan ditempelkannya di sudut meja. Tak henti-hentinya ia mengerang tertahan. Tidak ingin keluarganya mengetahui sisi lemahnya. Cukup hanya Tuhan dan dirinya yang paham kalau seorang mahasiswa tampan yang populer tersebut kini merasa galau karena seorang wanita.

"Masalahnya, Jessica bukan wanita biasa." Ucapnya, rambutnya berantakan karena ia terus mengacaknya. "Dia segalanya.."

Detik berganti jadi menit, menit berganti jadi jam. Tak ada setitik pun rasa lelah atau hasrat ingin berhenti berusaha itu terbersit di pikirannya. Tak peduli seberapa lelahnya, pemuda ini akan terus berjuang untuk mendapatkan kabar dari pujaan hatinya.

Sore ini, ia berencana untuk pergi ke rumah Jessica. Gadis berdarah campuran Amerika dan Korea itu bertempat tinggal agak jauh dari rumahnya. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai disana. Yifan bergegas turun dari mobil mewahnya begitu tiba di depan pintu gerbang. Ia mencoba meneriakkan nama gadisnya. Berkali-kali. Tanpa henti.

"Mereka pergi."

Yifan menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Itu adalah tetangga sekaligus ibu dari teman sepermainan Jessica.

"Kalau aku boleh tahu, mereka pergi kemana ya? Dan kira-kira kapan mereka akan pulang?" Tanya Yifan penasaran. Sangat penasaran.

Wanita yang masih menggenakan pakaian kerjanya ini menghela napas, "Keluarga Jung pergi ke Amerika. Aku tidak begitu yakin dengan tanggal kepulangan mereka."

Setetes air mata mengalir halus melewati pipi Yifan dan berakhir di rahangnya yang tegas. "Apa? Amerika? Kenapa ia tidak memberitahuku.." gumamnya. "Apa Jessica tidak menitipkan sesuatu?" Suaranya bergetar. Hatinya tidak menduga kalau Jessica tega meninggalkannya. Bahkan tanpa sebuah surat atau pun sekedar kata-kata perpisahan.

Wanita itu menggeleng pelan. Ia kenal Yifan. Putrinya sering bercerita kalau Jessica mempunyai seorang pacar bertubuh tinggi dan wajah yang tampan. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang itu."

"Terima kasih banyak." Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dan buru-buru membawa mobilnya melesat dari sana. Tangisnya tak bisa ia redam. Sakit di hatinya terlalu perih untuk dipendam sendirian. Tidak pernah ia memacu mobilnya secepat ini. Belum pernah ia meminum soju sebanyak ini. Yang terpenting, ia tidak tahu kalau beginilah sakitnya dikecewakan.

-oOo-

"Nah, karena hari ini adalah hari pertama Sehun belajar, jadi aku cukupkan untuk hari ini."

Senyum langsung mengembang ketika gurunya mengatakan kalimat tadi. Diliriknya jam dinding bulat yang menempel di atas televisi ruang tengahnya. Ya, disinilah siswa SMP itu sekarang. Les privat bersama gurunya yang jago segala macam pelajaran.

"Asyik!" Sehun berdiri dari duduknya dan berlari menuju dapur. Napasnya terengah-engah. Sebungkus keripik kentang rasa keju dibawanya dan menyodorkannya pada Joonmyun. "Ayo makan bersama!"

Joonmyun tersenyum kecil. Tangannya menggapai bungkusan cemilan yang berwarna orange itu dan membukanya. Sehun menyalakan televisi dan mencari-cari saluran yang kira-kira enak untuk ditonton.

"Setelah berita, pasti film bagus!" Sehun menghentikkan gerakan jarinya dari menekan tombol berwarna hitam dengan tanda panah ke atas. Tadinya mereka tidak begitu fokus kepada berita tersebut, tapi semua berubah ketika nama yang familiar terdengar.

Telah terjadi sebuah kecelakaan yang telah mengakibatkan sebuah mobil rusak parah dan satu orang terluka. Wu Yifan, seorang mahasiswa yang berusia sembilan belas tahun ini diduga tidak fokus saat menyetir mobilnya. Jalanan yang licin membuat mobil tersebut tergelincir dan menabrak sebuah tiang besar di sudut jalan. Kini pemuda tersebut telah dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Sehun menjatuhkan remote yang berada di tangannya. Tubuhnya bergetar hebat, terutama ketika barang elektronik tersebut menampilkan tubuh korban yang berlumuran darah.

"Ti-tidak mungkin.. H-hyung.. Hyung!"

Teriakannya memenuhi seisi rumah. Joonmyun memeluk Sehun tanpa pikir panjang lagi. Menenangkan Sehun adalah tujuannya.

"Seonsaengnim, aku mohon.. Antarkan aku.. Aku harus bertemu dengan hyung! Aku mohon!" Joonmyun paling tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Ia menyanggupi permintaan muridnya selagi perasannya masih tidak beraturan.

"Pakai payung ini dan tetap genggam tanganku. Karena kita akan berlari ke halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari sini."

Baru pertama kali mereka berdua mengeluarkan kekuatan sebesar ini. Berlari menerobos rintik-rintik hujan yang terus turun dan membasahi bumi tanpa ampun. Joonmyun terus-terusan membisikkan kata-kata yang sekiranya bisa menenangkan Sehun yang kini hatinya tengah berkecamuk.

Mereka berdua tiba di rumah sakit tempat kakak Sehun dilarikan. Beruntung, karena seorang suster baik hati bersedia mengantar hingga ruangan Yifan dirawat.

522, batin Joonmyun.

"Seonsaengnim.. dingin.."

Bingung. Benar-benar bingung. Ini adalah hari pertamanya bekerja untuk keluarga Wu yang kaya raya dan masalah sudah datang, menimpanya bertubi-tubi. Tak jarang, ia merutuki dirinya sendiri. Tiada upaya yang bisa dilakukannya, ia hanya bisa memeluk Sehun dan menggosokkan telapak tangannya agar muridnya bisa tetap hangat serta berdoa untuk kesembuhan Yifan.

"Apa disini ada keluarga dari pasien?" Seorang dokter, lengkap dengan pakaian serba putihnya membuyarkan lamunannya. Sontak ia berdiri dan berbicara dengan sang dokter.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Joonmyun sedikit khawatir. "Dia.. baik-baik saja kan?"

Dokter yang menggunakan tanda pengenal bertuliskan Park Jung Shin tersebut hanya tersenyum sambil melepas masker hijau yang dipakainya. "Pasien memang kehilangan banyak darah, untungnya bank darah mempunyai banyak darah A. Kau tidak perlu khawatir, ia baik-baik saja. Kau sudah bisa menjenguknya sekarang."

Gadis itu mengangguk pelan dan kembali bertanya kepada sang dokter, "Apa kau bisa memeriksa Sehun juga?"

-oOo-

"Apa yang terjadi padaku?" Suara serak YIfan memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti ruangan serba biru yang di tempatinya.

"Kau kecelakaan." Sahut Joonmyun. Nada datar yang lebih tepat dibilang menyeramkan yang digunakannya membuat Yifan tidak berani menyela. "Suster bilang kalau kau mabuk, apa itu benar?"

Pemuda berambut coklat terang itu menegak salivanya. Jawaban apa yang harus kuberikan.., batinnya panik.

"Kau bisa menceritakan semuanya padaku. Aku tidak akan menceritakannya kepada siapa pun, termasuk keluargamu." Tawaran Joonmyun disimak oleh Yifan baik-baik. "Tapi kalau kau tidak bersedia, ya, tidak apa-apa. Maafkan atas kelancanganku."

Yifan terdiam untuk berpikir sejenak. Menciptakan suasana canggung di antara mereka berdua.

"Baiklah, aku akan cerita."

-oOo-

Joonmyun berjalan membawa sebuah kartu kredit milik kakak dari Sehun di tangan mungilnya. Setelah memeriksa keadaan Sehun-yang untungnya-baik-baik saja, ia melangkahkan kakinya menuju kasir yang berada satu lantai dari kamar yang ditempati oleh kakak dari muridnya itu.

"Atas nama Wu Yifan dari kamar 522 dan Wu Sehun dari kamar 515."

-oOo-

Selama Tuan dan Nyonya Wu pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, Joonmyun benar-benar merasa kalau dirinya ada seorang babysitter, bukan guru les. Bayangkan saja, Sehun akan selalu merengek tepat lima menit sebelum pelajaran berakhir. Ia tidak ingin kalau gurunya ini meninggalkannya.

"Apa mereka tidak punya maid? Orang kaya di dalam drama pasti memiliknya. Bahkan sampai belasan jumlahnya," keluh gadis yang masih berstatus pelajar itu ketika dirinya melihat Sehun tengah tertidur di atas sofa yang berada di belakangnya.

"Maaf saja ya, keluarga kami tidak punya yang seperti itu." Sahut Yifan.

Joonmyun mengerutkan dahinya. Bagaimana ia bisa mendengarnya? Apa ia punya kekuatan ajaib?, ucapnya dalam hati, keheranan.

"Tidak, tidak. Aku tidak punya kekuatan aneh seperti itu." Katanya laki-laki itu lagi.

"Ya! Kau mengerikan.. Lanjutkan saja acara mencuci piringmu. Baru sembuh saja sudah berlagak.."

Yifan mulai geram, tidak terima kalau sekarang ia sedang diolok-olok oleh anak perempuan yang usianya dua tahun darinya. Tiba-tiba ia melepas sarung tangan karet berwarna merah muda yang digunakannya untuk mencuci dan melemparnya ke atas tumpukan piring bersih.

"Apa katamu?!"

"Jangan berisik. Nanti adikmu bangun."

Kalau Yifan adalah tokoh dalam buku komik, mungkin sekarang sudah ada empat tanda siku-siku kecil di sudut dahinya. "Kau yang berisik!"

"Eung.." Sehun mengerang pelan, menyela perdebatan antara guru dan kakaknya. "Hyung tidak boleh memarahi Joonmyun seonsaengnim ya? Joonmyun seonsaengnim itu baik sekali lho. Ayo hyung minta maaf,"

"Wow, dia membelamu. Bahkan saat ini dia jelas sedang mengigau." Kata Yifan sarkastik. "Kau berikan racun apa?"

"Itu bukan racun." Jawab Joonmyun penuh percaya diri. "Itu namanya pesona."

Joonmyun beranjak dari duduknya dan menyambar tas putih tulang kesayangannya, "Satu-kosong ya—" dan buru-buru berlari menjauhi pemuda yang masih kesal itu. "—YIfan oppa."

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

a/n : Secepat kilat, aku bawain chapter 2 dari fic ini! Thanks a lot buat yang udah bersedia baca dan ngereview ff ini *nangis terharu* Dan makasih banget untuk yang sudah membaca dan ngereview di ff "Sebuah elegi"! Dear, sayakanoicinoe, leeyeol, elfishminxiu and peblish, you know that I love you, right? Kkkk~

.

.

Kecup Basah Corner :

leeyeol : Okay~ Ini udah update hehe~

ChaFishyHae : Sehun emang imut kkk X3. Ratingnya dinaikkin? Kalau menuruku sih-ehem-boleh juga tuh-ehem-. Hahaha XD

elfishminxiu : SETUJU MAKSIMAL. SUHO EMANG CANTIK! #okeinianarkis. Iya, disini ceritanya dia masih SMA hehe

peblish : Aigoo.. annyeonghaseyo sunbaenim! Senengnya ff-ku di review sama author kesukaanku T_T *love sign*. Cie penasaran ya? Makanya ikutin terus ceritanya :p

jimae407203 : Okay siap bos!'-')7

DiraLeeXiOh : Ah gomawo! Ikutin terus ya ceritanya kkk~

honeykkamjong : Tenang, yang ada hanya krisho, krisho dan krisho! YO! #KrishoShipperPower

Assyifa : Terima kasih kkk~ Ini udah di update yaa 3

Emmasuho : Okay okay siappp!^^

Raemyoon : Ah, baguslah kalo suka Iya, disini ceritanya mereka satu kampus gitu hehe~