Perverted Butler Lesson Chapter 2

Disclaimer by : Kuroshitsuji oleh Yana Toboso Sensei!

Presenting : Sebastian Michaelis x Ciel Phantomhive

By : Bloody Psycho

Warning : Lemon, Yaoi, yah, sebenarnya di chapter ini gak ada adegan lemon sih hehe

Eto... RnR onegai shimasu, minna-san w/

"Sudah waktunya Anda bangun, Tuan muda"

Ia berani membuatku bingung, ia berani membuatku memutar otakku, dia berani menyentuh titik-titik sensitive tubuhku yang bahkan tak kuketahui sebelumnya. Iblis brengsek itu berani mempermainkan tubuhku.

"Apa sebenarnya tujuan Sebastian melakukan 'hal' itu?"

Suara baritone itu begitu lembutnya menembus telingaku, memaksa otakku untuk sadar. Di tengah taburan sinar terang matahari pagi yang menembus jendela transparan kamarku, sosok iblis itu membuat sebuah bayangan hitam. Menciptakan fokus bagi mataku yang baru terbuka.

Di otakku masih terputar kilas balik tentang kejadian yang telah terjadi kemarin, sementara Sebastian tengah sibuk memakaikan ku baju. Ada apa dengannya? Kenapa iblis brengsek ini bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Apa dia tidak menyimpan memori hina tentang apa yang telah ia lakukan kemarin pada tubuhku?

Dengan begitu tidak tahu diri dan beraninya ia mempermainkan tubuhku, karena perlakuannya yang terlampau berani itu, kini jantungku berhasil dibuatnya berdetak keras.

"Kh.."

Ah, syarafku merespon rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalaku setelah memikirkan kejadian kemarin.

"Ada apa, Tuan muda. Apa Anda sedang tidak enak badan?" Sebastian beranjak dari posisi berlututnya dan mengarahkan telapak tangannya ke keningku. Mencoba untuk memeriksa apakah ada yang salah pada suhu tubuhku. Tapi ketika telapak tangan dingin tak berperasaan itu menyentuh keningku, bayangan ketika tangan dingin itu menyentuh titik-titik sensitive tubuhku langsung tergambar dengan jelasnya di otakku, membuat tanganku reflex menepis tangan itu. Menciptakan ekspresi terkejut yang seketika langsung berubah menjadi datar yang bahkan sangat datar. Seolah ada isyarat bahwa ia tahu tubuhku tengah sangat sensitive terhadap sentuhan tangannya.

"Maaf atas kelancangan saya, Tuan muda. Saya akan segera membawakan sarapan Anda ke kamar" Sebastian menjauhkan tangannya dariku. "Tidak usah, aku akan pergi ke ruang makan"

Sebastian membungkukkan tubuhnya dan beranjak pergi dari kamarku, menghilang dari balik pintu. Nafasku begitu menderu, jantungku begitu menggila. Rasa panas yang kurasakan ketika tangan dingin itu menyentuh keningku tadi…

Memikirkannya memang membuatku diserang rasa sakit yang bertubi-tubi, mengingat betapa lancangnya Sebastian mempermainkan tubuhku. Namun, aku tidak dapat menemukan satu cara pun untuk mengeluarkannya dari otakku..

"Kuso… Apa yang telah ia perbuat pada tubuhku?"

"Ohayou Gozaimasu, Bocchan" kudengar suara ketiga pelayan idiot rumah ini menyapaku ketika aku memasuki ruang makan dengan Sebastian yang telah siap di samping kursi dimana aku biasanya duduk.

Aku melangkah dengan tenang menuju kursi ku, dan mulai gelisah ketika menyadari jantungku kembali memberontak ketika melihat keberadaan Sebastian. Aku tidak bisa membiarkan tubuhku memberontak seperti ini terus menerus.

"Tuan muda, apakah Anda tidak apa-apa? Wajah Anda terlihat sangat pucat, Tuan" Sebastian angkat bicara setelah mempersilahkanku duduk, mengganggu keseriusanku yang tengah terfokus kepada Panettone yang diletakkan dengan begitu cantik di atas piring. "Damare."

Setelah menyelesaikan urusanku dengan panettone, aku beranjak dari meja makan dan pergi melangkah ke ruang kerja. Berniat untuk meneruskan pekerjaanku yang tertunda, sekaligus mencoba menghentikkan putaran-putaran kilas balik kejadian kemarin.

Duduk tenang di kursi empuk ruang kerjaku, menatapi setumpuk kertas kasus Jack The Ripper. Mencoba untuk menambah usaha yang tengah kulakukan agar semua bayangan menyebalkan itu menghilang dari otakku. Mencoba untuk fokus terhadap setiap kata yang tertera pada lembaran informasi kasus ini. Tapi, semuanya terlihat percuma, mantra apa? Sihir apa? Ramuan apa yang sebenarnya telah digunakannya padaku.

Apakah ini normal, apakah ini memang wajar dirasakan seseorang yang menjadi korban rape, atau apakah ada yang salah dengan tubuhku. Aku sama sekali tidak dapat menemukan satu petunjuk pun. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus bertanya langsung kepada iblis brengsek itu tentang apa yang sebenarnya telah ia campurkan ke dalam Earl Grey yang ia suguhkan untukku kemarin.

.

.

.

TBC

A/N: Haloo para fujoshi... Kiseki-chan kali ini hadir untuk memberi tahu bahwa... di chapter kedua ini, dialog Sebastian sama Ciel itu sedikiiit banget. Jadi maap kalo ada yang kecewa, tapi nanti paasti ada kejutan lain di chapter 3. Di tunggu chapter 3nya yaa~

RNR onegai shimasu ^^