I Love My Bodyguard2

Title : I Love My Bodyguard

Writer : Helloannyeongg

Rated : T

Genre : Drama, Romance, Friendship, Family

Main Cast : HunHan ( Oh Sehun x Xi Luhan)

Other Casts : Exo official couples and SM artists

Semua Cast disini milik diri mereka masing-masing, orangtua, dan Tuhan. Author cuma memakai mereka sementara sebagai Cast di FF abal-abal author ini.

Warning : GS, TYPO(S), OOC dan Bahasa pun tidak baku.

Cerita ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan kejadian mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Cerita ini milik SAYA. Penulis cerita ini adalah SAYA. Ide dalam menulis berasal dari ide SAYA. Please don't be a PLAGIATOR!

::::::::::::::: *Helloannyeongg Present* ::::::::::::::

Aku Luhan. Yeoja yang berasal dari China dan sekarang menetap di Korea Selatan tepatnya Seoul. Karena kedua orangtuaku tidak bisa membiarkanku tinggal sendirian di Seoul, baba mengirimiku seorang bodyguard. Aku pikir yang namanya bodyguard itu pasti namja bertubuh kekar dan sangat menyeramkan. Namun aku salah. Bodyguardku ini sangatlah tampan!

.

*Helloannyeongg*

.

Aku segera masuk ke dalam kamarku. Aku ingin segera berbaring. Lelah, pusing, mengantuk aku rasakan semua. Namun belum sampai ke tempat tidur, akupun terhuyung dan terjatuh di lantai. Dan semuanya gelap.

Aku merasakan ada seseorang yang begitu peduli dan memperhatikanku. Dengan setia mengganti kompresanku. Namun aku tidak tahu siapa orang itu. Aku mencoba membuka mataku perlahan. Dan benar aku sudah terbaring di atas tempat tidurku. Padahal aku yakin aku pingsan di lantai. Aku tidak mendapati orang lain dikamarku ini. Aku mulai bangkit dan pusing di kepalaku sudah sedikit menghilang. Aku mencoba berjalan keluar kamarku. Melihat siapa yang sudah menolongku.

"Lu? Jangan banyak bergerak dulu. Duduklah..." Sehun menuntunku dan mendudukanku di sofa ruang tengah.

"Kau jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau merasa sakit, bilang saja kau sakit. Jangan seperti ini. Kau membuatku khawatir tau..." aku menatap Sehun. Wajahnya memang menggambarkan kekhawatiran. Entah kenapa ada perasaan senang dihatiku karena Sehun yang khawatir denganku.

"Nah makanlah dulu. Baru setelah itu kau minum obat. Ini..." Sehun memberikanku semangkuk bubur yang masih hangat padaku.

"Atau mau aku suapi?" Tawarnya. Aku tidak menjawab apa-apa namun Sehun sudah mengambil mangkuk itu kembali.

"Fuhh fuhh aa~" Sehun menyodorkan suapan bubur pertama untukku.

"Makanlah..." paksanya dan akupun memakannya.

"Bagaimana rasanya?" Aku hanya mengangguk saja. Rasanya memang enak kok.

Sehun terus menyuapiku bubur hingga suapan terakhir. Aku senang mendapat perhatian seperti ini. Aku merasa jantungku juga berdetak lebih cepat dari biasanya. Setiap aku berada di dekat Sehun, entah kenapa aku selalu merasakan perasaan aneh seperti ini.

"Ini minumlah..." Sehun memberikanku segelas air putih beserta sebuah pil obat padaku.

Glek Glek Glek

"Sudah? Nah kau tidurlah lagi. Kau harus banyak istirahat. Jika kau mau susu, ini aku sudah buatkan." Sehun meletakkan segelas susu hangat ke atas meja di ruang tengah, dekat sofa.

"Gomawo.." jawabku namun aku hanya menatap segelaa susu itu.

"Atau mau ingin mandi? Biar aku siapkan air hangat untukmu." Sehun segera bangkit namun aku menarik kembali tangannya.

"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya kok. Duduklah. Kau pasti lelah karena semalaman merawatku." Aku merasa tidak enak padanya. Ia berbaik hati bahkan ikut tidak masuk kuliah hari ini karena merawatku yang masih sakit.

"Tidak kok. Aku baik-baik saja. Lagipula ini kan sudah tugasku untuk melindungi, menjaga serta merawatmu."

Sehun memberikan senyumannya. Namun aku merasa sedikit kecewa karena mendengar jika semua yang dia lakukan ini memang merupakan tanggung jawab pekerjaannya. Tapi kalau dipikir-pikir memang iya sih. Haa ada apa denganmu Luhan?

"Sehun seperti apa yeoja yang kau sukai? Selama ini pasti kau pernah kan jatuh cinta?" Tanpa sadar aku menanyakan hal ini padanya dan tentu saja dia pasti terkejut mendengar pertanyaan ini.

"Yeo-yeoja? Yang kusukai? Tidak ada tipe spesial. Asal aku merasa nyaman padanya mungkin aku menyukainya." Jawab Sehun sambil menatapku.

"Mungkin? Apa selama ini kau..." aku sedikit menggantungkan pertanyaanku. Takut menyindir perasaannya. Ini kan sedikit menyinggung privasinya.

"Belum. Aku belum pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Apalagi berpacaran. Aku belum memikirkan hal itu dulu." Jawabnya seolah tahu apa yang aku pikirkan.

Aku tidak menyangka jika Sehun belum mengalami semua itu. Aku kira namja tampan ah ani namja baik seperti dia pastilah pernah merasakannya. Namun sepertinya kami sama. Eh tapi aku pernah menyukai seseorang. Ya tahulah siapa dia. Tapi tidak sampai berpacaran loh. Hanya sebatas teman, sahabat, kakak-adik tidak lebih. Dan aku juga masih meragukan rasa suka apa yang aku rasakan.

"Kalau kau sendiri?" Tanyanya membuyarkan lamunanku. Matanya terus menatapku.

"Aku? Sama saja. Semua namja sepertinya takut mendekatiku hahaha.. Ya kau tahulah siapa baba dan mama. Terkadang aku sedih juga memikirkannya. Harusnya aku sudah merasakan hal yang namanya jatuh cinta ataupun berpacaran. Namun semuanya yah seperti ini saja." Jawabku enteng.

Dan seperti itulah yang aku pikirkan selama ini. Status kedua orangtuaku sedikit menyulitkan aku untuk mencari belahan jiwa. Namun semua mungkin sudah takdirku dan aku tidak bisa menyalahkan kedua orang tuaku. Tuhan yang akan mempertemukanku dengan sendirinya dengan belahan jiwaku nantinya.

"Kris? Bukankah kau bilang kau sempat menyukainya?" Lagi-lagi Sehun membuyarkan lamunanku.

"Hah? Kris? Hmm lupakan saja hehehe..." elakku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan pada Kris sekarang ini.

.

*Helloannyeongg*

.

Hari ini keadaanku sudah lebih membaik meski ya aku akui wajahku masih terlihat pucat. Tapi aku ingin kuliah. Sehari bolos kuliah itu rasanya ada yang kurang. Sehun terus bilang jika aku tidak usah kuliah dulu. Namun aku tidak mau dan aku memaksa untuk kuliah hari ini.

"Aku ingin kuliah. Tenanglah aku sudah tidak apa-apa kok." Aku sudah berpakaian lengkap dengan syal dan mantel tebal yang memenuhi tubuhku. Sehun nenatapku dengan tatapan tajamnya seperti biasa.

"Baiklah. Kajja kita berangkat." Kami pun akhirnya berangkat juga ke kampus bersama seperti biasa.

Ckitt

Akhirnya kami sudah tiba di kampus. Padahal baru 1 hari aku tidak masuk ke kampus namun rasanya seperti sudah lama tidak masuk. Sehun terus menerus melirikku.

"Kajja kita masuk. Aku tidak apa-apa. Tenanglah..." akupun tersenyum dan masuk ke dalam gedung kampus sambil mengeratkan mantel dan syal yang ku kenakan.

"Kau duduk di sampingku saja ya nanti. Biar aku mudah menjagamu." Ucapnya khawatir akan keadaanku.

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja kok." Aku sudah melangkahkan kakiku memasuki gedung kampus. Sehun pun hanya mengikutiku saja.

"Lu... Kau tidak apa masuk hari ini? Wajahmu masih terlihat pucat." Baekhyun yang baru saja datang langsung menghampiriku. Aku senang bertemu dengannya lagi.

"Tidak apa. Aku baik-baik saja kok." Jawabku sambil tersenyum. Baekhyun melirik Sehun. Mungkin meminta penjelasan kenapa ia membiarkan aku masuk hari ini.

"Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa melarangnya." Jawab Sehun. Baekhyun hanya menghela nafasnya pasrah. Sedangkan aku hanya tersenyun saja.

"Sudahlah kajja kita masuk!" Aku menarik tangan kanan Baekhyun dan mengajaknya masuk ke dalam kelas.

SKIP

Kelas hari ini pun berakhir. Aku segera memasukkan buku-bukuku ke dalam tas yang aku bawa. Sehun sudah menungguku. Ia mengajakku untuk makan siang di kantin kampus. Namun seorang namja tinggi yanh sangat aku kenali itu datang menghampiriku.

"Lu? Apa kau sakit? Kemarin kau tidak ke kampus ya?" Tanya Kris. Aku memberikan senyuman padanya.

"Ne.. Kemarin kau mencariku?" Tanyaku.

"Ne, tentu saja. Wajahmu masih pucat, Lu. Kenapa kau masuk? Harusnya kau istirahat saja." Kris mengusap rambutku dengan lembut. Namun aku merasa sedikit tidak nyaman. Apalagi Sehun yang terus menatapku dan Kris.

"Kau sama saja seperti Sehun dan Baekhyun. Aku tidak apa-apa kok, sungguh!" Jawabku meyakinkannya.

"Sehun! Kajja kita ke kantin! Kris apa kau kau ikut?" Sehun sedikit terkejut dengan ajakkanku. Sepertinya dia melamun.

"Tidak. Aku ada kelas. Baiklah jangan terlalu lelah ya. Setelahnya kau harus pulang dan beristirahat. Sehun jaga Luhan ya..." kemudian Kris sudah keluar dari kelas kami.

"Kajja Sehun!" Aku segera menarik tangan Sehun keluar dari dalam kelas.

Aku menatap mangkuk bubur di hadapanku dengan tatapan tidak suka. Sungguh aku bosan harus memakan bubur terus. Sehun selalu melarangku memakan makanan lain. Katanya aku masih sakit dan harus banyak makan bubur makanya ia memesankan bubur untukku.

"Habiskan buburnya, Lu..." Sehun membujukku untuk menghabiskan bubur itu.

"Aniyo... Aku tidak mau. Aku bosan harus makan bubur terus." Aku mempoutkan bibirku. Aku sudah tidak mau memakan ini lagi.

"Kau baru memakan beberapa sendok. Habiskan lalu setelah ini kau bisa minun obat." Sehun terus membujukku. Namun aku terus menggelengkan kepalaku. Menolak untuk menghabiskan bubur itu.

"Haa baiklah... Dasar yeoja keras kepala. Ini obatnya. Jika kau lapar, kau bilang padaku ya." Sehun terlihat menyerah sepertinya. Ia berikan pil obat untukku. Aku tersenyum penuh kemenangan.

SKIP

Aku mendudukkan diriku di sofa. Tujuannya sih ingin menonton TV. Tapi Sehun selalu menyuruhku untuk istirahat. Aku kan bosan jika harus tidur terus.

"Haa kau ini. Kenapa tidak mau tidur? Kau harus banyak istirahat..." Sehun mendudukan dirinya disampingku yang masih asik menonton TV.

"Aku bosan." Keluhku. Sehun hanya bisa menghela nafasnya saja. Di luar sedang hujan deras makanya langit jadi terlihat gelap padahal baru jam 5 sore.

GLEP

"KYAAA" Aku berteriak cukup keras saat lampu di apartment ini tiba-tiba mati. Sungguh aku takut sekali dengan gelap.

"Tenanglah.. Tidak apa..." Sehun mencoba menenangkanku. Aku memejamkan mataku dan menarik sebelah lengannya.

Gluduk Gluduk Jderr

Suara guntur mulai terdengar semakin nyaring. Tubuhku terasa semakin bergetar dan melemas. Aku takut dengan suara petir. Aku merasakan Sehun memeluk tubuhku untuk mencoba menenangkanku.

"Takut... Aku takut gelap. Aku takut petir. Takut... hikss hikss" akupun mulai terisak.

"Tenanglah... Ada aku disini. Jangan menangis..." Sehun mengelus punggungku perlahan mencoba menenangkanku.

"Takut.. Aku takut Sehun... hikss hikss baba... mama... Aku takut... Hikss" aku semakin terisak di dalam pelukannya.

"Shtt tenanglah... Jangan menangis. Sebentar lagi keadaannya pasti akan baik-baik saja. Aku akan menelepon petugas apartment ini. Tunggulah." Sehun pun segera mengambil ponselnya sementara aku masih berada terus di dalam dekapannya.

"Yeobosaeyo? Maaf saya pemilik apartment nomor 365. Disini semua listrik mati. Apa anda bisa mengirimkan seorang petugas untuk melihatnya? Apa? Oh ada kerusakan. Jadi semua apartment mati listrik? Sampai kapan ini terjadi? Ah baiklah. Terima kasih." Perasaanku tidak enak.

"Kata petugas sedang ada kerusakan jadi sepertinya hari ini memang akan gelap seperti ini." Jelasnya padaku. Kan benar. Sungguh aku ingin keluar dari sini. Gelap.

"Bagaimana ini? Gelap. Aku tidak suka gelap. Hikss..."

Sehun terus memeluk tubuhku dengan erat. Ia tidak henti-hentinya menenangkanku yang terus terisak.

"Baiklah. Akan aku ambilkan lilin. Kau mau disini saja atau mau ikut?" Tawarnya padaku.

"Ikut. Jangan tinggalkan aku sendirian. Gelap." Tentu saja aku memilih ikut. Aku tidam mungkin berada di ruangan yang gelap ini sendirian.

"Ne, ne, ne... Pegang aku ya. Hati-hati jalannya." Aku pun mulai berjalan bersama Sehun menuju ke dapur sambil menggenggam lengannya erat.

"Aduh..." karena kurang hati-hati, aku jadi tersandung kaki meja. Hampir saja aku terjatuh jika Sehun tidak segera menahan tubuhku.

"Hati-hati... Perlahan saja jalannya..." aku phn mengangguk mengerti dan terus menggenggam erat tangannya lagi.

"Nah ini lilinnya. Lalu dimana korek apinya ya? Hmm nah ini dia..." Sehun pun mulai menyalakan lilin itu. Aku merasa gembira. Apartmentku jadi terlihat lebih terang.

"Aku letakkan di ruang tengah saja ya..." Sehun membawa lilin itu ke meja di ruang tengah dan aku mengikutinya dari belakang.

Tik Tok Tik Tok

Jam terus berputar. Tanpa terasa sudah semakin malam. Sudah pukul 21.00 KST. Aku sudah merasa sedikit mengantuk sekarang. Apartmentku masih gelap dan hujan deras masih terus mengguyur kota Seoul hingga sekarang.

"Sampai kapan ya akan seperti ini?" Tanyaku pada Sehun.

"Hoam..." Aku menguap. Namun aku memaksa diriku untuk tetap terjaga.

"Kau sudah mengantuk? Tidurlah... Aku antarkan kau ke kamarmu." Sehun bangkit dari duduknya.

"Tidak perlu. Aku masih belum mengantuk kok." Tolakku meski mataku sudah terasa berat.

"Ya sudah bersandar disini saja." Sehun menepuk-nepuk bahunua untuk menawarkan dirinya agar menyandarkan kepalaku di bahunya.

"Tidak usah. Aku masih belum mengantuk kok." Tolakku lagi. Tapi Sehun segera menarik kepalaku dan menyandarkannya di bahunya.

"Ya Sehun apa yang kau..."

"Sudah diamlah. Pejamkan matamu dan tidurlah.."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian! Cepat! Pejamkan matamu dan tidurlah..." perintahnya lagi. Dan akhirnya aku pun menuruti perintahnya. Mau bagaimana lagi?

Hening. Yang terdengar hanya suara hujan yang beradu dengan kaca apartment. Aku mencoba tertidur namun belum bisa atau malah belum terbiasa. Apalagi posisiku yang sekarang ini yang ehmm ya you know lah...

"Sehun... Bisa nyanyikan sebuah lagu untukku?" Pintaku padanya.

"Mwo? Aku? Nyanyi? Aku tidak bisa menyanyi..." elaknya. Ada rasa kekecewaan di dalam diriku.

"Jebal... Aku mohon. Menyanyilah... Please..." aku terus memohon-mohon kepadanya.

"Haa baiklah..." Sehun pun menyerah dan aku tidak sabar mendengarnya bernyanyi.

'Naega nungama gidohan i sungani geudae ein mameul anajulge cheoncheonhi oneuri hanbeonui Chance na naeditneun cheot georeum...'

Aku mulai menikmati lagu yang Sehun nyanyikan sambil memejamkan mataku. Ternyata suara Sehun memang tidak terlalu bagus tapi tidak terlalu buruk juga. Aku menikmati sekali lagu itu.
Rasa kantuk mulai kurasakan kembali dan memaksaku untuk benar-benar tertidur. Dan akhirnya aku pun sudah tertidur lelap...

.

*Helloannyeongg*

.

Beberapa bulan kemudian...

Aku senang dan sudah terasa betah tinggal di Seoul. Setiap hari aku lalui dengan suka cita. Pagi ini aku lupa bilang sesuatu pada Sehun. Aku melihat dirinya sudah duduk di kursinya. Akupun menghampirinya.

"Sehun? Pulang nanti kau pulang sendiri tidak apa kan? Aku sudah ada janji dengan Kris."

Semalam Kris memang meneleponku dan mengajakku pergi siang ini. Beberapa waktu belakang ini Kris memang sering mengajakku pergi. Sehun juga tahu. Dan aku juga terkadang suka meminta ijin darinya jika aku ingin pergi dengan Kris. Tapi kalau dipikir-pikir, untuk apa juga aku minta ijin darinya? Toh hanya dengan Kris juga.

"Oh baiklah. Jangan pulang terlalu malam ya." Aku melihat ekspresi wajah Sehun yang sedikit err aneh. Aku tidak pernah melihat ekspresi wajahnya seperti itu sebelumnya.

Aku pun tersenyum dan kembali ke kursiku. Aku lihat Baekhyun baru saja datang. Wajahnya juga tampak senang.

"Hai Baek. Tumben baru datang." Ledekku.

"Jangan basa-basi deh, Lu. Hmm Lu jadi sekarang kau benar-benar mencampakkan Sehun ya?" Tanyanya.

"Mwo? Mencampakkan apa?" Tanyaku benar-benar tidak mengerti.

"Kau... Aku lihat dan aku dengar kau akan pergi lagi dengan Kris. Sebenarnya yang kau suka itu siapa sih? Kris atau Sehun?" Tanya Baekhyun penuh selidik.

"Maksudmu? Aku tidak mengerti."

"Jangan berpura-pura tidak mengerti. Sekarang jujur saja padaku. Kau sebenarnya suka Kris atau Sehun?"

Baekhyun please... Jangan tanyakan aku pertanyaan seperti itu. Jujur aku juga tidak tahu perasaanku sebenarnya. Aku hanya mau menjalani apa yang sekarang ada saja. Aku senang jika bersama mereka berdua kok.

"Lu?" Baekhyun membangunkanku dari lamunanku.

"Jujur saja padaku. Kau itu menyukai siapa? Kris atau Sehun?"

"Hmm aku tidak tahu, Baek. Sungguh. Aku senang saat berada bersama mereka. Aku merasa dimanjakan jika bersama Kris dan aku merasa sangat nyaman jika berada bersama Sehun." Jelasku. Sungguh aku memang tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.

"Apa kah merasa deg-degan saat bersama Kris?"

"Tidak juga. Mungkin karena kami memang sudah saling mengenal jauh sebelum sekarang ini." Jawabku jujur.

"Lalu jika bersama Sehun?"

"Untuk itu aku... Hmm ya aku sedikit deg-degan jika bersamanya." Jawabku.

"Berarti kau memang menyukai namja itu. Si Oh Sehun."

"Mwo? Bagaimana bisa kau menyimpulkan secepat itu?" Tanyaku. Aku memang tidak percaya dengan perkataan Baekhyun.

"Kau bilang kau merasa nyaman dan deg-degan saat bersamanya. Dan kau tahu? Itulah tanda awal kau menyukainya."

"Haa sudah lah Baek... Aku tidak mau membahasnya lagi." Elakku.

Jadi benar apa yang dikatakan Baekhyun jika aku benar menyukai Sehun? Tapi... Ah sudahlah Luhan jangan pusingkan masalah ini! Ya Luhan lupakan ya lupakan!

SKIP

Kelaspun berakhir. Setelah merapikan semua buku-bukuku, aku pun segera pamit kepada Baekhyun dan Sehun untuk segera pergi karena Kris sudah menungguku. Benar saja. Saat aku keluar kelas, aku melihat dirinya sedang menyandarkan punggungnya di dinding di depan kelasku.

"Mian membuatmu lama menunggu.." ucapku merasa sedikit tidak enak. Hari ini kelasku memang keluar 15 menit lebih lama dari biasanya.

"Tidak apa. Kajja kita pergi sekarang..."

Kris segera menggandeng tanganku. Persis seperti yang pernah kami lakukan dulu saat masih kecil. Namun pandangan orang lain seolah berkata jika kami adalah pasangan kekasih. Tapi helow jangan salah paham dulu. Aku dan Kris tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami hanya teman biasa. Teman sejak kecil lebih tepatnya. Karena kedua orangtua kami juga bersahabat sejak lama.

Aku sudah mengenalnya sejak kami sama-sama hmm mungkin masih bayi atau bahkan saat masih di dalam kandungan. Well mamaku dan mamanya sering menghabiskan waktu bersama-sama sambil membawa kami berdua. Bahkan saat kami akan mulai sekolah, mereka berencana memasukkan kami ke sekolah yang sama. Bisa dibilang kedua orangtua kami itu memang kompak.

Kami tidak pernah terpisahkan sejak kecil sampai Kris dan keluarganya harus pindah ke Kanada untuk mengurus cabang perusahaan mereka di sana. Aku sempat menangis saat harus berpisah dengan Kris. Karena biasanya kami memang sering menghabiskan waktu bersama bahkan sudah menganggap Kris sebagai saeng kandungku sendiri karena aku memang lebih tua darinya hahaha...

Aku menyesap milkshake strawberry pesananku dan menyantap cheese burger favoritku di dalam sebuah restoran cepat saji di dalam sebuah mall besar.

"36 kali. Kau sadar jika sudah 36 kali kau menyebut nama yang sama..." ucap Kris sambil sesekali menyesap ice cappucino nya.

"Apa? Siapa?" Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.

"Sehun. Sedaritadi aku sudah mendengar 36 kali kau menyebut namanya." Jelas Kris sambil mengambil sebuah kentang di piring.

"Masa?" Ucapku sambil menyesap milkshake strawberry kesukaanku.

"Ne. Tidak hanya sekarang ini. Tapi sebelum-sebelumnya juga kau sering menyebut namanya. Apa kau menyukainya?"

"Uhukk uhukk uhukk..." pertanyaan Kris itu membuatku tersedak.

"Ya pelan-pelan saja minumnya..." Kris menepuk-nepuk perlahan punggungku.

"Haa haa kau bertanya yang aneh-aneh saja sih..." gerutuku.

"Jadi kau benar menyukainya?" Kris main menyimpulkan seenaknya.

"Ya kau ini! Main menyimpulkan seenaknya saja!"

"Hehehe sudah akui saja jika kau menyukainya..." ledeknya. Aku hanya bisa mempoutkan bibirku saja.

"Apanya? Menyukai siapa sih? Siapa juga yang menyukai Sehun!" Aku merasa wajahku sedikit memanas. Ada perasaan malu yang aku rasakan.

"Nah wajahmu memerah seperti itu. Benar kan tebakanku hahaha..." Kris tertawa-tawa bahagia melihat ekspresi wajahku sekarang.

"Ishh kau ini apa-apaan sih!" Aku palingkan wajahku darinya.

"Mian... Mian..." Kris berulang kali meminta maaf padaku sambil menahan tawanya.

"Oh iya Natal nanti kau rayakan di China kan?" Tanya Kris tiba-tiba. Aku juga baru sadar jika sebentar lagi Natal.

"Ya mungkin. Aku belum tahu juga. Tapi pasti baba dan mama menyuruhku pulang." Jawabku seadanya.

"Lalu Sehun? Diliburkan atau tetap ikut kau ke China?"

"Aku tidak tahu. Itu semua masalah baba. Tapi aku harap sih ia ikut juga ke China." Gurauku.

"Kau ingin dia agar lebih mengenal dekat keluargamu ya? Atau kau ingin meminta restu dari orang tuamu?" Canda Kris.

"Apaan sih? Tidak lucu tahu! Aku ingin mengajaknya jalan-jalan disana. Dia kan sering mengajakku pergi selama aku disini. Gantianlah aku mengajaknya pergi ke tempat yang menarik di China. Ke Great Wall contohnya."

"Bohong! Hahaha..."

"Apa maksudmu? Bohong apa?" Tanyaku tidak mengerti.

"Alah bilang saja jika kau ingin agar ia lebih dekat dengan keluargamu.. Haha"

"Ishh kau ini! Tidak!"

"Hahaha bercanda-bercanda.. Oh iya kau tidak mau membeli kado Natal untuknya?"

"Mau sih... Kau juga ingin beli? Untuk siapa?" Tanyaku penasaran. Kris memang jarang bercerita tentang dirinya padaku.

"Untuk seseorang. Tentu saja hahaha..."

"Yeoja?" Tebakku.

"Bisa dibilang begitu hahaha..."

"Siapa? Kau tidak pernah cerita padaku. Yeojachingumu?"

"Bukan. Eh belum. Ia belum jadi yeojachinguku..." jawab Kris malu-malu.

"Jinjja? Siapa namanya? Dia kuliah dimana?"

"Dia akan pindah dari China dan akan masuk kuliah ke kampus yang sama dengan kita. Jurusan yang sama denganmu. Juniormu sih."

"Jinjja? Siapa namanya?"

"Kau pasti akan tahu nanti. Sudahlah... Kajja kita cari kado Natal!"

"Baiklah. Kau ingin membeli kado apa untuk yeoja misterius itu?" Tanyaku pada Kris saat kami masuk ke dalam sebuah toko yang menarik perhatian kami.

"Misterius? Dia tidak misterius kok. Dia baik namun sedikit galak hahaha..."

"Aku jadi penasaran dengannya. Segalak apa dia?"

"Yang pasti tidak segalakmu hahaha..."

"Ya aku tidak galak tahu!" Aku memukul bahu Kris berulang kali.

"Hahaha mian... Mian... Iya kau memang tidak galak. Tapi keras kepala. Egois hahaha..."

"Ishh kau ini!" Ku pukul lagi ia berulang kali.

"Ya ampun.. Ampun hahaha..."

"Siapa bilang aku keras kepala hah?"

"Aku cuma bercanda kok haha..."

"Baiklah kali ini kau ku ampuni! Tapi tidak untuk lain kalinya!" Ancamku.

"Hahaha iya... Sudah bantu aku cari kado untuknya."

"Boleh saja. Asal kau jangan pernah mengejekku lagi!" Ancamku.

"Iya... Iya... Bantu aku carikan kado yang bagus..."

"Memang yeoja itu suka apa?" Tanyaku pada Kris yang sedang melihat beragam kartu ucapan Natal.

"Panda. Wushu. Gucci. Ya dia suka itu."

"Gucci? Wow seleranya tinggi juga. Dan dia suka wushu? Benarkah?" Aku takjub saat mendengar jika yeoja yang dimaksud Kris itu suka barang-barang Gucci maupun Wushu.

"Ne. Dia suka sekali dengan itu. Apa aku harus membeli tas Gucci saja ya?"

"Boleh. Kajja kita ke Gucci!"

SKIP

Setelah lelah berputar-putar mengelilingi mall, aku dan Kris pun berniat untuk pulang dan beristirahat. Kris mengantarku kembali ke apartmentku. Aku sempat mengajaknya mampir sebentar namun ia menolak. Katanya ia harus segera pulang dan mengerjakan tugasnya. Maklum mahasiswa jurusan kedokteran memang sibuk. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam lift.

"Hei..." sapa seseorang di belakangku.

"Hei... Kau baru pulang Sehun?" Tanyaku saat melihat Sehun yang berdiri tepat dibelakangku.

"Ne. Aku habis menemani Kai membeli sesuatu. Kau juga baru pulang? Bagaimana acara jalan-jalanmu dengan Kris?" Aku melihat ekspresi itu lagi. Ekspresi aneh itu. Ada apa sih dengan Sehun sebenarnya?

"Ya begitulah. Kau sendiri?"

"Biasa saja." Jawabnya tepat saat pintu lift terbuka. Kami sudah sampai di lantai tempat room kami berada.

"Mau aku buatkan makan malam?" Tawarnya sebelum masuk ke dalam apartmentnya.

"Tidak perlu. Aku masih kenyang kok. Kau istirahatlah. Kau pasti lelah."

"Ne. Selamat malam. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku." Sehunpun masuk ke dalam apartmentnya meninggalkan aku sendiri yang menatap pintu apartmentnya yang sudah tertutup.

Aku merasa kau semakin berbeda. Apa ada masalah? Kau jadi bersikap semakin dingin denganku. Kau marah padaku? Mianhae jika aku memang ada salah padamu...
Aku merindukan sosokmu yang dulu Sehun. Kau yang selalu banyak menaruh perhatian padaku, memberikan rasa nyaman untukku. Haa Lu apa yang kau pikirkan?

Aku segera membuka pintu apartmentku dan masuk ke dalam. Ingin segera beristirahat karena aku sungguh merasa sangat lelah sekarang.

.

*Helloannyeongg*

.

Drrrttt Drttt Drrrttt

Ku dapati ponselku bergetar. Padahal jam masih menunjukkan pukul 05.00 KST. Tak kupedulikan siapapun orang yang meneleponku. Aku masih mengantuk. Dan jangan mengganggu tidurku!

Drrttt Drttt Drrttt

Untuk kesekian kalinya ponselku bergetar. Akupun semakin geram. Aku terpaksa membuka mataku dan menatap ponsel yang terus bergetar itu.

"Ishh siapa sih pagi-pagi begini menelponku? Tidak tahu orang lagi tidur apa?" Ku raih ponselku yang ada di atas nakas.

Baba is calling~

"Ternyata baba. Ada apa baba menelponku pagi-pagi seperti ini ya?"

Pipp

"Ne? Ada apa ba?" Tanyaku sambil sesekali menguap dan mengerjap-ngerjapkan mataku.

-Apa baba mengganggu tidurmu? Maaf. Baba hanya memastikan saja hubunganmu dan Sehun baik-baik saja kan?- tanya baba. Aku hanya bisa mengerutkan dahi. Bingung.

"Ya tentu saja. Ada apa, ba?" Jawabku sambil menguap. Sungguh aku masih mengantuk dan ingin tidur kembali.

-Tidak. Tidak apa. Baba hanya khawatir jika dia mengundurkan diri karena ada masalah denganmu.-

"Apa? Sehun mengundurkan diri? Baba jangan bercanda!" Pernyataan baba tadi sukses membuatku sadar sepenuhnya.

-Loh kau tidak tahu? Tadi Sehun menelpon baba dan bilang dia akan mengundurkan diri menjadi bodyguardmu.-

"Kenapa dia mengundurkan diri, ba? Apa baba mengurangi gajinya? Atau apa? Ceritakan ba..." tuduhku. Aku sungguh tidak tahu jika Sehun benar ingin mengundurkan diri.

-Baba juga tidak tahu. Baba kira malah karena ada masalah denganmu makanya baba menelponmu pagi-pagi seperti ini.-

"Apa alasan dia mengundurkan diri ba? Sungguh kami tidak ada masalah kok."

-Baba juga tidak tahu. Ia tidak menjelaskannya pada baba.-

"Jadi sekarang bagaimana?"

-Ya baba akan berusaha mencari bodyguard baru untukmu. Baba tidak akan membiarkan kau sendirian di Seoul. Sekarang kembali tidurlah. Maaf baba mengganggumu. Bye...-

Sehun mengundurkan diri? Waeyo? Ternyata benar kan kau ada masalah. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku sih? Aku pasti akan membantumu jika aku tahu apa masalahmu. Aku tidak mau posisimu digantikan oleh orang lain Sehun.

Ku tatap langit-langit di kamarku sambil membayangkan dan mengira-ngira apa yang membuat Sehun mengundurkan diri seperti ini. Namun rasa kantuk itu kembali datang dan tanpa sadar aku pun terlelap kembali.

SKIP

Aku bergegas pergi ke apartment Sehun untuk memastikan apa yang tadi pagi baba bicarakan benar adanya.

CKLEK

Kubuka pintu apartment itu. Tidak ada yang berubah. Hanya saja aku menemukan sebuah kunci mobil, ponsel dan sepucuk surat di atas meja di ruang tengah.

'Lu kau pasti kaget kan kenapa aku tiba-tiba mengundurkan diri. Sungguh aku tidak pernah merencanakan ini sebelumnya. Karena ada sedikit masalah keluarga yang harus segera aku selesaikan, aku memutuskan untuk berhenti bekerja menjadi bodyguardmu. Aku senang selama aku bekerja menjadi bodyguardmu. Kau gadis yang baik. Aku kembalikan semua fasilitas yang pernah babamu berikan padaku. Mobil, ponsel dan apartment ini. Selamat tinggal, Lu. Semoga kita bisa bertemu lagi ya.'

Hatiku benar-benar merasa seperti di tusuk ribuan jarum saat membaca surat yang ditulis oleh Sehun. Kini Sehun sudah benar-benar pergi dan mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Ia sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun agar aku bisa menghubunginya. Aku merasa kesepian tanpa dirinya.

SKIP

Aku pergi ke kampus dengan perasaan campur aduk. Entahlah aku benar-benar merasa aneh semejak tahu Sehun mengundurkan diri. Aku melangkahkan kakiku masuk ke kelas dengan malas. Tidak ada semangat seperti biasanya.

"Lu? Kau kenapa? Lesu sekali..." Baekhyun terlihat bingung saat melihat wajah lesuku.

"Tidak apa. Aku baik-baik saja kok."

"Dimana Sehun? Biasanya kalian selalu berangkat bersama."

"Dia sudah berhenti. Dia sudah tidak bekerja lagi denganku." Jawabku sambil memberikan senyum simpul.

"Jadi karena itu kau jadi tidak semangat? Nah Kai! Kau tahu dimana Sehun tinggal sekarang?" Tanya Baekhyun pada Kai yang baru saja datang.

"Di apartment di samping Luhan itu lah. Mau dimana lagi?" Jawabnya enteng.

"Dia sudah mengundurkan diri. Kau tidak tahu? Kau kan temannya."

"Aku benar-benar tidak tahu. Ia sama sekali tidak cerita padaku."

"Begitu? Gomawo..." balasku. Kai yang sahabatnya saja pu. Tidak tahu. Oh Sehun kau dimana? Sebenarnya apa yang terjadi?

Tak terasa hari sudah berganti. Aku sudah mendapatkan bodyguard baru sesuai perkataan baba. Namun bodyguardku kali ini memang seperti bodyguard kebanyakan berbadan kekar dan terlihat menyeramkan. Tidak seperti Sehun. Ya aku selalu mengingat dirinya. Aku tidak bisa melupakannya. Dan aku baru sadar sekarang jika benar aku memang menyukainya. Besok adalah hari Natal. Aku ingin ada suatu keajaiban di hari Natal besok. Aku ingin bertemu dengan Sehun.

"Lu? Kenapa melamun? Sedang memikirkan sesuatu?" Tanya mamaku. Ya Natal tahun ini baba dan mama ingin merayakannya di Seoul.

"Tidak kok ma. Aku tidak melamun." Elakku.

"Kalau begitu kajja kita sarapan bersama. Eomma sudah menyiapkan sarapan spesial untukmu dan baba." Ajak mamaku. Aku pun mengangguk dan keluar dari kamar mengikuti mama.

"Morning baba..." Kupeluk babaku yang sedang asik menyesap kopi espresso favoritnya dari belakang.

"Morning sayang... Selamat Natal..." baba mengecup kedua pipiku secara bergantian.

"Selamat Natal juga... Oh iya mama Selamat Natal..." kemudian aku peluk tubuh mama. Aku lupa aku belum mengucapkan Selamat Natal untuk mama.

"Eomma jadi dilupakan nih huhh" canda mama.

"Mianhae mama..." kucium kedua pipi mama secara bergantian.

"Hahaha sudah kajja kita sarapan bersama."

"Setelah itu kita buka kado hehe..."

"Anak mama memang tidak pernah berubah ya hahaha..."

Setelah menyantap sarapan spesial sampai habis, aku, baba dan mama berkumpul di ruang tengah apartmentku. Ya kini saatnya kami untuk membuka kado yang adandi bawah pohon natal. Hadiah yang sudah kami siapkan. Setiap tahun kami selalu melakukan hal yang sama dan sepertinya tradisi ini sudah mendarah daging untukku sehingga aku tidak akan melewati tradisi seperti ini.

Ting Tong Ting Tong

"Ada tamu? Ya sebentar..." mama berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang. Sementara aku dan baba masih asik melihat kado yang kami dapat.

"Ma siapa yang datang?" Tanyaku pada mama yang baru saja masuk kembali ke dalam.

"Tidak ada siapa-siapa. Tapi eomma melihat ini tergeletak di depan pintu. Sepertinya untukmu." Mama memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru yang diikat dengan pinta cantik berwarna putih dan aku melihat ada tulisan Luhan yang tertempel di kotak itu.

"Dari siapa ya?" Tanyaku pada diri sendiri.

Aku buka pita dari kotak itu perlahan-lahan. Baba dan mama juga memperhatikanku dan meninggalkan kesibukan mereka membuka kado milik mereka sendiri. Saat kubuka kotak itu, aku melihat ada sebuah kalung cantik dengan liontin berbentuk rusa lucu. Dan di liontin itu tertera namaku. Aku sangat menyukai kalung itu. Dan aku juga melihat sepucuk surat yang ada di dalam kotak itu.

'Hay Luhan... Lama tidak bertemu ya. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan? Oh iya Selamat Natal ya... Ini hadiah Natal dariku. Apa kau menyukainya? Maaf jika aku hanya bisa memberikan hadiah seperti ini dan tidak sesuai seleramu hehe.. Tapi simpanlah kalung itu ya. Jangan sampai hilang! Hahaha... Salam juga ya untuk kedua orang tuamu. Dan katakan Selamat Natal juga untuk mereka. Salam manis, Oh Sehun :) '

Aku segera berlari keluar setelah membaca surat itu. Aku berharap jika orang yang menaruh ini benar-benar Sehun. Ya aku harap memang dia. Aku berlari mengitari koridor sambil melihat ke sekeliling. Turun ke basement namun sama sekali aku tidak menemukan Sehun disana. Lalu dimana dia sekarang? Aku sungguh rindu padanya. Aku ingin bertemu dengannya.

"Lu... Hosh hosh... Kau kenapa? Kenapa berlari seperti ini, hah? Bahkan kau tidak mengenakan mantelmu. Udara sedang sangat dingin, sayang..." ucap mamaku sambil menyelimuti tubuhku yang sudah sedikit menggigil dengan mantel tebal.

"Kajja kita masuk ke dalam..." aku pun kembali masuk namun pandangan mataku masih melihat ke sekeliling. Aku berharap. Sangat berharap aku bisa menemukannya. Namun nihil. Dia tidak ada.

"Kenapa kau terburu-buru berlari seperti itu, Lu? Ada apa?" Tanya baba saat aku sudah kembali ke apartmentku bersama mama.

"Tidak ada apa-apa kok ba." Jawabku singkat.

"Hadiah itu... Dari siapa?" Tanya mamaku sambil menatap kado yang masih aku pegang.

"Itu..." baba segera merebut kado dan surat milikku.

"Oh jadi kado ini dari Sehun..." ujar baba setelah membaca siapa pengirim kado itu.

"Baba... Apa aku salah jika aku... Hmm menyukainya?" Tanpa sadar aku bertanya seperti itu.

"A-apa? Kau tidak bercanda kan Lu?" Mama terlihat terkejut.

"Tidak ma, ba. Aku serius. Dia namja yang baik. Dia selalu perhatian padaku, selalu melindungiku, selalu menjagaku, bahkan selalu mengalah pada keegoisanku." Jawabku jujur.

"Tapi semua itu kan memang tugasnya sebagai bodyguardmu, Lu. Dia hanya seorang bodyguard. Kau pantas mendapatkan namja yang lebih baik darinya."

"Tapi ba..."

"Sudah lupakan namja itu. Dia tidak lantas untukmu. Oh iya besok kau harus ikut baba dan mama. Kita pergi ke rumah sahabat baba. Dan kau bisa berkenalan dengan anak mereka. Anak mereka baik dan pintar apalagi dari keluarga yang sepadan. Kau lebih pantas bersamanya."

"Baba! Apa maksud baba?" Tanyaku pada baba.

"Baba sudah menjodohkanmu dengannya. Baba tidak ingin ada penolakkan darimu." Ucap babaku tegas.

"Baba jahat!" Aku segera masuk ke dalam kamarku. Menguncinya dari dalam.

Sungguh aku benci! Aku benci ini semua! Sehun pergi dan sekarang baba main seenaknya memutuskan menjodohkanku dengan anak dari sahabatnya! Apa-apaan ini semua? Haaa aku benci! Kenapa Natalku jadi seperti ini? Sehun kau dimana? Aku ingin bertenu denganmu... Aku kenakan kalung pemberian darinya. Aku berjanji akan selalu menyimpan kalung ini. Ya aku janji, Sehun.

SKIP

Setelah kejadian kemarin, aku mengurung diri di dalam kamar. Mama berkali-kali berusaha membujukku untuk keluar dan makan namun aku sama sekali tidak mau memperdulikannya.

"Lu... Keluarlah nak... Sejak semalam kau belum makan." Bujuk mama.

"Tidak! Lulu tidak mau makan!" Tolakku.

"Lu... Jangan seperti ini... Lu buka pintunya nak..." bujuk mama lagi.

"Tidak! Tidak mau!"

"Lu cepat buka pintunya sekarang!" Teriak babaku. Aku hanya diam tidak memberi jawaban. Aku masih kesal dengan baba.

"Lu cepat buka pintunya!" Teriak babaku lagi.

"Lu! Atau kau tidak boleh kuliah di sini lagi! Cepat buka pintunya!" Ancam babaku.

CKLEK

"Luhan... Jangan ulangi lagi ya... Mama khawatir tahu..." mama segera memeluk tubuhku saat aku membuka pintu kamarku.

"Sekarang cepat kau mandi. Ganti pakaianmu dan kita pergi ke rumah sahabat baba." Perintah baba seenaknya.

"Lulu tidak mau ba..." tolakku.

"Tidak ada penolakkan! Cepat!"

"Sudah Lu... Turuti saja semua keinginan babamu..." bujuk mama.

"Tapi ma..."

"Lu..."

"Baiklah..." akupun hanya bisa pasrah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ku langkahkan kakiku dengan malas menuju ke kamar mandi sementara mama sedang sibuk mencari dan memilih pakaian yang akan aku kenakan di lemariku. Sungguh aku tidak suka keadaan seperti ini.

15 menit kemudian aku selesai mandi. Mama segera menyodorkanku sebuah dress berwarna putih padaku. Aku ingat. Dress putih ini adalah dress yang pernah aku beli saat jalan-jalan dengan Sehun. Kenangan itu lagi. Aku kembali mengingatnya.

"Lu cepat kenakan dress itu. Eomma nanti akan mendandanimu."

Setelah mengenakan dress itu, mama kini sibuk mendandaniku. Mama memang selalu seperti ini. Aku selalu menjadi objek dandanannya. Namun mama memang sangat pintar mendandani seseorang jadi aku tidak pernah marah padanya.

"Nah anak mama sudah cantik... Sekarang kajja kita berangkat. Baba pasti sudah menunggu kita." Mama membereskan alat-alat make up miliknya dan segera bersial-siap pergi.

"Sudah siap kan? Kajja kita berangkat!"

Mobil yang kami tumpangi kini sudah sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar. Sepertinya keluarga ini memang keluarga yang sangat kaya. Rumah bercat putih itu bergaya klasik dan memiliki halaman yang sangat luas. Aku bisa melihat halaman rumah itu banyak di tumbuhi bermacam-macam bunga dengan warna yang beraneka ragam.

"Silakan masuk tuan... Tuan dan nyonya sudah menunggu di dalam." Ucap salah seorang maid yang membukakan pintu untuk kami.

Aku serta baba dan mama masuk ke dalam rumah yang besar itu. Rumah itu memang benar-benar besar. Aku banyak melihat koleksi guci dan lukisan mahal. Di sudut ruangan aku juga melihat ada sebuah piano putih. Aku rasa keluarga juga memiliki bakat musik.

"Selamat datang... Apa kabar?" Ucap salah seorang yeoja paruh baya yang baru saja turun dari tangga. Yeoja itu masih terlihat sangat cantik meski usianya sudah tidak bisa dibilang muda lagi.

"Hay Lu..." ucap seorang namja yang sangat aku kenal.

"Kris?" Aku membelalakkan mataku tidak percaya.

"Kris ajak Luhan mengobrol di belakang ya..."

"Ne, ma... Kajja Lu!" Kris segera menggandeng tanganku dan mengajakku ke halaman belakang rumahnya.

"Kris? Jadi selama ini kau sudah tahu?" Tanyaku pada Kris yang aku lihat ia juga tampak murung.

"Ne. Aku sudah tahu. Tapi sama sepertimu, aku juga tidak bisa menolaknya." Jawab Kris seadanya.

"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?"

"Karena aku takut. Aku takut kau malah menjauhiku saat tahu soal ini. Mianhae, Lu." Ujar Kris penuh penyesalan.

"Lalu bagaimana dengan yeoja yang kau sukai itu Kris?" Tanyaku.

"Entahlah. Aku sudah menyatakan perasaanku padanya kemarin namun aku belum mendapatkan jawaban darinya." Jawab Kris sambil tersenyum miris.

"Lalu bagaimana dengan Sehun? Kau sudah bertemu lagi dengannya?" Lanjutnya.

"Belum. Tapi kemarin ia sempat mengirimkan kado Natal untukku." Aku menunjukkan kalung pemberian Sehun pada Kris.

"Kris, kau memang benar. Aku menyukainya. Aku menyesal baru menyadarinya saat Sehun sudah pergi. Andai saja aku bisa memutar waktu. Aku ingin mengatakannya sebelum ia sempat mengundurkan diri. Sekarang sudah terlambat."

"Tidak ada kata terlambat, Lu. Aku yakin suatu hari nanti kalian akan bersatu." Kris menghiburku.

"Tapi bagaimana mungkin? Perjodohan ini?"

"Tidak akan pernah terjadi."

"Maksudmu?" Aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Kris.

"Kau akan tahu nanti. Kita pasti akan bahagia dengan pilihan kita."

"Ne. Aku harap begitu..."

SKIP

Kris mengajakku untuk menemaninya ke pesta pernikahan kerabatnya dari China. Aku pun tidak menolaknya. Aku sudah siap saat Kris menjemputku.

"Kau sudah siap? Kajja kita berangkat!" Ucap Kris saat baru tiba menjemputku di apartment.

"Maaf aku malah jadi mengajakmu. Habis aku tidak tahu harus mengajak siapa."

"Tidak apa. Aku tidak keberatan kok. Kau kan sahabat baikku." Jawabku.

"Thanks..."

"You're welcome..."

Akhirnya kami pun sampai di sebuah hotel tempat diadakannya pesta pernikahan kerabat Kris. Aku benarkan dress hitam yang aku kenakan agar terlihat lebih baik.

"Kau sudah terlihat cantik kok." Ledek Kris.

"Ya!"

"Kajja kita masuk..." ajaknya. Ku lingkarkan tanganku di salah satu lengannya.

"Huaa ramai sekali..." komentarku saat memasuki aula besar tempat resepsi pernikahan itu di gelar.

"Tentu saja. Sebentar aku ke toilet dulu ya. Tidak apa kan aku tinggak sebentar?"

"Ne. Tidak apa." Jawabku.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling namun aku tidak mengenal satupun tamu-tamu yang hadir di pesta itu. Aku melihat di sebrangku terdapat meja yang penuh dengan gelas-gelas wine. Aku pun ke sana dan mengambil segelas wine untukku.

Drrtt Drrttt Drrttt

Aku merasakan ponselku bergetar. Aku mencari-carinya di dalam tas yang aku bawa. Namun tiba-tiba aku sadar aku menabrak seseorang. Dan karena kecerobohanku aky hampir saja terjatuh jika orang itu -namja- menarik tanganku.

"Mianhae... Jeongmal mi-... Sehun?" Aku membelalakan mataku seolah tidak percaya siapa namja yang menolongku itu.

"Lu-Luhan?" Ternyata benar. Dia Sehun. Sehun yang selama ini ingin aku temui. Air mataku rasanya hampir saja keluar.

"Luhan kau... Loh Sehun?" Kris menghampiriku. Sepertinya ia sudah selesai dari toilet.

"Sehun... Loh K-Kris?" Aku melihat seorang yeoja cantik yang menghampiri kami berdua.

"Sehun Tao... Kalian sudah datang? Wah kau cantik sekali Tao... Kajja kalian ikut eomma. Eomma akan mengenalkan kalian pada tamu-tamu yang lain." Aku melihat ada seorang wanita parubaya yang menarik tangan Sehun dan Luhan dan membawa mereka ke sebuah panggung yang ada.

"Mohon perhatian semua..." ucap wanita parubaya itu di sebuah mic.

"Sebentar lagi keluarga kami, keluarga Oh akan mendapat seorang calon untuk anak kami, Oh Sehun. Dia adalah Huang Zitao anak dari pemilik Huang Company. Kami berharap kalian bisa datang di acara pertunangan anak kami bulan depan di..."

Aku merasa waktu berhenti seketika itu juga. Aku merasa seolah ada di alam mimpi dan aku ingin segera bangun sekarang juga. Tanpa kusadari air mata jatuh dari pelupuk mataku. Dan aku segera berlari keluar dari ruangan itu juga.

Aku lari sampai ke ujung koridor hotel itu. Aku mendudukan diriku dan menangis sejadi-jadinya. Sehun akan bertunangan? Hahaha aku ingin segera bangun dari mimpiku ini sekarang. Hatiku sakit saat mendengarnya. Kris menghampiriku dan memeluk tubuhku, mencoba menenangkanku.

"Lu... Uljima Lu..." Kris menepuk-nepuk punggungku.

TAP TAP TAP

Kris melepaskan pelukannya dariku. Aku merasakan ada yang menghampiri kami. Ku angkat kepalaku dan melihat siapa orang itu.

"Lu... Aku ingin berbicara padamu..." ternyata dia adalah Sehun. Dia mensejajarkan dirinya dan menghapus air mataku.

"Kalian bisa bicara berdua. Aku pergi..." Krispun pergi meninggalkan kami berdua.

"Lu... Aku ingin berkata jujur padamu. Lu, Saranghae... Jeongmal Saranghae Xi Luhan..." Sehun memeluk tubuhku. Aku masih belum bisa mencerna semua kata-katanya.

"Lu... Aku tahu mungkin kau merasa aku bohongi. Tapi jujur. Yang aku cintai itu kau. Pertunangan itu tidak pernah aku terima. Semua itu paksaan dari kedua orangtuaku." Sehun mulai menjelaskan semuanya.

"Lu.. percaya padaku... Lu..." Sehun mengguncangkan tubuhku lagi.

"Tapi kau sebentar lagi..."

Namun belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, bibir Sehun sudah menyentuh bibirku. Aku terkejut namun aku bisa merasakan kejujuran Sehun dari ciumannya. Ciuman lembut tanpa adanya nafsu. Aku terisak di dalam tautan bibir kami. Sehun terus menghapus air mata yang masih keluar dari pelupuk mataku.

"Sehun!" Teriak seseorang membuatku melepaskan tautan bibirku dengan bibir Sehun.

"Siapa dia? Ingat! Sebentar lagi kau akan bertunangan!" Teriak seorang pria parubaya. Sepertinya dia appa Sehun.

"Appa yang aku cintai dia... Aku mohon appa mengertilah... Eomma..." Sehun memohon di hadapan eomma dan appanya.

"Kau! Jangan maca- akh..." namja parubaya yang diketahui appa Sehun memegangi dadanya.

"Appa? Appa!"

"Kau lihat? Yeobo bertahanlah... Cepat bawa appa ke rumah sakit sekarang!" Sehun pun segera membopoh tubuh appanya dan segera membawanya ke rumah sakit. Aku juga mengikutinya dari belakang. Ada rasa bersalah di dalam hatiku. Semua ini salahku.

In the hospital...

Aku duduk di kursi paling pojok yang ada di dalam koridor di depan ruang UGD. Eomma Sehun menangis sementara yeoja yang bernama Tao yang akan ditunangkan dengan Sehun terlihat sedang menenangkan eomma Sehun. Aku hanya melihat sendu pintu UGD dan berdoa berharap appa Sehun baik-baik saja.

"Ahjumma tenanglah..."

"Lu... Waeyo?" Tanya Kris yang yang duduk di sampingku.

"Aku khawatir... Paman Oh..." jawabku masih sambil menatap sendu pintu UGD.

CKLEK

Pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah seorang berjubah putih dokter yang menangani appa dan 2 orang perawat. Sehun segera menghampiri dokter dan perawat itu untuk mengetahui kondisi appanya. Sementara aku pun berdiri dari posisi dudukku.

"Dok bagaimana kondisi appaku?" Tanyanya pada dokter itu.

"Keadaannya sudah lebih baik. Untung saja segera di bawa ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit mungkin kemungkinan buruk itu akan terjadi. Sebaiknya tuan Oh jangan dibebani dengan berbagai masalah karena bisa mempengaruhi kondisi jantungnya." Jelas dokter itu. Akupun merasa lebih lega sekarang.

"Baiklah. Terima kasih dok. Apa kami bisa menemuinya?"

"Tentu saja. Namun jangan terlalu banyak diajak bicara. Ia harus banyak beristirahat." Jelas dokter itu dan berlalu pergi. Sehun serta yang lainnya masuk ke dalam.

"Yeobo... Untunglah kau baik-baik saja..." eomma Sehun segera memeluk tubuh suaminya yang terbaring lemah. Sementara aku hanya bisa berdiri di ambang pintu.

"Mianhae, appa..." Sehun meminta maaf kepada appanya. Aku melihat wajahnya nampak sangat menyesal dan juga khawatir.

"Sehun... Appa mohon. Lanjutkan pertunanganmu dengan Tao ya..." ucap appanya sedikit terbata-bata. Sesak. Dadaku terasa sesak saat mendengar itu.

"Appa?" Sehun melirikku yang masih menatap mereka dari ambang pintu.

"Appa aku keluar sebentar ya..." Sehun segera menghampiriku dan mengajakku pergi. Sepertinya ada yang ingin Sehun bicarakan berdua denganku.

"Sehun... Apa yang perlu kita bicarakan lagi?" Tanyaku saat kami ada di taman di rumah sakit itu.

"Tapi Lu..." Aku melihat wajahnya nampak terlihat bingung dan serba salah.

"Sehun... Turuti saja permintaan appamu. Kau harus membuatnya bahagia." Sakit. Tentu saja aku juga merasakan sakit saat aku berbicara seperti ini. Namun aku juga tidak mau membuat hubungan Sehun dengan keluarganya retak hanya gara-gara aku.

"Lu?" Wajahnya menyiratkan kekecewaan.

"Nado saranghae Sehun. Tapi aku memintamu untuk menuruti semua permintaan appamu. Lakukanlah jika memang kau benar mencintaiku. Dan perlu kau ketahui juga. Aku juga akan segera bertunangan dengan Kris." Jelasku. Seketika aku melihat wajahnya yang terkejut. Aku harus jujur. Ya harus jujur ini juga demi kebaikan kita bersama.

"Lu? Kau..." Wajah Sehun menyiratkan kekecewaan yang amat mendalam. Mianhae Sehun... Ku tahan air mataku yang nyaris keluar.

"Aku serius. Baba dan mama sudah sejak dulu menjodohkanku dengan Kris. Dan aku harap kau bisa bahagia dengan Tao. Jagalah dia. Lindungi dia seperti kau melindungiku. Cintai dia seperti kau mencintaiku." Tanpa ku sadari rentetan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

"Luhan? Jangan bicara seperti itu!" Aku melihat Sehun yang tak kuasa menahan air mata yang jatuh di pelupuk matanya. Ia peluk tubuhku erat-erat seolah enggan melepasku. Hangat.

"Aku mohon. Berbahagialah Sehun. Dan aku juga akan bahagia. Bahagiakan Tao. Aku rasa dia memang yeoja yang sangat baik." Untuk ke sekian kalinya aku membuat hatiku sakit sendiri. Namun aku harus melakukan ini agar Sehun bisa melepasku dan ia bisa membahagiakan orang tuanya.

"Luhan... Aku tidak bisa!" Tolaknya. Wajahnya memerah. Aku tahu dia pasti marah.

"Kau pasti bisa Sehun. Kau pasti bisa bahagia. Kajja kita kembali..." Aku segera menarik tangannya dan kembali ke ruangan appanya.

"Tao... Sehun... Turuti apa permintaan paman Oh. Lanjutkanlah pertunangannya. Kalian harus bahagia." Ucapku sambil mencoba tersenyum. Aku melihat paman dan bibi Oh juga ikut tersenyum mendengar penuturanku.

"Luhan..." Kris menginterupsiku. Aku pun menatapnya dalam-dalam.

"Sudahlah Kris... Biarkan mereka bahagia. Cinta harus mengorbankan segalanya kan? Jika kau memang mencintai Tao, biarkanlah dia berbahagia dengan Sehun. Aku yakin Sehun pasti bisa membahagiakannya. Aku pamit. Sehun kita tetap akan menjadi teman. Tao kau juga temanku. Kalian harus bahagia ya... Bye..."

Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruang itu. Sungguh aku sudah tidak sanggup menahan air mataku. Aku segera berlari sejauh mungkin. Aku tidak ingin siapapun melihatku menangis seperti ini. Terutama Sehun. Aku ingin agar ia bisa melepaskanku. Aku memang mencintainya. Namun mungkin dia bukan takdirku. Aku hanya berharap satu. Aku ingin dirinya bahagia meski bukan bersamaku.

Ku dudukan diriku di kursi yang ada di taman itu. Disana aku bisa puas menangis. Ditambah langit yang sudah mendung dan kristal-kristal airpun mulai turun. Aku merasa langit juga jadi ikut bersedih denganku. Aku merasa ada satu lengan yang menepuk-nepuk kepalaku.

"Menangislah sepuasmu. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku juga merasakan hal yang sama. Namun aku namja jadi tidak mungkin meluapkan segalanya dengan menangis." Ucap Kris. Aku memeluk Kris dan menangis sejadi-jadinya di dadanya.

"Jangan merasa kau kuat, Lu. Luhan yang aku kenal memang terlihat kuat namun hatimu tidaklah sekuat penampilanmu." Aku mendengarkan ucapan Kris. Tangisku semakin menjadi-jadi.

"Kris... Hanya ini yang bisa aku lakukan... Kita harus membiarkan mereka bahagia, Kris..." ucapku sambil terisak.

"Bahagia? Kau sendiri malah menyakiti hatimu seperti ini. Kau pikir dengan begini Sehunmu itu bisa bahagia? Tidak, Lu."

"Aku bisa apa? Aku tidak bisa apa-apa Kris. Hanya ini yang bisa aku lakukan." Aku semakin merasa bodoh.

"Ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Tidak harus dengan menyakiti hatimu seperti ini." Aku tidak bisa berpikir lagi. Aku hanya bisa meluapkan kekecewaanku, sakit hatiku dengan menangis. Mengangis di dada Kris ditemani guyuran hujan yang semakin deras.

SKIP

Aku duduk di depan sebuah meja rias. Mataku menatap intens wajah yang terpantul di cermin itu. Itu adalah wajahku. Seorang yeoja yang sudah terlihat cantik dengan gaun putih yang dikenakannya. Hari ini adalah hari pertunanganku. Baba dan mama yang merencanakan semuanya. Dan kenapa harus di hari yang sama dengan pertunangan Sehun dan Tao?

"Luhan... Kau sudah siap?" Tanya mama yang baru saja masuk menemuiku.

"Ne, mama..." jawabku dan aku pun berjalan keluar meninggalkan ruangan itu menuju ke tempat diselenggarakannya pesta pertunanganku.

Pandangan tamu semua tertuju padaku saat aku mulai masuk ke dalam hall besar yang ada. Aku mengukir seulas senyum simpul. Pertunangan ini masih tetap berlanjut padahal aku dan Kris sudah melakukan berbagai macam cara agar bisa membatalkan pertunangan ini.

"Lu?" Aku mendengar ada seseorang yang memanggilku. Dan suara itu... Suara itu suara yang sangat aku rindukan. Suara itu milik...

"Sehun?" Aku terkejut saat melihat siapa namja yang ada dihadapanku sekarang. Dia Sehun!

"Apa maksud semua ini?" Tanyanya sambil menatap appa dan eommanya, meminta penjelasan. Aku pun bingung dengan semua keadaan ini. Aku edarkan pandangan ke sekeliling namun tidak aku dapati baba dan mama. Dimana mereka?

"Terkejut? Hahaha..."aku menatap paman Oh dengan pandangan tidak mengerti.

"Appa aku serius. Sebenarnya apa maksud semua ini? Lalu Tao? Dimana dia?" Ucap Sehun. Benar bukankah harusnya aku juga akan bertunangan dengan Kris? Dan dimana dia?

"Aku disini..." jawab Tao yang baru saja tiba dengan Kris? Mereka saling bergandengan? Aku semakin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

"Kalian? Semua ini?"

"Kami baru saja menyelenggarakan pertunangan kami." Tao dan Kris sama-sama menunjukkan sepasang cincin yang mereka kenakan.

"Mwo?" Teriakku bersamaan dengan Sehun.

"Lulu... Baba dan mama setuju dan sangat setuju kok jika kalian bertunangan apalagi menikah." Ucap baba dan mama yang juga baru masuk ke dalam hall.

"Jadi selama ini kalian..."

"Tentu saja. Kami mengetes cinta kalian. Dan nyatanya berhasil kan? Hahaha..." tawa kedua orangtuaku, kedua orangtua Sehun, Tao Kris dan kedua orangtua mereka meledak bersamaan.

"Jadi semua ini rencana kalian?"

"Tidak sia-sia kan rencanaku. Aku bilang juga apa. Pasti berhasil hahaha..."

"Appa!" Teriak Sehun pada appanya membuat semua yang ada tertawa.

Dan jadilah aku bertunangan dengan Sehun. Namja yang tadinya aku pikir sebagai bodyguardku ternyata seorang anak dari pengusaha sekaligus sahabat baba. Dan aku juga baru tahu jika Sehun yang dijodohkan denganku. Baba dan mama membohongiku jika bilang aku dijodohkan dengan Kris. Aishh ada-ada saja.

Aku dan Luhan sudah resmi bertunangan setelah kami bertukar cincin. Kini tidak ada yang perlu kami pusingkan lagi. Kami sudah bisa bersama-sama. Ya, aku harap kami akan bersama-sama selamanya. Ketulusan, kesabaran memberikan kebahagiaan untukku. Aku harap kebahagiaan ini akan selalu kami rasakan selamanya.

"Dan sekarang bisa kita rencanakan kapan pernikahan mereka. Bagaimana jika bulan depan?" Usul paman Oh.

"Ya appa!" Teriak Sehun. Dan semuanya pun tertawa. Aku pun hanya tersenyum saja melihat semua kebahagiaan yang ada dan yang kami rasakan.

THE END

Annyeonghasaeyo... Ketemu lagi dengan author nih si pembuat FF abal-abal bin gaje hahaha... Dan FF kali ini selesai huaaa lega... Mian sebelumnya atas keterlambatan buat ngeupdate FF ini dan cerita ini bertambah gaje. Thanks untuk yang udah baca FF author ini dan berkenankah untuk review? Saran-saran juga boleh heheh... Jangan lupa baca dan review juga ya 'I Love My Boss' nya. Itu yang Sehun POV nya. Byebye... See you soon at my new FF...

My Twitter:

Helloannyeongg (Mention for follback^^ Gomawo^^)