Melayucest Random Drabble

A Hetalia Axis Power Fanfiction

© Machairi

Sisi

.

Semua orang punya satu sisi lain, yang mereka tidak inginkan untuk dilihat oleh dunia.

Begitu pula Indonesia.

Sayangnya, Malaysia bisa mendobrak menembus batas pintu, dan berakhir dengan mengetahui sisi lain Indonesia tersebut;

"Ndon, aku mau pinjam—"

"samwan kal de dakter negapapabawaranjo, sarangde jigem overdoes. Sigani soro mori monchuneruneru piruhe—jigen sugan, yu in, MA H T—MALON? SEJAK KAPAN LU MASUK KAMAR GUE? HAH? TUTUP GAK, TUTUP GAK?"

Malaysia; umur tidak diketahui; di depan pintu kamar kakaknya; mematung sehabis melihat sang kakak menari ala boyband Korea sambil memakai headset dan muter – muter di lantai dengan suaranya yang rombeng abis.

Untung Malaysia punya mulut yang bisa dijaga—Negara lain tidak akan tahu apa yang biasanya dilakukan Indonesia selama di kamar sendirian,

Eh—masa sih?

"Indonesia! Kudengar kau suka boyband asal negaraku, da-ze?" South Korea menyapa Indonesia dengan cerah pada rapat beberapa bulan setelah kejadian, "Aku senang sekali. Ngomong – ngomong, boyband dan lagu tersebut memang milikku, da-ze! Terimakasih telah menyukainya!"

Ya—negara lain tidak ada yang tahu. Dalam impian Indonesia yang hanya tinggal menjadi abu.

.

Takut (1)

.

[[[dalam pesan teks]]]

Indonesia: MALON.

Indonesia: MALON WOY, DIJAWAB ATUH LA.

Indonesia: MALON!

Indonesia: Malaysia adikku sayang.

Malaysia: Kenapa, Ndon?

Indonesia: ELAH, MINTA DIJAWAB AJA RIBET BANGET.

Indonesia: Nah. Temenin gue aja. Gue takut.

Malaysia: Muka lu lebih nakutin.

Indonesia: Lon, serius.

Indonesia: Di dapur dari tadi ada hawa mistis, gue takut. Apalagi hujan, badai pula.

Indonesia: Gua sendirian. Dingin.

Indonesia: Malon? Lon?

Indonesia: Malaysia?

Indonesia: Malaysia, adikku sayang.

Indonesia: Malon, gue sendirian gini. Kasihan lah.

Indonesia: Yang sms gua cuma operator pula.

Indonesia: Malon, jawab, oy.

Indonesia: MALON.

Indonesia: MALON SERIUS INI.

Indonesia: MALON, SEKARANG ADA YANG NGETUK – NGETUK PINTU.

Indonesia: MALON, ADA SUARA PINTU KEBUKA, TAKUT OY.

Indonesia: MALON—

"Berisik,"

Indonesia mendongak, terkejut saat melihat sosok Malaysia di hadapannya. Basah kuyup, dari ujung rambut sampai ujung telapak kakinya, masih menggenakan kaus putih dan celana hitam yang ia pakai di kantor kementrian pagi tadi.

"Kenapa di sini?"

"Nemenin elo. Katanya takut? Yaudah, gua langsung ke sini abis dari kantor."

Indonesia mengirim Malaysia pesan, dan Malaysia langsung tiba di depan pintu rumahnya.

.

Takut (2)

.

[[[dalam pesan teks]]]

Malaysia: Ndon.

Malaysia: Sebenernya tak ada apa – apa sih,

Malaysia: Tapi air kamar mandi gue nyala sendiri tadi.

Malaysia: Bisa ke sini, sekalian ngebetulin kran, Ndon?

Indonesia: Bilang aja takut, kan?

Malaysia: Tak, lah! Macem mana aku takut.

Indonesia: Kalau takut juga, bilang aja, keleus.

Malaysia: Alah—

Malaysia: Ya, memang gue takut, sih.

Malaysia: Ndon?

Malaysia: Indon?

Malaysia: Lagi berangkat ke rumah gue ya? Eh, gua gak bakal berterimakasih, loh Ndon.

Malaysia: Ndon? Yang ngetuk pintu itu lu kan? Langsung masuk aja, lu punya kunci, kan?

Malaysia: Ndon, kok masih ngetuk juga?

Malaysia: Ndon—

Indonesia: Naon sih, Lon. Wong daritadi gue di rumah, lagi masak indo*mie.

Malaysia: Bohong terus. Nih, gua bukain pintunya.

Indonesia: Ya sono. Gua lagi nonton berita, nih. Neymar pilih Ronaldo untuk Balloon d'or.

Malaysia: INDON, DEPAN RUMAH GUE KOSONG.

Malaysia: TADI SIAPA YANG NGETOK,

Malaysia: NDON, KE RUMAH GUE PLIS.

Indonesia: Makasih, tapi gue lagi seru nonton Iannone ngalahin Marquez. Semoga survive, adikku sayang.

Malaysia: INDOON—

Malaysia tidur dalam balutan berlapis – lapis selimut. Di dalam hati, terus menerus mengutuk Indonesia, sambil berandai – andai jikalau dia bisa memiliki ilmu santet setinggi sang kakak. Mungkin dia harus belajar segala macam tentang santet, besok.

Malaysia mengirim Indonesia pesan, dan Malaysia langsung menyesali perbuatannya.

.

Alasan

.

"Ndon, masih makan coklat yang tadi?"

"Ini coklat yang baru kok, Lon."

"Loh, tambah lagi?"

"Iya, hehehe."

"Senang kali kau makan coklat… Pantas saja kau manis,"

"Hem? Lu tadi ngomong apaan, Lon?"

"Tak, di berita tadi katanya ada orang mati karena ngira bangkai cicak sebagai coklat, Ndon."

"…"

.

Ingatan

.

Sesungguhnya, Malaysia punya ingatan yang kuat.

Dia ingat, terakhir kali saat ia mengunjungi Negara sang kakak, mereka memutuskan untuk jalan – jalan menggunakan commuter line. Berkeliling dari kota Jakarta sampai ke kota Bogor—walau pada akhirnya, mereka turun di sebuah stasiun pada saat sudah bosan berada di dalam commuter (yang ngomong – ngomong, stasiun ini jauh sekali dari Jakarta Kota maupun Bogor)

Malaysia masih ingat; selepas turun dari kereta, mereka mampir ke salah satu minimarket dan memutuskan untuk membeli minuman dingin (dan ya; Malaysia ingat betul kalau cuaca saat itu sangatlah menyebalkan; panas, dia seperti jemuran yang sudah terlampau kering di bawah sinar matahari) Malaysia membeli sekaleng susu, Indonesia membeli sekotak jus rasa buah – buahan.

Dan bahkan, Malaysia masih bisa mengingat nomor taksi yang ia naiki bersama Indonesia saat itu. Sesuatu yang tidaklah penting untuk diingat.

Sayangnya, Indonesia mempunyai daya ingat yang terlampau berbeda dengan daya ingat milik sang adik,

"Malon, selamat ulang tahun! Wah, adikku tambah tua saja. Padahal terasa seperti baru saja kemarin kau terlepas dari England."

"…Ndon, tahu ini tanggal berapa?"

"Hem? Tanggal 30 Agustus?"

"—Oke, gini, Ndon. Pertama, hari ini tanggal 1 September, ok?"

"Oh ya? Wah, berarti kalenderku salah?"

"—kedua, dan yang terpenting, aku ulang tahun tanggal 31 Agustus, Indon."

"…Oh ya? Yah, pokoknya, selamat ulang tahun, adikku sayang. Ini, hadiah untukmu; sepasang kaus kaki berwarna merah dan putih. Dipakai yang sering, ya."

—dan lagi, kenapa hadiahnya harus berwarna merah dan putih, sih? Memangnya dia kira, siapa yang sedang ulang tahun?

((sequel: psst, jangan bilang Malaysia. Tapi sebenarnya, Indonesia sudah mengingat hari ulang tahun sang adik, sejak enam bulan yang lalu. Dan, jangan bilang Malaysia juga, kalau kalender di ruang kerjanya telah diganti ke tanggal September oleh Indonesia))

.

Hubungan

.

Jika ada yang bertanya, sebenarnya apa, sih, hubungan antara Indonesia dan Malaysia? Jawabannya sangat beragam; 1. Hubungan kakak-adik (Malaysia membantah ini, ya mana mau aku jadi adik si Indon? Katanya); 2. Hubungan tanpa status (Indonesia menolak hubungan ini habis – habisan. Jangan tanya kenapa); 3. Hubungan Internasional (Setelah sama – sama terdiam, baik Indonesia, maupun Malaysia akhirnya setuju. Hubungan mereka memang terasa seperti Hubungan Internasional biasa)

"Benarkah?" tanya Brunei, tidak percaya, "Menurut suatu website yang kemarin kubaca, Hubungan Internasional adalah Hubungan antarnegara yang memiliki tujuan yang sama untuk mencapai kepentingan kedua belah pihak," Brunei mengakhiri penjelasannya dengan batuk kecil, "Tapi, Kak Indo dan Kak Malay…"

Di pojok ruangan, Malaysia dan Indonesia masih sibuk berdebat; kali ini memperdebatkan tentang siapa yang bisa memakai koteka dengan gaya yang paling keren dan enak untuk dilihat;

"Ya akulah, Lon! Koteka itu kan asalnya dari tempatku. Kamu sih, malah jatuhnya jadi aneh,"

"Alah, tapi kan kau sudah sering memakainya. Biasanya, baju akan terlihat lebih keren pada orang yang jarang memakainya. Lihat kau pakai koteka itu sama saja dengan bikin bosan, Ndon."

"Pokoknya koteka dari tempatku, kamu itu hanya modal nyolong."

"Eh? Mau dicolong lagi rupanya? Sudah lama aku tidak mencolong barang – barangmu loh, Ndon."

"NAH ITU LU NGAKU KALAU LU SERING NYOLONG. HIH, BALIKIN SEMUA BARANG GUE, LON!"

"SIAPA SURUH LU SIBUK SENDIRI. BARANG DIBIARIN TANPA PENJAGAAN GITU. YA GAPAPA DONG KALAU KECOLONG."

Singapore menghela nafas, "Yah, mungkin memang benar kalau hubungan mereka adalah hubungan internasional…"

"Loh, tapi Kak Singa—"

"Brunei," Singapore memotong, "Mereka punya tujuan yang sama; mengganggu satu sama lain, untuk kepentingan yang sepele; kepuasan batin telah mengalahkan satu sama lain."

** T**

a/n: haloo! Machairi datang lagi, setelah malas – malasan teu pararuguh selama setahun lebih. Huhuhu, maafkan saya. Tapi keinginan untuk menulis sangat kecil dan keinginan untuk menggelar kasur lalu tidur sampai pagi menjelang terasa sangat besar.

Iya, tahu kok kalau chapter yang ini terasa lebih abal nan gaje daripada chapter sebelumnya. Banyak bahasa non-baku dan kata – kata slang tidak jelas, pula. Mohon dimaafkan, saya sudah masuk terlalu dalam ke suatu fandom lain yang bahasanya emang punya banyak kata slang (dan entah kenapa, saya malah suka sama kata – katanya huhuhu)

Dan ngomong – ngomong, SAYA BARU SADAR DI CHAPTER KEMAREN BANYAK SEKALI TYPO, YASALAM ADA APA ITU.

Sampai di sini saja, deh. Ffnya dikit, a/n nya banyak. Ff macam apa ini. pokoknya, terimakasih sudah membaca ff ini! kritik dan saran dibuka, dan beribu terimakasih lagi untuk yang sudah menyempatkan membacanya!

Sincerely, Machairi.

((ps: EXO's Overdose © SMTown))