LOVE AND PAIN
Chapter 2
Lady Ze, siwonniesm
WonKyu, YunJae
Warning! GenderSwitches, Sadist and Masochist (BDSM),
Not for under age(+18)
Summary:
Pada awal pernikahanku, masa depan kami terlihat begitu cerah. Hingga aku menyadari pasangan hidupku adalah seorang sadist. Rasa sakit yang tercipta menimbulkan ketakutan bagiku. Aku selalu mencoba untuk lari meninggalkannya, tapi hatiku menolaknya. Jadi, apakah aku seorang masochist?
.
.
"Hey, Kyunnie. Kemarilah." Aku bisa mendengar teriakan Siwon dari kamar kami, saat aku baru saja selesai mencuci piring.
Jantungku berpacu lebih cepat. Aku masih ingin menikmati Choi Siwon yang penuh dengan kelembutan, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Apakah dia akan memukulku jika aku menolak untuk melakukan itu? Aku meringis saat aku menyadari bahwa area terdalamku masih terasa begitu perih dan berdenyut sakit.
Aku baru akan menuju kamar saat aku menemukan Siwon sedang memandangiku dengan tatapan penuh cinta tidak jauh dari pintu kamar kami. Aku memaksakan untuk tersenyum dan meraih uluran tangan Siwon. Lalu mengikuti langkahnya yang menuntunku menuju ranjang.
"Oh, baby. Seandainya kau tahu betapa aku sangat mencintaimu." Ucap Siwon sambil membelai pipiku dengan sangat lembut.
Aku hanya diam, jantungku benar-benar tidak karuan. Aku tidak berani memikirkan tentang hal apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya. Aku takut. Sangat takut. Tapi kenapa aku sama sekali tidak membencinya setelah perlakuan kasarnya padaku tadi malam. Kenapa aku sama sekali tidak merasa marah?
"Kyunnie, apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" tanyanya lembut saat melihatku sama sekali tidak menanggapinya.
"Tidak ada, Siwonnie. Mungkin aku hanya sedikit... lelah." Jawabku hati-hati, takut membuatnya tersinggung dan marah.
Oh, Suamiku tercinta. Mengapa kau seperti dua sisi mata uang? Begitu berbeda. Kau sangat memanjakan dan menghujaniku dengan cinta di satu waktu, namun kau bisa berubah menjadi begitu gelap dan kasar di waktu yang lain. Aku meraih tangan Siwon dan menciumnya sambil memejamkan mataku.
"Apa yang telah kau lakukan padaku, Wonnie?" Siwon menatapku dalam kebingungan.
"Kenapa aku begitu mencintaimu? Tapi kenapa aku begitu takut disaat yang bersamaan?" Lanjutku pelan terus membelai punggung tangannya dengan ibu jariku.
"Apakah masih ada bagian dirimu yang tidak ku ketahui? Aku benar-benar mencintaimu, Siwon. Sampai-sampai dadaku terasa begitu sesak karena luapan rasa cintaku untukmu." Aku mulai terisak saat dia telah merengkuh tubuhku didalam dekapannya.
"Kyu..." Dia mengelus rambutku lalu mencium puncak kepalaku.
"Inilah aku dan kehidupanku, Kyu. Aku memang seorang sadist. Tapi Aku, Choi Siwon, benar-benar mencintaimu, Kyuhyun. Benar-benar dan sangat mencintaimu. Bahkan sejak pertama kali mataku menangkap sosokmu di restoran waktu itu, cinta itu telah ada, Kyu. Aku tidak tahu bagaimana aku akan melanjutkan hidupku bila kau tidak berakhir menikah denganku seperti sekarang."
Ucapannya seperti sihir ketenangan yang datang entah dari mana. Tapi kenyataannya adalah dia seorang sadist. Sedangkan aku? Aku hanyalah wanita biasa yang mengimpikan kehidupan pernikahan seperti wanita kebanyakan. Memiliki anak dan melanjutkan hidup dengan bahagia sampai akhir hayat. Aku bahkan dilahirkan dengan sedikit jiwa pemberontak. Apakah aku akan bisa menuruti setiap keinginan Siwon saat kami bercinta? Apakah aku bisa mengimbangi kehidupannya yang begitu berbeda denganku?
.
.
"Hey, Kyu. Lihat orang itu sejak tadi hanya memandangimu." Aku menoleh kearah yang ditunjuk oleh Changmin.
Disana, ada seorang pria tampan beralis tebal yang menatap kearahku. Saat matanya bertemu dengan mataku, aku hanya menundukkan kepalaku sedikit. Entah kenapa detak jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Tatapan mata itu seperti menelanjangiku. Begitu dalam dan tajam.
"Ahh, itu perasaanmu saja." Ucapku sambil berusaha menepis perasaanku sendiri.
Aku berusaha melanjutkan pekerjaanku dan tidak memikirkan pria yang menatapku tadi. Tidak biasanya aku terpengaruh dengan tatapan seorang pria. Karena jika boleh jujur aku tidak terlalu tertarik untuk terlibat lebih jauh dengan lawan jenisku. Karena jika aku melihat ke sekitarku, tidak sedikit temanku yang dicampakkan begitu saja oleh makhluk-makhluk penghuni planet Mars itu.
Aku mencuri pandang kearah pria tadi dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Dia sedang menikmati makanannya dalam diam sambil sesekali melemparkan pandangannya kearah tempatku berdiri.
"Siapa dia?" Aku menggumam pelan. Aku benar-benar telah dibuat penasaran sekarang.
Aku merasakan tepukan dibahuku dan mendapati Changmin mengulurkan sebuah nampan penuh makanan, sebelum berkata, "Daripada kau hanya melamun dan memikirkan si pria misterius, lebih baik kau antarkan ini ke meja 13."
"Apa maksudmu, Shim?" Aku melotot kearahnya sambil meraih nampan dari tangannya.
Aku berjalan menuju meja 13 yang kebetulan harus melewati meja 10 tempat pria tampan itu duduk. Aku melirik kearahnya tanpa berhenti berjalan. Dia sama sekali tidak menoleh saat aku melewati mejanya. Apa yang sedang kupikirkan? Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa saat dia tidak menoleh kearahku. Bodoh.
"Silahkan menikmati makanannya." Ucapku sambil tersenyum manis, setelah menempatkan makanan pesanan di meja 13 dengan rapi.
Aku lalu membawa nampan itu dan mendekapnya didepan dadaku. Tiba-tiba aku terjungkal kebelakang dan terjatuh diatas pantatku di lantai dan nampan yang tadi aku pegang mengenai kepala orang yang aku tabrak. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Terlalu cepat dan mendadak. Aku meringis sambil mengelus pantatku. Perlahan aku mengangkat kepalaku, takut.
"Yaah! Apa yang telah kau lakukan? Ya Tuhan, kau punya mata atau tidak?" Badan orang itu cukup besar dan tinggi. Matilah kau, Kyu!
Aku terburu-buru bangun dan membungkukkan badanku. "Ah, Mianhaeyo. sekali lagi maafkan aku."
"Tch! Kau pikir maafmu bisa menyembuhkan kepalaku yang sakit karena nampan terbangmu itu?! Hahh!" Oh Tuhan, orang ini benar-benar menyeramkan dan telah mempermalukanku.
Aku telah menjadi pusat perhatian pengunjung restoran ini, aku merasakan tangan besar dan kasar mencengkram lenganku. Apalagi ini?
"Aww.." Aku meringis sambil sedikit meronta berusaha melepaskan lenganku dari cengkraman pria besar itu.
"Ayo ikut aku. Kita datangi manager restoran ini. bagaimana bisa dia mempekerjakan gadis ceroboh sepertimu?" Pria itu mendesis lalu menarikku untuk mengikutinya.
Tapi baru saja dia akan melangkahkan kakinya, tangannya yang bebas di tahan oleh seseorang sehingga dia terpaksa harus menghentikan langkahnya. Aku menoleh dan melihat si pria misterius tadi sedang memandang dengan tatapan yang... marah. Aku menahan nafasku saat dua pria itu terlihat seperti akan saling membunuh. Oh Tuhan, ini jelas sekali bukan keinginanku.
"Apa-apaan kau? Apa kita punya urusan?" celetuk si pria besar sambil tertawa mengejek.
Si pria misterius tersenyum tapi lebih terlihat seperti seringaian di mataku. Aku menatap kearah kasir dan menemukan Changmin menatap khawatir kearahku.
"Kurasa tidak." Si pria misterius melepaskan cengkraman tangan si pria besar lalu mengelus lenganku yang sedikit berdenyut dengan lembut. Sentuhan itu membuatku merasakan ribuan kupu-kupu terbang diperutku. Setelah itu, dia memandang si pria besar sebelum berkata,
"Tapi itu bukanlah cara yang seharusnya dilakukan seorang pria kepada seorang wanita yang cantik ini. Bukankah dia telah meminta maaf padamu?" Ucapnya sambil menoleh sebentar kearahku yang merona karena secara tidak langsung dia telah melemparkan pujiannya untukku. Bagaimana mungkin aku bisa merasa sesenang ini disaat keadaan genting seperti sekarang hanya karena sebuah pujian dari seorang pria yang bahkan tidak aku kenal?
"Hey bung. Ini sama sekali bukan urusanmu. Dia telah menabrakku dan membuat kepalaku cidera. Sudah sewajarnya aku merasa marah." Si pria besar mendengus kesal setelah menunjuk kearah keningnya yang sedikit membiru.
Si pria misterius tersenyum, tidak ada tanda jika dia merasa kesal atas ucapan si pria besar itu. Dia memasukkan tangan kanannya kedalam kantong celana yang dia kenakan. Dia memandang kearahku yang hanya terdiam dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka.
"Aku melihat semua kejadian yang terjadi tadi, kurasa itu sepenuhnya bukan kesalahan wanita cantik ini. Karena tadi kau jelas-jelas tidak memperhatikan jalanmu dengan baik. Apa lukamu butuh perawatan? Berapa yang kau inginkan?" Tanyanya dengan santai sambil mengeluar kartu namanya dari dompetnya.
Si pria besar mengambil kartu nama yang diulurkan oleh si pria misterius. Saat melihat apa yang tertulis di kartu nama itu, matanya terbelalak telihat kaget dan raut wajahnya langsung berubah pucat dan terlihat sangat panik. Aku mengerutkan keningku. Ada apa dengannya?
"A—aku rasa yang itu tadi b—bukan masalah besar, Tuan." Ucapannya sedikit terbata, lalu dia membungkukkan badannya pada si pria misterius ini.
Perubahan itu terjadi begitu cepat, aku hanya bisa mengerjapkan mataku. Tidak percaya. Selesai hanya dengan kartu nama. Siapa dia sebenarnya? Aku terlonjak kaget saat aku merasakan bahuku diremas lembut oleh seseorang. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sampai aku tidak menyadari jika si pria misterius itu sedang bicara denganku.
"Hai, apa kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya begitu lembut dan menyihir.
Entah darimana aku dapat menemukan suaraku kembali dan menjawab pertanyaan pria misterius itu. "Euhm. Y—ya." Aku melihat kearahnya yang sedang menatapku dengan tatapan sendu dan begitu teduh. Lagi-lagi ribuan kupu-kupu hinggap disekitar perutku, ada desiran aneh mengalir diseluruh tubuhku. Oh Tuhan, tatapan itu benar-benar mengacaukanku.
"Bagus. Aku pikir kau akan lebih berhati-hati lagi dan lebih memperhatikan jalan saat kau melewati bagian ini." Dia tertawa ringan, membuatku mau tidak mau ikut tertawa. Tawa itu mengalirkan kenyamanan padaku yang sejak tadi hanya dapat merasakan ketegangan dan rasa takut.
"Baiklah, aku rasa aku harus pergi." Dia tersenyum singkat lalu berjalan melewatiku yang bingung harus melakukan apa.
Aku tiba-tiba teringat tentang sesuatu yang seharusnya aku katakan sejak tadi. Aku berjalan cepat untuk mengimbangi langkah kaki panjangnya. Aku menghentikannya sebelum dia membuka pintu kaca restauran. Dia menoleh menatapku dengan tatapan bingung.
"Terima kasih..." Kalimatku menggantung saat aku menyadari, aku sama sekali belum berkenalan dengan pria dihadapanku ini. Aku menepuk keningku. Terkadang aku menjadi sangat bodoh.
"Choi Siwon."
"Huh?"
"Namaku. Dan sama-sama... Cho Kyuhyun. Itu bukanlah hal besar. Lain kali kau harus berhati-hati, Cantik. Bye!" Dia tersenyum setelah melihat kearah dadaku, kebagian tempatku menempelkan tanda pengenalku.
Belum sempat aku menjawab perkataannya, dia sudah membuka pintu dan keluar dari restoran. Aku tidak berhenti memandangi punggungnya sampai menghilang dari pandanganku. Orang itu... Namanya Choi Siwon. Dia adalah Choi Siwon.
.
.
"Oh, Siwonnie..." Aku merasakan tangan Siwon mulai melepaskan pakaian yang aku kenakan sambil menciumi leher dan bahuku. Bibirnya terus turun melewati belahan dadaku. Meninggalkan kecupan basah yang membuatku gila. Aku bahkan tidak dapat mengingat namaku.
Kenikmatan yang kurasakan bercampur dengan rasa takut dengan pikiranku yang begitu panik. Aku takut memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Apa dia akan menamparku lagi? Apa dia akan terus tetap menjadi seorang sadist? Aku mengerang saat merasakan bibir lembutnya menciumi perutku. Sementara tangannya meremas lembut dadaku yang sudah mulai menegang. Ciumannya terus turun hingga kebagian terdalamku.
Aku membuka mataku, menatapnya nanar. Aku benar-benar tidak ingin tahu dan tidak ingin memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya.
"Oh, baby. Kau benar-benar indah. Sangat cantik."
Aku memandangnya dan berniat menyentuh wajahnya saat dia menahan tanganku dan mengarahkannya ke kancing kemeja yang dia kenakan. Tanpa dia suruh aku mulai membuka kancing-kancing itu dan membebaskannya dari setiap pakaian yang melindungi tubuhnya.
"Stop. Tugasmu sudah selesai, sayang." Suara Siwon menghentikan gerakan tanganku yang berniat menyentuh perutnya yang sangat indah. Hatiku berteriak ingin menyentuh setiap inci bagian tubuhnya.
"Aku ingin menyentuhmu." Bisikku pelan.
"Berbaring, Kyunnie!" dia berteriak seolah tidak mendengar bisikanku, dan itu membuatku sedikit tersentak dengan perubahan nada suaranya.
Aku membaringkan tubuhku. Berusaha menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Aku tidak boleh menangis sekarang. Kemana pria lembut dan penyayang yang begitu aku cintai?
Siwon mengambil borgol dari dalam laci disebelah ranjang. Lalu dia meraih pergelangan tanganku dan memasangkan benda yang paling kubenci itu di sana sedangkan bagian yang lain dia pasangkan di ranjang. Lalu dia melakukan hal yang sama pada tanganku yang masih terbebas. Wajah itu begitu dingin sekarang. Kemana wajah penuh cinta yang begitu aku sukai?
"Jangan bergerak, sayang. Atau aku tidak akan membiarkanmu mencapai puncak kenikmatanmu malam ini." bisikannya begitu pelan, lembut tapi terdengar penuh dangan ancaman di telingaku.
Aku menggigit bibir bawahku sambil memejamkan mataku. Tangisku seketika itu juga pecah saat aku mengingat wajah umma-ku. Seharusnya aku mendengarkan perkataannya. Aku menangis dalam diam, berharap Siwon tidak menyadarinya.
Dia menjambak rambutku sebelum berkata, "Katakan jika kau mencintaiku, Kyu."
Aku hanya memandangnya berusaha mencari siapa sebenarnya orang sedang bersamaku sekarang. Apa benar dia seorang Choi Siwon yang aku cintai? Aku mengatup rapat bibirku. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
"Cepat katakan, Cho Kyuhyun." Dia menarik rambutku lebih kencang. Sakit.
"A—aku mencin—taimu." Ucapanku terbata bersamaan dengan air mataku yang kembali turun melewati pipiku.
Siwon menyeringai, melepaskan rambutku lalu menghapus airmataku.
"Jangan menangis, baby. Karena aku akan membawamu ke surga kenikmatan kita."
Aku mengerang saat dia menciumi bagian paling berhargaku. Aku berusaha menahan desahanku. Oh Tuhan, bagaimana bisa bibirnya bisa membuatku begitu bergairah?
Bibirnya mencium bibirku dengan keras dan sedikit kasar. Aku berusaha membalas ciumannya sebisaku. Tapi ciuman itu begitu liar dan panas. Seluruh tubuhku terasa begitu lemas. Mulut Siwon berpindah ke payudaraku, dan menggigitnya dengan kuat. Meninggalkan rasa perih disana. Tapi membuat bagian bawahku menjadi begitu basah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin menikmati cara bercinta yang abnormal ini? Aku tidak ingin mendapatkan kenikmatan dari setiap rasa sakit yang Siwon berikan padaku.
Aku bergerak gelisah sehingga posisi badanku sedikit melengkung kebagian samping. Siwon menatapku dengan tatapan marah. Oh Tuhan, aku telah membangkitkan jiwa gelap itu.
"Sudah kubilang kau tidak boleh bergerak, honey." Bisiknya.
Lalu dia menampar pantatku dengan keras. Sangat sakit dan terasa begitu panas. Aku yakin aku tidak akan bisa duduk dengan tenang setelah ini. Lalu dia kembali menampar pantatku, tak kalah keras dengan tamparan yang pertama. Aku menggigit bibir bawahku, mencegah mulutku untuk mengeluarkan erangan kesakitanku. saat memejamkan mata, aku bisa merasakan tangan Siwon mengelus pantatku dengan lembut lalu menghujaninya dengan beberapa kecupan.
Ya Tuhan. Siksaan ini terasa begitu menyakitkan tapi terasa begitu merangsang dan nikmat diwaktu yang bersamaan. Tapi di sudut hati tidak berhenti berteriak bahwa ini bukanlah hal yang sebenarnya kuinginkan.
Siwon membuka kakiku selebar mungkin, sebelum memasukkan dua jarinya sekaligus kedalam diriku. Aku meringis saat rasa perih langsung menghampiriku. Jari-jarinya bergerak didalamku. Siwon menyeringai lalu mencium bibirku dan meremas payudaraku dengan kasar. Siwon membebaskan bibir dan payudaraku. Dia mengeluarkan dua jarinya dari tubuhku. Kemudian dia memposisikan dirinya dan langsung melesak masuk kedalam diriku. Aku melengkungkan tubuhku, dan meringis tertahan.
Siwon mulai bergerak dengan cepat dan keras. Sementara aku menjadi gila, aku tidak bisa lagi membedakan antara kenikmatan dan rasa sakit yang mengalir bersamaan di seluruh bagian tubuhku. Pergelangan tanganku sangat sakit dan bagian bawahku begitu perih namun gerakan Siwon yang begitu cepat dan kasar mengalirkan desiran kenikmatan yang begitu berbeda pada tubuhku. Aku mulai mendesah nikmat. Aku ingin menyentuhnya. Mataku menatap nanar kearah tubuh Siwon yang mulai berkeringat.
"Siwon—nnie..." desahku.
"Apa yang kau inginkan sayang?" Suara itu benar-benar terdengar mengintimidasi dan berbahaya.
"A—aku ... Ahh.." Lidahku terasa kelu dan tak karuan.
Aku benar-benar sudah berada di jurang itu. Di tepi kenikmatan yang mengalir bersama dengan gairah yang telah sampai kepuncak kepalaku. Gerakan Siwon semakin cepat dan liar. Ini benar-benar menyiksa.
"Siwon..." Aku berteriak saat gairahku meledak mencapai puncaknya.
Siwon juga menemukan puncaknya tidak lama setelah aku yang masih belum sepenuhnya kembali ke bumi. Itu tadi benar-benar liar dan bergairah. Aku meringis saat Siwon membebaskan dirinya dari dalamku. Perih.
"Siwonnie... A—aku... bolehkah aku menyentuhmu sekarang?" aku benar-benar akan gila jika dia masih tidak memperbolehkanku menyentuhnya sekarang.
Dia tersenyum lembut. Wajah itu... Wajah itu telah kembali. Tatapan penuh cinta favoritku. Siwon melepaskan borgolku lalu mengecup pergelangan tanganku dengan lembut. Lalu dia berbaring di sebelahku, dan mendekapku. Dia menyelimuti tubuh polos kami. Aku memposisikan diriku senyaman mungkin sebelum menelusuri perut dan dadanya dengan jariku.
Dia memandangku penuh cinta dan menciumku dengan lembut, sangat lembut. Aku membalas kecupannya. Aku sama sekali tidak merasa marah dan benci padanya setelah perlakuannya padaku tadi.
"Tidurlah, Kyu. Aku mencintaimu." Bisiknya sambil mengecup puncak kepalaku.
Aku menggumam dan memejamkan mataku. Aku takut. Bukan padanya. Tapi pada diriku sendiri. Aku takut jika aku menemukan kenyataan bahwa aku terlahir sebagai seorang... masochist. Aku... tidak ingin menjadi salah satu dari penikmat cara bercinta yang abnormal ini. Aku mencintainya, apakah itu berarti aku harus menjadi seorang masochist?Atau tidak?
-siwonniesm-
TBC
Hai, thank you buat yang sudah menyempatkan meninggalkan review..
Cukup membuat kami bertambah semangat. Hehehe
Ini chapter 2, semoga tidak mengecewakan ya...
Oh ya, mau bilang HAPPY BIRTHDAY buat salah satu unnie kesayanganku, Anies Unnie. I love you unn ^3^
Wish you all the best...
Silahkan tinggalkan jejak dikotak review readers ^^
See you in the next chapter ...
