Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Adventure, family, Romance
Pairing: Naruto U. & Sakura H. Sasori & Ino
Setiap chapter mungkin akan berbeda-beda pairingnya tapi NaruSaku tetap ada kok
Warning: AU, OOC, kata-kata tidak baku, gaje, abal
Don't like don't read~!
.
.
.
~Happy Reading~!
.
.
Summary:
Pada zaman dahulu kala para Dewa-Dewi hidup dengan damai di khayangan. Hidup dengan saling mencintai dan saling mengasihi hingga prahara itu terjadi para iblis mulai mengancam kehidupan bumi dan harus ada yang menghentikan iblis itu maka pada malam itu ditetapkan anak dari sepasang Dewa-Dewi harus merelakan anak mereka turun ke bumi untuk membantu umat manusia. Kini dimulailah perjuangan anak-anak Dewa itu di bumi.
.
.
.
.
.
chapter 2
Senja belum tua, tapi langit sudah berwarna merah saga. Tidak biasanya warna langit sore saat itu sangat merah warnanya. Banyak orang yang menyangka bahwa langit sedang terbakar dan mungkin akan runtuh. Memang mengerikan pemandangan sore saat itu membuat orang-orang semua panik dan jalanan pun macet dua kali lipat dari kemacetan biasanya.
Jeggggaaaarrr...
Suara halilintar mengejutkan para penghuni kota Tokyo dan sekitarnya. Dentuman itu tergolong cukup keras. Sudah dua kali terjadi kilatan cahaya guntur berwarna biru kemerah-merahan yang menorehkan langit merah dan mengeluarkan dentuman yang membuat permukaan bumi semakin bergetar. Mengerikan memang. Apalagi orang-orang yang saat itu masih berada di kantor. Mereka dilanda kepanikan dan juga ketakutan. Sebab bangunan manapun yang tingginya lebih dari lima lantai akan merasakan getarannya dengan jelas.
Sakura yang kebetulan saat itu sedang di dalam mobil hijau gioknya bersama si Putra matahari, Naruto. Saat itu mereka sedang menuju ke apartement Naruto. Sebenarnya Naruto bisa pulang sendiri dengan mobilnya, hanya saja saat itu mobilnya tiba-tiba mogok dan tidak bisa nyala terpaksa Naruto mencari Taxi, tapi entah merasa beruntung atau senang dia bertemu dengan pujaan hatinya Putri alam.
"Bukankah kau bisa menggunakan kekuatanmu untuk memperbaiki mobilmu." Gerutu Sakura yang merasa dongkol harus mengantar pulang Naruto ke apartementnya sedangkan dirinya sendiri saat ini sedang ada janji dengan sahabatnya yang membutuhkan pertolongannya.
"Hehehe, kaukan tahu aku tidak ingin menggunakan kekuatanku kalau bukan hal yang darurat saja Sakura-chan." Cengir Naruto. Sedangkan Sakura mendengus. Naruto memang selalu seperti itu dia tidak mau menggunakan kekuatannya kecuali dalam darurat. Ya Naruto bukanlah orang yang suka pamer kekuatan sembarangan. Walau beberapa orang terdekatnya tahu bahwa Naruto adalah anak Dewa tapi dia bersikap layaknya manusia biasa. Seperti orang yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa.
Bleggaaarrrr ...
Suara halilintar terdengar lagi. Kilatan cahaya biru kemerahan seperti pedang ingin membelah bumi. Cahaya itu diikuti dengan dentuman menggelegar yang mengejutkan manusia bumi. Permukaan bumi bergetar lagi kali ini getarannya terasa cukup kuat dan lebih terasa jelas guncangannya. Dinding kaca ruko mengalami keretakan. Mungkin beberapa tempat lain juga mengalami hal yang sama. Sehingga tingkat kepanikan manusia pun makin bertambah parah.
Jalan yang mereka lewati pun macet total. Bunyi klakson bersahutan di jalur macet itu memperkuat ketegangan jiwa manusia. Tapi mobil yang dikemudikan oleh Sakura yang hijau giok itu tidak ikut menyuarakan klaksonnya. Gadis pink itu menjalankan mobilnya dengan pelan-pelan.
Naruto dan Sakura tetap duduk tenang bersandar pada tempat duduknya. Malah terkesan santai sekali. Barangkali mereka berdua adalah satu-satunya yang tidak terkejut mendengar dentuman dasyahat sang halilintar. Meski semua kaca mobil tertutup rapat, toh dentuman besar itu masih bisa dirasakan di dalam mobil mereka. Tidak seperti orang-orang yang berada di jalanan mereka semua pada berteriak ketakutan sambil berlari mencari perlindungan.
"Bisa telat kalau macetnya seperti ini. Mana masih jauh lagi," Gerutu Sakura merutuki kemacetan yang terjadi.
"Siapa bilang kita masih jauh," Ucap Naruto. "Tinggal masuk ke pintu gerbang apartement kok dikatakan masih jauh? Giamana sih kamu, Sakura-chan." Goda Naruto sambil nyengir.
Hahhh...!
Mata Sakura terbelalak kaget. Lalu pandangannya beralih kesana kemari dengan bingung. Ternyata saat itu mereka sudah berada di depan gerbang elite apartementnnya Naruto.
"Sialan. Kamu ngerjain aku, ya." Seru Sakura ketus sambil memukul bahu Naruto berulang kali dengan kedua tangannya. Sedangkan yang dipukul hanya tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai si Putri alam.
"Gak lucu tahu."
"Hahahaha, tapi mukamu yang memerah sambil marah-marah itu lucu sekali Sakura-chan."
Sakura mendengus sebal dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah antara malu dan juga kesal karena berhasil dikerjai oleh Putra mataharinya Minato-sama. Naruto tersenyum tipis melihat Sakura yang cemberut, dengan lembut Naruto menarik dagu Sakura dan menghadapkannya. Kini mata Shapirre dan Emerald bertemu. Entah kenapa Sakura di buat gugup oleh Naruto yang memandangnya tajam dan juga serius. Entah kenapa melihat sosok Naruto seperti ini membuat pemuda itu keren di matanya. Sakura mencoba menyadarkan dirinya sendiri tapi dia sudah terlanjur jatuh dalam tatapan. mata biru lautnya Naruto.
Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, hidung mereka saling bersentuhan dan tanpa sadar kini bibir mereka telah bertemu. Bibir ranum Sakura telah berhasil dicium oleh Naruto. Dan dengan lembut Naruto melumat bibir menggoda itu. Hanya semenit Naruto menawan bibir Sakura dan setelah itu dalam hitungan tiga detik Naruto sudah hilang dari hadapan Sakura. Menyisakan gadis itu seorang diri di dalam mobil yang terbengong-bengong. Tiba-tiba saja wajah kembali memerah hingga...
"SIALAN KAU NARUTO!"
.
Naruto yang kini telah berada di balkon kamarnya hanya bisa terkekeh geli melihat Sakura yang marah-marah di dalam mobilnya. Dan tiba-tiba saja ia menyentuh bibirnya yang baru saja mencium bibir ranum Sakura, seketika pipinya bersemu merah mengingat apa yang telah di perbuatnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia suka sekali mencium bibir Sakura dan Sakura tidak sama sekali menolaknya. Kalau dulu dia pasti akan dihajar habis-habisan oleh Sakura tapi semenjak insident beberapa bulan yang lalu ketika racun kemesraan menghipnotis dirinya dan Sakura ia suka sekali mencium bibir sakura tanpa minta persetujuan dari Putri alam. Semenjak saat itu setiap ada kesempatan bertemu dengan Sakura, Putra matahari itu akan menciumnya baik dimana pun mereka berada sekali pun di depan banyak orang dan Sakura tidak menolak sama sekali atau menghajarnya.
"Shiittt." Naruto merutuki dirinya sendiri yang saat ini tengah menegang. hanya membayangkan dia berciuman dengan Sakura sudah membuat di dalam celananya berdiri. Dan tentu saja ia langsung masuk ke kamar mandinya dan menuntaskan hasrat lelakiannya.
Sakura memasuki ruang tamu Mei Terumi dengan perasan campur aduk. Masih ingat dibenaknya ciuman yang beberapa jam yang lalu bersama Naruto. Entah kenapa akhir-akhir ini Naruto selalu menciumnya dan dirinya tidak pernah menolak malah dirinya merasa senang di cium oleh Naruto. Sakura menggelengkan kepalanya cepat menghilangkan bayangan ketika Naruto menciumannya. Tidak dia tidak boleh naruto menciumnya lagi bisa gila dia lama-lama menghadapi anak dari Minato-sama itu.
"Brengsek bocah rubah itu. Awas ja kalau ketemu nanti." Geram Sakura.
"Ada apa denganmu Sakura-chan." Tegur wanita paruh baya yang diketahui Sakura adalah orang tua Mei Terumi. Tsubaki Terumi. Wanita itu menyodorkan minuman di depan Sakura.
"Tidak, aku tidak apa-apa Oba-san," Ucap Sakura mencoba stabilkan amarahnya. "Arigatou."
"Hmmm."
Menyadari keanehan pada diri mama Mei Terumi Sakura pun bertanya, "Ada apa Oba-san? Kok mukanya pucat?"
Tsubaki Terumi adalah wanita berdarah Spanyol dan Paris orang tua dari Mei Terumi yang saat ini satu profesi dengan dirinya yaitu menjadi model dan juga seorang artis.
"Syukurlah kau datang cepat. Keadaan Mei semakin menyedihkan, Sakura-chan."
"Memang dimana dia sekarang, Oba-san?"
"Ia ada diruang tidur bersama ayahnya dan manejernya. Masuklah ke dalam."
Sakura dan Tsubaki segera bergegas masuk ke ruangan dimana Mei berada.
"Astaga? Apa yang terjadi?" Pekik Sakura kaget ketika melihat keadaan Mei Terumi yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Saat itu ia mengenakan baju kaos berwarna putih dengan celana jeans biru. Tapi yang membuatnya kaget adalah baju itu telah penuh bercak darah, ada yang sudah lembab ada pula yang masih segar. Darah segar itu terlihat membasahi pundak, hingga mengalir ke bantal yang dipakai Mei saat itu. Agaknya darah itu keluar dari kedua telinganya.
Putri alam meringis melihat keadaan sahabatnya yang mengerikan seperti itu. Padahal tadi siang ia masih sempat bertelfonan, meminta dirinya agar segera ke rumahnya.
"Aku tidak menyangka kalau sudah separah ini Oba-san," ujar Sakura sedih.
"Keadaan Terumi belum separah ini sebelumnya Sakura," ucap Tsubaki dengan isakan kecil yang ditahannya agar tidak keras. "Tadi hanya mengeluarkan cairan bening yang berbau amis dari hidung dan mulutnya. Tapi tubuhnya sudah mengelepar-gelepar membuat saya ketakutan melihatnya."
Tsubaki menjelaskan secara detail apa yang dilihatnya sejak ia datang ke apartement anaknya itu sampai Sakura datang. Menurutnya suara dentuman guntur aneh di angkasa yang sejak tadi menakut-nakuti umat manusia itu membawa pengaruh buruk pada diri Mei Terumi. Dentuman halilintar pertama terjadi telah membuat Mei Terumi mengelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih, sambil mengeluarkan cairan putih bening berbau amis dari mulutnya. Sejak itu Mei sulit berbicara.
Dentuman kedua berikutnya membuat tubuh Mei mengelepar lagi, tapi kali ini yang keluar dari mulut dan hidung adalah darah segar yang kental. Saat itu Mei hanya bisa mengerang pelan. Tsubaki hanya bisa menangis menceritakan kejadian yang menimpa putri satu-satunya itu. Dengan di saksikan mata kepalanya sendiri, anaknya itu akan menggelepar setiap bunyi dentuman halilintar. Dari lubang mulut, hidung, telinga dan bahkan lubang vitalnya sekali pun juga ikut menyemburkan darah segar. Tubuhnya menyentak-nyentak seperti orang sedang sekarat, tapi hanya beberapa saat. Sekitar dua menit setelah itu tenang kembali.
"Tapi dia sudah sama sekali tidak bisa bicara selain mengerang lemah. Tenaganya pun sepertinya berkurang secara drastis," ucap Tsubaki. "Seprai dan pakaian ini baru saja ku ganti untuk yang kedua kalinya, tapi karena tadi ada suara petir, maka dia mengalami hal serupa. Jadi aku belum sempat menggantinya. Tolong dia Sakura, tolonglah dia, sembuhkan anakku." Mohon Tsubaki sambil menangis tersedu-sedu meratapi nasib anaknya yang terbaring tidak berdaya. Suami Tsubaki yang melihat istrinya menangis seperti itu segera memeluknya erat, menenangkan sang istri. Sakura mengangguk-angguk tanda mengerti betul perasaan orang tua mana yang mau lihat anaknya kesakitan seperti itu.
Siapa pun orangnya tidak akan tega melihat keadaan Mei Terumi yang kesehariannya dikenal sebagai wanita cantik yang ceria dan murah
senyum. Memiliki rambut pirang sepanjang punggung. Daya tarik sensualitasnya cukup tinggi, terutama jika dilihat dari bentuk tubuhnya yang sintal,sexy, berpinggul indah, ramping, ditambah bibirnya yang memancing hasrat lelaki untuk segera di lumatnya. Ia memiliki sepasang mata hijau yang bulat, berbulu lentik dan beralis tebal. Serasi dengan bentuk hidungnya yang mancung di tengah garis oval wajahnya. Sekarang semua daya tariknya kini lenyap. Tinggal bekasnya yang masih samar-samar.
Kulit wajah terlihat pucat pasi dihiasi bercak-bercak darah yang belum dibersihkan. Pipinya terlihat tirus hingga terlihat tulang pipinya menonjol keluar. Mata hijaunya yang sangat indah kini terlihat cekung dan sayu. Semua tidak termasuk Sakura merinding melihat sebentuk kecantikan dari Mei Terumi berubah menjadi seperti mayat hidup.
"Seharusnya tadi siang dia ada pemotretan dengan beberapa job bersamaku," kata manejer Mei. Iruka. "Tapi pukul sebelas dia menelponku dan mengatakan bahwa tiba-tiba saja sekujur badannya terasa pegal-pegal."
"Sejak kapan dia seperti ini Iruka-Nii?" Tanya Sakura.
"Aku nggak tau, pokoknya setiap halilintar menggelegar dia akan mengeluarkan darah."
Sakura menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Iruka. Ia memandang mata Mei yang terpejam. Sepertinya mata itu sudah tidak dapat melihat apa-apa lagi. Tentu saja Sakura tahu karena dia memeriksa Terumi dengan mata batinnya yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Blegaarrr
Tiba-tiba dentuman dahsyat terdengar lagi. Kali ini dentuman itu cukup nyaring dan juga menggetarkan permukaan bumi. Mereka menjadi tegang karena bangunan bertingkat dua puluh itu seperti mau runtuh. Untung hanya terjadi beberapa detik saja, setelah itu tenang kembali. Namun keadaan kamar Mei belum bisa tenang. Sebab saat itu tubuh Mei tersentak hingga dada serta perutnya terlonjak naik. Bersamaan dengan itu tersemburlah darah segar lewat hidung, telinga dan mulut. Agaknya bagian bawahnya juga menyembutkan darah segar walau tidak banyak.
Tubuh wanita berdarah Paris itu mulai mengelepar-gelepar memporakporandakan seprai dan bantal-gulingnya. Gerakannya cukup kuat dan brutal, sehingga sulit ditahan oleh ayah dan manejernya Mei. Mei Terumi mengelepar bagaikan ayam yang tersembelih, mulutnya mengeluarkan busa merah. Seolah-olah dia menderita penyakit epelepsi atau penyakit ayan, tapi sebenarnya tidak.
"Lepaskan saja!" Perintah Sakura yang ketika itu mundur serentak bersama mamanya Mei yang menangis hebat melihat putrinya seperti itu.
Putri alam segera menyodorkan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan mengadah. Tinggi kedua tangannya sebatas pinggang. Tapi dari kedua tangannya itu segera membias dua sinar hijau. Sinar itu mengangkat tubuh Mei dari atas ranjangnya. Guncangan menggelepar pun berhenti seketika. Kemudian dengan mata memandang tak berkedip penuh dengan kosentrasi, Sakura si Putri alam mengangkat tubuh Mei menggunakan bias sinar hijaunya.
Pelan-pelan tubuh Mei terangkat sedikit demi sedikit. Wanita itu masih merintih kecil. Ia masih tertidur saat itu hingga sinar hijau yang mengangkat tubuh rampingnya Mei Terumi kini membungkus wanita itu mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sementara itu, Putri alam sudah tidak mengeluarkan sinar hijau dari telapak tangannya lagi. Kali ini dia bebas bergerak, berbicara dan sengaja membiarkan badan Mei mengembang di udara. Ayah, ibu dan manejer Mei memandang tidak berkedip, terperangah tegang melihat kesaktian Putri alam. Mereka memang tahu Sakura bukan manusia biasa, ia adalah Putri alam yang mempunyai kekuatan besar. Tapi mereka belum pernah secara langsung melihat kesaktian Putri alam tersebut. Hanya mendengar dari omongan-omangan orang sekitarnya yang dekat dengan Putri alam.
.
.
.
Senja semakin tua. Warna merah di langit semakin gelap. Sedangkan hembusan angin sejak tadi tetap misterius. Seperti tidak ada angin yang berhembus. Kalau toh ada, sangat kecil sekali gerakannya.
"Ji-San bisakah padamkan semua lampu di sini, kecuali di ruang tamu!" Pinta Sakura kepada ayah Mei dengan sopan. "Rapatkan juga seluruh gordyn penutup dindingnya juga ji-San, jangan sampai ada cahaya sedikitpun yang masuk ke ruangan ini."
Dengan cepat ayah Mei melaksanakan perintah Sakura, bukan hanya ayahnya yang mengerjakan perintah itu tapi ibu dan Iruka juga melakukan apa yang di perintah Putri alam. Maka dalam waktu singkat kini ruangan tersebut telah tertutup dari cahaya lain. Yang ada hanya cahaya pembungkus tubuh Mei saat itu. Cahaya tersebut membuat suasana menjadi remang-remang.
Mereka bertiga mendekati Sakura, saling dicekam rasa ingin tahu, sama-sama masih menghkawatirkan keselamatan Mei Terumi. Mereka bertiga berdiri di kanan-kirinya Sakura sambil menatap wajah Putri alam, lalu kembali memandang segumpalan cahaya hijau yang membungkus badan Mei yang melayang di udara.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada anakku Sakura?" Tanya ayah Mei. Mizukage. Sedangkan yang lain menunggu jawaban dari Sakura.
"Entahlah Ji-San," jawab Sakura sambil menghela nafas. "Tapi menurutku, sepertinya ia terkena kutukan. Entah kutukan dari siapa dan bagaimana mulanya, yang jelas ... Sepertinya masih ada hubungannya dengan perubahan alam saat ini."
"Apakah dia akan selamat?" Tanya Tsubaki.
"Mudah-mudahan saja begitu Oba-san. Kita lihat saja bagaimana nanti hasilnya, apakah usahaku akan berhasil atau tidak."
"Terus kenapa kau biarkan dia mengambang begitu?" Tanya Tsubaki lagi.
"Karena sebentar lagi akan ada guntur dahsyat seperti tadi Oba-san," Jawab Sakura sambil menggulung naik rambutnya yang panjang dengan asal-asalan, mengenakan jepit rambut warna kuning dari bahan viber berbentuk seekor rubah. Sisa rambutnya yang berjuntai leher dan pundak membuat ia semakin tambah cantik dan mempesona.
"Kalau guntur dahsyat nanti terjadi lagi, dan Mei jatuh terhempas ke bawah, lalu cahaya hijau itu padam, itu berarti aku gagal. Dia tidak akan bisa di selamatkan oleh siapa pun. Dan, aku akan sulit mendeteksi jenis kutukan apa yang dia terima."
Iruka menyela pelan, "Tapi kelihatannya Mei seperti orang tertidur nyanyak sekali tuh?"
Sakura bergumam pelan, "Hanya ada dua alternatif, tidur atau mati." Lalu ia menarik napas. Prihatin sekali akan nasib sahabatnya. Orang-orang yang berada disitu semakin tegang dan berdebar-debar mendengar ucapannya Putri alam.
Sesaat mereka semua terdiam dalam kesunyian. Hanya ada suara nafas dan detak jantung mereka sendiri. Mungkin sedikit terdengar isakan kecil dari Tsubaki hingga...
Belgarrrrr
Terdengar suara guntur yang bergema nyaring hingga membuat empat orang di dalam ruangan itu terguncang secara serentak. Gempa itu timbul dari dentuman besar yang menggelegar di langit petang. Beberapa benda kecil sempat berjatuhan akibat guncangan yang lebih keras dari pada sebelumnya. Rasa takut secara mendadak membuat mereka saling menahan napas dalam gerakan panik, kecuali Sakura yang tetap tenang walau kedua tangannya kini di pegang erat-erat oleh mama dan manejer Mei.
Tak berapa lama alam pun tenang kembali. Perhatian meraka sepenuhnya saat ini tertuju pada Mei yang masih mengembang di udara. Ternyata cahaya hijau yang membungkus tubuh Mei Terumi tidak padam dan Mei sendiri tetap diam pada posisi semulanya. Tidak mengalami gunjangan atau getaran sedikit pun. Juga tidak menyemburkan darah atau menggelepar seperti tadi. Padahal halilintar tadi lebih besar dari pada sebelumnya.
"Dia masih utuh ditempatnya, Sakura!" Seru Tsubaki sambil menunjuk tubuh anaknya dengan wajah yang gembira.
"Kalau begitu, ada kemungkinan kekuatanku bisa dipakai menyelamatkan nyawanya Oba-san. Hanya saja..." Sakura berhenti sejenak mengundang tanya semua orang yang berada disitu.
"Hanya saja mempukah kekuatanku melindunginya jika nanti dentuman halilintar itu datang lagi dan lebih dahsyat dari yang baru saja terjadi."
Mereka semua terdiam. Perasaan was-was dan cemas kini hadir kembali dihati mereka.
Beberapa lamanya akhirnya Sakura telah selesai mengobati Mei Terumi. Sayangnya sahabatnya itu belum bisa di ajak berbicara, sehingga belum bisa diketahui apa penyebab sakitnya malam itu. Mei Terumi masih tertidur nyenyak sekalipun kondisi kesehatan dan fisiknya saat itu telah kembali normal. Efek samping dari sistem pengobatan yang dilakukan Putri alam malam itu adalah membuat si pasien kehilangan rasa takut, hingga yang dialami adalah kenyenyakan dalam tidur.
"Dia akan bangun setelah 12 jam nanti. Jadi mungkin memang butuh orang menunggunya sampai ia bangun besok pagi," kata Sakura sebelum pamit pulang dari apartemant tersebut.
"Apa tidak sebaiknya kau disini saja Sakura-chan. Soalnya kalau nanti ada suara halilintar lagi dan Mei kejang-kejang lagi, aku akan kebingungan me..."
"Jangan khawatir Oba-san," potong Sakura. " Aku telah menyumbat saluran pendengarannya dengan kekuatanku dan itu akan menulikan telinganya selama 12 jam. Meskipun ada bom meledak sekaligus di sampingnya, dia tidak akan mendengar sama sekali. Hehehe"
"Dasar kau ini," mau tak mau Tsubaki juga ikut terkekeh pelan.
"Saya harus pulang sekarang juga Oba-san, sebab sepertinya ada orang yang membutuhkan saya secepatnya."
Mama Mei manganggukan kepalanya mengerti. Mencoba memahami posisi Sakura yang memang sibuk. Setelah berpamitan Sakura pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan secepatnya meninggalkan apartemant tersebut. Walau halilintar saat itu masih saja terjadi beberapa menit sekali itu tak dihiraukan oleh Sakura. Karena saat itu ia hanya berpikir untuk kembali ke apartementnya.
0o0o0o0o0o0o0o0
Sewaktu Sakura tiba di apartementnya ia dikejutkan kehadiran Naruto yang membuka pintu apartementnya. Sakura mengerutkan dahinya menatap pemuda yang tampak sangat gugup berhadapan dengannya.
"Ada apa?" Tanya Sakura. Naruto tidak langsung menjawabnya pemuda itu tampak membuka mulutnya untuk berbicara tapi tidak jadi dan hal itu semakin membuat Sakura penasaran.
"Ada apa baka?" Tanya Sakura tidak sabaran.
"I itu..."
"Si bodoh itu membuat tamu mu pingsan," Ucap seseorang yang baru mucul dibelakang Naruto. Uchiha Sasuke. Pemuda ganteng berawajah cool itu tampak tenang menghampiri kedua sahabatnya di depan pintu.
"Memang apa yang dilakukan baka ini?" Tanya Sakura ke Sasuke. Tampak Naruto jadi salah tingkah.
"Sebelum tamu mu datang, kami sudah terlebih dahulu berada di sini untuk menemuimu membahas tentang alam yang berubah aneh. Tapi kerena kau tidak ada kami memutuskan untuk menunggumu. Tapi karena kau tidak kunjung datang Naruto ingin mencarimu. Tapi sayang, saat itu pintu apartement terbuka dan kami tidak tahu kalau ada orang di depan pintu. Naruto saat itu telah berubah ke wujud aslinya membuat pemuda itu pingsan seketika di depan pintu."
Sakura mendelik tajam ke arah Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa nyengir sambil mengaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal. Sakura menggerutu. Dengan cepat ia memasuki apartementnya dan ia dapat melihat seorang pemuda pingsan di sofa tamunya. Pemuda itu berwajah imut-imut dan berkulit putih bersih. Di perkirakan masih berusia sekitar 22 tahun, badannya yang berisi, berambut pendek merah dan tanpa kumis maupun jerawat. Sepertinya ia seorang mahasiswa yang terlahir dari orang kaya. Terlihat dari penampilannya yang saat itu mengenakan T-shirt dan jaket bermerek.
"Aku bingung sekali Sakura-chan," keluh Naruto dengan wajah bersalah. "Sudah ada satu jam anak ini pingsan dan dia belum sadar-sadar juga sampai sekarang."
"Dan itu semua gara-gara kamu dobe." Sela Sasuke dan langsung mendapat tatapan tajam dari Naruto.
"Kenapa tidak menyadarkan anak ini?" Tanya Sakura sambil menghampiri pemuda imut itu.
"Aku dan Sasuke sudah memakai berbagai cara tapi dia nggak sadar-sadar juga dari pingsannya, Sakura-chan. Aku sendiri heran," kata Naruto, agak cemas.
"Makanya lain kali kalau mau berubah liat-liat tempat dobe."
"Ck, aku nggak tahu kalau ada dia di depan pintu saat itu."
Sakura segera melerai pembicaraan Naruto dan Sasuke sebelum menjadi perdebatan panjang. Sakura segera berlutut di depan pemuda itu lalu ia meletakkan tangan kanannya di atas dahi pemuda tersebut.
"Dia mempunyai kekuatan Sakura-chan," Ucap Naruto sambil ikut berlutut disamping Sakura dan Sakura sendiri tidak kaget lagi mendengar hal itu karena ia merasakannya ketika memegang dahi pemuda tersebut.
"Hm, kau benar. Rupanya pemuda ini mempunyai kekuatan yang cukup besar. Getarannya terasa jelas di tanganku tadi."
Percakapan itu terhenti oleh suara batuk pemuda tersebut. Pemuda itu tampak terkejut ketika mengetahui ia berada di samping Sakura yang menurutnya cantik dan juga mengagumkan. Ia buru-buru bangun dan duduk di sofa dengan salah tingkah. Namun, Sakura segera menenangkan kegugupan pemuda itu. Sakura bangkit dan duduk di seberang pemuda itu duduk. Sakura memperkenalkan diri lebih dahulu dengan ramah yang terkesan akrab. Sikap itu agaknya membuat sikap pemuda yang di depannya tidak sekikuk tadi. Pemuda itu mengenalkan dirinya dengan nama Sasori.
"Apa yang membuatmu tadi jatuh pingsan?" Tanya Sakura usai memperkenalkan diri. Dengan gugup pemuda itu menjawab.
"Aku... Hmm, aku melihat mahluk mengerikan di depan pintu apartementmu tadi," ia menunjuk pintu yang tempat dia pingsan.
Sakura mendelik ke arah Naruto yang berada di sampingnya sedangkan Naruto hanya bisa meringis.
"Ini semua salahmu," Ucap Sakura dalam hati yang hanya dapat di dengar oleh Naruto dan Sasuke.
"Hehehehe, aku tidak tahu kalau ada orang di depan pintu Sakura-chan."
"Dasar dobe."
"Diam kau teme," Seru Naruto marah. Sakura hanya bisa mendelik jadi-jadi ke arah duanya. Walau pembicaraan itu tidak dapat di dengar oleh Sasori.
Sakura menatap Sasori kembali. Hingga suara dentuman halilintar terdengar lagi membuat Sasori menjadi tegang. Ia tampak sangat cemas terhadap dentuman besar, sehingga ia buru-buru berbicara.
"Kau harus mengenghentikan bencana dari angkasa itu Nee-chan! Kalau perlu sekarang juga kau harus bertindak, supaya tidak terjadi bencana yang mengerikan di bumi kita."
"Bencana apa maksudmu?"
"Hancur. Bumi ini akan hancur menjadi serpihan abu tanpa sisa-sisa peradapan lagi. "
"Tunggu dulu," sergah Sakura dengan serius.
"Apa benar akan terjadi badai halilintar dalam waktu dekat ini? Dan sejak kapan kau mengetahuinya?"
"Sejak...sejak tujuh hari yang lalu. Tapi baru kemarin malam aku mengetahui bahwa hanya Nee-chan yang bisa mencegah terjadinya badai halilintar."
Semua orang yang berada disitu hanya bisa mengerutkan dahinya dan saling berpandangan satu sama-lain.
"Dari mana kau tahu bahwa aku orangnya?
"Dari... Dari... " Sasori tampak bingung dan ragu-ragu untuk menjawabnya. Tapi melihat mata hijau bening Sakura yang memiliki ketajaman tersendiri itu telah membuat Sasori memaksakan hatinya untuk tetap harus menjawab yang sebenarnya.
"Hmmm, terus terang saja... Aku mengetahui semua itu dari kucing putih piaraan saya, Nee."
Spontan Sakura, Naruto, dan Sasuke sama-sama berkerut dahi. Tatapan mata mereka semua ditujukan pada Sasori semakin tajam. Seakan mereka butuh penjelasan yang lebih menyakinkan lagi. Maka tanpa diminta Sasori pun melanjutkan kata-katanya dengan masih sedikit ragu-ragu.
"Aku memang memelihara seekor kucing berbulu putih. Tapi... Tapi kucing itu agak aneh. Maksud saya ... Kucing itu punya keajaiban tersendiri. Saya... Saya memberinya nama si Manis."
"Keajaiban apa yang dimilikinya?" Potong Naruto tampak penasaran sekali.
"Dia... Dia tidak seperti kucing-kucing lainnya. Hmmm... Kucing itu bisa berbicara."
"Bisa bicara?" Gumam Naruto terheran-heran. Ia melirik Sakura. Gadis itu tampak tenang menanggapi pengakuan tamunya.
"Si Manis-lah yang memberitahu kepada saya bahwa sebentar lagi akan terjadi badai halilintar yang mengerikan. Kemarin malam saya disuruh mencari seorang gadis yang dapat menangkal terjadinya badai halilintar itu. Gadis yang dimaksudkan bernama Haruno Sakura alias Putri alam. Dia terlahir tanpa orang tua ayah dan ibu."
Sakura kali ini terperanjat kaget. Pandangannya kali ini melirik ke arah Sasuke dan juga Naruto. Mereka semua kaget mendengar Sasori dapat menyebutkan identitas Sakura yang terlahir tanpa orang tua.
"Lalu, saya ingat seorang teman saya yang pernah terlibat masalah gaib dan dapat terselesaikan dengan bantuan seorang gadis. Ia menyebut nama gadis itu Sakura. Sehingga nama Sakura akhirnya terekam selalu dalam ingatan saya. Maka saya segera menghubungi teman saya dan meminta alamat tempat tinggal Nee-chan."
Blegggarr
Dentuman dahsyat menguncang bumi semakin kuat. Getaran pada permukaan tanah seperti akan terbelah menjadi beberapa bagian. Getaran tersebut cukup membuat di dalam apartement Sakura terguncang hebat membuat jam dinding serta photo-photonya jatuh dan pecah. Tentu saja keadaan tersebut semakin membuat Sasori ketakutan. Tapi tidak dengan 3 anak dewa di dalam ruangan itu. Justru mereka tenang-tenang saja. Tiba -tiba Sasuke segera berseru ke arah Sakura.
"Aku mau ke alam perbatasan untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi sejak sore tadi."
Setelah mengatakan hal itu Sasuke sudah hilang dalam sekejap mata. Membuat Sasori lebih ketakutan lagi. Setelah getaran di bumi tenang baru ketegangan Sasori berangsur-angsur reda. Ia menyeka keringat di dahinya dengan ujung jaketnya. Naruto sendiri tersenyum geli melihat pemuda imut-imut berwajah baby face itu menghembuskan napas panjang yang bisa membuat hatinya lega.
"Boleh ku periksa kucingmu itu Sas?" Tanya Sakura.
"Boleh saja," Jawabnya semangat. "Tapi sekarang dia ku tinggal di rumah. Kalau Nee-chan mau, sebaiknya datanglah ke rumahku malam ini juga. Mungkin Nee-chan dan juga Nii-chan bisa langsung berkomunikasi dengan si Manis."
Belum sempat Sakura menjawab tahu-tahu hpnya berdering di dalam saku bajunya. Maka dengan sopan Sakura minta ijin pamit untuk mengangkat telfonnya.
"Nii nanti kalau jadi ke rumah saya," kata Sasori kepada Naruto sebelum Sakura kembali dari telfonnya. " ... Terus terang, saya nggak berani naik motor sendirian. Saya harus ikut dalam mobil Sakura Nee-chan," ucapnya.
"Loh, memangnya kenapa gak berani pakai motor sendirian?"
"Saya pasti akan melihat yang aneh-aneh dan menyeramkan Nii. Pokoknya sejak saya sadar ada gangguan penglihatan pada mata saya, saya jadi jarang keluar malam. Sebab pemandangan pada malam hari lebih mengerikan dari pada siang hari."
Naruto mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. " Ohh, begitu. Lalu... Siapa saja yang pernah mendengar kucing itu bisa bicara?"
Sasori menggelengkan kepalanya. "Nggak ada Nii. Saya masih merahasiakannya, takut kalau kucing itu dicuri oleh orang lain kalau mengetahui keajaiban si Manis Nii." Jawabnya dengan kesan lugu sekali. Kata-kata Sasori berhenti setelah Sakura muncul kembali sambil masih berbicara melalui Hpnya. Rupanya saat itu yang menelfon bukan orang asing lagi. Orang tersebut pernah singgah di hati Sakura, Gaara. Sabaku Gaara adik dari Temari.
"Begini aja deh Gar... Kau jemput aku aja, nanti kita pergi ke sana sama-sama. Biar Naruto nanti menemani tamuku dulu dirumah." Begitu akhir pembicaraan Sakura dengan pria tampan beratto ai di ujung dahinya.
Naruto yang mendengar Sakura akan pergi bersama Gaara segera menolak menemani tamunya Sakura sebab Naruto tidak ingin Sakura berdua-duaan dengan Gaara walau mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi.
"Aku harus ke sana bersamanya. Soalnya disana sedang terjadi sesuatu yang misterius yang harus ku tangani. "
"Tapikan Gaara bisa sendiri Sakura-chan. Kenapa mesti minta bantuanmu."
"Justru dia minta bantuanku makanya dia tidak bisa menanganinya sendiri baka. Dan aku mau pergi bersamanya kenapa kamu yang sewot." Gerutu Sakura. Sakura tahu pemuda rambut kuning di sampingnya itu menyukainya. Makanya ketika mendengar dia akan pergi bersama Gaara pemuda itu tampak uring-uringan sendiri. Padahal dirinya sendiri tidak ada hubungan apa-apa lagi hanya sekedar membantu Gaara.
"Tapi kenapa mesti kamu yang dimintai tolong. Temari kan ada," ucap Naruto tidak mau kalah, pemuda itu bersikeras agar Sakura tidak pergi bersama Gaara. Cemburu heh.
Sakura mendecih kesal. "Ck, seekor rubah raksasa bewarna kuning muncul secara misterius di jalan tol, membuat mobil-mobil terpaksa berhenti mendadak. Akibatnya terjadi tabrakan beruntun yang belum diketahui bebarapa jumlah korban ditempat itu." Sasori yang mendengar kata-kata itu segera berkata.
"Apa yang muncul adalah rubah raksasa Ne?" Tanya Sasori.
Sakura menganggukan kepalanya membenarkan ucapan Sasori. "Benar, katanya rubah itu melintang sepanjang jalanan tol dengan ekornya yang panjang diselimuti oleh api seperti lempengan besi membara. Rubah itu hanya melintang di jalan tanpa bergeser dari tempatnya, tapi sebentar-sebentar menghembuskan asap berbau tak sedap dari mulutnya."
"Gawat." Kedua mata Sasori terbelalak tegang. Ia memandang Naruto. "Si Manis kemarin juga menyingung-nyingung tentang kemuculan rubah kuning itu Nii. "
Lalu ia menatap Sakura lagi. "Apa yang dikatakan Manis semuanya benar Nee. Kucing saya itu juga berpesan agar saya lebih hati-hati jika mendengar Rubah kuning tersebut."
"Apa saja yang dikatakan oleh kucingmu itu lagi. Tolong jelaskan semuanya Sas," Pinta Sakura dengan serius.
"Manis bilang, kalau ada ada kabar tentang muculnya rubah kuning tersebut, bahwa tidak lama lagi badai halilintar akan segera datang menyapu bumi. Katanya lagi, rubah itu adalah mahluk asing yang ketakutan dan mencari persembunyian di bumi. Supaya selamat dari amukan badai halilintar. Dia tidak akan segan-segan merusak apa saja, termasuk menewaskan manusia, demi mencari tempat untuk berlindung."
"Apa kucingmu tahu siapa rubah kuning tersebut?" Tanya Naruto sebelum Sakura mengajukan pertanyaan lebih dahulu.
"Ya, kalau tidak salah,... Si Manis bilang bahwa rubah kuning itu sebenarnya penjaga istana iblis. Yang akan selamat dari amukan badai halilintar apabila menelaan perempuan titisan Artemis."
"Artemis?" Ucap Naruto dan Sakura berbarengan.
"Siapa Artemis itu?" Bisik Naruto ke Sakura.
"Setahuku Artemis adalah Dewi Usagi. Tapi sebenarnya adalah Dewi Mīra atau Kari. Dewa Perlindungan kelahiran binatang buas sepertimu. Dia anak dari Dewa tertingginya orang-orang Yunani atau romawi kuno yaitu Dewa Zeusu atau Zeus. "
Naruto terbelalak kaget. "Lalu titisannya Artemis itu siapa? Kau tahu Sas?"
Sasori menggelengkan kepalanya, "Kalau itu aku tidak tahu Nii. Cuma bilang Manis, ciri-ciri wanita titisan Artemis adalah perempuan yang sekarat dan sangat menderita jika mendengar suara dentuman guntur yang dahsyat tadi. Tapi jika kekuatan wanita itu ditelan oleh rubah kuning, maka kekuatan itu akan menyatu dan bisa digunakan sebagai penangkal keganasan halilintar tersebut. Maka dari itu ..."
"Gawat! Wanita itu pasti Mei Terumi!" Sahut Sakura panik. Naruto dan Sasori sendiri tertegun mendengar nama Mei Terumi. Naruto ingin bertanya siapa Mei Terumi itu tapi Sakura sudah terlebih dahulu menyelanya.
"Aku harus segera menemui rubah kuning itu!" Ucapnya tegas sambil menatap Naruto. Dan Naruto tahu kali ini Sakura tidak ingin dibantah atau dihentikan.
.
0o0o0o0oo0o0
.
Seekor kucing bisa berbicara sungguh keajaiban tersendiri bagi yang mendengarnya. Tapi pada umumnya sebagian orang akan menganggap berita itu isapan jempol belaka dan sebagian lagi akan mempercayainya kalau memang KAMI SAMA berkehendak tidak ada yang mustahil di dunia ini.
Tak heran Naruto yang saat itu sedang menemani Sasori sedangkan Sakura sendiri telah pergi bersama Gaara, meminta Sasori menceritakan bagaimana mulanya dia bertemu dengan si kucing yang dia beri nama Manis.
Mulanya Sasori menemukan binatang berbulu lebat putih bersih itu, ketika ia pulang dari acara temannya yang mengadakan pesta. Waktu itu ia mengendarai motor balapnya dalam kecepatan tinggi, karena jalanan memang telah sepi. Saat itu sedang gerimis. Sasori mengemudikan motornya dengan cepat agar sampai ditempat kost-kost-san-nya sebelum gerimis itu berubah menjadi hujan deras.
Namun ketika tiba di jalanan gelap tanpa lampu penerang, tiba-tiba sepasang mata aquarmen tampak melintas di depan motornya. Seketika itu juga Sasori menginjak rem motornya kuat-kuat, karena ia tahu binatang yang menyebrang jalan itu adalah seekor kucing. Hampir saja motor yang digunakannya saat itu jatuh terbanting karena menghindari kucing tersebut.
"Sialan!" Geram Sasori dengan hati dongkol. Binatang yang tidak jadi tertabrak olehnya itu justru terdiam menundukkan badannya sambil mengeong tidak jauh dari ban motornya Sasori. Lampu motor yang terang menyorot ke arah kucing tersebut, membuat Sasori sepenuhnya menatap kucing itu. Kucing itu berbulu putih lebat seperti gumapalan serat-serat sutera.
Ia segera tersenyum senang. Seakan-akan kedongkolan hatinya lenyap seketika, ketika melihat kucing itu yang terlihat manis dan juga lucu. Hatinya berseri-seri girang dan berhasrat ingin memilikinya.
"Push, push, push..." Sasori segera turun dari motornya tanpa mematikan motornya yang masih menyala. Ia mendekati kucing tersebut. Ternyata kucing tersebut hanya diam saja, kucing itu membiarkan tangan Sasori menyentunhya. Pada saat tangan Sasori menyentuh punggung kucing itu, hati Sasori tiba-tiba berdesir indah di sekujur tubuhnya. Dengan cepat Sasori menggendong kucing tersebut.
"Meeeeeooongg..." Binatang lucu itu mengeong dengan suara jernih. Merdu dan enak di dengar. Maka, tanpa ragu-ragu lagi Sasori segera membawanya pulang ke tempat kostnya yang kebetulan sudah dekat. Ketika sampai dirumah gerimis berubah menjadi hujan deras. Sasori sangat bersyukur dia tidak kehujanan dijalan tadi.
Sasori dengan cepat masuk ke kamar kostnya sambil membawa kucing yang berada di gendongannya. Ketika sampai dikamar Sasori tampak terpukau dengan kucing temuannya itu. Dalam penerangan lampu kamarnya, ternyata kucing tersebut sangat indah. Bulunya yang putih sehalus sutera itu sangat tebal dan halus lembut enak untuk di usap-usap. Setiap usapan tangan menghandirkan desiran indah dalam hati Sasori yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kebetulan Sasori sejak kecil memang gemar memelihara kucing. Dulu mamanya sempat marah-marah ketika Sasori tidak mau turun dari ranjangnya dan enggan pergi ke sekolah hanya karena sibuk bercanda dengan seekor kucing ditempat tidurnya. Tapi kegemaran itu mulai menghilang ketika Sasori menginjak di bangku SMU. Ia mulai mengemari motor balap saat itu. Hanya saja, kedua orang tua Sasori tidak setuju jika putra kesayangan mereka harus berurusan dengan motor balap. Sehingga hobby motornya hanya bisa di salurkan melalui bengkel temannya. Ia sangat jago mengubah mesin motor biasa menjadi motor balap, dan ia sangat menekuninya sampai sekarang.
Dan baru kali ini ia kembali tertarik dengan kelembutan seekor kucing. Seolah-olah kenangan masa kecilnya terulang lagi. Dan terbukti pada malam itu Sasori tidak punya niat sedikit pun untuk segera tidur. Ia ingin bercanda dengan kucing lucu temuannya itu dengan sepuas-puasnya.
Tidak sulit bagi Sasori untuk membedakan kucing betina dan jantan. Dan ia tahu persis, kucing yang saat itu diberinya makan adalah kucing betina. Menurutnya kucing itu kucing yang cantik dan juga lucu. Diduga milik orang kaya. Mungkin kucing itu lepas dari rumah majikannya.
"Aku tahu kau kucing yang mahal dan juga cantik. Tapi aku suka dengan kecantikanmu. Berapa pun majikanmu ingin menebusmu aku tak kan memberikanmu. Dan aku memberimu nama Manis. Bagaimana kau suka."
"Miaaaaaoonngg..." Kucing itu mengeliatkan kepalanya sambil matanya yang indah mengerjap-ngerjap, menandakan rasa suka terhadap usapan-usapan lembut ditengkuknya. Sasori tertawa geli melihat mimik Manis saat itu.
"Atau kau ku namakan Ayu saja? Habis kau sangat ayu sih," ucap Sasori sambil mengelitik bagian bawah dagu kucing tersebut. Si kucing tampak semakin menikmati usapan yang Sasori berikan.
"Pilih mana, ku panggil Ayu atau Manis saja?"
"Terserah..."
Sasori terperanjat keget dan kebingungan sendiri ketika ia mendengar suara lembut yang tidak tahu dari mana asalnya. Ia memandang kesana-sini, tapi tak ada siapa pun dikamarnya. Sebab ia memang menempati kamar itu sendirian, tanpa teman. Tapi ia merasa jelas mendengar suara gadis yang selah-olah menanggapi kata-katanya tadi. Maka setelah menyingkap gordyn jendela kamarnya dan tak menemukan siapa-siapa pun diluar kamar, ia pun segera kembali keranjangnya. Mengusap-usap bulu kucing itu lagi. Ia tidak menghiraukan suara tadi. Dia menganggap suara tadi mungkin hanya halusinasinya saja.
Sasori segera berbaring miring, menopang kepala dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya dipakai mengusap-usap bulu halus si Manis yang berada di seberang dadanya.
"Kamu pasti tadi sedang nyariin majikanmu, ya kan Manis. Kasihan sekali kamu sekali kamu. Hampir saja aku tadi menabrakmu. Tapi kamu juga hampir bikin aku terbanting bersama motorku. Coba kalau sampai terjadi, bagaimana coba?"
"Aku akan menyesal. "
"Hah?!" Sasori tersentak kaget sekali lagi. Kali ini sangat jelas dari mana asal suara tersebut. Karena saat itu Sasori sedang memandangi mulut kucing itu dengan ujung jarinya mengusap-usap keningnya. Tak diragukan lagi suara itu berasal dari kucing tersebut.
Meski takut dan merinding. Tapi Sasori tidak meninggalkan turun dari ranjangnya. Ia hanya bergeser sedikit menjauh, sementar kucing mungil itu memandangnya dengan mata aquarmen indahnya. Sasori membelalakan matanya dengan mulut ternganga lebar. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Ia yakin betul bahwa yang berbicara tadi adalah kucing di depannya itu.
"Kenapa takut? Aku tidak jahat padamu, bukan?"
"Gila...?!" Sasori segera turun dari ranjangnya dengan cepat. Wajahnya semakin tegang. Kucing itu semakin jelas sedang berbicara kepada Sasori. Mulut Sasori sedikit terbuka tanpa suara dengan mata tetap beradu pandang dengan kucing itu, sampai beberapa saat lamanya, barulah kucing itu berbicara lagi padanya.
"Aku sedih kalau kau takut padaku. Padahal aku suka bersahabat denganmu," Ucap kucing itu sedih.
"Kaau... Kau benar-benar bisa berbicara?"
"Ya aku memang bisa berbicara seperti dirimu. Apakah kamu tidak suka dengan suaraku? Kalau kamu tidak suka, maka aku akan pergi dari sini."
Kucing itu melompat turun dari ranjang. Melangkah menuju pintu yang tetap tertutup dan terkunci. Hujan deras masih bergemuruh di luar sana. Hati Sasori tidak tega melihat kucing itu keluar dan terguyur air hujan yang dingin itu.
"Manis, tunggu...!"
Kucing itu menghentikan langkahnya. Menengok kebelakang. Prilakunya persis seperti manusia biasa. Sasori buru-buru mengampiri, kemudian berlutut sambil mengusap-usap pungung kucing itu dengan tangan agak gemetar ketakutan.
"Maafkan aku. Aku memang takut, karena tidak sewajarnya seekor kucing sepertimu bisa berbicara seperti manusia. Maafkan aku," Ucap Sasori. Kucing itu menatap Sasori cukup lama.
"Apa aku boleh tinggal disini bersamamu?" Tanya kucing tersebut.
Dengan ragu Sasori menjawab, "hmmm, ya... Ya tentu saja boleh. Tapi... Tapi bagaimana seharusnya aku bersikap dan memperlakukanmu Manis?"
"Ino, panggil saja aku Ino. Dan perlakukan aku seperti sahabat-sahabatmu yang lainnya maka akan kubantu segala kesulitanmu. Dan tolong rahasiakan persahabatan kita ini, supaya tidak semua orang ingin memiliki diriku."
Clappp...
Tiba-tiba saja seberkas cahaya biru keluar dari mata kucing itu menembus ke dalam bola mata Sasori. Tidak terasa pedih, namun cahaya itu justru membuat sekujur tubuh Sasori seperti di taburi busa lembut. Hatinya menjadi tenang. Rasa takutnya kini semua menghilang. Tak ada keraguan untuk memeluk kucing itu dalam dekapannya.
"Aku sangat senang sekali bersahabat denganmu Ino..."
"Meoooonnggg..." Tiba-tiba saja kucing itu melompat turun dari dekapan Sasori saat pemuda itu ingin membawanya keranjang. Binatang itu seperti sangat ketakutan dan berusaha menjahui Sasori, sebab Sasori saat itu ingin mencium tengkuk kucing tersebut. Sasori pun terkejut melihat reaksi si Ino ketika melihat sikap Ino seperti ketakutan.
"Ino, ada apa? Kenapa kau sekarang ketakutan padaku? Aku tidak menyakitimu, bukan?"
Dari bawah kolong meja belajar kucing itu menjawab, "Ya, kau memang tidak menyakitiku. Tapi kau ingin menciumku, bukan?"
"Hah? Aku menciummu karena aku sayang pada sahabat baruku."
Sasori berjongkok mendekati kolong meja. Tapi kucing itu berusaha mundur, merapat pada dinding.
"Jangan. Aku tidak ingin kau menciumku," Ucap Ino ketakutan. Dan seketika Sasori merasa kasihan.
"Baiklah, baiklah... Aku tidak akan menciummu. Kemarilah Ino. Kemarilah..." Pinta Sasori lembut.
Akhirnya dengan pelan kucing aneh itu mendekati Sasori, membiarkan tangannya yang kekar memegangnya. Ia menurut ketika dibawa keluar dari kolong meja. Sasori membawanya keranjang sambil tersenyum senang.
"Besok sembunyikan aku dilemari pakaianmu jika gadis itu datang Sasori-kun."
"Hah? Gadis mana maksudmu?" Tanya Sasori keheranan.
"Karin, teman kuliahmu itu."
"Hah?! Kau tahu tentang Karin?" Tanya Sasori kaget.
"Dia naksir padamu, bukan? Dia ingin menjadi kekasihmu. Tapi sebenarnya dia bukan gadis baik-baik. Dia cuma ingin menguras habis uangmu, sebab dia tahu kamu adalah anak orang kaya. Maukah kau menjahuinya."
Sasori nyaris tidak bisa menjawab kerena apa yang dikatakan oleh Ino adalah benar. Karin teman kuliahnya, memang tampak berusaha mendekatinya. Bahkan ketika di pesta tadi Karin bahkan berusaha merebut perhatiannya dengan kata-kata manis. Bahkan dengan berani si Karin itu mengajaknya ke sebuah hotel. Tentu saja Sasori tidak mau. Bahkan sewaktu meninggalkan pesta, ia tidak berpamitan kepada Karin yang saat itu ber-disko ria dengan teman-teman yang lainnya.
"Maukah kau menjauhinya Sas?" Tanya Ino sedikit mendesak Sasori untuk mendapat kepastian.
"Hmmm, yeahhh. Aku akan meninggalkannya asal kata-katamu nanti terbukti benar. "
"Lihat saja besok siang. Cewek itu akan datang kemari dan membujukmu agar ikut kesebuah penginapan. Tolaklah ajakan itu apa pun alasannya. Karena jika kau ikut, maka kau akan menjadi salah satu dari mereka yang akan mengalami bencana."
"Bencana?"
"Jangan tanya bencana apa, tapi buktikan saja kebenaran kata-kataku besok. Lebih baik gunakan saja waktumu besok untuk menemui saudara sepupumu yang akan melahirkan anak pertamanya setelah lewat tengah hari."
"Saudara sepupuku? Maksudmu Shion? Dia akan melahirkan besok siang? Apa benar?" Tanya Sasori sangsi dengan ucapan Ino.
"Bawalah aku jika kau menengok sepupumu besok," Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Sasori.
Dalam hati kecil Sasori sebenarnya menyangsikan kata-kata kucing tersebut, sebab ia tahu bahwa sepupunya Shion itu baru hamil tujuh bulan. Dan belum waktunya melahirkan, sehingga tipis sekali Sasori mempercanyai perkataan si Ino yang dianggapnya kucing siluman itu.
Tapi ketika esok harinya sekitar pukul sebelas lebih gadis yang bernama Karin itu benar-benar datang, membuat Sasori berdebar-debar. Dan lebih mengherankan lagi Karin tidak sendiri ia bersama Tayuya saat itu. Mereka berdua membujuk Sasori agar ikut ke villa-nya.
Sasori sempat terperangah kaget. Rupanya apa yang dikatakan Ino memang benar dan dia harus mengikutinya. Ngomong -ngomong soal Ino kucing itu telah di sembunyikan terlebih dahulu sebelum Karin datang. Dan sesuai pesan Ino, Sasori pun menolak ajakan Karin.
Kucing cantik yang sempat dianggap kucing siluman itu agaknya memang ingin bersahabat dengan Sasori. Terbukti apa yang dikatakan kucing itu merupakan ramalan yang benar-benar terjadi. Terbukti, sekitar pukul 1 siang Sasori mendapat telfon dari keluarganya bahwa sepupunya Shion telah melahirkan dirumah sakit bersalin.
"Seperti kata Ino, lewat tengah hari Shion akan melahirkan bayi pertamanya. Ya ampun... Semua ramalannya menjadi kenyataan."
Disaat itu juga Sasori langsung menengok Shion dan bayinya. Kucing siluman itu dibawanya ke sana, tapi tak diizinkan oleh satpam. Dengan berat hati terpaksa Sasori meninggalkannya bersama satpam itu. Ketika ia masuk ke ruangan Shion, tahu-tahu kucing itu sudah ada disana, dibawah kolong ranjang. Diam disana dengan damai. Ia senang sekali memandangi kebahagian Sasori dan sanak keluarganya dalam menyambut kelahiran bayi pertama Shion. Kucing itu tersenyum senang melihat kebahagian itu.
Pulang dari rumah bersalin, Sasori dikejutkan oleh telfon dari temannya yang mengatakan bahwa Karin dan teman-teman lainnya mengalami kecelakaan. Tapi untungnya saat itu tidak korban jiwa. Saat itu juga Sasori sangat percaya apa yang dikatakan Ino. Karena dari semua omongannya kemarin terbukti kebenarannya hari ini. Maka dari itu simpatinya terhadap kucing tersebut semakin tinggi. Ia merasa lebih sayang lagi kepada si kucing yang di anggap siluman itu, karena kucing tersebut dianggap telah menyelamatkan dirinya berkali-kali dari hal-hal buruk yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Dari petang hingga malam tiba Sasori mengurung diri di kamarnya. Biasanya dia akan berkumpul bersama teman-teman kostnya di ruang tamu. Tapi malam itu Sasori lebih suka ngobrol bersama Ino. Canda dan tawa layaknya bersama manusia biasa tak pernah lupa di sela-sela percakapan mereka. Bahkan tawaran temannya yang ingin mengajak makan bersama pun di tolaknya dengan seruan dari kamar. Padahal biasanya Sasori tidak akan pernah mau menolak jika ada acara seperti itu.
"Keluarlah sana, temui dulu teman-temanmu supaya mereka senang hatinya," kata Ino saat duduk mendekam di atas tumpukan bantal yang empuk, sedangkan Sasori menggoda Ino dengan sebatang lidi yang digantungi benang dan jempitan kertas seperti pancingan. Sesekali kucing itu meraih jepitan kertas yang selalu berusaha ditarik kembali oleh Sasori.
"Mereka akan kesal kalau kamu tidak bergabung dengan mereka, seperti biasanya, Sasori-kun," Ucap Ino lagi. Tapi tampaknya Sasori tidak menghiraukan perkataan Ino justru dia malah asyik sendiri. Pumuda itu lebih memilih bermain bersama Ino dari pada ngumpul bersama teman-temannya. Bermain dengan arti yang berbeda. Pemuda tampan berwajah baby face itu tidak akan pernah bosan jika sudah berdekatan dengan Ino. Menurutnya Ino itu sangat lucu dan juga manis.
"Biarin aja mereka kesal. Aku lebih suka bersamamu. Bukankah kau senang."
"Iya, memang benar. Tapi aku tidak ingin kalau teman-temanmu mengucilkan dirimu."
"Biarkan saja aku dikucilkan. Asal aku tidak dikucilkan oleh kelucuanmu, Ino."
"Ah, kata-katamu selalu bikin aku salah tingkah sendiri Sasori-kun. Kau membuatku malu."
"Biarin," geram Sasori sambil mengigit bibir bawahnya karena gemas dengan kelucuan Ino dengan cepat Sasori menyambar kucing manis itu ke dalam dekapannya.
"Habis aku gemas sih sama kamu. Hmmmmm..."
Sasori menunjukan rasa gemasnya kepada Ino dengan mendekap kucing itu erat-erat. Bahkan sedikit menguncang-guncangnya deselingi tawa. Lalu tanpa sadar ia mencium kucing itu hingga serta merta binatang itu meronta-ronta sambil mengerang melompat menjahui Sasori.
"Grrrrrrrr..." Kucing itu menyeringai marah, seperti memberi peringatan kepada Sasori atas tindakannya.
"Maaf, maafkan aku Ino. Aku lupa kalau kamu nggak mau dicium. Maaf."
Sasori meminta maaf ke kucing putih itu dengan sikap menyesal. Kaki depan kucing itu segera menepis tangan Sasori, seakan tak mau disentuh. Tapi melihat rasa sesal yang cukup serius di wajah Sasori, mau tak mau akhirnya Ino luluh juga. Dan ia membiarkan tangan pemuda itu mengangkatnya dan membawanya kembali ke atas ranjang.
"Jangan pernah lakukan hal itu lagi Sasori-kun. Atau kau akan menyesal." Kali ini kucing itu berbicara dengan tegas dan punya wibawa sendiri dalam getaran suaranya. Dan hal itu membuat Sasori menyesal dan sedih.
"Aku cuma ingin mengungkapkan rasa kasih sayangku terhadapmu Ino. Apakah itu tidak boleh?"
"Bukan begitu Sasori-kun, tapi kalau kau menciumku.." Kucing itu seperti kebingungan melanjutkan perkataannya. Kepalanya berpaling kesana-kemari, ia bahkan bergerak naik ketumpukan bantal lagi.
"Tapi kenapa kalau aku menciummu, ino?" Tanya Sasori menuntut.
"Karena... Kalau kau menciumku, sama saja kau akan menyiksa batinku sendiri Sasori-kun."
"Menyiksa hatimu? Mana mungkin aku begitu?"
"Jujur saja Sasori-kun... Jika ada seorang manusia menciumku maka gejolak asmaraku akan terbakar. Dan hasrat untuk bercinta akan menguasai tubuhku terus menerus sampai mendapatkan pelampiasannya. Dan jika orang yang menciumku tidak memenuhi tuntutanku maka dia akan terkena kutukan dariku."
"Benarkah?" Tanya Sasori sangsi. Tapi ia ingin menggoda Ino sebentar. Ia mendekati si Ino lagi, lalu mengusap-usap kepala berbulu putih itu dengan lembut.
"Ya, aku berkata jujur padamu Sasori-kun. Jadi aku mohon jangan coba-coba menciumku lagi seperti tadi. Karena aku akan membencimu kalau kau tidak memenuhi tuntutan gairahku."
"Kalau ternyata aku... Aku mau memenuhinya, bagaimana?"
Binatang manis itu mendongakkan kepalanya mata aquarmentnya menatap Sasori dengan lembut. Ia sengaja tidak menjawab pertanyaan Sasori, karena ia ingin melihat kesungguhan pemuda tampan berwajah baby face itu melalui perpaduan mata mereka.
"Apakah ... Kau benar-benar bersedia?"
"Ya." Ucap Sasori bersunguh-sungguh. Dan itu dapat Ino lihat dari tatapan pemuda itu yang dapat menggetarkan hati kecilnya.
"Kalau memang kau sanggup, baiklah. Ciumlah aku...," kucing itu menunduk, tapi menyambung ucapannya lagi.
"Ciumlah aku kapan saja kau mau..."
Suara lirih itu membuat Sasori tersenyum kecil. Ia sengaja tidak segera mencium Ino. Ia ingin menggoda kucing itu sebentar. Kucing itu menunduk seperti seorang gadis yang tersipu malu menunggu di cium pemuda yang di cintainya. Setelah puas menggoda rasa tersipunya Ino, akhirnya Sasori benar-benar mencium dengan lembut. Ciuman itu jatuh di atas kepala Ino yang sejak tadi di elus-elusnya penuh kelembutan.
Apa yang terjadi setelah itu?
Bulu-bulu kucing itu meremang, menjadi tegak semua. Sasori terpesona melihatnya setelah menarik diri agar menjauhi hewan tersebut. Tegak nya semua bulu di tubuh si Ino membuat Ino tampak aneh. Cantik, indah, tapi tidak seperti seekor kucing. Lebih mengangumkan lagi, dari bulu-bulu itu tampak terlihat cahaya-cahaya warna-warni. Sasori semakin terperangah kagum hingga turun dari ranjang karena mengagumi keindahan cahaya warni-warni tersebut.
"Wowww..." Sasori terkagum-kagum dengan dada berdebar-debar tidak karuan. Matanya terbuka lebar ketika cahaya itu membungkus sosok kucing cantik itu. Rasa kagum bercampur kecemasan yang menakutkan, membuat Sasori buru-buru mendekati pintu, bersiap-siap membukanya dan lari keluar kamarnya.
Tapi keindahan warni-warni cahaya itu semakin lama semakin terang. Hingga berganti bias-bias cahaya warni-warni bergerak berputar-putar, seakan turun dari atas bantal. Hingga cahaya itu tiba-tiba padam seketika.
Duuuubs...
Kejutan itu membuat mata Sasori terpejam seketika. Tapi segera terbuka lagi, dan menjadi lebar dalam satu sentakan rasa kaget yang memaksa mulutnya terbuka lebar.
"Hahhhh.." Hanya kata itu yang bisa Sasori keluarkan. Karena apa yang dilihatnya pada saat itu bukan seekor kucing lagi atau gumpalan cahaya warni-warni, tapi sesuatu yang sangat tidak disangka-sangka sebelumnya. Kini yang berdiri dihadapannya bukan sesosok kucing yang lucu dan cantik, melainkan sesosok gadis cantik sekali dengan tubuh yang sexy terbungkus jubah putih bersih transparan. Jubah berlengan panjang dan belahan dadanya rendah serta lebar itu sangat kontras dengan warna rambutnya yang pirang, lembut dan halus sekali, tergerai lepas sepanjang punggung. Dan juga sebuah makota kecil biru dikepalanya makin mempercantik penampilan gadis itu.
Aroma harum menyebar memenuhi kamar tersebut. Keharuman yang tercium oleh Sasori itu sangat menyegarkan penciumnya. Ino perlahan mendekati Sasori yang mematung di dekat pintu dan jari lentiknya menarik pelan-pelan tangan Sasori, tak ada kata penolakan sedkitpun dari pemuda itu. Ino duduk ditepian ranjang sedangkan Sasori sendiri masih berdiri di depannya, tanpa mengerti harus berbuat apa-apa terhadap gadis itu. Polos. Ya itu yang diucapkan dalam hati Ino. Sasori sangat polos dan dia suka itu.
Gadis yang diperkirakan berusia 22 tahun itu menyunggikan senyum kaku, seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Tangannya yang berjari lentik dan terasa halus itu menyusup masuk ke dalam kaos yang Sasori pakai. Dan Ino segera berdiri di depan pemuda itu meniup mukanya dengan lembut dan nakal di wajah Sasori, dan ternyata tiupan itu itu menyadarkan keterpakuan pemuda polos itu.
"Kau tak mengingkari janjimu kan Sasori-kun?" Bisik Ino ditelinga Sasori lembut.
"Ti... Tidak... Tap... Tapi... Tapi kau si...siapa?" Tanya Sasori gugup.
Wajah cantik berhidung mancung dan berbibir sensual itu mendekat, sehingga hembusan napas-nya terasa hangat diwajah baby face itu.
"Aku si Ino-mu. Seperti inilah akibatnya jika kau menciumku. Apakah kau kecewa melihat perubahanku Sasori-kun?"
"Hmmm... Ehhh... Tentu saja ... Tidak. Ja... Jadi aku harus... Apa?"
Tiba-tiba saja Ino tertawa merdu sekali sehingga membuat wajah Sasori memerah. Wajahnya memerah karena suara gadis di depannya itu sangat indah dan dapat menggetarkan hatinya. Sedangkan Ino tertawa karena sikap Sasori yang sangat polos. Dan tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Ino mencium dahi Sasori layaknya anak kecil yang lucu dan menggemaskan dan itu membuat wajah Sasori memerah lagi dan jantungnya kini lebih berdetak kencang dari sebelum-sebelumnya. Ino segera mendekatkan dirinya lagi kali ini tangannya yang berada di dalam kaos Sasori kini semakin meggelitik hangat hingga ke punggung pemuda itu.
Dan ciuman hangat segera diterima oleh Sasori di pipinya. Tetapi naluri sebagai seorang laki-laki sudah lebih dulu beraksi. Dengan sedikit gerakan wajah, maka ciuman yang ditunjukan ke pipinya itu bergeser cepat hingga tertangkap oleh bibirnya.
Cuppp.
Sasori memulai memagut bibir Ino dengan penuh kelembutan. Tangan pemuda itu pun bergerak secara naluriah. Kedua tangan tersebut menyesup kebalik rambut indah Ino yang berbau wangi. Maka, dengan kedua tangannya Sasori menjamah permukaan punggung gadis cantik itu. Hingga akhirnya tangan itu meremas anak rambut di tengkuk Ino seraya semakin lincah membalas lumatan bibir gadis tersebut.
"Hmmm..." Ino mengerang ketika Sasori sedikit mengigit bibirnya dengan liar. Sebagai pemuda yang belum pernah berkencan dengan wanita mana pun, tapi pernah bermimpi bercumbu, maka ia pun ingin menunjukkan kebolehannya dalam bercinta.
Gadis cantik itu di dorong pelan. Direbahkannya di atas ranjangnya. Sasori segera mencium lutut yang berbetis indah itu, dan ciuman tersebut segera bergerak naik ke atas. Menyusuri kelembutan kulit yang luar biasa nikmatnya jika di sentuh dengan pelan-pelan, penuh dengan perasaan.
Ino mengerang parau. Ia biarkan Sasori menguasai tubuhnya yang ternyata sangat pandai memberikan sentuhan nikkmat yang dibutuhkan oleh jelmaan kucing siluman tersebut. Sasori sepertinya tahu persis titik-titik peka di diri Ino. Walau bercinta hal yang baru baginya bersama Ino. Begitu pun juga halnya dengan Ino.
Dan kini mereka telah hanyut dalam permainan cinta mereka. Sebagai seorang pemula dalam bercinta, Sasori tidak menyadari bahwa dirinya saat itu telah mengalami keajaiban. Berkali-kali ia mencapai puncaknya. Tapi yang jelas, selama gadis yang telah berubah menjadi seorang wanita itu masih menghendaki, selama itu pula kemampuan Sasori masih dapat memenuhinya.
Anehnya, tidak ada rasa lelah dalam diri Sasori. Pemuda itu tetap segar dan bugar menghadapi gelombang percintaan mereka. Mereka baru selesai ketika waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi, dan ketika itulah ia terkulai di samping wanita itu dengan tubuh lemas. Merasa letih dan pegal-pegal ditempat-tempat tertentu.
"Aku sangat bahagia sekali malam ini Sasori-kun," Ucap Ino.
"Akujuga bahagia sekali," balas Sasori sambil dibiarkan peluhnya diusap oleh jubah putih yang terpuruk di samping bantal.
Masih sambil berbaring Sasori memandang wanita cantik di depannya itu dengan kepolosannya. Wanita jelmaan kucing putih itu dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyamping. Wanita itu mengenakan baju kaos Sasori yang kebesaran ditubuh polosnya. Senyumnya masih menghiasi bibirnya yang ranum menyegarkan. Jari tangannya bermain iseng di dada Sasori. Tapi tatapan matanya begitu lembut saat menatap wajah Sasori.
"Siapa kau sebenarnya Ino? Aku yakin kau bukan kucing berbulu putih." Tanya Sasori.
Ino menghela nafasnya sebentar. Lalu ia memulai berbicara.
"Perlu kau ketahui Sasori-kun, aku adalah... Dewi anggora."
"Dewi anggora." Sasori mangerutkan dahinya tanda tidak mengerti sama sekali. Dengan polosnya Sasori bertanya, "Apakah kau seorang putri raja?"
Ino tertawa kecil melihat kepolosan Sasori yang seperti anak kecil.
"Bisa ya, bisa juga tidak. Yang jelas aku diutus oleh ayahandaku ke bumi untuk mencari sebutir intan biru. Permata itu milik ayahku. Intan biru itu diperkirakan jatuh kesini. Jika aku sudah menemukannya, maka aku harus segera kembali tempat asalku. Hei ... Kalau memang persahabatan kita tak ternoda, suatu saat kau akan kuperkenalkan dengan ayahandaku, juga keluargaku lainnya."
"Apakah menurutmu persahabatan kita akan ternoda? Kau pikir aku akan berbuat seperti tadi dengan wanita lain, aku rasa itu tidak akan mungkin Ino."
Ino tersenyum lagi. "Entahlah. Tapi yang jelas, kau harus bisa menyelamatkan diri dari ancaman besar yang akan melanda alam semesta ini."
"Bencana besar apa maksudmu, Ino? Aku tidak mengerti?"
"Tak berapa lama lagi akan terjadi bencana besar mengerikan, bencana itu sulit diduga kedatangannya oleh manusia biasa, Sas. Yang jelas hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahui jenis bencana itu sendiri."
"Kau membuatku takut Ino-chan," desis Sasori sambil mengenggam tangan Ino yang berkulit lebih halus dari kulit bayi. Ino tersenyum, lalu wanita itu segera memeluknya. Pelukan itu terasa memberi kedamaian dan perlindungan bagi Sasori.
"Lupakan dulu semua kata-kataku tadi. Lebih baik pikirkanlah cara menolak permintaan temanmu yang berpura-pura ingin meminjam motormu, padahal dia berniat ingin membawa lari motormu."
Sasori terkejut mendengarnya. Ia segera melepaskan pelukannya menatap Ino dengan tatapan bertanya.
"Benarkah ada yang ingin membawa kabur motorku?"
"Hmm." Ino mengangguk membenarkan. "Seorang teman yang berteman denganmu dan kau berhutang jasa padanya. Kau sangat baik padanya. Kali ini dia kan memanfaatkan kebaikanmu untuk menjual motormu, sebab dia butuh sejumlah uang untuk melakukan perdagangan terlarang," Jelas Ino.
"Siapa orang itu maksudmu Ino?"
"Namanya Kisame."
"Hahhh..."
Alangkah kagetnya Sasori ketika mendengar nama Kisame teman akrabnya di SMU. Hampir saja Sasori tidak percaya bahwa Kisame akan berbuat jahat padanya. Tapi itu semua terbukti ketika Kisame datang menemui Sasori pagi itu dan ingin meminjam motornya dengan alasan yang yang sulit ditolak Sasori. Tapi karena ia ingat pesan Dewi Anggora atau Ino yang setiap ada matahari berubah menjadi seeokor kucing putih, maka ia berhasil mempertahankan motornya. Kisame jelas kecewa sekali pada Sasori dan tidak ingin bersahabat lagi dengannya.
Sehari setelah kejdian itu terdengar kabar buruk bahwa Kisame berhasil membawa mobil pacarnya. Entah dibawa kabur atau dijualnya kemana. Yang jelas dari mulut ke mulut, Sasori akhirnya mendengar kabar bahwa Kisame sekarang terlibat perdagangan obat terlarang.
Sejak saat itulah semua yang dikatakan oleh Ino selalu menjadi kenyataan. Tidak satu pun ramalannya yang meleset. Kerena itu, ketika Ino akhirnya mengetahui jenis bencana apa yang menghancurkan bumi, ia segara menceritakannya kepada Sasori. Termaksud menyuruh Sasori mencari Sakura.
Sayang sekali ada beberapa keterangan yang belum di dapatkan oleh Sasori dari Ino. Sehingga ia tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan dari pihak Sakura. Misalnya seperti Naruto yang bertanya yang sejak tadi tampak antusias mendengar cerita Sasori bertanya penyebab terjadinya badai halilintar.
"Ino memang belum menjelaskan padaku, tapi seandainya malam ini dia ada disini, mungkin saya bisa menanyakannya Nii. "
Naruto mangut-mangutkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya. Setelah itu terdengar kembali suaranya.
"Seharusnya tadi sewaktu kau berhadapan dengan Sakura-chan, kau sebutkan saja nama Dewi Anggora. Siapa tahu Sakura-chan mengenalnya. Jadi, dia bisa menghubungi kucing silumanmu itu menggunakan kekuatan batinnya."
"Maaf Nii, aku lupa tadi."
Naruto hanya menganggukan kepalanya mengerti. Lalu ia melirik ke jam dinding. Ia menguap sesaat. "Sudah hampir subuh, tapi kenapa Sakura-chan belum pulangnya?" Gumamnya pelan terdengar khawatir. "Jangan-jangan terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya ditempat rubah kuning tersebut."
Naruto berusaha menahan paniknya agar tamunya Sakura itu tidak takut.
Sebuah sedan toyota berwarna green turun seorang gadis yang kala itu mengenalan celana ketat sebatas lutut mendekati lokasi yang di sebutkan Gaara dimana rubah beekor satu itu berada. Langkahnya pelan tapi pasti. Para wartawan yang sempat melihatnya merasa tak asing dengan gadis berjaket blue jeans itu. Selain karena Sakura ada seorang model dan artis, dia juga dikenal sebagai paranormal di muka bumi. Setidaknya begitulah orang-orang menyebutnya.
Putri alam itu berjalan berdampingan dengan Gaara Putra dari Dewa pasir dan Dewi tanah, melewati bangkai mobil yang telah hancur akibat tabrakan beruntun tadi. Para korbannya sudah di singkirkan dari tempat tersebut. Namun pemandangan masih terkesan mengerikan. Jalanan retak di beberapa tempat, seperti ingin terbelah-belah. Beberapa bangunan tampak runtuh separuh, atau rusak sebagian. Yang jelas suasananya saat itu sangat sepi, dan mencekam. Lampu-lampu dipadamkan. Supaya tidak terjadi konsleting listrik, karena banyaknya tiang listrik pinggiran jalan yang tumbang tidak beraturan.
Setiap jadi dentuman halilintar rubah kuning itu akan mendongak ke atas dengan menyemburkan bara api dari mulutnya. Gerakan itlah yang menimbulkan kerusakan fisik terhadap bangunan-bangunan sekitarnya. Apalagi jika ekornya yang cukup panjang dan dilapisi oleh cahaya merah seperti bara api, maka benda apapun yang terkena akan hancur, besi akan hangus, sementara angin dari kibasan ekor itu sendiri mengakibatkan hembusan angin kuat yang dapat menumbangkan pohon atau apapun yang dilanda angin tersebut.
Seandainya rubah itu tidak memiliki fisik yang mengandung nyala api bara, maka sekeliling tempat itu akan gelap. Cahaya merah bara itu ternyata juga menyebarkan hawa panas ke berbagai penjuru. Bahkan kini tanaman-tanaman di sekitar lokasi kejadian pada mati semua. Semuanya layu dan menjadi kering.
"Dia membuat tempat ini semakin panas Sakura," Ucap Gaara yang tetap berjalan berdampingan dengan Sakura. Putri alam hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Gaara. Tiba-tiba gadis itu mengosokkan telapak tangannya beberapa saat setelah itu, tiba-tiba saja tangan kanannya disentakkan ke atas. Claaapp...! Wuuuubbb...!
Seberkas cahaya hijau melesat dari telapak tangan itu. Bentuk ukurannya sebesar telur dan lama-kelamaan menjadi besar. Semakin tinggi cahaya itu akan semakin besar dan semakin terang. Sampai akhirnya cahaya itu berhenti tepat di atas rubah kuning itu. Cahaya hijau itu kemudian meletup, menyebarkan awan hijau bergumpal-gumpal. Awan hijau itu menyala terang, dan menjadi sangat lebar. Membentuk lingkaran.
Gaara hanya menatap datar melihat hal itu. Pemuda itu bersedekap tangan ke dada. Tampak pemuda itu memandang cahaya hijau Sakura dengan serius. Semua orang yang kebetulan tidak jauh dari situ hanya bisa terpengarah kagum. Cahaya tersebut membuat alam sekelilingnya menjadi terang.
Dan yang lebih mengagumkan lagi ternyata cahaya hijau itu juga menyebarkan hawa salju. Sehingga udara panas akibat api rubah kuning, kini menjadi berkurang. Bahkan makin lama semakin terasa sejuk. Kini Sakura dan Gaara kembali melanjutkan perjalan mereka, mendekati rubah kuning tersebut.
"Grrrrrrrr..." Jalanan tol tempat mereka melangkah tiba-tiba bergetar hebat. Rupanya rubah berekor satu itu merasa terganggu oleh awan hijau yang seperti jamur raksasa di angkasa itu. Gerakan mahluk itu semakin mengguncangkan tanah di sekitanya. Tapi dengan cueknya Gaara dan Sakura tetap melangkah terus mendekati penjaga istana iblis itu.
Krakkkkkk
Terdengar suara berderak menggema, ternyata besi pembatas jalan tol itu terjungkal ke atas langit akibat ayunan ekor rubah. Besi pembatas jalan itu bagaikan dijebol sepanjang hampir satu kilometer. Ukuran fisik rubah itu pun menjadi bertambah besar. Kepalanya mulai menghadap ke arah datangnya Gaara dan juga Sakura. Dari kaki depannya itu segera menyemburkan uap busuk ke arah Sakura. Wosssssss
Uap busuk itu berbentuk asap hitam menerjang Gaara dan juga Sakura. Tapi sebelum hal itu terjadi Gaara sudah terlebih dahulu membuat pembatas seperti dinding raksasa dengan pasir hingga membuat asap hitam itu tidak mengenai mereka. Justru uap itu berbalik arah, menerpa rubah kuning itu sendiri.
Krrrraaaakkkk...
Kelabang itu mengeluarkan suara serak. Mulutnya terbuka lebar-lebar dan kini tersemburlah kobaran api raksasa ke arah mereka lagi. Dengan sekali sentakan keras Sakura menghentakan kakinya ke bumi, hingga hentakan itu membuat uap salju tiba-tiba menyembur keluar dari jalanan beraspal yang di tempati Sakura. Wuuuuuushhhhhh
Deras sekali semburan uap salju itu, menyerupai air mancur yang panjangnya melintang jalanan tol tersebut. Ketika gumpalan api itu menghantam uap salju itu, padamlah api tersebut dengan menimbulkan suara gemuruh yang nyaring.
Hwuuuuurrrsss...!
Angin berhembus berbagai penjuru, kuat sekali. Hingga membuat Sakura terlempar kebelakang bersama Gaara yang sudah terlebih dahulu menarik Sakura ke dalam pelukannya.
Bruukkkk...! Keduanya cukup terjatuh dengan keras. Tapi Putri alam tidak akan merasa sakitnya karena saat itu Gaara melindunginya dengan menjadikan dirinya pendaratan buat Sakura agar tidak menghantam jalanan aspal.
"Gaara..." Seru Sakura panik. Sakura segera bangkit dari badan Gaara sambil membantu tangan Gaara untuk ditarik berdiri kembali. "Kau tidak apa-apa" Tanya Sakura khawatir. Tapi Gaara segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa," jawabnya. Sakura segera menatap tajam ke arah rubah kuning tersebut. Entah kenapa meilhat Gaara terluka membuat Sakura takut setengah mati. Dia tidak ingin Gaara kenapa-kenapa. Dengan lantang Sakura segera berbicara kepada rubah itu.
"Kau mengenaliku Kyubi!" Seru Putri alam. Suaranya menggema hingga terdengar kejahuan sana, hingga si rubah ekor satu itu pun dapat mendengarnya.
"Grooooaaaahhhh...!" Si rubah berekor satu itu mengerang dengan suara menggema pula. Perpaduan gema itu menimbulkan getaran yang membahayakan bagi orang-orang yang disekitar tempat itu.
"Kembalilah ke tempatmu, Kyubi! Alam ini bukan tempat yang layak bagi persembunyianmu. Kehadiranmu di sini hanya akan membahayakan semua mahluk hidup di bumi ini."
Penjaga istana iblis yang ternyata bernama Kyubi itu mengerti maksud perkataan dari Putri alam itu dan dia tidak mampu membantah dengan kata-kata. Maka dari itu Kyubi menyatakan penolakannya dengan menyemburkan semburan api dari ekornya. Tapi dengan sigap Gaara sudah terlebih dahulu menghantam api itu dengan badai pasirnya dengan kuat. Sehingga semburan api itu padam dan menyatu dengan pasir Gaara. Hingga pasir itu menghantam tubuh rubah itu dengan keras hingga membuatnya terjungkir balik kebelakang dengan kuat. Geraman rubah itu semakin keras dan menggetarkan awan hijau yang masih menggantung di angkasa.
Putri alam segera menghantam tubuh rubah itu dengan shannaronya tapi sayang Kyubi itu lebih dahulu menghantam Sakura dengan ekor apinya.
Bruuuukkkkkk...
"Kyaaaaaaaa ..."
Tidak ada yang tidak berteriak saat melihat Putri alam terlempar jauh akibat hantaman ekor satu itu. Sakura melayang dengan cepat bagaikan kilat dengan badan yang di selimuti api, tapi sebelum badan mulusnya itu mendarat di aspal cahaya kuning sudah terlebih dahulu menangkap tubuh Sakura. Hingga akhirnya cahaya kuning itu menghilang menampilkan seorang pemuda yang diketahui adalah Putra matahari. Uzumaki Naruto.
"Enggggghhh..." Sakura meringis menahan badannya yang sakit akibat hantaman ekor Kyubi pada tubuhnya. Dengan perlahan Naruto berlutut satu kaki dan mulai mengalirkan cahaya kuning ke atas perut Sakura. Mengalirkan sinar dewaninya agar membuat Sakura pulih sedia kala. Setelah dirasa cukup, Naruto segera memberikan Sakura kepada Gaara dan berhadapan dengan Kyubi. Ia tidak bisa terima gadis pujaan hatinya terluka seperti itu.
Dengan cepat Naruto berubah menjadi sinar kecil seperti matahari yang berukuran kecil menerjang bagian kepala bawah Kyubi.
Zlaaaaappp... Bleeegggaaarrrr...
Kali ini benturan cahaya dari Putra matahari menimbulkan dentuman halilintar yang dahsyat. Kyubi meraung panjang dengan terbungkus asap bergumpal-gumpal. Asap itu lama-lama semakin menipis. Di sebrang sana tampak Naruto sudah berada di samping Gaara dalam wujud manusianya, sementara Kyubi menyusut. Makin cepat makin menyusut dan akhirnya menjadi seekor anak rubah kecil. Raungannya pun menjadi kecil, seperti jeritan anak bayi yang menangis.
Ketika Naruto akan menghatam anak rubah itu dengan kekuatan khasnya sebagai Putra matahari, Sakura yang entah sejak kapan sadar sudah terlebih dahulu menggenggam tangan Naruto agar tidak menyakiti rubah itu.
"Sakura-chan." Naruto mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti tapi Sakura segera menggelengkan kepalanya dan mendekati Kyubi yang sudah menjadi anak rubah kecil. Saat itu Kyubi kecil sedang menangis. Dengan lembut Sakura menggendong Kyubi hingga membuat Kyubi berhenti menangis. Mata hitam hewan itu memandang mata Sakura polos.
"Dengan ini kunyatakan kau bukan penjaga istana iblis lagi," Ucap Sakura sambil mengelus kepala rubah itu. Putri alam mengulurkan tangannya lurus ke atas langit. Lalu, awan hijau yang memayungi tanah di sekitar tempat itu bergerak cepat ke bawah. Tersedot masuk ke telapak tangan itu.
Zzssssuuuuttt ... Sleeeeb...
Habis sudah awan hijau itu. Udara sejuk pun hilang. Suasana menjadi gelap kembali. Tak seorang pun dapat melihat kedua pemuda itu menghampiri Sakura.
"Ancaman maut ini belum selesai Sakura. Badai halilintar masih mengintai kita. Kita harus siap menghadapi yang akan terjadi nanti," ucap Gaara.
Sakura mengangguk lalu menatap Naruto walau gelap Sakura dapat mengenggam tangan Naruto. Kalau saja saat itu jalanan sedang terang mungkin Gaara bakal dapat melihat dua manusia di depannya itu sedang merona merah di pipinya.
"Kita harus pulang dan menemui Sasori Sakura-chan."
"Ya."
Gaara terlebih dahulu jalan menuju mobil yang dipakai tadi bersama Sakura. Sedangkan Naruto dan Sakura masih tetap tidak bergeming sedikitpun dijalan itu. Masih bergandengan tangan.
"Kau akan melihara-nya Sakura-chan?" Tanya Naruto ketika melihat sosok Kyubi yang tertidur dalam gendongan Sakura.
"Hmmm."Gumam Sakura. "Terimakasih sudah menyelamatkanku lagi."
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah melihatmu terluka Sakura-chan. Aku akan sangat marah kalau sampai kau kenapa-napa."
Sakura sempat menahan napasnya ketika melihat Naruto yang serius dengan ucapannya.
'Benarkah." Lirih Sakura.
"Hmmm."
Masih tangan yang saling mengenggam, tangan kiri Naruto segera mengangkat dagu Sakura menghadapkan ke arahnya. Walau di kondisi tanpa cahaya tersebut tapi Naruto tahu sekarang ini Sakura merona untukknya. Tanpa sadar dua anak Dewa itu sudah menyatukan bibir mereka. Membuat siapa pun melihatnya dapat merasakan indahnya cinta pada malam itu.
.
0o0o0o0o0oo0
.
Sekitar tujuh pagi. Cuaca pagi semakin buruk. Keganjilan alam semakin tampak jelas. Langit bukan lagi mencerminkan kecerahan, tapi semakin merah. Dentuman halilintar masih terjadi stiap 45 menit sekali. Jalanan sepi, lenggang, wajah bumi mulai tampak porak poranda. Membuat bumi terlihat mencekam sekali. Putri alam yang belum tidur sejak semalam dan itu dapat dilihat kantung mata yang menghiasi kedua mata indahnya. Ia ditemani oleh Naruto dan juga Gaara tapi Gaara tak sanggup menahan kantuknya, sehingga sejak pukul 6 dia sudah terkapar nyenyak di kamar tidur tamu. Untung saat itu Sasuke telah datang. Melaporkan hasil informasi yang diproleh dari perbatasan alam.
"Rata-rata mereka berpendapat tidak tahu apa penyebab datangnya tanda-tanda badai guntur itu."
Laporan tersebut membuat Putri alam menarik napasnya dalam-dalam. Rasa kecewanya terbuang bersama napas panjangnya. Ia tak menyalahkan Sasuke, namun ia merasa jengkel terhadap Naruto yang pagi-pagi sudah melahap ramen instannya dengan cepat tanpa memperdulikan panas dari ramen tersebut. Ia merasa jengkel karena Naruto meninggalkan tamunya sendiri dirumahnya dan kini tamunya itu sudah tidak ada lagi.
"Aku meninggalkannya karena kau dalam bahaya pada malam itu Sakura-chan. Jadi jangan salahkan aku kalau aku meninggalkan tamumu sendiri," tutur Naruto sambil berlagak cemberut kesal. Sakura merasa geli sendiri dalam hatinya, karena ia tahu sikap berlagak cemberut kesal adalah kebiasaan Naruto jika melakukan kesalahan. Dan anehnya dia hanya cemberut seperti itu kepadanya saja. Dia menyukainya.
"Kau memang tidak bisa menjalankan perintah dengan baik dobe," Ucap Sasuke sambil menikmati sarapannya.
"Diam kau teme! Aku lagi serius ni bukan bercanda tahu."
"Serius sih serius, tapi bibirmu jangan sampai monyong sepanjang jalanan trotoar dobe."
"Grrrrr, dasar kau teme." Dengan cepat Naruto meraih sendok garpu terdekatnya dan melemparkannya ke arah Sasuke. Maksudnya untuk memberi sedikit pelajaran tapi dengan mudahnya garpu itu ditangkap dan dijadikan untuk menusuk rotinya. Naruto yang melihat hal itu semakin geram.
Sedangkan Sakura yang melihat pertengkaran dua sahabatnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu tiba-tiba saja handphonennya berdering membuat dua pemuda tampan yang di depannya itu memandangnya.
"Dari siapa? Apa Sasori?" Tanya Naruto.
"Bukan, dari Oba-san Tsubaki. Sebentar..." Sakura segera mengangkat telfon tersebut.
"Dia sudah bangun Sakura."
"Ah yokatta. Bagaimana dengan keadaannya sekarang Oba-san."
"Dia sehat-sehat saja. Pinggangnya juga tidak sakit lagi, katanya dia belum bisa berbicara denganmu, habis suaranya masih serak."
"Tidak apa-apa. Saya mengerti Oba-san."
"Kapan kau akan kerumah Sakura-chan? Tadi Mei cerita kalau dia bermimpi menggendong bayi. Tapi setelah diperhatikan ternyata bayi itu berubah menjadi seekor rubah raksasa berwarna kuning. Apa artinya itu Sakura?"
"Ohhh..." Sakura tertegun cemas. Lalu dia menatap Kyubi yang berada di pangkuannya sesekali ia akan menyodorkan daging yang telah di potong kecil ke mulut kecil rubah itu. Biarpun Kyubi kali ini telah berpihak padanya tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa kekuatan iblis masih ada pada diri rubah berekor satu itu. Siapa tahu rubah itu bisa saja sewaktu-waktu akan berubah menjadi besar kembali dan akan memangsa Mei titisan Artemis. Sakura menggelengkan kepalanya kuat. Tidak rubah itu telah sepenuhnya bersih dari kekuatan iblis. Tapi benarkah?
"Sakura?" Suara telefon yang masih tersambung menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Hmmm... Oba-san sebentar lagi aku akan kesitu bersama Naruto. Ada sesuatu yang harus saya lakukan buat Mei. Jangan pergi kemana-mana dulunya Oba-san?"
"Baiklah."
Selesai meletakkan Hpnya, Sakura sempat diam mematung selama tiga helaan napasnya. Lalu memandang laki-laki di depannya yang meminta penjelesan.
"Apa ada yang gawat di apartement itu?" Tanya Sasuke. Sakura menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak. Tidak ada," Jawabnya.
"Lantas... Kenapa?"
"Aku harus membersihkan darah Mei supaya tidak mengandung energi gaib titisan dari Artemis," ucap Sakura. Lalu memandang Kyubi yang juga kebetulan memandangnya dengan mata hitamnya.
"Tapi sebelum itu kau harus menjaga Kyubi selama aku membersihkan darah titisan Mei. Aku takut ketika aku meninggalkannya dirumah sendiri akan terjadi hal-hal aneh dan dia akan berubah seperti semula dan memburu Mei lagi." Lalu sakura memandang Sasuke dengan serius. "Jika Kyubi berhasil menyatu dengan titisan Dewi Artemis, maka ia akan menjadi tangguh dan sulit dikalahkan. Dan hewan ini akan menjadi satu-satunya yang akan selamat dari badai halilintar."
Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah mendengar penjelasan Sakura membuatnya sedikit merinding. Lalu menatap Kyubi yang masih setia duduk dipangkuan Sakura sesekali gadis itu akan mengelus kepala hewan berwarna kuning tersebut.
Kalau memang Sasori sampai nanti sore belum juga kita temukan. Aku meminta mu untuk memanggil ayah atau ibumu untuk meminta bantuan dari beliau, Sasuke-kun."
"Hmm." Sasuke menganggukkan kepalanya.
Sedangkan Naruto tampak tertegun lalu berkata pelan, "Jangan-jangan mereka saat ini kencan di suatu tempat."
"Kencan?" Tanya Sakura heran. "Maksudmu, Sasori bercinta dengan kucing putihnya begitu?"
Naruto menganggukkan kepalanya. "Hmmm. Sebab, menurut cerita Sasori semalam, kucing itu akan berubah menjadi manusia kalau mendapat ciuman dari lawan jenisnya. Dan sepertinya Sasori benar-benar jatuh cinta kepada kucing jelmaannya itu. Kucing cantik itu mengaku bernama Dewi Anggora atau biasa dipanggil Sasori, Ino."
"Hah? Siapa? " Sakura tersentak kaget. "Ino si Dewi Anggora maksudmu?"
"Benar. Apa kau mengenalnya Sakura-chan?" Tanya Naruto.
"Dewi anggora... Setahuku dia adalah anaknya dari Dewa Inoichi Yamanaka sedangkan ibunya adalah Dewi Hana, Dewi tumbuhan."
"Benar dugaanku. Jadi kucing putih itu juga penghuni khayangannya."
"Pantas saja dia tahu tentang diriku," Gumam Sakura pelan. "Sebaiknya kita bergegas mencari Ino agar dia bisa membantuku mencegah terjadinya badan halilintar. Kalau begitu... Kita bagi tugas."
Sasuke menyahut dengan cepat, "Aku mencari kucing putih itu dan kau dan si dobe membersihkan dara titisan Dewi Artemis, begitukan?"
"Ya, begitu," Ucap Sakura, sikapnya tampak lebih bersemangat saat itu. "Tapi ingat jangan tampakkan dirimu saat kau berubah ke wujud aslimu di depan Sasori. Pemuda itu dapat memandang roh-roh gaib seperti kita."
"Bikin susah aja anak itu. Kurasa gara-gara dia bercinta dengan Ino membuat indera penglihatannya menjadi seperti itu," Gerutu Naruto jengkel. Dan di dalam hatinya Sakura pun membenarkan pernyataan Naruto. Energi Dewani pada Ino memang bisa saja mengalir sebagian pada diri Sasori jika Ino tidak menggunakan Maku dewandini-nya, Sakura yakin jika Ino secara terus menerus bersikap begitu, maka seluruh kesaktiannya dapat memenuhi jiwa Sasori hingga habis. Hingga pada akhirnya Sasori yang manusia biasa akan mati membusuk akibat auranya tidak mampu menampung energi kesaktian Ino.
"Agaknya aku harus mengingatkan Ino agar hati-hati," Ucap Sakura ketika meluncur ke apartementnya Mei bersama Naruto. "Atau, kusuruh Ino menarik kembali energinya, sehingga Sasori tidak tersiksa oleh penglihatannya sendiri."
.
.
.
.
Tbc
A/N : akhirnya selesai juga bagian SasoIno, #sujud syukur di atas patung hokage. bagaimana? Bagaimana? Baguskah, burukkah, hehehehehe :D.
Masih terinspirasi dari novel. Dichap ini Sakura yang berperan penting, sedangkan chap pertama Naruo. Chap depan? tunggu ja :D
Dan chap dua ini khusus buat Amanda, ini SasoIno-nya moga kamu suka ya sayang, jangan lupa colab kita, hahahahah :D ganbatte
Ah untuk SasoIno kuputuskan menjadi dua chapter karena law mau dijadikan satu kepanjangan banget. Hu hu hu,
Sedikit curhatnya. Hari minggu tadi saya nonton Hunger Games catching fire, jujur saya penggemar team Peeta, tapi melihat di film kedua Katnis banyak mencium Gale rasanya pas aku nonton, ingin rasanya aku robek thu layar bioskop, hahahahahah (emosi), sampai teman kanan-kiri saya yang kebetulan bawa pasangan sedangkan saya ditengah gak bawa pasangan, ku tunjul-tunjul kepala mereka, hahahahaha sangking emosinya melihatya Katniss ciuman ma Gale. ya walau pada akhirnya Katniss juga sama Peeta tapi tetap gak rela Katniss di cium orang lain. Dan yang paling saya suka di hunger Games karakternya johana, dia emank keren. Apa lagi waktu adegan dia telanjang di depan Peeta, haymitch, dan katniss. Hahahahahah sontak dibioskop pada ketawaan semua. Begitu juga teman-teman disamping saya yang langsung dorong bahu gue kanan-kiri. Dan aku bersumpah gak bakal lagi duduk ditengah mereka. Soalnya mereka banyak ciuman ma pacarnya dari pada nonton layar tancap. Iya #temen author emank pada gak waras dan gak tau malu :D
So aku gak sabar buat nunggu kelanjutannya mokingjay tahun depan.
Kembali ke fict so bisa minta riviewnya agar tahu fict ini layak dilanjutkan atau di hapus saja. dan terimakasih buat riview-riviewnya. maaf gak bisa balas satu-satu.
See u
Salam cherry
