© Title: Family Rush!©

.

Author:

Queen Winkata

.

Cast:

Kim Seokjin as Jin

(Putera Pertama, si Sulung Keluarga Kim)

Kim Jiwon as Bobby

(Putera Kedua; kembaran tak identik B.I/Hanbin)

Kim Hanbin as B.I

(Putera Ketiga; kembaran tak identik Bobby/Jiwon)

Kim Hyunsoo as Rany

(Putri Pertama sekaligus bungsu keluarga Kim)

.

Support Cast:

Kim Wonshik as Father of 4 Kim's Siblings

(cuman sebut nama untuk beberapa chaptere kedepan)

Cha Haekyeon as 'Mother' of 4 Kim's Siblings

(cuman sebut nama untuk beberapa chaptere ke depan)

Kim Taehyung as V

Kim Donghyuk as Donghyuk

Kim Jinhwan as Jinhwan

Koo Junhoe as Junhoe

and more cast

(penjelasannya nyusul beserta cast lain)

.

Genre:

Humor , Family, Romance, Friendship

(genre lain menyusul)

.

Disclaimer:

All chara belongs to themselves and GOD.

Tapi ini cerita punya saya, ide pun dari saya juga.

.

Summary:

Tahun Ajaran Baru segera dimulai!

Tentu saja 4 bersaudara Kim mempersiapkan keperluan yang mereka butuhkan untuk kembali ke sekolah, terutama untuk si bungsu yang sebentar lagi akan memasuki jenjang yang lebih tinggi yaitu Senior High School!

Bagaimana persiapannya ya? Dan juga apa yang terjadi ketika Rany mengikuti audisi untuk masuk ke sekolah yang sama dengan ke-3 kakaknya ya?

.

.

Warning:

Fiction ini terinspirasi dari sebuah Manga yang berjudul Family Rush! Karya Kuze Mizuki. Bagi yang udah pernah baca Manga ini jangan heran jika ada beberapa alur di fiction ini yang sama dengan Manga yang kusebut tadi. Tapi akan aku buat beda dengan imajinasiku sendiri. Pokoknya ini bener-bener beda dan ini tentang Family, adegan romance kujejelin berkala/?.

GaJe, OOC (maybe) Yaoi with little bit Straight ^w^

Don't like, don't read!

Just go to [X]

.

Nb:

Ide membuat fanfic ini berdasarkan dari ide bajret yang tiba-tiba lewat, entahlah akan jadi apa fanfic ini^^

*Rany itu suka manggil kakak-kakaknya dengan panggilan sesuka hati, contohnya si kembar Bobby sama B.I. Kadang dia manggil si Bobby pake panggilan Bobby/Jiwon(Pake nama asli kalo dia lagi marah sama si Bobby) kalo si B.I lebih suka manggil Hanbin, kalo B.I agak aneh bagi dia. Oke sip itu aja^^

.

Queen Winkata Present ^~^


Pagi hari, di kediaman Kim

"Hei, Hyunsoo-ah~ Ayo bangun, ini sudah pagi." Jin dengan sabar membangunkan adik terakhirnya yang memang sangat susah untuk bangun pagi. Bobby dan B.I sudah menyerah untuk urusan ini, terpaksa Jin yang turun tangan. Yah selain dia yang tertua, si bungsu ini sangat menurut padanya.

Dengan sedikit kencang, pemuda tampan itu menguncang tubuh sang adik yang masih asik bergelung di dunia mimpi. Ia melakukan itu sampai berulang-ulang, hingga terdengar erangan kesal dari dalam selimut bermotifkan panda itu. "Ukh~ aku masih ngantuk kak~ Beri aku waktu 10 menit lagi~"

Jin yang mendengar rengekan si bungsu hanya bisa tersenyum lembut, dengan pelan ia usap surai berwarna hijau toska milik sang adik yang menyembul dari dalam gulungan selimut yang membalut tubuh gadis berusia 16 tahun itu. "Sebentar lagi sudah akan masuk Tahun Ajaran baru, kau tidak mau mempersiapkannya eoh?"

"Hng~ kak Bobby saja yang mempersiapkan keperluanku, dia kan kurang kerjaan." sahut si bungsu ini dengan santainya, dia masih belum bangun sepenuhnya. Tampak kerutan simpang tiga di kening pemilik nama yang bersangkutan, B.I hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Ia dan Bobby berdiri didepan pintu kamar si bungsu yang masih tenggelam dalam lautan mimpi tersebut.

"Hari ini kita akan belanja keperluan kita masing-masing untuk Tahun Ajaran Baru ini, setelah itu kita akan jalan-jalan. Yakin nih gak mau bangun?" tanya B.I kali ini. Namja dengan mata sipit itu memandang jahil kakak kembarannya, seakan bertelepati untuk mengerjai si bungsu. Tidak ada salahnya kan membuat keributan di pagi yang cerah ini?

"Gak papa sih kalau kau gak mau bangun, nanti aku akan menghabiskan jatah camilanmu nanti. Iya kan kak Jin?" Bobby mengerlingkan mata kanannya ke arah Jin ,tanda untuk kongkalikong-mengerjai si bungsu maksudnya. Jin tersenyum tipis, "Yah itu benar, ya sudah kami akan siap-siap dulu."

Pemuda tampan itu beranjak dari kasur sang adik, mengajak kedua adik kembarnya untuk keluar kamar. Tapi belum sampai 5 langkah, teriakan menggelegar dari si bungsu memecah pagi hari di kediaman Kim itu.

"ARGHH! AKU BANGUN! AKU BANGUUUN!"

Ketiganya tersenyum jahil.


"Apa lihat-lihat?" dengan nada sebal, Kim Hyunsoo menatap tajam ketiga kakaknya yang nampak menahan tawa. Gadis ini ingat betul insiden tadi pagi. Setelah ia berteriak dan bangun dari singgasananya itu, badannya yang masih terlilit selimut membuatnya jatuh dengan cukup keras ke lantai sekitar kasurnya yang terlapisi karpet bulu. Tidak terlalu sakit sih, tapi yang membuatnya jengkel adalah ketiga saudaranya bukan membantunya untuk bangkit malah menertawainya kencang.

"Kkk~ Jangan cemberut begitu Rany-ah~ Kkk kami kan hanya bercanda." Pada awalnya Bobby memang ingin membujuk adiknya untuk berhenti cemberut, tapi gagal karena ingatannya membawanya kembali ke insiden pagi tadi. Membuatnya tak mampu mengontrol tawanya, dan sukses menimbulkan sebuah kerutan simpang empat di kening sang adik terakhirnya itu.

"Dasar menyebalkaaaan!"

CTAK!

"AUW! Sakit!"

Sebuah sendok mengenai jidat Bobby dengan cukup keras, Jin yang melihat kejadian itu langsung turun tangan untuk mendinginkan adik perempuannya itu.

"H-hei, Hyunsoo-ya~ Jangan seperti itu eoh? Kasian Bobby, lihat jidatnya benjol." Sebagai kakak tertua, Jin berusaha untuk meredam emosi adiknya itu. Well, kejadian ini tidak sepenuhnya salah Rany juga sih. "Bobby-ya, hentikan tawamu." bisiknya lirih ke arah Bobby.

Rany nampak cemberut, ia mengira jika Jin pilih kasih karena hanya dia yang diperingati-padahal ia dan Bobby sama-sama diperingati. "Habis, dia yang mulai duluan!" tak terima Rany, gadis manis itu menatap garang kakak keduanya itu. Sedangkan yang ditatap segarang itu hanya menampilkan cengirannya. Well, susah juga untuk menjinakkan adiknya ini, pikir Bobby.

"Sudah-sudah, nanti kak Bobby belikan apapun yang kau mau." B.I yang sebelumnya asyik memakan pancake yang dibuat Jin sebagai sarapan mereka angkat bicara, memberi usulan yang tentunya memberatkan kakak kembarnya. Bobby mendelikkan kedua mata sipitnya ke arah B.I. "Ya! Kim Hanbin!?"

"Benarkah itu kak Hanbin?" tanya Rany dengan kemilau mata yang menyilaukan mata Bobby yang duduk dihadapan si bungsu ini. B.I atau Hanbin menganggukkan kepalanya santai, membenarkan apa yang dikatakannya tadi. "Hei, kenapa jadi aku sih." protes Bobby, tidak terima ceritanya.

"Habiskan sarapan kalian, dan kita berangkat." kata Jin dengan tegas, well kekuatan kakak pertamanya muncul. Dan setelah itu, sarapan pagi di kediaman Kim itu berubah menjadi lebih tenang.

.

.

.

.

Disisi lain. . .

"Ya! Koo Junhoe! Hati-hati! Isinya berharga tau!" pekikan dengan nada tinggi itu seolah angin lalu bagi seorang pemuda dengan wajah cuek yang sedang mengangkat dua kardus sekaligus. Ia berjalan dengan langkah santai, melewati seorang pemuda manis yang kini menghentakkan kakinya kesal.

"Lebih baik kau membantuku daripada bertingkah sok imut seperti itu, Kim Donghyuk." pemuda dengan alis tebal dan wajah jutek itu sepertinya tidak sadar jika dirinya telah membuat si manis mengamuk.

"YA! KURANG AJAR KAU!" dan teriakan membahana itu cukup mengaketkan para pejalan kaki yang sekedar lewat di depan bangunan mewah di kompleks perumahan tersebut.


Victory Departemen Store

"Jangan pergi sendiri-sendiri." Rany yang merasa jika teguran itu ditujukan untuk dirinya, langsung menampakkan wajah cemberutnya. Dan kembali berjalan dibelakang Jin yang memimpin perjalanan mereka. Meninggalkan sebuah boneka panda yang terpajang cantik di sebuah etalase toko boneka. B.I yang berjalan disamping adiknya ini hanya tertawa kecil, ia sangat-sangat tau bagaimana cintanya sang adik terhadap hewan endemik asal China itu.

"Nanti kubelikan untukmu, jadi jangan cemberut lagi oke?" dengan bisikan pelan, B.I membujuk si bungsu untuk tersenyum. Dan yah, pemuda tampan itu berhasil.

Jika Jin memimpin jalan mereka-untuk berbelanja, B.I dan Rany yang tengah berdiskusi tentang boneka panda yang diinginkan oleh si bungsu, Bobby si kakak kedua malah sibuk memberikan kedipan genit pada beberapa gadis dan juga pemuda manis yang sekiranya cocok untuk dia goda. Dasar playboy.

Yah, siapa yang tidak kenal dengan Kim bersaudara ini? Tiga Pangeran tampan dan satu putri manis ini sudah sering menjadi pembicaraan. Kedua orangtua keempat Kim ini memang sengaja memperkenalkan dunia entertain sejak dini kepada mereka. Jin dikenal sebagai Pemuda yang baik hati dan pintar memasak (karena kenyataannya memang begitu). Pemuda tampan ini kerap muncul di beberapa majalah fashion dan tentunya majalah memasak. Saat ini pemuda penggemar warna pink ini adalah siswa kelas 3 di Sekolah seni Seongnam Art High School. Ia sudah dikenalkan dengan dunia Modeling oleh sang Ayah.

Lalu ada si kembar Bobby dan B.I, keduanya dikenal sebagai Composer dan juga Rapper. Keduanya memiliki ciri khas tersendiri dalam melakukan Rapping, dimana Bobby dengan suara beratnya dan B.I dengan suara sedikit ehem cemprengnya-itu kata Bobby sih. Keduanya sering mengupload video mereka ke sebuah situs di internet yang kita kenal dengan nama Youtube. Entah itu video cover mereka ataupun kegilaan mereka. Keduanya juga bersekolah di sekolah yang sama dengan sang kakak, jika Jin adalah siswa kelas 3 maka si kembar ini berada di kelas 2 (baru saja naik kelas;begitu juga dengan Jin.)

Dan yang terakhir adalah Rany, atau yang sebenarnya memiliki nama Kim Hyunsoo. Gadis manis ini dikenal sebagai mantan atlet panahan, model freelance dan juga artis youtube semacam kakak kembarnya itu. Tahun ini ia berencana untuk ikut audisi Seongnam Art High School, dia tidak mau berpisah dengan kakak-kakaknya. Dia sangat mahir bermain gitar.

Dan juga mereka adalah pemilik sah dari berbagai cabang usaha milik ROVIXX Corporation, perusahaan yang membuka cabang bisnis di berbagai macam bidang. Diantaranya ada Kuliner, Otomotif, Music bahkan Fashion. Dan sebenarnya, keempat anak manusia ini tidak ada yang tertarik dengan usaha tersebut.

"Baiklah,sekarang kalian bisa berpencar untuk mencari barang yang kalian butuhkan. Dan pastikan barang itu terdaftar." gerutuan terdengar dari Bobby dan Rany, keduanya hendak protes ketika Jin menatap mereka tajam (kecuali untuk Rany, Jin hanya sedikit melembutkan tatapan matanya pada adik terakhirnya itu.).

"Kak Jin kan baik, jangan pelit gitu deh~" rajuk Bobby dengan suara manja, Rany dan B.I langsung mengeluarkan ekspresi ingin muntah lengkap dengan suara 'howek' yang keduanya ciptakan. Bobby mengerang frustasi begitu Jin menolak rajukannya dengan gelengan kepala. Hancur sudah keinginannya untuk membeli Earphone baru.

.

.

.

.

(1 Jam kemudian. . .)

"Astaga Rany~! Berapa banyak yang kau ambil eoh?" pekik Jin begitu melihat isi troli belanjaan si bungsu, yang sangat. . . penuh. Setau Jin, Piercing, Dasi, Earphone dan Snapback tidak masuk kedalam daftar belanjaan si bungsu ini.

"Kau juga Bobby, sudah kubilang jangan ambil benda-benda aneh." B.I yang melihat keributan disampingnya hanya memasang wajah cool. Ia memilih cara aman daripada ia harus menerima amukan murka kakak pertamanya itu.

"Lagipula ini tidak terlalu banyak kok! Kak Jin lebay deh!" protes Rany, gadis itu tak terima jika barang-barang yang ia pilih dikatakan tidak ada gunanya. "Tuh lihat tuh, kak Hanbin saja belanjaannya juga banyak!" gadis pecinta panda dan snapback itu menunjuk troli belanja B.I yang terlihat cukup penuh.

"Sudahlah kak, biarkan saja mereka mengambil itu." B.I berusaha melerai pertengkaran itu. Malu juga dia menjadi pusat perhatian begini. Didekatinya si bungsu, "Hei, jangan cemberut~ Bukankah kau sudah janji padaku untuk tidak berwajah jelek seperti ini." dan mencubit gemas pipi yang sengaja digembungkan itu.

Gadis manis itu diam, tak berniat untuk menyauti perkataan B.I. Bobby yang berada tak jauh dari keduanya menyikut pelan lengan Jin. "Kak, lebih baik mengalah saja deh." ucapnya pelan pada sang kakak. Jin mendelikkan kedua matanya kearah Bobby yang kini sedikit menjauh darinya karena kaget. "Mwo? Mengalah katamu? Kita ini sekarang sedang berhemat, Appa dan Eomma belum mengirim uang pada kita. Well sekalipun kita ini lebih dari cukup, kita tidak bisa menggunakan uang secara semena-mena. Arra!?"

"Tapi kak. . ." Bobby berusaha meluluhkan Jin yang masih bersikukuh dengan keputusannya. Memang benar sih yang dikatakan Jin. Pemuda tampan itu sudah seperti Suami saja, sudah cocok mengurusi pengeluaran rumah tangga. "Sekali tidak ya tidak."

Hening. . .

Tidak ada suara sahutan atas ucapan tegas Jin, keputusan Kim tertua itu sudah bulat ternyata. Mau tak mau Rany harus menuruti perkataan kakak tertuanya. Dengan langkah gontai ia kembalikan barang-barang yang dikatakan Jin tidak terdaftar itu. "Aku sudah mengembalikannya, lebih baik kita segera pulang. Aku capek."

Sebenarnya Jin juga tidak tega untuk melakukan ini, namun bagaimanapun juga mereka memang harus hemat. Uang bulanan yang kedua orangtua mereka kirimkan belum masuk ke rekening utama Jin. Walau memang ada uang hasil dari Rovixx Corp yang didirikan sang Ayah, tapi itu uang perusahaan. Bukan hanya milik mereka yang memang anak dari pemilik perusahaan saja kan?

Jin mengeluarkan ponsel putihnya dari saku jasnya. "Sekretaris Lee. Tolong urus semua barang-barang yang kubeli di Victory Departemen Store."

". . . "

"Masih ada hal yang harus kuurus. Hm, langsung bawa ke rumah saja." Tanpa menunggu balasan dari seberang, Kim sulung itu langsung memutuskan sambungan telfon tersebut.

"Memang kita mau apalagi kak?" tanya Bobby yang sepertinya pemuda sipit ini sempat mencuri dengar pembicaraan kakakknya di telfon barusan. Jin menyunggingkan senyuman tampan andalannya, dan akibat dari senyumannya itu sebagian karyawan wanita dan pengunjung departemen store hari itu tumbang ketika melihat senyuman seorang Kim Seokjin, "Masih ada yang harus kita rubah, ayo!"


Salon & Spa at Victory Departemen Store

"AAAAAAAA! AKU TIDAK MAU MENGGANTI WARNA RAMBUTKUU!" Bobby dan B.I nampak kesulitan menahan kedua lengan adik mereka yang kini tengah berontak di kursi rias. Si bungsu begitu histeris ketika mendengar bahwa. . .

"Kau harus merubah warna rambutmu yang terlalu mencolok itu Hyunsoo-ah. Harus!" Kak Jin-nya mengharuskannya untuk mengganti warna rambutnya yang sekarang. Memang sih warna yang ia pakai sekarang sangatlah mencolok, toska. Tapi kan dia suka warna ini!

"Aku-tidak-mau!" protesan dari adik kesayangannya itu membuat si sulung mengusap wajahnya frustasi. Sangat sulit untuk membuat si bungsu menurut padanya jika menyangkut rambut kesayangan si bungsu. "Sekali tidak, ya tidak!" ucap si bungsu dengan nada final.

"Sudahlah Seokjin-ah~ Jangan memaksanya." seorang namja manis dengan pipi chubby menghampiri Kim bersaudara itu, Jin menghela nafas pelan. "Tapi Minseok Auntie, bocah ini benar-benar keras kepala."

Rany yang mendengar keluhan kakak kesayangannya itu langsung cemberut dan menyanggah, "Kayak kak Jin gak keras kepala aja." dengan balasan delikan tajam dari kakak tertuanya itu.

"Bagaimana kalau begini saja, Hyunnie yang pilih sendiri warna barunya. Otte?" Kim Minseok atau yang lebih suka dipanggil dengan nama Xiumin ini adalah kakak dari seorang Kim Wonshik alias Ayah dari empat bersaudara ini membujuk si magnae Kim. Dari penglihatan pria dewasa ini, warna rambut keponakannya memang terlalu mencolok. Tidak heran sih sebenarnya, mengingat keponakan tersayangnya ini agak sedikit nyentrik. "Auntie rasa, warna rambutmu yang sekarang ini agak kurang cocok denganmu Hyunnie."

Gadis manis itu nampak memikirkan perkataan Auntie kesayangannya tersebut. Bobby dan B.I yang berada disamping kanan-kiri adiknya menatap kagum Auntienya. "Auntie yang terbaik." ucap saudara kembar ini tanpa suara. Minseok tersenyum manis melihatnya.

.

.

.

.

.

"Aku ingin warna perak, cocok tidak Auntie?" setelah hampir ada 10 menit berpikir, gadis manis itu akhirnya buka suara juga. Ia menatap sang Auntie meminta pendapat. "Cocok juga. Kau benar-benar ingin warna itu?" melihat anggukan mantap keponakannya, Minseok segera membawa keponakannya itu ke ruang khusus dimana si magnae ini sering mengganti warna rambutnya.

"Auntie! Aku ikut!" B.I segera menyusul langkah Minseok dan Rany, sepertinya pemuda itu ingin mengganti warna rambutnya juga. Minseok berbalik ke arah keponakan tampannya itu. "Hmm~ Auntie rasa warna rambutmu yang sekarang sangat cocok untukmu. Jadi tidak perlu diganti." Namun sebelum si Kim (adik) kembar itu merengek padanya, Minseok langsung menggeret si bungsu untuk ikut bersamanya.

"Auntie menyebalkan!" Minseok terkekeh mendengar gerutuan sebal B.I itu.

Dan setelahnya Minseok melakukan pekerjaannya.

.

.

.

.

.

"Maaf lama, aku tadi sempat ketiduran." Rany yang baru saja keluar dari ruangan khusus tadi bersama Minseok mengernyitkan dahinya bingung. Ketiga saudaranya itu terlihat aneh, gadis satu-satunya keluarga Kim itu memukul jidat kakak keduanya sedikit keras membuat pemuda bergigi kelinci tersebut terlonjak kaget. "Ya! Sakit tau!"

Mendengar teriakan Bobby, Jin dan B.I pun tersadar. Rany menengok kearah kedua pemuda tersebut dengan tatapan sengit. "Kenapa kalian melihatku seperti itu? Memang aku hantu apa!?"

"Warna rambutmu. . ." Jin seakan kehilangan kata-kata melihat perubahan warna rambut adik kecilnya ini. Dia sangat tahu jika adik terkecilnya ini sedikit ekstrem jika menyangkut fashion, contohkan saja pada gaya rambut dan cara berpakaiannya layaknya anak laki-laki, rambut pendek terutama. Tidak mau memakai rok-pengecualian untuk seragam sekolah, apalagi memakai dress. Gadis manis keluarga Kim itu akan langsung membuang dress itu dengan menjualnya di internet. Dan tentunya dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga asli dress tersebut.

"Fantastic sister~!" berbanding terbalik dengan si kembar Bobby dan B.I, kedua pemuda itu nampak kagum pada perubahan yang dilakukan adik kesayangan mereka itu.

Rany tersenyum bangga, "I know it, i know~" Gadis itu menatap gembira Minseok yang juga menatapnya hangat. Setelahnya 4 Kim bersaudara itupun pamit pulang, karena mereka masih ada urusan lagi. Yah mereka harus mengunjungi perusahaan keluarga, sebenarnya itu urusan Jin karena ia yang mendapat mandat untuk selalu mengawasi perusahaan. Namun si sulung Kim ini juga tidak mau untuk tidak mengawasi adik-adiknya, jadi ia mengajak adik-adiknya untuk melihat perusahaan.


"Ya! Junhoe-ya! Bantu aku menata ulang ruangan ini!" seorang pemuda manis dengan tubuh bongsor itu menarik-narik kaki panjang seorang pemuda lain yang tampak tertidur diatas sebuah king size bed yang diletakkan di samping pintu kaca arah balkon berada.

"Tsk, berisik." gerutu pemuda beralis tebal tersebut, selimut yang awalnya berada dibawah kaki pemuda itu kini telah menutupi seluruh tubuh pemuda tinggi yang terindikasikan bernama Junhoe. Pemuda manis yang melihat respon pemuda tampan sahabatnya itu mencebilkan bibir kesal. Dan dengan sekali tarikan, tubuh tinggi pemuda Koo itu menghantam lantai marmer kamar luas itu.

"YA!"

"Wae!?" Donghyuk-nama pemuda manis itu-mendelikkan kedua matanya ke arah Junhoe yang kini berdiri dan menatap nyalang ke arahnya. Sambil berkacak pinggang, pemuda manis itu mengomel. "Ini kan rumahmu, harusnya kau yang membereskan semuanya! Bukannya aku! Cepat bantu aku! Sekarang juga!" titah pemuda manis itu dengan wajah garang.

"Cih, kenapa tidak maid saja sih? Aku lelah tau!" Junhoe mulai membereskan kamar tersebut, walau gerutuan terus meluncur dari bibirnya. Pemuda tampan itu sesekali menghentakkan kakinya ke lantai tanda kesal. Tapi ia memilih melanjutkan beres-beres begitu melihat jika Donghyuk mengawasinya sambil menatapnya tajam.

"Setelah ini bantu aku membuat cake, kita harus berbaur dengan tetangga. Arraseo?"

". . ."

Junhoe harus membayar semua teriakan Donghyuk yang memekakan telinga. Karena sekarang Donghyuk mengomelinya tanpa henti.

"Ck, kau ini cerewet sekali. Seperti gadis remaja labil saja." celetuk Junhoe dengan watadosnya, membuat Donghyuk melemparnya dengan sandal rumah yang sering dipakai pemuda manis tersebut.

.

.

.

Setelah menghabiskan waktu hampir 4 jam, dimana Donghyuk harus mengomeli Junhoe, menyeret pemuda tersebut ke dapur dan membantunya membuat cake. Dan tentunya tak jauh-jauh dengan omelan Donghyuk untuk Junhoe yang terus terdengar. Seperti saat ini, Donghyuk mengomeli Junhoe yang tengah 'mencicipi' cherry yang sudah Donghyuk pakai sebagai hiasan topping Blackforest buatan pemuda manis nan semok tersebut.

"Ya! Koo Junhoe! Jangan ambil cherry-cherry itu, dasar bodoh!" Junhoe sedikit terlonjak akibat lengkingan maha dahsyat yang menyapa pendengarannya. "Aku hanya mencicipinya Dongie. Tidak le-"

"Apa? Seluruh cherry yang kujadikan topping sudah habis kau telan. Tidak lebih kau bilang?" belum selesai Junhoe beralasan, Donghyuk menyerobot perkataan pemuda Koo itu dengan raut wajah kesal. Pasalnya pemuda Koo itu benar-benar menghabiskan semua cherry yang digunakan Donghyuk sebagai topping cake buatannya.

Junhoe yang menyadari jika ia terpojok sendiri dengan alasannya, menampilkan cengiran bodoh yang semakin membuat Donghyuk murka. "KOO JUNHOE!"

.

.

.

.

"Dasar menyebalkan." gerutu Junhoe. Pemuda Koo itu kini tengah mendapatkan hukuman dari Donghyuk, mengangkat satu kaki dimana kedua tangannya memegang beberapa mangkuk berserta piring.

"Aku mendengarnya Koo." tanpa menoleh pemuda manis bermarga Kim itu berucap, membuat Junhoe semakin merengut sebal. Donghyuk tengah sibuk mendekorasi ulang cake buatannya. Pemuda manis itu nampak bersorak gembira begitu ia menyelasaikan menyusun beberapa buah strawberry diatas cake buatannya.

Junhoe kini mencoba menatap melas ke arah sahabatnya itu, berharap sahabat manisnya itu mau berbelas kasihan padanya. Seperti memberhentikan masa hukumannya ini, mungkin. "Donghyukie~"

"Apa?" balas Donghyuk dengan nada ketus, sepertinya pemuda kelahiran 1997 ini masih kesal dengan kelakuan Junhoe tadi. Sedangkan yang bersangkutan masih setia dengan cengirannya. "Maafkan aku~? Please~"

Berharap pemuda bermarga Kim yang sudah menjadi sahabat sejak kecilnya itu membebaskannya dari hukuman, dan sepertinya Junhoe bisa sedikit bernafas lega karena Donghyuk membiarkannya untuk menurunkan kakinya dan menaruh setumpuk piring dan mangkuk di kedua tangannya.

"Sejam lagi antarkan aku ke rumah seberang, oke?" ingin rasanya Junhoe memakan bulat-bulat tubuh berisi sahabat sejak kecilnya itu, tapi apa mau dikata, yang bisa ia lakukan hanya menganggukkan kepala –patuh pada perintah yang Donghyuk berikan padanya.


"Capeknya~ Aku ingin tidur setelah ini!" pekik Rany gembira begitu ia turun dari mobil sang kakak tertua, Jin. Jin yang mendengar pekikan Rany hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena saat di perusahaan ia menjadi pusat perhatian, ditanyai sana-sini oleh beberapa karyawan dan beberapa klien Ayah mereka. Entah pertanyaan apa saja tadi yang orang-orang itu ajukan ke adiknya, dan jujur ia tidak ambil pusing akan hal itu.

"Mandi dulu adikku sayang~ Baru setelah itu kau boleh tidur." kali ini B.I yang bersuara, pemuda bermata sipit itu membawakan beberapa paper bag yang jelas-jelas itu milik adiknya itu. Paper bag dengan jumlah tak sedikit itu adalah beberapa hadiah dari klien-klien Ayah mereka, tapi kebanyakan ditujukan untuk si bungsu. Isinya pun tak jauh-jauh dari boneka kesukaan gadis itu, apalagi kalau bukan boneka panda.

"Atau mau kumandikan hm magnae-ya~?" canda Bobby sambil menarik leher adik manisnya itu, wajahnya nampak begitu mesum. Tapi tak lama kemudian, kakak kembar B.I itu mengaduh kesakitan sambil memegang bagian tengah celana jins yang ia pakai. "Dalam mimpimu, Pervert Bunny." dengan senyum mengejek, gadis berpipi chubby itu meninggalkan Bobby yang masih menahan sakit bersama kedua kakak laki-laki. B.I yang tak bisa menahan tawanya sontak tertawa kencang melihat kakak kembarnya kesakitan.

Yeah, beginilah suasana rumah keluarga Kim. Begitu ramai akan suara-suara gaduh yang dipicu oleh si bungsu Rany, dan kedua kakak kembarnya, Bobby dan B.I. Sedangkan kehadiran Jin menjadi penenang, karena pasti pemuda itu hanya akan membela si bungsu.

.

.

.

.

.

Kini 4 bersaudara itu tengah berkumpul didepan televisi yang berada di ruang keluarga. Terlihat si bungsu dan si kembar pertama tengah serius menatap layar televisi yang tengah menampilkan adegan game yang sedang mereka mainkan.

'YOU WIN!'

"Argh!" Bobby yang terkejut sedikit menjauh dari posisi duduknya, dilihatnya si bungsu tengah menatapnya tajam. Hanya cengiran yang bisa ia tampilkan saat ini. Feelingnya mulai tidak enak nih. Pasti sebentar lagi adiknya ini mencekiknya. Dan. . .

Jin dan B.I semakin terkejut ketika si bungsu kini sudah mengapit kepala Bobby dengan lengannya, keduanya berusaha untuk memisahkan kedua makhluk yang memang jarang sekali untuk akur ini.

"Hyunsoo-ah~ Lepaskan Bobby ne?" bujuk Jin sambil perlahan melepaskan apitan lengan Rany yang ternyata tak mau lepas.

"Tidak akan! Bunny jelek ini sudah berbuat curang jadi dia harus dihukum!"

TING TONG!

"Astaga, siapa juga yang bertamu disaat-saat begini." gerutu Jin begitu mendengar ada yang menekan bel rumah mereka. Jin mengalihkan pandangannya ke arah Rany, Bobby dan B.I. Rany masih betah diposisinya (mencekik Bobby) dan B.I yang berusaha menjauhkan adiknya dari Bobby yang sepertinya sudah mulai K.O. Tapi justru B.I yang kewalahan saat ini, Rany semakin beringas begitu Bobby lepas dari cekikannya.

"Bobby-ya! Selamatkan dirimu!" teriak B.I lantang sambil mendekap sang adik dipelukannya. Jin yang melihat jika adiknya mulai kewalahan, segera membantu B.I menahan Rany yang terus memberontak-berniat mengejar Bobby. Bobby segera berlari ke arah pintu depan, begitu dia membukakan pintu terpampanglah sesosok makhluk manis dan juga cake yang dibawanya-sebenarnya masih ada 1 orang lagi yang terlupakan oleh mata sipit Bobby.

"Ada yang bisa kubantu manis~?" sedangkan yang dimaksud, hanya bisa tersenyum risih melihat Bobby yang kini tersenyum mesum ke arahnya.

"B-begini, kami baru pindah ke daerah sini pagi tadi. Kami pindah dirumah seberang sana. Kami ingin lebih dekat dengan tetangga." ucap si manis sekenanya. Terlihat sekali jika ia ingin cepat-cepat pergi.

Bobby baru menyadari jika ada pemuda lain dibelakang tubuh pemuda manis dihadapannya, seorang pemuda bersurai pirang dengan wajah judes dan alis tebal yang memandangnya remeh. "Kakakmu?" tunjuk Bobby ke arah pemuda pirang itu. 'Wajahnya judes sekali, pasti dia kakak yang jahat. Aku harus memenangkan hatinya jika ingin mendapatkan pemuda manis ini', pikir Bobby ngawur.

Ketika si pirang akan menjawab pertanyaan Bobby, Jin datang untuk melihat siapa yang datang. Karena Bobby lama sekali berada di depan pintu. "Oh, kalian tetangga baru?" Pemuda pirang itu mengalihkan pandangannya ke arah Jin yang menatap ramah dirinya dan juga Donghyuk.

"Ah, annyeong haseyo. Ya, kau benar. Ini, Koo Junhoe." Pemuda pirang itu menundukkan kepala dan tersenyum ramah-sedikit karena dia sudah kesal karena dirinya maupun Donghyuk tidak dipersilahkan masuk.

Hei, tamu adalah raja. Oke?

"Dan aku adalah Kim Donghyuk, aku tinggal bersama Junhoe. Kami adalah teman sejak kecil." Donghyuk tersenyum manis, membuat Bobby tersenyum idiot. Mungkin pemuda bergigi kelinci itu terpesona dengan senyuman Donghyuk.

"Silahkan masuk, kita bisa mengobrol di dalam." Jin mempersilahkan kedua tamunya masuk, tak lupa menyuruh Bobby untuk menutup pintu. Ukh, padahal aku ingin berjalan disamping Donghyuk. Dasar kak Jin nyebelin, sungut Bobby dalam hati.

Baru saja Jin mempersilahkan kedua tamunya duduk, terdengarlah suara ribut dari kamar adik terakhirnya yang berada dilantai 2.

"Arghh! Let me go!"

"Calm down sister~ Aku janji akan membelikanmu game terbaru, jadi tenanglah!"

Jin tersenyum canggung dan malu, karena kedua tamunya mendengar keributan yang terjadi dirumahnya ini. Dan datanglah Bobby yang dengan santainya langsung duduk disamping Jin dengan memasang wajah mesum ke arah Donghyuk. "Ahahaha, maaf jika kalian mendengar suara ribut-ribut begini. Adik-adikku memang sedikit aktif."

"Oh tidak apa-apa, hehe" Donghyuk menanggapi dengan senyum canggung pula, sedangkan Junhoe entah apa yang dipikirkan pemuda itu.

"Oh ya, tidak sopan sekali jika kami tidak memperkenalkan diri. Aku adalah Kim Seokjin, aku putra pertama di keluarga Kim ini. Dan ini adalah adik keduaku, Kim Jiwon tapi ia hanya mau dipanggil dengan panggilan-"

"Bobby, panggil saja aku Bobby, manis~ Panggil sayang juga boleh~" Donghyuk bergidik pelan, namun hanya tersenyum untuk merespon perkataan Bobby. Risih sih, tapi ia tidak boleh bersikap tidak sopan kan?

Jin memutar mata bosan, Bobby akan kambuh seperti ini jika ada mangsa yang menurutnya menarik. Kembali, pemuda 18 tahun ini buka suara. "Suara keributan tadi, itu suara kedua adikku selanjutnya. Kim Hanbin, ia lebih suka dipanggil B.I. Dia dan Jiwon ini kembar tidak identik."

Junhoe mengernyitkan dahinya, tanda jika seperti mengingat sesuatu.

"Lalu adik terakhirku, dia perempuan. Namanya adalah Kim Hyunsoo, hanya akan menengok jika dipanggil Rany. Dia agak sedikit brutal untuk ukuran anak perempuan." jelas Jin masih dengan senyuman memikatnya.

"Rumah ini pasti sangat ramai ya kak Jin." mendengar perkataan Donghyuk, mau tak mau Jin menganggukkan kepalanya. Well, memang benar. Rumah ini akan selalu ramai. Entah karena keributan yang bermula dari kelakuan jahil Bobby pada si bungsu ataupun rengekan si bungsu tentang suatu hal yang dia inginkan atau dia benci.

"Kalian hanya berdua?" tanya Bobby, terdengar nada kecemburuan disana.

DRAP

DRAP

"Bobby! Selamatkan dirimu!" teriakan B.I mengagetkan ke-empat pemuda yang tengah duduk santai di sofa tersebut. Terlihat oleh mereka berempat, 2 anak manusia, gadis manis dengan langkah tergesa yang dibelakangnya nampak seorang pemuda yang nampak kesulitan untuk mengejar gadis itu.

"YA! KIM JIWON!"

"Tamat sudah riwayatku." desis Bobby pelan, dan dengan gerakan cepat ia sudah kabur dari ruang tamu. Donghyuk dan Junhoe sedikit kaget melihat Bobby yang kini tengah dikejar-kejar oleh seorang gadis yang terus berteriak memaki Bobby dengan sumpah serampahnya.

"Well, gadis itulah Hyunsoo, bungsu keluarga Kim." Jin sedikit menjawab rasa kaget sekaligus penasaran kedua tamunya itu. Donghyuk sedikit tertawa canggung melihat bagaiaman gadis bernama Hyunsoo itu berhasil menangkap Bobby dan mulai menjambak rambut pemuda kelinci itu. Sedangkan Junhoe, tatapannya begitu fokus pada gadis itu, gadis yang tengah melakukan aksi anarkis pada Bobby.

"Kuat dan manis." itulah yang ada dipikiran Junhoe, well sepertinya gadis itu menarik perhatiannya.

"Astaga,sister! Hentikan! Bobby bisa mati jika kau mencekiknya begini!" B.I berusaha menjauhkan adiknya dari Bobby, dan kali ini berhasil. Terlihat jika Bobby terkapar dengan indahnya disamping karpet bulu di ruang televisi yang letaknya tak jauh dari ruang tamu.

"Kelinci jelek pantas mendapatkannya." ucap Rany dengan nada sebal, tak lupa memeletkan lidahnya ke arah Bobby yang masih menghirup udara sebanyak yang pemuda itu bisa.

"Maaf, kalian jadi harus menyaksikan hal tadi." Jin merasa tidak enak lagi pada kedua tamunya, pemuda itu tersenyum meminta maaf. Donghyuk tersenyum maklum, well sebagai tamu dia tidak bisa merespon apapun selain tersenyum. "A-ah, tidak apa-apa kak Jin."

"Koo Junhoe?!" B.I yang semula memusatkan perhatiannya pada adik perempuannya, terkaget dengan seorang pemuda yang tengah duduk nyaman di sofa ruang tamu rumahnya. "Eoh? kak Hanbin?" begitupula dengan Junhoe, pemuda itu juga terkagetkan dengan sosok yang memeluk gadis incarannya, well cinta pada pandangan pertamanya maybe?

Rany yang berada di rangkulan sang kakakpun ikut menolehkan kepalanya kearah yang dilihat oleh B.I, wajah manisnya menyiratkan kebingungan yang sangat. B.I pun segera membawa Rany ke arah ruang tamu, sepertinya keduanya tidak terlalu peduli dengan Bobby yang tergeletak mengenaskan di lantai dingin, poor Bobby kkk~

"Apa yang kau lakukan disini Koo?" tanya B.I, ia duduk di sofa panjang bersama Jin dan juga Rany. "Berkunjung kak, sekarang kita bertetangga." jawab Junhoe dengan pandangan yang tak lepas dari gadis dihadapannya.

"Tunggu. Kalian saling kenal?" Rany melontarkan pertanyaannya sambil menatap galak pada Junhoe, rupanya gadis itu risih dengan tatapan Junhoe yang sedikit aneh.

"Dia ini teman kak Hanbin di suatu perkumpulan, dia seusia denganmu loh." jelas B.I, Rany beringsut ke arah Jin. Gadis itu memeluk erat lengan kiri Jin. "Dia menakutkan." bisiknya lirih ke arah kakak tertuanya itu, Jin yang mendengarnya terkekeh pelan. Well jangan salah, sedari tadi Jin memperhatikkan apa yang dilakukan Junhoe. Termasuk melihat Junhoe yang menatap adik kecilnya dengan pandangan penuh arti.

Sepertinya dia harus memberikan beberapa test pada pemuda Koo itu jika ingin mendapatkan restu darinya.


3 Hari Sebelum Hari Pertama Masuknya Tahun Ajaran Baru

di Kediaman Keluarga Kim

"Hmm~ hmm~~ hmmm~"

Gumaman pelan yang diiringi dengan petikan gitar mengalun begitu merdu di ruangan khusus yang ada di lantai 2 kediaman keluarga Kim. Rany tengah berlatih dengan gitar kesayangannya di ruangan khusus yang bisa dikatakan sebagai mini studio- bisa dijadikan untuk tempat latihan dance maupun latihan band.

Gadis itu nampak serius, beberapa kali ia mencorat-coret kertas yang ada di atas meja yang ada disampingnya.

CKLEK!

"Hyunsoo-ah, ayo makan. Sudah waktunya makan siang." Jin yang baru saja membuka pintu ruangan tersebut cukup terkejut dengan Rany yang masih betah berlatih dengan gitar kesayangannya itu sejak 5 jam yang lalu.

"Nanti saja kak Jin, aku belum lapar." sahut Rany, gadis itu masih fokus mencari nada yang pas untuk bagian Reff lagu yang sedang dia remake.

Kurang dari 3 hari lagi adalah hari dimana tahun ajaran baru dimulai, yang berarti audisi untuk masuk ke sekolah yang dia inginkan sekaligus tempat ke-3 kakaknya menuntut ilmu akan segera dimulai. Ia harus tampil sempurna saat audisi, ia tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Dan berlatih keras adalah jawabannya.

"Tapi, jika kau tidak makan sekarang, kau akan makan kapan adikku? Kau bisa sakit. Dan lebih parahnya lagi kau tidak bisa ikut audisi." Jin mencoba membujuk adik bungsunya ini, well memang butuh tenaga ekstra untuk membujuk si kecil Kim ini. "Tapi ini belum selesai kak Jin. Aku janji akan makan setelah ini selesai." dengan penuh keyakinan, Rany berkata pada sang kakak. Tak lupa memandang penuh keyakinan pada Jin yang masih berdiri diambang pintu ruang studio tersebut. Pemuda dengan wajah tampan tersebut menghela nafas pelan, menganggukkan kepala singkat tanda mengiyakan apa yang dikatakan adik perempuannya itu.

"Baiklah, akan kak Jin tunggu diruang makan."

Blam!

"Well, ayo kita selesaikan ini!"

Dan setelahnya, gadis dengan surai perak tersebut tenggelam dalam alunan melodi yang ia ciptakan.

.

.

.

.

"Dia masih belum mau keluar kak?" tanya B.I, pemuda itu sedikit mengkhawatirkan keadaan adik bungsunya. Well, sudah sedari tadi gadis itu dibujuk dengan berbagai macam rayuan, tapi tidak berhasil juga. Bocah itu bahkan melewatkan sarapan paginya, batin B.I kesal.

Jin meresponnya dengan gelengan pelan, "Apa kita perlu menyeretnya keluar kak Jin?" Bobby menatap Jin yang terlihat sedikit frustasi. Ke-3 pemuda itu tentu khawatir dengan keadaan si bungsu, 1 minggu mendekati Tahun Ajaran Baru, si bungsu mengurung diri di ruang studio. Entah apa yang dilakukan gadis itu, bahkan seringkali gadis itu melewatkan jadwal makannya.

Hanya akan keluar dari studio itu jika ditarik keluar dengan paksa oleh kakak-kakaknya.

"Mung-"

"Aku datang!"

Baru saja dibicarakan, gadis Kim itu kini sudah bergabung dengan ke-3 kakaknya. Terlihat jika gadis itu sedikit kelelahan dan kelaparan, karena melihat menu makan siang mereka hari ini. "Bulgogi!" pekiknya riang, well si bungsu ini memang pecintanya daging.

"Sini duduk didekat kak Hanbin." Rany menuruti apa kata B.I dengan mendaratkan pantatnya dikursi yang ada disamping B.I. B.I pun mengusak pelan surai perak adiknya itu dan ditanggapi dengan cengiran lebar oleh satu-satunya perempuan di keluarga Kim tersebut.

4 Bersaudara Kim itupun memulai acara makan siang bersama mereka dengan tenang, sesekali Bobby dan Rany berebut daging yang diada dimeja makan. Entah kenapa, Jin merindukan kehadiran orang tuanya. Sudah lama sekali mereka tidak pulang ke Korea.

"Bagaimana persiapanmu lil panda?" tanya Jin, pemuda itu mencegah Rany yang hendak menaruh beberapa sayuran ke piring B.I. Adik bungsunya ini sangat tidak suka akan sayuran.

"Untuk part bernyanyinya sudah. Tinggal bagian dance saja kok kak Jin." jelas Rany dengan wajah cemberut, B.I yang ada disampingnya mengelus rambutnya pelan. Pemuda dengan senyuman mematikan itu menyuapkan daging kesukaan sang adik yang sudah dibungkus dengan sayuran yang begitu dibenci adiknya itu.

Dan mau tak mau, Rany menerima suapan tersebut. Itu adalah cara terlunak untuk membuat si bungsu menghabiskan sayuran yang ada dipiringnya.

"Butuh bantuan kami?" Bobby mencoba menawarkan bantuannya dan adik kembarnya. Untuk masalah dance mereka jagonya.

"Tidak perlu, kak Bobby. Aku bisa mengatasinya kok." tolak gadis itu dengan halus. Suapan ke-4 dari kakak ketiganya itu cukup memenuhi perutnya yang sudah terasa penuh, padahal ia baru makan 3 suapan dari piringnya sendiri.

"Sudah ya kak, aku mau berlatih lagi." pamitnya kepada ke-3 kakaknya tersebut, dengan perlahan gadis bersurai perak itu bangkit dari kursinya. Namun belum sempat ia melangkahkan kaki, suara Jin cukup membuat nyalinya ciut untuk sekedar melangkahkan kaki. "Habiskan dulu makananmu, setelah itu tidur siang."

"T-tapi kak Jin aku sudah kenyang. Lagi pula-"

"Tidak menerima penolakan." sergah Jin begitu mendengar penolakan dari sang bungsu. Rany yang mendengar hal itu mau tak mau menuruti perkataan kakak tertuanya itu.


H-1 (Masuknya Tahun Ajaran Baru)

"Gireul barkhyeojwo ije wonteun maldeun seontaegeun kkeutnasseo naui jeonbureul da geolgesseo"

"Jikyeo nal geoya eotteon eoryeoun yeojeongi doenda haedo"

"Nan neo bakken an boinda."

Sepenggal lirik dari lagu hist boy group Infinite pun meluncur dari belah bibir tipis gadis bersurai perak. Tubuhnya begitu luwes bergerak seirama dengan lagu tersebut. Gadis itu, Kim Hyunsoo, si bungsu keluarga Kim, bungsu dari Jin, Bobby dan B.I.

Ia sudah memutuskan untuk memakai lagu ini untuk part dancenya saat audisi besok. Rencananya ia akan menggunakan intro dari lagu ini. Beberapa peluh nampak menghiasi wajah gadis itu.

"Naegen neo bakken eopda."

Begitu lirik terakhir dari lagu itu terucap, gadis itu memposisikan dirinya untuk duduk dilantai dengan kaki kanan tertekuk dan tangan kanan yang terangkat ke atas.

"Ini bahkan belum cukup." gumamnya pelan, ia belum puas dengan gerakan dancenya. Menurutnya masih terlalu kaku dan ia masih sedikit lupa gerakan, terutama gerakan kakinya yang masih sering salah.

Dengan sedikit tergesa, diraihnya botol air mineral di dekat kaca dihadapannya. Sedang asyik-asyiknya beristirahat dan merasakan dinginnya air yang membasahi kerongkongannya, pintu studio yang sudah beberapa hari ini ia klaim sebagai kamarnya terbuka.

Dan menampilkan sesosok manusia pirang dengan tatapan tajam. Sontak membuat Rany kaget akan kehadirannya.

"Ya! Apa yang kau lakukan eoh!? Kau penyusup ya!?" teriak Rany pada Junhoe, pemuda pirang itu hanya terkekeh pelan atas reaksi yang didapatinya. Pemuda itu dengan langkah santai menghampiri gadis Kim yang sudah membuatnya susah tidur selama beberapa hari yang lalu.

Diambilnya posisi disamping gadis tersebut. "Bukankah kita belum berkenalan secara resmi? Kenalkan aku Koo Junhoe, kau bisa memanggilku Junhoe." tangan besar itu terulur ke arah Rany, mengajak untuk bersalaman. Menyembunyikan rasa takutnya, gadis yang menggenakan kaos hitam lengan panjang yang nampak longgar ditubuhnya itu membalas jabatan tangan pemuda yang masih menakutkan baginya.

"Err, a-aku Kim Hyunsoo. Aku lebih suka dipanggil Rany." balas memperkenalkan dirinya dengan nada canggung yang kentara. Gadis itu berusaha menarik tangannya yang berjabat tangan dengan Junhoe. "Hei, lepaskan tanganmu dari tanganku." perintahnya galak, dan pemuda itu tidak bergeming. Ia masih mengenggam tanganya lembut.

"Bagaimana jika besok kita berangkat bersama? Bukankah tujuan kita sama? Audisi Seongnam Art High School hm?"

"Eum, maaf. Aku masih bisa berangkat sendiri. Bisa kau keluar dari sini? Aku masih ingin berlatih."

"Baiklah, sampai ketemu besok manis."

Chup~

BLAM!

Pintu studio tertutup, menyisakan Rany yang masih mematung sambil menyentuh pipi kanannya yang masih terasa basah akan kecupan pemuda Koo tadi. "A-apa yang baru saja terjadi?"

.

.

.

.

.

To Be Continue~~

Well, akhirnya lanjutannya terselesaikan~

Chaptere perdana sudah rilis horeeee! *plakk*

Hehehe maaf ya kalo belum muncul moment-moment dari couple yang kalian harapkan

Tapi janji deh, di chaptere ke-2 yang entah akan publish kapan, akan ku masukin beberapa moment yang mendukung cerita ini. Otte? Puaskah kalian dengan chaptere ini?

Nah akhir kata~

Silent reader, Looked/? Reader mari silahkan menikmati~

.

.


Balasan Review – Perkenalan Cast

for emin_duck : hehehe ini sudah dilanjut~ hehe biar ceritanya seru gitu kalo ada cewek walaupun berperan sebagai adik doang. Ini sudah dilanjut~ Semoga chaptere perdana ini menarik ya menurut kamu^^

Silahkan review lagi ya~

.

for deeb_ai : hehehe makasih sudah mau menunggu chaptere perdana dari fanfiction ini^^

Semoga chaptere ini seru ya menurutmu~ Silahkan review lagi ya~~

.

for khb: hahaha alur cerita dari manga itulah yang membuatku tertarik karena lucu hehe^^

Ini sudah dilanjut~ Silahkan review lagi ya~^^

.

for YongInnieee: ini sudah dilanjut^^

Maaf menunggu lama, dan mungkin untuk momentnya baru akan aku muncul di chaptere selanjutnya. Semoga kamu masih mau menunggu^^

Silahkan review lagi ya~

.

for HwanBinnie: hehehe makasih sudah mau tertarik di fanfiction ini^^

Ini sudah dilanjut kok~ Nado fighting chingu-ya^^

Silahkan direview lagi^^

.