Disclaimer: Gakuen Alice by Tachibana Higuchi


Timeless Sleep

Written by Luna Margaretha


Chapter 01


Mikan menghela napas sembari menepuk kedua tangannya gara-gara letih dalam hal pekerjaan. Ia tak menyangka dirinya harus membebani tubuhnya hanya sekedar pekerjaan seharusnya dilayangkan kepada sang pelayan di mansion ini. Mansion beratasnamakan Hyuuga.

Kedua mata cokelat madunya menatap lekuk-lekuk pembangunan dimiliki mansion termewah dan terindah sepanjang masa sejarah di kota Ave ini. Kota memiliki paras cantik, secantik namanya.

"Kau sudah melakukan pekerjaanmu, wanita?"

Jantung Mikan berdegup kencang mendengar kalimat pertanyaan sosok di belakang punggung sengaja membelakanginya. Langkah-langkah anggun namun tegas bak seorang terpenting di mansion ini. Mengeluarkan udara dari mulut setelah menghirupnya sebanyak mungkin, Mikan memutar tubuhnya kemudian setengah menundukkan kepala.

"Sebentar lagi selesai, Tuan Muda."

"Cih! Kau itu sungguh tidak berguna, wanita!" ketus sosok di depan Mikan, memasukkan kedua tangan di saku celana memandang Mikan penuh ketajaman fatal. "Kau itu dibayar untuk mengerjakan ini semua, bukan untuk bersantai-santai. Untung kau disayang oleh Mama. Kalau tidak, mungkin kau akan kutendang keluar dari mansion ini."

Tangan Mikan di ujung rok panjangnya terkepal erat sambil terpaut. Ia tak menyangka bahwa dirinya paling disayang pemilik sah mansion ini sekaligus istri dari Ioran Hyuuga, harus mendapat cercaan dan makian dari seorang lelaki berperawakan masih muda, tapi terbilang usianya berada di bawah 30 tahunan.

"Kau mau marah?" tanyanya memandang lekat-lekat wanita di depannya tadi terus-terusan menunduk. Namun, auranya mencekam menahan amarah. Tentu saja lelaki ini mengetahuinya. "Silakan saja kau marah. Jika itu terjadi, besok kau angkat kaki di rumah ini."

"Sa-saya tidak marah …" ucapnya terbata.

"Sungguh?"

"Iya, Tuan Muda."

Lelaki itu langsung meraih pinggang Mikan, ditarik tubuhnya ke arahnya. Dada Mikan berdetak lebih cepat karena tubuhnya merespon percikan listrik saat bersentuhan dengan dada lelaki itu. Kemudian, Mikan mendongak melihat mata merah menyala bagaikan lahar panas siap membakar isi tubuhnya. Buru-buru Mikan menunduk, tepat di depan dada lelaki tersebut.

"Kau memerah." Ini bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan terlontar di bibir lelaki itu. "Kau benar-benar membuatku ingin menjadikanmu se—"

"Natsume!"

Suara teriakan lantang namun berat menghentikan ucapan di mulut lelaki itu. Seraya mendesis, ia mendorong tubuh Mikan kemudian mencium pipi wanita itu sebelum berbalik kepada sang pelaku menyebut namanya.

"Ada apa, Yoichi?"

Setengah berlari, lelaki tampan memiliki wajah imut nan manis bernama Yoichi, menghampiri Natsume, lelaki tampan dan gagah berambut hitam juga bermata merah menyala. Ia kemudian berhenti berjalan melihat sosok di belakang Natsume setengah menunduk sambil membalikkan tubuhnya.

"Mikan …" Ingin sekali Yoichi menuju tempat wanita itu, tapi lagi-lagi ada menghadang jalannya. Ialah Natsume, menatap wajah Yoichi datar tapi ada sesuatu di balik sikapnya itu. "Natsume, aku mau bicara pada Mikan. Kenapa kau menghalangi jalanku?" tanyanya heran.

Tanpa melihat Mikan, Natsume memerintah wanita itu. "Pergilah kau ke belakang. Jika sudah selesai, kau temui Ace. Kau mengerti?"

Merasa yang tertuju omongan lelaki itu kepadanya, Mikan mengangguk patuh lalu berlari anggun untuk meninggalkan tempat bikin ia tak sanggup menghentikan detak jantungnya yang berdegup kencang.

Natsume tersenyum dalam hati dan menatap lagi ke wajah Yoichi sedari tadi memandangi punggung menjauh milik Mikan. Dengusan keluar di bibir Natsume membuyarkan lamunan Yoichi. Lelaki berambut hijau jadi gelagapan dibuatnya.

"Apa kau suka dengan wanita mungil itu, Yoichi?" tanya Natsume penuh rasa penasaran.

"I-itu …"

Natsume mengibaskan tangannya ke kanan kiri, tak mau membahas. "Aku tahu apa yang kau maksud. Sudahlah. Saat ini, apa ingin kau katakan padaku sesaat tadi kau memanggilku tapi kau belum mengatakan sebenarnya kepadaku," tanyanya.

Yoichi menggaruk tengkuknya, meringis. "Mama mengajakmu pergi. Apa kau mau ikut, Natsume?"

Lagi-lagi Natsume mendengus, membuat Yoichi mengernyit. Tanpa berkata apapun lagi, Natsume melangkah melewati Yoichi dan tidak menatapnya lagi walau sekali kedip. Yoichi meringis dan menghembuskan napas pelan melihat gelagat Natsume memang sewajarnya selalu mementingkan kepercayaan dirinya ketimbang meremehkan saudara di dalam keluarga ini.

Yoichi pun mengikuti Natsume kemanapun ia pergi, tanpa melihat ke belakang di mana wanita berambut cokelat panjang bergelombang bersembunyi sambil menurunkan bahunya sedari tadi membawa beban sangat berat. Ia tak mampu menggerakkan tubuhnya sesaat melihat punggung seseorang bagi dirinya itu sangat penting. Entahlah … ia tak tahu.

Akhirnya ia membalikkan tubuhnya, kemudian menghilang di lorong yang luas.

-o-

"Sayangkuu!"

Teriakan membahana mengguncang mansion Hyuuga sekali tebas. Siapa sangka sosok bersuara cempreng, tapi bikin telinga ngilu sampai ke akar-akarnya mampu membuat semua orang di ruang tamu berdecak kesal dan kagum.

Tubuh tinggi semampai karena high heels menabrakkan diri ke Natsume, melingkarkan lengannya ke pinggang ramping dan tegap itu. Wajahnya langsung mendongak memandang lelaki bikin hatinya serasa terbang melayang, menatapnya berbinar-binar.

"I miss you, honey." Wanita itu mencium pipi Natsume sambil menjijitkan kedua kakinya padahal ia memakai high heels setinggi 15 cm. Apa ia tak menyadari itu bisa saja bikin kakinya sakit atau keseleo?

Natsume membalas ciuman itu di bibir dengan penuh kelembutan. Well, mereka adalah pasangan kekasih sekaligus tunangan atau mau mencapai (calon) istri di keluarga Hyuuga.

"Miss you too, Anna."

Wanita berambut merah muda bergelombang sampai ke akar-akarnya menamakan dirinya Anna, Umenomiya Anna.

Anna tersenyum lebar sembari memeluk pinggang Natsume tak mau dilepaskan. Semua orang memandangnya jijik melihatnya dan ada juga menatapnya takjub pada tingkah Natsume yang tak pantas dilihat di depan orang termasuk keluarganya.

"Bisakah kalian duduk dulu?" perintah Ioran, tak terbantahkan. Keduanya mengangguk patuh dan duduk berdampingan sambil memereratkan tangan ke pinggang lawan masing-masing. Ioran jadi jengah, "Natsume, Anna, kalian sebentar lagi akan menikah. Walaupun saya tahu, saya tidak bisa membatalkan niat ini. Tapi karena kalianlah yang memaksa, maka saya menyetujuinya," katanya pelan.

"Berhentilah memerparah semua kondisi, Papa." Natsume menatap tajam Ioran penuh selidik. "Apa yang Papa inginkan selama ini? Bukankah Papa dari dulu berniat menjodohkan aku dengan Anna? Di mana Papa yang dulu!"

"Diam kau, Natsume!" bentak Kaoru, Mama Natsume dan Yoichi, murka. "Papa kau berbicara, jadi kau yang dengarkan! Mengerti?!"

Natsume berdecih, Kaoru menggeleng frustasi pada anak pemberontak seperti Natsume, berbeda dengan Yoichi yang penurut dan Aoi yang selalu paham pada keadaan. Kaoru tak menyangka seorang Hyuuga Natsume berubah hanya karena satu orang wanita, tidak lain adalah tunangannya sendiri.

Tak mau berlama-lama di depan keluarganya, Natsume membawa pergi Anna ke lantai dua. Kaoru menggeleng pasrah melihat tingkah anaknya tak tahu aturan; Ioran menghela napas pelan juga heran; Yoichi melihat keduanya hanya terdiam saja; dan Aoi, lebih suka menenangkan Orangtuanya dari tadi terus menahan amarah.

"Pa, kita 'kan tahu kenapa kak Natsume jadi seperti ini," kata Aoi sambil mengusap lengan sang ibu. "Sejak kejadian itu," katanya, lagi.

"Itu sudah lama, Aoi. Lebih dari 7 tahun yang lalu," sahutnya pelan.

"Ada baiknya berikan saja Natsume kebahagiaan." Ioran menjawab selebihnya, menatap lekat istri tercintanya kemudian beralih ke Aoi dan Yoichi. "Kita tidak bisa memaksanya begini terus, 'kan?"

Tidak ada yang menjawab. Hanya deruan napas berhembus di bibir juga hidup mereka yang terdengar.

-o-

Suara desahan maupun decapan dilakukan dua sepasang manusia berbeda jenis kelamin di dalam kamar seluas ruang keluarga tengah melakukan ciuman panas. Mereka adalah Natsume dan Anna. Aura panas berhembus di sekitar mereka membuat Anna melenguh lirih. Hasil tangan Natsume membuktikan segalanya.

Mereka berdua terus bergelayut mesra dengan kedua pasangan tangan mereka tetap menjelajah bagian-bagian tubuh masih tertutup pakaian. Hal ini sengaja dibiarkan agar keluarga Hyuuga tidak masuk tiba-tiba hanya untuk memergoki mereka lagi mesum ria.

"Uugh …," lenguh Anna merasakan panas di tubuhnya, menggeliat di pelukan lelaki tampan di depannya.

Lidah Natsume menjilat leher jenjang Anna begitu kuatnya, membuat Anna mengerang frustasi. Natsume mendekatkan tubuh Anna dekat dengan dadanya dan inti miliknya, mengeraskan betapa kuat nafsu dimiliki oleh mereka.

"La—"

Ketukan di pintu menghentikan kegiatan mereka dan ucapan Anna. Natsume mengerang kesal, tak sadar menghempaskan Anna ke ranjang dan berbalik menuju pintu kamarnya. Sesaat di buka pintu tersebut, mata merah menyala Natsume terkesiap melihat siapa dalang semua ini.

"Mau apa kau?!" bentak Natsume, tajam.

Wanita berambut cokelat madu gemetar pada kalimat Natsume mengangkat kepalanya sambil menyerahkan nampan berisi amplop berwarna cokelat. "Ada kiriman untuk Anda, Tuan Muda," sahutnya takut-takut.

Natsume mengambil cepat-cepat amplop itu kemudian membukanya. Mata merahnya terbelalak hebat, sehingga dirinya tak sadar telah meremas amplop tersebut. Rahangnya mengeras, bibirnya gemeletuk dan ada bunyi gerigi di dalam mulutnya.

"ANNA!"

Merasa terpanggil, Anna buru-buru menghampiri Natsume. "Ada apa, Sayang?" tanyanya tanpa merasa bersalah.

Natsume melempar amplop cokelat ke wajah Anna membuat wanita itu terperanjat kaget. Isi-isi di amplop cokelat berserakan keluar menampilkan foto-foto mengerikan dilihat oleh Anna maupun Natsume.

Di foto-foto tersebut menampakkan seorang wanita tengah bercumbu mesra dengan beberapa banyak pria, tak lain adalah Anna sendiri. Hal ini membuat Natsume menarik Anna keluar dari kamar diikuti oleh Mikan. Natsume membawanya ke lantai satu di mana keluarganya melihat Natsume menarik paksa Anna yang merintih kesakitan. Tak lama kemudian, Natsume mendorong Anna keluar membiarkan wanita berambut merah muda terjatuh di tanah seraya mengerang kesakitan.

"Jangan pernah datang lagi ke sini dan bertemu denganku, dasar jalang!" teriak Natsume mengundang keheranan di berbagai pihak padahal tadi mereka bermesraan. Natsume memutar tubuhnya dan menutup pintu dengan dobrakan keras.

"Ada apa ini, Natsume?" tanya Kaoru khawatir. Dilihat Natsume mengepalkan kedua tangan dan dadanya naik turun karena mengeluarkan kemarahan sangat besar. "Sepertinya kau terlihat tidak baik, Nak."

"Aku tidak apa-apa, Ma." Natsume berjalan melewati kedua Orangtuanya dan saudaranya, tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Saat berada di ujung tangga di antara lantai 1 dan 2, Natsume menatap mata cokelat madu tidak berekspresi. Ingin sekali Natsume memertanyakan kebenaran foto-foto diambil di mana, Mikan pergi terlebih dahulu. "Hei!" Natsume mengejarnya. Tapi, sosok itu tidak ada tanda-tandanya.

Natsume memandangi sekeliling agar bisa melihat sosoknya, tapi nihil. Anehnya, tidak ada yang tahu di mana keberadaan Mikan.

"Apa yang kau cari, Natsume?" tanya seseorang di belakang Natsume membuat lelaki berambut hitam terlonjak kaget. "Ah, maafkan aku mengagetkanmu, saudaraku."

Natsume memijat pelipisnya terasa pusing. Tangannya mengibaskan ke kanan kiri tanpa mengatakan sesuatu sebagai balasannya. Lelaki itu malah masuk ke kamar dengan hentakan keras kedengarannya.

Yoichi tersenyum, beralih tatapannya ke arah sosok sedang berdiri di depannya walau terasa jauh. Senyuman di wajahnya mengisyaratkan untuk terus mengawasi Natsume. Lalu, wanita itu menghilang ditelan angin.

Tbc

-o-

Siapa Mikan? Hubungan Mikan dengan Natsume apa? Tadi, aku lihat Natsume mencium pipi Mikan. Hmm … sekali lagi misteri. Jakarta lagi hujan lho, makanya serasa malam di bulan ini. Ugh!

GBU!

With Love,

Luna