[Second Songs: Haydn's Instrumen] Hanya sebuah lagu yang syairnya menceritakan mereka, iramanya menemani mereka. Hanya sebuah lagu yang memberi kesan pada hati masing-masing. (Song-Ficlet for HunHan's Month)


Songs _ Playlist _ Classical _ Haydn _ Piano Sonata in C major, Hob XVI-50, 1 Allegro - status: playing.

Second Song: Haydn - Piano Sonata in C major, Hob XVI-50, 1 Allegro

Oh Sehun EXO-K | Xi Luhan (Warn! BL)

Disclaimer: I don't own the cast, aku cuma pinjam nama mereka sebagai tokoh utama di cerita ini. Tetapi, ide cerita chapter kali ini aku ambil dari salah satu scene di drama 'Cantabile Tomorrow' dan juga ada beberapa bagian yang aku ubah demi kepentingan fanfic atas nama Hwang0203


Saat memainkan musik Haydn, aku selalu membayangkan bahwa ada kamu yang melihatku memainkan si musik hitam-putih ini. Menyatu bersama alunannya menciptakan sensasi di hati masing-masing.

.

.

Luhan membuka pintu kaca itu secara kasar tetapi tidak sampai menimbulkan bunyi berdebum keras. Sontak saja, yang ada di ruangan tersebut berjengit kaget melihat tingkah Luhan yang barbar.

Pemuda asal Beijing ini meminta maaf dan segera menempatkan dirinya ke kursi di depan piano yang menjadi titik hidupnya.

"Xi Luhan," Professor Kang mendekati grand piano hitam itu. Menyodorkan sebuah jilid yang berisi partitur yang harus Luhan mainkan. Pemuda ini menerimanya dan membacanya. Raut wajah itu tanpa ada semangat atau ketertarikan sama sekali saat membacanya.

"Aku ingin memainkan kau memainkan Waltz Chopin op. 25 untuk babak penyisihan bulan depan, Luhan."

Luhan menutup sampul jilid partitur tersebut dan meletakkannya secara gambalng di atas grand piano.

"Tapi saya punya permainan sendiri, Professor. Bukankah ini terlalu sulit? Bahkan untuk mengikuti skor aku terlihat kepayahan."

"Oh, tidak. Ini sesuai dengan jiwamu. Perasaanmu yang terbakar ketika memainkannnya itu membuatku meirinding saat ujian akhir-mu semester lalu."

Mata rusa milik Luhan menajam. "Tidak, tidak. Aku ingin memilih musik Haydn." Luhan mengeluarkan jilid partitur dan menyerahkannya pada Professor Kang. Pria tua setengah botak itu mengerutkan alisnya begitu tahu apa yang diinginkan Luhan.

"Coba mainkan," dan Luhan mencoba memainkannnya. Memberikan seluruh perasaannya dan warnanya pada permainan kali ini. Ia tidak main-main. Jarinya terus mengetuk tuts putih hitam tersebut dengan seolah jiwanya diterbangakn alunan melodi.

Setelah berakhir, tepukan tangan kecil dari Professor Kang serta segurat senyum tipis menghiasi wajah Luhan.

"Kalau aku boleh tahu, kenapa kau memilih Haydn? Bukankah itu bukan sesuai dirimu?"

Luhan masih memunculkan senyumnya. Bukan sneyum atas rasa bangga, mungkin tepat jika disebut senyum misterius yang menyembunyikan sesuatu. "Mungkin lain kali, Professor Kang. Setengah jam lagi aku ada kelas Professor Shim. Apa latihanku cukup sampai sini saja?"

Professor Kang mengangguk setuju. "Besok jadwalmu berlatih intensif selama lima jam. Jangan lupa." dan pria tua setengah botak itu meninggalkan Luhan sendirian di ruangan tersebut.

.

.

Luhan keluar dari ruangan yang diperuntukkan bagi peserta kompetisi agar mendapat latihan secara intensif dari Professor pembimbing mereka.

Saat akan berbelok di tikungan sana, tidak sengaja dirinya bertemu Sehun yang sedikit kepayahan membawa Cello besar miliknya. Senyum Luhan terkembang besar dan segera saja mulutnya akan meneriakkan nama Sehun -hoobaenya yang tampan- dengan lantang dan penuh cinta.

"SEHUNNIE ~ ~!" dan langkah Luhan dipercepat menayami irama langkah Sehun.

Hoobae-nya itu berdecak tidak suka. Luhan tahu, hoobaenya ini tidak suka melihat Luhan yang ada di dekatnya.

"Aku melihatmu memainkan BWV 1007- Prelude punya Bach. Keren sekali!" puji Luhan yang tidak ditanggapi Sehun apapun. Mereka terus saja berjalan dengan hening menuju taman belakang kampus yang rindang.

"Kenapa kau memilih memainkan Haydn daripada Chopin?"

"Huh?"

"Permainanmu bagus."

Luhan tidak bisa menyembunyikan rona merahnya. "Ah, terima kasih."

"Hanya saja, aku mempunyai pertanyaan yang sama seperti Professor Kang."

Luhan butuh beberapa menit untuk loading.

"Eh? jadi kau mendengarkanku memainkan musik Haydn tadi? Kenapa kau ingin tahu sekali? Ugh, Sehunnie sangat lucu sekali~"

"Tidak lucu!" Sehun menggeret Cello-nya lebih cepat meninggalkan Luhan di belakangnya.

"Yak, hoobae! Tunggu aku!"

.

.

Kenapa aku memilih instrumen Piano Sonata in C major, Hob XVI-50, 1 Allegro milik Haydn? Perasaan seseorang ketika memainkan instrumen tersebut adalah penggambaran dari rasa ketertarikan kepada seseorang yang bukan tipe kita. Seperti seseorang yang berbeda tetapi menarik sekali untuk di dekati.

Seperti aku ketika melihatmu.

Saat memainkan musik Haydn, aku selalu membayangkan bahwa ada kamu yang melihatku memainkan si musik hitam-putih ini. Menyatu bersama alunannya menciptakan sensasi di hati masing-masing.

.

.

Second Song status:

F I N

.


A/N: wohoo~ this time for classical music and -gosh, that music can bring me the spring breeze around!

Ada yang tau drama itu nggak? Dari jaman belum terlalu suka classical, aku udah punya tuh instrumen; iseng-iseng. Pas liat drama Cantabile Tomorrow, entah kenapa, lucu juga pengen jadiin Luhan karakternya seperti Seol Naeil. Yoo Jin juga pantes, sikapnya yang sedikit introvert-songong-sok jaim itu bikin aku keinget Sehun dan Kris.

All readers, very-high recommend for that instrument! Please listen Haydn music that feel bring the spring!