Unexpected
Warning : YAOI, Typo(s), Death chara. Gore
Fanfic ini mengandung unsur pembunuhan.
Disclaimers : semua tokoh adalah milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Cerita ini asli milik author.
Main Cast : Xiumin (Minseok), Chen (Jongdae), EXO OT12 official pairing
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
.
.
.
Mereka memutuskan untuk mengubur jasad Sehun dan Tao di halaman belakang. Polisi tak kunjung datang hingga mereka memutuskan untuk tidak melibatkan polisi terlebih dahulu.
Entah apa yang ada di fikiran mereka, kepanikan dan rasa takut membuat mereka tidak bisa berfikir dengan jernih. Akhirnya, menggunakan van milik Joonmyeon mereka melakukan perjalanan menuju salah satu villa milik kerabat Yifan.
"Apa kita tidak terkesan lari dari masalah?" Ujar Jongin sarkastik. "Pergi begitu saja ketika dua orang teman kita dibunuh dengan sadis?"
"Berhentilah bicara seakan-akan kau punya jalan keluar yang lebih baik dari ini, Kim Jongin." Yifan mendengus.
"Aku lebih baik mati bersama mereka." kata Jongin lagi. Kyungsoo menatap Jongin, kemudian menggenggam tangannya.
"Kalau begitu, tunggulah saatnya Jongin." Ucap Yifan ketus.
Kyungsoo mengelus telapak tangan Jongin. Menatapnya, mengisyaratkan agar Jongin tidak terbawa emosi. Untungnya Jongin luluh. Kalau tidak mungkin mereka berdua akan kalut dan mengakibatkan Yifan—yang kebetulan sedang mengendarai van—membanting setir menuju pohon besar atau trotoar dan membuat mereka semua mati dalam kecelakaan mobil.
Suasana di dalam van menjadi benar-benar sepi. Chanyeol dan Baekhyun yang biasanya akan membuat guyonan dan sebagainya pun hanya terdiam, atau tertidur. Minseok yang terlihat sangat tertekan. Perlu diingat bahwa hanya dirinyalah yang melihat pembunuh itu melakukan aksinya secara langsung.
Setelah sekitar satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai di salah satu villa yang lokasinya cukup jauh dari perkotaan. Villa itu sangat terpencil dan dikelilingi oleh hutan. Villa itu tidak pernah ditempati lagi setelah beberapa tahun, namun berbagai fasilitasnya masih tetap dapat dinikmati.
Mereka mulai menurunkan bahan makanan (Joonmyeon menyuruh bawahannya untuk memasok banyak makanan didalam van yang mereka gunakan). Tanpa sehelai baju lagi selain yang mereka pakai. Tidak ada waktu untuk membawa baju. Ini bukan piknik.
"Untuk keadaan seperti ini kita harus terus bersama. Semuanya tidur di ruang tengah. Tidak ada yang pergi kemanapun sendirian. Dan satu lagi, pastikan semua pintu dan jendela terkunci." Kata Yifan.
.
.
.
Kini mereka semua berada di ruang tengah. Yifan dan Joonmyeon sepakat untuk membuat jadwal jaga. Tiap hari harus ada orang yang terjaga dan tidak tidur. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya disusunlah pasangan jaga setiap harinya. Hari pertama, Yifan dan Yixing. Hari kedua, Minseok dan Joonmyeon. Hari ketiga, Jongdae dan Kyungsoo. Hari keempat, Jongin dan Baekhyun. Hari kelima, Chanyeol dan Luhan. Begitu seterusnya.
"Apa kalian lapar? Akan kubuatkan makanan." Tanya Kyungsoo yang dijawab anggukan oleh yang lain.
"Aku akan membantumu masak." Tawar Jongin. Kyungsoo mengangguk mengiyakan.
Mereka berdua kemudian menuju dapur. Menyisakan 8 orang lainnya di ruang tengah.
Suasana mulai mencair sekarang. Baekhyun dan Chanyeol dengan asyik menebar happy virus. Membuat senyum sedikit terkembang di bibir para pemuda itu. Untuk sejenak mereka melupakan kejadian tragis yang kemarin mereka alami.
Setelah berapa lama Kyungsoo dan Jongin kembali dengan dua mangkuk besar masakan. Masakan campur-campur ala Kyungsoo yang sudah dipastikan rasanya enak walaupun dengan penampilan seadanya.
Mereka mulai melahap semua makanan yang tersedia. Entah lapar atau memang masakan Kyungsoo sangatlah lezat. Tak terasa langit mulai gelap. Malam akan tiba.
.
.
.
Yifan dan Yixing yang kebagian jaga malam ini. Maka mereka tidak akan tidur. Mengawasi pintu dan ke 8 teman mereka yang tertidur.
Yifan menguap berkali-kali, ia sangat mengantuk. Yixing masih bisa menahan kantuknya karena tadi siang ia tertidur di perjalanan. Sedangkan Yifan tidak, karena ia menyetir.
"Kau tidurlah sebentar. Biarkan aku berjaga sendiri dulu. Jika ada hal yang aneh, aku akan segera membangunkanmu." Ucap Yixing. Sedikit cemas dan kasihan melihat mata Yifan yang merah karena menahan kantuk.
Yifan awalnya mau menolak, tapi ia rasa tubuhnya sudah tidak bisa apa-apa. Matanya memaksa untuk menutup. Dan membuatnya tertidur pulas hanya dalam hitungan detik saja.
Yixing bersenandung kecil. Melakukan hal-hal yang membuatnya dapat terjaga. Semilir angin kencang membuat sebuah jendela terbuka, membuatnya menyadari bahwa jendela yang satu itu lupa dikunci. Yixing berjalan menuju jendela itu. Berniat untuk menutupnya. Tanpa menyadari seseorang mengikutinya dari belakang. Mengangkat sebuah sapu tangan yang kemudian dipakai untuk membius Yixing. Cukup untuk membuat Yixing meronta beberapa detik kemudian jatuh terkulai namun tidak menimbulkan bunyi yang berdebam karena sang tersangka pembiusan segera menangkap tubuh Yixing dalam pelukannya.
Dengan pergerakan yang pelan, seseorang itu menyeret tubuh Yixing. Membuka pelan pintu yang terkunci. Menutupnya kembali. Mencekik leher Yixing dengan tambang seperti anjing peliharaannya, kemudian menarik tambang itu. Menyeret Yixing dengan tidak berperikemanusiaan.
OOO
"KENAPA KAU MEMBIARKAN YIXING BERJAGA SENDIRIAN! BAJINGAN KAU YIFAN!" Joonmyeon terus bersumpah serapah. Menarik kerah baju Yifan dan terus berteriak-teriak di depan wajahnya.
Ia tidak berhenti berteriak pada Yifan setelah menemukan jasad Yixing di depan pintu villa. Dengan tali tambang yang masih mengikat lehernya dan pecahan botol bir yang menancap di dada kirinya.
Baekhyun dan Kyungsoo terus berusaha menenangkan Joonmyeon yang hampir mencekik Yifan.
Yifan hanya bisa terdiam, kaku. Ia tidak tahu akibat dari tidurnya akan menyebabkan kematian Yixing. Padahal dia sendiri yang bilang bahwa tidak boleh ada yang kemanapun sendirian. Ia shock.
"Siapapun pembunuhnya, kau benar-benar sialan! Apa salah kami hah?!" Joonmyeon mulai berteriak-teriak seperti orang gila. Ini semua sudah cukup baginya. Melihat kedua temannya meninggal dan kini bertambah satu korban lagi. Yixing yang lebih dari sekedar teman, namun kekasihnya.
"Perketat keamanan. Kurasa seseorang lupa mengunci pintu dan jendela dengan baik sehingga membuat orang gila itu bisa masuk kesini." Ujar Jongdae.
.
.
.
Jasad Yixing langsung dikuburkan di halaman samping villa itu. Dan suasana semakin mencekam. Semua orang kalut. Hati mereka terguncang.
Sebagian dari mereka merasa bahwa tak lama lagi ajal akan menjemput mereka. Pembunuh itu ada disini. Mereka mungkin hanya harus menunggu antrian saat sang pembunuh datang dan membunuh mereka satu-persatu atau mungkin sekaligus.
Yang bisa mereka lakukan adalah berdoa. Tidak ada tempat untuk bersembunyi karena sang pembunuh tetap akan menemukan mereka.
.
.
.
"Yifan…" panggil Minseok pelan, Yifan tidak menyahut. "Yifan?" ulang Minseok, perlahan ia mendekati lelaki tinggi yang daritadi terdiam dengan sorot mata yang kosong.
"Apa kau juga mau menyalahkanku? Aku memang tidak becus, aku tahu." Ucap Yifan dingin.
"Tidak, bukan seperti itu.." Minseok kaku. Apa ia salah untuk mendekati Yifan di saat seperti ini, Yifan pasti sedang dalam keadaan yang—sangat—tidak baik.
Tangan Yifan terulur untuk meraih bahu Minseok, menyuruhnya untuk mendekat. Minseok mendekat, membiarkan Yifan bersender disana. Ia tahu, akan sulit bila berada di posisi Yifan saat ini. Yifan yang tidak bisa mengontrol emosinya, Yifan yang sudah sangat hancur ketika Tao meninggal, dan kejadian-kejadian lai yang melibatkan mereka semua. Ini gila.
"Kau kuat, Yifan." Gumam Minseok.
"Kata siapa?"
"Aku tahu itu.." jelas Minseok, ditatapnya kedua bola mata Yifan. Tersenyum untuk menguatkan pemuda itu.
Ehem
Suara deheman keras dari seseorang dibelakang mereka membuat keduanya mau tak mau menoleh ke belakang. Mendapati Jongdae yang memergoki adegan berdua-duaan Yifan dan Minseok. Dan sepertinya ia salah paham.
"Dae.." Minseok segera berdiri, membuat Yifan melepaskan senderannya di bahu Minseok.
"Ups, maaf menganggu kalian." Jongdae tersenyum paksa dan segera pergi meninggalkan Minseok dan Jongdae.
"Jongdae, ini tidak seperti yang kau fikirkan!" panggil Minseok, dengan cepat ia mengejar Jongdae dan memegang lengannya.
"Lepaskan." Jongdae melepas genggaman Minseok dengan kuat, membuat Minseok hampir terjatuh.
"T-Tapi.. aku… kau salah paham, Dae.." ujar Minseok lagi.
"Diam!" teriak Jongdae. Ia kembali berjalan menjauh dari Minseok.
"Jongdae, kumohon.. percayalah padaku…" Minseok masih mengejar Jongdae.
"Kubilang diam!" teriak Jongdae lagi, ditatapnya kedua iris hitam Minseok yang mulai berkaca-kaca.
"D-da—,"
Plak
Satu tamparan kasar mendarat di pipi Minseok, membuat bekas kemerahan disana. Air mata mulai menetes satu demi satu menuruni pipi Minseok.
Jongdae terdiam, menyadari perbuatannya pada Minseok. Minseok segera berlari menjauh dari Jongdae dengan isakan tangis yang mulai terdengar. Namun Jongdae tidak berniat untuk menyusulnya.
.
Katakanlah Minseok adalah seorang introvert karena ia tidak berniat bercerita tentang masalahnya dan kegundahan hatinya. Katakanlah Minseok adalah seorang yang munafik karena terus menebar senyum pada semua orang disekitarnya. Padahal hatinya sakit.
Ia masih menangis.
Walau tanpa suara.
Pilihannya sekarang adalah mengurung diri di salah satu ruangan Villa, yang membuat tidak seorangpun dapat mendengar isakannya—ia harap.
"Apa yang terjadi denganmu, Dae-ie.." gumam Minseok disela isakannya. Sebagian hatinya sangat membenci perlakuan Jongdae, tapi sebagian lainnya menolak untuk itu. Menolak bahwa sosok itu adalah Jongdae-nya.
Jongdae yang berubah atau sosok itu bukanlah Jongdae?
"Berfikirlah realistis, Kim Minseok." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Minseok mengenggam ponselnya yang mati. Ia sengaja mematikannya setelah menyadari bahwa setiap stop kontak di villa ini tidak ada yang berfungsi. Ia berniat untuk menyalakan ponselnya saat keadaan genting. Dan ia rasa inilah saatnya. Entahlah, feeling nya menyuruhnya untuk melakukan itu.
Minseok menekan tombol power di ponselnya. Setelah handphone nya menyala ia mendapatkan ratusan notifikasi telfon dari nomor yang tidak ia kenal. Dengan ragu ia menekan nomor itu dan menelfon balik ke nomor itu. Dan tersambung.
"MINSEOK HYUNG!"
Seru seseorang di sana. Suara yang sangat Minseok kenal. Suara Jongdae. Ia melihat keluar Jendela, Jongdae ada diluar, mencari kayu bakar bersama dengan Chanyeol dan Jongin. Lalu siapa orang yang bersuara seperti Jongdae di telfon?
"K-kau siapa?" Tanya Minseok.
"Aku Jongdae-mu! Hyung, kau dimana? Cepat beritahu aku!"
Minseok terdiam untuk beberapa saat. Ia yakin betul kalau suara ini adalah milik Jongdae. Tapi ia bisa melihat dengan jelas Jongdae yang sedang memotong batang-batang kayu diluar sana.
"Apa maksudmu? Jongdae ada disini... bersamaku.."
"Hyung! Dengarkan aku... dia bukan Jongdae. Aku Jongdae yang asli. Percayalah padaku... Minnie.."
Untuk alasan ini Minseok tidak bisa untuk tidak percaya, matanya membulat. Tidak ada satu orangpun yang memanggilnya Minnie. Hanya Jongdae. Itupun hanya digunakan saat mereka sedang berduaan. "J-Jongdae.. apa yang sebenarnya terjadi... hiks..."
"H-hyung... jangan menangis. Sekarang beritahu kau dimana?"
"Aku di villa yang pernah Yifan ceritakan, arah gangnam.. kau tahu?"
"Baiklah. Aku akan segera kesana. Menjauhlah dari Jongdae palsu, hyung. Dia psikopat."
Minseok hampir menjatuhkan ponselnya. Jongdae palsu? Psikopat?
Jadi? Dialah dalang dari semua pembunuhan yang telah terjadi.
"Minseok hyung? Kau masih disana?"
"N-ne... dae-ie.."
"Beritahu yang lain, tapi jangan biarkan psikopat brengsek itu tahu kau memberitahukan identitasnya yang sebenarnya. Hyung, aku mencintaimu."
Kemudian sambungan terputus. Minseok tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis lagi, menangis sejadi-jadinya. Mengapa ia begitu bodoh? Mengapa ia tidak mau menyadari hatinya yang berkata bahwa sosok itu bukan Jongdae nya? Mengapa ia bersikeras untuk menganggap Jongdae hanya berperilaku aneh padahal ia bisa merasakan bahwa hatinya menolak.
"Ini semua karena aku... aku... aku bodoh..."
.
.
.
"Hyung.. apa yang kau lakukan disini?" tanya Baekhyun yang sengaja mencari Minseok. Dan mendapati Minseok di lantai atas, tengah berlutut dengan mata merah.
Minseok segera mendongak dan berlari kearah Baekhyun, "Baekhyun.. aku harus mengatakan sesuatu padamu. A-aku sudah tahu siapa sebenarnya pembunuh yang meneror kita." Minseok berujar pelan hampir berbisik.
Baekhyun menampilkan wajah kaget, "S-siapa dia?"
"Jongdae palsu.."
"Maksudmu hyung?"
Minseok mengangguk lemah, "Kau ingat saat Jongdae berperilaku aneh? Seharusnya aku sadar kalau dia bukanlah Jongdae..."
"A-aku tidak mengerti hyung.. apa maksudnya Jongdae palsu?"
Prok.. prok...
Suara tepuk tangan dari seseorang menginterupsi percakapan Minseok dan Baekhyun. Nafas Minseok benar-benar tercekat sekarang. Melihat 'Jongdae palsu' sudah berada diantara mereka. Bertepuk tangan sambil tersenyum aneh.
"Kau sudah tahu ya sekarang, manis?" Ujarnya.
Baekhyun dan Minseok saling bertatapan. "Pergi kau psikopat!" Teriak Minseok.
Jongdae palsu berjalan mendekati Baekhyun. Membisikkan sesuatu, "Nasib buruk bagimu, karena si manis itu memberitahumu tentang identitasku sebenarnya maka umurmu akan habis sekarang. Padahal aku tadinya akan membunuhmu agak akhir karena aku suka wajah imutmu."
Baekhyun gemetar, keringat membanjiri pelipisnya. Tubuhnya kaku.
"M-menjauh dari Baekhyun!" Teriak Minseok sambil mendorong tubuh Jongdae palsu ke dinding. Kemudian menarik tubuh Baekhyun, berlari untuk menghindari sang psikopat bajingan. Namun sial, ketika mereka ingin membuka pintu, ternyata terkunci.
"Mau kemana sayang? Kuncinya ada padaku." Jongdae palsu mengangkat sebuah kunci sambil tersenyum.
"Shit."
Minseok masih berusaha membuka pintu namun tidak bisa. Baekhyun pucat. Jongdae palsu mendekati mereka perlahan sambil menarik sebuah pisau lipat dari saku celananya.
"Menyingkir sebentar, manis. Aku harus memainkannya terlebih dahulu." Jongdae mengangkat kerah baju Minseok kemudian mendorongnya ke samping. Membuat Minseok jatuh menubruk meja. Menyisakan memar di pipi kirinya yang menyentuh pinggiran meja kayu.
Jongdae palsu tertawa pelan, kemudian mencengkram wajah mungil Baekhyun. "Woohoo.. yang satu ini sudah siap mati ya sepertinya?" perlahan tangannya turun menuju leher Baekhyun. Mencekiknya. "Jangan diam saja, kau terlihat lumayan juga kalau dilihat dari jarak sedekat ini. Hmmm aku ingin mendengar suaramu, dong. Ayo bicara sesuatu."
"B-B... Bajingan kau..." ujar Baekhyun dengan susah payah. Nafasnya mungkin sudah hampir habis. Lehernya sakit seakan akan remuk.
"Hummmm suara yang indah. Lebih baik diakhiri dengan teriakan. Pasti akan indah... bagian mana yang harus kutusuk agar kau berteriak dengan indah ya?"
Minseok berjalan terseok, mendekati Jongdae palsu. Berniat memukulnya dengan vas bunga. Namun pergerakan lambatnya dengan segera disadari oleh Jongdae palsu. Psikopat bejat itu kembali mendorong tubuh Minseok menjauh.
"Dia mau melindungimu tuh. Tapi tenang saja. Aku takkan membiarkan hal itu terjadi." Jongdae palsu kembali tersenyum. "Aku tusuk pahamu dulu boleh ya?"
Jongdae palsu melonggarkan cekikannya, kemudian menusuk paha Baekhyun yang kiri dan kanan secara bergantian. Membuat Baekhyun berteriak sangat kencang. Dan psikopat itu tertawa.
Minseok kembali terseok-seok mendekati Baekhyun. Namun kakinya terluka parah, kakinya tadi menancap paku dari meja yang roboh ketika Jongdae palsu mendorongnya sehingga pergerakannya sangat lamban.
Sudah puas mengoyak paha Baekhyun, sang psikopat kemudian kembali mengajak Baekhyun bicara. "Jangan menangis sayang. Hm, sakit ya? Oh.. aku sangat kasihan padamu. Daripada kau menderita begini lebih baik aku hentikan saja detak jantungmu sekarang ya?"
Dan si gila itu menancapkan pisau di dada kiri Baekhyun. Membuat Baekhyun benar-benar kehilangan nyawanya.
Minseok mulai menangis lagi. "Baek... baekhyun... hiks... sialan kau brengsek!"
Jongdae palsu berjalan mendekati Minseok kemudian merangkulnya. "Aku tidak akan membunuhmu kok, aku akan menunggu sampai kembaranku tersayang itu datang. Kau mau dengar cerita hm?"
Minseok masih menangis. Jongdae palsu menghapus air mata Minseok. "T... tolong... tolong aku..." isaknya.
"Sshhhh... berhenti menangis. Kalau begini aku tidak jadi cerita deh."
"Berisik kau bajingan! Lepaskan aku!"
Jongdae palsu merangkul Minseok dan menyeretnya untuk berjalan. "Aku akan memapahmu. Kau kan calon saudara ipar? Aku harus berbuat baik padamu kan ya?"
"Brengsek! Brengsek!" Minseok menendang-nendang tubuh si Jongdae palsu. Namun ia terlalu lemah. Sehingga tendangan-tendangan itu hanya membuat Jongdae palsu terkekeh geli.
"Oh iya, aku mau membunuh sekaligus 6 kali ini. Kau mau lihat?"
Minseok menggeleng, berontak, namun rangkulan Jongdae palsu begitu kuat. Ia tidak bisa menghindar dari pria sialan itu.
"Ah sepertinya kau tidak boleh melihat. Nanti kau bisa mual. Kau tidur dulu saja ya?" Jongdae palsu mengambil sebuah ukiran kayu berukuran cukup besar kemudian memukul kepala Minseok. Dan Minseok pingsan. Mereka berdua berjalan menuruni tangga, menuju ruang tengah. Kebetulan, Yifan, Luhan, Jongin, Joonmyeon, Kyungsoo dan Chanyeol berkumpul disana.
"Heeey, apa kalian melihat Baekhyun?" Tanya Chanyeol. "Loh.. Minseok hyung kenapa?" herannya ketika menyadari Minseok dalam keadaan tak sadarkan diri dan digendong oleh Jongdae—Yang tidak mereka ketahui bahwa ia bukanlah Jongdae yang sebenarnya.
"A-aku tidak tahu.. aku menemukannya sudah seperi ini.. apa yang harus kulakukan..." ujar Jongdae palsu, berbohong. Bersikap dramatis, seolah olah menangisi orang tercintanya.
"Dia pingsan ya? Sini coba kulihat." Kyungsoo mendekati Minseok.
Jongdae palsu menggeleng, "Tidak usah.. biarkan ia berbaring dulu." Kemudian menidurkan Minseok di sofa.
"Minseok sangat cantik ya? Bahkan dalam keadaan seperti itu." Ujar Jongdae palsu sambil memperhatikan wajah Minseok.
Ke 6 orang dibelakangnya menatapnya aneh. Apa-apaan sih Jongdae.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam"
Jongdae palsu menghitung orang dibelakangnya. Kemudian mengeluarkan pistol yang entah dari mana ia dapatkan. Mengarahkannya pada ke 6 orang itu.
"Oke aku mulai dari kanan ya."
Dor
Tembakan pertama tepat mengenai kepala Jongin dan membuatnya seketika tak bernyawa. Kelima orang lainnya kemudian panik.
"Apa yang terjadi denganmu, Jongdae!" Teriak Yifan frustasi.
Jongdae palsu itu tertawa.
Dan
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Kali ini 5 peluru dilontarkan dengan jeda yang sebentar. Joonmyeon, Luhan, Yifan dan Chanyeol bernasib serupa dengan Jongin. Tembakan pada Yifan agak meleset sehingga membuatnya harus menembak kepala Yifan dua kali agar ia benar-benar mati.
"Gara-gara si bodoh itu aku jadi kehabisan peluru untuk membunuhmu." Ujar Jongdae palsu sambil menatap Kyungsoo.
Tubuh Kyungsoo bergetar hebat. Air mata dengan deras mengucur dari kedua bola matanya. "J-jongdae ada apa dengamu..."
"Aku bukan Jongdae, kau tenang saja. Temanmu, Jongdae itu orang baik kok."
Kyungsoo menutup mulutnya tidak percaya. Kakinya sudah tidak kuasa untuk menopang tubuhnya, ia benar-benar lemas. Ia semakin mundur ketika Jongdae palsu mendekatinya. Mengacungkan sebilah pisau yang berlumuran darah.
"Tidak enak kan rasanya sendirian? Lebih baik kau mati saja, sini." Jongdae palsu semakin mendekati Kyungsoo. Berlari kemudian mencengkram bahu Kyungsoo sangat keras.
Krek
"AAAAAKHHHHHHHHHHHHH!" Kyungsoo berteriak sangat keras ketika psikopat itu mematahkan tulang bahunya.
"Wow wow wow!" Jongdae palsu terlihat antusias dengan mainannya kali ini. Ia tertawa cekikikan seperti orang gila. Kyungsoo bergerak-gerak tak karuan, menangis, meronta dan menahan sakit yang ia rasakan. Jongdae palsu menghimpitnya di dinding, kemudian mengacungkan pisaunya. Menyayat nyayat leher Kyungsoo, tidak dalam namun membuat banyak darah mengucur dari sana.
"B-bunuh aku... kau brengsek! B-brengsek!" Kyungsoo menangis tambah keras. Terdengar pilu. Untuk saat ini mungkin mati adalah pilihan terbaik. Untuk mengakhiri rasa sakitnya.
"Permintaan diterima." Ujar Jongdae palsu sambil nyengir. Kemudian ia menancapkan pisaunya di dada kiri Kyungsoo. Berkali-kali sampai Kyungsoo benar-benar kehilangan nyawanya.
Dan villa hening itu sekarang benar-benar dipenuhi tawa gila yang menggelegar.
.
.
.
Jongdae memarkirkan motornya di depan villa yang ia yakini milik Yifan. Berlari menuju pintu depan, tapi terkunci. Segera ia mendobrak pintu itu. Setelah pintu terbuka ia langsung menuju ke ruang tengah. Melihat Minseok yang terbaring di atas sofa.
"M-minseok hyung..."
Matanya kemudian beralih ke sekitarnya, dimana terbaring jasad ke 6 temannya yang lain.
"ARGH! BAJINGAN! DIMANA KAU?!" Erang Jongdae frustasi.
Sosok Jongdae palsu kemudian memasuki ruang tengah sambil membawa segelas orange juice. "Wah benar dugaanku, ternyata kembaranku tersayang akan datang. Kebetulan aku membuatkanmu orange juice, nih."
"Brengsek kau! Apa yang kau lakukan pada teman-temanku?"
"Aku hanya mengirimkan mereka semua ke surga dengan lebih cepat. Bukankah itu ide yang bagus?" Jongdae palsu tersenyum sambil meletakkan gelas orange juice nya di meja. "Oh iya, kekasihmu itu pingsan setelah kupukul."
Jongdae semakin geram, ia mencekik Jongdae palsu. "Bajingan kau Jongho! Kenapa harus teman-temanku Hah?!"
Jongdae palsu, yang ternyata bernama Jongho itu kemudian tertawa. "Karena aku sirik dengan kehidupanmu yang bahagia."
"Bukan begini caranya bodoh!" Jongdae masih mencengkram kerah baju Jongho. Perlahan ia mulai menangis. "Seharusnya aku tidak membiarkanmu menemukanku."
Jongho menampilkan wajah sok-sokan sendu. "Maafkan aku, saudaraku.. yang penting kan aku menyisakan kekasihmu. Dia hanya pincang kok, belum mati."
Jongdae menonjok pipi Jongho sampai Jongho tersungkur. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Woohooo tenanglah sedikit bro." Jongho mengelap darah dari sudut bibirnya kemudian berdiri. Jongdae kembali membogem Jongho. Membuatnya jatuh tersungkur lagi dengan memar yang hampir memenuhi wajahnya.
Jongho berusaha bangkit sambil tertawa. "Pukulannmu bagus juga."
"J-Jongdae..." suara Minseok yang baru sadar membuat Jongdae segera menghampiri Minseok. Memeluknya.
"Minseok hyung? Kau baik-baik saja?" Tanya Jongdae.
Minseok menunjuk kaki kirinya yang terluka dalam. Jongdae mengecup pucuk kepala Minseok berkali-kali. "M-maafkan aku... Maafkan aku..."
"Hey. Maaf menganggu kemesraan kalian. Tapi kurasa kau melupakan seseorang disini." Ujar Jongho ketika ia sudah berdiri. Melangkah gontai mendekati Jongdae dan Minseok.
"Tadinya aku tidak mau membunuh kalian. Tapi drama yang kalian buat membuatku mual. Aku tidak suka. Lebih baik kalian menyusul teman kalian yang lain."
Jongdae membogem perut Jongho. Membuat Jongho lagi-lagi tersungkur dan muntah darah. Jongdae menggendong tubuh Minseok kemudian berlari menuju motornya. Minseok yang lemah hanya bisa memeluk tubuh Jongdae sementara Jongdae menyalakan motornya.
Namun sial bagi mereka berdua karena Jongho tiba-tiba datang dan menembak roda motor yang akan mereka naiki.
"BRENGSEK!"
"Sudah kubilang jangan pergi dulu." Ujar Jongho yang lagi-lagi tersenyum.
Jongdae tidak memperdulikan perkataan Jongho. Ia langsung berlari menuju hutan bersama dengan Minseok. Cukup menguntungkan baginya karena Jongho berjalan sangat lamban dengan kaki yang terseok-seok.
"J-Jongdae.. bisa jelaskan apa yang terjadi?" ucap Minseok.
Jongdae berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian melirik wajah Minseok sekilas. Ia sungguh merindukan kekasihnya itu. "Ceritanya panjang.."
"Dae-ie, berhentilah berlari.." pinta Minseok. Ia meremas kemeja Jongdae pelan.
Jongdae mulai menghentikan langkahnya. Kemudian melihat kesekeliling. Menemukan sebuah pohon besar yang dirasa nyaman untuk dijadikan tempat Minseok bersandar. Ia melangkah menuju pohon itu, kemudian mendudukkan Minseok disana.
"Aku minta maaf.." gumamnya sambil berjongkok didepan Minseok.
Minseok segera meraih tubuh Jongdae dan memeluknya sangat erat. Jongdae bisa mendengar isakan-isakan kecil meluncur dari bibir Minseok. Membuatnya lidahnya kelu.
"Aku mencintaimu.." Isak Minseok, yang dapat didengar jelas oleh Jongdae.
"Aku lebih lagi.." diraihnya pucuk kepala Minseok, kemudian mengecupnya lembut. Setelah dirasa pelukan Minseok mengendor, Jongdae menangkup kedua pipi Minseok. Menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi kedua bola mata cantik itu. Bola mata yang kini redup dan diselimuti kesedihan.
"Jongdae.. Psikopat itu... apa benar dia saudara kembarmu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Jongdae menghela nafas, "Ceritanya sangat panjang, aku sudah mencoba melupakan semua yang ada di masa laluku. Namun aku tidak menyangka bahwa ia akan datang dan menghancurkan segalanya. Dia memang saudara kembarku, ah, bukan.. aku tidak pernah menganggapnya adalah bagian dari keluargaku. Dia itu, bajingan. "
Minseok membelalakkan matanya, tidak menyangka. Ia kaget karena Jongdae tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalunya. "Kau tidak perlu cerita, kalau kau tidak mau." ia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum. "Aku benar-benar mencintaimu.."
Minseok mencium bibir Jongdae lembut, dan Jongdae membalasnya. Setelah ciuman terlepas, mereka berdua saling menatap.
"Aku takut ini menjadi yang terakhir.. Hiks.." Minseok kembali menangis, rasanya ingin meraung-raung. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isakannya.
Jongdae terduduk lemas, menarik Minseok ke dalam pelukannya.
Tap
Tap
Tap
Srek
"Ternyata kalian disini?"
Jongdae mendongak dan mendapati Jongho sudah berada di depan mereka.
"Kau puas?" Ujar Jongdae sambil mencoba untuk berdiri. Namun Minseok menahannya, menahan Jongdae dalam posisi seperti ini. Menahan Jongdae agar ia terus memeluknya.
"Minseok?" Jongdae menatap mata Minseok yang merah, sembab. Minseok menggeleng, sorot matanya mengisyaratkan agar Jongdae tidak melepas pelukannya.
"Dramatis sekali!" girang Jongho. Tanpa Jongdae dan Minseok sadari, ia membawa sebuah tombak di tangannya.
Minseok menenggelelamkan wajahnya di dada Jongdae. Menyesap aroma yang menguar dari tubuh lelaki yang paling ia cintai. Kemudian mendongak untuk melihat wajahnya, "Biarkan aku mati, asal kau tetap memelukku seperti ini." bisiknya.
"Minseok?"
"Aku mencintaimu.." gumam Minseok sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di dada Jongdae.
Jongdae tersenyum, kemudian memejamkan matanya. "Sampai jumpa di surga, Minnie-ku."
.
.
ZRASHHHH
.
.
Jongdae pun terpejam selamanya ketika tombak panjang itu tepat menusuk kepala Minseok dan menembus sampai dada kirinya.
.
.
.
.
.
.
.
FIN
.
.
.
.
Berakhir dengan geje nya…..
Jangan timpukin saya ;p wkwk
Yap! jadi pembunuhnya adalah saudara kembar si Jongdae yang entah muncul dari mana itu. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menjelaskan berbagai kejadian di fic ini maka saya akan membuat extra chapter yang berisi tentang: pembunuhan Sehun, pembunuhan Tao, dan berbagai kejadian kecil yang mungkin tidak begitu jelas di dalam twoshoot ini. Dan extra chapter akan mencakup juga jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dari readers sekalian—kalau ada— Jadi kalau ada pertanyaan boleh ditampung di dalam kotak review dan akan saya jawab di extra chapter!
Akhir kata, terima kasih untuk perhatian kalian.
Saya cinta kalian! Xoxo
Balasan review :
wuziper : udah dilanjut nih! Hehe. Nah gimana apa ini sesuai sama salah satu scenario yang difikirkan? Hoho. Thanks for reading^^
firda-xmin : pembunuhnya kembaran-Jongdae-yang-entah-datang-darimana. Gimana gimana yang ini ngeri gak xp Thanks for reading^^
dn : semua bakal diungkap di chap selanjutnya! Btw thanks for reading^^
restikadena : terima kasih banyakkkk:'D nah ini udah terungkap siapan pembunuhnya hohoho. Maaf ya tapi semuanya pada mati di bablas pada chap ini/?… hehe thanks for reading^^
Kim Jong Min : yep, padahal saya suka banget cerita psycho;"D /curhat/ ini udah dilanjut! Thanks for reading^^
Rin Rin Kim Chenmin : terima kasihhh! Pemikiran-pemikirannya terjawab ya sekarang xp ini udah dilanjut, and thanks for reading^^
HappyHeichou : nah nah sekarang semuanya udah terungkap xp hoho ini udah dilanjut yaa! Thanks for reading^^
elfishminxiu : ff chenmin harus dilestarikan! Hehe tapi pada akhirnya semuanya mati….. /jahatnya saya/ hoho thanks for reading^^
Chenmin EX-Ochy : terima kasih banyakkkkk:"D ini udah dilanjut! Thanksn for reading^^
xiao yueliang : emang ga dikasih hint /gak hehe tapi sekarang sudah terungkap semuanya wohoho thanks for reading^^
keykeykelala: tidak tau huhu semuanya mengalir begitu aja di otak saya.. terima kasih banyak:"D nah semuanya terungkap sekarang xp udah dilanjut ya! Thanks for reading^^
daekim : hehe terimakasihhh, bagian mananya ya kalo bisa dicantumin biar bisa dikoreksi hehe. Nah kalo yang sekarang masih ada yang nggak enak dibaca kah? Hehe thanks for reading^^
anon : hai! Nah kamu benar, dia emang bukan jongdae wkwk. Ini udah dilanjut! Pengalamanmu seram ya…. Jangan-jangan…. Jangan…. Jangannnnn…. Semoga pas baca ini nggak ada pengalaman aneh ya/? Xp thanks for reading^^
