Wind Portal
-Love Forever-
©BocahLanang
.
.
.
Ӝ-Closer-Ӝ
...
Tergesa Sehun berlari menaiki tangga.
Kemudian ia berbelok menuju lorong kanan dan berakhir berhenti disisi kiri paling ujung. Tangan pucatnya memegang kuat handle pintu berwarna biru langit cerah dan membukanya kencang.
Brak!
"AAaa..!" lengking suara Jongin memekakkan telinga Sehun sekaligus membuat namja putih itu semakin penasaran.
Dengan cepat kedua mata tajamnya beralih dari sekedar mengamati daun pintu biru muda itu untuk menelisik ruang kamar seorang Kim Jongin.
"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu, Oh Sehun!" Jongin memakai kaos putihnya dengan cepat ketika Sehun menutup pintu dan menghampirinya.
Kedua mata tajam Sehun sedikit terbuka, ia terkejut melihat tubuh topless Jongin barusan.
"Jong? Kau serius waktu itu? Aku tidak bermaksud.. sungguh.." Suara Sehun yang lembut dan sarat akan penyesalan itu membuat Jongin memutar tubuhnya memunggungi Sehun. Ia lebih tertarik memandangi jendela kamarnya yang tertutup tirai daripada melihat Sehun.
"Waktu itu aku kalah darimu, jadi aku harus menepati peraturannya, kan?" akhirnya Jongin berbalik, dengan ragu melihat tepat di wajah Sehun. Benar saja, Sehun menunduk menyesal.
"Itu permanen?" Alis namja putih itu terangkat memperlihatkan ekspresi cemas dan semacam perhatian lebih yang membuat Jongin seketika lemah karenanya.
"Aku tidak pernah melanggar kesepakatan, Oh Sehun." Jongin berujar enteng dan tersenyum apa adanya. Membuat hati Sehun terenyuh sedikit sakit dan sarat akan penyesalan.
"Kau tak perlu melakukannya jika tidak mau, Jongin. Aku sungguh tidak memaksa kala itu." Tangan kanan Sehun yang mulai berotot itu menggiring Jongin untuk ikut duduk di pinggir ranjang namja tan yang dulu sempat menjadi ranjang mereka berdua.
Jongin merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pegangan tangan Sehun yang kuat dan tanpa ragu itu.
"Aku bukan pecundang sepertimu, Sehun." Hembusan nafas berat Jongin membuat Sehun semakin dilanda perasaan bersalah.
"Jadi.. Boleh aku melihatnya?" Tangan kanan Sehun mengusap punggung sempit Jongin, kaos putih itu sedikit menerawang kulit tan Jongin.
"N-ne.." Kedua pipi Jongin bersemu merah. Perlahan ia memunggungi namja tampan itu.
Sehun dengan lembut memeluknya dari belakang, mengecup pelan tengkuk Jongin. Sehun jujur sangat menyukai tengkuk Jongin, rambut kecil disana sangat rapih dan imut menurutnya.
"Biar aku yang buka, Jongin.." Suara serak Sehun berbisik ditelinga kirinya membuat Jongin tercekat untuk nafasnya sesaat.
Kedua tangan putih Sehun yang mulai berotot itu menyentak lembut kedua tangan Jongin yang memegangi kaos putihnya sendiri.
Perlahan Sehun melepaskan keatas kaos putih yang membalut tubuh tan langsing bak penari balet itu.
Sentuhan kulit dingin Sehun pada pinggang rampingnya membuat Jongin terlonjak kecil dan bergumam lirih.
"Tidak apa-apa. Ini aku." Hanya dengan kalimat singkat itu saja, Sehun mampu membuat Jongin kembali rileks.
Kaos putih tersebut benar-benar tanggal dari tubuh Jongin. Sesaat keduanya diam. Sehun yang masih menggenggam kaos putih Jongin, mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin dari belakang.
Dikecupnya pundak kiri Jongin sebanyak tiga kali, yang membuat Jongin menoleh ke kanan, mempersilakan Sehun mengecup lebih jauh ke leher jenjangnya.
"Tidak, sayang. Aku kelepasan nanti." Kedua mata Sehun terpejam. Nafas hangatnya memburu terasa pada kulit Jongin, membuat tubuh Jongin semakin lemas dalam pelukan eratnya. Ia menumpukan dagu runcingnya pada halusnya pada perpotongan leher Jongin. Mengusakkan pipinya perlahan disana, merasakan desir-desir hangat ketika tubuh mereka bergesekan.
Nyaman sekali. Dan Sehun tidak peduli jika Jongin mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat berdegup keras.
Ia yang menyentuh, ia yang memulai, tapi ia jugalah yang merasakan efek besar dari tindakannya sendiri. Dihirup penuh aroma tubuh Jongin hingga memenuhi rongga paru-parunya sembari mengingat-ingatnya.
"Kau boleh.. melihatnya." Suara Jongin lembut, mempersilakan Sehun melihat punggungnya. Dengan perlahan dan sedikit gugup Sehun melepaskan pelukannya yang memang ia lakukan karena ia sendiri belum siap melihat punggung Jongin.
"Apakah sakit?" Sehun telah melepaskan pelukannya, tapi ia masih menyandarkan kepalanya di bahu sempit Jongin. Posisi Jongin yang memunggungi Sehun membuat namja Tan itu tidak bisa melihat ekspresi pemuda tampan dibelakangnya.
"Hanya beberapa hari, setelahnya tidak lagi. Lagipula sudah dua tahun yang lalu." Kepala Jongin menunduk, mengamati jari-jari tangan Sehun yang beristirahat di pangkuannya.
"Mianhae.." jemari putih itu merambat perlahan, dari pinggang ramping Jongin, terus naik menuju lengan Jongin, mengusapnya lembut, dan berakhir di kanan kiri bahu Jongin.
"Sehun?" Jongin menoleh kebelakang merasakan Sehun yang diam dibelakangnya cukup lama.
Pandangan Jongin terhenti ketika ia melihat dengan jelas ekspresi Sehun yang menatap punggungnya dengan serius.
"Ini terlalu berisiko, Jongin. Kau tahu maksudku, kan?" jemari Sehun yang semula diam di bahunya kini turun menuju punggung indah Jongin.
"I-iya.. Tapi aku bisa menjalani laser jika memang mendesak kelak." Suara lirih Jongin sedikit bergetar, sentuhan ringan Sehun pada punggungnya membuatnya terasa bergidik tersengat, refleks melentingkan punggungnya menjauh.
Bibir Sehun mengukir senyum tipis, tubuh Jongin semakin sensitif oleh sentuhannya. Entah penolakan atau efek terangsang, Sehun dapat melihat indahnya punggung Jongin yang semula tegak itu kini melenting kedepan dengan sangat mulus.
"Kalau aku bilang jangan. Apa kau akan tetap mempertahankannya?" jemari Sehun kembali menyentuh punggung Jongin. Kini punggung indah itu lebih rileks, dan Sehun dapat mengamati terang-terang punggung itu.
"..." Hanya hembusan nafas yang Jongin keluarkan. Sehun tersenyum miris dalam diam dibelakang sana. Kalau boleh, Sehun ingin kembali ke masa lalu dan tidak mengecewakan Jongin.
Mereka selalu berakhir canggung seperti ini.
"Aku berharap.. kau mempertahankan namaku ini tetap tersemat di punggung indahmu.. Jongin." Serak Sehun berujar sembari mengecup punggung ramping Jongin.
Pada bawah tengkuk Jongin.
Satu kilan dibawahnya, kulit tan indah Jongin tertoreh tato hitam dengan font Rothenburg yang khas dan indah, tercetak cukup besar membujur sederet huruf 'Sehun'.
"Kau indah, Jongin. Sangat." Dikecup kembali tato hitam namanya pada punggung halus itu. Berharap namanya tersebut abadi pada punggung Jongin. Berharap Jongin tidak berniat menghilangkan tato dengan ukuran 15x10 cm di punggung atasnya tersebut.
Ia ingin setiap orang yang melihat tato itu tahu kalau Jongin miliknya kelak. Mungkin miliknya kelak.
"Sebaiknya kita bergegas kebawah mempersiapkan piring untuk makan malam sebelum Umma pulang membawa belanjaan." Jongin hendak keluar dari keadaan canggung itu. Direbutnya kaos putih miliknya kembali dari tangan Sehun.
"Berhenti." Kalimat Sehun terdengar seperti perintah. Jongin semula takut mendengar suara tegas Sehun namun akhirnya melanjutkan gerakannya untuk memakai kembali kaosnya.
"Kubilang berhenti. Kim Jongin." Sehun membentak Jongin, kedua tangannya menahan kaos putih Jongin yang sudah dipakai dan hampir seluruhnya turun menutupi kembali punggung Jongin.
"Sehun, ini sudah malam. Mungkin kau lelah, sebaiknya kita-"
BREEETTTTZZZ! ! !
"Aaah!" Jongin memekik kaget ketika tangan Sehun yang semula menahan kaosnya agar tidak turun itu malah menyobek dengan kasar kaos putihnya hingga benar-benar tercerai dengan mudahnya.
BRUGH!
"Sehun!" semakin kaget Jongin ketika ia dibanting ke tengah kasur.
Gerakan cepat Sehun mendorong Jongin sehingga tersungkur kedepan. Sehun segera menindih punggung Jongin. memenjarakan tubuh yang telungkup diatas kasur itu sehingga tidak lagi mampu melawan.
"Dengarkan aku baik-baik.. Jongin." bibir Sehun berbisik rendah, merangkak kebawah tubuh Jongin, dan berhenti ketika wajah tampannya berhadapan dengan tato namanya pada punggung Jongin.
Sedang kedua tangan Jongin mencengkram erat seprai, ketakutan.
"Apa kau terpaksa?" Sehun bertanya sembari mengecupi tato itu perlahan. Membasahinya dengan salivanya. Jantungnya berdebar kencang, dan darahnya berdesir cepat. Ia serasa mabuk setiap menyentuh Jongin. Tubuhnya terasa terbakar. Sangat.
"T-tidak.." susah payah Jongin menahan desahannya dengan menggigit bibirnya kuat-kuat. Dipendam wajahnya pada bantal agar suara rintihannya tidak terdengar.
"Tato ini menambah sexy punggungmu, sayang. Aku suka kau memilih font ini. Menambah gairahku." Bisikan serak Sehun dan kecupan-kecupan basah pada tatonya membuat Jongin lumpuh, tiarap begitusaja di kasur, dibawah Sehun yang menindihnya.
Pipinya memerah sangat. Ini terlalu vulgar dan Sehun menyentuhnya terlalu intim. Bibirnya ingin mengerang nikmat ketika Sehun sengaja memberi ciuman dalam dan jilatan panas menyusuri setiap hurufnya beberapa kali disana seolah punggungnya adalah permen gulali yang manis.
Menyesap kulitnya seolah ingin melahapnya bulat-bulat.
Saat itu adalah saat kelas satu SHS.
Jongin tidak menyangka Sehun mengikutinya mendaftar pada SHS yang sama.
Saat itu pula Sehun menantang Jongin, jika mereka ditempatkan pada kelas yang sama dan Sehun menjadi juara satu untuk semester pertama, maka Jongin haruslah membuat tato nama seorang 'oh sehun' pada tubuh indahnya.
Sehun hanya berujar asal, lagipula anak SHS belum diperbolehkan membuat tato.
Terlebih, tato adalah sesuatu yang beresiko. Semua pekerjaan formal menolak orang bertato dan bertindik.
Sehun pikir Jongin akan menyerah ketika ia berhasil mendapat juara satu sekaligus satu kelas dengan Jongin. Sehun pikir Jongin akan kembali padanya, memohon mengakhiri perdebatan, permusuhan, dan persaingan mereka. Kembali disisinya.
Tapi Sehun salah. Jongin mengeluarkan sebuah bukti pemeriksaan berkala dari dokter dermatik rumah sakit swasta terbaik di Korea serta biaya penanaman tato yang diterapkan di tubuhnya.
Cukup mahal, Sehun tercengang saat itu. Dilihatnya bill dengan nominal puluhan juta. Tato itu ditangani langsung oleh spesialist tato terkenal dari Prancis. Beserta perawatan kulit intensif berkala dari dermatologist untuk mencegah iritasi efek samping penanaman tinta hitam pada kulit halusnya.
Ia pikir Jongin berbohong karena Jongin menolak untuk memperlihatkan tato tersebut.
Tapi hari ini ia melihat tato itu.
Terpampang dengan jelas tinta hitam yang tertanam pada kulit tan indah punggung Jongin.
Dengan ukuran cukup besar seolah namanya benar-benar menaungi dan mengklaim tubuh itu menjadi miliknya seorang.
Garis hitam yang tebal tipis terlihat sangat sexy tersemat permanen pada punggung indah Jongin.
Perasaan Sehun bercampur antara menyesal, beruntung, marah, kesal pada diri sendiri, senang, bernafsu, rindu, cinta, dan rasa ingin memiliki yang besar setelah melihat tato megah namanya dengan font sexy di punggung Jongin.
"K-Kau menyukainya?" Susah payah Jongin menahan desahannya ketika bertanya. Terlebih telapak tangan kasar Sehun mulai menjelajahi pinggang rampingnya.
Gesekan telapak kasar Sehun pada pinggang halusnya membuat tubuhnya bergetar hebat. Sentuhan Sehun berbahaya untuknya. Untuk jantung dan kesadarannya juga.
"Sangat. Aku mencintainya." Kalimat itu diakhiri oleh Sehun dengan kecupan yang sarat akan memuja pada tubuh indah Jongin.
"Hun.." Desahan lirih akhirnya keluar juga dari bibir penuh Jongin.
Sehun yang mendengar itu berdehem mencoba mengendalikan libidonya yang tiba-tiba meningkat tinggi.
"Boleh aku menelanjangimu, Sayang.." Bukan lagi permohonan ketika tangan Sehun yang semula meraba kasar pinggang ramping Jongin kini bergerak lincah melepas sabuk dan menurunkan resleting celana hitam seragam Jongin.
"A-andwae.. Hun.." Sulit bagi Jongin melawan, mengingat ia tertindih Sehun dengan keadaan tengkurap.
"Sekali melawan, kuperkosa kau disini juga." Kalimat mutlak Sehun yang sedikit membentak itu membuat Jongin terdiam takut.
Sehun berhasil menanggalkan celana panjang hitam itu, dilemparkan jauh hingga terjatuh disamping pintu masuk kamar ini.
"J-jangan celana dalamku.. kumohon.." Kedua tangan Jongin mempertahankan celana pendek ketat satu kilan diatas lututnya yang berwarna hitam juga.
"Ada sesuatu disini.. aku tahu kau menyembunyikan satu lagi disini.. Jongin." jemari panjang Sehun terlihat beringas menarik paksa celana elastis itu turun hingga memelar.
Dengan penuh nafsu, dikulumnya cuping telinga lelaki tan sexy yang merengek dan memohon padanya. Membuatnya semakin berkabut.
"Andwae! Hiks-" Terisak Jongin ketika dengan sekali sentak satu-satunya kain yang tersisa ditubuhnya itu ditarik lepas.
"Aku ingat.. kau membuat dua tato.." Sehun berbisik ditelinga Jongin dan mengusap pinggul indah Jongin. Halus sekali.
"J-jangan.. hiks, hiks.." Air mata Jongin menetes langsung jatuh pada bantalnya. Sehun berhasil membuatnya malu, takut, bernafsu, terangsang, dan terhina disaat bersamaan.
"Dimana kau mengabadikan namaku yang kedua.. sayang?" Sehun berbisik seduktif dengan suara beratnya. Mengecup leher Jongin, lalu menggigitnya. Memberi tanda yang sangat kentara kemerahan.
"Aaahhhss.. angh.. j-jangan disituh.. Hunna.. Ack!" Tangan kiri Jongin meremat kasar rambut hitam cepak Sehun yang semakin kuat menyesap kulitnya hingga menjadi keunguan. Ia yakin tanda itu tidak akan hilang dalam dua minggu.
Sementara sebelah tangan Sehun menahan agar ia tidak benar-benar menindih punggung Jongin, sebelah tangannya lagi mulai melepas kancing seragamnya sendiri.
Sreeet...
Kemejanya berhasil ia lepas. Dibaliknya tubuh Jongin dengan mudahnya. Ia kurung tubuh itu diantara kedua lengan kokohnya.
"Kau milikku.." Bisikan Sehun teredam ketika bibir tipis itu mengecup jakun Jongin.
Pandangan Jongin berkunang-kunang melihat bahu kekar dan punggung lebar Sehun diatasnya. Mengurungnya seolah ia sudah tidak dapat kemanapun lagi selain berada dalam dekapan dan pengawasan namja putih diatasnya kini.
-TBC-
Udah lumayan lebih panjang daripada ch 1, update faster? Yes, of course! Yeey!
Ini FF tentang aneh-aneh lagi, hehe..
Silakan di review ya!
Semoga FF ini tidak mengecewakan karena idenya sangat bagus menurutku, hehew..
Salam HunKai! ^^
