Title : Between You and Him

Genre : Romance - Hurt/ Comfort

Length : Chaptered

Cast : Wu Fan, Tao, and Others

Warning : Yaoi, OOC, abal, plot pasaran, bahasa berantakan

Don't Like Don't Read!

.

Kini Tao tahu, Kris adalah tipe orang yang suka seenaknya, memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Menarik napas panjang, Tao turut membawa jenjang kakinya meninggalkan tempat dimana takdir baru telah membelenggu raga itu.


.

.

"Jadilah kekasihku…" Kris berkata tanpa menunjukkan perubahan ekspresi.

"A-apa?" dan Zi Tao yang mendengar kalimat pemuda itu tak hanya mengerjap satu kali. Sama sekali tak mengerti meski ia mendengar pernyataan itu dengan kedua telinganya sendiri.

"Kau menyukaiku, kau pasti mengharapkan aku membalas perasaanmu."

"T-tidak senior," bantah Tao saat dia menyadari kemana arah pemikiran pemuda yang tengah mengurungnya ini. "aku memang mengagumi senior, tapi untuk meminta senior membalas perasaan itu aku merasa tak pantas melakukannya."

"Aku yang berhak memutuskan pantas atau tidak." Kris berkata seolah ia adalah seorang penguasa. "Natal minggu depan kita akan berkencan. Berikan ponselmu."

"T-tapi…" ragu-ragu Zi Tao menyerahkan ponsel itu.

"Sampai jumpa lagi, Zi Tao."

Zi Tao meremas ponsel yang kembali dalam genggamannya, ia pandang punggung Kris yang berjalan meninggalkannya. Kini dia tahu, Kris adalah tipe orang yang suka seenaknya, memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Menarik napas panjang, Tao turut membawa jenjang kakinya meninggalkan tempat dimana takdir baru telah membelenggu raga itu.

.

.

.

Between You and Him —

Chapter 2

.

.

.

"Kau membolos lagi, hmm? Lee saem tidak akan meluluskanmu jika kau terus seperti itu."

"Kau pikir aku bolos karena siapa?" Tao yang baru saja memasuki kelas menyalak seketika itu juga. Menatap tak suka pada pria yang dengan sengaja menduduki kursinya.

"Haa…"

"Jangan pura-pura bodoh! Kembalikan buku tugasku!" dengan tampang mengintimidasi Tao mengulurkan tangannya.

"Hei apa hubungannya denganku?" dan pria tinggi yang duduk dibangkunya ini memiringkan kepala seolah tak mengerti. Memandang uluran tangan Zi Tao sembari mengulum senyum penuh arti.

"Teman-temanku melihatnya, kau datang ke kelasku dan mengambil buku tugasku. Kembalikan sekarang!"

Zi Tao terlalu polos untuk menyadari, tingkahnya justru menciptakan gradasi pelangi dalam mata sosok yang tengah memandangnya saat ini.

"Cium aku dulu. Ini sebagai detensi karena kau membolos tadi."

"Park Chanyeol babo idiot tidak tahu maluuu! Berhenti menggangguku dan pergi kekelasmu sana!"

"Si babo-idiot-tidak tahu malu- ini adalah seniormu, Zitao-ya." Dengan menekan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya, Chanyeol berdiri dari kursi yang tengah ia duduki. Melangkah pada titik dimana saat ini Tao tengah berdiri. " kau benar-benar menguji kesabaranku dengan tingkahmu yang menggemaskan itu." senyum menggoda ia ulas begitu saja, dengan jilatan pada sudut bibirnya yang membuat Tao seketika memaki dalam hati.

"Yaa! Mau apa kau!" teriakan Tao menggema, kala Chanyeol dengan tiba-tiba mengusap belahan bibirnya.

Plakk!

"Berhenti mengganggunya, Sunbae. Kelas selanjutnya akan ada kuis, kami disini butuh ketenangan."

Chanyeol melihat bagaimana pemuda itu memandangnya datar, dia yakin gulungan buku lumayan tebal itulah yang telah menghantam kepalanya. Maka dengan kedua tangan yang tersimpan dalam saku jeansnya ia berkata, "Aahh… kau mengganggu kesenanganku, tuan Oh." Dan berlalu dari kelas itu.

"Kau tidak apa-apa, wajahmu pucat." Oh Sehun yang bertanya, memandang kawannya yang membawa diri menduduki kursi.

"Tidak… aku hanya terkejut." Tao memandang sekeliling. Melihat bagaimana teman-temannya tak lagi menjadikan dirinya sebagai biang drama dalam kelasnya.

"Seharusnya aku pukul kepalanya lebih keras tadi."

"Bukan karena senior bodoh itu," Tao menggelengkan kepala, menyangga rahang itu dengan kedua tangannya.

"Lalu?"

"Yi Fan gege…" dua kata itu terhenti begitu saja. Tao justru tenggelam dalam bayangan, dimana ia berada dalam kungkungan sang pria idaman. "bagaimana aku mengatakannya, ini seperti mimpi Sehunni. Dia memintaku menjadi kekasihnya," bisiknya pada sang kawan lama.

"Kepalamu pasti terbentur sesuatu." dan Sehun hanya memandang remeh padanya. Pemuda itu bahkan sesekali menggelengkan kepala.

"Yaa! Kau tidak percaya padaku?! Natal nanti kami bahkan akan pergi kencan."

"…"

Tak ada sedikitpun tanggapan membuat bibir sosok yang sesungguhnya lebih tua mengerut begitu saja. "Sehunni…" ia bahkan merengek dengan jemari menarik ujung kemeja sosok yang lebih muda.

"Kau serius?" Sehun balik bertanya.

"Tentu saja," jawab Zi Tao sembari menganggukkan kepala.

"Aku tidak percaya." meski pada akhirnya dengan mengangkat bahu Sehun berlalu dari hadapan pemuda itu.

"Yaa!"

.

.

Saat petang datang pintu utama itu terbuka, Kris yang berdiri menyingkap tirai jendela menghembuskan napas panjang memandang punggung sempit namja manis yang dikenalnya.

"Siapa yang mengantarmu pulang?" Kris bertanya ketika pandangan itu saling bertemu.

"Temanku." dan Yixing menjawab pertanyaan itu dengan seulas senyum sayu. Tetap indah, namun beku.

"Teman?" Kris mengulang. "secepat itu kau dapatkan penggantiku?"

"Dia hanya teman, Kris." Yixing menghela napas, melangkah guna menghindari pertanyaan yang ia yakini akan datang bertubi-tubi.

"Yii…"

Secara tiba-tiba Kris menggenggam pergelangan tangannya, dengan sengaja memaksa Yixing menghentikan langkahnya.

"Ingatlah posisi kita saat ini," potong Yixing menyadari benar kemana arah pembicaraan ini.

"Aku terluka, Yii… apa kau juga merasakannya?" Kris mengiba. Bagaimanapun juga tiga tahun bukan waktu singkat dimana ia dapat mengubur kenangan keduanya begitu saja.

"Hentikan itu, Kris…"

"Tiga tahun kita bersama dan semudah ini kau melupakanku?"

"Kubilang hentikannn!"

Pekikan itu menggema. Disusul derap langkah Kibum yang memburu menghampiri suara itu.

"Yixing! Ada apa, Honey? Kenapa kau berteriak?" panik Kibum.

"Ibu… aku hanya… merasa kesal saja sekarang." Yixing pandang namja tampan itu, mencebilkan bibirnya sembari menggelayuti pinggang ramping Ibu barunya. "Kris mengolokku saat dia melihatku diantar pria yang tak lebih tampan darinya." Yixing memilih berdusta.

"Apa? Dia pasti hanya menggodamu, Honey. Yi Fan memang seperti itu." Kibum mengacungkan sepatula pada darah dagingnya. Tak lupa dengan deathglare manis yang menyertainya.

"Apa Ibu sedang menyiapkan makan malam?"

"Hu'um… kau mau bantu?"

"Tentu saja, Ibu."

Dua orang itu berlalu meninggalkan Kris yang diam membisu. Dalam mimpi Kris tak hanya satu kali membayangkan hal ini terjadi, saat dimana Yixing akan bergelayut pada lengan Ibunya, bercengkrama hingga berbagi tawa. Namun bukan demikian, bukan dalam lingkaran takdir yang seperti ini.

.

.

–ZF–

.

.

Sore itu Zi Tao mendapati Kris berdiri disamping pintu kelas yang tengah ia ikuti. Dia hanya diam memejamkan mata, dengan headset yang menyumpal kedua telinganya. Kris bahkan tak ambil pusing, pada mereka yang mencuri pandang sekedar mengagumi keindahan sosoknya ini. Dimanapun Kris berada segala sesuatu yang berada didekatnya akan tampak berbeda. Tak hanya Zi Tao yang merasakannya.

"Gege mau mengajakku kemana?" ini bukan kali pertama Zi Tao bertanya. Tao hanya ingin memastikan jika tak ada yang salah dengan gendang telinga yang ia miliki, bahwa sebelum ini Kris menyinggung suatu hal yang membuat ia terkejut setengah mati.

"Bertemu dengan Ibuku." Ulang Kris tanpa beban.

"Haahhh? Bukankah ini terlalu cepat, Ge?" Tao memandang Kris dengan tatapan tak percaya. Sedangkan pemuda yang menjadi fokus matanya itu mematikan mesin motor yang tengah ditungganginya.

Kris menghela napas. Niatnya untuk bergegas pulang tertunda. "Memangnya akan ada perbedaan antara sekarang dan nanti?" tanyanya pada bocah polos ini.

"Tentu saja. Aku belum siap…" dan Tao mau tak mau menundukkan kepala, saat tiba-tiba Kris membalas tatap matanya.

"Bahkan tiga tahun tidak akan pernah membuatmu siap."

"Apa?"

"Ahh… tidak. Aku mengenal seseorang yang pernah mengatakan hal semacam itu." Kris buang pandangannya begitu saja. Dan Tao tak cukup berani bertanya lebih jauh lagi. Tao menyadari saat kembali memandang pujaannya ini, mata Kris tampak berbeda saat mengatakannya.

"Sabtu nanti aku akan menjemputmu."

"Eumm… terimakasih tumpangannya, Yi Fan ge."

.

.

–ZF–

.

.

Sabtu dimalam Natal itupun tiba. Zi Tao telah berdebar-debar bahkan dari semalam sebelumnya. Satu minggu tak bertemu pujaannya itu membuat hati Tao menjerit-jerit pilu untuk melepas rindu. Meski pada kenyataannya ia kembali tak banyak bicara, hanya duduk diam dijok belakang saat kengerian mengalahkan rasa malu untuk memeluk tubuh pemuda itu. Hanya saat motor itu melaju Tao memiliki sedikit kesempatan untuk lebih dekat dengan pujaannya ini.

"Apa yang kau lakukan disini?" Kris bertanya sesaat setelah ia memarkirkan kendaraannya. Bukan pada Tao, melainkan pada pemilik resmi bangunan mewah ini.

"Menunggu seseorang. Apa dia orangnya? Manis sekali…" Yixing menggebu-gebu. Memperhatikan sosok Zi Tao diantara remang lampu taman hingga membuat pemuda manis itu mengulum senyum malu. "kau tak salah memilih kekasih, Kris."

"Jangan bicara yang bukan-bukan. Masuklah! Udara sangat dingin."

"Bukankah sudah kukatakan aku sedang menunggu seseorang?" Yixing menggembungkan pipi. Kris memang menjengkelkan jika menyangkut kesehatannya.

"Kau bisa menunggunya didalam."

"…" Yixing menggeleng.

"Keras kepala." dan Kris yang tak mau berdebat memilih untuk melepas syal yang membelit lehernya. Ia pakaian benda lembut itu pada diri Yixing. Kris seolah buta, pada Tao yang memandang aneh pada keduanya.

"Itu kau tahu, ajak dia masuk sana!"

"Tsk!"

Meski kesal Kris berjalan meninggalkan Yixing seorang diri. Zi Tao yang membuntuti kekasihnya itu menolehkan kepala dimana Yixing saat itu tengah berdiri. Ada yang berbeda dengan Kris. Kehangatan yang sempat Tao rasakan membuat hatinya bertanya-tanya, meski Tao memilih untuk enggan menerka.

"Nah! Itu dia yang ditunggu akhirnya tiba," seru Siwon Wu.

"Maaf membuat kalian menunggu, Ayah, Ibu."

"Tidak masalah. Jadi… siapa yang datang bersamamu ini, hmm?"

"Huang Zi Tao imnida, maaf sudah merepotkan." Tao membungkukkan badan. Senyumnya tak lupa mengembang.

"Tao-er kau manis sekali," Kibum menyela begitu saja. Pria manis itu bahkan mengelus-ngelus surai gelap Tao. Membersihkannya dari butiran salju yang begitu kontras dengan warna rambut itu. "Yi Fan benar-benar membuat Ibu penasaran tiga tahun ini, akan seperti apa wajah calon menantuku nanti."

"Tiga tahun… Apa maksud Bibi?"

"Sudahlah Ibu, jangan membahas hal yang tidak perlu." Kris menyela. Menyandarkan punggung pada kursi kayu ruang makan dimana saat ini mereka tengah berada.

"Bilang saja kau malu, kapan lagi Ibu bisa menggodamu jika tidak dihadapan kekasihmu yang manis ini, hmm?" Kibum mencibir, menggiring Zi Tao mengisi kursi tepat disamping buah hatinya ini.

"Maaf saya terlambat…" suara itu mengalihkan perhatian.

"Kau… Suho Kim, bukan?" Siwon bertanya. Menyadari wajah familiar pemuda tampan yang berdiri gagah dihadapannya.

"Aah… paman masih ingat saya?"

"Tentu saja! Ayahmu salah satu kolega bisnisku, ini benar-benar kebetulan. Honey, kau tidak salah memilih pasangan."

"Ayah…" Yixing bersemu. Mengabaikan mimik jahil Ayahnya dengan meminta Suho menduduki kursi tanpa suara.

"Hahahaha… lihat! Wajahnya memerah." tawa Siwon menggema. Melihat bagaimana reaksi Yixing yang tampak begitu manis dalam penglihatannya.

"Jangan menggodaku, Ayah. Kita bahkan belum sampai pada tahap itu, Iyakan, Suho?" Yixing melirik pada Suho yang duduk disampingnya.

"Aku tidak akan menyerah." dan calon penerus salah satu dari jajaran kerajaan bisnis Asia itu mengulum senyum menanggapinya.

"Hei! Apa Ayah melewatkan sesuatu?"

"Itu rahasia," Yixing menjulurkan lidah menggoda sang Ayah .

"Ahh… Honey…"

.

.

Pukul Sembilan malam Kris mengantar Tao pulang. Seperti biasa, Kris tak akan turun dari motor yang tadi ia kendarai. Dan Tao akan berdiri seolah remaja belia disamping sosok gagah kekasihnya.

"Terimakasih untuk malam ini, Ge." Tao berujar lembut. Suaranya begitu merdu. Sesaat Kris terpana, seolah ia melihat sinar mengelilingi sosok manis ini.

"Masuklah."

"Tapi sebelum itu, a-ada yang ingin aku tanyakan." Kris tahu Tao ragu saat mengatakan hal itu.

"Apa?"

"Bibi bilang tiga tahun gege buat penasaran, itu… yang Bibi maksud siapa?"

"…"

Kris bungkam. Dan Tao cukup tahu diri untuk menyadari bahwa mungkin dia telah melangkah dalam merusak kenyamaan pemuda ini.

"Apa pertanyaanku salah, Ge?" maka ia bertanya, dengan nada lirih seolah rasa bersalah tengah membelenggunya.

"Itu bukan urusanmu, masuklah!"

"A-amhh… ya… hati-hati dijalan, Yi Fan ge." Tao bergegas memasuki gerbang besi dimana ia menghuni kediaman minimalisnya ini. Bersamaan dengan deru suara mesin motor Kris yang melaju meninggalkan nyeri dihatinya itu.

.

.

–ZF–

.

.

"Kau tampak tak bersemangat." pagi itu Sehun bertanya saat menyadari perubahan yang terjadi pada diri sahabatnya.

"Aku baik-baik saja…"

"Saat kau berkata baik-baik saja berarti kau sedang tidak baik-baik saja." Sehun menggelengkan kepala.

"Eehh?" Zi Tao membeo. Bibirnya membulat imut.

"Aku tahu seperti apa kau lebih baik dari dirimu sendiri, Bodoh."

"Bagaimana aku tidak bodoh jika kau kerap kali menganiaya kepalaku ini, Hunni. Menyebalkan!" dengan menghentakkan kaki Zi Tao meninggalkan Sehun yang kembali menggeleng melihat tingkahnya.

"Hei… kau mau kemana?"

"Mengadukanmu pada Yi Fan ge."

Sehun memandang punggung Tao yang berjalan meninggalkannya. Pemuda dengan kulit putih pucat itu menghela napas diam-diam. "Dasar Bodoh…"

.

.

Kris yang berniat untuk memasuki kelas menghentikan langkah saat ia melihat Tao berdiri didekat pintu kelasnya itu.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.

"Menunggu gege."

"Kelasmu belum dimulai?"

Tao menggeleng, "Gege datang lebih siang dari biasanya."

"Aku harus mengantar Yixing."

"Aah… saudara gege yang manis itu. Apa gege tahu, kekasihnya benar-benar tampan, Yixing ge tak salah memilih pasangan. Mereka akan tampak sangat cocok jika—"

Brakkk!

Bunyi hantaman genggaman tangan itu seketika membungkam celoteh Tao yang riang. Dia membeku, memandang takut pada diri Kris yang melayangkan tatapan setajam pedang.

"Berhenti membicarakan mereka!" Kris mendesis sinis. "memangnya kau ini tahu apa?!" ia bahkan berteriak tepat didepan wajah Zi Tao, mengejutkannya dengan nada bicara yang naik drastis secara tiba-tiba, hingga cukup membuat keduanya menjadi pusat perhatian di koridor sana.

"G-ge…"

"Menjengkelkan… " Kris meninggalkan Tao begitu saja. Bukan memasuki kelas seperti tujuan ia sebelumnya. Ia justru melangkah pergi entah kemana.

.

.

"Waah… lihat itu, wajahmu bahkan jauh lebih menyedihkan dari sebelum kau mengadukanku pada kekasih impianmu itu."

Tao bungkam enggan menanggapi cibiran sang kawan. Dalam diam ia membawa dirinya menduduki kursi yang biasa ia tempati. Sehun memandang aneh pemuda manis itu. Tak seperti biasa, Tao seharusnya balas menyalak padanya, bukannya menundukkan kepala hingga menyembunyikan wajah itu dibalik lipatan tangannya.

"Huks…"

"H-hei…" Sehun menyadari sesuatu terjadi, bahu Tao berguncang, belum lagi isak tertahan yang Tao dengungkan. "aku hanya bercanda, kau ini kenapa?" tanya Sehun seraya menarik kursi agar lebih dekat pada Tao. Lengannya bergerak mengusap bahu pemuda itu.

"Hunniii… Sehun-nnii… huuuu…uuu…" tanpa banyak bicara Tao merangsek begitu saja dalam dekapan Sehun. Satu hal yang kini jarang Tao lakukan. Tumbuh bersama sedari kecil membuat batin keduanya seolah terikat benang tak kasat mata. Dan Sehun tidak begitu terkejut, meski dalam detik pertama bola matanya tampak berbeda, ia balas pelukan Tao yang menggigil dalam dekapnya.

"Sshhh… apa aku keterlaluan? Maafkan aku… maafkan aku, Tao." gumamnya lirih.

.

.

TBC

.

.

Aahh… pasti pada bosen deh ngedenger Zhii minta maaf. Tapi beneran, Zhii lagi sibuuuuk banget. Ini ada libur lima hari Zhii gunain buat ngerampungin dokumen yang udah berkarat di lepi. Padahal besok udah mulai materi lagi. huhuhuu

Btw Fanfic ini ringan. Jadi masih mau lanjut apa udahan? Kkk…

Dan untuk anti taoris : Fanfic yang Zhii buat berdasarkan genre. Aneh rasanya kalo genrenya Angst tapi endingnya bahagia selamanya. Dan untuk statement anda bahwa di real atau di FF sama saja Taoris is the end, saya nggak akan berkomentar banyak. Hidup itu pilihan, sama seperti kepercayaan setiap orang. Anda percaya seperti itu, Zhii nggak akan ngelarang. Jadi intinya, duniamu-duniamu duniaku-duniaku. Terimakasih sudah mampir ^^

.

.

Special buat,

Mybluepearl, oshzt ngambang, littlesaengie, sycrap, Baby Tao Lovers, RinZiTao, arinafebianca07, YasKhun, Time To Argha, Brigitta Bukan Brigittiw, Maple Fujoshi2309, aldiz ksh, Kirei Thelittlethieves, junghyema, coffe latte, andlsita, sayakanoicinoe, EganimEXO, kt, ShinJiWoo920202, shinta lang, arvita kim, olla bella, , zakurafrezee, krispandataozi, LVenge, AulChan12, devimalik, meliarisky7, Aviael Panda, KissKris, x0205.

Thank you so much buat semua yang udah dukung Zhii sampai sejauh ini.