Attention: Shoai. Pedo. Adult!Midorima. Shota!Takao. Typo(s)

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki.


Halo, Om.

By annpui


Shintarou adalah lelaki dewasa, seharusnya lelaki dewasa tidak terombang-ambing dalam permainan anak-anak. Well, Kazunari tidak mengajaknya bermain secara harfiah. Anak itu pun tidak sedang bermain-main dengannya, hanya saja Shintarou seperti sedang dipermainkan,

Ah, hidupnya memang sebuah permainan. Bukan—bukan permainan yang dimainkan oleh dirinya, permainan tidak dimainkan olehnya, hidup permainannya ini yang dimainkan oleh orang lain,

Mereka menganggap dirinya makmur-masyur—tak tau kebenaran ia terkungkung, lelah pasrah. Mengangguk-mengiyakan apakata ayahanda.

Lelaki ini yang telah berjasa membuat ia dapat tercipta di dunia ini tidak ingin mendengar kata tidak termuntahkan dari bibir sang buah hati tersayang.

Ketahuilah ayahandanya bukan seorang ditaktor kejam, bukan pula seorang yang ringan tangan. Ayahandanya merupakan lelaki penyayang, pengasih pemurah, dan pemberi.

Dahulu Shintarou tidak mengerti mengapa ayahandanya kerap kali menatapnya dengan sendu juga rindu. Ia semakin tidak mengerti mengapa ayahandanya yang begitu penyayang tidak pernah sekali saja mengelus kepalanya atau memeluknya.

Terbesit sesaat kekesalan di dada yang hampir terlontar, "Saya ini anak anda kan?,"

Yang tentu jawabannya adalah ya, sekali lagi Shintarou adalah buah hatinya tersayang. Ayahanda mengatakan langsung tanpa memandang mata, ia mengatakan betapa berharganya anak ayah ini, tanpa memberitahukan mengapa ayahnya menolak untuk melakukan kontak fisik dengannya,

Lalu, tanpa terasa waktu bergulir. Raganya berubah, jiwanya mengikuti.

Diakhir umur 10 tahun (entah kenapa sampai saat itu ia tidak pernah mempermasalahkannya) Shintarou bertanya,

"Apakah saya lahir tanpa ibunda?"

Ingat betul perubahan sikap ayahandanya saat itu, tatkala diberikan semburan kata-kata jahat pengiris hati, lelaki tua yang baru Shintarou sadari telah beruban menjulurkan jarinya, yang sedetik kemudian berteriak menyuruhna enyah dari pandangan mata yang mulai mengabur.

Bingung tidak mengerti, ditumpahkan dalam tangisan. Takut, kalut, bingung bercampur aduk dalam rumah besar kosong. Mereka berdua disana, menumpahkan keresahaan dalam rangkaian kalimat bisu tergantikan segukan tak karuan.

Adik ayahanda datang menenangkan mereka, menyuruh Shintarou pergi ke kamar sedang kan ia dan ayahanda akan berbicara berdua. Shintarou tidak membantah.

Meski kejadian itu kerap terulang tiap kali Shintarou mencoba, berulang-ulang, hingga lelah mencoba mendekati ayahnya. Suatu hari Shintarou akhirnya bertanya kepada bibinya disela makan siang mereka yang hening, dengan dentingan sendok dan garpu menggaung di ruang makan bercat dasar putih.

"Apakah ayahanda membenci saya,"

Ting—suara dentingan berhenti, gelengan bergerak perlahan.

"Kalau begitu berarti ayahanda menyukaiku?" dikatakan dengan harapan aggukan sebagai jawaban. Keningnya menekuk, raut wajahnya perih.

Bibinya terlihat menimbang-nimbang, antara takut namun ingin membeberkan sesuatu, "Kau mengingatkannya pada ibumu,"Akhirnya terucap, Shintarou menahan nafas mengangguk afirmasi mendengarkan, "Percayalah Shintarou, ayahmu sangat menyayangi dirimu. Sangat menyayangi sampai-sampai takut melukai." Shintarou tidak mengerti, tentu saja. Kala itu ia hanyalah anak ingusan seumur jagung.

Disaat umurnya yang ke-17 Shintarou baru mengerti maksud dari perkataan bibinya. Di umurnya yang ke-17 ia mendapatkan kejutan.

Kejutan yang membuatnya seolah berada di negeri antah berantah. Mimpi kah ia? Dirasa tidak karena apa yang dilihat oleh kedua bola mata hijau zamrudnya adalah nyata. Ia melihat—tepatnya, memergoki ayahandanya, yang ia ketahui begitu baik hati, penyayang, pemberi, dan pengasih pada pantulan refleksi bola matanya bagaikan kake-kake tua bangka yang kerap ia dapati di berita kriminal tengah hari.

Seseorang yang ia yakini sebagai ayahandanya, tengah memadu kasih dibawah selimut merah kusut akibat perbuatan panas dua orang sejoli, dibalik gordin putih gading tipis, diantara celah pintu sempit.

Matanya yang berkacamata mendadak setajam elang memperhatikan setiap tarian erotis dari sang lawan main. Perempuan berambut hijau, taksiran umur tidak lebih tua darinya itu melengguh nikmat, mendobrak gendang telinga.

Pemandangan didepannya dianggap ilusi, fatamorgana, mimpi—atau apapun itu yang Shintarou harap tidak nyata. Lantas ia berlari melepas apa yang tertahan.

Umur 19 daya tarik Shintarou bagai medan magnet, para wanita kerap mengerubunginya—adam's apple julukannya saat itu. Meski begitu tak satu pun yang cukup indah untuk mendapat lirikan sekilas dari Shintarou.

Satu, dua, tiga, empat, lalu seterusnya hingga jari tangan tak cukup lagi untuk menghitung berapa orang yang telah menelan kata pahit tidak dari Shintarou.

"Cinta itu apa? Sayang itu apa?" adalah pertanyaan yang selalu dilontarkannya tiap kali ada seseorang yang nyalinya cukup besar hingga bisa berhadapan dengan Shintarou tanpa merasa tertekan.

Hingga sampai saat ini Shintarou tidak pernah mengetahui makna dibalik kata Cinta dan Sayang, jadi jangan salahkan bila ia mengartikannya cinta adalah penyaluran hasrat. Karenanya tolong maafkan bila ia tidak bisa memberikan penjelasan yang baik pada Kazunari, pada satu-satunya orang yang ia sayangi.

"Shin-chan, tadi pagi nee-san berkata bahwa dia ingin melindungiku,"

Shintarou mengalihkan perhatiannya dari buku dongeng pengantar tidur yang tengah ia dendangkan pada Kazunari, "Mibuchi?"

"Iya," Kazunari tersipu, memeluk boneka kelincinya lebih erat lagi. "Duh gimana ya Shin-chan, aku senang ada yang mau melindungiku."

Ah, secepat ini kah orang yang ia sayangi akan diambil alih?

Shintarou membenarkan posisi berbaringnya, tangan kanan menopang kepala, tangan kiri ia gunakan menyisir poni Kazunari kepinggir. Sedangkan si elang kecil semakin merapatkan dirinya menikmati sentuhan-sentuhan kecil yang terasa pada indra peraba.

Mengusap pipi bersemu merah muda—apakah pipi anak-anak selalu bersemu?—pipi Kazunari terasa hangat. Shintarou mengangkat kepala, menikmari suasana malam yang syahdu. Diliriknya Kazunari di sebelah sedang memejamkan mata sambil bersenandung riang.

Satu-satu aku sayang Shin-chan,

Dua-dua aku sayang Shin-chan,

Tiga-tiga aku sayang Shin-chan,

Satu-dua-tiga aku sayang Shin-chan.

Gombalan anak-anak yang manis sekali, darimana ia belajar?

"Nyanyian yang konyol Bakao, siapa orang iseng yang mengajarimu,"

Merengut kesal, "Huh! Shin-chan payah! Padahal nee-san bilang siapapun yang mendengarkan lagu ini akan menjadi sayang padaku,"

"Lirikmu salah bodoh,"

"Aku tau. Itu kan sengaja." Cengiran polos tanpa maksud terkembang, yang hijau rumput menutupi kegugupannya dengan mendaratkan pukulan pelan pada pucuk kepala si hitam legam. Kazunari membalasnya, bangkit dari dekapan selimut hangat melompat duduk secepat kilat pada perut Shintarou. Pria dewasa mengaduh bersiap menghindar namun tak pelak dari hantaman head to head sekeras batu.

"ITAII! Bakao kau harus tanggung jawab bila aku menjadi bodoh!"

Tawa Kazunari meledak, sebuah tawa nyaring yang cukup renyah untuk dirasa oleh telinga Shintarou yang sering kali kesepian. Wajah mungil dihadapannya kini menampakan tawa menawan bersama pipi gembilnya yang kian lama mirip warna apel merah dipohon halaman belakang rumahnya. Sipit, mata tertawa itu hanya meninggalkan segaris lengkungan.

"Aku sayang Shin-chan," Shintarou pikir anak satu ini tidak akan pernah bosan mengucapkan hal memalukan seperti itu berulang kali. "Aku senang nee-san ingin melindungiku,tapi orang yang ingin aku lindungi itu Shin-chan!"

Dikatakan pada jarak wajah tidak lebih dari lima sentimeter, Shintarou bergeming.

"Kau melamarku Bakao?"

Lamar? Kazunari tidak akan mengerti maknanya.

"Aku melamar Shin-chan!"

"Lamar aku ketika kau dewasa nanti."


Hati-hati dengan maksud aksaramu. Karena baik yang gamang menghasilkan keterlanjuran. Terlanjur berbunga, misalnya.


A/N: Halo-Halo Ogenki desuka? /ditabok/ ah, saya ucapkan mohon maaf karena telah menggantungkan ff Halo, Om dengan seenaknya, saya WB... WB parah. Rasanya mau ngetik pun malas sekali padahal ide sudah dikepala. Jadi bukan salah saya ya, salah kemalasan saya /ditabok/ udah lama pendek pula (bukan salah saya).

Curhat... saya gabisa bikin adegan nganu-nganu yang indah. Karenanya saya mohon maaf lagi saya harus menjadikan ini 3 chapter (harus meditasi dulu).

Saya ucapkan terimakasih yang telah membaca semoga chapter 3nya ga selama yang ini kritik dan sarannya sangat saya tunggu

With smile,

annpui