Pasca kedatangan Gildarts-sensei yang membawa murid baru itu, kelas menjadi heboh kembali—terutama gerombolan perempuan.

"Jadi, siapa dia?" Natsu kembali bertanya. Lucy terdiam sebentar, "Kau akan tahu nanti," ucapnya singkat. Natsu tercengang, kenapa Lucy tiba-tiba bersikap seperti itu? Apakah si murid baru—yang namanya masih sebuah misteri ini ada hubungannya dengan Lucy?

"Baiklah, silahkan perkenalkan namamu." ujar Gildarts-sensei pada si Murid baru. Murid baru bersurai Pirang itu tersenyum. Dengan sekali senyuman, semua gadis dikelas langsung fangirling—minus Lucy dan Levy. "Namaku, Sting Eucliffe. Nama yang mudah untuk di ingat bukan?" ujarnya genit.

Semua perempuan langsung fangirling layaknya orang gila. Terkecuali Lucy yang memasang ekspresi wajah kesal, membuat Levy menjadi kasihan. Dia tahu, terlalu berat untuk Lucy bertemu Sting lagi.

A Fairy Tail fanfiction
Love is Sweet
Fairy Tail (c) Hiro Mashima
Pair : Natsu x Lucy [NaLu]
Warning : School/AU, Alur berantakan, OOC.
DON'T LIKE DON'T READ (:


Flashback :
Hari itu, dia masih kelas 2 SMA. Karena sedang liburan, ia pun memutuskan untuk pulang kerumah Orang Tuanya. Liburan musim panas saat itu, adalah yang terburuk baginya. Ya, kenangan masa lalunya yang suram.

Lucy bertemu Sting karena ayahnya. Bahkan, ayah Lucy pernah meminta Lucy untuk menikahi Sting dengan alasan, Sting adalah seorang anak bangsawan persis dengan mereka.

Tapi Lucy menolak, dia ingin tahu terlebih dulu sifat asli Sting. Dan pada akhirnya, mereka berpacaran. Memasuki bulan ke dua mereka berpacaran, Sting sempat mengajak Lucy makan malam. Dengan senang hati Lucy menerimanya.

Tapi sayang seribu sayang, Sting tak datang ketempat yang ia tentukan. Akhirnya, Lucy pulang sendirian. Ia berjalan dengan penuh rasa khawatir. Bagaimana bisa, Sting orang yang disayanginya tidak datang? Apakah Sting sudah tidak mencintainya lagi?

Dan, semua pertanyaan itu terjawab. Ia tak sengaja melihat Sting ditaman. Tapi, Sting tidak sendiri. Melainkan bersama seorang gadis berambut putih, yang lebih cantik dari dirinya. Lucy masih bisa menahan emosi, karena ia pikir gadis itu adalah keluarga Sting.

Tapi, saat ia menguping percakapan Sting dan Gadis misterius itu, ia tahu semuanya. Ia ada dibalik pohon yang tak jauh dari Sting duduk. Dan ia mendengar semuanya, semua kata-kata Sting yang menyakitkan hatinya.

Lucy tak kuat menahan amarah, dengan kesal ia berjalan menuju tempat Sting dan pacarnya berada. "Oh, jadi ini ya. Ternyata aku salah menilaimu, Sting." ucap Lucy perlahan. Sting spontan menoleh kebelakang.

"Lucy? Oh, halo~" ucap Sting santai. Lucy memasang ekspresi kaget, bagaimana Sting bisa sesantai itu menjawab? "Sting-kun, siapa dia?" tanya gadis itu. Sting tersenyum, "Huh? Dia? Mantan pacarku yang masih saja mengejarku." Lucy tak kuasa menahan amarah, dengan sigap ia segera menampar Sting.

PLAK!

"Sekarang statusmu bukan lagi pacarku!" teriak Lucy. Sting tertawa sambil memegangi pipinya, "Yasudah, terserah saja." ucapnya santai. Lucy berlari meninggalkan Sting dan Pacar barunya itu, di malam itu ia terisak dikamarnya.

Tapi beberapa hari setelahnya, Lucy datang ke tempat yang sama. Niatnya sih mau menikmati angin sore, tapi nasib buruk mendatanginya. "Hey, lama tidak jumpa." ujar seorang laki-laki sambil menepuk pundak Lucy.

Sontak Lucy menoleh kebelakang, dan ia mendapati Sting tengah berdiri disana. Lucy hendak kabur, tapi terlambat. Genggaman tangan Sting tidak bisa ia hindari. "Mau apa kau?" tanya Lucy dengan dingin.

"Aku kesini, untuk bilang aku ingin kita berpacaran lagi." ucap Sting. "Mana pacarmu itu, ha? Apa dia juga sudah meninggalkanmu? Kasihan sekali!" jawab Lucy. "Hey, aku bisa jelaskan semua itu—" Omongan Sting langsung dipotong oleh Lucy.

"Cukup omong kosongmu! Jangan pernah ganggu aku lagi! Hus! Hus!" Lucy mengusir Sting layaknya kucing(?) Sting mematung. "Tapi kumohon dengarkan dulu!" lanjut Sting, masih dengan tekadnya.

"Tidak ada lagi yang ingin kudengar darimu, Playboy! Sudah, aku mau pulang!" ujar Lucy. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Sting. Sepeninggal Lucy, Sting terduduk di bangku taman.

"Untukmu, apa saja akan kulakukan. Aku akan terus mengejarmu, Lucy~" ujarnya dengan cengiran misteriusnya.

End Flashback.


"Oh begitu .." ucap Natsu sambil manggut-manggut. Levy mengangguk. "Lu-chan sangat membencinya.." ucap Levy. "Ya, mungkin dia memang pantas dibenci." Levy mengangguk perlahan akan ucapan Natsu. Benar, pasti itu sakit.

"Orang yang membuat Lucy menangis, tidak pantas untuk dimaafkan," lanjut Natsu. Levy terbelalak, sebelum akhirnya ia memasang ekspresi tak jelas. "Ehem. Natsu aku tahu, kau menyukai Lu-chan kan?" Natsu salah tingkah mendengar ucapan Levy, ia blushing seketika.

"A-Apa? Tidak! Aku dan dia hanya nakama!" kata Natsu. "Mencurigakan ..." ucap Levy. "Sudahlah, lupakan saja!" Natsu berjalan keluar—bermaksud kabur dari Levy. "Aku tau, Natsu pasti menyukai Lu-chan~"

Natsu berjalan menyusuri koridor. Dengan gaya sok cool ala Natsu Dragneel pastinya. Dia tidak tau pasti tujuannya, "Jadi karena dia juga, aku putus dengan Lisanna. Aku ingat nama itu, Sting Eucliffe." gumam Natsu.

"Natsuuuu!" tiba-tiba seseorang berteriak, Natsu yang dipanggil menoleh kebelakang. Lisanna. Mantan pacarnya. "Apa?" tanya Natsu malas. Lisanna tersenyum, "Hei, nanti pulang bareng yuk? Soalnya Mira-nee tidak bisa menjemputku. Dia sibuk." ucap Lisanna.

"Lalu, Elf-nii mu mana? Bukankah kau masih bisa pulang bareng dengannya?" tanya Natsu. "Elf-nii ada ekskul setelah sekolah. Jadi, aku ingin pulang bersamamu!" jawab Lisanna sambil memegang tangan Natsu. Ini dia yang Natsu benci, ia sudah terlanjur sakit hati oleh Lisanna.

Tapi semua bukan karena Sting, tapi karena Lisanna sendiri. Dan sekarang, ia malah jatuh cinta lagi pada Natsu. "Jadi kau mau tidak?" tanya Lisanna lagi. "Bukankah Sting bisa menemanimu? Suruh saja dia!" ucap Natsu sambil melepaskan tangannya dari genggaman Lisanna.

"Eh? Sting? Jadi berita dia pindah kesini itu benar?" Natsu mengangguk malas. "Suruh saja dia, bukankah kau mencintainya? Aku ada urusan." kata Natsu sambil meninggalkan Lisanna.

"Tch, bahkan dia tau Sting akan pindah kesini." gumam Natsu kesal. Lisanna menatap kepergian Natsu dari kejauhan, "Apa Natsu masih marah padaku?" tanyanya dalam hati.

Natsu melanjutkan perjalanannya, tapi tiba-tiba ia melihat suatu pemandangan yang tidak enak dipandang. Ia melihat, Sting dan Lucy tengah jalan berduaan! Pegangan tangan lagi!

Natsu tidak kuasa menahan emosi, ia berjalan agak cepat supaya bisa mengejar Sting dan Lucy. Dia punya ide, dia berniat memisahkan Lucy dan Sting. Dan ini satu-satunya cara terbaik!

Natsu berjalan dengan santai membelah genggaman tangan Sting dan Lucy. Ya, dia berjalan ditengah-tengah melewati pegangan tangan dua orang itu. Setelah ia berhasil, ia memegang tangan Lucy sambil berkata. "Gomen, disini dilarang pacaran. Dan, aku pinjam Lucy dulu."

Lucy yang ditarik kaget, ia blushing berat. Sedangkan Sting? ia menatap Natsu dengan tatapan datar. "Apa-apaan laki-laki itu?" dan ia baru menyadari bahwa Lucy tidak ada disampingnya. "EH? LUCY DIMANA!?"

Natsu membawa Lucy kedalam kelas, "Luce. Aku sudah dengar. Jadi, Sting itu mantan pacarmu kan?" tanya Natsu. Lucy mengangguk. "Kenapa tadi kau mau diajak dengannya?" Natsu kembali bertanya. "Si-siapa yang mau! Dia memaksa! Aku tak bisa lepas dari dia!" jawab Lucy.

Natsu hanya ber'oh' ria. "Laki-laki seperti dia, tidak bisa dimaafkan, iya kan?" Natsu kembali bertanya. Lucy tersontak, ia tak mengerti kenapa Natsu tiba-tiba begini padanya?

"Ya .. aku memang tidak akan pernah memaafkannya .." jawab Lucy pelan. Tiba-tiba, Erza Scarlet si ketua kelas masuk. "Aku dapat perintah dari ketua OSIS, besok kita akan melakukan penghijauan di halaman sekolah." ucapnya.

"Masing-masing akan dibagi menjadi kelompok beranggotakan dua orang. Kelompok pertama Natsu dengan Lucy." lanjutnya panjang lebar. Lucy yang mendengarnya terkejut. Ini mimpi? Dia sekelompok dengan Natsu?

Erza terus membacakan susunan kelompok, dan juga peralatan-peralatan yang harus dibawa. "Cih .. si Pinkish kenapa harus dengan Lucy?" gumam Sting. "A-Ano .. S-Sting-sama .. A-Aku Yukino." ucap gadis yang bernama Yukino itu.

Sting membulatkan matanya melihat Yukino, orang ini .. mirip dengan mantan pacarnya—Lisanna. "Ah, ya. Kau teman sekelompokku kan? Salam kenal!" ujar Sting bahagia. Pipi Yukino memerah seketika.

"Etto .. Jadi Sting-sama—" omongan Yukino dipotong oleh Sting. "Sting saja." Yukino mengangguk. "S-Sting .. jadi besok kita akan membawa ini, ini, dan ini. Sting akan membawa apa?" tanyanya.

"Oh, aku akan bawa ini, ini, dan ini. Kau bawa sisanya ya." ucap Sting. Yukino mengangguk pelan. Sedangkan Natsu dan Lucy? Ya, nampaknya diskusi mereka paling heboh deh.

"Natsu! Kau bawa ini, ini, dan ini!" kata Lucy. Natsu mengangguk, "Kalau aku tidak lupa ya!" kata Natsu sambil nyengir. Lucy menghela nafas, "Pokoknya tidak boleh lupa!", "Iya-iya. Kau ini cerewet sekali!" jawab Natsu sambil tertawa.

"Huh! Pokoknya awas ya! Nanti setiap jam, akan ku sms kau supaya kau tidak lupa!" ujar Lucy. "Setiap jam? hm, boleh saja~" ucap Natsu. Lucy duduk kembali dibangkunya, perdebatannya dengan Natsu memang menguras sedikit tenaganya.

Tapi, justru dia senang. Menghadapi seorang Natsu yang tidak waras itu, sungguh menyenangkan baginya. "Benarkah akan terjadi cinta?" kata Lucy dalam hati. Kemudian, ia mulai membayangkan bagaimana kalau dia dan Natsu pacaran.

"Luce! Luce!" teriak seseorang dihadapan Lucy. Lucy yang tengah berkhayal pun terkejut, "Eh, iya? K-Kyaa!" teriak Lucy. Dia sangat kaget sampai-sampai jungkir balik dari bangkunya.

"N-Natsu! Ka-Kau mengagetkanku tau!" ucap Lucy sambil blushing. Bagaimana tidak, saat ia tengah menghayal tadi wajah Natsu jaraknya sangat dekat dengan wajahnya! "Eh? Gomen. Habis kau melamun!" jawab Natsu dengan cengirannya.

Lucy masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ya apa lagi kalau bukan menutupi semburat merah di pipinya. "De-Dekat sekali!" ucap Lucy dalam hati. Tapi, kenapa Natsu tiba-tiba jadi sangat dekat dengannya ya?

"Hey, Luce. Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Natsu dengan wajah serius. Lucy memasang muka bingung—kini semburat merah di wajahnya sudah memudar. "Apa ada, orang yang kau sukai di kelas ini?"

DEG!

Ucapan Natsu membuat jantung Lucy copot. Semburat merah di pipinya sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi. "K-Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Lucy balik bertanya. Natsu menggaruk pipinya, "Eng, ya tidak apa-apa. Memangnya tidak boleh?"

"I-Itu Privasi tau!" ucap Lucy, "Eh? Tapi Juvia yang suka pada si Ice Brain itu tidak menutup-nutupinya." ucap Natsu dengan wajah innocentnya. Lucy makin memerah, "Oh ayolah. Cuma aku yang tau kok."

"Bukan cuma kau! Levy-chan juga tau!" ucap Lucy. "Ya, tambah satu orang lagi tidak masalah kan?" ujar Natsu. Lucy menelan ludah, apakah ini waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya ke Natsu?

"Atau, kau mau tau lebih dulu siapa yang aku suka?" lanjut Natsu. Lucy mengangguk, "Da itu gadis paling cantik di sekolah ini. Ya itu menurutku saja sih, tapi nampaknya itu sebuah fakta deh." ucap Natsu. "Sudah tidak usah basa-basi! To the pointsaja!" ucap Lucy tidak sabaran.

Sambil menggigit jarinya, ia menunggu Natsu mengucapkan nama gadis yang dia suka. Tentu saja dengan sepenuh hati berharap—kalau itu dia. "Hm, ya baiklah. Namanya adalah—"

"MAVIS-SENSEI ! MAVIS-SENSEI DATANG!" teriak seorang murid. Semua bergegas duduk ke tempat masing-masing. Tak terkecuali Natsu. Sementara Lucy? Ya, masih dengan pose gigit jari. Tapi kali ini, tatapannya horror.

"KENAPA HARUS DIWAKTU SEPERTI INI SIH!" teriak Lucy dalam hati.

To Be Continued


Minna-saaan~ hehe, aku balik dengan new chapter! Yap, si murid baru memang Sting. Tapi awalnya, aku sudah menetapkan bahwa si murid baru itu Loke. Tapi, rasa-rasanya gak cocok deh.

Soalnya sifat Loke gak jutek banget kaya gitu. Jadinya, aku ganti Sting deh! Lagipula, Natsu dan Sting emang cocok dijadiin saingan, eheh. Dan, gomenasai karena updatenya lama~ Ya, pelajaran memang mulai kejam.

Ohoho, mungkin dari kalian ada yang bertanya-tanya. Jadinya Sting nanti sama Yukino, atau sama Lisanna? Um, masih rahasia! Pokoknya kalian tunggu saja xD

Oh ya, Gomenasai kalau Romancenya masih kurang terasa akan kubuat lebih so closelagi di chapter-chapter berikutnya. Maka dari itu, ditunggu ya! Dan akhir kata, review please ! Review kalian adalah penyemangat ku~

Jadi? Don't be a SILENT READERplease! Review boleh juga lho, berupa ide untuk moment di chapter selanjutnya. Nanti aku pertimbangkan, kalau cocok aku bakal masukkan moment itu!

Kalau begitu, aku akhiri dulu sampai sini! Jaa!

Salam manis,

Ferren