Chapter 2:

Aku telat bangun, alarm ku mati, Sasori-nii marah-marah karna aku lama. Sambil memakai sepatu sebelah kanan, aku berlari keluar kamar buru-buru. Gerakan ku makin cepat saat mendengar seruan Sasori-nii yang makin kencang. Aku mengabaikan Ayame-san yang menyodorkan segelas susu putih pada ku. Tapi perut ku harus di isi, maka ku ambil dua lembar roti dan selembar keju slice lalu kembali berlari. Baru sampai ambang pintu, aku balik badan dan melangkah cepat kembali ke dalam karna melupakan sesuatu.

"Sakura berangkat, Kaa-san, Tou-san." Buru-buru ku cium pipi mereka dan melesat lagi keluar. Dari luar telinga ku bisa mendengar Tou-san terkekeh geli, "Dia terlambat lagi." Ujarnya.

Aku dengan usil membayangkan bagaimana tampang kedua orang tuaku saat melihat tingkah ku yang ribut karna buru-buru, hehehe...

Kini aku sudah di dalam mobil bersebelahan dengan seseorang bertampang kusut yang sejak tadi meneriaki namaku. "Gommen ne."

Sasori-nii menghela napas lalu tersenyum, kali ini aku yang menghela napas—"Kita ngebut!"—dan kembali menahan napas saat Sasori-nii berbicara. 'ngebut' dalam kamus seorang Akasuna sasori artinya ya.. ngebut!

oooo

Jantung ku masih dalam pemulihan. Sasori-nii beruntung adiknya tidak punya kelainan. Aku tidak bisa membayangkan jika kakakku berkendara dengan orang yang memiliki kelainan jantung. Sisa adrenalin nya masih ada.

Sisi baik yang bisa ku ambil sekarang adalah, aku tidak terlambat datang ke sekolah! Masih ada sisa sepuluh menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Aku mempercepat langkah ku saat sudah sampai di dalam gedung. Badan ku tiba-tiba terasa kaku saat mata ini tidak sengaja menatapnya.

Ini kali keduanya dia memandangku, pandangannya masih sama. Lurus dan tajam. Entah bagaimana caranya, aku yang dasarnya takut di pelototi malah tidak takut menatap matanya. Ya, matanya memang tidak melotot, tapi tatapannya menusuk. Aku berjalan agak pelan, dua kelas di depan adalah kelas ku dan kini aku baru sadar berdiri dimana. 2 Fisika 1. Kelas Sasuke, kelas pemuda yang sedang menatapku tajam.

Aku kembali mempercepat langkahku saat bel masuk berbunyi. Meninggalkannya yang mungkin masih berdiri disana. Masih menatap ku mungkin?

Ino memborong pertanyaan yang siap dia tanyakan padaku, kenapa aku bisa datang saat bel telah berbunyi? Kenapa aku bisa terlambat?

oooo

Atap sekolah, ini tempat terakhir yang Ino dan Hinata tunjukkan padaku saat kemarin kami berkeliling. Tempat yang jarang di jamah orang, mungkin malas menaiki tangganya. Atap sekolah di gedung ini bersih walau jarang di datangi orang, aku tidak melihat cat tembok yang terkelupas sejauh mata memandang. Udaranya segar, anginnya menyejukkan. Aku menutup mataku menikmati semilir angin yang membelai lembut anak rambut ku yang tidak terikat.

"Jangan tidur disini." Suara berat itu untuk pertama kalinya menyapa pendengaranku, buru-buru ku buka mataku dan balik badan. Aku tidak sendiri disini, ada dia,

Ada Sasuke..

...

Aku masih belum mengantuk, masih terus ingin menulis. Suamiku masih belum pulang juga. Mick Jagger, bersama Rolling Stonenya, sudah habis. Kali ini giliran Bob Dylan yang bernyanyi. Sampai dimana ceritanya?

Oh ya, ada Sasuke..

...

"K-kau?" Aku merutuki diriku sendiri yang tiba-tiba jadi gagap. "Kenapa ada disini?" akhirnya, bicara ku lancar lagi.

"Tidak ada namaku dilarang masuk di pintu." Jawabnya cuek. dengan langkah santainya dia mendekatiku. Lalu aku tersadar ketika jarak kami semakin dekat dia malah berjalan melewati ku. Menuju pagar pembatas. Aku hanya bisa terdiam dan kembali balik badan mengikuti kemana dia bergerak. Aku bingung sendiri saat tiba-tiba badan ku bergerak tanpa di perintah.

"Di luar terlalu ramai, berisik."

Aku masih terdiam tidak menanggapi ucapannya. Sasuke kemudian balik badan berhadapan dengan ku. "Aku ramal, kau akan segera tahu namaku." Ucapnya singkat dengan senyum tipis di wajahnya.

Sudah tahuuuu, tidak usah ramal-ramal aku sudah tahu. Tapi aku hanya berkata, "Iya."

"Kau yang memberiku undangan itu? yang menitipkan memo pada Naruto?" aku memberanikan diri bertanya, senyum di wajahnya kini hilang, tapi masih tetap santai. "Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?"

"Dari mana kau tahu rumahku?"

"Aku juga akan segera tahu kapan ulang tahun mu."

Aku hanya bisa terkekeh canggung kali ini. Berbicara dengannya tidak semenakutkan seperti yang ku bayangkan. Padahal kami baru saja berbicara, padahal kami baru saja bertemu, tapi bel masuk tanda istirahat selesai mulai terdengar. Aku membalikkan tubuhku yang berada tak jauh dari pintu, "Aku duluan." Ucapku singkat sebelum membuka pintu, sebisa mungkin aku menjaga jarak dengan anak nakal ini.

"Sakura."

"Ya?" aku kembali membalikkan tubuhku cepat saat dia memanggil namaku, sebelum aku tersadar dia memanggilku dengan nama kecilku dan responku saat mendengar panggilannya kelewat cepat. "Kau tahu semua murid disini sombong."

Aku mengernyit tidak mengerti, "Kenapa?"

"Siapa yang mau repot-repot datang ke ruang BP dan bertemu Ibiki-sensei? Cuma aku."

Aku terdiam sesaat lalu tersenyum, "Iya." Aku hanya bisa menjawab itu, tidak tahu harus menanggapi apa.

"Sakura, kau cantik." Kali ini aku hanya diam, mataku mengerjap beberapa kali. Apa dia bilang? "Tapi, aku belum mencintaimu... tidak tahu bagaimana dengan nanti sore."

Heh? Aku tersenyum kikuk. "I-iya, aku duluan."

Setelahnya aku keluar dan meninggalkan dia sendiri yang tidak ku ketahui Sasuke menyusul masuk kelasnya atau membolos.

Aku sedikit tersenyum, hanya sedikit! Dia tidak sedingin kelihatannya, tidak semenakutkan yang ku kira. Dan dia, aneh, bukan aneh yang menakutkan, tapi aneh yang membuatku penasaran.

oooo

Saat pulang sekolah, aku di kagetkan oleh Ayame-san yang membawakanku 3 batang coklat. Di baca dari merknya ini bukan coklat murah. Aku hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala saat Ayame-san menceritakan bagaimana dia mendapatkannya.

Coklat yang pertama diantar oleh tukang koran langganan Tou-san tadi pagi beberapa menit setelah aku berangkat. Coklat yang kedua, dari tukang sayuran yang biasa berkeliling kompleks saat Ayame-san belanja. Coklat yang ketiga, dari satpam kompleks.

Dan coklat yang terakhir diantar oleh Yota, anak tetangga sebelah yang selalu mengendarai sepeda roda tiga dan memakai sepatu booth khusus hujan saat bermain, langsung pada ku.

Aku tertawa saat Yota berkata "Itu dari nii-chan tampan, aku boleh mencicipi tidak?" Akhirnya sebelum aku masuk rumah, aku membuka coklatnya di luar dan membaginya dua dengan Yota.

Jika tahu ternyata masih ada 3 coklat lagi yang sama, aku lebih baik memberikan coklat yang kubagi pada Yota semuanya.

Aku tersenyum saat mendapat pesan yang Ayame-san berikan pada ku. Katanya, ini diberikan bersamaan dengan datangnya coklat ketiga tadi sore. Amplop kecil.

Di dalamnya ada memo yang disobek bagian atasnya. Tulisan tangan, rapi dan tegas.

'Pengumuman:

Sejak sore ini, aku sudah mencintaimu.

Uchiha Sasuke'

Aku tidak yakin wajahku baik-baik saja ketika aku merasakan panas hingga ke telinga. Pasti merah, pasti merah batinku.

Dan malam itu, menurutku, dia harus bertanggung jawab, karna dia berhasil mengganggu konsentrasiku.

oooo

Paginya seperti biasa, Sasori-nii mengantarku. Saat aku sampai di gedung sekolah, aku berharap tidak ada orang yang menyadari tingkah ku yang sedang mencari sesuatu, mencarinya. Aku diam-diam mencarinya, meskipun aku bingung sendiri untuk apa juga aku cari. Mungkin hanya ingin lihat, tidak lebih.

Tapi tetap saja, aku tidak menemukannya. Mungkin belum datang? Atau tidak sekolah?

"Ohaiyo." Sapa Ino, masih pagi, dan dia sudah sibuk dengan majalah fashion di tangannya. Katanya, itu adalah modal untuknya. "Ohaiyo Ino, Hinata." Ino kali ini menutup majalahnya dan beralih menatapku jahil. "Ada apa?"

"Kau dan Uchiha Sasuke, ada apa?"

"Apanya yang ada apa?"

"Jelaskan saja adanya apa?"

"Kau ini kenapa?"

"Ino-chan." Ino menghela napasnya saat Hinata menegurnya. Kenapa si pirang ini? Apanya yang salah? Dalam bingung, aku berpikir mungkinkah dia tahu tentang coklat itu? pesan Sasuke? Mata ku membulat menatapnya, berharap kenyataan yang terjadi di khayalanku itu hanya ilusi belaka.

"Kau memasang CCTV di kamarku?" tanyaku spontan, muka Hinata memerah, Ino membekap mulutnya.

"Kau, dikamar?" Kali ini wajah Ino yang kaget. Sebenarnya aku bingung, apasih yang terjadi. "Se-sepertinya ada salah paham disini." Kini Hinata jadi penengah.

"Sakura-chan, sebaiknya lihat mading di koridor kelas 2." Lanjutnya lagi. Tanpa tunggu lama lagi, aku bergegas kesana, walau belum hafal dimana tempatnya. Kulihat Ino dan Hinata mengikuti di belakang.

Aku melangkahkan kaki ku cepat lalu belok ke kiri.

"Bukan ke kiri, tapi ke kanan." Aku balik badan dan mengganti arah mendengar teriakan Ino. Benar, di depan sana banyak murid yang sibuk saling tubruk berebut melihat sesuatu di depan papan mading.

Kericuhan terhenti saat aku tiba disana. Mereka yang berada disana menyingkir memberiku jalan. Berbagai tatapan aku terima, tatapan marah dan tidak percaya lebih mendominasi disini.

Aku mengerjapkan mata ku tak percaya saat membaca tulisan di mading:

'Mulai hari ini Akasuna Sakura menjadi 'buronan' Uchiha Sasuke, tidak ada yang boleh mengganggunya. Atau habis!'

Itu kali pertamanya aku merasa tersanjung dan marah, apa-apaan pemuda itu, baru kenal dan sekarang meng-klaim ku sebagai buronannya? Aku tahu apa maksud kata buronan dengan tanda kutip di kalimat itu. Aku ingin menyambar kertas itu seandainya saja bisa. Sayang, madingnya tertutup kaca. Mendadak aku menyesal sudah mencarinya tadi pagi.

oooo

"Walaupun banyak yang bilang dia playboy, Sasuke tidak pernah menunjukkan terang-terangan seperti yang dilakukannya padamu. Dia lebih bersikap rapi dan tertutup." Aku masih menelungkupkan kepalaku di atas meja saat Ino mulai dengan penjelasan panjangnya.

"Sakura, kau dengar aku atau tidak sih?"

"Iya, aku mendengarkan." Wajahku masih membelakangi Ino.

"Sakuraaaa." Aku menghela napas lalu memalingkan wajahku berhadapan dengan Ino, masih dengan posisi kepala di atas meja. "Tapi kau harus hati-hati ya, tetap saja dia masih berlabel playboy."

"Aku dan dia tidak ada apa-apa Ino."

"Akan."

"Sudah lah kalian berdua." Lagi-lagi Hinata yang menjadi penengah.

"Kita ke kantin? Aku lapar." Makan. Satu-satu cara agar terbebas dari ocehan Ino, dia akan lupa dengan sendirinya.

Kantin tidak terlalu ramai, kami langsung menuju meja di pojok kanan yang di tempati Tenten, Kiba, Lee, Neji, Shikamaru, dan Temari. Aku duduk paling ujung, berhadapan dengan Kiba. Semuanya makan kecuali Shikamaru yang hanya numpang tidur disana.

Aku mau bercerita, kali ini bukan tentang Sasuke. Tapi tentang orang yang saat itu duduk di depanku. Tentang Kiba, teman sekelasku. Ino bilang dia menyukaiku, aku hanya menanggapinya dengan senyuman, Karna soal itu sudah lama ku ketahui. Aku bisa membaca bagaimana sikap dan perilakunya padaku. Bagiku semuanya, termasuk sering meneleponku di malam hari bertanya tentang pekerjaan rumah, mentraktir kami makan di kantin, berusaha membuatku tertawa dengan aneka lawakannya, itu adalah modus untuk mencari perhatianku.

Aku setuju jika ada yang berkata Kiba baik. Dia tampan, humoris, dan masih banyak lagi. Kiba juga masih sendiri, masih belum mempunyai pacar. Aku tahu dia pernah dekat dengan seorang gadis di kelas 2 sosial, tapi tidak tahu bagaimana ceritaya hubungan mereka kini merenggang.

Sumpah! Aku terkejut, ada Sasuke! Dia datang ke kantin dengan dua orang temannya, yang satunya belum pernah aku lihat. Entah bagaimana perasaanku saat itu, sulit ku ungkapkan, aku hanya tahu aku menjadi salah tingkah.

Dia mendatangi meja kami dan menyapaku.

"Hai, Sakura!"

"Hai." Hanya itu yang keluar dari mulutku, aku bahkan lupa jika tadi pagi aku sempat merasa kesal padanya.

"Hanya menyapa." Lalu dia pergi lagi entah kemana, mungkin ke kelas, tapi sebelum dia benar-benar pergi, dia bicara pada Kiba.

"Kau tahu tidak?"

"Tentang apa?"

"Aku mencintai Sakura." Jawabnya enteng, kulihat wajah Kiba menjadi kikuk, yang lain tertawa, Kiba hanya menanggapi dengan kekehan pelan. "Tapi aku malu mengatakannya." Suara Sasuke rendah, dingin.

"Kau tadi mengatakannya? Hehe.." Kiba tertawa kecil.

"Aku mengatakannya padamu, bukan ke dia."

"Dia dengar kan?"

"Semoga."

Sasuke pergi, Shikamaru menyusul di belakangnya setelah bangun. Aku baru tahu dari Ino baru-baru ini bahwa Shikamaru juga teman Sasuke. Kulihat wajah Kiba yang tak nyaman. Aku yakin sejak saat itu dia membenci Sasuke. Kiba tidak menyukai Sasuke saat Sasuke mengatakan dia menyukaiku, mencintaiku.

oooo

Saat pulang sekolah tiba, Sasuke menyusulku dan berkata:

"Aku mau datang kerumahmu malam ini." Heh? Aku kaget, tiba-tiba dia bilang begitu.

"Jangan!" Seruku setengah panik.

"Kenapa?"

"Ayahku galak."

"Menggigit?"

"Serius!"

"Aku tidak takut ayahmu."

"Jangan! Pokoknya jangan!"

"Aku mau datang." ucapnya sambil berlalu. "Jangan!" tanpa sadar aku bicara agak berteriak. Aku merasa malu ketika semua pandangan orang-orang yang berjalan pulang tertuju kearah ku.

oooo

Sasuke datang!

Sasuke benar-benar datang! Kira-kira pukul tujuh malam, awalnya aku mendengar suara motor masuk kehalaman rumahku. Aku yang sedang makan malam, langsung bisa yakin, bahwa itu pasti Sasuke.

Aku lekas masuk ke kamar besama piring makan malamku, bersama perasaan tidak karuan, tidak mengindahkan Sasori-nii yang terus memanggilku dan memandnag heran kelakuanku.

Biasanya ayah jarang ada dirumah, tapi sudah 2 hari ini ia cuti. Malam itu, ayah dan ibu sedang ada di ruang tengah, ayah sedang sibuk dengan Radio CB-nya, ibu mencatat sesuatu yang entah apa itu tentang kegiatannya, sementara aku dan Sasori-nii makan berdua di ruang makan sebelum akhirnya aku melesat menuju kamar.

Jika ada bel rumah berbunyi, maka salah satu dari mereka lah yang membukanya. Menyambut Sasuke, jika itu benar-benar Sasuke.

Entah siapa yang membuka pintu, aku tidak tahu. Pasti ada dialog disana, tapi aku tidak bisa mendengarnya. Aku ingin tahu, tapi aku merasa lebih baik jika aku tetap diam di lama setelah itu, terdengar suara motor keluar dari halaman rumahku. Dia sudah pergi, Sasuke sudah pergi.

Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku, aku duduk di kursi belajar dan meneruskan makan malamku yang tertunda, di kamar. Setelah selesai, aku keluar untuk menyimpan piring kotor, setelahnya aku gosok gigi, aku baru saja akan tidur jika tidak mendengar dering ponselku. Aku mengernyit ketika yang tampil adalah nomor tak dikenal.

Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya di telepon, Sasuke menghubungi ponselku. Jangan tanya dari mana Sasuke bisa tahu nomorku. Ku kira dia banyak akal.

'Halo?' Sapanya di telepon. 'Selamat malam.'

"Malam."

'Bisa bicara dengan Sakura?'

"Iya, saya."

'Hn, aku Sasuke.'

"Hey." Sapaku, mendadak jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Astagaaa

'Sakura, bisa bicara denganku?'

Aku tersenyum menanggapi ucapannya, "Iya, bisa."

'Tadi aku datang.'

"Iya."

'Kau tahu?'

"Tahu."

'Kau tahu kenapa aku datang?'

"Kenapa?"

'Jika aku tidak datang, karna kau bilang ayahmu gakak, berarti aku pecundang.'

"Iya."

'Tadi ayahmu bilang, kau sudah tidur.'

"Oh."

'Kenapa sekarang bisa bicara? Kau tidur sambil jalan?'

"Iya."

Sasuke tertawa kecil, sebenarnya aku juga ingin tertawa, tapi pasti ku tahan. Jangankan tertawa, bicaraku juga sebisa mungkin ku buat singkat. Entah kenapa, aku merasa tidak enak, khawatir ayah dan ibu dengar walupun ku tahu mereka takkan mendengarnya. Selesai menerima telepon, aku langsung menarik selimutku bersiap untuk tidur. Saat akan menutup mata, sebagian otakku memikirkan dialog terakhir dengan Sasuke di telepon:

'Boleh aku meramal?'

"Iya."

'Iya?'

"Boleh."

'Aku ramal, kau akan menjadi kekasihku nanti.'

"hehehe.."

'Tidak percaya?'

Aku tertawa sekali lagi, di sebrang sana bisa ku dengar Sasuke ikut tertawa.

'Hey, Sakura.'

"Ya."

'Kau tahu kenapa aku tidak langsung jujur saja mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu?'

"Tidak."

'Padahal jika aku mau, aku bisa. Itu gampang.'

"Kenapa tidak lakukan?"

'Telalu biasa.'

"hehehe..."

'Sakura. Nanti saat kau akan tidur, pecayalah aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kau tidak akan dengar.'

Di atas kasur, aku memandang langit-langit kamarku. Rasanya konyol jika memang benar, tapi aku memang senang diperlakukan seperti ini. Aku merasa hari-hariku yang monoton tiba-tiba lebih berwarna berkat seorang pemuda yang—kata teman-temanku— terkenal dingin. Mereka tidak tahu, Sasuke tidak begitu padaku.

Di luar hujan. Sasuke, kau dimana sekarang? Hati-hati jika sedang di jalan. Ku tutup mataku dengan bantal dan...

"Selamat tidur juga, Sasuke."

.

.

.

To be continue

Halooo, ini chapter 2, udah publish 1 jam lalu hehe. Tapi pas liat di hp dan scrol kebawah balasan reviewnya gaada jadi aku tulis lagi hehehe...

Kalau ada yang nanya kenapa cover pict fanfic ini bukan Sasuke dan Sakura malah cover novel Dilan, jawabannya karna ceritanya emang terinspirasi dari sana hehehe...

Skyfall dalam progres jadi aku lanjut dulu publish fic ini hihi

Balasan Review:

Tafis: hehe sabar disayang tuhan loh, ini udah update :D

Riato Kid: hehe makasih, ini udah di lanjut. Gini nih Sasuke yang aneh (Baca chapter2)

Prince cherry: Ini udah dilanjut hehehe

Tsuki Yuzuriha: makasih hehe, ini udah dilanjut semoga suka ;)

Azriel: makasih hehe, mungkin dampak dari keseringan baca novel :D, ini udah dilanjut ;)

Princess: hai, makaih yah hehe. Astrologer itu artinya peramal sama kayak oracle, tapi aku lebih suka astrologer biar aneh hehe

Oh Haneul: Makasih hehehe, aku juga senyum-senyum sendiri nulisnya XD naruhina mungkin ada sedikit, tapi disini fokusnya ke Sakura yang nyeritain Sasuke hehe Saino mungkin ada atau nggak liat nanti gimana alurnya hihi, semoga suka chapter ini ;)

HappoZaey: Ini udah lanjuuuut, kalo penasaran nanti gentayangan haha. Makasih ya, semoga suka chap ini ;)

White's: hehe makasih, ini udah kilat, semoga suka ;)

Moshi hyura: haha 'peramal', ini udah dilanjuuut ;)

Nasyachoco: hehe makasiiiiih ;)

Sanny Mrs. Virgo: makasih, ini udah kilat hehe ;)

Terimakasih dan see you next chap!