Chimi datang lagi hohoho

Call My Name, Babe

Naruto milik Masashi Kishimoto
Rate: T
warning: typo akut, Ooc dan lainya.

Chapter 2 is up...

Hinata berjalan menghentak-hentakan kakinya. Tangannya terkepal erat. Beberapa umpatan lolos dari bibir cherrynya, mewarnai setiap langkah perjalanan menuju apartement miliknya. Sebenarnya, jarak antara apartement miliknya dengan apartement milik pemuda itu tak jauh, hanya 2 km.

Hinata mengumpat kesal. Mengumpat dengan tingkah laku pemuda asing berwajah mesum itu. Pemuda yang mungkin saat ini belum sadarkan diri.

Tadi, sebelum pemuda itu berhasil menyentuh dirinya. Hinata sempat memukul dengan keras bagian tengkuk dari pemuda itu, hingga pemuda itu tak sadarkan diri.

Hinata lantas meraih baju dan celana milik pemuda itu, karna ia tak jua menemukan baju miliknya yang semalam untuk ia kenakan.

Sebelum meninggalkan apartement itu, Hinata sempat membersihkannya terlebih dahulu. Yah, anggap saja itu ungkapan dari rasa trima kasihnya, karena pemuda itu telah menolongnya.

Tanpa terasa Hinata tlah sampai di depan apartement sederhana miliknya. Apartement dengan pintu bercat putih. Lalu, ia meraih kunci yang ia letakan di atas pintu masuk.

Setelah berhasil membuka pintu, ia langsung memasuki apartementnya, tak lupa ia menutup rapat dan mengunci kembali.

Hinata menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang tak terlalu besar. Ranjang yang hanya muat untuk satu orang. Memejamkan ametysnya sekejap dan membukanya kemudian.

Ia menoleh ke arah kalender yang tertempel di dinding. Menghitung bulatan merah yang berada di sana. Sudah 7 hari ia tinggal di apartement sederhana ini. Dan 7 hari pula ia meninggalkan mansion Hyuga. Meninggalkan segala kehidupan mewahnya.

Hinata meraih sebuah dompet yang terletak di meja kecil dekat tempat tidurnya. Membuka dan menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya.

Hinata menghela nafas. Uangnya saat ini, sudah sangat menipis. Bila ia iritpun, uangnya hanya bisa untuk makan selama 3 hari. Ia harus secepatnya mencari pekerjaan. Kalau tidak, ia akan merasakan kelaparan nantinya. Tapi kerja apa? Semua ijazah sekolahnya tertinggal di rumah. Lantas, ia melamar kerja dengan apa? Hinata menghela nafas kembali. Matanya menerawang ke atas, menatap langit-langit kamarnya.

Hening dan sepi, hanya terdengar suara dentingan jam dinding. Kehampaan itu menyelimuti hati Hinata. Seperti inikah rasa sepi, seperti inikah tiada memiliki keluarga?

Mau bersedihpun terasa percuma, bila kenyataan tak dapat direngkuhnya. Hinata hanya bisa menjalani semua yang tlah menjadi takdirnya. Hanya saja, di saat sendirian, ia sering kali teringat ibunya. Ibu yang selalu menyemangatinya. Ibu yang mau membelanya.

Tanpa terasa, setitik air matanya bergulir. Membasahi pipi tembamnya.

Hinata memejamkan mata. Mengusir segala pikiran yang bergelayut manja dalam otaknya. Pikiran yang selalu membebani kedua pundaknya. Ia berdoa di dalam hati, berharap esok kan lebih baik dari hari ini.

Chimi wila chan

Naruto mengerang dan mulai mengerjapkan matanya. Menguceknya pelan, lalu ia bangkit dari tidurnya. Tangannya memijit tengkuknya yang sedikit sakit. Naruto benar-benar tak menyangka bahwa gadis yang ditolongnya cukup tangguh. Berani sekali gadis itu memukul dirinya. Tidak tahukah dia, bahwa Naruto ini pemegang sabuk Hitam.

Berbicara tentang gadis itu, kemana dia?

Naruto celingukan mencari sosok Hinata. Merasa tak menemukan dari pandangannya, ia bangkit berdiri. Ia mulai memeriksa kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Nihil, gadis itu tidak ada.

"Ck, sial." Naruto berdecak sebal mendapati Hinata tak ada. Padahal ada hal yang belum terseleseikan.

Wajah Naruto berubah terang. Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Ia berjongkok dan membuka laci bawah lemarinya. Ia mengeluarkan sebuah kamera digital berwarna hitam. Kamera kesayangannya. Alat untuk memenuhi hobinya.

Ia berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepi ranjang. Tangannya tengah sibuk mencari gambar yang diingini. Wajahnya berubah senang saat ia menemukan apa yang ia cari.

Ia mulai tersenyum mesum. Matanya menatap kamera dengan sayu. Jika saja ini animasi, pasti ada jejak lumeran darah dari hidungnya.

Sebenarnya apa sih yang dilihat Naruto? Mari kita intip.

Oh ternyata, itu foto Hinata. Hinata yang tengah terlelap dengan baju yang belum dilepas. 2 kancing dari baju itu dibiarkan terlepas dan sedikit direnggangkan bagian lehernya, hingga bahu putih hinata terekspose jelas.

Naruto semakin tersenyum mesum saat jemarinya memindahkan gambar. Di situ terlihat Hinata tengah berpose menggoda dengan tangan diletakan di atas kepala, sehingga belahan dadanya sedikit terlihat.

"Hehehe, paling tidak, aku memiliki ini untuk koleksiku, hehehe pose yang bagus babe." Naruto masih tersenyum mesum dan terus memandangi foto itu.

Kriiinggg kriiing

Naruto menoleh ke arah handphonenya yang berdering. Lalu ia meraih benda itu.

"Moshi moshi"

". . ."

"Ah iya, aku segera berangkat bos."

Naruto langsung menutup handphonenya setelah berbicara dengan seseorang yang ia panggil bos.

"Ck sial, aku terlambat masuk kerja." umpat Naruto, ia langsung bergegas meraih jaket dan kunci motornya. Lalu ia meninggalkan apartementnya setelah menguncinya terlebih dahulu.

Chimi wila chan

Seorang wanita paruh baya menatap sendu ke luar jendela. Menatap setiap tetesan air hujan yang mengalir. Pandangannya kosong. Tiada binar, tiada cahaya. Hanya ada kehampaan dan keredupan.

"Hinata"

Nama itu lolos begitu saja. Lolos dengan nada yang begitu trenyuh. Sorot matanya berubah menjadi sorot kerinduan yang mendalam. Kerinduan kepada anak kesayangannya.

Dari maniknya, ia seolah melihat sosok Hinata kecil tengah menari di bawah guyuran hujan. Ia juga melihat putrinya yang tengah tertawa lepas. Liquid beningnya tak mampu ia bendung. Ia biarkan menetes, menyusuri pipinya hingga terjatuh di atas pangkuannya. Wanita itu menangis, melihat bayang-bayang putrinya. Menangis dalam diam. Menangis untuk putrinya yang entah dimana keberadaannya.

Kriiieeet

Wanita itu tak bergeming sedikitpun, ketika ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Ia masih tetap menerawang ke luar jendela.

Seorang gadis melangkah dengan perlahan. Melangkah mendekati sang ibu yang tengah duduk diam. Gadis berambut coklat itu tersenyum miris melihat keadaan ibunya yang mengurus. Sejak kepergian kakaknya, Hinata, ibunya selalu mengurung diri di dalam kamarnya, bahkan beliau menolak untuk makan.

Gadis belia bernama Hanabi Hyuga itu memegang pundak sang ibu. Meminta perhatian dari sang ibu.

"Ibu." panggil Hanabi.

Hitomi Hyuga masih saja tak bergeming.

"Bu, ayo makan, sudah 7 hari ini ibu tidak makan." bujuk Hanabi.

"..."

"Ibu, ibu jangan seperti ini bu." ucap Hanabi yang tak kuat melihat ibunya yang mendiamkannya. Udara di sekitarnya seakan tak ada, hingga membuat gadis manis itu merasa sesak.

"Hanabi tahu, kalo ibu merindukan Hinata-nee."
Hitomi mulai menatap Hanabi, saat mendengar nama Hinata disebut.

Hanabi merasa senang mendapat respon ibunya. Walaupun masih diam, tapi... Mendapatkan ibunya menoleh dan memandang lawan bicaranya, itu sudah membuat hati Hanabi gembira. Hanabi tahu, hanya Hinata yang mampu membuat ibunya tertarik. Ia kadang merasa iri, karna dirinya tak terlalu dekat dengan ibunya. Hanabi berharap, suatu saat nanti, ia pun akan dekat dengan ibunya.

"Ibu, ibu harus makan, Hinata-nee takan suka melihat ibu kurus seperti ini, nee-chan pasti akan sedih." bujuk Hanabi dengan senyum lembutnya. Hitomi mendongak, menatap wajah Hanabi. Air matanya mengalir dari sudut matanya.

Hanabi mengusap dengan lembut cairan bening milik ibunya. Melihat ibunya menangis, hati Hanabi sedikit tercubit. Ia tak kuasa bila melihat ibunya seperti ini.

"Sekarang, ibu makan yah?" ucap Hanabi lembut. Ia bertekad untuk menjaga ibunya dan ia akan merapatkan hubungan dengan ibunya. Ia juga sudah berjanji pada Hinata untuk merawat ibunya.

Hanabi mulai membantu ibunya berdiri dan menuntunnya menuju meja makan. Hitomi tak menolak, ia menuruti kemanapun Hanabi membawanya.

Chimi wila chan

"Woy bro, kemana saja kau." ucap seorang pemuda berambut coklat. Sepasang tato segitiga menghiasi setiap pipinya. Ia menepuk bahu pemuda berambut kuning sahabatnya, Naruto. Sahabat yang baru saja keluar dari sebuah kedai ramen.

"Oh hai Kiba, lama tak bertemu bro." sahut Naruto girang, ia meninju lengan Kiba pelan.

"Kau saja yang menghilang begitu saja." cibir Kiba.

Naruto hanya memberikan cengiran lima jarinya.

"Pulanglah Naruto, bibi Kushina sangat mengkhawatirkanmu, kau tahu?" kata Kiba.

Naruto hanya mendengus kecil. "Dan aku harus menerima perjodohan itu." dengus Naruto, ia melirik Kiba yang menatapnya.

"Aku yakin, orang tuamu takan salah memilih. Mungkin itu yang terbaik buatmu, Naruto. Lagian apa salahnya menerima perjodohan itu, Sakura itu gadis yang cantik, Naruto." ujar kiba merangkul pundak Naruto.

"Kau kan tahu, aku ini sudah memiliki Shion, aku takan melepas Shion hanya demi wanita yang lebih cantik." jawab Naruto sinis.

"Tapi kata Gaara, Shion tak baik untukmu, ia selingkuh di belakangmu, ia hanya memanfaatkanmu, Naruto." ujar Kiba memperingatkan.

"Kalian ini kan memang sudah tak suka dengan Shion dari awal, makanya kalian berusaha menjatuhkanya kan!" dengus Naruto tak suka.

"Itu kenyataan, bahwa Shion tak baik untukmu."

"Dan ini juga kenyataan bahwa kalian tak pernah suka dengan hubungan kami." bela Naruto.

"Hei Naruto, kami hanya tak mau kau patah hati." Kiba kembali meyakinkan Naruto yang sudah terjatuh terlalu dalam dengan Shion.

"Simpan alasan tak masuk akal kalian, biarpun patah hati, aku yang akan menanggungnya, urusi saja urusan kalian, jangan urusi kehidupanku." Naruto mulai melangkah pergi.

"Tapi, ibumu memintamu untuk pulang." seru Kiba sebelum Naruto menjauh.

Naruto berhenti sejenak, tanpa menoleh, Naruto berkata "Katakan pada mereka, aku akan pulang, bila mereka membatalkan perjodohan itu." Lalu Naruto mulai melanjutkan langkahnya yang tertunda, pergi meninggalkan Kiba sendirian.

Kiba hanya bisa menatap punggung sahabatnya. Menatap temannya yang sudah hampir 2 tahun kabur dari mansion Namikaze. Kabur karna menolak perjodohan dengan putri pemilik rumah sakit Haruno. Pergi hanya untuk bersama perempuan yang bermain di belakangnya. Sampai kapan, Naruto akan bertahan dengan egonya? Dan sampai kapan perseteruan anak dan orang tua ini berlangsung?

Kiba hanya bisa menghela nafas. Semoga saja sahabatnya ini, lekas di beri kesadaran dan lekas kembali ke pangkuan orang tuanya. Menjalankan tugasnya sebagai putra tunggal pasangan Minato Namikaze dan Kushina Namikaze.

Naruto mengacak kasar rambut jabriknya. Pertemuannya dengan Kiba membuatnya kesal. Kenapa teman-temannya itu, selalu ingin menjatuhkan nama baik kekasihnya? Tidak adakah kerjaan mereka selain mengusik hubungannya dengan Shion? Naruto benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka. Di mulai dari Gaara, Sasuke, Shikamaru dan sekarang Kiba. Mereka semua benar-benar aneh dan sok tahu. Shion bukanlah seperti yang mereka tuduhkan. Bagi Naruto, Shion adalah gadis yang pengertian, perhatian dan lucu. Apa yang harus dikhawatirkan dengan semua itu. Naruto hanya bisa geleng kepala, menanggapi sikap aneh teman-temannya.

Naruto terus berjalan sambil menunduk. Tak memperhatikan sekelilingnya. Menyebrang sambil terus melamun.

Ia tak sadar bila ada sebuah motor tengah melaju sangat kencang. Ia tetap saja berjalan menunduk. Motor itu semakin dekat menuju ke arah Naruto dan...

Ckkkkiiiiittttt

bbrrraaaaakkkkk

Naruto terpental sejauh 3 meter. Tubuhnya menabrak sebuah tiang listrik. Darah segar mengalir deras dari pelipisnya yang robek. Perlahan Naruto mulai kehilangan kesadarannya.

Chimi wila chan

Praaaannngggg

Seorang wanita berambut merah panjang itu kaget, saat sebuah gelas yang dipegangnnya tiba-tiba saja terjatuh. Hatinya merasakan firasat buruk. Ada apa ini? Kenapa perasaanku tak enak seperti ini? Banyak pertanyaan yang membebani dipikirannya.

Ia lalu bergegas membersihkan serpihan-serpihan gelas yang berhamburan. Berjongkok dan mulai memunguti satu per satu.

Craaassshh

Tanpa sengaja, jarinya tergores hingga cairan merah kental keluar dari luka yang menganga. Ia meringis kesakitan. Hatinya semakin gelisah. Benarkah ini sebuah pertanda buruk?

Naruto

Tanpa sadar, nama itu melintas dalam benaknya. Nama itu nama anaknya. Anak yang tlah lama meninggalkan rumah.

Hatinya semakin gelisah. Jantungnya berdebar-debar. Berdentum menyakitkan. Tanpa sadar, air matanya tlah bertumpuk dan siap keluar.

"Naruto, dimana kau nak, pulanglah." lirih wanita itu dengan pilu.

Chimi wila chan

Hinata menghela nafas, memandang ke luar jendela. Sedetik berikutnya, manik ametyisnya menatap ke dalam ruangan. Ruangan bercat putih dengan bau obat yang sangat kental. Menatap sebuah ranjang yang terdapat di sana.

Hinata berjalan menuju ranjang itu. Menatap pemuda yang tengah terbaring lemah. Beberapa alat bantu menempel pada tubuh Pemuda itu.

Pemuda yang baru kemarin ia temui. Pemuda mesum yang menyebalkan baginya. Kini berbaring lemah tak berdaya dengan luka yang cukup parah di sekujur tubuhnya.

Hinata ingat bagaimana ia sampai bisa bersama pemuda ini. Awalnya Hinata berniat mencari pekerjaan. Berjalan berkeliling, dan menawarkan diri pada beberapa toko. Namun sayangnya, usahanya sia-sia. Hampir semua toko yang ia datangi tak mau menerimanya.

Hinata yang sudah kelelahan, akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun, di persimpangan jalan. Ia melihat ada keributan. Ia melihat banyak orang yang tengah mengerubungi sesuatu. Didorong rasa penasaran, Hinata akhirnya berusaha menyela ke dalam dan melihat apa yang tengah dikerubungi.

Alangkah kagetnya Hinata, melihat siapa yang tengah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Entah kenapa, jiwa sosialnya bangkit begitu saja.

"Cepat panggil ambulans! Dia bisa mati kalau hanya dibiarkan saja." teriak Hinata, ia tak habis pikir dengan orang-orang di sekelilingnya. Kenapa tak ada satupun yang berniat menolong pemuda yang tengah sekarat ini?

"Bagaimana dengan biayanya?" tanya seorang warga.

"Jangan banyak bicara, cepat panggil ambulans, aku yang akan menanggungnya." desis Hinata. Ia mendecih kecil, picik sekali orang-orang ini. Kenapa yang dipikirkan mereka hanya biaya? Butakah mereka bila ada seseorang hampir merenggang nyawa?

10 menit kemudian, mobil ambulans barulah datang. Petugas kesehatan segera membawa pemuda itu ke dalam mobil.

Sebelum Hinata masuk mengikuti petugas itu, Hinata sempat berkata, "Lain kali, bukalah mata kalian, jangan jadikan uang sebagai alasan untuk menahan jiwa sosial kalian, orang yang kaya bukanlah orang yang berlimpah harta, namun orang yang ikhlas memberikan sedikit yang kita punya." setelah berucap seperti itu, Hinata kemudian masuk ke dalam mobil dan menutupnya.

Begitulah kilasan, kenapa ia bisa di sini dengan pemuda ini? Pemuda yang sampai saat ini tak ia ketahui namanya. Pemuda yang ia panggil kuning mesum.

Hinata tersenyum, melihat betapa polosnya Naruto saat tertidur.

"Hei kuning mesum, kapan kau bangun, heh?" tanya Hinata berbisik. Bibirnya masih mengulum senyum.

"Mau sampai kapan kau tertidur di dalam kamar bau obat seperti ini?" Hinata berbisik kembali. Ametysnya menatap wajah pemuda yang berbalut perban.

"Hei, kenapa kau diam saja, jawab dong, mana suara menyebalkan milikmu itu." omel Hinata.

Hening, tak ada sahutan.

"Aiiisshh kenapa aku bodoh sekali, dia kan tak sadarkan diri, bodohnya aku, dasar baka no Hinata." gerutu Hinata. Tangan mungilnya memukul pelan kepalanya. Dan ia terkikik geli dengan tingkah konyolnya.

Pip pip pip

Hinata mengernyitkan keningnya. Menatap alat pendeteksi detak jantung pemuda itu. Matanya membulat, melihat garis tak beraturan dengan bunyi begitu cepat. Hinata yang memang pernah kuliah mengambil jurusan kedokteran, ia tahu tanda itu. Tanda yang mengisyaratkan keadaan kritis. Maka dari itu, secepat kilat, ia menekan tombol merah yang ada di ruangan itu. Tombol untuk memanggil suster ataupun dokter.

Raut Hinata mulai gelisah. Bunyi itu mulai melemah. Oh Tuhan, bagaimana ini? Kemana suster dan dokter di sini? Apa yang harus ia lakukan? Hinata mulai berjalan mondar-mandir. Sesekali ia menggigit bibirnya untuk mengurangi kegelisahan di hatinya. Ia mulai mendekat ke arah pemuda itu kembali. Digenggamnya tangan pemuda itu dengan erat. Seolah ia mencoba menyalurkan kekuatan pada pemuda itu.

"Bertahanlah, mesum bodoh." lirih Hinata. Ia memang tak sanggup bila harus melihat orang lain lemah. Hinata terus merapalkan doa, agar Tuhan memberi kesembuhan untuk pemuda ini.

Beberapa suster dan dokter baru datang sekitar 5 menit setelah nada peringatan dibunyikan. Dengan cekatan mereka mendorong ranjang pasiennya itu.

Hinata membuntuti dari belakang. Membuntuti hingga ruang gawat darurat. Saat seorang suster menahannya untuk tak masuk. Hinata hanya bisa menunggu di luar ruangan itu. Duduk menunggu dengan penuh kecemasan.

Waktu seakan berjalan lambat. Berkali-kali Hinata menengok ke arah jam tangannya. Sudah hampir 2 jam, namun tak ada satupun yang keluar untuk memberitahukan keadaan di dalam.

Ckleekk

Hinata langsung berdiri, mendengar suara knop pintu ruang di depanya terbuka. Hinata lekas menghampiri seorang suster yang baru saja keluar.

"Sus, bagaimana keadaan saudara saya dok?" tanya Hinata spontan.

"Maaf nona, keadaan saudara nona sangat memprihatinkan. Kami menemukan adanya penggumpalan darah di dalam kepalanya. Ia butuh dioperasi secepatnya." jelas suster itu.

"Kalo begitu kenapa tidak cepat dioperasi sus?" seru Hinata.

"Maaf nona. Sebelum kami mengoperasi pasien, harap nona melakukan pembayaran operasi terlebih dahulu dan menandatangani surat-surat dari kami." jelas suster lagi.

"Cih, kenapa menolong orang harus mendahulukan uang sus, kau tak lihat, saudara saya benar-benar membutuhkan pertolongan sekarang sus." bentak Hinata kesal.

"Itu sudah jadi prosedur rumah sakit nona." jawab Suster itu tetap tenang dan segera pamit pergi.

Hinata hanya menghela nafas. Bagaimanapun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia berjalan menunduk meninggalkan sang suster. Bagaimana cara agar ia mendapat uang untuk operasi pemuda itu? Yang tentu saja jumlahnya tidak sedikit. Andai saja pemuda itu memiliki identitas, ia pasti akan segera menghubungi keluarganya? Sayangnya, pemuda itu tak membawa apapu. Handphon tak ada, dompet juga tak ada. Hinata berjalan lunglai, memikirkan jalan keluar agar ia bisa mendapat uang secepatnya.

Chimi wila chan

Di ruang gawat darurat.

"Dok, pasien ini semakin kritis, detak jantungnya semakin melemah dok." pekik seorang suster.

Dokter itu kemudian mendekat ke arah pasien berambut blonde itu.

"Cepat! Siapkan alat kejut!" peritah sang dokter. Lalu para suster segera membantu mempersiapkan alat kejut yang diminta.

Dokter itu meraih alat kejut itu. Dan menempelkan alat itu pada dada pemuda itu.

Jedug

Belum ada reaksi.

jedug

Dokter dan para suster saling berpandangan.

Jedug

to be continued

apa Hinata bisa mendapatkan uang untuk operasi Naruto? Apakah Naruto bisa selamat dari masa kritisnya, sedangkan jantungnya semakin melemah? Nantikan kelanjutanya!

Maaf ya minna, untuk chap ini dan chap depan tidak ada humor terlebih dahulu. Mungkin chap 4 baru akan ada humornya lagi.