Rumah Pohon
Kim Myungsoo x Lee Sungyeol
T
OS
Myungsoo belongs to Sungyeol and Sungyeol belongs to Myungsoo
"Aku menemukan sebuah rumah pohon di taman belakang sekolah baruku. Rumah pohon itu sedikit lebih tinggi sehingga tak mudah untuk menemukannya. Rasa penasaran membuatku nekat masuk ke dalam sana. Disanalah aku bertemu dengannya. 'Nae Cheot Sarang'."
Yaoi | School life | Typo(s) everwhere | INFINITE Couple
The plot is mine!
DLDR! I WARN YOU!
Don't blame or bash the chara!
Seorang remaja laki-laki yang berdiri di dekat pintu ruang administrasi tampak bosan. Sedari tadi ia hanya menundukkan wajahnya sambil menatap ujung sepatunya yang tengah menggambar abstrak di lantai. Pintu ruang administrasi terbuka, keluar lah sang ayah yang ia tunggu.
"Abeoji, apakah sudah selesai?" tanyanya. Sang ayah tersenyum dan menjawab, "Mengapa kau menunggu disini? Abeoji kira kau sedang berkeliling." Remaja itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Masih ada yang perlu Abeoji urus. Bagaimana jika kau berkeliling dulu? Setidaknya kau sudah mengetahui sedikit sekolah ini," saran sang ayah. Remaja itu mengangguk. "Baiklah, Sungyeol akan berkeliling. Jika Abeoji telah selesai, telepon Sungyeol." Sang ayah mengangguk dan kembali masuk, sedangkan remaja laki-laki itu, Lee Sungyeol, mulai melangkahkan kaki panjangnya untuk berjalan-jalan di lingkungan sekolah barunya.
Sungyeol menapakkan kakinya di taman belakang sekolah barunya. Taman belakang yang indah dan tenang membuat Sungyeol–yang notabene berkepribadian sedikit introvert–menyukainya. Ia mendekati sebuah pohon yang cukup rindang untuk beristirahat sejenak. Namun, saat ia sampai di pohon tersebut, Sungyeol menemukan sesuatu yang aneh dari bentuk pohon tersebut. Beberapa bagian dari batang pohon tersebut tampak seperti pijakan. Sungyeol mendongakkan kepalanya dan ia kembali menemukan sesuatu diatas pohon tersebut. Karena rasa penasarannya menggebu-gebu, Sungyeol mencoba memanjat pohon tersebut. Sesampainya diatas, ia menemukan sebuah Rumah Pohon.
Sungyeol mendorong penutup lubang, yang ia yakini sebagai pintu rumah pohon tersebut, dengan pelan. Saat ia masuk kedalamnya, ia cukup terkejut dengan keadaan rumah pohon tersebut. Terdapat beberapa pigura dengan foto yang sangat indah. Sungyeol semakin tertarik untuk melihat isi rumah pohon itu. Sesekali ia merasa terpesona dengan hasil foto yang menurutnya menarik. Disudut pigura tersebut ia menemukan sebuah tulisan. "K.M.S? Kenapa disemua pigura aku menemukan tulisan ini? Apa mungkin ini inisial si fotografer?" gumamnya.
'Dorawajwo! I want you back back back back back... back back back back back...'
Sungyeol segera merogoh kantong celananya. Nama sang ayah tertera di layar ponselnya. "Ye, Abeoji? Ah, sudah selesai? Ye? Um.. Sungyeol sedang di taman belakang. Baiklah, Sungyeol akan segera kembali." Sungyeol kembali memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya. Setelah itu, ia bergegas turun dari rumah pohon itu dan meninggalkan taman belakang tanpa ia sadari ada yang memperhatikannya saat ia menginjakkan kaki ke tanah.
"Siapa laki-laki itu? Bagaimana mungkin dia menemukan rumah pohon itu?" tanya orang itu entah kepada siapa.
Hari pertama Sungyeol kembali bersekolah. Setelah diantar oleh sang ayah, Sungyeol bergegas ke ruang guru. Sesampainya disana, ia diperkenalkan oleh wakil kepala sekolah kepada semua guru. "Sungmin seonsaengnim, mulai hari ini dia akan menjadi salah satu muridmu," kata wakil kepala sekolah kepada salah satu guru. Sungmin hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Sungyeol sambil tersenyum. Sungyeol membalas senyum Sungmin dan memberi hormat pada wali kelasnya yang baru.
Sungmin mengantar Sungyeol ke kelasnya, kelas 2-1. Didalam kelas, Sungyeol mulai memperkenalkan dirinya, "Annyeonghaseyo chingudeul, Lee Sungyeol ibnida. Mannaseo bangabseumnida," kata Sungyeol sambil memberi hormat. Sungmin melihat sekeliling kelas dan menemukan dua bangku kosong, "Aedeul-a, dimana Kim Myungsoo?" tanya Sungmin pada murid-muridnya.
"Sepertinya Myungsoo terlambat, Ssaem," jawab sang ketua kelas. Sungmin hanya menggelengkan kepalanya. Muridnya yang satu itu cukup sering terlambat namun nilai akademiknya selalu nomor satu. "Ja, Sungyeol-ssi, kau bisa duduk disamping bangku paling pojok sana." Sungmin menunjuk salah satu bangku untuk Sungyeol. Sungyeol mengangguk dan beranjak ke bangkunya. Sungmin memulai pelajaran yang ia ajarkan.
'Srek..'
Suara pintu kelas yang berada dibelakang terbuka, mengalihkan perhatian semua orang di kelas itu. "Joiseonghabnida, Seonsaengnim. Saya terlambat," ucap murid itu. Sungmin hanya mengganggukkan kepalanya dan murid itu menuju bangkunya yang kosong dipojok kelas. Alisnya mengerut saat ia melihat bangku disampingnya telah terisi. Myungsoo, murid yang terlambat itu, sedikit terkejut melihat anak baru disampingnya. 'Kenapa anak ini terihat familiar?,' pikirnya.
"Myungsoo-ssi, apa kau ingin belajar sambil berdiri seperti itu?" tegur Sungmin. Kim Myungsoo, nama murid yang datang terlambat, segera tersadar dan duduk di bangkunya. Sungyeol menolehkan kepalanya pada Myungsoo. "Annyeonghaseyo, Lee Sungyeol ibnida." Sungyeol memperkenalkan dirinya dan memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Myungsoo. Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya tanpa megindahkan tangan Sungyeol. Sungyeol yang merasa tangannya tak dibalas kembali menarik tangannya.
"Myungsoo memang seperti itu. Jangan dimasukkan ke hati. Ah, Lee Howon ibnida. Aku ketua kelas disini," kata Howon. "Ah, ne, Howon-ssi ," balas Sungyeol sambil menjabat tangan Howon. Setelahnya Howon kembali memperhatikan Sungmin, sedangkan Sungyeol kembali menatap Myungsoo yang kini tengah mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Bel istirahat berbunyi. Semua murid bergegas keluar kelas dan pergi ke kantin untuk makan siang. Howon mengajak Sungyeol ke kantin. Di kantin, Sungyeol dan Howon kini tengah berbaris untuk mengambil makan siang mereka. Setelah ia dan Howon mengambil makan siang mereka, ia melihat Myungsoo yang duduk sendirian di pojok kantin tanpa menyentuh makan siangnya. "Howon-ssi, apa Myungsoo suka makan sendirian?" tanya Sungyeol pada Howon. "Tidak. Dia sering makan siang bersama teman-temannya, termasuk denganku. Kaja! Sebentar lagi teman-temanku akan datang. Aku akan memperkenalkanmu dengan mereka." Sungyeol pun hanya mengikuti Howon.
Sungyeol menatap Howon dan Myungsoo bergantian. Pasalnya, mereka sama sekali belum menyentuh makanan mereka. Howon yang mengerti arti tatapan Sungyeol hanya terkekeh pelan. "Mianhae, Sungyeol-ssi. Kau bisa makan duluan. Kami biasa menunggu teman-teman kami lalu kami akan makan bersama," jelas Howon.
"Ah, Geureokuna. Gwaenchanha Howon-ssi. Aku akan menunggu teman-teman kalian."
"Eoh? Apa ada member baru disini?" tanya seseorang yang baru datang bersama keempat orang lainnya. Howon menganggukkan kepalanya. "Ya, dia murid baru di kelas kami."
"Annyeonghaseyo, Lee Sungyeol ibnida. Bangabseumnida." Sungyeol memperkenalkan dirinya pada teman-teman Howon dan Myungsoo sambil tersenyum.
"Annyeong, Sungyeol-ssi. Kim Sunggyu ibnida. Aku dari kelas 3-2," ucap laki-laki yang bermata sipit
"Annyeong~ Jang Dongwoo ibnida. Aku dari kelas 3-3," ucap laki-laki yang bertanya tadi sambil tersenyum lebar
"Nam Woohyun ibnida. Aku sekelas dengan Sunggyu hyung," ucap laki-laki dihadapan Sungyeol sambil tersenyum menunjukkan eye smilenya.
"Annyeonghaseyo, Sungyeol hyung. Lee Sungjong ibnida. Aku magnae disini. Aku dari kelas 1-1," ucap laki-laki yang memiliki mata paling besar.
"Dan dia adalah pacar Howon," celetuk Woohyun. "Ya! Woohyun hyung!" teriak Howon dan Sungjong bersamaan. Sungyeol hanya tertawa melihat wajah mereka berdua yang memerah.
"Jangan pedulikan mereka. Mereka memang seperti itu," ucap Sunggyu pada Sungyeol. "Ja! Selamat makan!"
"Jal meokkettseubnida~" ucap mereka kecuali Sungyeol dan Myungsoo. 'Apakah aku pernah bertemu dengan Myungsoo sebelumnya?' pikir Sungyeol.
Kelas 2-1 telah sepi. Tersisa Myungsoo, Sungyeol, dan Howon. "Sungyeol-ssi, bagaimana kalau kita pulang bersama. Bukankah rumah kita searah? Benar 'kan, Myung?" ajak Hoya. Myungsoo menggelengkan kepalanya, "Aku tak bisa. Aku harus ke ruang fotografi. Kalian pulang saja duluan," jawab Myungsoo lalu pergi meninggalkan Howon dan Sungyeol.
"Howon-ssi, mianhae. Jeongmal mianhae. Aku harus ke suatu tempat. Bagaimana kalau lain waktu?" Hoya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita bisa pulang bersama lain waktu. Sungyeol-ssi, aku pulang duluan."
"Ne. Hati-hati di jalan, Howon-ssi." Howon melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Sungyeol. "Sekolah sudah sepi. Lebih baik aku ke rumah pohon itu lagi. Lagi pula, abeoji sedang pergi ke luar kota. Tak masalah jika aku pulang terlambat."
Sungyeol kembali ke taman belakang yang ia datangi kemarin. Ia pun menghampiri pohon besar itu dan memanjatnya. Setelah ia berhasil masuk ke dalam rumah pohon, ia kembali berkeliling. Kemarin ia belum sempat melihat keseluruhan pigura yang berada didalam rumah pohon itu. Sungyeol menemukan sebuah pigura yang amat familiar. Sebuah foto yang membuatnya merasa deja vu.
'Krek..'
Sungyeol mendengar suara pintu yang akan dibuka. Ia pun bergegas untuk sembunyi. Sungyeol menuju balkon rumah pohon itu dan bersembunyi disamping jendela setelah memastikan ia takkan terlihat. Saat pintu terbuka, Sungyeol mengintip dari ujung matanya. Dilihatnya punggung yang amat familiar, 'Myungsoo-ssi?'. Myungsoo meletakkan tasnya di sudut rumah pohon. Myungsoo mengambil pigura dari salam tasnya dan meletakkannya diantara pigura yang lain.
"Keluar lah. Aku sudah melihatmu dari kemarin," ucap Myungsoo entah pada siapa. Namun Sungyeol merasa ucapan itu ditujukan padanya. "Cepat keluar dari tempat persembunyianmu." Sungyeol pun menunjukkan wujudnya dibalik jendela. Myungsoo menyeringai. "Ternyata memang kau, Sungyeol-ssi."
"Apa rumah pohon ini milikmu?" tanya Sungyeol memastikan. 'Ah! Mengapa tak terpikirkan olehku tentang inisial itu!' pikirnya saat mengingat inisial disudut pigura.
Myungsoo menggeleng. "Bukan. Rumah pohon ini sudah ada sejak aku masuk di sekolah ini. Aku kebetulan menemukannya."
Sungyeol masih berlutut ditempatnya–tak memungkinkan untuknya berdiri mengingat tinggi pohon ini hanya ¾ dari tingginya–sambil mengangguk. "Masuk lah," pinta Myungsoo.
"Boleh kah?"
"Masuk saja. Ada yang ingin kutanyakan padamu." Sungyeol masuk kedalam rumah pohon melalui jendela dan duduk di sudut lain dekat jendela.
"Bagaimana kau bisa menemukan rumah pohon ini?" tanya Myungsoo sambil menatap tajam Sungyeol. Sejujurnya, ia tak suka jika ada orang lain yang menemukan tempat persembunyiannya.
"Kemarin saat aku berkeliling, aku tak sengaja menemukan taman ini. Aku melihat ada pohon yang cukup rindang. Aku berniat untuk duduk dibawah pohon ini, tapi aku menemukan hal yang janggal di batang pohon ini. Saat aku lihat ke atas, aku menemukan rumah pohon ini. Oh ya, apakah kau yang memotret semua foto ini?" Myungsoo hanya mengangguk.
"Sungyeol-ssi, aku harap kau tak memberi tahu yang lain tentang rumah pohon ini."
"Kenapa? Bukan kah asyik jika kita semua berkumpul disini?" tanya Sungyeol. "Ah, baiklah. Aku takkan mengatakan pada siapapun," kata Sungyeol saat menerima tatapan tajam dari Myungsoo.
"Lebih baik kau pulang. Aku ingin disini sendiri."
"Eh? Apa aku mengganggumu?"
"Ya. Kau membuatku tak nyaman. Pulang lah."
Sungyeol merasa hatinya seperti dicubit dengan jawaban Myungsoo. Ia seperti merasakan kembali perasaan ini. Kembali ia merasa deja vu. "Apa kau baik-baik saja aku tinggal sendiri disini?"
"Sungyeol-ssi..." desis Myungsoo
"Baik.. Baiklah. Aku akan pergi." Sungyeol bergegas turun dari rumah pohon dan meninggalkan Myungsoo sendiri.
"Hhhh... Ternyata memang dia. Dia tak berubah. Hanya saja... dia tak mengingatku. Maafkan aku, Yeol-i," gumam Myungsoo.
Sungyeol tengah mencari tempat duduk menikmati makan siangnya. Ia melihat teman-teman barunya di sudut kantin. Ia ingin menghampiri mereka, namun melihat ada Myungsoo disana, diurungkannya niat itu. Sungyeol masih ingat betul kata-kata Myungsoo beberapa hari yang lalu. Ia pun memutar tubuhnya dan berjalan ke meja lain.
"Eoh? Sungyeol hyung, kenapa kau berbalik?" tanya Sungjong dengan piring makan ditangannya.
"Tak apa, Sungjong-i. Aku ingin makan di meja lain. Maaf, aku permisi." Sungyeol pergi dari hadapan Sungjong yang menatapnya bingung.
Sungjong kembali berjalan menuju hyungdeul-nya. Ia duduk disamping Howon. "Hyung, apa kau bertengkar dengan Sungyeol hyung?" bisik Sungjong pada Howon. Howon menggeleng, "Ani. Wae?"
"Kenapa Sungyeol hyung tak lagi makan bersama dengan kita?"
"Ah, itu. Dia membawa bekal dan ingin makan di kelas. Aku sudah memaksanya untuk makan di kantin, tapi dia tak mau."
"Hei, Apa yang kalian bicarakan? Aku mendengar nama Sungyeol disebut-sebut," tegur Sunggyu.
"Kita memang sedang membicarakan Sungyeol hyung, Gyu hyung. Aku merasa Sungyeol hyung sedang menghindari kita."
Semua yang ada di meja itu mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sungjong, kecuali Myungsoo. Myungsoo menghentikan gerakannya. Telinganya menajam akibat perkataan Sungjong. 'Apa mungkin dia tersinggung dengan ucapanku?' tanyanya dalam hati.
"Mengapa kau bisa berpikiran seperti itu?" tanya Dongwoo.
"Howon hyung bilang, kalau Sungyeol hyung belakangan ini membawa bekal, tapi aku baru saja melihat Sungyeol hyung disini. Sebentar." Sungjong menghentikan ucapannya dan melihat kesekeliling kantin. "Ah, itu dia," lanjutnya saat matanya menangkap Sungyeol yang tengah duduk sendiri di meja kantin dekat jendela.
"Mengapa Sungyeol harus berbohong?" tanya Woohyun. "Ya! Myungsoo-ya, apa kau bertengkar dengan Sungyeol?"
Myungsoo menatap Woohyun, "Mworago? Aniya. Bagaimana mungkin aku bertengkar dengannya? Aku dan dia bahkan tak pernah bertegur sapa."
Semua terlihat setuju dengan ucapan Myungsoo. Bahkan Howon membenarkan. Dia tak pernah melihat Myungsoo dan Sungyeol bertegur sapa. Mereka pun kembali makan tanpa menyadari Myugsoo yang menatap Sungyeol dengan sedih.
Sungyeol beranjak dari duduknya saat dirasa perutnya sudah kenyang walaupun ia baru menghabiskan setengahnya. Sungyeol meninggalkan kantin. Jam istirahat masih lama, ia memilih untuk pergi ke rooftop sekolah. Sebenarnya ia ingin sekali pergi ke rumah pohon. Namun ia masih ingat 'ultimatum' dari Myungsoo. Sehingga ia mengurungkan niatnya itu. Saat ia menginjak anak tangga pertama, tangan kirinya ditarik oleh seseorang. Sungyeol terkejut namun saat melihat orang yang menariknya, dia hanya memilih diam dan mengikuti Myungsoo, orang yang menariknya.
Myungsoo menarik Sungyeol ke taman belakang. "Naiklah!" perintah Myungsoo pada Sungyeol.
"Myungsoo-ssi, bukan kah..."
"Cepat! Sebelum ada yang melihat kita." Myungsoo memotong ucapan Sungyeol. Sungyeol pun menuruti perkataan Myungsoo. Dia segera memanjat pohon besar itu dan masuk ke dalam rumah pohon. Myungsoo menyusul dibelakangnya.
"Myungsoo-ssi, wae geurae?" tanya Sungyeol.
"Kau marah padaku?" tanya Myungsoo to the point. Sungyeol terdiam sambil menundukkan wajahnya. Tidak, dia tidak marah. Hanya saja...
"Yeol -i, jawab aku."
'Deg..'
'Panggilan itu...' Sungyeol kembali merasa deja vu. Sungyeol menatap Myungsoo dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Myungsoo mendekat kearah Sungyeol. Myungsoo menyentuh pipi tembab Sungyeol. "Na gieokna?" tanya Myungsoo sembari menatap Sungyeol dengan lembut. Sungyeol mengingat sesuatu. Laki-laki dihadapannya ini... dia pernah bertemu dengan laki-laki ini.
"L-a? Dangsiniya?" tanya Sungyeol. Terselip keraguan saat ia menanyakannya. Myungsoo menganggukkan kepalanya. "Oraenmane, Yeol-i. Bogosipda."
Sungyeol segera memeluk Myungsoo dengan erat. Dia ingat siapa laki-laki yang ia peluk. Anak laki-laki itu. Cinta pertamanya.
Sungyeol tak pernah menyangka hari ini akan tiba. Hari dimana ia kembali bertemu dengan anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang menolongnya sewaktu ia dipukuli kakak kelasnya. Keesokan harinya, anak laki-laki itu muncul di depan kelasnya sebagai murid pindahan. Namun, saat kenaikan kelas empat, Sunyeol terpaksa pindah dari sekolahnya. Meninggalkan anak laki-laki itu yang tak lain adalah Kim Myungsoo.
Kini Sungyeol dan Myungsoo tengah duduk di balkon rumah pohon. Mereka terpaksa membolos. "Maaf, L-a. Aku sempat melupakanmu," ucap Sungyeol dengan nada penyesalan. Myungsoo mengelus punggung tangan Sungyeol. "Gwaenchanha, Yeol-i. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku berkata kasar padamu. Waktu itu aku kesal karena kau tidak mengingatku."
Sungyeol menggelengkan kepalanya. "Aku saja yang tak menyadari sejak awal. Kalimat yang kau ucapkan itu, aku merasa deja vu. Namun, aku tak mengingatnya. Hingga kau memanggil nama kecilku," kata Sungyeol dengan air mata yang mengalir di pipi tembamnya. Dia sungguh menyesal melupakan Myungsoo, atau yang ia kenal dengan L.
Myungsoo mengacak rambut Sungyeol dengan pelan. "Kau masih saja seperti dulu. Mudah sekali menangis." Myungsoo mengusap pipi kanan Sungyeol dengan tangan kirinya. "Terima kasih." Sungyeol mengerutkan keningnya. "Karena kau menepati janjimu untuk kembali. Kembali bertemu denganku," kata Myungsoo.
Myungsoo menatap wajah Sungyeol dengan seksama. Hingga matanya tertuju pada bibir Sungyeol yang mungil namun tebal itu. Ibu jarinya mengusap pelan bibir Sungyeol. Matanya kembali menatap mata Sungyeol seolah meminta persetujuan. Tak lama kemudian, bibir tipis Myungsoo telah menempel di bibir Sungyeol. Hanya menempel. Sungyeol yang masih terkejut hanya mengedipkan matanya imut.
"L-a..." ucap Sungyeol saat Myungsoo telah melepaskan bibirnya. Namun tidak dengan jarak wajah mereka. Myungsoo menempelkan dahinya dengan Sungyeol. Hembusan napas Sungyeol yang hangat menerpa wajahnya. "Saranghae, Lee Sungyeol," kata Myungsoo. Lagi, Sungyeol merasa Myungsoo memberikan kejutan padanya secara bertubi-tubi. Tak bisakah Myungsoo membiarkan Sungyeol untuk mengontrol detak jantungnya terlebih dahulu?
"Yeol-i..." Sungyeol meletakkan telunjuknya dibibir Myungsoo. "L-a, sepertinya aku sakit," ucap Sungyeol dengan wajah polosnya. Myungsoo menjauhkan kepalanya dan menatap Sungyeol dengan kedua tangannya masih berada di wajah Sungyeol. "Dimana yang sakit? Katakan." Sungyeol meletakkan tangannya di dada sebelah kiri. Tepat dimana jantungnya berada. "Disini," jawabnya.
Myungsoo terkekeh. "Apa... jantungmu berdetak kencang?" Sungyeol mengangguk. "Apa kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu saat... aku menciummu?" Lagi, Sungyeol mengangguk. "Apa kau senang berada didekatku?" Untuk kesekian kalinya, Sungyeol mengangguk. Myungsoo mencubit pipi Sungyeol gemas.
"Arghh.. L-a! Kenapa kau mencubit pipiku?" protes Sungyeol. Myungsoo hanya tertawa. "Ya! Kenapa kau tertawa?" Sungyeol memukul pelan bahu Myungsoo.
Myungsoo mengusap bahu yang dipukul Sungyeol. "Yeol-i, Apa kau tak pernah jatuh cinta?" tanya Myungsoo saat ia berhasil mengendalikan tawanya. Sungyeol menggeleng dengan polos. "Kau tidak sakit. Kau sedang jatuh cinta, Yeol-i."
Sungyeol mengerjapkan matanya imut. "Benarkah? Perasaan ini... jatuh cinta?" Myungsoo menganggukkan kepalanya. "Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau pernah merasakannya?" Entah mengapa ia merasa takut Myungsoo pernah merasakannya dengan orang lain. Myungsoo menggeleng. Perasaan lega menyergap hati Sungyeol. "Aku pernah mendengarnya dari Howon dan Sungjong."
Myungsoo meraih tangan Sungyeol dan meletakkannya di dada sebelah kiri. "Apa kau merasakannya? Apa berdetak seperti jantungmu?" Sungyeol mengangguk. "Apa kau sedang jatuh cinta, L-a?" Lagi, Sungyeol bertanya dengan polosnya membuat Myungsoo gemas. "Bukankah aku sudah mengatakannya? Apa perlu aku ulangi?" Sungyeol menatap Myungsoo dengan wajah memerah.
Myungsoo merengkuh wajah Sungyeol, lalu ia mendekatkan wajahnya. "Saranghae, Lee Sungyeol," bisik Myungsoo. Sungyeol mengalungkan kedua lengannya di leher Myungsoo. "Nado. Nado saranghae, Kim Myungsoo."
Myungsoo kembali mencium bibir Sungyeol. Kali ini tak hanya menempel, Myungsoo melumat bibir bawah Sungyeol dan Sungyeol melumat bibir atas Myungsoo. Bibir mereka saling melumat hingga Myungsoo menggigit pelan bibir Sungyeol untuk membuka bibir Sungyeol. "Ngghh..." desah keduanya. Lidah mereka saling bertaut. Menghisap lidah pasangannya. Erangan kecil sesekali terdengar. Puas mencium bibir Sungyeol, Myungsoo beralih ke telinga kanan Sungyeol. Lagi, ia membisikkan kata-kata cinta lalu mengulum telinga Sungyeol. Sungyeol hanya bisa meremas rambut Myungsoo.
Tubuh Sungyeol bergetar karena kenikmatan yang diberikan Myungsoo. Bibir Myungsoo telah berpindah ke rahang Sungyeol. Memberikan jilatan disekitar rahang dan leher atas Sungyeol. "L..aaahh..." desah Sungyeol. Tangan kanan Myungsoo mengelus pelan punggung Sunyeol, sedangkan tangan kirinya ia letakkan di pinggang Sungyeol dan mendorong pelan tubuh Sungyeol untuk mendekat. Myungsoo membuka dua kancing seragam Sungyeol sembari bibirnya menjelajah ke leher jenjang Sungyeol. Bibir Myungsoo sampai diperpotongan leher Sungyeol. Memberikan sedikit jilatan sebelum ia menggigitnya.
"Ngghh... L...aahhh..." Sungyeol meremas rambut Myungsoo saat ia merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Myungsoo menghisap perpotongan leher Sungyeol hingga meninggalkan bekas. Lidah Myungsoo kembali keatas. Myungsoo menggigit dan menghisap pelan bagian belakang telinga Sungyeol. Memberikan ciuman kecil dipipi tembam Sungyeol dan diakhiri dengan menggigit pelan ujung hidung Sungyeol. Myungsoo menatap wajah Sungyeol yang memerah dan mengusap peluh di wajah Sungyeol. Nafas Sungyeol sedikit memburu. Tubuhnya terasa lemas. Kedua lengannya menggantung begitu saja di bahu Myungsoo.
Sungyeol membuka matanya. Tatapannya sayu membuat Myungsoo mati-matian menahan gejolak birahi. 'Jangan sekarang Myungsoo. Ingat! Masih di sekolah." Dewa batin Myungsoo mengingatkan. Myungsoo menatap bibir Sungyeol yang menebal dan sedikit terbuka. Mencium singkat bibir yang membuatnya gemas. "L-a, aku... kenapa aku lemas sekali?" Myungsoo tersenyum mendengar pertanyaan Sungyeol. Lelaki dihadapannya ini sungguh menggemaskan.
Myungsoo mengancingkan kembali seragam Sungyeol dan merapikannya. "Apa ciumanku begitu memabukkan hingga kau seperti ini?" tanya Myungsoo dengan nada menggoda. Sungyeol mengangguk. "Bibir L manis. Yeol-i suka." Myungsoo kembali tertawa. "Yeol-i... mulai saat ini Sungyeol pacar L dan L pacar Sungyeol, arasseo?" Sungyeol mengangguk lalu memeluk Myungsoo. Menelungkupkan wajahnya diperpotongan leher Myungsoo. "Sungyeol pacar L," gumam Sungyeol.
"...un."
"...bangun."
"Yeol-i... bangun."
Sungyeol membuka matanya pelan saat ia merasakan tepukan pelan dipipinya. Ditatapnya Myungsoo yang tersenyum diatas wajahnya. "Apa pahaku sangat nyaman hingga kau tertidur cukup lama, eoh?" Sungyeol tak menjawab pertanyaan Myungsoo. Sungyeol memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggang Myungsoo sambil menelungkupkan kepalanya di perut Myungsoo.
"Yeol-i, ada apa denganmu? Kau mimpi apa hingga berkeringat seperti itu?" tanya Myungsoo lagi. Wajah Sungyeol memanas mendengar pertanyaan Myungsoo. Mengingatkan ia akan mimpinya barusan. Sungyeol pun semakin menenggelamkan wajahnya di perut Myungsoo. Mengerti gelagat Sungyeol, Myungsoo mencoba menarik lengan Sungyeol dari pinggangnya. "L-a, biarkan seperti ini dulu," pinta Sungyeol.
"Aku mengerti gerak-gerikmu jika seperti ini, Yeol-i. Apa yang membuatmu malu?" Sungyeol menggeleng di perut Myungsoo membuat Myungsoo geli. Mengerti Sungyeol takkan menjawab, Myungsoo hanya mengelus rambut Sungyeol. Setelah berhasil mengendalikan rasa malunya, Sungyeol bangkit dari tidurnya. Ia duduk disamping Myungsoo sambil meletakkan kepalanya di bahu Myungsoo.
"L-a. Apa kau tahu barusan aku mimpi apa?" tanya Sungyeol. Myungsoo hanya diam menunggu Sungyeol melanjutkan ucapannya. "Aku bermimpi... saat kita bertemu kembali."
Myungsoo mengerti ucapan Sungyeol. Dia hanya tersenyum mengingat saat-saat itu. Dimana ia mengugkapkan perasaannya. Sungyeol menarik kepalanya. Ia menatap Myungsoo. "L-a," panggilnya membuat Myungsoo menolehkan kepalanya. Wajah mereka begitu dekat. "Cium aku. Cium aku seperti waktu itu." Myungsoo mengernyitkan dahinya. "L-a..." rajuk Sungyeol. Myungsoo mengecup pelan bibir Sungyeol.
"Bukan... bukan seperti itu. Buat aku lemas karena ciumanmu, L-a..." rajuk Sungyeol lagi dengan pipi yang memerah. Pipi Myungsoo pun sama merahnya dengan Sungyeol. Bagaimana mungkin kekasihnya yang polos menjadi sefrontal ini?
Myungsoo beranjak dari duduknya dan menarik Sungyeol. Mengajak Sungyeol turun dari rumah pohon. "Kita mau kemana, L-a?" tanya Sungyeol saat ia dan Myungsoo berada di dalam mobil. Myungsoo diam saja dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat parkir sekolahnya. "L-a.. aku 'kan hanya meminta untuk menciumku. Bukan membawaku pergi." Myungsoo tetap diam. "Apa kau marah?" Lagi, Myungsoo tetap diam. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Myungsoo tiba di tempat parkir gedung apartement Myungsoo.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Sungyeol untuk kesekian kalinya. Myungsoo hanya menarik Sungyeol masuk kedalam lift. Sesampainya di apartement Myungsoo, dengan terburu-buru Myungsoo mengetik password apartementnya dan menarik Sungyeol masuk. Setelah mendengar pintu terkunci otomatis, Myungsoo mendorong Sungyeol ke atas tempat tidurnya dan menindih tubuh Sungyeol. Myungsoo menyeringai, "Apa kau yakin ingin aku menciummu seperti waktu itu?" Sungyeol mengangguk. 'Sepertinya aku tahu maksud L,' batin Sungyeol.
Sungyeol mengalungkan lengannya ke leher Myungsoo. "Apa kali ini kau akan membuatku benar-benar lemas?" Myungsoo tersenyum. "Ya. Aku akan membuatmu lemas hingga kau tak bisa bangun dari ranjang ini. Apa kau yakin?" Sungyeol mencium pelan bibir Myungsoo. "Prove it." Myungsoo pun mulai mencium bibir Sungyeol.
"L-a! Maafkan aku. Maaf karena aku sempat melupakanmu. Maaf karena aku tak menyadarinya sejak awal. Maaf karena aku sempat meninggalkanmu dulu. Maaf karena membuatmu menunggu lama. L-a! Terima kasih. Terima kasih karena kau tak melupakanku. Terima kasih karena kau masih disini. Terima kasih karena kau masih menungguku. Terima kasih telah mengatakan kata-kata yang ingin aku dengar. L-a! Kau tahu? Kau adalah cinta pertamaku. Kau adalah pacar pertamaku. Kau adalah ciuman pertamaku. Kuharap selamanya kau adalah yang pertama dan terakhir untukku. Aku menunggu lamaranmu!
Saranghaeyo, Kim Myung Soo.
With Love,
L S Y"
.
.
.
E-N-D
.
.
.
안녕
Ini FF MyungYeol pertama saya. Ini bukan FF comeback. Ini hanya salah satu delusi saya tentang couple ini. Maaf jika feelnya kurang. Maaf jika berantakan. Maaf jika FF ini tidak bagus. Saya hanya menyalurkan apa yang ada diotaknya. Maaf jika banyak typo bertebaran. Terlalu lama tidak menulis membuat tulisan saya seperti ini. Ya, karena menulis hanya sekedar hiburan untuk saya.
Saya hanya berharap FF MyungYeol pertama saya ini berkenan untuk dibaca. Maaf jika delusi saya terlalu berlebihan /bow/. Sampai bertemu di lain waktu dengan FF yang lain.
Bekasi, 10 September 2014
5:08 am
With love,
lvoejr
