A STORY ABOUT YOU
.
.
Original Chara: Tite Kubo
Story: Ayra el Irista
WARNING:
OOC, AU, GAJE, TYPO(S), Abal, Kacau, Membosankan, Bahasa ngawur,
Tanpa Pemeriksaan Ulang dan Dan seterusnya dan seterusnya...
Rated : M (for safe)
Pairing: Almost all characters in Watch in Time
.
.
.
Chapter II
~Rukia's Side Story~
Pangeran Labu
Hai—aku Rukia. Ya, kau benar. Aku keturunan bangsawan Kuchiki. Apa? Tsundere? Apa kau gila?!
Baiklah—mungkin sedikit. Mungkin kau akan lebih parah dariku jika merasakan posisiku saat ini. Jangan memutar bola mata tak percaya!
Bayangkan apa yang akan kau rasakan ketika terlempar ke dunia sihir dan menikah di usia tujuh belas tahun bersama pangeran—errr, lelaki mesum yang sangat menyebalkan. Kau akan menjambak rambutmu sampai habis.
Seperti saat ini, satu lagi lemari sedang dari pohon oak yang menjadi target pelampiasan tatapan kesalku. Setelah kursi panjang dengan bantalan empuk dan meja sudut yang semuanya—milik Ichigo Kurosaki, suamiku.
Dia memindahkan barang-barangnya ke kamarku setelah kami resmi menikah. Membuat Raja Isshin tak bisa mengabulkan permintaanku untuk tinggal terpisah berkat argumennya yang tak bisa kukalahkan. Terima kasih Tuhan. Kau memberikan suami berotak encer melebihi diriku.
"Aku tidak percaya kenapa kita harus tinggal sekamar saat tak pernah akrab sama sekali." cibirku bersedekap setelah acara pindahan selesai dan meninggalkanku bersama Ichigo berdua saja dalam kamar. Ia menoleh. Masih berdiri dengan lembaran kertas ditangannya.
"Bukankah kau sudah dengar alasannya?" Ia mengernyit. Lalu kembali membaca hingga aku mendengus.
"Untuk melindungiku?" Suara sinis keluar begitu saja. Menadah kesal yang berkecamuk. "Dari apa? Kau adalah ancaman paling berbahaya untukku."
Dan Ichigo menengadah. Meletakan laporan di atas meja lalu bersedekap. Seolah memamerkan lengan kekar terbentuk sempurna dan tubuh panjang di balik jubah hitam yang ketat.
"Jika yang kau maksud itu adalah tentang aku yang akan menyentuhmu atau tidak maka kurasa kau tahu sendiri jawabannya." ungkapnya menatap serius seolah aku adalah gumpalan daging tanpa bentuk yang berwarna hitam gosong di atas piring. "Apa kau cukup yakin untuk membuatku tertarik?"
Lalu ia berbalik. Memilih laporan dengan teliti tanpa menghiraukanku lagi. Dan, yah—aku benci kekalahan. Itu belum muncul dalam prinsipku—mengalah saat kau punya kekuatan untuk memukul balik. Dan mau tahu siapa yang akan muncul sebagai pemenang? Egoku memerintah untuk mencoba.
Dengan senyum culas, kulempar jepit bermanik memukul punggungnya. Membuat Ichigo berjengit dan melirik perias rambut yang kini sudah tergeletak di lantai. Dan rambut dengan wangi lilac bergerai.
Berjalan mendekat, kulempar sepatu kaca ke arah kiri—seperti bola bowling. Diikuti pasangannya yang kini berhenti di dekat kaki Ichigo dan dia mulai terganggu. Berbalik kemudian menatap penuh kernyitan saat jemariku dengan luwes membuka jubah kerajaan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mengikuti katamu."
Ia menaikan dua alisnya yang semula menyatu.
"Sejak kapan kau menurut?"
Aku tersenyum. Sutera dengan bulu di bagian leher meluncur dan tertinggal dibelakang. Sementara godaan yang lain masih belum selesai.
"Kau yakin akan hal itu?" tekan Ichigo merasa aneh. Mengikuti satu lagi lapisan gaun terluar yang kutarik. "Percayalah—penyesalan akan datang jika kau melakukannya. Pakai lagi." tuntut Pangeran Labu menunjuk gaun dan menatap tajam. Seperti dia adalah ayahku yang melotot begitu melihat guci kesayangannya kuangkat tinggi-tinggi karena gagal pergi ke taman bermain.
Lalu seperti halnya kupecahkan tangis karena merajuk, kulepas juga sutera berwarna hijau pupus dari genggaman dan—memukul telak. Tepat ke mata Ichigo yang sekarang berubah amber gelap. Menyusuri tubuhku yang memakai pakaian dalam pendek. Sebuah terusan mini yang masuk kategori—seksi.
Dan segalanya—berubah. Membalikkan posisi yang seharusnya dikontrol olehku. Menjadi milik Ichigo saat dia mulai menghilang tiba-tiba lalu muncul di belakangku. Membalikkan tubuh dan mengunciku dalam dekapan kencang. Terkesiap pada senyum jahil yang merongrong degub jantung.
"Sudah kukatakan kau akan menyesal, Rukia." Ia berbisik. Menggulirkan bola mata emas menuruni setiap jengkal wajahku. Secara perlahan. Bahkan lebih mematikan daripada sentuhan langsung.
Mata—hidung—lalu…
Aku memekik. Mencengkram jubah dengan kasar saat Ichigo mengangkat tubuh mungilku seperti kotak kardus kosong. Melayang tanpa beban. Berayun di bopongannya dan mendarat mulus di atas ranjang. Mencium bau bahaya.
"Jadi—" Ia mengurungku di antara dua lengan besar. Seperti burung murai kecil dalam perangkap. "Bagaimana aku harus menyelesaikan ini?" tanyanya menelengkan kepala dan baru kusadari—dia suka sekali berbuat jahil.
"Baiklah—" aku mengerjap dengan merona. Merasa sesak dengan himpitan yang tak nyaman. "Hentikan ini."
Sungguh—aku masih awam soal lelaki. Tak terbiasa untuk berdekatan meski yah—sudah melakukannya dengan Ichigo. Aksi menggoda itu hanya—bercanda. Kalau tahu akan berakhir buruk, aku tidak akan mau melakukannya. Dasar ego idiot! Bisa-bisanya kau menjerumuskan tuanmu ke dalam jurang mematikan.
Ichigo mengulum senyum. Sesuatu yang sangat kubenci karena itu membuat ketampanannya bergerak seperti speedometer dengan desakan nos.
"Kalau aku tidak mau?"
Aku menahan nafas. Mengepalkan jemari yang tertawan di dadanya saat wajah Ichigo cepat mendekat. Memejamkan mata dan menunggu bibirku tertekan basah. Tapi itu tak kunjung terjadi.
Kubuka mata perlahan—seperti mengintip Josh yang muncul untuk membunuh Renai di layar tv ketika menonton Insidious. Dan wajah mengerikan Josh berubah menjadi senyum simpul dari pria berambut orange dengan pipi tirus serta mata sekuning madu yang mengaduk-aduk isi kepala.
"Kau harus bergegas Gadis Landak. Dewan Agung akan datang sebentar lagi." peringatnya seperti membaca jadwal yang terlupakan. Lalu tujuan awal aku kembali ke kamar, terngiang bak daun teratai yang mengambang di atas kolam. Bergoyang-goyang.
Kukeluhkan kekalahan yang menjulang. Dan bersikap bijak dengan tak mengorek kesialan akibat ulah sendiri.
"Kalau begitu minggir."
Dengan tak terduga, Ichigo menekan bahuku yang akan bangun. Menyerang bibirku dengan lumatan singkat yang membuatku membelalak. Menganga kaget mendapati lembab yang terasa manis.
Lalu senyum kepuasaan terukir di wajah senangnya. Bertopang dan membiarkanku mengerjap.
"Aku suka pakaian dalammu yang ini." Ia mengecup hidungku yang memerah lalu segera bangkit. Berjalan keluar seperti tak terjadi apa-apa dan membekaskan raungan gila yang menggetarkan semua rambut di tubuh. Berdiri tegak seperti korban penodongan.
Dan aku—mulai detik ini, akan berpikir ribuan kali untuk menggoda suamiku sendiri—Pangeran Labu mesum!
.
.
.
Second side story XD…banzaiiii!
Jika ada yang bertanya (kalo ada, haha) setting untuk scene ini adalah setelah Ichigo dan Rukia menikah. Sebelum Dewan Agung datang. Ichigo buru-buru mindahin barangnya langsung ke kamar Rukia. #hahaha
Dan semenjak insiden itu, Rukia akan berpikir ratusan kali untuk menggoda Ichigo yang ternyata lebih mahir darinya XD #khekhekhe
Tujuan pembuatan side story untuk menceritakan scene-scene di Watch in Time yang ngga bisa diceritakan secara detail. Jadi reader bisa mengerti dan ngga bingung karena author selalu khilaf XD #mwehehehe
Dan ini untuk balasan review yang ngga login (ngga nyangka bakal ada yang review XD):
wakamiya hikaru: Hikaruuu-saaaaaan XD...hontou ni arigatou...
selalu meninggalkan jejak meski ini cuma side story #oh, author mewek banget
benarkah ngga terasa kalo itu Rukia? Ah, berarti pendeskripsian author kurang cihui...(_ _)" #gomen
padahal itu Rukia loh...yang di dalam mimpi Ichigo. Cuma selama mimpi Ichi ngga pernah liat wajah gadis berkerudung karena dia selalu memunggungi Ichi. Jadi pas ngeliat Rukia yang pake kerudung dan memunggungi dia, baru Ichi sadar Rukia gadis yang ia liat selama ini di dalam mimpi.
Hahaa...tapi maaf...mungkin memang deskripsinya kurang pas #nyengir
Terima kasih...akan terus di update. Hontou ni arigatou karena selalu review Hikaru-saaan...
Ja neee...(^_^)/
For the next chap, akan ada Orihime yang menceritakan tentang dia yang dipermalukan oleh Pangeran Mahkota Hueco Mundo. (main point from this side story)
So, see you soon (^_^)/
Babayyyyyy…!
