NARUTO Masashi Kishimoto
.
Warning: Chapter-chapter pendek, mungkin OOC.
.
Chapter 2
"Sakura, bisa kau layani pengunjung di meja 62? Tampaknya mereka sudah siap memesan makanan," pinta seorang gadis yang usianya tak jauh berbeda dengan Sakura.
"Baik!" seru Sakura. Dengan setengah berlari, ia melangkah ceria menuju meja yang ditunjuk.
Gadis tadi tersenyum melihat tingkah Sakura. Sambil meletakkan piring-piring kotor di atas baki, ia mengingat kembali pertemuan pertama mereka di lorong sempit itu beberapa hari lalu.
.
Hari itu, Hinata Hyuuga baru saja menyelesaikan belanja kebutuhan kafe yang dikelola sepupunya. Saat melintasi lorong, telinganya mendengar sebuah isak tangis. Sempat terlintas olehnya untuk tidak mengacuhkan suara itu, karena Neji sudah berulangkali menelepon dan memintanya bergegas kembali ke kafe.
Namun nuraninya berkata lain. Dilangkahkan kakinya yang mengenakan sepatu model mary-jane ke arah suara tadi. Betapa terkejutnya Hinata ketika menemukan sosok gadis terbalut gaun putih sedang menunduk tersedu.
Rambut merah mudanya penuh dengan keringat, begitu pula kulit putihnya. Telapak tangan serta kakinya penuh goresan-goresan luka. Kulit kering tampak menghiasi bibir yang masih terulas sisa lipstik berwarna merah.
Hinata segera menarik sebuah botol berisi air putih, berjongkok dan menyodorkannya pada gadis itu. Tanpa berkata apapun, Sakura menyambut botol dan menenggak isinya sampai habis tak bersisa.
"Terimakasih," ucapnya kemudian.
"Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi padamu?" Tangan mungilnya menyibak helai-helai rambut Sakura yang menutupi sebagian wajahnya. "Apa kau dirampok?"
Sakura menggeleng.
"Atau, jangan-jangan kau diper—"
"Ah, tidak. Ini tidak seperti yang kau bayangkan," jawab Sakura terkikik kecil.
"Ah, syukurlah. Ayo kubantu berdiri," ujar Hinata sambil meletakkan plastik-plastik belanjaan dan mengulurkan kedua tangannya. Sakura menyambutnya.
"Rumahmu dimana? Biar kuantar kau pulang." Hinata menepuk-nepuk debu di pakaian yang Sakura kenakan. Dari gaun mahalnya, Hinata dapat menebak Sakura adalah anak orang berada.
Sekali lagi Sakura menggeleng. Binar yang sempat muncul di bola matanya kini kembali meredup. "Aku tidak punya rumah."
Hinata mengernyitkan kening, tidak mengerti maksud ucapan Sakura. Bagaimana gadis kaya sepertinya bisa tidak mempunyai rumah? batin Hinata.
"Terimakasih untuk air putihnya." Sakura membungkuk dan segera memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.
"Hei, tunggu. Kalau kau tidak punya rumah, lalu kau tinggal dimana?" seru Hinata bergegas mengangkat belanjaannya dan menyejajarkan diri di samping Sakura.
Pertanyaan itu menyentak pikiran gadis berambut pink. Ia belum memikirkan dimana ia akan tinggal, bagaimana ia akan membayar sewa kamar, ataupun bagaimana ia akan membeli makanan. Sakura tidak membawa apapun saat ia melarikan diri. Tidak handphone-nya, tidak juga sepeser uang. Sudah tentu ia tidak akan bisa menghubungi teman-temannya.
"Entahlah," jawab Sakura singkat.
"Kau ini bagaimana sih? Berbahaya bagi gadis sepertimu kalau mondar-mandir tanpa tujuan jelas. Lagipula dimana kau akan tidur nanti malam? Tidak mungkin kau akan tidur di trotoar bukan?"
Sakura menghentikan langkahnya seraya menoleh pada Hinata yang melemparkan ratusan pertanyaan dengan pandangannya. Terus terang ia sedikit terperanjat akan kepedulian Hinata. Padahal pertemuan mereka belum genap sepuluh menit.
Dering telepon genggam di saku Hinata membuyarkan lamunan Sakura. Gadis berambut indigo itu tampak kesulitan membuka teleponnya dengan kedua tangan yang penuh dengan plastik-plastik berat. Sakura serta merta mengambil salah satunya untuk mempermudah Hinata menerima telepon.
Senyuman lebar tersungging di bibir merah mudanya sebagai tanda terimakasih dan segera menjawab panggilan. Senyumnya berubah menjadi senyum kecut ketika mengetahui Neji yang meneleponnya. Hinata mengusap-usap leher belakangnya sambil berkali-kali meminta maaf atas keterlambatannya.
"Baiklah," ucap Hinata usai menyelipkan kembali telepon di sakunya. "Kau ikut denganku saja ya. Di apartemenku ada kamar tidak terpakai, kau bisa tinggal di situ sementara."
"Eh? Tidak usah, tidak perlu. Aku bisa menemukan tempat sendiri. L-lagipula aku tidak bisa membayar sewa," tolak Sakura.
Hinata berkacak pinggang mendengar itu. Wajah lembutnya berubah menjadi serupa wajah seorang ibu yang sedang berdebat dengan anak gadisnya.
"Kau ini memang keras kepala ya. Begini saja, kau tinggal di tempatku dan kau bisa bekerja di kafe sepupuku. Dengan begitu kau bisa membayar sewa. Sementara itu kau bisa memakai bajuku, ukuranmu sama denganku kan. Bagaimana?"
Sakura terkekeh renyah. Nampaknya mereka berdua punya kesamaan. Sama-sama keras kepala. Akhirnya Sakura pun menyerah dan menggangguk.
Kali ini senyum puas mengambang di paras manis Hinata. "Kau bisa menceritakan kejadian yang membuatmu sampai di sini nanti. Tenang saja, aku tidak akan bilang pada siapa-siapa." Tangannya mengait lengan Sakura dan mereka pun segera melangkah menuju apartemen Hinata yang berada tak jauh dari lorong.
.
"Ah, bagaimana jika anda menambah salad sebagai sampingan? Anda bisa mendapatkan harga yang lebih murah jika membeli paket itu. Badan sehat, kantong pun sehat," ucap Sakura pada pengunjung kafe di meja itu.
Pasangan paruh baya yang ditanya saling bertatap pandang sebelum kemudian memberikan anggukan tanda setuju.
"Baiklah. Dua tuna sandwich, satu porsi kentang goreng, dua es lemon dan dua salad. Pilihan yang sangat tepat. Pesanan akan siap dalam waktu dua puluh menit. Mohon ditunggu." Sakura membungkuk dan membalikkan badan untuk menghampiri dapur.
Neji mendekati Hinata dan berbisik, "Kalau begini terus, kafeku bisa dapat omset yang besar. Dia sangat berbakat dalam marketing. Terimakasih sudah meyakinkanku untuk menerimanya bekerja di sini ya."
Neji mengerlingkan matanya pada Sakura. Gadis itu membalasnya dengan acungan jempol dan senyum yang lebar. Sementara Hinata hanya tersenyum dan mengangkat baki.
Ia bersyukur memiliki sahabat baru.
.
.
TBC
...
A/N: Ya sedikit lebih panjang kali ini, hehehe. Wah terimakasih buat fave, review dan mengikuti cerita ini ya #terharu. Ditunggu chapter selanjutnya ya.
