Setelah mengganti baju dan menyambar sejumlah uang, Eren mendekati pintu keluar untuk menjamah sepatu kets putihnya. Merasa ada sepasang kaki kecil yang menghampirinya, ia menoleh singkat.
"Tunggu, ya. Aku pergi ke konbini sebentar. Kau mau pancake, kan?" Selesai dengan simpul terakhir pada sepatunya, ia pun bangkit. "Tidak akan lama, aku segera kembali."
Eren mengusap kepala bersurai hitam yang terus menatapnya dengan raut deadpan.
"Ada sesuatu yang kau inginkan, Rivaille?" Eren sedikit membungkuk, berusaha mensejajarkan tubuh jangkungnya dengan si kecil di depannya.
Di balik wajah datar supernya itu, Rivaille terlihat menimang—masih dengan menatap wajah Eren yang menunggu.
"…Kare."
Sebelah alisnya naik. "Kare?"
Rivaille mengangguk singkat. "Iya. Kare sapi."
Eren mengulum senyum pada sang anak. "Oke, menu makan malam telah diputuskan kalau begitu."
Pemuda itu pun menarik gagang pintu rumahnya. "Kukunci dari luar, ya. Kalau ada apa-apa, gunakan kunci yang ada di atas meja ini."
Rivaille cukup mengangguk pelan menanggapi ucapan si brunette.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Bocah itu termangu saat melihat Eren tersenyum dan menutup pintu rumah. Ia menarik nafas singkat, merasakan udara dari luar ruangan yang sempat masuk mengisi paru-parunya. Sinar matahari yang sekilas terlihat merembes di antara celah ventilasi, Rivaille dapat mencium aroma basah yang khas.
"Hujan…"
Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama
Baby Sitter © Jeruk
Warning : OOC, AU, Typo(s), contain Sho–ai or BL, chaotically EYD
.
.
Enjoy!
Chapter 2
Eren menghela nafas lega merasakan kulitnya tertiup oleh pendingin ruangan begitu kakinya melewati pintu masuk konbini. Sekilas ia menyeka keringat yang nyaris masuk ke matanya. Terik di luar sana benar-benar tidak sopan, rasanya matahari berada persis di depan hidungnya.
Menggerek sebuah trolley yang tergeletak tak jauh dari pintu masuk, Eren mendorongnya dengan penuh sukacita ke arah food section. Tangannya lantas menyambar asal apa pun yang terlihat di sekitar jarak pandangnya—yang salah satu di antaranya adalah bahan-bahan untuk meracik kare.
Ia masih bersiul gembira saat menjarah beberapa produk diskon, sampai akhirnya selang beberapa detik kemudian wajah Eren mengerut drastis begitu ia berusaha menyeleksi tiga botol sirup berbeda rasa di kedua tangannya. Eren pun berpikir amat keras.
Yang mana yang lebih disukai Rivaille?
Secara magis Eren tersenyum sendiri begitu wajah miskin ekspresi anak itu muncul dalam kepalanya. Tak pernah terpikirkan berbelanja untuk orang lain akan semenyenangkan ini. Kalau boleh mengaku, ini pertama kalinya Eren menjamu tamu seperti ini di rumahnya—selain keluarganya—selama nyaris enam tahun ia menghuni apartemennya.
Apa, ya? Ia merasa cukup… excited.
"Ternyata benar Jaeger-sensei, ya."
Sebuah suara di sisi kanannya menarik atensi Eren. Ia sedikit mendongak, menemukan seseorang menatapnya dengan keranjang belanjaan di tangan.
"Kalau tidak salah—Kirschstein?" Eren mencubit dagu, berusaha menggali memorinya.
Menanggapi jawaban Eren, pemuda itu tersenyum saat namanya disebut.
"Dari jurusan arsitektur. Dua hari lalu Anda mengajar di kelas saya."
Eren tentu mengingat pemuda ini—Jean Kirschstein. Dengan torehan prestasinya yang menjulang bak petasan roket itu ia menjadi tiang harapan bagi seluruh rektor di universitasnya, Lebih-lebih dia juga lumayan populer dikalangan mahasiswi dan dosen wanita. Well, Eren sendiri mengakuinya—Jean memang kece badai.
"Ah, ya, senin ini pun aku yang akan masuk ke kelasmu. Sementara aku yang menggantikan Professor Pixis sebulan ke depan."
Dua bola mata Jean berkilat.
"Benarkah!"
Eren terlonjak, nyaris rugi dengan membanting ketiga botol kaca yang ada di tangannya saat suara mercon Jean mendadak berkoar antusiastic tepat di telinga kanannya.
Jean pun dibuat terkesiap sendiri dengan kelakuan absurdnya yang kelewat mencurigakan. Pemuda itu gelagapan, membentuk gestur menggaruk tengkuk yang sangat abnormal.
"Aaa…y—yeah, maksudku…begitukah?"
Kepala Eren akhirnya naik turun angguk-angguk setelah sempat tercengang sesaat. Tanpa sadar pemuda bermata emerald itu telah memeluk ketiga botol sirup berbeda rasa dengan gaya waspada.
Menyadari sesuatu dari respon anak didiknya itu, Eren langsung menuding tepat di ujung hidung si pemuda yang lebih tinggi. "Hei, tapi tugas dari Professor Pixis minggu lalu tetap akan dikumpul padaku, loh!" Ia mewanti-wanti dengan cengiran licik, menerka kalau-kalau Jean niat mangkir dari segepok tugas pembimbing seniornya itu.
"Haha. Kalau itu, sih, Anda tidak perlu cemas." Dengan bangga Jean menggosok hidung mancungnya.
Melihatnya, Eren pun tersenyum tulus.
"Hm, bagus."
Dan secara misterius Jean jadi terlihat merah dengan respon simpel Eren.
"Ja—jadi apa yang mau Anda lakukan dengan tiga sirup beda rasa itu, Jaeger-sensei?" Tidak mau yang lebih tua mengendus tindak-tanduknya yang makin meng-gaje, Jean lantas menunjuk sesuatu yang ada dalam pelukan Eren—mengambinghitami tiga buah botol sirup alih-alih sebagai distract.
Kedua mata hijau Eren pun menunduk menatap sesuatu yang ia dekap. "Mau kupakai untuk membuat pancake." Dan mendadak bohlam imajiner menyala di atas kepala Eren. "Oh, kebetulan. Menurutmu mana rasa yang paling enak? Cokelat, strawberry, atau blueberry?" Ia memperlihatkan kedua tangannya yang penuh.
Satu alis Jean menukik naik. "Seingat saya Anda tidak tertarik dengan makanan manis dan—buh!" Aksi menggampar bibir yang spektakuler dipersembahkan oleh si pemuda jenius.
Satu lagi gelagat Jean yang membuat Eren melengos keheranan.
"…Tahu dari mana—?"
"Sensei!" Jean tiba-tiba serius. tangan kekarnya mencengkeram sepasang bahu Eren yang secara otomatis langsung menciut. "A—ada baiknya kalau Anda beli rasa strawberry! Ya! strawberry! Rasanya memang manis, tapi juga bercampur asam! Segar sekali kalau dimakan saat cuaca sepanas ini! Benar 'kan, sensei? Iya, kan?!" Jean ngotot. Bola matanya pun berkilat mengancam di mata Eren.
Dalam sekejap mata Jean Kirschstein menjadi seorang pedagang gadungan serakah yang suka memeras konsumen untuk memborong lapak dagangnya.
Eren semakin tidak mengerti apa yang membuat muridnya ini jadi beringas dari pertanyaan bertema 'which flavor'.
"Kalau menurutmu begitu, aku akan ambil rasa strawberry…" Eren menaruh asal dua botol lainnya kembali ke rak dengan keringat bercucur tanpa melepaskan pandangannya dari sang murid. "Ya…rasa strawberry…" Ia mengulang tidak penting, dengan keduanya yang terus saling tatap dalam alur tempo yang sungguh awkward.
Eren merasakan dirinya sedang dibully secara terselubung.
Sadar kelakuannya telah melenceng dari undang-undang dasar dan norma asusila, Jean langsung lemas.
"Maaf." Serta merta tangannya di bahu Eren merosot dengan lunglai. Jean pundung tanpa sebab.
Eren setengah nyengir, jadi tak enak hati melihat wajah memelas penuh dosa di depannya.
Di tengah hiruk-pikuk kegaringan di antara mereka, tanpa sadar Eren melongok pada isi keranjang belanja Jean. Gumaman dari mulutnya pun meleset menyadari beberapa bahan-bahan dasar muffin ada di dalam sana.
"Mau membuat kue?"
Menyadari jalur pandang si asisten dosen, Jean ikut menatap bawaannya. "Ng..mungkin? Barang-barang ini permintaan ibu saya." Ia sekilas menggaruk kepalanya untuk menimbun perasaan grogi yang aneh. "Selain itu, Jaeger-sensei, darimana Anda tahu—?"
Suara tawa kecil Eren menginterupsi, menghanyutkan alam bawah sadar Jean yang berwajah pongo seketika.
"Dari tadi gaya bicaramu sopan sekali. Aku jadi tidak tahan." Sebuah tepukan ringan di bahu tidak berhasil mengembalikan Jean dari keterpongoannya.
Eren nyengir. "Santai saja. Kau bisa memanggilku Eren. Begini-begini aku juga kakak kelasmu yang masih satu almamater, tahu! Tidak perlu seformal itu."
Kali ini sebuah tinju menghantam lembut bagian dada kiri Jean yang cukup terkesiap.
Cengiran sumringah Eren mengalihkan kewarasan Jean.
"Eren.."
Dengan seenak perutnya Jean menyeletuk, menjajal panggilan baru itu pada pita suaranya.
Yang disebut pun tersenyum. "…ya?"
Ada kupu-kupu yang memenuhi isi perut Jean. Jantungnya bergetar karena sebuah kesenangan yang bahkan ia tidak yakin. Rasanya seperti seorang bocah yang baru saja berhasil menjawab pertanyaan dari sang guru dengan tepat untuk pertama kalinya.
Namun sekuat tenaga Jean menahan hasrat untuk tidak kembali menganiaya bibirnya dengan kepalan tangan, dan gelengan cepat menjadi aksi yang paling normal.
"Bukan apa-apa…"
Eren membuka mulut, baru saja ingin menanggapi kalimat Jean saat seekor makhluk kerdil nampak berlarian melewatinya beserta seorang wanita yang mengejar di belakangnya dengan senewen.
—mengingatkannya pada seorang anak kecil yang ia kunci seorang diri dalam rumahnya.
Eren menepuk jidat.
"Shit! Aku harus bergegas!" Dengan cekatan tangannya kembali menggerayangi rak makanan, mencomot beberapa bahan yang ia butuhkan. Ia menoleh singkat pada muridnya yang masih mengekor di balik punggungnya. "Omong-omong kau sudah selesai dengan belanjaanmu?"
"Ya, kurasa."
"Bagus!" Eren menjerit kegirangan. Jari telunjuknya mengarah pada rak makanan yang ada di lorong sebelah. "Bisa bantu aku ambilkan gula, susu bubuk cokelat, daging sapi, merica, dan saus tomat? Ng…kalau kau tidak keberatan, sih." Habis mencecar, Eren menggaruk kepalanya dengan tidak tahu malu.
Melihat sekilas tingkah keibuan Eren, bibir Jean jadi menukik ke atas. "Tentu. Lagipula s—aku juga sudah selesai."
Dan naik jabatanlah Jean menjadi pembantu umum yang bersahaja hari ini.
Setelah kebat-kebit ngepot menuju kasir, pekikan horor Eren berkumandang melihat antrian sejuta umat yang memanjang delapan meter. Mata hijaunya makin terlihat nelangsa menyaksikan masing-masing orang punya lebih dari satu trolley untuk dihitung tunai. Salahkah kalau tempo hari adalah awal bulan dimana pundi-pundi uang gaji telah turun?
Tidak bisa mengamuk dan tidak punya kemampuan untuk merusuh—salah-salah dia yang akan ditimbun oleh semua trolley itu—yang Eren mampu lakukan cuma menggigiti jarinya dengan gahar di ekor barisan. Jean yang ada bersamanya hanya bisa mempuk-puk punggung Eren yang tidak sabaran.
Dan setelah perjuangan mengantri yang menghabiskan waktu lebih dari satu jam, juga kocek kesabaran Eren, nasib baik tetap tidak mau menghinggapi dirinya yang dilanda gundah gulana.
Eren ingin sekali—beneran kepingin, sumpah!—berlutut di tengah guyuran air pada lahan parkir sambil berteriak 'mengapa ibuuuuu?!' saat ia melihat hujan topan berhasil membengkokan payung-payung khalayak di luaran sana.
Dia yang amnesia atau salah merasa kulitnya terbakar matahari saat sebelum masuk konbini?
Eren jadi semakin yakin kalau tanggal muda adalah hari sialnya.
Masa kegalauannya terusik dengan kemunculan stick hijau yang disodorkan Jean padanya.
"Eren, kau bisa pakai payungku."
Eren kedip slow motion dengan segala kepolosannya.
"Lalu kau?" Di antara tumpukan karung belanjaan di tangannya, telunjuk Eren menyelinap, mengarah pada tubuh Jean.
"Aku bisa tunggu sampai reda. Kau buru-buru, kan?" Jean berujar santai. "Pakai saja." Ia menawarkan lagi payungnya yang sekarang sengaja ia buka agar bisa langsung digunakan.
Oh…seandainya saja Jean tahu, di mata Eren sosoknya kini terlihat dihujani sorot lampu yang menyilaukan dengan backsound dentangan lonceng perdamaian dan iring-iringan nyanyian burung camar.
Tapi kembali pada realita. Mereka baru saja menjadi saksi hidup saat seorang pria paruh baya nyaris terbang bersama payungnya. Eren benar-benar mau bersumpah kalau barusan juga ia melihat seekor kucing melayang beserta gumpalan keresek belanja.
Ia beralih pada payung hijau di tangan Jean. Yang ada payung ini nantinya hanya tinggal nama.
"Aku menghargai tawaranmu, tapi…" Eren sweatdrop. "pakai tidak pakai, aku tetap akan basah sepertinya."
Eren sekilas mengencangkan mantel cokelatnya. Ia tidak tahan membayangkan Rivaille yang sendirian dalam rumahnya di hari badai begini.
Apakah anak itu sedang menangis di sudut ruangan dengan kaki terlipat? Atau kilat tak memekik di langit membuatnya bersembunyi dalam lemari di kamar? Dan yang terburuk, Rivaille menggunakan kunci cadangan di atas meja lalu—
Kelamaan membayangkan yang tidak-tidak membuat kepala Eren berasap saking parnonya.
Yang lebih tua menoleh kilat. "Kalau begitu sampai ketemu besok—"
Eren langsung ngacir setelah sebelumnya ia memasang ancang-ancang lari sprint.
"—Jean!"
Sang murid terpana saat nama kecilnya disebut. Dan sebelum Jean sempat mencegah aksi nekat Eren, tubuh itu telah ditelan hujan yang menyamarkan apa pun dalam radius lima meter.
"…Eren."
Jean berbicara dengan udara beku. Panggilan itu terasa enak dalam mulutnya—dan nampaknya ia mulai ketagihan.
.
.
.
Dengan tubuh berkeringat yang menyatu dengan guyuran air hujan, Eren cepat-cepat memutar kunci apartemennya dengan tidak sabaran. Kepanikan yang tak beralasan membuat isi kepalanya berantakan dan blank, sampai-sampai ia lupa dengan teknologi terkini bernama lift di sudut bangunan dan lebih memilih memanjat anak tangga untuk mencapai kamarnya di lantai lima.
Tangannya yang menggandeng sekantong daging sapi dan gula pasir mendobrak anarkis pintu kayu rumahnya dengan tenaga kuli. Serta merta Eren pun menerobos masuk.
"Rivai—!"
Eren sesak nafas dalam sekejap. Mata hijau itu berkilat kaget. Mulutnya terbuka sedikit, dan hidungnya kembang-kempis mengerikan. Kantung belanja di kedua tangannya bersatu dengan lantai kayu saat tangannya mendadak terasa melemah.
Dengan langkah gemetar ia mengayun kakinya menelusuri lorong sempit apartemennya. Dan sepasang bibirnya yang bergetar itu pada akhirnya menciptakan jebolan lengkingan yang memekakan gendang telinga.
"KOK!"
Wajah Eren yang berekspresif pun zoom in zoom out menyaksikan rumahnya yang busuk kini mengkilap dalam sekejap.
Mendadak Eren autis, celingukan mencari-cari tumpukan koran usang yang biasa mejeng di sekitar pintu masuk. Tangannya pun meraba sepanjang dinding yang bebas dari sentuhan debu. Langkahnya berputar-putar saat sepasang matanya memindai isi ruangan yang sudah tertata sedemikian apiknya. Eren tidak sadar kalau sekarang ia sudah tidak kesulitan melangkah lagi dengan kantung-kantung sampah yang tadinya bergelimpangan di tiap titik rumahnya. Ayunan kakinya berhenti, lalu pemuda itu pun mendongak dengan mulut menganga saat ia menerka kemanakah perginya Jack and his big family yang membangun sarang di sepanjang lorong. Yang ini maksudnya kerumunan spesies laba-laba yang dengan semena-mena telah dianugerahi nama oleh Eren.
Menoleh ke kiri dan—
"Oh my goat!"
Spontan Eren menabok pipinya sendiri saat menemukan dapurnya shining dan bebas dari gerombolan piring kotor dengan noda membandel. Eren berbinar mendapati pantat panci gosongnya yang berkerak telah mengkilap.
Suara pekikan tertahan tiba-tiba terdengar. Eren buru-buru menoleh ke ujung lorong yang gelap tapi wangi—sekedar mendapati sebuah kain basah hinggap di wajahnya.
Siapa lagi kalau bukan Rivaille as pitcher.
Surai legam anak itu terhalangi oleh sesuatu yang terlihat seperti serbet bersih yang ia jadikan bando di sekitar kepalanya. Kain putih yang kelihatannya digunakan sebagai masker melorot hingga ke dagu mungilnya yang berkerut saat sepasang pipinya mengembang. Yang jelas, wujud mini yang terlihat merajuk di seberang sana dengan setelan ala helper-nya mampu mengundang auman maniak dari para lolicon.
Semburan nafas lega dari mulut Eren melesat saat menemukan anak itu baik-baik saja dan—eh…? Terlihat bengis menatapnya. Dari kerutan di wajah gembilnya, anak itu nampak seperti mau menerkamnya bulat-bulat.
Eren menghampirinya dengan lengan terbuka. "Hooh! Syukurlah kau tidak—"
Kini ganti bocah itu menyambit sandal bulu yang ia pakai—strike mengenai hidung Eren.
"Apa!" Eren sengit.
"Benahi!"
"Apanya—?"
Bak tongkat Harry Potter yang maha canggih, dengan telunjuknya yang teracung Rivaille menyihir mulut Eren untuk segera bungkam. Jari mungil itu menuding Eren—yang refleks menunjuk dirinya sendiri—kemudian turun ke sepatu kets-nya yang penuh lumpur, serta jejak becek tak beradab yang berasal dari pintu masuk. Bonus lebihnya, pintu yang masih menganga itu membiarkan muncratan hujan angin di luar membanjiri seisi lorong.
"Ooh…hehehe."
Yang lebih tua cengengesan dengan tampang konyol sambil menggaruk kepalanya yang lepek.
Pangkal hidung bocah itu mengkerut. Rivaille menghadap ke kanan, meraih keranjang sampah besar terdekat dan mengangkatnya dengan kaki gemetar. Bidikannya ada pada kepala Eren.
"Yes, sir!" Eren memberi hormat dengan sigap, kelabakan setengah mati melihat besi silindris itu terangkat di atas kepala sang bocah.
Eren pun mulai mempertanyakan kebenaran. Jadi sebenarnya siapa, sih, tuan rumah tempat ini?
Ia buru-buru mencari lap kain untuk menghapus ceceran jejak dosanya di lantai. Dan matanya pun tertumbu pada selembar kain lembab yang menggelepar di dekat kakinya—bekas timpukan di wajah dari bocah itu.
Eren mengibas kain berwarna gelap itu untuk mengurangi kadar airnya, lalu matanya membelo begitu menyadari lambang tengkorak di bagian tengah kain yang ia pegang.
The hell, itu kaos favoritnya yang ia beli seharga uang makan tiga hari!
Dan di sanalah Eren, berlutut meratapi kaosnya yang ternodai di sana-sini dengan lubang kecil di ujung. Ia makin kepingin mewek begitu sadar kain di kepala anak itu, dan keset di bawah wastafel dapur adalah kemeja kerja miliknya yang minggu kemarin baru ia beli.
Inilah bayaran yang ia dapat karena mempekerjakan anak di bawah umur.
.
.
.
Selesai mengusir tapak lumpur dan rembesan air hujan di sepanjang lorong, serta menyeka linangan air mata dengan kaos kesayangannya yang sudah tidak perawan, Eren kembali memasuki rumahnya yang terlihat bukan rumahnya lagi—setelah melepas sepatu tentunya. Langkah gontainya berakhir di kamar mandi. Ia menabur sabun cair seenaknya sebelum memenuhi bathtub dengan air hangat. Jemarinya dengan malas melucuti mantelnya yang penuh cipratan lumpur di bagian belakang, disusul dengan kaos dan celana jeansnya yang sudah terasa berat.
Setelah mengganti pakaiannya, Eren melongokkan kepalanya yang tertutup handuk pada sosok kecil yang sedang menanggalkan atribut kebersihannya di sudut dapur.
"Aku sudah siapkan air panas. Kau mandi dulu saja. Tubuhmu penuh debu, tuh."
Awalnya Eren menyiapkan air untuk dirinya sendiri, berhubung bulu romanya sudah bangkit dan tubuhnya mulai menggigil efek bermain bersama hujan beberapa menit lalu. Ia sudah kelewat gatal kepingin merendam tubuhnya dalam air hangat. Tapi sungguh ia tak tega melihat anak itu sedikit-sedikit terbatuk atau bersin pasca kerja berat menggeprak isi rumahnya.
Melihat batang hidung Rivaille yang menghampirinya, Eren menyerahkan handuk bersih sebelum menggeser tubuhnya dari pintu kamar mandi.
"Aku akan buatkan pancake. Jadi setelah kau selesai mandi kita bisa makan sama-sama."
Eren mengusap kepala kecil itu dengan lembut. Ia berjongkok perlahan. Senyum bangga ala bapak-bapak pun merekah di wajah tampannya.
"Terima kasih atas kerja kerasnya. Kau anak hebat."
Eren akhirnya mengakui, anak ini selain menyebalkan tetapi juga vacuum cleaner berjalan dengan daya hisap mutakhir yang multi fungsi.
Oh, beginikah rasanya memiliki seorang adik lelaki?
Menatap wajah gembira pria dewasa di depannya dengan raut celong, Rivaille mendengus halus.
"Ini tidak gratis."
Setelah menampik tangan raksasa yang bertengger di kepalanya, si kecil pun menyeloyor begitu saja, dan menutup pintu kamar mandi dengan suara keras tepat di bokong Eren yang masih bersedekap.
Tadi Eren sudah mengakuinya, kan? Anak ini memang menyebalkan…
Berupaya untuk tidak mengambil pusing dan mengubur dalam-dalam ekspresi gemasnya pada si kecil, Eren bersiul menuju dapur dan mengacak hasil berburu kilatnya di konbini pagi ini. Yah—Eren lumayan memakluminya, kok. Usia seumur Rivaille ini sedang dalam fase pemberontakan.
Alis Eren mengembang karena pemikirannya barusan. Katakan, memang usianya berapa, ya?
Menghempas pemikirannya yang tidak penting itu, ia memasuk-masukan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas yang—Wow! Sudah tidak berbau amis lagi seperti dulu. Susu kadaluarsa yang sudah seminggu mendekam di dalam lemari es pun telah raib dimusnahkan.
"Jangan-jangan anak itu utusan dari instansi kebersihan dan pemukiman rumah tangga?" Eren mulai melantur.
Setelah mengambil beberapa peralatan masak dari rak piring yang tersusun dengan sangat rapi, ia menuangkan tepung dan beberapa ingredient lainnya ke dalam sebuah mangkuk besar, lalu mengaduknya dengan lugas.
Begini-begini Eren terampil dalam memasak. Di samping tuntutan hidup sebatang kara di dalam apartemennya dalam waktu yang cukup lama, ia hobi mengacak resep-resep partiseri.
—Lebih tepatnya bereksperimen.
Sebelum adonan harum berwarna creamy itu mendarat di atas teflon panas, telinga Eren menangkap suara gaduh dari ruangan yang bersisian dengan dapur. Seperti suara jatuhnya botol deodorant miliknya dan—
DAK!
"Rivaille!"
Spontan Eren membanting mangkuk adonannya dan berlari ke kamar mandi. Tanpa pertimbangan apa pun ia segera memutar knop pintu yang untungnya tidak terkunci.
Tebakan Eren tepat sasaran. Peralatan di meja wastafel berhamburan di lantai. Gel rambutnya terlihat tengah terbenam di dalam kloset. Eren melotot. Salah satu benda hidup selain dirinya terlihat terjengkang di sudut ruangan. Satu kakinya ada di dalam bathtub, sedang kepalanya hinggap di lantai sisi wastafel.
Pemuda yang langsung histeria itu buru-buru meraih Rivaille yang sama sekali tidak berkutik di tempat.
"Hei, hei…kau baik-baik saja, kan?"
Eren menarik tubuh ringkih itu dalam pangkuannya. Ia langsung mengecek wajah Rivaille yang masih diam. Eren banjir keringat. Anak ini belum tewas 'kan, ya?
"Rivaille, katakan sesuatu?" Eren menepuk lembut pipi anak itu. "Biar kulihat, yang mana yang sakit?"
Rivaille termenung. Mata sipitnya mulai digenangi air mata.
Eren pun kelabakan.
"Wah, coba lihat! Tidak sampai berdarah, lho! Rivaille punya kepala super, ya! Hahaha!"
Gurauan Eren dicueki mentah-mentah. Bocah yang hanya mengenakan celana dalam putih dengan gambar batman di bagian bokong nampak setengah mati menahan air matanya agar tidak leleh. Di saat-saat beginilah Eren baru salut pada kepala batu anak ini.
Eren berusaha menenangkan anak yang masih berjuang untuk tetap stay cool dengan mengusap punggung kecilnya. Mata hijau pemuda itu beralih mengarah pada spot perkara. Ada sisa sabun cair yang tumpah di sana. Dan Eren pun mengerang penuh sesal begitu sadar akan dosa-dosanya pada anak polos di pangkuannya.
"Maaf, Rivaille…"
Tangan besar itu membungkus Rivaille kecil yang terdiam. Wajah yang melesak pada dada pemuda itu menerima usapan lembut di bagian belakang kepalanya. Eren menenggelamkan wajahnya di antara surai gelap beraroma apel itu—terus berujar 'maaf' tanpa batas.
Ada perasaan familiar saat Eren memeluk dan menyentuhnya. Rivaille memejamkan matanya, tanpa sadar bergelung dalam dekapan pemuda itu.
Somehow, ia merasa nyaman dan aman.
Rivaille yang tidak mengerti nampak rileks sambil sesekali mengeluarkan suara sesenggukan halus sebelum Eren berbisik.
"Sepertinya aku yang menumpahkan sabun di sana…"
Setelah mengaku dosa, kini giliran Eren yang mewek.
Dan sebagai ganjaran, ia menerima sodokan telak tepat di ulu hati.
"Dasar sial."
Ouch!
-tbc-
A/N : Well, habis nulis scene ngantri di konbini, saya jadi merasa kena karma (ngalamin hal yang sama kemarin) ketula sama Eren T .T)a… Awrait, jadi ada slight JeanEren di sini XD (maaf, ini efek ngidam berat).
pindanglicious, katak, Rivaille Jaegar, rosecchin, Tomatoes, ayakLein24, Arillia Ryodan, Kazenokami123, Guest, AoiHana26, Kuas tak bertinta, black roses 00, Fujisaki Fuun, IsyPerolla, Mie Ramen, LeadenBerry, Carnivean Sonneillon, akihiko .fukuda .71
Kalian….sankyuu sankyuu sankyuu! X"D (kasi pelukan super titan sekaligus) Review-nya bikin senyum, nyengir, ngakak, dan nangis haru dalam waktu yang sinkron(?) :D
Thanks for reading, brothers! XD
Reviews are loved!
