Chapter 2
Wajar jika chanyeol bersikap protektif pada baekhyun, baekhyun memang merupakan seorang werewolf, tapi dia belum bertransformasi secara sempurna sehingga membuatnya cukup lemah bagi seorang werewolf sepertinya. Bulan purnama yang akan datang adalah malam purnama yang mengharuskan baekhyun untuk menyempurnakan transformasinya, tapi ada sesuatu yang mengganjalnya, pasangan. Baekhyun harus mempunyai pasangan untuk menyempurnakan transformasinya, itu adalah salah satu syarat bagi werewolf betina seperti baekhyun, berbeda dengan werewolf laki – laki yang harus melewati masa transformasinya sendiri. Tak adil dan diskriminasi memang, tapi itulah kenyataan yang harus dijalani untuk kaum werewolf. Transformasi terakhir akan sangat berbeda dari transformasi sebelumnya, akan lebih sulit untuk mengendalikan transformasi terakhir ini, bahkan kematian hal yang paling ditakutan bisa terjadi dalam transformasi ini.
Berkali – kali chanyeol telah meminta baekhyun untuk menjadi pasangannya, namun berkali – kali juga baekhyun menolaknya. Kalian bingung mengapa chanyeol harus meminta ijin pada baekhyun untuk menjadi pasangannya? Itu semua karena chanyeol seorang alpha dan baekhyun seorang omega. Pasangan chanyeol telah dipilih oleh tetua kaumnya, tentu saja dari kawanannya sendiri, walaupun chanyeol bisa bersikap semaunya tapi untuk soal pasangan, semua sudah diatur oleh tetua. Jika chanyeol menginginkan baekhyun sebagai pasangannya baekhyun harus menjadi bagian dari kawanan chanyeol, dan artinya baekhyun harus meninggalkan kedua orangtuanya, tapi jika tidak, chanyeol tetap harus mematuhi aturan yang telah dibuat. pasangannya adalah yang telah tetua pilihkan untuknya.
" masuklah " ucap chanyeol, sambil membelai rambut baekhyun, mereka sudah sampai di pelataran rumah milik baekhyun namun gadis itu, tak bergeming se inchi pun dari tempatnya.
" Yeol…"
" masuklah, udara cukup dingin malam ini " ulang chanyeol, ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan kekasihnya itu. ia tak ingin mendengar sedikit pun apa yang akan di ucapkan baekhyun.
" aku akan melewati transformasi itu sendirian " ucap baekhyun
" masuklah " ucap chanyeol dingin, ia sedang berusaha menahan amarahnya sekarang
" bukankah pasanganmu akan bertransformasi di waktu yang sama denganku, kau harus bersamanya chanyeol.
" Dia bukan pasanganku, kau adalah pasanganku tak ada yang lain hanya kau. masih ada waktu hingga purnama berikutnya untuk kau berpikir baek~ "
Baekhyun hanya bisa diam, benar apa yang dikatakan chanyeol masih ada waktu untuk berpikir hingga purnama berikutnya. Hatinya sesak jika mengingat mengingat bahwa waktu transformasinya kurang dari tiga puluh hari lagi, ia harus segera mengambil keputusan sebelum semuanya terlambat dan menyesalinya. Baekhyun menatap punggung chanyeol yang menjauh, rasanya terlalu berat jika ia harus meninggalkan kekasihnya tersebut.
" Mengapa kau tak mengajaknya masuk, sayang ? " sebuah suara menginterupsi baekhyun ketika ia memasuki rumahnya.
" eomma…" ucapnya pelan, ia tidak menyangka jika ibunya belum tidur selarut ini, baekhyun segera menghambur ke pelukan ibunya
" Apa yang terjadi ? " tanya sang ibu sambil mengecup pucuk kepala putri semata wayangnya, ia tidak bisa membaca pikiran putri tunggalnya tersebut mengingat baekhyun mempunyai kekuatan pengendalian diri yang cukup kuat. Hanya chanyeol yang bisa membaca pikirannya karena mempunyai kekuatan yang sama dengan baekhyun. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut baekhyun, yang ada hanyalah baekhyun yang semakin menenggelamkan dirinya di pelukan sang ibu.
" sssst tenanglah…semua akan baik – baik saja " ucap sang ibu ketika tiba – tiba saja sebuah isakan lolos dari mulut baekhyun, bahunya bergetar menandakan jika saat ini putrinya sedang menangis. " sekarang beristirahatlah, kau ada ujian besok " ujarnya, mencoba mengalihkan pembicaraan, ia menuntun baekhyun ke kamarnya.
" apa yang harus aku lakukan eomma… " ucap baekhyun dengan suara parau, menandakan jika gadis ini habis menangis. Hanya kesunyian yang memenuhi kamar baekhyun, tak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya. Ibu baekhyun tidak bodoh, juga bukan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan putrinya. Hanya saja ia sedang tak ingin membahas soal ini sekarang. Gadis kecilnya sudah menjadi dewasa. sudah waktunya ia melepaskan putri kecilnya untuk menentukan jalan kehidupannya sendiri.
" semuanya akan baik – baik saja, tenanglah. Apapun yang akan terjadi semua untuk kebaikanmu " ucapnya pelan karena kini baekhyun sudah tertidur pulas dalam dekapannya. Bekas air mata yang mengering tampak jelas di raut wajah baekhyun, dengan pelan ia mengusap surai hitam milik baekhyun, ia tak ingin mengusik tidur baekhyun. Juga tak lupa, ia merapihkan poni yang menutupi wajah anaknya sebelum akhirnya ia mengecup pucuk kepala baekhyun.
" apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu " bersamaan dengan itu, tak terasa setetes air mata keluar dari sudut matanya. " Jaljayo~ "
.
Pikiran baekhyun benar – benar kacau hari ini, untunglah pikirannya yang sedang bercabang tak terlalu mengganggunya untuk mengikuti ujian hari ini. Ia masih bingung tentang keputusan apa yang harus dibuatnya. Mata baekhyun sibuk melihat sekitar, siapalagi sosok yang ia cari selain chanyeol. baekhyun menghembuskan nafas pelan, pasalnya sejak pagi hingga siang ini baekhyun tak bisa menemukan sosok yang dicintainya.
" Baekhyun " teriak seseorang, dengan segera baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik ia sudah kenal betul dengan suara si pemanggil. Siapa lagi jika bukan kyungsoo.
" kyungsoo – ah " sapa baekhyun, dengan senyum manis
" kau pulang sendiri ? "
" nde…" jawab baekhyun masih dengan senyumannya
" kemana chanyeol?mengapa dia tidak mengantarmu pulang? " pertanyaan demi pertanyaan terucap dari mulut sahabatnya itu, ia cukup heran karena biasanya baekhyun akan selalu pulang bersama chanyeol, bahkan mungkin satu sekolah sudah mengetahui kebiasaan mereka. Semua murid kelas 3 mungkin tahu hubungan chanyeol dan baekhyun, maklum saja baekhyun dan chanyeol dikenal dengan pasangan yang serasi.
" molla~ aku baru saja akan menanyakan kemana chanyeol pergi hari ini padamu. Tapi sepertinya kau juga tidak tahu "
" nde, aku tidak tahu kemana dia pergi, aku juga tidak melihatnya hari ini " jelas kyungsoo. " baekhyun – ah, apa terjadi sesuatu di antara kau dan chanyeol "
Baekhyun menggeleng, bukan ia tidak ingin memberitahu hanya saja ia masih cukup bingung. Kyungsoo hanya mengangguk paham. Mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama dengan berjalan kaki, hanya obrolan – obrolan ringan yang mereka bicarakan, baik kyungsoo maupun baekhyun tak membahas chanyeol dalam pembicaraan mereka.
" aku pulang~ " ucap baekhyun ketika ia sampai di rumahnya, namun tak ada jawaban. Yang didapatinya adalah rumah yang sepi seperti tak berpenghuni, dan memang benar saja baik ayah maupun ibunya sedang tak berada di rumah. Baekhyun segera memasuki kamarnya, ia cukup lelah hari ini. Dengan sembarang ia melempar tas nya, dan merebahkan diri di atas kasur empuknya, hingga akhirnya ia tetidur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu.
.
.
.
" ada apa eommoni ingin bertemu denganku ? " tanya chanyeol sopan, pada perempuan paruh baya yang kini tengah duduk di depannya.
" maafkan aku yang memintamu untuk datang kemari, kau mungkin sudah tahu maksud dari kedatanganku. Aku tahu kau mungkin akan menolaknya, tapi aku mohon padamu kau mau menuruti keinginanku demi anakku " mohon wanita paruh baya yang duduk di depannya.
" dia tidak akan menyetujui hal ini eommoni, aku tahu siapa dia "
" aku mohon padamu chanyeol- ah, sudah cukup aku kehilangan satu putriku dan aku tak ingin kehilangannya lagi. Kumohon bantulah aku"
" aku ingin dia sendiri yang memutuskan, walaupun itu akan menyakiti diriku tapi setidaknya ia mengambil keputusannya sendiri.
hening melanda keduanya, mereka sibuk dengan pikirannya masing – masing, hingga wanita paruh baya itu kembali membuka suaranya. " Kumohon lakukan ini bukan karena ku, lakukan ini dirimu dan juga anakku…baekhyun"
" aku sudah kehilangan seo rin saat ia melakukan transformasi terakhirnya, karena ia telah mengambil keputusan yang salah. Dan sekarang aku tak mau kehilangan baekhyun, hanya karena ia mengambil keputusan yang sama seperti yang kakaknya lakukan "
" aku mohon " ucapnya sambil berlutut di hadapan chanyeol, membuat mata chanyeol terbelalak lebar atas tindakan ibu kekasihnya tersebut.
" eommoni jangan seperti ini, aku mohon…" chanyeol mengangkat tubuh ibu baekhyun untuk kembali ke tempat duduknya, wanita itu sudah terisak sekarang.
Chanyeol hanya diam dan mencoba menenangkan ibu baekhyun.
" bawalah baekhyun bersamamu, walaupun ia tidak bisa menjadi seorang alpha setelah menjadi pasanganmu tapi setidaknya aku masih bisa melihatnya hidup bahagia bersamamu. Aku tak ingin ia mati sia - sia" ucapnya sambil terisak
Sebenarnya sudah dari dulu chanyeol meminta baekhyun untuk masuk ke dalam kawananannya, ya walaupun status manusia serigalanya tak akan mungkin bisa berubah dari omega menjadi alpha, tapi setidaknya ia memiliki baekhyun sebagai pasangannya. Tapi persoalannya, tidak semudah itu untuk masuk ke dalam kawanananya, baekhyun harus memburu dan meminum darah manusia hal yang belum pernah baekhyun lakukan, apalagi baekhyun harus melakukannya seorang diri. bukan tanpa resiko melakukan hal tersebut. Para pemburu manusia serigala ada dimana – dimana, ia tak ingin baekhyun menjadi incaran – incaran pemburu tersebut. Chanyeol masih ingat ketika seorang temannya meninggal akibat serangan pemburu manusia serigala. Bukan hanya meminum darah manusia yang menjadi syaratnya, semua ingatan baekhyun tentang keluarganya akan di hapus, itu semua dilakukan karena akan membahayakan kawanan, apalagi baekhyun seorang omega yang hidup di dunia luar ( tanpa kawanan ).
Chanyeol termenung, ia bingung dengan keadaan sekarang, haruskah ia mengikuti keinginan ibu baekhyun atau membiarkan baekhyun mengambil keputusannya sendiri.
To be continue…
Author yang ingin sekali menulis cerita tentang werewolf ^^. Ini adalah yang ada dalam pikiran author, sangat OOC sekali tapi berharap kalian suka.
Sengaja dibikin beda dari cerita werewolf kebanyakan karena ini imajinasi saya dan demi keberlangsungan ff. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan pm, annyeong~
