Warning : NSFW, strong adult scene, tried to make it less explicit though, longer than the previous chapter

.

.

.

.

.

.

CHAPTER II

RECONCILIATION

"Hai."

Tiba dengan peluh dan keringat, jauh dari harapan gadis yang membukakan pintu belakang rumah untuknya itu. Sialnya, ia tak sempat mengumpat karena disodorkan sekantong cemilan dan err—bunga? Benar-benar tidak berguna.

Gadis itu mendesah dua kali dan mengambil cemilan serta sebatang bunga mawar putih itu dari tangan pemuda di hadapannya. Alih-alih dibalas dengan senyuman, Touka justru memajui Kaneki dengan alis bersungut-sungut. Aroma sisa pembakaran nikotin masih sedikit tersisa di kerah jaket yang dikenakannya. Lagi, ia mendesah.

"Kau ingin mati muda, eh?" Menjadi sapaan gadis yang mengenakan kaos putih lengan panjang bermotif kelinci dan hotpants berbahan jeans ini pada pemuda yang bagaikan musuh ketika di sekolah. "Aku tidak ingin rumahku tercemar aroma menyengat itu terlebih aku baru saja menyemprotkan pewangi di dapur dan ruang tamu."

"Hai hai, wakarimashita."

"Dasar."

Kaneki hanya terkekeh dan mengikuti gadis itu dari belakang setelah menutup pintu. Tak jauh dari sana, ada tangga menuju ke lantai dua. Sepasang mata hitam pekat itu sempat melirik ke arah dapur yang sudah rapi dan bersih. Ia samar-samar dapat mencium aroma hydrangea. Kakinya ikut melangkah bertemu dengan lantai kayu, bunyi tap tap pelan menjadi satu-satunya irama di antara keduanya.

"Kedatangan tamu spesial sampai harus menyemprotkan wewangian?" Kaneki mencoba menggoda gadis di depannya dua undakan itu. Touka berhenti sebentar dan menoleh. Menjawab dengan delikan tajam.

Mereka tiba di penghujung undakan teratas. Berbelok ke kiri dan menemukan sebuah pintu dengan gantungan bergambar kelinci, bertuliskan Touka. Tepat di seberang kamarnya adalah kamar adik lelakinya. Kosong dan gelap.

"Sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur. Kau keberatan? Atau hidungmu hanya bisa mencium bau tembakau saja?"

Kaneki paham. Cara gadis itu memperlihatkan dirinya sangat jauh dari bentuk verbal. Begitu disenggol, bisa didengar kan cara ia menimpali. Bagi yang tidak kuat jiwa raga untuk dilempari hujanan kata-kata sarkasme akan segera ciut. Jarang mengobrol apalagi saling mencaci maki di sekolah, bukan berarti Kaneki tidak tahu teknik mengendalikan gadis berambut biru sebahu itu. Ia terkekeh kembali dan masih mengekor setibanya di dalam kamar.

"Terakhir kali ke sini sepertinya kau belum punya kasur. Hanya futon, kan?"

"Umm, yeah. Kau memperhatikan ya. Akhir-akhir ini punggungku sering sakit dan ngilu, mungkin karena pengaruh beban ransel yang berat. Paman membawaku ke ahli ortopedi dan ia menyarankan agar aku memakai kasur busa."

Tanpa disuruh, pemuda itu segera berlari dan melompat ke arah kasur yang empuk dan hangat. Ia merebahkan diri dan berguling-guling seperti anak kecil. "Ini lebih baik. Dan lebih luas, tentu. Dibanding di futon, kita bisa melakukan banyak hal di sini."

Touka mungkin harus mengajari Kaneki untuk tidak terlalu eksplisit dalam mengemukakan pendapatnya. Buru-buru gadis itu menutup wajah dengan telapak tangannya.

"Tapi rasanya tidak seru kalau harus memulainya sekarang. Ini baru jam berapa." lanjut Kaneki sembari menerawangi langit-langit kamar. "Ada hal yang bisa dilakukan? Pemanasan mungkin?"

Sambil melipat lengan, si pemilik kamar dan rumah itu menyeringai.

Mereka hanya orang asing pada awalnya. Tak saling mengenal dan masa bodoh dengan dunia. Terlalu muda untuk merasakan kehilangan dan tak pernah tahu kapan luka itu bisa disembuhkan. Mungkin memang benar, tidak dapat disembuhkan sama sekali. Hanya waktu yang bisa. Touka melewati tahun pertamanya di sekolah tanpa harus menjilati kaki orang lain. Jika ia bisa melalui tiga tahun menyeramkan itu seorang diri, maka akan dilakukannya. Namun, Kosaka Yoriko berusaha menginvasi wilayahnya. Ia pun belajar untuk mengenal rasa berbagi.

Lain halnya dengan Kaneki Ken. Keduanya dipertemukan oleh takdir di konbini. Pemuda itu bekerja paruh waktu di belakang kasir. Mereka akhirnya menyadari kehadiran satu sama lain. Tapi tak ada dialog. Setahun berikutnya, tepat di festival sekolah, keduanya mabuk secara tak sengaja. Keduanya mengeksplorasi tubuh masing-masing di bawah sinar bulan dalam gudang sekolah yang reot. Esok paginya berjanji untuk tidak berkata apa-apa. Selama setahun, mereka seperti alien. Hingga di tahun terakhir kembali tersadar jika takdir tak pernah salah. Hanya, mereka tak ingin menghancurkan rekor 'jangan bicara denganku' dan 'memangnya kita teman' hingga hari kelulusan tiba. Mereka bercumbu, berbagi cairan tubuh dan mendesah panjang dalam diam. Tak tersentuh publik.

Seperti malam ini.

Pertama, Touka menyuruh pemuda itu untuk mandi. Ia benci bau rokok. Selama menunggu Kaneki, gadis itu mengerjakan tugas dan soal-soal tambahan di atas meja kotatsu. Ia jauh dari kata pintar dari lahir, tetapi Kirishima Touka adalah pejuang. Ia selalu tahu jalan keluar dari setiap masalahnya. Seorang introvert seperti dirinya hanya bisa dipahami oleh sesama introvert pula. Kaneki Ken salah satunya. Namun, yang satu ini sangat pandai berakting sehingga terkadang ia bisa berubah menjadi Dalai Lama hingga bintang porno sekaliber dunia.

Kedua, mengecek kalender dan arlojinya. Ia memastikan dengan benar kapan dan jam berapa terakhir kali ia meminum pil kontrasepsi. Kali ini, ia akan mengajak Kaneki bermain roller coaster tanpa pengaman untuk pertama kalinya.

Ketiga—

"Huh?"

"Kau mau berbalik? Kau... mau berbalik?"

Touka tak mendengar pemuda itu telah kembali dari prosesi panjangnya di kamar mandi. Ia bahkan berguyon sambil menutupi mata gadis itu dari belakang. Aroma citrus dan peppermint membuatnya amnesia sesaat.

"Simpan saja buat nanti."

"Maaf lama. Kupikir akan lebih baik jika kucukur habis rambut-rambut pubisku. Sama sepertimu." ucapnya nyengir. "Ngomong-ngomong, kenapa gadis-gadis suka mencukur rambut pubisnya?"

Touka mengernyit dan melempar tatapan membunuh. Lalu, disambut dengan gelengan kepala tak paham. Tak ingin membalikkan tubuhnya. Ia jadi lupa dengan apa yang ingin dilakukannya tadi. Kaneki bergumam maaf sambil menggaruk belakang kepalanya seperti anak kecil.

"Aku pakai handuk kok."

"Ya ya, aku tahu. Dan—oh ya. Di sini ada satu soal tentang poem yang uhh kepalaku terasa mau pecah menjawabnya. Bisa minta tolong jawabkan?"

Tetes-tetes air yang terjatuh dari ujung rambut Kaneki membasahi meja kotatsu dan punggung tangan Touka. Walau dingin, terasa hangat di kulitnya. Spontan, ia mengutuk reaksi pipinya yang selalu saja mengkhianati otaknya. Dengan kondisi bertelanjang dada dan sedikit basah, Kaneki duduk dengan kulit saling bersentuhan di samping si gadis. "Oh ini ainu, pantas susah. Puisi lama. Aku lupa resital mana yang dikutipnya tapi bisa kubawakan bukunya kalau kau mau. Ini bukan soal sekaliber ujian sastra sekolah, kan?"

"Yeah. Persiapan untuk mengambil kursi di Toudai. Beasiswa."

Seperti melihat bintang yang bersinar terang. Begitu Kaneki melihat Touka. Tanpa alih-alih, ia mengecup jidat gadis itu dari samping. Touka terkejut dan cepat-cepat menoleh. Bibir mereka hanya terbatas mili senti saja. Pemuda itu hanya tersenyum senang dan mencubit pucuk hidungnya.

Keduanya terdiam sesaat. Hembus nafas dan aroma tubuh yang menguar dekat ini mulai mengaktifkan zona endorfin tubuh mereka.

"Hajimemashoka?" tawar Kaneki setengah mendesah.

Gadis itu hanya mengangguk. Memulainya dengan lumatan pelan di bibir. Sangat dewasa dan tak memaksa. Ritme yang begitu teratur selayaknya simfoni di panggung orkestra klasik. Sesaat semakin panas, entah karena penghangat di bawah kotatsu atau suhu tubuh masing-masing, Kaneki mengambil alih kendali. Ia mendorong barisan gigi-gigi di depannya dengan organ merah basah miliknya. Bergerak seperti sepasang siput laut dan bertanding tanpa harus dimenangkan. Nafas mulai memburu. Hangat dan basah.

Tangan mulai bergerak sesuai insting. Berhenti di tonjolan yang masih tersembunyi pakaian. Meremasnya lembut dengan tangan bebas sang Adam. Sang hawa sedikit merintih tapi tak berhenti membagi salivanya. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit... begitu intens dan bergejolak. Keduanya berhenti sebentar. Lupa jika mereka manusia yang butuh bernafas.

"Di atas kasur?"

"Yeah." jawab Touka setengah sadar. Ia masih terpengaruh oleh kabut adrenalin dan oksitosin.

Kaneki tampak sibuk mencari-cari sesuatu dalam pakaian, tas, dan kantung cemilan yang dibawanya. Memperlihatkan ekspresi kelewat senang seperti seorang anak kecil yang berhasil menemukan kelereng uniknya. Ekspresi Touka melembut. Kaneki paham dan bibirnya menyulam kata tanpa suara, "kau yakin?"

Anggukan sudah menjadi jawaban lugas. Diletakkannya kembali the rubber.

Di sisi lain, Touka menutup tirai kamar, meredupkan cahaya dan menanggalkan sedikit demi sedikit kain yang membungkus tubuhnya. Memberi punggungnya ke arah Kaneki.

Melihat karya Tuhan yang luar biasa indah, Kaneki tak harus bersiul atau mengumbar kata-kata pujian. Yang dilakukannya hanya melihat dari jarak ia berdiri sekarang dan mengamati dalam diam. Apapun yang diperlihatkan kepadanya hanyalah sesuatu yang bersifat sementara. Akan hilang bersama dengan waktu. Sesuatu yang berdetak di dalam itulah yang diinginkannya.

Pemuda itu menurunkan pandangannya saat sang dewi berbalik. Melangkah tanpa suara ke arahnya. Begitu pelan seperti tak berjalan sama sekali. Mungkin segala dengung suara yang didengarnya sudah mati. Hanya degup jantungnya saja yang tertangkap.

Hanya mata dan mata yang saling bertatap. Berusaha menghilangkan rasa inferioritas masing-masing. Jemari lentik mengangkat ujung dagu itu. Mengajaknya berbicara melalui hati.

"Lupakan semuanya. Hanya kita dan dunia malam ini."

xxx

Rasa sakit itu pertama kali ditorehkan melalui bingkisan malam kasih sayang. Tak ada coklat atau senyum. Hanya tangis hingga berminggu-minggu lamanya. Tidak terlihat tapi lebih perih ketimbang kehilangan selaput keperawanan. Gadis-gadis sebayanya bangga saat mereka memberikan miliknya yang takkan kembali itu. Begitu pula dengan para lelaki yang baru saja memasuki masa gejolak hormonnya. Toh, mereka masih muda. Yang penting melakukannya dengan aman.

Kosaka Yoriko tak pernah terlibat perdebatan semacam itu. Ia hanya tertawa seolah mengiyakan. Namun, ia pernah berujar ke satu-satunya sosok yang amat dipercayainya, Kirishima Touka. Bagi yang mendengar mungkin tak peduli, mencemooh, dan menganggap janji imatur semacam itu takkan bertahan lama.

Gadis ini kuno untuk setipenya. Begitulah intinya.

Ia bahkan tak pernah berpacaran.

Bukannya membenci hubungan tubuh di luar perjanjian suci, ia menanamkan kepercayaan jika cinta sejati dalam ikatan itu nyata.

Kata-kata Yoriko di hari itu membuatnya berada di titian yang salah. Ia selalu jujur kepada gadis berparas manis itu. Tak ada satupun rahasia yang disembunyikannya. Kecuali tentang Kaneki Ken.

Apakah kau tetap akan memanggilku Touka-chan jika kuberi tahu tentang rahasia kecilku?

Touka mengingat banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Meski sudah beberapa kali bergumul dengan pemuda di atasnya itu, sensasi nyeri dan lonjakan elektris bercampur euforia masih dapat dirasakannya. Di bawah sana.

Missionary. Selalu begitu. Kaneki memintanya seakan menjadi ritual yang wajib untuk dilakukan di awal pergumulan. Ia ingin memandangi wajah itu lekat-lekat saat pertama organ hangatnya bertemu dengan milik Touka. Gadis itu sangat cantik bahkan di tiap ekspresi sakit bercampur nyaman seolah ia terbiasa dengan semua itu. Baik secara fisik maupun mental. Mereka paham usia membatasi mereka untuk bertindak dan berpikir jernih tetapi jauh di balik itu, mereka percaya keputusan ini sudah benar. Tak ada yang salah.

Kaneki mengecup pelan kening, pucuk hidung dan bibir Touka. Melumat pelan sebelum memasukkan miliknya. Memutar pelan untuk membantu organ intim Touka beradaptasi. Bahkan ketika telah mengisi sepenuhnya, ia merasa tak ingin keluar lagi. Terdiam lama sebelum gadis itu meminta lebih.

"Ada yang bilang kau itu sebenarnya cantik?"

Di tengah desahan, menggigit bibir kuat-kuat dan mengepalkan tangan, ia berusaha mengutuk. "Ja-ah-ngan membual."

"Gomen. Gomenna, Touka-chan. Tapi, aku ingin mengatakannya sekarang. Saat ini juga."

"Hngg—ah! Kimochi warui."

"Hahaha."

Percakapan itu berhenti. Hanya tubuh saling berdialog. Sangat intim dan intens. Seakan malam ini sangat panjang untuk mereka. Seakan apa yang dunia di luar sana ceritakan untuk mereka tidak terjadi. Mereka menyatu, baik jasmani dan jiwa. Tempo dansa erotis itu semakin lama semakin cepat. Keduanya bahkan seolah tak ingat lagi siapa diri mereka. Identitas menjadi kabur seperti asap nikotin.

'Slap slap slap'

Basah dan lengket. Bahkan gema suaranya terdengar familiar.

Desah nafas berat pun turut mengikuti.

'Slap slap slap.'

"Ugh. Hnn."

Kaneki tetap memegang kendali. Ia bergerak maju dan mundur dalam ritme yang konstan. Organ di bawah tubuhnya terasa seperti akan meledak sebentar lagi. Tapi ia tak peduli. Ritmis gerakannya stabil dalam kontrol mumpuni.

"Berbaliklah, Touka-chan." Bisiknya sembari mengecup lembut leher gadis di bawahnya itu. Touka memutar posisi tubuhnya dengan milik Kaneki yang hangat dan basah masih di dalam sana. Sungguh sensasi yang amat berbeda ketika menggunakan pengaman. "Kau—ughh ahh—yakin, 'kan?"

"Hnnng?"

Ia lupa.

Entah sadar atau tidak, gadis berambut biru dongker itu berucap pelan. Keluarkan di dalam.

Jika ditanya kenapa, ia kembali dibuat ingat oleh memoar-memoar aneh itu. Antara masa lalunya, kematian ayahnya, tentang janji Yoriko akan tubuhnya, dan apa yang akan terjadi kemudian. Ia menyimpan terlalu banyak hal dalam kotak kosong bernama jiwa. Ia bagaikan robot. Melakukan hal ini itu di luar apa yang diinginkannya. Hidupnya sudah begitu sulit dan ia tak ingin mengajak orang lain untuk ikut menderita bersamanya, terlebih kepada pamannya dan Yoriko. Namun, lagi-lagi ia lupa. Ia selalu lupa.

"Tou-Touka-chan?"

Ia menangis.

Masa bodoh dengan ejekan cengeng. Tak pernah sekalipun ia bersedia memperlihatkan kelemahannya.

Pun, sudah dilakukannya.

"AH!"

Hentakan terakhir sebelum Kaneki melambatkan torsinya. Peluh, keringat, aroma cairan mani berhambur menjadi satu. Miliknya berdenyut-denyut di dalam liang Touka, mengalirkan kehangatan semen berwujud likuid pekat, diakhiri dengan lenguh panjang. Ia terdiam di dalam tubuh si gadis. Mengambil oksigen dan merampasnya dengan tamak. Menahan beban tubuhnya dengan lengan-lengan berbentuk miliknya. Tertunduk dengan tetes-tetes keringat tepat di atas wajah sosok gadis yang baru saja menangis itu.

"Ja-ngh-ngan lepas."

Touka bergerak sedikit, membuat milik Kaneki masuk lebih dalam. "Boleh aku tidur di sampingmu?"

Gadis itu menggeleng. Dua kali. Kaneki menyerah.

"Aku tidak akan bertanya kok." Maksud Kaneki jelas. Tentang air mata itu.

Tak ada jawaban.

'Drrrt. Drrrt. Drrrrt.'

Aturan ketiga telah dilanggar gadis itu. Ia selalu mematikan ponselnya sebelum memulai aktivitas sensual ini. Oh, dia akhirnya mengingat satu di antara semuanya. Kaneki mendistraksinya sesaat sebelum ia memegang ponselnya. Dan kecupan-kecupan itu menjadi penyebabnya. Tubuhnya masih menginginkan lebih, tetapi ada hal yang lebih penting. Tangan gadis itu menggapai ponsel pintarnya. Bersandar di sebelah kiri tubuhnya seolah tak ingin Kaneki melihat riwayat percakapan antara si pengirim dan penerima.

"Ouch. Bo-boleh lepas sekarang?"

Tak ada respon. Sosok yang tengah dilanda kebingungan itu mengubah posisi kakinya agar si kecil tak tertindih. Ia benar-benar angkat tangan soal betapa keras kepala gadisnya.

Ekspresi Touka berubah kosong. Layar di ponselnya masih menyala terang, memberi kesempatan untuk Kaneki membaca arti di balik tatapan nanar itu. Gadis itu tidak mendesah, bahkan hanya memejamkan mata cukup lama lalu membuang ponselnya sembarangan. Ia menutup mata dengan lengannya. Kembali meluapkan emosi dalam air mata.

"Hei, Kaneki."

"Ya?"

Pelan-pelan ia mengangkat tubuhnya. Kaneki terkejut dan segera membantu namun disanggahnya. Mereka tak lagi terhubung. Duduk tanpa saling memandang satu sama lain. Namun, telunjuk si pemuda bergerak refleks. Menyingkap apa yang terlihat di balik wajah yang tertutupi kesedihan dan helai-helai lembut biru metalik oleh cahaya rembulan. Yoriko benar. Gadis itu hanya belum menyadarinya saja. Kaneki tersenyum.

Hanya berbentuk bisikan lembut dan tak ada keraguan.

Malam ini masih begitu panjang.

xxx

Malam itu Kaneki tidak benar-benar mabuk. Ia hanya menukar salah satu minuman soda dengan salah satu bir dari minimarket dekat sekolah. Ia mungkin masih minor tetapi dengan bujuk rayu yang dilancarkannya, ia berhasil membawa pulang sekaleng alkohol itu tanpa bersitegang dengan pemilik toko. Dan, ia sudah tahu di mana Kirishima Touka bersembunyi saat itu. Jauh dari keramaian dan hingar bingar kejora kembang api. Hari terakhir festival sekolah memang sangat bising, terutama bagi anak kelas dua yang merupakan panitia utama. Satu-satunya lokasi yang soundproof di kompleks sekolah mereka hanyalah gedung tua bernuansa horor. Orang manapun tahu gedung itu tak berhantu, hanya kurang dipermak saja.

Saat bertemu mata, mereka tak bertukar sapa. Hanya menikmati kerlap kerlip cahaya di langit gelap. Gadis itu duduk di undakan teratas dan melompat untuk pulang. Ia merasa wilayahnya telah diinvasi, perasaan yang sama ketika Yoriko menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Lalu, pemuda itu hanya mengucapkan tiga kata saja.

"Bukankah kita sama?"

Salahkan gejolak hormon dan sekaleng bir.

Sebelum fajar menyingsing, Touka tersadar. Pakaiannya entah di mana namun ia tak merasa kedinginan sedikitpun. Ia tak menyalahkan sosok pemuda yang ikut tertidur di sampingnya itu. Hanya mendesah panjang dan mencibir 'baka'. Lalu pergi.

Terbersit rasa penyesalan. Kehilangan miliknya yang berharga. Tetapi, itu hanya mitos baginya. Semua yang menempel di tubuhnya takkan pernah abadi. Tidak hingga Yoriko bercerita tentang apa yang diyakininya. Sejak itu, Touka menganggap kejadian di malam festival bersama Kaneki Ken hanyalah mimpi buruk. Baginya, persahabatan dengan Kosaka Yoriko lebih berharga.

Kaneki menjadi beringas. Ia seperti ingin melahap Touka tanpa sisa. Melupakan betapa rapuhnya tulang dan organ di balik lapisan kulit putih itu.

Sebab, Touka telah menjatuhkan ultimatum. Beberapa menit yang lalu.

"Buat aku lupa."

Dengan rasa asin yang turut dikecapnya saat berciuman.

'Slap slap slap.'

Mereka berganti posisi lagi. Lagi. Dan, lagi.

'Slap slap slap.'

Touka duduk membelakangi di atas paha Kaneki. Saat keduanya terhubung, desah di balik laring itu semakin terdengar jelas. Tak ada cahaya yang menjadi sorot lampu atas tubuh-tubuh yang terbungkus kulit. Tirai yang berkibar oleh angin di awal musim semi memberikan apa yang Kaneki butuhkan. Ditariknya sedikit hingga cahaya bulan agar ia tak perlu malu lagi untuk mengintip.

Tak butuh lama untuk Kaneki mengingat tiap lekuk-lekuk tubuh Touka. Ia nyaris telah menghapalnya sejak kejadian di malam festival tahun lalu. Ia hanya perlu mengingatkan dirinya jika organ di balik rongga dada sang hawa masih berdetak. Sangat kuat. Seperti miliknya. Bersahut-sahutan.

Bunyi slap terakhir terdengar tak lama kemudian. Kaneki memeluk gadis itu erat-erat saat jutaan sel berwarna putih pekat itu kembali mengisi dan memenuhi. Touka mengistirahatkan tengkuknya di bahu pemuda di belakangnya itu sembari menepuk-nepuk puncak kepala Kaneki. Merasakan hangat di dalam perutnya. Membuka mata perlahan untuk menatap satelit bumi dari balik jendela. Keduanya masih terhubung. Terbungkam dalam euforia pasca pelepasan.

"Aku akan tanggung jawab kalau perhitungan kalendermu salah."

Bisik pemuda itu malu-malu. Masih melingkarkan lengannya tak ingin lepas.

"Ha ha. Kau bahkan belum yakin bakal diterima di Toudai atau tidak dan dengan sombongnya berkata akan tanggung jawab."

Kaneki terkekeh. Menyembunyikan wajahnya di pundak Touka.

Mereka memutuskan untuk berhenti saat Touka nyaris kehilangan kesadaran. Bulan tetap duduk di singgasanya yang tinggi dan mereka percaya masih bisa melakukan banyak hal hingga pagi esok.

"Hei, apa menurutmu yang kita lakukan ini sangat tidak bertanggung jawab?" tanya Touka dengan nada letih. "Lucu bukan? Aku menanyakan hal ini padahal sudah tahu jawabannya. Dan saat festival itu, aku tahu dengan apa yang kulakukan denganmu. Tetap saja kulakukan dan mengkhianati diriku sendiri."

"Dirimu atau... harga dirimu?"

Touka menelengkan kepalanya. Bersandar di dada bidang Kaneki. "Tepatnya adalah persahabatanku."

"Kau berubah aneh saat melihat ponselmu tadi. Apa itu dari Kosaka-san?"

Gadis itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Kaneki. Pemuda itu tak bertanya. Ia hanya menunggu hingga Touka tertidur manis dan menjadikan paha Kaneki sebagai bantal. Tertidur dengan posisi menghadap rembulan. Ia memberanikan diri untuk bersuara. "Ia akan meninggalkan Tokyo seusai pesta kelulusan. Ia memutuskan untuk... pindah ke Hiroshima. Kampung halamannya. Ia mengirimiku foto seorang pemuda. Menurutku pemuda itu mungkin cocok dengannya. Ia memiliki bahu yang tegap, ekspresi yang kuat dan alis yang tebal—ha ha—dan pesan terakhirnya hanyalah aku akan bertunangan besok."

"Aku berjanji pada gadis itu untuk menjadi telinga baginya dan ia pun berkata demikian. Tak ada rahasia yang kusimpan darinya, kecuali... kau dan kita. Sebagai putri tunggal yang hidup dan besar di pedesaan, ia tumbuh dengan latar belakang kepercayaan yang kuat. Ia tak mengajakku bermain di akhir pekan terlalu pagi karena akhirnya aku sadar, ia meluangkan waktu tersebut untuk menebus dosa di rumah Tuhan. Sedangkan aku di sini, bersenang-senang dengan kemaluan Kaneki Ken, pemuda menyedihkan yang selalu digosipi aneh-aneh di sekolah. Heh."

Touka tak menangis. Ia menekuk kakinya dan membentuk pola fetus.

"Jika kuceritakan hal ini padanya, apakah ia masih akan bersikap sama dan tak berubah?"

Dengan lembut, jari-jari Kaneki mengelus perlahan sekumpulan surai biru itu. Tersenyum dalam diam. "Nee, Touka-chan sangat menyayangi Kosaka-san ya?"

"Ung. Zutto zutto suki dayo!" teriaknya. "Ia tak cerita akan melanjutkan kuliah atau tidak. Tapi, jika ia hanya kembali ke Hiroshima sebagai ibu-ibu muda dan tak bekerja akan kumarahi berhari-hari."

"Hahaha. Sangat Touka-chan sekali ya."

Mendengar tawa riang Kaneki, gadis itu tak membalas lagi. Ia sudah meluapkan sisa kegundahan yang ingin diterbangkannya bersama ingatan-ingatan masa lalu. Sudah cukup dengan memandangi wajah Kaneki Ken berlama-lama saat ia bertarung dalam peluh bersama-sama. Itulah wajah dan ekspresi nyata milik pemuda yang mulai disukainya baru-baru saja ini. Di luar aktivitas intim yang mereka lakukan, tentu.

Ada hal yang lebih indah untuk dikenang selain penyatuan secara fisik. Touka mempelajarinya malam itu. Ia tahu saat anxiety kembali menyerang, ia tak sendiri untuk melawannya. Kosaka Yoriko dan Kaneki Ken sama-sama penting saat ini.

"Touka-chan belum mencoba bercerita, bukan? Mana bisa tahu apa yang dikipirkan Kosaka-san. Kupikir ini sama saja dengan menceritakan tentang almarhum ayahmu atau penyakit aneh yang kuderita ini. Bedanya hanyalah topiknya saja. Selama orang itu tidak berubah, aku yakin Kosaka-san juga tidak akan berpaling darimu. Sebagai sahabat, tentu."

Kaneki menurunkan wajahnya. Mengecup kening Touka lembut. "Ke mana perginya Kirishima Touka yang pemberani itu, hm?"

Gadis itu menggigiti bibirnya. Menggulung tubuhnya seperti ulat dan menangis dalam keheningan. Kaneki Ken ada di sana kala ia sulit membuka diri. Begitu pula dengannya.

Inikah yang disebut mutual feeling? Entahlah.

Karena letih dan terbatas oleh stamina remaja puber, baik Kaneki maupun Touka terlelap tak lama setelah itu. Bulan sedikit memiringkan sumbu rotasinya dan membiarkan terang matahari terbangun. Di pelupuk horizon, warna polikromatis saling beradu tanding. Biru yang pertama kali memunculkan dirinya dan membuat sekitarnya menjadi indah. Biru di mata Kaneki adalah Kirishima Touka.

Kala tersadar delapan jam kemudian, Kaneki kembali bertanya.

"Kau sudah mengecek kalender, 'kan?"

xxx

Mereka bertemu di hari pertama sekolah. Touka lari memeluk Yoriko tepat di pintu gerbang saat gadis itu mulai muncul dari kejauhan dengan kaki-kaki pendeknya. Keduanya menangis dan sama-sama mengucap janji.

"Apapun yang terjadi, Kirishima Touka-chan tetaplah sahabat terbaikku."

Dan apapun yang terjadi, meski aku begitu bodoh dan menyebalkan, Kosaka Yoriko tetaplah sahabat terbaikku. Satu-satunya di dunia.

.

.

.

.

.

.

OMAKE

"Aku sudah tahu kok."

"Eh?"

"Sikapmu sedikit berubah jika kuajak berbincang dengan Kaneki-kun semenjak naik ke tahun kedua."

"Dan kau tidak memberitahuku."

"Umm karena kupikir Touka-chan pasti malu besar dan tidak akan mau mengobrol denganku lagi kalau Touka-chan menceritakan tentang apa yang Touka-chan sering lakukan dengan Kaneku-kun."

"Huh?"

Yoriko mempertemukan ujung ibu jari dan telunjuk tangan kirinya lalu menggunakan telunjuk tangan kanannya memasuki lubang yang terbentuk di tangan kiri. Gadis ini tidak sepolos kelihatannya rupanya.

Dan benar saja, Kirishima Touka ngambek selama seminggu penuh.

"Hei, bukannya yang seharusnya ngambek itu aku, heh?"

xxx

"Oi, Kaneki."

"Hm?"

Pemuda itu membaca buku dengan khidmat di tepi ranjang. Kaki-kaki jenjang Touka bersandar di paha Kaneki.

"Apa kau punya fetish?"

"Umm, sepertinya tidak. Kenapa memangnya? Ingin mencoba sesuatu?"

"Yahh, aku penasaran dengan tren masa kini. Aku ingin memulainya dengan menindik pusarku. Lalu di putingku. Lalu di klit—hmmph!"

Buku yang dibacanya tahu-tahu sudah berpindah posisi. Tepat di wajah Touka.

"Touka-chan, sejak kapan kau berubah masokis? Jika ada masalah, cerita saja padaku, oke?"

xxx

Pukul sebelas pagi dan Kaneki memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh semen dan peluhnya. Touka tampak sibuk membereskan dan melipat bedcover di atas kasurnya, hanya mengenakan bra dan celana dalam bermotif kelinci.

"Laundry?"

"Pamanku tak segan untuk membunuhku. Ia punya hidung yang kuat, seperti anjing. Aku heran bakat menjadi pemburu rusa sebegitunya mengalir di darahnya."

"Oh oke."

"Mau membantuku?"

Aturan pertama memutuskan untuk bersenang-senang di kasur kekasih wanita: hilangkan bukti sebelum pulang.

xxx

Ayato pulang pukul satu siang. Hanya berbeda beberapa menit saja saat Kaneki kabur melalui pintu belakang. Bocah empatbelas tahun itu terlihat senewen saat kakak perempuannya tahu-tahu muncul di depan pintu dengan senyum aneh.

"Se-selamat datang."

Bahkan, ia tiba-tiba jadi gagap. Ayato menyipit curiga.

"Oh! Aku baru dari toko laundry."

Masih menyipit curiga.

"Kau sudah makan siang? Akan kubuatkan miso dan tempura."

Makin menyipit curiga.

"Y-ya?"

"Beri aku 5000 yen dan aku akan tutup mulut."

Prick.

xxx

The End

xxx

Sepenggal Curhatan Author :

Sangat syok dengan chapter 125. Sangat tidak mensupport Touken. Sangat senang ketika tangan Yoriko baik-baik saja.

Tetapi mencoba untuk bersikap dewasa.

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan review.