"I promise you 'forever' right now."
- Wherever You Are (ONE OK ROCK)
.
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
An Unforgettable Memory © Great Deceiver (prev : Faboeloes) and OS_AomineD
Main cast / pairing : 青峰大輝 Aomine Daiki • 相田リコAida Riko
Warning : you have known it right?~ it's just like : OOC, and Typo(s) everywhere.
p.s : Modern!AU, hampir semuanya dialog
• Just a two-shots fanfiction •
DLDR, Enjoy, and please REVIEW and FAVORITE
.
.
Let's begin
.
.
"D-Daiki..." Riko menyebut nama Daiki sambil menatap sendu kearah pintu yang terakhir dibuka oleh Daiki.
Daiki berjalan menyusuri koridor itu untuk mencari dokter-dokter yang satu spesialis dengan Midorima. Dan menjelaskan keadaan Riko. Namun, setiap dokter yang menemuinya sudah tidak dapat melakukan apa-apa. Riko akan selamat jika mendapat keajaiban dari Tuhan. Penyakit Riko sudah terlalu parah, apalagi jika yang menderita adalah perempuan.
"Tch." Aomine merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Saat dia diam didepan pintu, dia mendengar suara tangisan dari dalam.
Daiki membuka pintu dan saat itu juga terlihat Riko sedang mengusap matanya. Riko menoleh ke arah Daiki dan menyunggingkan senyumnya.
"Kamu kemana tadi?" tanya Riko sambil mengusap matanya untuk berpura-pura.
"Hn? Hanya ke toilet," jawabnya dengan wajah datar. Riko sudah menduga bahwa Daiki marah. Namun, Riko membalasnya dengan senyuman.
"Souka... Arigatou untuk semua yang sudah kau lakukan untukku..." Matanya memandang sang pemuda dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Tidak perlu berterima kasih," ujar Daiki sambil melangkah ke kursi yang ada di pinggir ranjang.
"Daiki-kun senang bisa bertemu denganku?" tanya Riko sambil tersenyum kecil.
"Hm, menurutmu?" tanya Daiki kembali sambil menggenggam tangan Riko lembut. Wajah gadis itu langsung memerah pekat. Riko menggumamkan kata-kata tidak jelas karena terlalu malu.
Daiki terkekeh pelan dan kembali bertanya, "Kau sendiri?"
"Aku sangat senang bertemu dengan Daiki-kun! Kamu adalah pemuda yang baik dan sangat perhatian padaku..." Riko mengusap rambut pemuda biru itu dengan tangannya yang lain.
Jantung Daiki berdetak cukup kencang. Dia menurunkan tangan Riko dan berkata,"A-aku bukan orang baik..."
"Daiki-kun...? Ada apa denganmu...?" Riko menatap Daiki bingung.
"Hn? Tidak ada..." jawabnya sambil duduk di kursi.
"Ceritalah, Daiki-kun... Aku...ingin dengar...ya..?" Suara Riko melemah. Hidung dan mulutnya ditutupi oleh masker oksigen.
"Aku hanya lelah..." jawabnya sambil memijat pelipisnya.
"Beristirahatlah... Aku akan menemanimu disini," jawab Riko sambil menepuk sisi ranjangnya dan memasang senyum lembut.
'Maaf, aku menyusahkan lagi...' batinnya.
"Arigatou na." Daiki duduk di kursi dekat sisi ranjang Riko.
"Tidurlah, pangeran..." ucap gadis sambil terkekeh. Matanya memandang ke arah langit-langit kamarnya.
"Pangeran?" tanya Daiki bingung sambil memandang ke arah wajah Riko.
"Karena Daiki sudah mencoba menyelamatkanku 'kan...? Makanya Daiki-kun disebut pangeran. Boleh juga ksatria~" Bibirnya mengeluarkan tawa kecil.
"Hahaha... Kau lucu, Riko." Daiki tertawa dan mengusap kepala Riko lembut. Oh, sekarang mereka malah terlihat seperti sepasang kekasih dibandingkan sahabat.
Riko memenjamkan matanya dan berkata,"Terima kasih atas pujianmu Daiki-kun..." Tangan Riko menyentuh wajah Daiki dan merabanya. Lalu, dia membuka kembali matanya dan menatap pemuda itu sendu.
"Aku ingin terus mengingatmu..." Riko memejamkan matanya kembali. Wajah dan tubuhnya semakin lama semakin pucat. Tangannya yang semakin terlihat kurus itu meraba wajah Daiki dan menyentuh apa yang bisa di sentuhnya.
Saat jari telunjuk Riko menyentuh bibir Daiki, Daiki tiba-tiba mencium jari Riko yang berhasil membuat wajah Riko semerah kepiting rebus. Daiki terkekeh geli melihat tingkahnya.
"Semoga kau selalu ingat..." ujarnya lembut. Riko mengangguk mengerti.
"Kawaii na..." Daiki mengelus pipi pucat Riko yang masih bersemu kemerahan.
"D-Daiki-kun..." Tangan Riko yang lain meraih tangan Daiki. Suaranya kurang begitu jelas akibat masker oksigen yang menghalangi.
"Ya?" Daiki menatap Riko intens.
"K-Kau membuatku sangat m-malu... A-Aku tidak imut, Daiki-kun..."
"Hn? Lalu kau apa? Yang pasti bukan tampan," jawabnya sambil terkekeh dan menyandarkan kepalanya di tangan Riko.
" T-T-Tentu saja! M-masa perempuan dibilang tampan! A-Adanya juga kau yang tampan..." Riko memalingkan wajahnya malu. Pemuda bermarga Aomine ini wajahnya ikutan memerah.
"D-Dan banyak gadis2 m-menyukaimu. I-i-itu sih w-wajar..." Ucapannya terbata-batadan kecil dengan wajah semerah kepiting.
"Eh? Memangnya banyak? Menurutku sih tidak..." Daiki mendongakkan kepalanya, tampak berpikir.
"K-Kau belum tahu sih, yang fans de-denganmu banyak tahu! Setiap dulu kita berhenti di depan g-gerbang Touou, banyak gadis-gadis yang meneriakkan namamu histeris..." Riko sedikit tersengal dan memutus ucapannya.
"...Kau s-saja yang gak peduli," sambungnya sambil menatap langit-langit.
'Aku tahu kau menyukai, Kuroko-kun... Aku tahu kita tak akan bisa bersama sebentar lagi...' Riko membatin.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu..." Daiki terkekeh dan membatin,'Bilang saja kau cemburu, dasar tsun...'
"Tapi... Aku suka merasa risih dengan mereka. B-Bukannya aku peduli atau apa, mereka sangat mengganggu!" Riko mengerucutkan bibirnya di balik masker oksigen.
"Hm... Jadi kau... Cemburu?" Daiki berkata to the point membuat hati Riko seperti tertusuk tepat sasaran.
"H-Heee?! T-Tidak k-kok! Untuk apa?" Riko mengelak pertanyaan Daiki.
"Souka na..." Daiki terkekeh dan mengelus surai Riko.
"Lagi pula, kau m-menyukai Kuroko-kun 'kan? Gelagatmu saat mengunjunginya ke Seirin itu sangat mencerminkan tahu..."
Perkataan Riko berhasil membuat Daiki terdiam sejenak. Lalu dia melanjutkan,"Semenjak kami lulus dari Seirin, dia berkata akan pergi keluar negeri tidak lama dan akan kembali... Namun, dia tak kunjung kembali..."
"Tetsu pasti ada di suatu tempat dan dia baik-baik saja."
Sang gadis hanya merentangkan tangannya sedikit, bermaksud untuk memeluk Daiki dan berucap pelan, "Sini..."
"Eh?" Daiki terbingung lalu mendekatinya. Riko memeluk Daiki dan memanggil nama Daiki dengan lirih berulang kali sambil menahan sakit. Daiki agak kelabakakan, takut kalau Riko meninggalkannya.
"Maaf ya..." Riko mencengkram kaus Daiki erat karena paru-parunya terasa terbakar.
"O-Oi, kau kenapa?" tanya Daiki sambil menggenggam erat tangannya. Riko mempererat pelukkannya.
"K-Kh–! A-Aku...s-s-suka...D-Daiki..." Matanya kabur tertutup oleh air mata.
"E-Eh? Tapi..." Ucapan Daiki terputus oleh suara tegas namun rapuh dan terputus-putus di depannya.
"A-A...ku me...nger..t-ti... G-go...men...n-na..."
"Baka! Bertahanlah...!" Daiki melepaskan pelukkan Riko dan membalikkan badannya untuk mencari perawat. Namun, gerakkannya terhenti saat Riko menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"J-Ja...ngan...," lirih Riko.
"Sabarlah sedikit..." Daiki menekan tombol bantuan dan memeluk lengan Riko erat untuk menguatkannya. Riko meringis menahan sakitnya sampai mengeluarkan air mata.
Akhirnya Shintarou dan para perawat datang dan menangani Riko. Salah satu perawat berusaha meyakinkan Daiki bahwa Riko akan baik-baik saja. Daiki mengangguk dan menjauh ke ambang pintu.
"Baka da..."
Tubuh Riko semakin melemah dan akhirnya dia kehilangan kesadarannya. Shintarou dan para perawatnya kembali mengecek keadaan Riko.
"Ttaku, kau kenapa lagi, bodoh?" gumam Daiki sambil memijat pelipisnya lelah.
Tak lama kemudian, Shintarou menghampiri Daiki dan menatapnya agak sendu.
"Ada apa?"
"Kau harus berhati-hati jika dia sering mengalami seperti itu. Penanganannya harus cepat dan jika terlambat sedikit saja, keselamatan nyawanya bisa terancam," jelas Shintarou panjang lebar sambil menaikkan kacamatanya yang melorot.
'Apa yang harus kulakukan...?' batinnya.
"Jadi, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkannya?" Daiki menatap Shintarou dengan pandangan yang sulit diartikan. Shintarou menggeleng.
"Sudah terlalu mustahil untuk menyelamatkannya. Kita hanya bisa menunggu kematiannya datang, atau sebuah keajaiban dari Tuhan kalau dia ingin sembuh." Pemuda berambut hijau itu menepuk pundak Daiki dan pergi ke ruangannya.
Daiki masuk ke dalam kamar Riko dan menutup pintunya perlahan. Matanya menangkap Riko yang sedang tertidur dengan kondisi yang kacau, rambut berantakan, kulit pucat pasi, dan berbagai selang dan kabel penopang hidup itu.
"Riko..." gumam Daiki sambil menatap Riko dengan tatapan sedih dan berjalan ke kursi yang ada di sebelah ranjangnya. Lalu, Daiki duduk di sana sambil memandangi wajah dan mengelus surai coklat Riko.
Daiki merasakan matanya memberat dan dia sadar bahwa dirinya sudah cukup lelah untuk sekarang. Tak lama, dia kehilangan kesadarannya dan terbuai masuk ke dalam alam mimpi.
Daiki sedang menyendiri di sebuah padang rumput. Dirinya terus menangis tanpa sebab yang jelas. Daiki melipat kedua lututnya dan meletakkan kepalanya di sana. Sedari tadi, dia ingin menolehkan kepalanya. Namun dia terasa sulit melakukannya. Dia merasa ada sesuatu tak jauh dari tempatnya.
Daiki akhirnya bisa menolehkan kepalanya dan mendapati sebuah pohon besar yang cukup rindang. Di bawahnya, terdapat gadis yang dia kenal dengan seseorang yang tampak tak jelas karena tertutup cahaya. Mereka sedang berbicara, namun Daiki tak mendengar apa yang mereka ucapkan. Padahal jarak mereka sama sekali tak jauh.
"Indah sekali..." Samar-samar, Daiki bisa mendengar suara saat percakapan gadis itu–Aida Riko dengan orang yang diketahuinya seorang laki-laki.
Daiki masih saja memperhatikkan Riko dan kembali mengeluarkan air mata. Riko yang sadar di perhatikan lalu menoleh, "Daiki-kun?"
Yang dipanggil tidak menjawab dan terus menangis. Riko berinisiatif untuk menghampiri Daiki. Riko mengelus punggung Daiki untuk menenangkannya. Namun, Daiki tidak kunjung berhenti.
"Kenapa kau menangis, Daiki-kun?" Riko berlutut dan menyamakan tingginya dan tinggi Daiki. Riko meremas pundak Daiki lembut. Daiki diam dan menggeleng tanda tak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
Riko lalu mendongakkan kepala Daiki dan menghapus air matanya. "Jangan menangis..."
"Ikenaide..." Daiki membuka suaranya dan memeluk tubuh kurus Riko.
Riko tentu saja menyambut pelukannya dan mengelus punggung Daiki. Perlahan, sayap besar berwarna putih keluar dari balik punggungnya. Riko berkata, "Gomen..."
"Riko...?" Daiki tentu saja terkejut dan menatap Riko dengan penuh tanda tanya.
"Maaf, Daiki-kun... Aku harus pergi sekarang..."
"A-Apa?! Jangan... Kumohon..."
"Sudah ada yang menungguku, Daiki-kun... Gomen..."
"Kumohon... Riko..." Daiki menggenggam tangan Riko erat.
"Wherever You're, I always make you smile... Wherever You're, I always by your side..." Riko menyanyikan sedikit bait lagu yang dulu sering ia dengarkan dengan Daiki. Dia menempelkan ujung hidungnya ke Daiki.
"Whatever You say, kimi wo omou kimochi.. I promise you 'forever' right now..." Daiki ikut menyanyikan sedikit liriknya. "But..." Tiba-tiba, Daiki mencium bibir Riko lembut dengan cepat. Membuat Riko terbelalak kaget.
"D-Daiki...kun..." gumamnya dan di balas dengan senyuman getir dari Daiki.
"Ari...gatou..." ucap Riko sambil mengepakkan kedua sayapnya lalu membungkus tubuh mereka berdua. Setelah itu, dia menghilang dari pandangan Daiki.
"R-Riko... Riko...!" Daiki terkejut dan–
"Riko!" Daiki lantas membuka matanya yang berair disertai dengan keringat yang terus meluncur dari dahinya. Objek yang tadi di panggil Daiki, masih tetap tertidur. Namun, air mata mengalir dari sudut matanya.
"Ri...ko...?"
"Go...men...," bisik gadis itu dengan parau dan air mata yang membasahi pipinya itu.
"H-Hei... Daijoubu..." Tangan Daiki bergerak dan mengelap air mata Riko. Akibat sentuhan itu, mata Riko perlahan membuka dan merasakan cahaya yang amat terang.
"Da...i...ki..." suaranya masih separau yang tadi. Tangannya berusaha menggapai apapun yang ada di depannya.
"Ya...?" tanya Daiki sambil menggenggam tangan Riko yang agak dingin.
"Yo...katta..."
"N-Nanda...?" tanya Daiki. Riko menggeleng dan memilih diam. Terjadi keheningan yang begitu mengganggu mereka yang biasanya sering bertengkar dan bercanda.
"Aku sebenarnya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersamamu, Daiki-kun..." Akhirnya, Riko membuka suara.
"Eh? Ada masalah apa...?"
"Tadi waktu aku tidur, Tuhan datang dan bilang, Riko bakal sama Tuhan dalam waktu dekat..." Riko memandang kosong ke depan.
"A-Apa...?" Daiki tentu saja terkejut.
'Jadi seseorang yang tak kelihatan jelas itu... Tuhan?' batinnya.
"Aku gak tahu kapan Tuhan bakal panggil aku. Namun lebih baik bersiap, kan?" tanya Riko sambil tersenyum. Daiki yang melihat senyumannya terasa teriris.
"A-Aku tahu... Tapi..."
"Tapi...?"
"Kalau yang lain belum siap bagaimana...?" tanya Daiki.
"Eh? Ya mau bagaimana lagi, harus pasrah..." Riko menatap Daiki lembut.
"Begitu ya..." Daiki tersenyum getir.
"Daiki-kun jangan nangis berlebihan saat aku pergi nanti, ya~" canda Riko sambil tertawa kecil. Daiki menggenggam tangan Riko erat dan menangis di sana.
"Shh... Nakanaide... Watashi wa daijoubu..." ucap Riko sambil tersenyum yang tentu saja membuat Daiki ikut tersenyum.
Di keesokkan harinya setelah pulang dari pekerjaannya, dia kembali datang mengunjungi Riko. Saat dia membuka pintu terlihat Riko yang sedang tertidur dengan nyenyak. Daiki menyunggingkan senyum kecil dan menghampiri Riko.
"Riko..." gumamnya. Tangannya bergerak memperbaiki masker oksigen Riko yang sedikit melorot dari posisinya yang asli. Karena, dia melihat Riko yang agak sulit bernafas. Dan saat itu juga mata Riko terbuka dengan wajah yang memerah.
"Daiki-kun...?"
"Hm?"
"Kau sudah dapat kabar dari Kuroko-kun?" tanya Riko sambil menatap Daiki.
"Tidak. Aku sudah berusaha untuk menghubunginya. Namun, tidak mendapat jawaban darinya. Aku juga sudah menghubungi Taiga dan anak-anak Seirin. Namun, tidak ada yang mengetahui. Tetsu seperti menghilamng di telan bumi," jawab Daiki panjang lebar.
"Ah, benarkah...?" Riko menghela nafas. Daiki menggangguk.
"H-Haah..." Riko memejamkan matanya erat dan meremas sprei ranjangnya dengan kencang. Paru-parunya terasa sesak dan sakit.
"Ada apa?" tanyanya yang melihat perubahan dari mimik muka Riko.
"S-Sa-kit..."
Nafas Riko tersengal dan sangat sakit. Daiki kembali menekan tombol bantuan yang berada di samping ranjang Riko. Peluh mengalir dari dahi dan pipinya akibat menahan sakit. Shintarou kini datang sendirian tanpa di temani suster-susternya. Dokter yang suka di bilang wortel itu mengeluarkan jarum suntik dan memasukkannya ke dalam pembuluh darah Riko.
"Apa yang kau masukkan kedalam tubuhnya, Midorima?" tanya Daiki sambil menatap Shintarou.
"Obat pemudar rasa sakit, kami tidak akan melakukan operasi padanya. Keadaan tubuhnya tidak stabil untuk melakukan proses operasi."
"..." Daiki terpaku dan menatap tubuh Riko yang terbaring lemah dengan nafas tersengal. Riko terlihat masih sadar. Shintarou lalu berjalan keluar dan menepuk pundak Daiki untuk sekedar menguatkannya.
"Dai...ki?" Dengan suara terputus dan nafas yang tersengal, Riko membuka suara untuk memanggil pemuda biru itu. Yang dipanggil tidak menyahut sama sekali. Malah, Daiki berjongkok di dekat pintu keluar kamar. Membuat Riko kebingungan.
Riko berusaha mengubah posisinya menjadi duduk dengan susah payah. Tangannya terulur untuk meminta pertolongan Daiki. Bibirnya kembali ingin memanggil nama Daiki. Namun, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Suntikkan yang Shintarou berikan hanya bertahan 5 menit di tubuhnya. Membuat rasa sakit yang menusuk itu kembali menyerang paru-paru dan tubuhnya.
"Gomen... kh—!"
Suara terakhir yang Riko keluarkan membuat Daiki menolehkan kepalanya dan menatap Riko, lalu berjalan mendekatinya.
"Riko...?"
"T-tidak apa-apa..." Gadis mantan pelatih itu masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyum.
"Hontou?"
Riko mengangguk sebagai jawaban dan menatap balik Daiki. Rasa sakit yang diterimanya semakin menjadi-jadi. Membuat sengatan-sengatan di paru-parunya.
"A-aku mengantuk..."
"Tidurlah..." Daiki membantu Riko membenarkan posisinya menjadi tiduran. Tangan Daiki mengelus rambut kecoklatan Riko yang semakin lama semakin menipis.
"Boleh aku... minta ciuman selamat tidurku...?" tanyanya.
'Aku ingin merasakannya...'
"Oyasumi..." Daiki terkekeh pelan dan mencium keningnya.
Riko terdiam dan kembali membuka mulutnya untuk mengeluarkan beberapa kata.
"Boleh aku egois untuk sekali saja...?" Riko menatap tepat di iris pemuda itu.
'Aku ingin merasakan rasa nyaman dan hangat itu...'
"Sekali saja, ok?"
'Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai...'
Riko mengangguk.
'Aku hanya ingin menghilangkan sejenak semua fakta yang aku ketahui...'
Daiki mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti.
'Aku hanya ingin berada di dalam duniaku sejenak...'
Riko menutup kedua matanya.
'Dan mengingat semua kenanganku dengannya... Apa yang sudah aku lalui bersamanya...'
Daiki mempertemukan kedua bibir mereka dengan satu ciuman singkat namun lembut.
'Aku tidak mungkin melupakan semua yang terjadi bersamanya...'
"Oyasumi, Riko..."
'Aku mencintaimu, Daiki...'
PIIIIIP...
'Selamanya...'
"Ri...ko...? Riko...? Riko...! Jawab aku!" Daiki terkejut saat mendengar bunyi 'pip' panjang dari alat itu. Tangannya menggenggam tangan Riko yang mendingin dan memeluknya, mencoba menyalurkan kehangatan yang dia miliki pada sang gadis.
"Bangun... kumohon..."
Sang gadis tidak akan terbangun lagi untuk selamanya. Daiki dengan air matanya menatap tubuh Riko yang sudah memucat. Daiki memperhatikan bibir pucat Riko yang menyunggingkan senyum di dalam tidur panjangnya itu.
"Baka da..."
...
Pemakaman di daerah Tokyo itu ramai. Banyak orang berpayung hitam dan berpakaian hitam datang. Mereka membawa bunga putih untuk di letakkan di atas makam. Dan di antaranya, seorang pemuda berkemeja hitam dengan celana hitam sedang memandang peti kayu dengan tutup kaca di atasnya.
"Kau ini, selalu saja membuatku terkejut..." Dia terkekeh dan menatap orang yang 'tidur' sambil tersenyum di dalam peti mati itu. Dia berdiri di samping peti mati itu dan mengusapnya perlahan.
Sesosok bayangan putih yang memiliki sayap senada, berada di belakang Daiki dan memeluk lehernya dengan kedua kaki terangkat. Orang-orang di sana tidak ada yang bisa melihat sosok itu.
"We all have unforgettable and precious treasure..." Dia berbisik pelan di telinga Daiki.
"You're right, Ri—ko...?" Daiki terkejut saat melihat tangan putih yang melingkari lehernya.
Tangan sosok itu—Riko—turun dari leher ke pinggangnya dan memeluk Daiki. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Daiki. Daiki sungguh heran saat sentuhan yang Riko berikan ke tubuhnya terasa nyata dan tangan Riko tidak menembus tubuhnya.
"Arigatou, tolong jaga Kuroko-kun baik-baik ya, kalau dia sudah kembali..."
Daiki bisa melihat perlahan orang-orang yang ada di sekitarnya menghilang dan di gantikan dengan warna putih. Daiki melepas pelukkan Riko dan dia membalikkan badannya menghadap Riko, lalu menyentuh pipi gadis itu.
"Janji, jangan melupakanku, ne?"
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Riko memegang tangan kiri Daiki yang menyentuh pipinya. "Dream as if you will live forever... And live as if you'll die today..."
Daiki menyunggingkan senyumnya dan mengangguk kecil membenarkan perkataan Riko.
"Ah, satu lagi," ujarnya lalu menarik tangan kiri Riko yang bebas dan mencium bibirnya lembut.
"M-mhh...?" Riko terkejut dengan ciuman itu. Rasanya sangat nyaman dan dia bisa merasakan sedikit kehangatan. Tak lama, Daiki melepaskan ciuman itu.
"D-Daiki...?" Kini jarak wajah mereka sangat dekat. Daiki menempelkan keningnya dengan kening Riko.
"Sepertinya aku terlambat, ya?" tanyanya sambil terkekeh. Air mata mengalir dari sudut mata ke pipinya.
"E-eh? M-maksudmu—" Ucapan Riko terputus saat Daiki mencium pipinya.
"Kau tahu 'kan? Suki."
"T-tapi—? B-bukannya kamu menyukai Kuroko-kun?" Tentu saja, Riko tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Dulu memang iya. Namun, setelah aku menghabiskan waktuku bersamamu, aku menyadari bahwa aku menyukai—ah tidak, maksudku aku mencintaimu, Riko..."
Kontan air mata yang selama ini di tahannya, mengalir begitu saja. Riko terisak seiring dengan bayangannya yang memudar. Sayapnya mengepak-ngepak dengan sangat indah. Membawanya menjauh dari pemuda itu.
"Arigatou...! A-aku akan kembali... Aku tidak akan melupakanmu dan semua hal yang kita lakukan! Aku akan menyimpannya sebaik mungkin dalam memoriku..." Riko mengeraskan suaranya saat dia tahu bahwa dirinya perlahan menjauh.
Daiki diam dan menunjuk Riko, lalu menunjuk kepalanya sendiri yang berarti 'aku tidak akan melupakanmu'.
"Sayonara ne, Riko..."
Riko mengangguk dan menghilang seiring dengan jatuhnya bulu-bulu sayapnya yang terlepas. Daiki mengambil salah satu bulu berwarna putih itu dan semuanya kembali normal. Orang-orang yang tadinya menghilang, kembali ada bersamanya di pemakaman itu.
Daiki meletakkan bulu putih itu di depan dadanya dan memandang raga Riko yang terbaring di dalam peti mati itu. Air mata mulai menetes pelan dari pelupuk matanya dan menetes di atas peti mati gadis itu.
"Kita akan bertemu lagi..."
~OwArI~
A/N : akhirnya setelah sekian lama saya menghilang, FF ini bisa terselesaikan dengan sempurna~
Pertama, saya mau ngucapin terima kasih buat Tuhan YME. Kedua, untuk OS_AomineD yang sudah nge-RP bareng saya dan lahirlah FF ini. Ketiga, buat para readers yang review, favorite, dan follow! Keempat, buat semua yang ada di sekitar saya. Kelima, buat laptop tersayang saya.
Tenang aja guys. Abis ini masih ada side story dengan latar 5 tahun setelah kematian Riko!
Jaa na! Sampai ketemu di side story dan FF saya yang lainnya!
Wednesday, June 18th 2014
.
.
Great Deceiver a.k.a Faboeloes ^^
