Title: Bitter Memory
Chapter: 2/?
Genre: yaoi, drama
Warning: AU, mpreg, mxm relationship
Pairing: aoixuruha (more to come)
Disclaimer: They belong to themselves, their family and their company. I don't make any profit from this thing. Beside ur sweet-chewy reviews XD
Enjoy!
Mata mereka saling terpaut. Cokelat lembut dan hitam tajam. Ada kegetiran dalam bola mata cokelat itu. Sejenak ia kelihatan ingin menangis. Aoi tahu Uruha pasti tidak mau melihat wajahnya lagi. Ia pasti sangat muak. Tapi apa boleh buat. Takdir memutuskan untuk mempertemukan mereka kembali pada waktu yang tidak tepat. Bagi Aoi, bertemu Uruha lagi sama sekali bukan pertanda baik. Ia tak mau dibuat jatuh cinta dua kali oleh Uruha. Mungkin bukannya tidak mau tetapi tidak boleh. Ia punya alasan untuk hal itu.
"O-oh, Uruha... jadi kau penata riasku?", Aoi tersenyum gugup. Tangannya mencengkeram tepi pintu erat-erat. Ia bisa mendengar Uruha menghela nafas berat. Sejenak ia memejamkan matanya sambil meminta Aoi masuk dan menutup pintu. Sekarang tidak tampak lagi kebencian, kemarahan, ataupun kegetiran di matanya. Hanya datar saja. "Duduklah. Maaf karena keterlambatanku kita harus buru-buru." Dengan tangan gemetar Uruha menyisir rambut Aoi. Sangat lembut dan hati-hati, tipikal Uruha sekali.
Tanpa sadar ia pun terbayang kembali pada malam 2 tahun lalu. Malam penuh nafsu antara mereka berdua. Uruha memang sangat lembut. Lehernya, kakinya, dadanya... Sangat mulus. 'Tidak tidak tidak!' Cegahnya agar tidak berpikiran terlalu jauh. Kalau begini terus lama-lama... Uh, jangan pikirkan!
Sekarang Uruha sudah mulai merias wajah Aoi. Gerakannya memang tampak buru-buru. Maklum, waktu syuting tinggal sebentar lagi. Tapi tetap saja hasilnya rapi. Selama Uruha merias Aoi, Ruki tak henti-hentinya merengek. Itu cukup membuat Uruha repot. Berkali-kali ia mengeluarkan suara-suara untuk menenangkan Ruki. Dan Ruki malah merengek semakin keras sampai akhirnya menangis. Uruha menghentikan gerakan tangannya secara tiba-tiba. Ia mengernyit sambil menggigit bibir bagian bawahnya kebingungan. "Aduh, bagaimana ini?", bisik Uruha panik. Masa ia harus meninggalkan pekerjaannya dulu? Waktu syuting tinggal 15 menit lagi! Mana cukup waktu sesingkat itu.
Tiba-tiba Aoi berdiri dari bangku, itu sempat membuat Uruha terkejut. Kemudian ia berjalan ke arah kereta bayi Ruki. Disitu tampak seorang bayi mungil sedang menangis. Entah atas dorongan apa Aoi lalu menggendong bayi itu itu. Dan ajaib! Ia langsung berhenti menangis. Uruha berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya lantas berkata, "Aoi, kemari! Aku belum selesai meriasmu!". Suaranya bergetar namun tetap berusaha terdengar biasa. "Aoi-" "Mengapa kau tidak memberi tahu aku?", potong Aoi dengan nada netral. Sementara Ruki dalam gendongannya mengoceh riang. Tak merasakan sedikitpun ketegangan antara kedua orangtuanya.
"Sudahlah, Aoi! Lupakan saja!", pekik Uruha tertahan. Kini tenggorokan dan dadanya terasa sakit. Entah sejak kapan udara berubah setajam jarum yang siap menusuk paru-parunya.
"Aku tahu kau tidak bisa lupa." Tentu, bagaimana ia bisa lupa? Kalau bahkan perbuatan mereka menghasilkan sesuatu. Perlahan-lahan Aoi melangkah mendekati Uruha. Hingga jarak mereka tinggal setengah meter.
"Mengapa kau tidak memberi tahu aku?", ulang Aoi masih dengan nada yang sama. Ia perlu penjelasan dari Uruha. Seumur hidup ia tidak akan tenang bila belum mengetahui kebenarannya. Meski di satu sisi ia tidak ingin mendengar juga. Aoi takut sebuah kenyataan bisa menghancurkan kehidupannya yang sudah sempurna.
Tubuh Uruha bertambah lemas. Untuk apa Aoi bertanya? Ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Terpaksa bekerja dengan Aoi saja sudah cukup membuatnya makan hati. "Aku sudah berusaha mencarimu. Tapi kata petugas hotel kau dan semua kru film sudah pulang," singkat Uruha sambil menunduk menahan air mata. Sebenarnya ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Aoi. Itulah mengapa ia berusaha memperlihatkan kebencian kepada Aoi. Tetapi tetap saja di depan Aoi, Uruha seolah tak berdaya.
Aoi berpaling menuju bangku di depan meja rias. Ia duduk sambil memangku Ruki. "Aku tahu kau tidak ingin menjawab. Baiklah, lanjutkan saja tugasmu. Kita tidak punya banyak waktu." Kata-katanya terdengar lebih dingin daripada yang ia maksudkan. Membuat Uruha agak merinding. Dan dengan itu Uruha pun melanjutkan pekerjaannya.
~~ooO0Ooo~~
"Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu."
"CUT!", seru Tuan Sutradara kepada Aoi dan seorang aktris lawan mainnya. "Waktu makan siang." Ia menjelaskan seraya bangkit dari kursi. Aoi mengangguk tak lupa tersenyum pada si aktris. Hari ini syuting berjalan lancar. Meski kadang konsentrasi Aoi agak buyar. Terlebih setelah sutradara memotong adegan dan meminta penata rias untuk memperbaiki riasan para pemain. Yah, Aoi dan Uruha memutuskan untuk pura-pura tidak saling kenal selama proses pembuatan film berlangsung. Tapi Aoi justru merasa aneh. Mungkin dia masih bisa -walaupun sulit- mengabaikan kehadiran Uruha. Tapi mengingat Uruha membawa Ruki... Well, dia tidak sanggup mengabaikan Ruki. Ia selalu ingin terus dekat, mengajaknya bermain, atau sekedar membuat ia tertawa. Apakah ini naluri seorang ayah?
"Wah, Uruha! Ruki bisa berjalan sendiri!" salah seorang kru memberi tahu Uruha. Mendengar hal itu Aoi pun teringat akan sesuatu. Setahu Aoi, Ruki baru berusia sekitar setahun. Dan menurut apa yang ia dengar saat Uruha mengobrol dengan penata rias lain, Ruki belum lancar berjalan. Aoi jadi ikut khawatir.
Masih melayang di awang-awang. Aoi berdiri menghadap danau buatan tempat tadi mereka mengambil gambar. Paling Ruki sudah berhasil ditangani oleh ibunya. Pikir Aoi santai. Tidak menyadari ada yang sedang mendekatinya sekarang. "Hupph pa pa pa~" BUMP! Aoi merasakan ada sesuatu menabrak kakinya. Refleks ia menunduk dan mendapati Ruki berdiri di atas kedua kaki kecilnya yang masih goyah. Tangan Ruki memeluk kaki kanan Aoi. Ia mengoceh tak jelas sambil melompat-lompat kecil. Dengan senyum mengembang Aoi mengangkat Ruki ke udara. Pura-pura menjadi pesawat. Sementara Ruki tertawa senang.
"Beep beep... Pesawat Ruki Airlines siap meluncur...", Aoi memutar-mutar Ruki di udara membuat si mungil itu terkekeh semakin keras. Orang-orang di sekitar mereka tertawa geli. Tak termasuk Uruha. Dirinya justru terdiam membisu di tengah derai tawa orang-orang. Berdiri mematung melihat kebersamaan Ruki dan ayahnya. Nafasnya terasa sesak setiap kali melihat Aoi dekat dengan Ruki. Demi Tuhan, jangan buat ia berharap!
"Sepertinya Aoi sudah benar-benar siap menjadi ayah," ujar seseorang mengejutkan Uruha. Ternyata itu Shou, penata rias pribadi si aktris utama.
"Maksudmu?", tanya Uruha pura-pura tertarik. Meskipun pada kenyataannya kata-kata Shou barusan memang kedengaran menarik di telinga Uruha. Ia ketinggalan gosip apa?
Shou menautkan alis sambil menatap Uruha tidak percaya. Apa dia tidak pernah menonton infotainment? Jelas-jelas semua orang pun tahu. Oh please, berita itu sudah lama beredar. "Kau tidak tahu? Kekasih Aoi -Kai- sedang mengandung 7 bulan. Masa kau tidak tahu?", jawab Shou enteng sementara Uruha terbelalak kaget. Ia mengarahkan pandangannya menuju Aoi dan Ruki. What the hell? Maksudnya… "Shou, sudah berapa lama mereka bersama?", tanya Uruha tanpa mengalihkan pandangannya dari Aoi dan Ruki. "Setahuku sih… sekitar 3 tahunan –mungkin lebih. Ada apa?"
Mata Uruha membulat, masih tak mengerti dengan jawaban Shou. Tiga tahun… itu berarti ketika ia dan Aoi bertemu, Aoi sudah memiliki Kai? Pria brengsek. Di seantero negeri ini sudah berapa banyak anaknya? "Uruha, kau melamun? Hey!", Shou melambaikan tangannya di depan mata Uruha berharap bisa menyadarkan si rambut honeyblonde dari ketidak sadarannya.
"E-eh maaf! Aku memang tidak terlalu memperhatikan info-info selebriti jadi yah…", Uruha tertawa agak terpaksa. "Mmmm, permisi aku mau mengambil Ruki dulu…" Kemudian Uruha berlari ke tempat Aoi dan Ruki berada saat ini.
Pria brengsek, sialan, kurang ajar! Teriak Uruha terus-menerus dalam hati. Tampaknya tidak salah kalau ia membenci Aoi. Ia memang pantas dibenci. Menyakiti hati seorang remaja berusia 17 tahun lalu meninggalkannya dengan seorang anak. Dia pikir itu mudah? Kini Aoi sudah ada di depan matanya. Masih menggendong Ruki dengan senyuman tulusnya –yang benar-benar Uruha benci. Ingin sekali ia menghancurkan wajah tampan itu dan menenggelamkannya ke dasar laut, sungguh-sungguh ingin.
"Aoi, cepat turunkan dia", kata Uruha pelan dalam nada memerintah. Seketika itu pula Aoi berbalik menghadapnya. Dengan ekspresi sakit juga tak senang. Kenapa? Ruki juga anaknya, kan?
TBC
Nggak di edit lagi ToT buat yg udah review pasti kiky bales kok! Tenang! Yg login saia reply… yg anonymous saia bales chapter depan x) review lho~ klo nggak saia cipok nih! XP
