a/n: Assalamu'alaykum sahabat semua, sekarang vea update lagi lho~! #Plak Tapi, vea ngerasa chapter ini agak Ngga jelas gimana gitu, but, vea harap kalian akan betah membacanya dari awal hingga akhir. Amin... Hehe, pertama-tama, bales yang review dulu ya~!
Renton : Hehe, iya, dasar mereka berdua itu^^ Amin... Makasih banyak do'anya, salam manis u/ mu :)
NN : Wuah, udah update nih :)
Hanari : Makasih, kalau mau bertanya, silahkan via PM biar bisa lebih jelas :)
Evelyn : Lho? Perasaan dulu vea pernah muat di FB, memangnya evel belum pernah baca ya? Nanti vea iklankan di FB :D
Ami : Hehe :D
Kemudian, u/ para readers, makasih banyak lho udah mau luangin waktunya baca fic vea yang gaje ini~! XD
Sacrificium Amoris Anemone
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Sacrificium Amoris Anemone © Invea
Rated : T
Crime-Romance-Hurt/Comfort-Friendship-Angst
Warning : GaJe! Typo! OC! Alur berantakan! Kurang pendeskripsian! De eL eL
Enjoy~!
.
.
Sesampainya di rumah…
"Aku pulang…" ujar Karin begitu ia membuka pintu depan rumahnya. Hening. Tak ada sahutan. Ia kemudian menuju ruang tamu. Tatapannya kini tertuju pada sebuah note kecil yang terdapat di atas meja. Diraihnya note itu, kemudian, dibacanya perlahan.
Hari ini Bibi pulang telat, bahan makanan ada di kulkas. Jangan lupa untuk mengunci semua pintu dan jendela. Dan jangan lupa untuk membereskan rumah!
'Akh… Sendirian lagi!' keluh Karin dalam hati. Ia kemudian pergi menuju kamar pribadinya.
.
.
Setelah berganti pakaian, Karin kemudian mulai membereskan rumah. Tepat saat ia tengah mencuci piring, tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya menandakan ada seorang tamu yang datang.
"Tunggu sebentar!" Karin kemudian mencuci tangannya yang saat itu licin oleh sabun. Ia kemudian melepas apron putihnya dan bergegas membukakan pintu. Alangkah herannya ia mendapati pemuda berambut pirang alias Kazune itu tengah berdiri di hadapannya.
"Kamu lagi? Mau apa?" tanya Karin dengan nada tinggi. Ia sedikit kesal karena pekerjaannya diganggu.
"Ini sambutan darimu pada orang yang telah berbaik hati datang ke sini hanya untuk mengantarkan buku pelajaranmu yang tertinggal tadi di kelas?" tanya Kazune kesal.
"Memang buku pelajaranku tertinggal di kelas ya?" tanya Karin heran. Kini wajahnya tampak sangat polos, membuat Kazune semakin kesal.
"Dasar bodoh! Makanya sepulang sekolah kau periksa isi tasmu itu!" bentak Kazune kemudian.
"Ya, sudah, mana bukunya?" tanya Karin ketus.
"Nih!" Kazune dengan kasar menyodorkan buku pelajaran Karin. Diarihnya buku itu dengan cepat diambil oleh Karin.
"Makasih, ya! Aku masih banyak pekerjaan nih! Sampai jumpa!"
Brak!
Karin menutup pintunya dengan keras.
"Huh! Dasar cewek tidak tahu diri!" keluh Kazune. Dia lalu hendak berbalik pergi, tiba-tiba…
Bruk!
"KARIN!"
Kazune lalu membuka pintu rumah Karin, tanpa permisi ia lalu memasuki rumah Karin. Ia mendapati Karin yang pingsan di depan dapur.
"Karin… Karin…"
Kazune mencoba untuk membangunkannya. Ia lalu meraba kening Karin.
'Ya ampun, panas sekali!'
Kazune lalu membaringkan Karin di kamar Karin. Dia lalu mengompres dahi Karin dan memeriksa suhu tubuh Karin.
'E… Empat puluh derajat celcius? Panasnya tinggi sekali.'
"Ibu… Ibu… Ibu…" igau Karin sembari menangis. Wajahnya memerah karena demam. Keringat bercucuran deras dari pelipisnya.
'Oh, iya. Orang tua Karin di mana ya?'
Kazune lalu menatap sekeliling. Dia lalu menemukan sebuah note kecil, pesan dari bibi Karin.
'Jadi selama ini dia tinggal sendirian?' tanyanya dalam hati.
"A… Aku…"
"Akh… Karin, syukurlah kau sudah sadar."
"Kazune? Eh, kenapa kau ada di kamarku?" tanya Karin heran.
"Kau tadi pingsan," terang Kazune. Mata Karin membulat, tak percaya.
"Benarkah?"
"Apa kau sakit?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa, kok."
"Kau yakin?"
"Ya."
"Aku buatkan makanan, ya?"
"Tidak usah."
"Sudahlah! Kau diam saja, ya! Aku akan buatkan bubur special untukmu!"
"Tapi…"
"Dijamin enak deh…"
"Terima kasih."
Karin lalu kembali berbaring.
'Kazune kok sikapnya berubah ya?' Tanya Karin dalam hati dengan sangat heran. Padahal selama di sekolah tadi sampai mengembalikan buku pelajarannya, Kazune bersikap begitu dingin. Tapi, sekarang ia berubah menjadi sangat baik. Sebenarnya Kazune sedang kerasukan apa sih?
.
.
Tak lama kemudian, Kazune menghampiri Karin sembari membawa semangkuk bubur special.
"Nih, makanlah selagi hangat!"
"Terima kasih." Karin kemudian memakan bubur itu sesendok. Kazune langsung menyambutnya dengan sebuah pertanyaan,"Enak nggak?"
"Iya. Tak ku sangka kau yang selalu kasar bisa sebaik ini."
Wajah Kazune lalu memerah.
"Ah, biasa aja kok."
Tululut Tululut… Terdengar bunyi ponsel Kazune, menandakan ada sebuah panggilan yang masuk. Nama Himeka tampak di depan layar ponselnya. Ia kemudian menjawab panggilan tersebut.
"Ah, Halo? Himeka?"
"Kazune, kau baik-baik saja? Kenapa belum kembali?"
"Iya, aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. Ada sesuatu, aku akan pulang sebentar lagi. Kazusa masih menemanimu kan?"
"Iya. Aku hanya khawatir saja."
"Tenanglah, aku akan pulang sebentar lagi."
"Ya sudah kalau begitu, cepat pulang ya!"
"Iya… Iya…"
"Pulanglah!" Kata Karin.
"Tapi, kau…"
"Aku sudah tak apa-apa kok." Jawab Karin sambil tersenyum.
"Tapi, aku akan menemanimu sampai bibimu pulang."
Karin menggelengkan kepalanya.
"Bibiku pulang larut malam. Himeka bisa tambah khawatir. Kau pulang saja."
"Tapi kalau terjadi sesuatu padamu nanti…"
"Tenanglah, kau tak perlu mengkhawatirkanku."
Kazune lalu mengambil handphonenya dan menelpon Himeka.
"Kazune? Ada apa?"
"Himeka, malam ini aku akan berada di rumah Karin."
"Eh? Apa yang terjadi pada Karin?"
"Dia tadi pingsan. Aku akan menungguinya sampai bibinya pulang. Kazusa akan menemanimu menggantikanku."
"Baiklah kalau begitu. Sampaikan salamku pada Karin, ya. Semoga dia cepat sembuh."
"Ya."
"Ka… Kazune…" Ujar Karin.
"Tuh kan, Himeka pun mengijinkanku untuk menemanimu. Jadi kau jangan banyak protes ya! Berterima kasihlah aku mau menungguimu!"
"I… Iya… Terima kasih. Maaf aku telah merepotkan kalian semua."
Karin lalu menangis. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Kazune lalu menghapus air mata Karin dengan jari-jari tangannya.
"St! Jangan menangis lagi ya! Nanti sakitmu tambah parah. Kalau kau sudah menghabiskan buburnya, minum obat penurun demam ya!"
Karin hanya mengangguk. Selesai makan dan minum obat, dia lalu tertidur. Kazune dengan setia menemani Karin. Dia duduk di sebelah tempat tidur Karin. Perlahan-lahan, dia menyentuh tangan Karin dan menggenggam tangan Karin.
'Karin… Jangan pergi! Padahal aku sudah lama mencarimu, jangan pergi tinggalkanku,' seru Kazune dalam hati.
Karena kelelahan, akhirnya Kazune pun tertidur.
.
.
"Karin… Jangan pergi…"
"Kamu siapa?"
Karin tak dapat melihat dengan jelas wajah anak laki-laki yang menghampirinya.
"Padahal selama ini aku selalu mencarimu, padahal aku baru bertemu denganmu, tolong jangan tinggalkan aku!"
"Tu… Tunggu!"
.
.
'Akh!'
Karin lalu terbangun.
'Sebenarnya siapa ya anak laki-laki itu?' tanyanya dalam hati.
Karin lalu melihat sekeliling. Ia kaget melihat Kazune yang tertidur sembari menggenggam erat tangannya.
"Ka… Kazune…"
Kazune lalu terbangun.
"Ohayou Kazune-kun…"
"Karin…"
.
.
To Be Continued
.
.
Review Please?
