In My mind

Seperti biasa , hari ini aku berjalan sendirian menuju KHS dengan santai.

"haamm, sepi…"aku menggerutu dalam hati sambil cemberut kesal. Tanpa aku sadari sepanjang jalan aku celingukan tidak pasti. Ntah apa yang aku cari.

Sampai pelajaran ke -3 dengan mapel melukis pun aku lewati seperti biasa, datar. Dan entah kenapa aku merasa ada yang kurang, aku merasa bosan dan hampa.

"oi, hinata ! sketsamu bagus, aku baru tau kau berbakat melukis,"celetuk sai yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku. Memandang sketsa kasarku, dan membuyarkan lamunanmu.

"benarkah ?,"tanyaku tidak percaya memandang sketsaku dan entah mengapa aku ragu melihat karyaku sendiri.

"i… ini..,"cicitku ketika menyadari apa yang aku lukis

"wah, lihat… ! hinata melukis Uchiha Sasuke ,"celetuk Ino yang melukis di belakangku. Seketika murid lain mengerubungi lukisanku dengan antusias. Entah apa yang mereka pikirkan, aku hanya tersenyum miris tidak percaya.

'braakk… 'Bantingan pintu sasuke pun sukses membuat teman – temanku bungkam. seperti biasa sasuke datang terlambat dan masuk ke ruang lukis dengan seenaknya. Untung saja hari ini guruku sedang ada acara sehingga tidak masuk dan hanya memberi kami tugas melukis bebas.

"Yo, teme ! lihatlah, hinata melukismu,"teriak Naruto dengan suara cemprengnya memecah keheningan

"bodoh,"desis sai yang masih berdiri di sampingku sambil menyenggol tangan naruto. Aku tahu maksud sai, dia hanya tidak ingin membuat suasana menjadi keruh dengan memancing emosi sasuke. Ya, aku pernah mendengar salah satu siswi KHS melukis wajah tampan sasuke, dan hal itu membuat sasuke geram. Dia pun merobek dan memaki gadis tak berdosa itu, Kejam.

Kini aku dapat melihat sasuke yang menatap tajam dan berjalan ke arahku, seketika teman – temanku kembali ke aktifitas semula tidak ingin ikut campur ataupun terlibat masalah.

Kini dia berdiri tepat di dapanku, aku hanya dapat menunduk menutupi wajahku yang mungkin sudah memerah malu dan takut. Sementara, sai masih di sampingku. Mungkin sai iba dan ingin membantuku.

"sasuke itu-"

"tidak salah bila dia melukis wajah kekasihnya kan sai"potong sasuke membuatku memberanikan diri untuk menatapnya kembali.

"jadi, kembalilah ketempatmu " kata – kata sasuke sukses mengusir sai dari sampingku yang masih terlihat bingung.

Sejenak sasuke milihat sketsaku dengan ekspresi yang sulit aku artikan, kemudian dia membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajahku membuatku semakin terasa sesak. Aku meliriknya dari ekor mataku.

"jadi, kau begitu mengagumiku eh ?,"katanya menyeringai dan berlalu pergi.

Aku dapat bernafas lega melihatnya menjauh dariku, berada sedekat itu dengannya membuatku sesak dan panas.

'Tunggu, benar juga. Kenapa aku bisa melukisnya heh ? arrggh…' tanpa aku sadari. sejak hari itu, aku selalu memikirkannya. Sejak dia menggenggam tanganku, perlahan aku berlari bersamanya dalam dunianya.

1 detik

2 detik

3 detik

"aku melukis wajah kekasihku ? berarti, secara tidak langsung dia bicara bahwa dia kekasihku eh" Dan aku baru menyadari kata – kata sasuke tadi, Memikirkannya saja membuat wajahku semakin merona. Aku mencoba melirik kea rah sasuke yang jauh dariku. Terlihat dia sedang menatapku dengan seringai anehnya dan membuatku tertunduk malu.

'teng … teng … teng…'

Bel istirahat membuat para murid menghela nafas lega setelah merasakan rasa lapar yang mungkin mulai menggelitik karena seharian belum di isi.

"hinata, kau mau ke kantin "kata sai yang sudah berdiri di sampingku dengan tersenyum aneh. Aku hanya mengangguk pelan membalas senyumannya.

"ayo pergi bersama" ajak sai, aku pun setuju

Ketika ingin melewati pintu keluar, kami harus melewati sasuke yang masih membereskan peralatannya dengan malas

"jadi kau ingin meninggalkanku eh ?"celetuk sasuke tiba – tiba membuat aku dan sai berhenti. Aku menatap sasuke bingung.

"kami akan menunggumu di luar"kata sai sambil tersenyum , aku hanya mengangguk setuju

"dia miliku, kau ingin bersaing denganku eh!"kata sasuke menatap tajam sai yang masih saja tersenyum

"mungkin"jawab sai tersenyum dan aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya ke dua pemuda di hadapanku ini bicarakan. Yang aku tahu, sasuke tidak menyukainya. Sasuke manatap sai kesal dan tiba – tiba menarikku pergi meninggalkan sai dan peralatan lukis sasuke masih berantakan.

"sasuke lepaskan, hentikan,"kataku ketika dia terus menarikku entah kemana. Banyak tatapan kesal murid lain yang sengaja atau tidak dia tabrak, dan aku merasa tidak enak.

Sasuke terus manarikku menuju lorong yang sepi di dekat gudang kemudian dia melepaskan genggamannya.

"apa yang kau lakuhkan hah ?"tanyaku sambil menyandarkan tubuhku ke dinding mencoba menormalkan detak jantungku dan mengatur nafasku yang memburu.

Sasuke hanya menatapku kelam dan mendekatiku dengan pelan. Aku akui aku merasa takut, ketika hendak pergi lagi – lagi dengan sigap sasuke mengurungku dengan kedua tangannya.

"a-apa yang kau lakuhkan ?'cicitku, tubuhku bergetar hebat. Sasuke semakin mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Membuat adrenalinku berpacu, aku semakin ketakutan dan menutup mataku.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik

Aku merasakan nafasnya manyapu seluruh wajahku, keningnya menyatu dengan keningku membuat aku menahan nafas. Dan aku tidak berani membuka mataku sedikitpun.

"aku cemburu, itu melukai hatiku"bisiknya menggelitik wajahku. Aku dapat merasakan dia sedang tersenyum.

"biarkan seperti ini sebentar saja, jangan takut. Aku tidak berfikir akan menciummu,"katanya lagi membuatku kesal, aku yakin kini dia telah menyeringai senang. Aku merasa ketakutanku pun entah sejak kapan sudah menghilang. Aku benci mangakuinya, tetapi aku menyukainya sensasi mendebarkan ini. aku tersenyum di dalam hati.

"sasuke ! hinata ! apa yang kalian lakuhkan !"terdengar teriakan seseorang, membuatku mendorong tubuh sasuke menjauh

"sensai kakashi… "gumamku tidak percaya, celaka apa yang akan di pikirkan guruku jika melihat posisiku dan sasuke seperti ini. sasuke hanya mendecih kesal.

Ya, karena kesalah pahaman itu. Di sinilah sekarang aku dan sasuke berada, Halaman KHS yang luas. Kakashi sensai menghukum kami membersihkan seluruh halaman karena di tuduh berbuat tidak baik di sekolah, dan skor siswi teladanku pun di potong.

"Sa-su-ke... jangan berdiri saja!" aku merajuk kesal dan dia ? pergi mengabikanku .