Pairing : OC/OC, Past D/G, Past H/Hr, H/G, R/L, Possibly D/Hr
Butuh waktu lama bagi Felicity dan Ergo untuk menemukan kompartemen yang kosong. Akhirnya mereka berhasil menemukan kompartemen yang lenggang, bukan kosong, dengan seorang anak lelaki berambut hitam berantakan duduk memandang keluar jendela.
"Jacob?" ujar Felicity ragu-ragu, samar-samar mengenali sosok itu.
Jacob berpaling dan mengedipkan matanya yang hijau indah, terlihat jelas baru bangun dari lamunan yang lama,"Eh," Jacob mengerutkan keningnya,"Mmm..." ia mencoba mengingat-ingat.
"Felicity," ujar Felicity mengingatkan.
"Ya, Felicity," Jacob bergumam, tapi cukup keras untuk didengar Felicity. Kemudian matanya menangkap tatapan mata Ergo yang tampak berbahaya. Dan Felicity bisa melihat kilasan rasa takut disana.
"Ini Ergo Zabini," Felicity mengenalkan dan melangkah masuk.
"Felicity," ujar Ergo,"Apa yang kau lakukan?"
"Aku mau duduk, Ergo" jawab Felicity tidak sabar,"Memang apa lagi yang akan kulakukan?"
"Kita akan cari kompartemen yang lain," Ergo bersikeras.
"Kau yang akan mencari kompartemen yang lain," balas Felicity,"Aku akan tetap disini. Nggak apa-apa kan, Jacob?"
"Eh, ya, tentu saja" jawab Jacob buru-buru,"Dan...kamu disini juga nggak apa-apa, kok...Ergo," tambah Jacob ragu-ragu.
"Baik," seru Ergo dengan suara tertahan kemudian meninggalkan Felicity.
"Maafkan dia, ya" ujar Felicity dan duduk didepan Jacob,"Sebenarnya dia orangnya baik, kalau nggak sedang...seperti itu,"
"Yeah, aku Cuma berharap dia nggak bakal sedang seperti itu sepanjang waktu," canda Jacob dengan suara sibuat-buat.
Felicity tertawa,"Kau lucu tahu nggak?"
Jacob mengangguk-angguk dan membusungkan dadanya, senyum tersungging dibibirnya,"Aku tahu," ujar Jacob bangga,"Aku punya guru paling hebat didunia,"
Masih tertawa Felicity bertanya,"Siapa?"
"Kau tak akan percaya,"
"Siapa?" Felicity mendesak.
"George Weasley,"
Mata Felicity langsung melebar,"Tidak mungkin," ujarnya,"Maksudmu George Weasley pemilik Sihir Sakti Weasley?"
"Ya, dia pamanku," seperti tiba-tiba menyadari sesuatu Jacob langsung menambahkan,"Maksudku teman baik ibuku, jadi dia sudah seperti pamanku sendiri."
"Ergo pasti senang sekali. Dia suka sama Sihir Sakti Weasley tapi ayahnya melarangnya pergi," ujar Felicity,"Terkadang dia dan aku akan menyelinap kesana tanpa sepengetahuan orangtua kami," ia tersenyum mengingat kenakalan mereka.
Felicity menyadari ekspresi Jacob berubah, tapi sebelum ia tahu perubahan apa itu, pintu kompartemen terbuka. Berdirilah Ergo Zabini dengan wajah semerah tomat."Nggak ada kompartemen kosong," gumamnya kemudian duduk di sebelah Felicity, tangan bersidekap didepan dada, menghindari tatapan Felicity dan Jacob.
"Jacob kenal George Weasley, lho" ujar Felicity.
Mata Ergo berkedip menatapnya, Felicity bisa melihat antusiasme dan kesenangan disana."Benarkah?" tanyanya tanpa berpikir sambil meringis. Kemudian ia seperti baru terhantam sesuatu, ia kembali menatap keluar jendela. Sekali lagi tidak mempedulikan Felicity, atau pura-pura tidak mempedulikan."Lalu kenapa?" ujar Ergo buru-buru dengan nada tidak peduli, atau pura-pura tidak peduli. Felicity tahu Ergo memiliki harga diri yang tinggi. Ia hanya bisa bertukar pandang dengan Jacob dan membagi tawa tak terdengar bersamanya. Sepanjang perjalanan Ergo tak bicara sepatah kata pun.
"Granger, Jacob" Jacob maju ketika namanya disebut. Beberapa detik kemudian topi berteriak,"GRYFFINDOR," meja Gryffindor langsung berseru riang.
"Malfoy, Felicity" Felicity maju perlahan ketika namanya disebut. Perasaannya tidak karuan ketika topi seleksi diletakkan diatas kepalanya. Jadi, apakah ia akan menjadi Slytherine seperti seluruh keluarganya? Dan jika tidak apakah ayahnya, bukan, neneknya akan kecewa? Nenek Felicity sudah cukup membencinya.
"Kau penuh keragu-raguan," ujar topi seleksi di kepala Felicity,"Dan hasrat untuk membahagiakan orang-orang yang kau sayangi, sangat terhormat...tidak ada pikiran buruk...kau cukup berani dan cerdas...sebaiknya kau kutempatkan dimana, ya?"
"Slytherine..." bisik Felicity lemah.
"Slytherine?" tanya si topi,"Tapi itu bukan keinginanmu, bukan hasratmu. Kau tidak cocok di Slytherine, Slytherine tidak pantas mendapatkan dirimu. Jadi kutempatkan dimana kau?"
Felicity merasakan jantungnya sendiri berdegup kencang karena ia tahu keinginannya. Tapi, apakah ia cukup punya keberanian untuk mengambilnya? Tapi, ini kehidupannya kan? Neneknya sudah membencinya, jadi kenapa ia harus takut membuat neneknya kecewa?
"Gryffindor..." Felicity akhirnya berbisik.
"Pilihan tepat, Nak" ujar si topi riang,"GRYFFINDOR!" si topi berteriak.
Felicity langsung berlari ke meja Gryffindor yang menyambutnya hangat. Setelah menjabat tangan beberapa anak Gryffindor ia duduk. Ia memperhatikan kumpulan anak yang belum diseleksi. Tapi Ergo bahkan tidak memandangnya.
Ergo adalah anak terakhir yang belum diseleksi,"Zabini, Ergo" ketika namanya disebut Ergo maju perlahan, menjadi yang terakhir sama saja menjadi pusat perhatian.
"Menurutmu dimana Ergo akan ditempatkan?" tanya Jacob ketika topi seleksi diletakkan di kepala Ergo.
"Slytherine," jawab Felicity sedih,"Tapi aku sungguh berharap dia bakal masuk Gryffindor,"
Felicity tak mengalihkan pandangannya dari Ergo. Jantungnya berdetak cepat karena ketegangan. Felicity menyadari bahwa Ergo adalah anak yang paling lama memakai topi itu. sudah hampir sepuluh menit berlalu sampai topi seleksi meneriakkan...
Menteri Sihir Kingsley Shackebolt sedang duduk dikantornya, mempelajari beberapa dokumen yang baru saja diserahkan Departemen Satwa Gaib tentang penemuan spesies baru, Aviansermo. Pak Menteri berpikir sendiri, kenapa pekerjaan seperti ini harus di serahkan kepada Menteri Sihir Inggris? Dia sudah punya cukup banyak masalah untuk diselesaikan.
Seseorang mengetuk pintu, Pak Menteri mendesah lelah,"Masuk,"
Percy Weasley membuka pintu, ia tak banyak berubah kecuali kerutan diwajahnya yang sudah tampak jelas.
"Ada apa, Percy?" tanya Pak Menteri.
"Saya ingin melaporkan keadaan terbaru di Rusia, Pak" jawab Percy tak lebih dari bisikan.
"Silenco," seru Pak Menteri sembari mengayunkan tongkat sihirnya,"Baiklah, Weasley, katakan padaku seberapa buruk"
"Rusia adalah negara luas dan strategis. Kau-Tahu-Siapa telah berhasil mengalahkan kami diserangan terakhir di markasnya. Beberapa orang kami tewas. Kekuatan Kau-Tahu-Siapa semakin kuat dan ia sudah berhasil menguasai keseluruhan Rusia. Kami tak bisa mendapatkan akses apapun. Kami masih terus mencoba mencari bantuan dengan bekerjasama dengan Kementrian Sihir di penjuru dunia. Sampai saat ini kami baru bisa mendapatkan 20 negara dan keseluruhan negara yang ada. Sebagian sudah mendukung Rusia,"
Pak Menteri mengangguk,"Jangan menyerang Rusia lagi. yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah mencari bantuan dan bersiap-siap jika Rusia melakukan penyerangan,"
"Tapi, Pak, bagaimana dengan Harry Potter? Sampai saat ini kami belum mendapat kabar apapun semenjak ia disekap,"
"Bagaimana dengan keluarganya?" Pak Menteri malah balas bertanya, tidak menghiraukan pertanyaan Percy.
"Ginny dan anak-anaknya sudah ada dalam pengawasan Departemen Auror," jawab Percy.
"Bagus," ujar Pak Menteri,"Sekarang kumpulkan kepala setiap Departmen di ruang sidang lama Departemen Misteri. Kita tidak bisa terus menerus mengorbankan puluhan nyawa untuk satu orang yang belum jelas nasibnya," Pak Menteri menatap Percy sedih,"Kita harus melakukan pemilihan suara untuk menentukan nasib Harry Potter dan jangan biarkan pers tahu tentang semua ini,"
Sudah hampir sepuluh menit berlalu sampai topi seleksi meneriakkan...
"GRYFFINDOR,"
Meja Gryffindor kembali bersorak. Mata Felicity membesar karena keterkejutan. Ketika Ergo berjalan ke meja Gryffindor dengan ekspresi yang tak terbaca. Felicity langsung berdiri dari bangku dan memeluk Ergo erat sekali.
Ergo tahu, ia telah mengambil keputusan yang benar.
please review
