"N-naruto, bisakah kau berhenti melakukan itu. A-aku tidak bisa berkonsentrasi," Sasuke dan Naruto duduk dibawah. Naruto ada dibelakang Sasuke yang sedang mengerjakan soal.

Lalu apa yang dilakukan Naruto sampai membuat Sasuke tidak bisa berkonsentrasi. Jangan lupa jika Naruto itu brengsek, dia menyuruh Sasuke latihan untuk mengerjakan soal sementara dia ada di belakang Sasuke menyandarkan kepalanya di atas pundak Sasuke dan tangannya menelusup ke dalam sweater Sasuke mengelusi perut Sasuke.

"Hmm.. Aku tidak melakukan apapun," Naruto berguling di karpet.

Sasuke bisa tenang, untuk sementara.

Sampai dia tiba-tiba berhenti mengerjakan soalnya. Tangan Naruto sudah berada di dalam sweaternya, berada di atas dadanya. Bisakah Sasuke belajar dengan tenang, keadaannya tidak akan bertambah membaik. Naruto memainkan puting Sasuke. Padahal masih siang.

****** Lillow ******

*My Tutor*

*Naruto by Masashi Kishimoto*

Warning:

.OOC. DLDR

Ini hari dimana kemarin dia hampir diserah Sai lalu Naruto menolongnya, dan malah berakhir melakukan itu dengan Naruto. Padahal esoknya dia masih harus sekolah. Jalannya masih belum benar, apalagi bagian belakangnya masih terasa sakit.

Kelasnya makin terasa jauh, teman-temannya banyak yang memperhatikan Sasuke.

"Kau kenapa Sasuke?" Suigetsu namanya, dia paling perhatian diantara temannya yang lain.

"Aku baik-baik saja," Sasuke terus berjalan menuju kelasnya. Dia ingin cepat-cepat duduk.

"Heh.. Kau yakin, cara berjalanmu aneh begitu"

"Aku hanya terpleset"

"Kau tidak bohong kan? Kau berjalan agak mengangkang seperti itu. Seperti gadis yang baru saja diprawani"

"Suigetsu diam. Lagi pula aku laki-laki, mana ada laki-laki diprawani," Suigetsu benar. Sasuke saja yang pandai mensetting wajahnya, membuat Suigetsu tertipu.

"Kukira kau pintar, masak kau tidak tahu. Laki-laki juga bisa, aku sering melihat Karin membaca manga sho-ai. Dua laki-laki, bertindihan. Lalu yang berada di bawah akan sulit berjalan setelah melakukan itu," Sasuke benar-benar ingin memukul Suigetsu sekarang. Sepertinya Sasuke sial hari ini.

"Bisakah kau berhenti mengatakan hal semacam itu, atau jangan-jangan kau yang membaca itu," darah Sasuke naik.

"Ehh? Jadi aku benar," lalu Suigetsu berlari ke kelas. Dia satu kelas dengan Sasuke.

Jika saja lubangnya tidak sakit, dia pasti akan mengejar Suigetsu lalu mencincangnya.

Sasuke tidak pergi dengan teman-temannya saat istirahat. Dia tidak peduli dengan perutnya yang meminta diisi. Bagian belakangnya masih terasa sakit saat dia berjalan. Duduk saja rasanya tidak nyaman.

Suigetsu merasa penasaran sekaligus kasihan melihat Sasuke, temannya itu terlihat aneh hari ini. Sasuke menaruh kepalanya di atas meja. Suigetsu membawakan beberapa makanan untuknya. Mungkin nanti dia harus berterima kasih pada Suigetsu.

"Sasuke, kau yakin baik-baik saja? Atau perlu ku antar ke ruang kesehatan?" Sasuke menjawab Suigetsu hanya dengan gelengan.

Sasuke ingin cepat pulang.

Sasuke baru saja selesai mengemasi barangnya. Dia merasakan getaran ponselnya bergetar di sakunya. Pesan dari Naruto rupanya.

'Bagaimana dengan tubuhmu? Kau baik-baik saja kan?'

Sasuke tidak membalasnya, dia mau pulang. Nanti juga bertemu dengan senseinya. Hari ini waktunya dia untuk mengajar Sasuke.

Sasuke sampai di gerbang sekolahnya. Ada mobil terparkir di pinggir jalan. Sasuke sangat tahu siapa pemilik mobil itu. Senseinya kenapa berada disini.

Benar saja, rambut kuning lalu keluar dari dalam mobil. Naruto setengah berlari ke arah Sasuke.

"Kenapa kau ada disini?"

"Aku mengkhawatirkanmu, tentu saja. Bagaimana dengan tubuhmu, kau bahkan tidak membalas pesanku"

"Seharusnya kau tahu apa akibat dari perbuatan yang kau lakukan. Seharusnya kau bertanggung jawab tuan!" Sasuke melewati Naruto begitu saja.

Naruto menahan lengan Sasuke, dia menarik Sasuke ke dalam mobilnya.

"Maaf, jika masih terasa sakit"

Sasuke hanya diam, dia memalingkan wajahnya. Mana bisa dia melihat wajah Naruto langsung. Padahal kemarin mereka sudah saling lihat bagian pribadi.

"Kau mau aku bertanggung jawab, aku akan bertanggung jawab. Tenang saja aku pasti akan menikahimu nanti. Tapi sekarang bicaralah padaku, jangan mengabaikanku begitu"

Sasuke benar-benar ingin membunuh senseinya. Mana sudi Sasuke menikah dengan orang semacam itu.

.

.

.

Kadang Sasuke berpikir jika senseinya itu sakit atau semacamnya. Naruto terlihat sangat santun jika berada di depan orang tua Sasuke, bahkan Sasuke sampai tidak mengenali Naruto. Berbeda jika hanya ada mereka berdua. Senseinya berubah menjadi seorang brengsek.

"Sasuke, kenapa dengan jalanmu?" Kebetulan hari itu ibunya ada dirumah.

"Terpleset di kamar mandi, aku tidak apa-apa"

Sasuke langsung menuju ke kamarnya begitu pulang. Tidak memperdulikan Naruto yang sudah mengantarnya.

Sayup-sayup Sasuke bisa mendengar jika Naruto sedang bicara dengan ibunya yang berada dibawah.

Sasuke menaruh tas sekolahnya di meja, berjalan kearah lemari pakaian mengambil salah satu kaosnya.

Dia sudah melepaskan baju seragamnya. Dia berbalik dan Naruto sudah ada di dalam kamarnya.

Sasuke tergesa memakai bajunya.

"Tenang saja aku tidak akan macam-macam. Aku sudah melihat semuanya kemarin," Sasuke mengabaikan Naruto. Tidak ada gunanya meladeni orang gila.

Sasuke melihat Naruto membawa kantong kertas di tangannya. Apa itu?

Ternyata untuk dia, Naruto memberikan kantong kertas itu pada Sasuke. Waktu dibuka isinya collar.

Darahnya naik, Sasuke meremat benda yang ada ditangannya. Mau dilempar kemuka Naruto, nanti dia dituduh melakukan penganiayaan. Melihat senyum diwajah Naruto, Sasuke jadi makin kesal. Dasar orang tidak tahu malu.

"Ingat, jangan lupa bersiap untuk ujianmu. Jadi aku tidak akan memaksamu untuk memakai itu, "Sasuke ingat jika sebentar lagi dia ujian.

"Keluar dari kamarku, sekarang!" Sasuke menunjuk pintu.

"Hee, kau tidak lupa kan? Hari ini waktuku untuk mengajarmu"

Baiklah sepertinya lebih baik Sasuke saja yang keluar dari kamarnya sendiri. Sasuke meninggalkan Naruto.

Pintunya dikunci, dan dia tidak bisa menemukannya.

"Mencari ini?" Naruto tersenyum dengan kunci ditangannya.

"Berikan padaku!" Sasuke menerjang Naruto. Naruto mengangkat tinggi tangannya, Sasuke tidak bisa meraih kunci yang ada ditangan Naruto.

"Memohonlah," mungkin telinganya salah dengar. Naruto menyuruhnya memohon, Sasuke mana mau.

"Brengsek, cepat berikan padaku!"

Naruto melempar kunci yang ada digenggamannya ke sembarang arah. Sasuke mengejarnya. Tapi belum juga dia mendapat kuncinya. Naruto sudah mencengkram lengannya kuat. Menariknya keras ke arah kasur.

Naruto setengah melemparnya ke ranjang.

Naruto sudah menindihinya ketika Sasuke ingin kabur.

"Kau gila!" Sasuke mendorong wajah Naruto.

"Diamlah, bibi akan curiga jika kau terus ribut," Naruto menyingkirkan tangan Sasuke yang menghalangi.

Sasuke menendang pinggang Naruto. Dia bisa membuat Naruto mengerang kesakitan karena tendangannya yang lumayang keras. Mungkin lain kali dia harus menendang Naruto tepat diselangkangannya jika masih kurang ajar.

Sasuke merangkak menjauhi Naruto, tapi Naruto sudah kembali menahannya. Naruto menjambak rambut Sasuke untuk menghentikannya.

"Kau memang butuh di disiplinkan, sayang"

Naruto ada di belakang Sasuke. Sasuke bertumpu pada lututnya, dia memegang tangan Naruto yang masih menjambak rambutnya. Tidak terlalu kuat, tapi Sasuke meringis kesakitan dibuatnya.

Naruto melepaskan rambut Sasuke. Sasuke memegangi kepalanya. Kulit kepalanya masih terasa sakit.

Naruto memeluk Sasuke dari belakang, dia melepas kancing celana Sasuke dengan gampangnya.

Sasuke berjengit, Naruto sudah menelusupkan tangannya ke dalam celana milik Sasuke. Tangan Naruto sudah menggenggam kemaluannya. Sasuke memegang tangan Naruto. Berusaha menghentikan Naruto.

Sasuke menahan desahannya. Naruto meremas pelan kemaluannya.

"Brengsek-Annhhh.."

"Aku tidak suka jika mulutmu mengeluarkan kata-kata kasar," Naruto meremas lebih keras. Sasuke menggigit bibirnya.

"Bisakah kau berhenti menggigit bibirmu sendiri"

Naruto menelusupkan satu lagi tangannya ke dalam kaos Sasuke. Naruto suka memainkan puting Sasuke.

"Lepas-Aah!"

"Lepas? Kita bahkan sudah melakukan lebih dari ini, hmm?"

"Kau gila!"

"Sudah kukatakan mulutmu itu tidak pantas jika digunakan untuk berkata kasar. Mulutmu lebih cocok untuk mengeluarkan desahan"

Naruto membalik tubuh Sasuke. Mencium Sasuke dengan paksa. Sasuke tidak bisa bernapas jika seperti ini, dibawah Naruto juga masih belum berhenti memainkan kemaluannya.

Sasuke benar-benar sudah tidak tahan, dia bisa mati jika terus seperti ini. Sasuke memukul-mukul dada Naruto dengan kedua tangannya. Naruto malah menelusupkan lidahnya kedalam mulut Sasuke.

Naruto semakin kesal dengan Sasuke, dia menahan kedua tangan Sasuke dengan satu tangannya di atas kepala Sasuke. Sasuke tidak kehilangan akal. Dia menggigit lidah Naruto yang sedang berada di dalam mulutnya.

Naruto refleks melepaskan ciumannya. Lidahnya perih, dia merasakan rasa besi dimulutnya.

"Kau memang harus dihukum," Naruto turun dari ranjang.

Melihat kesempatan Sasuke langsung beringsut turun dari ranjang juga, dia mengancingkan celananya dengan cepat. Berjalan ke arah pintu, selangkangannya terasa tidak nyaman akibat ulah Naruto.

Sasuke menggedor-gedor pintu.

"Ibuu!" Sasuke tidak sadar jika Naruto sudah ada di belakangnya dengan dasi milik Sasuke ditangannya.

Naruto meraih kedua tangan Sasuke mengikatnya kuat bersamaan.

"Ibu, tolong!" Sasuke diseret ke ranjangnya sendiri.

Mendengar teriakan Sasuke, Ibunya berlari ke atas.

"Sasuke, Naruto? Kalian baik-baik saja kan? Kenapa Sasuke berteriak? Dan kenapa pintunya dikunci?" Ibunya berada didepan pintu kamar Sasuke. Khawatir mendengar suara keributan dari dalam kamar anaknya.

"Tidak ada apa-apa, Bi. Tadi hanya ada tikus yang lewat," Naruto membekap mulut Sasuke. Menghentikan teriakannya.

"Oh baiklah," Mikoto turun.

Sasuke menggelengkan kepalanya mencoba melepaskan bekapan tangan Naruto.

"Bisakah kau diam sebentar," Naruto mengatakannya dengan nada yang sedikit mengancam.

Sasuke diam, takut diapa-apakan. Padahal sudah diapa-apakan malahan.

Sasuke berada dipangkuan Naruto yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.

Naruto membuka kembali kancing celana Sasuke.

"K-Kau mau apa lagi?" bagian bawah Sasuke sedang dalam bahaya.

Naruto tidak menjawab Sasuke, dia sibuk menurunkan celana Sasuke sampai lututnya lalu membuat kedua kaki Sasuke mengangkang di atas kakinya.

"Kenapa? Kau tidak suka?" Sasuke benar-benar ingin memukul wajah Naruto. Tapi sekarang dia tidak mungkin bisa melakukannya. Tangannya sedang diikat.

Naruto memegang kemaluan Sasuke, menekan ujungnya dengan ibu jari. Sasuke meringis.

Rasanya sedikit ngilu ketika Naruto meremasnya.

"Kau tidak perlu menggigit bibirmu, aku bisa bisa membantumu jika kau mau"

Naruto mencium puncak kepala Sasuke.

"Bodoh!"

"Aku tidak akan menjadi sensei mu jika aku bodoh, Sasuke"

Dan setelah itu Naruto mengocok kemaluan Sasuke cepat. Sasuke tidak bisa menahan desahannya.

"Kau mendesah terlalu keras, ibumu bisa mendengarnya dibawah"

Naruto menghentikan pekerjaannya. Sasuke terengah.

Salah satu tangan Naruto yang tadinya menganggur kini mengelus lubang Sasuke.

Sasuke memekik, ketika Naruto memasukkan salah satu jarinya tiba-tiba kelubang Sasuke yang masih kering. Tangan Naruto yang berada di kemaluan Sasuke kembali bergerak.

Naruto menyeringai melihat reaksi Sasuke. Sasuke mendesah akibat perlakuan Naruto. Dan parahnya dia mendesah tepat di dekat telinga Naruto.

"Sangat mesum, kau sangat sempit disini. Apa perlu kuganti dengan milikku, hmm?" Sasuke sudah tidak peduli dengan komentar Naruto.

Dia ingin ini cepat selesai.

"Nnnhhh... Aahh! B-brengsek"— 'Awas jika kau berani berhenti'

Naruto mengocok kemaluan Sasuke tidak beraturan. Tangannya yang terikat dibelakang tubuhnya meremas kuat pakaian Naruto.

"Baiklah, sudah cukup," Naruto menghentikan apa yang dari tadi dia lakukan. Tangannya melepaskan kemaluan Sasuke yang sudah sangat tegang. Jarinya juga sudah keluar dari lubang Sasuke.

"Tujuanku ke sini untuk memberikanmu bimbingan," ikatan ditangannya sudah di lepas.

"Cepat benarkan celanamu sebelum aku berubah pikiran"

Sasuke masih diam, dalam hati dia benar-benar ingin membunuh senseinya. Membuat dirinya mengeras seperti itu lalu meninggalkannya.

Sasuke melemparkan bantal yang dapat dijangkaunya ke muka Naruto. Lalu membenarkan celananya.

Rasanya masih tidak nyaman. Tidak mungkin dia belajar dengan keadaan seperti itu.

TBC

Thanks to : nicisicrita (ini reviewnya sampe dua kali :'''')), akasufa, Oranyellow-chan, MaknaEXO, Hwang635, Tomoyo to Kudo, Kuchiki Hatsuki, alchemist, BellaClaw, Habibah794, Matsuoka Rose, BellaClaw /lagi, eh?/, shin

Maaf kalo aku nggak bisa bales langsung, tapi aku selalu bacain review kalian kok.

Nicisicrita /ini komennya sampe dua kali ya/ : Aww, dibilang paket panas malem minggu. Aku bahkan nggak sadar itu dipublish pas malem minggu/preet lah/

Akasufa :Sai yang niat, Sasu yang susah. Tapi tetep Naru yang seneng. Iya dong! Dia kan mainchara. Ya kali pasti dapet banyak. ahahahaha

Oranyellow-chan : Sasu masih suka nyangkal? Dilihat darimanapun, dari aslinya Sasuke itu tsundere tingkat akhir.

MaknaEXO : Naruto mesum banget ya disini? Aku bahkan nggak sadar /jangan-jangan gw yang aslinya mesum/. Gomenne, kalo minim word. Otakku mendadak tumpul kalo udah megang laptop. Padahal sebelumnya ide udah berseliweran dikepala.

Hwang635 : SaiSasu, berikutnya? Gimana yaa~~ aku mau bikin yang lain malahan, ehehe *garing

Tomoyo to Kudo : Aw! Hayati masih polos, jangan ngomong sodok-sodokan didepan hayati. Persaingan? Masih dipikirkan, abis enak bener kalo Naru dapet untung terus. Masak kagak ada saingannya nanti. Iya gak?

Kuchiki Hatsuki : TBC dibuang dulu? Nah kan tujuanku bikin cerita yang nanggung-nanggung gitu /plis thor/. Fuga nyari menantu itu jarang yah, kan udah biasa kalo Minato yang gerak dulu. Haa!

Alchemist : Maaf kalo minim word. Ibaratnya kayak pisau kagak pernah diasah otakku sekarang. Ini memang awalnya mau jadi one shoot. Tapi karena suatu alasan ya jadi begitulah

BellaClaw : Ini udah dilanjut

Habibah794 : Maaf atas ketidaknyamanannya, caraku nyusun masih nggak begitu jelas. Nanti kedepannya bakal dibenerin. Naruto udah suka Sasu dari pertama? Aku aja nggak tau /plis thor, ini elu yg nulis/ Itu masih rahasia lah

Shin : Minta dibikinin yang lebih hot? Iya, nanti nunggu pengalaman dulu /plis thor, ternyata gw emang mesum/

Matsuoka Rose : Tau katekyo juga ya, aku memang ngambil dari sini. Aku nggak punya manganya, Cuma punya blcd /aku beneran nggak suka baca, lebih suka praktis ngedengerin para seiyuu lagi nganu (?)/

Sekalian promo, kalo ada yang minat lah ya. BLCD ku udah ada banyak. Mau tak bantu nambah ato gimana, pm aku gitu. Kalo ada waktu tak bantu kirim lewat email.

Sekian ^^

Jangan lupa review yaw^^