Title: Promise

Rated: Fiction T

Pairings: Shikamaru/Kurotsuchi

Chapter(s): 3/…

Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto. But, this fanfic is mine! don't ever dare you claim it as your! ^^

Genre : Romance/Angst/Friendship

Warning(s): OOC, AU, typo(s)

Writer: eruchaa

Note: I hope you all will like this fanfiction ^^

Douzo~!

.

Sudah 1 minggu 2 hari Kurotsuchi dirawat di rumah sakit. Shikamaru masih setia menemani Kurotsuchi disana. Hanya saja Shikamaru hanya menemani Kurotsuchi saat pulang sekolah saja. Karna ujian sudah sangat dekat, ia sudah menerima surat-surat dari sekolahnya. Orang tua Shikamaru pun tau, kalau selama seminggu ini Shikamaru selalu tidak masuk sekolah hingga membuat pihak sekolah khawatir.

"Shikamaru!"

"Eh?" Shikamaru menoleh menatap Naruto yang memanggilnya.

"Ada apa?" Tanya Shika. Naruto menghampirinya dengan nafas yang tersenggal-senggal.

"Bagaimana kabar Kuro-chan sekarang?" Tanya Naruto. Dibelakangnya berdiri gadis cantik bermata amethyst. Ia berdiri seraya mengatupan kedua telapak tangannya di belakang Naruto.

Shikamaru menghela nafas sejenak.

"Yah~ kupikir ia baik..." jawab Shikamaru sekenanya. Ia berjalan melewati Naruto dan Hinata dengan santainya.

"Hoaam~ mendokusai~" lirih Shikamaru. Naruto dan Hinata berdiri mematung menatap punggung lebar Shika.

"Kurasa ini tidak baik-baik saja." gumam Naruto.

"eh? Apa ma-maksudmu Naruto-kun?"Tanya Hinata sambil menatap kedua mata sapphire Naruto.

"ahahah~ sudahlah lupakan saja Hinata-chan. Ayo kita ke kantin" ajak Naruto. Ia lalu meraih tangan mungil Hinata dan menggandengnya.

"e-eh? Naruto-kun?" lirih Hinata. Wajahnya serasa memanas atas perlakuan Naruto. Pipi chubby-nya bersemu merah, yang membuatnya terlihat cute.

"daijoubu ka?" Tanya Naruto, ketika melihat wajah Hinata yang memerah seperti kepiting rebus. Tangan tan nya menyentuh lembut kening putih Hinata.

"e-eh~! Naruto-kuuun~~~!"

Brruukk~!

"eeeehhh?" Naruto cengok seketika, ketika melihat tubuh Hinata yang tiba2 ambruk. Ia segera membopong tubuh mungil Hinata ala bridal ke uks. #gaje

"bagaimana perasaanmu hari ini Kurotsuchi-san?" Tanya seorang dokter cantik berambut pirang pucat yang dikuncir dua. Gadis berambut hitam pendek yang terbaring di depannya hanya tersenyum seraya menggeleng.

"aku sudah tak apa2 Tsunade-san" katanya dengan suara yang serak. Ia memainkan boneka kecil berbentuk beruang yang ada ditangannya.

"hontou ni? Oh syukurlah kalau begitu. Mungkin kau bisa keluar dari rs 2 hari lagi" tutur Tsunade, selaku dokter yang menangani penyakit Kuro. Kanker.

Kuro hanya mengangguk. Ia kembali berkosentrasi memainkan bonekanya.

"boneka dari siapa itu?" Tanya Tsunade sambil berdiri di samping ranjang Kuro dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku jas kedokterannya.

Kuro menolehkan kepalanya menghadap dokter Tsunade. Ia tersenyum kecil.

"Shikamaru" jawab Kuro dengan nada riang. Tsunade menautkan alisnya heran.

"maksudmu Shikamaru lelaki yang selalu datang ke sini itu?" Tanya dokter Tsunade. Gadis bermata obsidian yang bernama Kurotsuchi menangguk cepat.

"ha'i! dia laki2 yang baik" ucapnya. Ia mengecup hidung boneka kecil itu.

"kau menyukainya?"

Kuro kembali menoleh pada dokter Tsunade. Pipinya bersemu merah.

"ha-hai. Bahkan kami sudah berpacaran" jawab Kuro dengan wajah yang sudah benar2 memerah.

Dokter Tsunade tersenyum. Ia mengusap pelan kepala bersurai hitam Kuro.

"sou ka? Dia memang pria yang baik yah."

"Ha'i!" Kuro mengangguk dengan semangat.

"nah, kalau begitu. Kau harus sembuh! Kau harus bisa membahagiakannya. Kau harus rutin minum obat dan makan yang banyak. Jangan sampai kupaksakan dulu" tutur Tsunade dengan tegas, namun terpatri senyuman yang indah di bibir ranumnya.

Kuro kembali menangguk semangat.

"baik! Aku akan segera sembuh! Aku berjanji!" kata Kuro penuh semangat. Ia mengepalkan tangannya ke udara.

"ganbatte ne" dokter Tsunade terenyum melihat tingkah Kuro.

"hm, baik. Aku harus keluar dulu. Banyak yang harus ku urus. Kau baik2 disini yah"

Kuro mengagguk.

Dokter Tsunade lalu berjalan kearah pintu keluar ruangan serba putih itu. Namun langkahnya berhenti saat Kuro dengan sengaja memanggilnya.

"Tsunade-san"

"ya?"

"hontou ni arigatou gozaimasu"

Tsunade tersenyum mendengar penuturan kuro.

"douita ^^. Ganbatte ne"

"ha'i."

Tsunade kembali tersenyum lalu membuka pintu ruangan itu, dan keluar, menghilang dibalik pintu bercat putih gading itu.

Kurotsuchi hanya tersenyum2 sendiri mengingat perkataan dokter Tsunade tadi.

Jam sudah menunjukan pukul 15:05pm. Saatnya bagi Shikamaru ke rs dimana tempat kuro dirawat. Sudah menjadi kebiasaan sehari-harinya ia berkunjung ke rsu Konoha itu. Sampai2 para perawat dan dokter2 yang bekerja disana mengenal sosok Shikamaru.

"hoaaam~ sebenarnya aku mengantuk. Tapi, di kamar rs nanti aku bisa tidur juga" katanya cuek. Ia terus melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar Kuro yang bernomor 96. Cukup jauh di lantai 2.

Rasa kantuk dan rasa rindunya semakin tercampur. Ia benar2 merindukan sosok mungil kuro. Kekasihnya.

Tok! Tok! Tok!

"masuk" terdengar suara wanita dari dalam kamar no 96 yang tak lain dan tak bukan adalah Kurotsuchi. Shika yang baru tiga kali mengetuk pintu itu langsung membuka pintu kamar rawat Kuro.

Suasana yang pertama dilihat Shika adalah suasana yang serba putih dan bersih. Serta banyak terdapat beberapa alat medis, dan bau obat2an yang menyengat.

Di dalam ruangan serba putih itu, tengah duduk seorang gadis bermata obsidian dengan rambut hitam yang pendek. Gadis itu sedang duduk di atas ranjang rawatnya yang berukuran single, kini ia tengah mengupas kulit apel nya dengan serius. Sampai2 ia tak tahu kalau Shikamaru sudah berdiri di sampingnya sekarang.

"sedang apa?" Tanya Shika basa-basi.

"…"

"hey!"

"…"

"ck! Mendokusai" Shikamaru yang merasa dicuekan akhirnya berjalan menjauh dari Kuro. Bukan! Shikamaru bukan ingin keluar dari sana. Ia berjalan kearah sofa dan menidurkan tubuh jangkungnya di sofa, dan~

You know..

∑(–⌂–)zZzZzZzZzZz

Kuro yang tidak lagi merasakan keberadaan orang, langsung menoleh memperhatikan seisi kamar rawatnya itu. Dan, akhirnya matanya menatap sosok Shikamaru yang tengah lelap tertidur di sofa. Kuro tersenyum kecil.

Ia menaruh apelnya di piring yang ada di atas meja. Ia lalu beranjak dari ranjangnya lalu berjalan kearah sofa di mana Shikamaru tengah tertidur pulas.

Ia lalu berjongkok di depan wajah Shika. Persis seperti yang ia lakukan saat pertama kalinya Shika menolongnya waktu itu.

"arigatou. Daisuki desu" kata2 itu meluncur dengan mulusnya dari bibir mungil kuro. ia lalu mengecup singkat bibir Shikamaru tanpa sepengetahuan sang empu tentunya. Ia lalu berjalan kembali ke ranjangnya dan menidurkan tubuhnya di ranjang itu, lalu memejamkan kedua kelopak matanya mencoba untuk tidur.

Hari sudah menunjukan pukul 8 pagi. Burung –burung gereja banyak berkicauan di atas dahan pohon-pohon. Matahari pun mulai menampakkan batang hidungnya(?). cahaya keemasan di ufuk timur mulai menerangi sebagian dari permukaan bumi. Kini, keadaan kota Tokyo di pagi hari cukup ramai. Di hari yang cerah ini banyak sekali masyarakat Tokyo yang beraktifitas, seperti biasanya. Rutinitas yang selalu dijalani masyarakat jepang.

Terlihat di ujung jalan Shibuya, seorang anak adam dan hawa tengah berjalan dengan santainya seraya menautkan kedua tangan mereka. Sesekali terdengar suara tawa renyah dari kedua anak muda itu. Seorang pemuda berambut hitam diikat tinggi itu merangkul seorang gadis berambut hitam pendek sebahu, dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.

" Nee, Kuro-chan. Karna kau sudah sehat. Aku ingin kau merasa rilex. Kita refreshing di mana yang kau mau?" kata lelaki berambut nanas itu lembut.

" Hmm aku ingin ke taman bermain saja, Shikamaru-kun" jawab Kurotsuchi dengan mata pika-pika nya. Langkah lelaki yang dipanggil Shikamaru itu terhenti. Ia membalikkan tubuh Kurotsuchi hingga menatap wajahnya.

" Nani?" Tanya Kurotsuchi setengah terkejut.

Terlihat dari kedua mata Shika bahwa ia agak keberatan dengan usul Kuro yang ingin ? bukannya Shika tadi yang nanyain Kuro mau kemana? =_=a

" Kau serius?" Tanya Shika dengan wajah horror.

Gadis dihadapannya hanya mengangguk polos dengan mata pika-pikanya.

" Haaahh~ mendokusai neee~! Wakatta kita akan ke taman bermain" kata Shika pasrah.

Ia berjalan dengan cepat seraya menarik (menyeret) tubuh Kuro yang melongo dibuatnya.

" Ittai yo, Shika-kun! Yamette yo!" panggil Kuro. Tangannya terasa perih mengingat pergelangan tangannya kan bekas di infuse gitu. Kan sakit kalo ditarik-tarik tangannya. Ia mencoba melepaskan tangan kanannya dengan tangan kirinya yang tidak diseret(?) Shika, namun nihil, Shikamaru masih nepsong nyeret-nyeret si Kuro. Poor you XDD *slap!

Shikamaru menghentikan langkahnya yang terlampaui sangat cepat. Lalu menoleh ke balakang dimana Kuro tengah ngos-ngosan(?).

" Nande?" tanyanya tanpa dosa.

Tanpa ragu tanpa dosa dan tanpa ampun Kuro men-slap kepala Shika dengan selopnya *plakk!* maksudnya dengan tangan kiri nya yang masih bebas.

" Baka yo! Tangan ku sakit tau diseret-seret gitu" kata Kuro sereya mengerucutkan bibir pink menggodanya. *Q*

" Ahahaha~ gomenne, baby" Shikamaru tertawa garing menanggapi perkataan kekasihnya yang cantik ini. Ia lalu meraih tangan Kurotsuchi yang memerah akibat di cengkeram plus di seretnya tadi. Ia mengecup lembut pergelangan tangan dan telapak tangan Kuro. Kurotsuchi yang diperlakukan se-so sweet itu cumin bisa cengo.

Shikamaru lalu menyudahi aktifitas(?) cium menciumnnya(?). ia menanggkat wajahnya menatap wajah kekasihnya. Shikamaru lalu menyeringai tipis.

" A-apa.. apa yang ka-kau lakukan?" Tanya Kuro tergagap. Ia segera menarik tangannya, dari genggaman Shika. Wajahnya terasa memanas.

" Aku? Ck, mendokusai~ hoaamm~ sebaiknya kita cepat pergi ke taman bermain, hari sudah mulai siang, nanti panas tau" kata Shika sambil membalikkan badannya. 'baka! Apa yang kulakukan!?' batin Shika galau(?). ia berjalan mendahului Kurotsuchi hingga tertinggal beberapa meter.

" A-a~ matte nee!" teriak Kurotsuchi, sambil berlari kecil menghapiri sosok Shikamaru yang sudah berjalan cukup jauh darinya.

" Hm, hayaku" jawab Shika malas.

" Ha-Hai" Kurotsuchi mencoba berlari cukup kencang. Namun…

Brukkk!

Shikamaru langsung menoleh kearah sumber suara. Tepat! Dibelakang Shikamaru. Yah! Suara itu berasal dari belakang Shika. Tepatnya bersumber dari sosok itu. Sosok yang terlihat rapuh. Sosok wanita yang terlihat keskitan tengah memegangi dada sebalh kirinya. Tepat di bagian jantung nya. Apa yang terjadi?

Shikamaru segera mendakati sosok Kurotsuchi yang tengah tersungkur. Matanya berair menahan rasa sakit yang menjalar dari dadanya. Wajahnya memucat, dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

"ughhh~!" sebuah cairan merah kental dan anyir mengalir keluar dari sudut bibir peachy nya. Sebelumnya Shikmaru mengira bahwa Kuro hanya bercanda. Namun, setelah melihat keadaan Kuro ia baru tersadar.

Apa ini salahnya?

Entahlah~?

Lelaki berambut nanas itu segera mengangkat tubuh ringkih Kuro, dengan gaya bridal.

Janji mereka pergi ke taman bermain gagal.

Rsu Konoha

Kalian pasti sudah tau apa nama tempat yang banyak dikunjungi orang-orang sakit, dan identik dengan warna putih juga bau obat-obatan yang menyengat. Yang rumah sakit. Sebuah bangunan serba putih tempat merawat orang-orang sakit. Dari yang sakit biasa hingga parah. Bahkan kematian.

Di sudut koridor tengah terlihat dua orang anak manusia yang tengah berbincang serius. Yang satu seorang wanita paruh baya berambut pirang pucat dengan tubuh yang balutan jas putih khas kedokteran. Sedangkan seorang lelaki berambut hitam yang diikat tinggi, dengan mengenakan pakaian santai, kaus putih polos yang dibalut blazer merah dan jeans biru raven.

" Huftt begitulah. Kami sendiri bingung harus bagaimana lagi mencari pendonor jantung yang cocok dengan Kurotsuchi. Kami sudah berusaha, tapi tetap saja tidak ada yang cocok" jelas dokter Tsunade dengan nada yang sedih.

Sedangkan Shikamaru hanya menatap dokter Tsunade datar. Ia tak tau harus berbuat apa. Ia bingung. Ia panic. Orang dicintainya tengah diambang maut. Lagi-lagi Kurotsuchi koma dengan mendadak, setelah sempat kritis 4 jam. Yah, kini sudah jam 2 siang. Kuro sudah 2 jam koma. Tapi itu sudah membuat jantung Shika berdegup tak karuan.

" Apa tak ada cara lain, sensei?" Tanya Shika. Ia mengalihkan pendangan dari wajah Tsunade kea rah pintu kamar rawat Kuro dengan tatapan nanar.

" Haah~ kau ini dasarnya keras kepala. Sudah kubilang tidak ada cara lain kecuali mencari donoran jantung. Demo, tidak ada sama sekali yang cocok, dan aku sudah turun tangan mencari pendonor jantung yang tepat namun, stok yang ada di rumah sakit di kota ini telah habis. Kalau, mencari di luar kota, kau tau sendiri apa yang akan terjadi bila terlambat" jelas Tsunade panjang lebar. Shikamaru menolehkan kepalanya kea rah Tsunade.

" Apa jantungnya tidak bisa dicangkokkan?" Tanya Shika pelan.

" Sulit. Sangat sulit. Dan bagaimana cara mencangkoknya kalau ia tidak dalam keadaan baik. Dan kau tau, dia kanker. Sama saja dengan cara kau menanam penyakitnya di dalam penyakitnya." Sahut dokter Tsunade lagi. Shikamaru hampir kehabisan akal. IQ 200+ miliknya seakan tak berfungsi lagi.

Shit!

Namun, tiba-tiba ada satu pertanyaan yang mencantol(?) kepala Shikamaru, yang membuat Shikamaru tergerak untuk menanyakan hal itu pada Tsunade.

"Sensei"

"ya?"

" Kalau boleh tau, golongan darah Kuro apa?" pertanyaan itu kini terluncur dengan mulusnya dari mulut Shika.

Sejenak dokter Tsunade berpikir, ia lalu menatap balik kedua bola mata hitam Shika yang kini tengah menatap matanya dalam.

" golongan darahnya AB" jawab Tsunade. Ia melipat tangannya di dada(besarnya *plakkk!*). Shika hanya bisa menatap dokter Tsunade dengan tatapan tidak percaya.

" Ho-hontou desu ka?"

" Un!" dokter Tsunade menangguk. " Doushita?" lanjut Tsunade heran.

Sebuah senyuman lebar terpajang(?) di bibirShika. Hal itu membuat Tsunade semakin bingung.

" Aku juga bergolongan darah AB! Apa aku bisa mendonorkan jantungku pada Kuro?" kata Shika dengan riang(?).

" Eh?" dokter Tsunade loading bentar. ````````````````````` tittttttttttttttt~ loading failed *plokk!* maksudnya loading done. XDDD

Tsunade hanya bisa berbengong ria mendengar perkataan Shika.

" A-apa kau tak bercanda?"

" Tentu saja tidak. Demi bidadariku aku tidak akan pernah menyerah untuk membuatnya sembuh, walaupun nyawaku taruhannya" jawab Shikamaru mantap.

" Jangan bercanda bodoh!" teriak dokter Tsunade dengan keras dan tegas.

" Aku tidak bodoh! Dan aku sedang dalam keadaan sadah, sensei!" jawab Shikamaru setengah berteriak. Ia masih waras, jika ingin berteriak jangn dirumah sakit, jika tidak matilah kau. XD

Tsunade membungkam mulutnya. Ia tak mampu berkata-kata apa lagi. Ia menatap dalam menyelami mata onyx Shikmaru.

" Jangan sok menjadi pahlawan. Kau mati? Mereka tak aka nada yang memuja-mujimu dan seluruh dunia tidak akan berduka karna kematian konyolmu itu" ejek dokter Tsunade. Tidak! Ia tidak bermaksud ingin mengejek atau merendahkan kemauan Shikamaru. Hanya saja ia ingin tau, seberapa besar keinginan dan semangat cinta yang Shikamaru punya. Hanya itu. Tak lebih.

" Jangan menganggapku remeh sensei. Aku tau menurut orang itu pasti adalah kematian yang konyol. Namun, bagiku tidak. Itu adalah kematian yang sangat mengesankan bagiku. Aku mati karena orang yang kucintai dan mencintaiku."

" Konyol" gumam Tsunade.

" Bila kau ingin mati dengan cara seperti itu. Baiklah. Kau menjalani hidupmu, dan kau yang harus memutuskannya. Bukan aku" kata Tsunade, lalu berlalu meninggalakan sosok Shikamaru yang masih berdiam diri.

" hmm~ arigatou"

" Douita"

Lalu tinggalah Shikamaru di ujung koridor yang sepi itu. Ia tengah berfikir. Apa benar yang ia lakukan ini. Tapi, iilah keputusan terakhirnya. Mengakhiri hidupnya unruk orang yang ia cintai. Konyol.

" Yo! Shika-kun!" sapa Ino saat berada di kantin sekolah. Ia mengambil duduk disamping Shikamaru yang tengah menikmati makan siangnya. Shikamaru hampir tersedak bento nya sendiri. Ia menoleh pada gadis cantik berambut pirang pucat itu. Seulas senyum tipis terpatri di bibir Shika. Ia lalu melanjutkan makannya.

" Bagaimana kabar Kuro-chan? Apa dia belum sadar dari koma nya?" Tanya Ino pelan. Ia tak mau menyinggung perasaan Shikamaru. Shikamaru sempat tekejut mendengar pertanyaan Ino. Namun, bisa ia sembunyikan.

" Kuharap ia baik-baik saja" jawab Shika sekenanya. Gadis manis disampingnya itu mengangguk paham. ia kembali menatap Shika. Pandangan matanya begitu dalam. Shikamaru yang merasa diperhatikan segera menoleh kea rah Ino yang sedari tadi terus menatapnya.

" Nande?" Tanya Shika seraya menggigit sumpit di mulutnya.

" e-eh? Nani mo nai" Ino gelagapan menjawab pertanyaan Shika. Ia segera mengalihkan pandangannya. Ino menggigit bibir bawahnya meruntuki perbuatannya tadi. Sedangkan Shikamaru heran menatap Ino. Ia mengangkat bahunya cuek. Lalu melanjutkan acara makannya.

" Shikaaaa~!"

Suara cempreng seseorang mengitrupsi suasana tegang antara Shika dan Ino. Sebenarnya yang merasa tegang hanyalah Ino, Shikamaru hanya biasa-biasa saja.

Ino dan Shikamaru menoleh ke belakang. Dimana sosok Naruto, Kiba, Sai, Sakura, dan Gaara tengah berjalan kea rah mereka. Entah ada angin apa, terlihat di belakang mereka terlihat sesosok pemuda berparas tampan, dengan rambutnya yang mencuat tengah berjalan mengikuti mereka seraya memasukan tangannya ke saku celananya. Ia asik memasang tampang dinginnya.

"Yo!" sapa Kiba lalu duduk dikursi depan diseberang Shika duduk. Ia meletakkan nampannya yang berisi mie Udon dan susu kotak.

" Ohayou, Shika-kun, Ino-chan" sapa Sakura lembut ia lalu duduk di samping Ino. Ia juga meletakkan nampan nya yang berisi semangkuk Miso panas yang sangat lezat dan jus strawberry.

Dibelakang Sakura Gaara hanya diam lalu duduk disamping Kiba, meletakkan semangkuk nasi Kare dengan secangkir teh hijau di meja panjang itu. Seakan tak mau kalah Naruto segera mangambil tempat duduk disamping Gaara, dan ikut meletakkan semangkuk besar ramen jumbo dan segelas jus jeruk di meja itu. Benar-benar rakus.

Ah! Ternyata ada yang kita lupakan. Sosok Sasuke yang sedari tadi tengah memandangi teman-temannya. Karena, tidak biasanya ia bergabung untuk makan bersama dengan teman-teman sekaligus sahabatnya itu.

" Ada apa Sasuke-kun? Kenapa tidak duduk?" Tanya Sakura lembut.

" Hn" jawab Sasuke singkat.

Ia lalu duduk disamping Naruto yang sudah melahap ramen nya hingga hampir habis. Sasuke meletakkan semangkuk nasi sup extra tomat, dan segelas jus tomat. Sasuke adalah maniak tomat.

" nee? Tak biasanya kau bergabung Sasuke-kun?" Tanya Ino sambil menatap Sasuke.

Sasuke yang merasa risih ditatap seperti itu akhirnya menjawab.

" Apa tidak boleh, hn? Baka!" jawab Sasuke ketus, yang membuat Ino tertunduk. Kata-kata Sasuke sangatlah pedas dan menusuk.

" Ah! Daijoubu desu ka, Ino-chan?" Tanya Sakura seraya mengusap punggung Ino. Ino hanya menggeleng pelan. Ia tersenyum manis pada Sakura.

" souka?" Tanya Sakura lagi. Ino mengangguk menanggapinya.

" Yosh! Mari lanjutkan makannya!" seru Naruto bersemangat, dan disambut anggukkan dari yang lainnya, tentunya kecuali Shikamaru, Sasuke dan Gaara.

-TBC-

A/N : gak ada diedit sama sekali dan terlalu banyak typos -_- fanfic lama bersemi kembali. silahkan salahkan sifat malas saya yg akut ini DXv

Maafkan saya Minnacchi. Dan sepertinya fanfic pair ini sangatlah sepi sekali pake banget yak =.=a

Jadi mari ramaikan pairing crack ini dengan fanfic-fanfic yang berkualitas (padahal sendiiri bkin fic gk berkualitas -_-)

Terimakasih yg sudah menyempatkan diri untuk membaca fic nista bin gaje ini taw... mohon tinggalkan jejak berupa review anda... fufufufufufu

Salam cinta,

Eruchaaa!