Unexpected
Warning : YAOI, Typo(s), Death chara. Gore
Fanfic ini mengandung unsur pembunuhan.
Disclaimers : semua tokoh adalah milik Tuhan dan diri
mereka sendiri. Cerita ini asli milik author.
Main Cast : Xiumin (Minseok), Chen (Jongdae), EXO OT12 official pairing
.
.
.
Extra Chapter : 1
.
.
September 21, 1992
"Selamat pak, anak anda kembar laki-laki. Tapi saya minta maaf, salah satunya memiliki kecatatan di wajahnya."
OOO
1997
"Eomma.. Jongho tidak mau belhenti menangis. Themua teman kami di TK mengejeknya, aku thudah menyuluh meleka berhenti tapi Jongho tetap menangis.." adu Jongdae sambil menggandeng tangan kecil Jongho. Jongho terus-terusan menangis sambil menggosok-gosok matanya.
"Jongho, jangan menangith.. aku jadi ikut belthedih.." Jongdae segera memeluk saudara kembarnya sayang. Dan perlahan Jongho menghentikan tangisannya.
OOO
2002
"EOMMA! LIHATLAH, JONGHO MEMBUNUH ANAK KUCING DENGAN CUTTER!" teriak Jongdae pada ibunya.
"Astaga! Kau jangan bercanda seperti itu." Panik sang ibu.
Jongdae menarik tangan ibunya, "Ibu harus lihat sendiri bu! ayo!" kemudian berlari menuju ke tempat Jongho melakukan perbuatan tak masuk akal nya.
"YATUHAN! Apa yang kau lakukan?!" sang ibu semakin panik ketika melihat anaknya yang masih berumur sepuluh tahun itu, dengan cutter berlumuran darah di tangannya dan bercak-bercak darah di bajunya. Ia juga bisa melihat anak kucing yang digorok dengan sadis.
"Eomma.." Jongho malah tersenyum. "Ada apa eomma?"
.
Setelah kejadian itu, Jongho selalu di therapy setiap minggu nya. Ia memiliki kelainan jiwa. Dan orangtuanya harap bahwa anaknya akan sembuh dengan therapy rutin yang dijalani nya. Perlahan keaadaan Jongho mulai membaik. Orang tuanya dan Jongdae berharap bahwa ia akan kembali menjadi normal.
OOO
2009
"Kim Jongdae! Ikutlah eskul vokal. Kami butuh banyak orang untuk lomba grup vokal bulan depan." Ajak Jonghyun dengan bersemangat. Diliriknya Jongho yang berada di sebelah Jongdae.
"Yah, sebenarnya kami hanya kekurangan satu orang." Kemudian merangkul Jongdae dan pergi menjauh dari Jongho yang terdiam sambil mengepalkan tangannya.
'Suara kami sama saja. Tapi kenapa harus dia yang selalu dipilih? Oh iya, siapa juga yang mau mengajak si buruk rupa.'
OOO
Jongho iri, sangat iri. Ia iri dengan Jongdae yang bisa punya banyak teman. Ia iri dengan Jongdae yang bisa dengan mudah menyatakan cinta dan diterima oleh gadis-gadis cantik. Sedangkan dirinya? Baru melirik saja langsung dihadiahi tatapan jijik.
Bukan salahnya kan dilahirkan dengan wajah cacat? Sebagian wajah yang tampak seperti terbakar. Jongho semakin gencar diberi julukan 'SI BURUK RUPA' dan ia tidak suka dengan kenyataan itu.
Ia benci kehidupannya, ia benci takdir yang membuatnya seperti sekarang ini, dan yang paling ia benci adalah Jongdae. Cerminan seorang sempurna yang tidak mungkin ia dapatkan dalam dirinya. Karena sekali lagi, ia tak lebih dari seorang buruk rupa yang terjebak dalam kehidupan yang hina.
OOO
Jongho tetaplah manusia biasa. Yang bisa jatuh cinta dan berharap untuk dicintai.
Ya, ia jatuh cinta pada seorang gadis. Gadis cantik yang selalu membayang di seluruh otaknya.
Park Jesun.
Jesun adalah gadis baik-baik. Disaat semua orang enggan untuk berinteraksi sedikitpun dengan Jongho, tapi ia akan tersenyum manis ketika tak sengaja tatapannya dan Jongho bertemu. Jongho suka itu, ia sangat suka bagaimana cara Jesun tersenyum.
Jesun membuka pikiran Jongho tentang sebenarnya kehidupannya tidak sepenuhnya buruk. Bahwa ia mungkin punya kesempatan untuk dicintai orang lain. Namun semua harapan itu pupus ketika seseorang menyatakan cintanya pada Jesun. Siapa lagi kalau bukan,
Jongdae?
"Jesun-ah, jadilah pacarku?" tanya Jongdae pada Park Jesun. Sambil membawa setangkai mawar merah di tangannya.
Jesun mengambil mawar merah itu dengan berseri, satu anggukan dikepalanya membuat Jongdae segera memeluk gadis itu lalu bersorak tak karuan.
Dan mulai saat itu, kesadaran Jongho sudah sepenuhnya hilang.
.
Jesun ditemukan meninggal dunia, terbunuh di halaman belakang rumahnya sendiri. Dan polisi sudah menangkap sang tersangka pembunuhan. Tak lain adalah saudara kembar dari pacar Jesun sendiri.
Jongho harus menerima hukuman penjara seumur hidupnya. Apalagi ketika diketahui ia masih memiliki jiwa psikopat. Kedua orang tuanya tidak bisa lagi mentolerir perbuatan Jongho yang begitu hina. Dan Jongdae tidak mau lagi menganggap Jongho sebagai saudara kembarnya.
OOO
2015
"Pak komisaris, seorang tahanan berhasil kabur dari sel. Kita harus segera menemukannya!"
.
Jongho berjalan dengan masker dan kacamata yang menutupi seluruh wajanya. Ia menunggu sesuatu di depan bank. Dan dengan cepat merampok seorang berjas hitam yang keluar dari bank dengan koper besar di tangannya.
.
"Rubah wajahku menjadi seperti ini." Jongho memasuki sebuah klinik oprasi plastik. Ia membuka koper dengan sejumlah besar uangnya dan memberikan selembar foto wajah Jongdae.
Dengan uang sebanyak itu, sang dokter tidak perlu banyak pertanyaan lagi dan segera mengoprasi wajah buruk rupa Jongho menjadi seperti seseorang di foto yang ia bawa.
"Aku akan menambahkan uangnya, asal kau tidak memberitahukan bahwa seseorang dengan wajah buruk rupa ini telah operasi pelastik."
.
"Tujuan selanjutnya, bertemu orangtua tersayang." Gumam Jongho sambil tersenyum. Untung saja kedua orangtuanya masih tinggal di tempat yang lama.
Segera ia menekan bel dan disambut oleh pelukan dari sang ibunda. "Jongdae-ie, kenapa kau tidak bilang mau pulang hm?" tanya sang ibu.
"Aku ingin memberi kejutan, ya, kejutan."
.
Kedua orangtuanya menyambut Jongho dengan hangat. Tentu saja itu semua karena mereka menganggap Jongho adalah Jongdae. Operasi pelastik nya berjalan dengan sangat baik. Jongho kini berwajah setampan Jongdae dan dengan suara mereka yang mirip, ia dapat mengelabuhi kedua orangtuanya.
"Eomma, aku akan mandi dulu sebentar ya. Aku capek." Ujar Jongho. Ibunya mengangguk.
Jongho segera memasuki kamar mandi dan membasuh seluruh tubuhnya. Setelah selesai mandi, ia menyadari bahwa ia lupa membawa handuk.
"Eomma, bisa tolong ambilkan handuk?" teriak Jongho dari balik kamar mandi.
"Baiklah, tunggu sebentar." Ibunya membawakan sebuah handuk dan mengetuk pintu kamar mandi. "Ini handuknya, Dae."
Jongho menyembulkan kepala dan sebagian tubuhnya dari pintu kamar mandi, kemudian mengambil handuk dari tangan ibunya, "Terima kasih eomma." Ucapnya lalu kembali menutup pintu kamar mandi.
Bersamaan dengan itu, kaki sang ibu melemas. "Tanda lahir itu.. dia bukan Jongdae…" batinnya sambil menutup mulutnya. Setelah melihat tanda lahir di bahu kiri Jongdae, ah, bukan.
Jongho ada di rumahnya.
.
"P-pak, saya tahu dimana anak saya Jongho berada...," dengan takut-takut sang ibu menelfon polisi. Ingin mengabarkan bahwa anaknya sendiri, yang merupakan buronan itu ada di rumahnya.
Namun sial baginya, karena Jongho sudah berada di belakangnya. Memergoki seseorang yang telah melahirkannya itu akan melaporkannya lagi pada polisi.
"Eomma, kenapa kau begitu jahat padaku?" ucap Jongho sambil mendekat kearah ibunya.
Telfon di genggaman tangan ibunya terjatuh, "J-Jongho.. menjauhlah dariku!"
Dan Jongho benar-benar kehilangan kesadarannya, akal, dan hati nurani.
Anak mana yang tega membunuh ibunya sendiri?
Jongho-lah salah satunya.
.
Jongho mencekik ibunya sampai tak bernyawa, kemudian meletakkan jasadnya di bawah ranjang. Setelah membunuh ibunya, tentu saja ia harus membunuh sang ayah juga. Kebetulan ayahnya sedang pergi dan mungkin sebentar lagi akan kembali. Jongho sebenarnya tidak begitu tega menancapkan benda tajam ataupun benda-benda lain yang membuat kedua orangtuanya meninggal dengan berlumuran darah. Maka dari itu, ia menyiapkan segelas minuman yang telah diberi racun. Sambil bersenandung ia mengaduk minumannya. Menunggu ayahnya datang.
Kring
Beberapa saat setelahnya, seseorang menekan bel. "Oh, kebetulan sekali ia datang." Jongho kembali bersenandung kemudian menuju pintu depan dengan gelas berisi minuman beracun di tangannya.
.
Jongho masih bersenandung sambil menyeret tubuh ayahnya, membaringkannya tepat disebelah jasad ibunya. Setelah itu ia merapihkan sprei dan bedcover di ranjang kedua orangtuanya itu.
"Tinggal satu lagi." Gumam Jongho sambil mencari sesuatu di kamar kedua orangtuanya. Dan kedua sudut bibirnya terangkat ketika melihat sebuah benda persegi yang terletak di atas meja nakas.
Jongdae-ie, ibu dan ayah mau mengirimkan sesuatu padamu. Bisakah kau kirimkan alamat tempat tinggalmu?
Beberapa menit setelah pesan terkirim, handphone milik ibunya bergetar. Membuat Jongho lagi-lagi tersenyum.
"Aku akan datang padamu, Jongdae."
OOO
Bermodalkan alamat lengkap Jongdae dan ponsel ibunya, Jongho akhirnya menemukan tempat tinggal Jongdae. Segera saja ia mengetuk pintu flat itu.
"Ya tunggu sebentar. Berhentilah mengetuk, pintuku bisa bolong nanti." Sahut seseorang yang Jongho yakini adalah Jongdae. Dengan cepat Jongho bersembunyi di samping tempat sampah. Hingga ketika Jongdae membuka pintu, tentu saja ia tidaka bisa melihat siapapun.
"Pasti orang iseng." Ucap Jongdae malas. "Yack! Kalau sampai kalian yang iseng lebih baik tidak usah main di rumahku."
Setelah terdengar suara pintu tertutup. Jongho segera membuka pintu yang kebetulan lupa dikunci. Perlahan ia mengikuti langkah Jongdae, dan membiusnya hingga Jongdae pingsan.
.
Drrrttttt
Jongho merogoh saku celana Jongdae dan mendapati seseorang yang menelfon Jongdae, Minseok.
"Minseok, dengan tanda hati. Oh, jadi ini kekasihnya." Gumam Jongho sambil melihat nama yang terpampang di layar handphone Jongdae. Tapi kemudian panggilannya lebih dulu berhenti sebelum ia sempat mengangkat.
Beruntung baginya karena beberapa saat kemudian Minseok kembali menelfon. Tanpa ragu Jongho mengangkatnya.
"Dae-ie? Kenapa telfonku baru diangkat!" Teriak seseorang di luar sana.
"H.. Hello, Minseok-ah." jawab Jongho.
"Issh apa apaan sih kau ini. Katanya mau jemput. Aku sudah pulang tau! Ayo cepat kesiniiii."
"Aku tidak bisa Minseok-ah.. kau langsung kesini saja."
"Kenapa? Isssh yasudah aku pergi sendiri."
Pip
Sambungan terputus.
"Oh, jadi akan ada yang berkunjung kesini ya? Itu bagus, aku butuh mainan baru." Ucap Jongho dengan seringaian.
.
Jongho memerhatikan setiap detail wajah Jongdae, ia pun menyiapkan gunting rambut untuk membuat model rambutnya mirip dengan Jongdae. Kebetulan Jongdae tidak mengecat rambutnya sehingga Jongho dengan mudah menata rambutnya menjadi benar-benar mirip dengan Jongdae. Dan keturunan genetik membuat keduanya memiliki postur tubuh kurus yang sama.
"Aku sudah siap." Jongho bercermin sambil menyisir bagian belakang rambutnya, ia tersenyum. "Coba saja dari awal wajahku seperti ini, mungkin aku tidak akan membenci kehidupanku."
Kembali ia melirik wajah Jongdae yang masih tak sadarkan diri. "Aku akan menghabisinya dulu, baru kau yang terakhir saudaraku."
.
"Akhirnya kau datang juga." Sambut Jongho ketika Minseok datang. Matanya memperhatikan seluruh bagian wajah Minseok.
'Manis juga, beruntung sekali kau Jongdae.' Batin Jongho.
Minseok mengangguk sambil cemberut. Masih kesal karena tidak dijemput.
"Yang lain belum datang ya?" Minseok melihat jam dinding, "Oh.. baru jam 7 ternyata."
'Yang lain?' batin Jongho, 'Waw, berarti aku punya mainan lain.'
.
Jongho mulai menyusun sekelibat rencana untuk 'bermain-main' dengan teman Jongdae yang satu persatu mulai berdatangan. Ia masih mengurung diri di kamar Jongdae sementara keributan terjadi di ruang tengah. Diliriknya lagi wajah sang saudara kembar yang masih pingsan.
"Manjur juga obat biusnya, penjual itu tidak bohong ketika bilang obat biusnya akan bekerja sampai dua belas jam. Hmm kuharap sih lebih lama dari itu." Gumam Jongho. "Uh, lebih baik aku keluar. Siapa tahu ada yang bisa kuajak 'bermain'."
Jongho membuka pintu dan kaget melihat Minseok sudah ada di depannya. . "Kenapa kau kesini?" Tanyanya sambil menutup pintu kamar.
"Semuanya menanyakanmu, kenapa kau malah mengurung diri di kamar?"
Jongho mengelus pipi Minseok, "Tadi aku ketiduran. Maaf ya.. sebentar ada yang lupa."
Jongho mengunci pintu kamar Jongdae, kemudian menggantungkan kuncinya di dinding.
"Kenapa dikunci?" Tanya Minseok heran.
"Ingin saja." Jawab Jongho. Kemudian berbicara di dalam hatinya, 'Karena kalau tidak kau akan melihat kekasihmu di dalam, dan rencanaku akan gagal.'
.
"Sehun sedang ke mobilnya sebentar, dia meninggalkan handphone nya di dashboard." Ujar Luhan.
Dan Jongho seakan mendapat berita baik. Ini kesempatan bagus untuknya.
Segera Jongho berjalan menuju pintu dan memakai mantelnya. "Tetanggaku menelfon, katanya ada penyuluhan. Aku akan kembali beberapa menit lagi, setor muka."
.
Jongho keluar dan tersenyum bahagia melihat seorang bertubuh tinggi yang akan ia ajak 'bermain' memanggilnya. Tentu saja dengan sebutan Jongdae.
"Jongdae hyung, kau mau kemana?" tanya Sehun sambil memasukkan handphone nya ke kantung celana.
"Minimarket, mau ikut?" jawab Jongho asal. "Ayo ikut saja, jalanan begitu sepi ternyata. Kurasa aku butuh teman mengobrol." Ia merangkul bahu Sehun dan mau tak mau Sehun mengikutinya.
"Sebentar, aku melupakan sesuatu. Seharusnya aku menyalakan lampu depan dulu." Ujar Jongho dan berbalik arah menuju halaman depan rumahnya.
"Aku ikut hyung." Kata Sehun yang mengekor di belakang.
'Memang itu tujuannya, bodoh.' Batin Jongho dengan senyuman di bibirnya.
Jongho mengambil botol berisi racun yang sebelumya ia gunakan untuk membunuh ayahnya. Beruntung racun itu dikemas dengan sedemikian rupa, dengan tulisan Bahasa asing yang ditulis dengan huruf sangat kecil. Siapa yang akan menyangka itu adalah racun?
Ia berpura-pura meminum cairan di botol itu, "Ah.. segarnya." Bohong Jongho setelah berpura-pura meminum racun itu.
"Apa itu hyung?"
Jongho mengangkat botolnya, "Ini? minuman dari temanku yang baru pulang dari luar negri. Kau mau coba?" ia menyodorkan botolnya ke arah Sehun.
Memang pada dasarnya Sehun adalah anak muda yang penuh rasa ingin tahu, dan kebetulan ia cukup haus maka dengan senang hati ia mengambil botol minumannya. "Terima kasih hyung." Dan ia meminum racun itu sekali teguk.
"Rasanya aneh h-hyu—,"
Bruk
Bisa dipastikan Sehun telah kehilangan nyawanya.
Jongho menahan tawa bahagianya, dan segera mengeluarkan pisau lipat dari kantung celananya. "Membunuhmu secara langsung memang lebih menyenangkan, tapi membiarkanmu berteriak terlalu beresiko." Ia memandangi sekujur tubuh Sehun yang kaku. "Tapi sayang sekali kalau tubuhmu kubiarkan mulus tanpa luka."
Cring
Sesuatu di kantung celana Sehun berbunyi, Jongho mendecih kemudian mengambil benda persegi itu. Dilihatnya pop up message dari Luhan.
Sehunnie kenapa belum kembali? TT
Jongho pun membalas pesan dari Luhan.
Aku mau ke minimarket dulu sebentar
Setelah itu ia meletakkan handphone Sehun di sebelah tubuh pemiliknya yang sudah tidak bernyawa. Sambil tersenyum, Jongho mulai menyayati tubuh Sehun yang kebetulan masih mengeluarkan darah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hello!
Maaf karena saya ngepost extra chapter ini baru sekarang. Dan ini belum berakhir karena ada satu lagi extra chapter nya yang mudah-mudahan saya post dalam waktu beberapa dekat.
Gimana? Apa latar belakang Jongho sudah menjelaskan semuanya?
Hehehe, saya harap begitu ya.
Daaan, terima kasih atas respon positifnya. Makasih yang udah baca, review dan menambahkan ff ini ke list fav story nya #terhura. Maaf kalau dari segi cerita memang kurang memuaskan dan banyak kekurangan dsb dst..
Kemudian saya akan membalas review di chapter 2 kemarin. Dan yang masih mau bertanya masih boleh menanyakannya di kotak review =^w^=
Balasan review chapter 2 :
firda-xmin : saya juga sebenernya mengetik dengan penuh penghayatan dan perasaan yang teriris #lebay #digorok wkwk. Walau begitu mereka pasti bersatu di surga kok :") heheh thanks for reading! :3
shinerligh : hehehe ini udah diupdate ya extra chapternya semoga menghibur! Thanks for reading :3
BangMinKi : yeaa ternyata oh ternyata... #malahnyanyi #ditendang wkwkwk thanks for reading btw :3
Kim Jong Min : nahloh jangan jangan kita semua berdarah psikopat?! #apa wkwkwk thanks for reading yawwww! :3
anon : hehehe beginilah memang akhir yang sudah saya fikirkan.. Maaf kalau agak mengecewakan yaaa dan thanks for reading! :3
elfishminxiu : yang jelas chenmin pasti bahagia di sisa sisa waktu hidupnya karena saling memiliki satu sama lain:") okeee sudah terjawab di extra chapter yaww! Thanks for reading :3
HappyHeichou : huhuhu maafkan.. Btw jongho jahat bawaan dari orok :((( dan.. Mungkin ini latar belakang jongho dulu yang terungkap yaa! Thanks for reading :3
restikadena : bener tuh! Saya malah mau bejek2 mukanya si jongho #lah yayyy makasih ya semangatnya! Thanks for reading :3
ChenMin EX-Ochy : neee gwaenchana :D hehehe maafkann ini memang akhir yang udah saya pikirkan xD.. Tapi syukurlah kalau masih ada happy nya... Makasih buat semangatnyaaa! And thanks for reading :3
fachen : wkwk bener juga, ayok kita temenin aja si jongho #lah hehehe makasih buat semangatnyaaa! And thanks for reading :3
