Sakuracens proudly present

Moonlight

Itachi Uchiha, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha

Romance, Angst, Drama

PG-17

Chapter

XXX

Chapter Two

Aku mencintaimu, bahkan, untuk seribu tahun yang akan datang.

XXX

Sakura menatap lampion hasil buatan tangannya yang begitu kacau dengan wajah yang frustasi. Astaga, kenapa sulit sekali merangkai kertas-kertas berwarna itu menjadi sebuah lampion dengan bentuk sederhana seperti bunga teratai?! Hinata dan Izumi yang sedari tadi berada di ruangan sama serta melakukan kegiatan serupa dengan Sakura itu hanya diam dan mengerutkan alisnya tatkala melihat tingkah Sakura yang begitu aneh. Semua orang di Konoha bisa merangkai lampion, tapi, kenapa gadis bangsawan yang merupakan keluarga dari Uchiha ini tidak bisa melakukan hal umumnya di lakukan? Ah, apa karena dia hilang ingatan?

"Kau akan merusak perayaan musim semi kalau lampion jelek milikmu di pajang dekat kuil." Ujar Hinata dengan nada menghina di dalamnya. Wajah Sakura merah, menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak. Gadis kolot ini tidak tahu dengan siapa dia berurusan rupanya! Sakura Haruno, gadis berusia sembilan belas tahun yang di tahun 2017 bekerja sebagai penjaja makeup dan guru karate sabuk hitam. Bisa saja dia mematahkan leher Hinata saat ini, tapi, Sakura masih ingat kejadian kemarin siang dimana Itachi-sama memarahinya karena membentak seorang bangsawan. Dia tidak mau menambah masalah lagi. Jadi, Sakura memutuskan untuk diam dan tersenyum paksa.

"Bagaimana kalau aku memberimu tugas yang lebih mudah? Hilang ingatanmu merepotkan semua orang," Ucap Hinata sembari menghentikan kegiatan merangkainya dan menatap Sakura dengan mata keperakan miliknya. Sakura terperanjat, tapi dengan cepat menguasai dirinya lagi. Dia tak ingin merasa bodoh di zaman ini, di waktu mendatang saja dia memiliki banyak kelebihan dan prestasi dalam berbagai bidang baik akademik maupun non-akademik. Jadi, dia tidak boleh kalah dalam zaman yang kuno ini! Dia manusia modern, tidak bisa mengalah dan membiarkan harga dirinya terus terinjak.

"Baiklah. Aku akan melakukan hal itu." Kata Sakura dengan mantap, membuat Izumi menyunggungkan senyum bangga atas perkataan Sakura yang menantang. Izumi tahu kalau adiknya ini berbeda dari biasanya. Semenjak hilang ingatan, Sakura menjadi pribadi yang begitu ceria dan enerjik. Berkebalikan dengan Sakura yang dulu murung dan pendiam. Jadi, biar bagaimanapun hilang ingatan juga memberi berkah pada Sakura, gadis itu jadi punya semangat hidup dan Izumi senang melihatnya begitu.

"Pergilah dan buatkan bubur di paviliun depan untuk para pekerja yang akan memasangkan lampion-lampion di sepanjang danau dekat kuil. Bubur itu harua terus di aduk agar memiliki tekstur yang halus." Kata Hinata sembari kembali merangkai lampion itu dengan tangannya. Sakura berdiri dan segera melangkah menuju paviliun depan, mengambil wadah besar dan segera menyulutkan api. Memasukkan beberapa bahan yang telah di racik oleh pelayan dan terus mengaduk bubur itu. Namun, sebelum itu dia sudah menyingsingkan lengan kimono dan menyanggul rambut merah mudanya agar mempermudah saat mengaduk bubur tersebut

"Ah!" Teriak gadis itu keras sembari meletakkan pengaduk kayu besar dengan muka masah. Wajahnya kini cemong, dengan di hiasi oleh hitam-hitam di pipi, hidung, dan kening ini pasti karena asap hasil pembakaran di obor sehingga membuat wajahnya terlihat begitu kotor.

"Hinata atau siapapun itu. Dasar tidak berperasaan! Bubur ini sangat banyak dan dia memang sengaja membuatku terus-terusan terlihat seperti orang bodoh. Badanku pegal semua!" Kata Sakura sembari memukul-mukul pelan lengannya yang terasa mau copot. Hah, sepertinya dia harus berolahraga sedikit agar tubuhnya bisa sedikit segar.

Jadi, Sakura memutuskan untuk merentangkan tangannya ke atas kemudian menyampingkan tangannya ke kanan dan ke kiri bak orang yang sedang senam. Setidaknya, gerakan-gerakan sederhana ini membuat tubuhnya teras lebih bugar.

Itachi yang tak sengaja lewat menangkap Sakura yang tengah melakukan kegiatan senam dengan aneh. Oh ayolah, ini zaman dimana semuanya belum mengenal hal-hal seperti itu. Ini zaman kolot dimana hukum alam berlaku dengan sangat baik. Yang punya kuasa akan di takuti dan yang punya kasta rendah akan di sia-sia. Lelaki itu tersenyum lembut ketika melihat Sakura yang kembali mengaduk bubur itu dengan wajah yang lucu karena di beberapa tempat terdapat hitam-hitam karena efek pembakaran. Gadis itu menjadi pantang menyerah dan semangat menjalani sesuatu. Membuat hati Itachi bergetar di buatnya.

Setelah membuat bubur sialan itu berjam-jam, Sakura memutuskan untuk berkeliling ke pasar dengan wajah yang masih di penuhi hitam-hitam. Namun, meskipun begitu, tak ada orang yang berani menertawai wajahnya itu. Di lihat saja dari pakaian mewah serta tanda kipas merah putih di punggungnya sudah membuktikan bahwa gadis dengan wajah yang cemong ini adalah bagian dari keluarga bangsawan. Jadi, para penduduk memutuskan untuk menghiraukannya. Sakura sendiri hanya ingin melepas lelah. Dia berada tepat di samping sebuah jurang yang di bawahnya terdapat sungai yang begitu deras. Sakura masih sibuk melihat jurang di bawahnya, menghitung berapa panjang jurang ini dan apa yang terjadi bila seandainya dia terjatuh.

"Anjing serigala datang!" Sebuah teriakan membuat Sakura membalikkan badannya. Secepat kilat, seorang lelaki berambut raven yang menaiki kuda hitam menerobos pasar yang ramai. Tidak perduli dengan orang-orang yang berjalan. Dia terus menerobos. Orang-orang pun sudah tahu, kalau tidak menyingkir sendiri maka kau akan tertabrak. Karena anjing serigala tidak segan-segan menabrak orang yang menghalangi jalannya.

Sakura memekik tertahan ketika keranjang punggung seorang laki-laki tidak sengaja mengenainya. Sehingga keseimbangannya goyah. Dia menutup matanya ketika sudah berada di ujung jurang. Sakura siap dengan segala hal yang terjadi karena dirinya yakin bahwa dia akan mati kali ini.

Namun, setelah beberapa detik semuanya baik-baik saja. Jadi, Sakura membuka matanya dan menemukan dirinya berada di atas sebuah kuda dengan belitan lengan di pinggangnya oleh pemuda berambut raven yang terlihat begitu tampan di mata sang gadis gulali. Sakura tak menyadari bahwa sedari tadi dia menggumamkan kata-kata 'woah' yang hanya bisa di dengarkan olehnya berulang.

Tiba-tiba saja kuda yang dia bersama lelaki ini berhenti begitu saja. Membuat Sakura menautkan alisnya bingung. Lalu, lelaki itu dengan brutalnya mendorong Sakura hingga terjatuh dari kuda hitam tersebut. Membuat gadis itu mengusap pantatnya yang terasa nyeri karena benturan keras tiba-tiba yang dia dapatkan dari lelaki yang sama sekali tidak bisa memperlakukan seorang gadis!

"HEI! KAU! LAKI-LAKI PANTAT AYAM!" Teriak Sakura murka, rahang lelaki itu mengeras ketika mendengar perkataan gadis yang terkesan mengejek.

"Apa kau bilang?" Tanya lelaki itu dengan suara dalam yang mengerikan namun, bagi Sakura hal itu tidak membuatnya takut sama sekali. Saat ini, yang ada di pikiran gadis itu adalah bagaimana caranya agar lelaki pantat ayam ini belajar sopan santun dan menghargai perempuan.

"YA! KAU HARUSNYA TIDAK MENUMPANGI KUDA SEMENA-MENA! INI JALAN YANG BANYAK ORANG LEWATI BUKAN JALAN MILIKMU SENDIRI. JUGA, BERSIKAPLAH LEBIH BAIK KEPADA PEREMPUAN! DASAR TIDAK TAHU SOPAN SANTUN!" Lelaki itu menyeringai sempurna, kemudian, menatap Sakura dan pergi begitu saja. Meninggalkan Sakura yang mendumel tidak jelas. Ternyata banyak sekali orang yang menyebalkan di zaman ini.

Lihat saja! Kalau dia menemukan tuan pantat ayam itu lagi, Sakura akan menendang bokongnya dengan keras seperti apa yang telah lelaki itu lakukan padanya!

Konan berlari tergopoh mendekati Sakura yang masih mendenguskan nafasnya kesal. Wanita biru itu membuat gadis gulali di depannya mengerut bingung. Kenapa wajah Konan begitu cemas dan takut? Apa terjadi sesuatu di paviliun?

"Ada apa?" Tanya Sakura tidak bisa menutupi suara penasarannya.

Konan mengatur nafasnya dan menunjuk ke arah paviliun dekat bukit itu. Membuat Sakura tambah mengerutkan alisnya bingung. Hatinya masih panas dan semua orang terlihat begitu aneh.

"Apa yang nona lakukan disini?! Hinata-sama telah mencari Anda kemanapun, Anda harus menemuinya sebelum dia mengaku, Nona Sakura!"

Oh, tidak.

Dia akan mati kali ini. Balas dendamnya nanti saja dulu, yang penting dia harus kembali membuat bubur agar semuanya terselesaikan dengan baik. Dia sudah muak berurusan dengan gadis beriris keperakan yang super duper menyebalkan serta cerewet itu

Setelah membersihkan wajahnya dengan air dan menyisir rambut panjangnya menggunakan tangan seadanya, Sakura berjalan menuju paviliun yang di tunjukan oleh Konan dimana si wanita kolot Hyuuga itu berada. Cih, kenapa semenjak ada si Hyuuga itu hidupnya di zaman ini makin runyam?!

Sakura berjalan mengendap bersama pelayan-pelayan yang membawa bubur untuk di persembahkan kepada pangeran-pangeran Uchiha. Dia menyembunyikan tubuhnya di balik tiang ketika sudah sampai dan mengintip sedikit ke arah Itachi yang tengah tersenyum ke arah pelayan yang memberinya semangkuk bubur buatan tangan Sakura.

Astaga, dia merasa bangga ketika Itachi tersenyum menikmati bubur itu. Sakura terus mengintip sang kakak ipar dari balik tiang itu. Sedangkan Obito yang tadinya tengah memakan mochi miliknya menghentikan kegiatan tatkala matanya menangkap gadis berambut merah muda yang tengah berdiri di balik tiang besar.

Otak Obito langsung saja mengatakan bahwa gads itu adalah gadis yang mengintip para pangeran ketika sedang mandi di pemandian! Segera, Obito menarik tangan gadis itu hingga semua atensi pangeran Uchiha teralihkan.

Sakura menutup matanya erat, astaga, dia tidak tahu kalau pangeran yang memergokinya di kolam bebeerapa hari yag lalu ada di sini. Semua ini karena dirinya hanya fokus pada Itachi, sialan! Sakura kau akan habis!

"Apakah aku pernah melihatmu sebelumnya?" Tanya Obito sembari menatap lekat gadis cantik di depannya ini menyelidik. Sakura memalingkan wajahnya ketika pandangan mereka bertemu.

"Tidak." Jawab Sakura menutupi rasa gugupnya yang telah sampai ubun-ubun.

"Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya?" Tanya Obito lagi.

"Tidak." Sakura kembali memalingkan mukanya ke arah yang berlawanan dengan Obito. Sedangkan pangeran ketiga dari kerajaan Uchiha itu mengamati gadis di depannya baik-baik sebelum berteriak yang membuat semua orang tercengang, kecuali Itachi tentu saja

"KAU! KAU ADALAH GADIS PENGUNTIT ITU! KAU GADIS YANG MEMATA-MATAI KAMI SAAT MANDI!"

Sakura melotot kemudian, berlari keluar dengan sekuat tenaga. Ya ampun, dia seperti kriminal! Gadis itu bersembunyi di balik pohon besar dan sedikit mengintip saat suara Obito terdengar berteriak memanggilnya dengan sebutan 'gadis penguntit'

Setelah suara itu hilang, Sakura mengelus dadanya lega dan menoleh ke kanan-ke kiri memastikan bahwa pangeran ketiga itu sudah tidak ada di sana. Lalu, gadis itu memutuskan untuk kembali berjalan menuju gerbang pintu keluar istana. Dia tidak tahan lagi berada di sini, bisa-bisa dirinya mati muda.

Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pangeran Obito yang tengah mengintip seseorang dari celah di pintu geser yang kertasnya berlubang. Sampai teriakan Konan segera mengudara, gadis itu tahu kalau ada orang yang mengintipnya dari luar.

Segera, Obito berlari namun, langsung di halangi oleh Sakura.

"Minta maaf pada Konan, pangeran." Ujar Sakura dengan nada yang begitu dingin. Obito mendenguskan nafasnya kasar.

"Untuk apa? Aku adalah seorang pangeran yang terhormat, kata maaf tidak ada dalam diriku." Sakura tertawa remeh ketika mendnegar pernyataan Obito yang sungguh memalukan.

"Minta maaf atau ku pukul kau di sini."

"Jadi, kau mau memukulku? Silahkan, kau itu hanya sebutir beras yang tidak ada apa-apanya."

Sakura menyeringai, namun, Obito sudah terlebih dahulu melewati tubuhnya. Jadi, Sakura harus mengejar lelaki itu dan menjatuhkannya dengan tendangan kaki.

Obito terjatuh dan melotot pada Sakura yang tengah tersenyum.

"Kau punya kesempatan kedua untuk meminta maaf pada Konan." Kata gadis itu lagi. Melipat kedua tangannya di depan dada seolah sedang menunggu permintaan maaf yang terucap dari Obito untuk pelayan kesayangannya Konan.

Namun, Obito yang tadinya terjatuh berdiri dan mendekatkan diri ke arah sakura.

"Aku tidak salah." Segera, dia menjambak rambut panjang Sakura yang membuat Sakura berteriak kesakitan. Hei, ini curang! Dasar lelaki pengecut, menjambak rambut panjang di gerai adalah hal yang mudah dan memalukan bagi lelaki sejati kalau pangeran ini sadar!

Seluruh pangeran terlihat berlari tergopoh keluar saat teriakan Sakura terdengar begitu jelas. Itachi juga melihat sang adik ipar yang di jambak dengan khawatir.

Sakura segera menendang tulang kering Obito dengan kuat membuat lelaki itu mengaduh kesakian dan memegang tulang keringnya. Sakura tersenyum.

Obito kembali bangkit dan menjatuhkan Sakura ke tanah. Terjadilah pertengkaran sengit antara dua insan itu. Namun, sebagai seorang guru karate di masa datang, Sakura langsung saja bisa menguasai keadaan. Semula dirinya yang berada di bawah Obito, kini, sudah berada di atas pangeran itu dalam hitungan detik.

Membuat semua pangeran, pelayan, dan beberapa prajut istana yang melihat perkelahian itu melongo di buatnya. Gadis ini bukan gadis biasa. Bahkan, kaki Sakura dengan lihainya mengunci lengan Obito sehingga laki-laki itu tidak bisa menggerakkan tangan sama sekali.

"Kau adalah lelaki menyedihkan yang tak tahu malu, dasar tukang aniaya dan mesum!" Kata Sakura sembari memukul-mukul Obito yang berada di bawahnya.

"Apa kau yakin akan aman setelah ini? Dasar gadis cabul." Kata Obito sambil menjulurkan lidah, mengejek. Membuat Sakura geram.

Lalu, Sakura membenturkan kepalanya dengan keras ke kepala Obito. Membuat teriakan kesakitan Obito menggema di udara. Sakura menyeringai, tak ada orang yang bisa mengalahkan kepalanya yang keras karena sudah lebih dari lima tahun dia berlatih memecahkan batu bersama sang legendaris, Jiraya-sensei! Tak ada hal yang tidak bisa di pecahkan oleh kepala super kuat Sakura ini!

HA!

Sakura bangkit dan membersihkan kimononya yang kotor dan menjulurkan lidahnya ke arah Obito yang masih di atas tanah, memegangi dahinya yang memar kesakitan. Lalu, berlalu sembari menggandeng Konan yang tengah shock keluar istana. Gadis berambut gulali itu merasa menang atas perkelahian dengan sang pangeran yang lemah.

Sedangkan Itachi, Izuna, dan Shisui yang berada di sana menganga kaget ketika melihat seorang gadis super kuat berhasil membuat Obito gulung-gulung kesakitkan di bawah tanah.

"DASAR GADIS MONSTER!" Teriak Obito sembari memegangi dahinya yang berdenyut nyeri setelah gadis berambut merah muda itu membenturkan kepalanya ke kepala sang pangeran ketiga dengan keras. Sedangkan, Sakura hanya terkekeh mendengar jeritan Obito.

Siapa suruh melawan seorang guru besar karate seantero Tokyo?

To be continued

A/N: Maaf mulai besok kami slow update karena mendekati lebaran dan semua member sakuracens mudik ke kampung halaman masing-masing, sebelum itu mohon maaf lahir dan batin kalau kita semua punya salah sama kalian baik di sengaja maupun tidak, kami minta maaf banget :') oke jangan lupa review seperti biasa kalau mau di lanjutkan! Sankyu~