Summary : Baru saja Sakura akan mengangguk, ketika sebuah suara menyela, "Tidak usah. Nanti kalian makan bersama kami saja. Maksudku, Tenten yang akan bersama kami. Kau sih, aku tidak peduli."

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Warning : AU; sedikit OOCness; pergantian waktu yang cepat; dan a little bit (or a lot?) chara-bashing, maybe?


"Rambut ayam!"

-

"Forehead-girl."

-

-

"...dan yang paling penting, melayani segala sesuatu yang diperlukan Tuan Muda Sasuke."

-

"APPAA??!! Melayani si Rambut Ayam-err, maksudku Tuan Muda Sasuke??!"


die Hausangestellte by dilia shiraishi

CHAPTER TWO


Sakura mengusap cucuran peluh akibat menguarnya suhu panas dari masakan yang sedang ia goreng, "Ten...," gadis berambut pink itu memanggil seorang gadis lain yang sedang sibuk membersihkan ikan. Dia sendiri segera menuangkan yakisoba(1) yang sudah kecokelatan ke dalam wadah.

"Hem? Ada apa?" sahut Tenten sembari meninggalkan konsentrasinya pada sisik ikan yang masih harus dikeruk itu.

Sakura menarik napas, "Aku baru sadar kalau rumah ini sepi sekali. Kemana Tuan Fugaku dan Nyonya Mikoto? Dan dimana juga Tuan Muda Itachi itu? Dari kemarin kulihat yang mondar-mandir cuma kita berdua ditambah si Rambut Ayam." Ucapnya sambil memasukkan bawang merah ke dalam kuali. Menimbulkan bunyi dan aroma gurih yang menggoda hidung.

Tenten termangu sejenak, sepertinya ia menyibukkan diri dengan menghirup aroma gurih sang bawang goreng tadi terlebih dulu, "Err-Tuan Fugaku dan Nyonya Mikoto memang jarang sekali pulang ke rumah ini, sih. Sejak setahun belakangan aku kerja di sini pun, baru empat-lima kali mereka pulang. Yang kutahu, mereka sibuk mengurus perusahaan di luar negeri." Terangnya sambil mengedikkan bahu. Ia kemudian memasukkan ikan yang sudah selesai dibersihkannya dalam mangkuk besar.

Sakura mengangguk-angguk mengerti, "Lalu? Tuan Muda yang satu lagi?" gadis berambut pink itu kembali bertanya. Matanya menatap Tenten, namun tangannya tak berhenti membuat gerakan mengaduk di kuali.

Tenten menghela napas, "Tuan Muda Itachi bersekolah di kota lain. Kalau tidak salah di Suna atau Oto begitu... Aku juga lupa tuh."

Sakura mengangguk singkat lagi, "Jadi 'ia' sendirian di rumah sebesar ini kalau kamu pulang?" rupanya gadis satu ini masih tak bosan bertanya. Ia memang penasaran sekali dengan keluarga-kaya-namun-sepertinya-tak-harmonis ini.

Tenten mengangkat alisnya membenarkan ucapan Sakura, "Yap. Makanya itu Kakak'nya', alias Tuan Muda Itachi, mencarikan dia pembantu seorang lagi. Dan kali ini, pembantu itu harus tinggal menetap di rumah ini. Tak boleh sepertiku yang sorenya pulang."

"Humm...," Sakura hanya menggumam singkat untuk menanggapi uraian Tenten barusan. Ia sedang sibuk berpikir sekarang.

Ya, ia baru mengetahui kalau ternyata Tuan Muda Sasuke Yang Terhormat itu selalu sendirian setiap harinya. Hanya Tenten yang menemani, dan ini pun cuma ketika Tenten bekerja. Ia baru menyadari fakta baru. Si Rambut Ayam tersebut tentu kesepian dengan kesendiriannya, kan? Dan apa karena itulah ia selalu pulang malam?

Hmm... rasanya Sakura jadi merasa sedikit terenyuh...

EH??!

Untuk apa pakai terenyuh segala? Ukh, cowok menyebalkan seperti dia biar sajalah. Malah bagus, kan? Ada bahan untuk mengolok-olok Sang Tuan-Angkuh-Menyebalkan-Sombong-Amit-Amit-Jabang-Bayi.

Ya ya...

Untuk apa dia harus terenyuh segala?

Tapi...

.

.

"Seharusnya kau disini kerja, bukannya malah bergosip seperti ibu-ibu bawel."

.

Sakura memutar bola mata sementara Tenten terkikik kecil. Gadis berambut pink tersebut sudah hapal betul siapa yang selalu berkata sinis dengan nada datar padanya seperti tadi. Ya, siapa lagi kalau bukan Si Uchiha-Muda-rambut-ayam-maniak-tomat. Cuih. "Ya ya... Tak usah dibilang juga aku sudah tahu."

Sasuke mendengus, "Kalau kau tahu, kenapa kau biarkan masakanmu gosong?" ucapnya sambil lalu, sembari menarik Tenten keluar dapur.

Sakura mengerutkan keningnya. Masakannya? Gosong? Hah?? Dia sekarang tengah asyik mengaduk-aduk bawang goreng yang baunya pekat seperti hangus ini kok...

Iya kan? Apanya yang gos-

EHHHH???!!!!

"KYAAA~!!!" serta merta Sakura segera berteriak kencang sambil mematikan api kompor yang masih berkobar. Ternyata Sasuke betul, ia terlalu asyik mengaduk-aduk bawang hingga tak sadar kalau sudah sedari tadi bawangnya matang. Dan sekarang bukan hanya matang lagi, tapi juga gosong.

Sakura menghela napas lelah seraya menyeka keringat yang turun ke matanya. Ia menatap nanar bawang-bawang goreng yang berwarna kehitaman di sana. Sungguh menyedihkan. Tak berbentuk, serpihan padat, bau tak enak, layak dibuang. "Cih!" Dengan berat hati Sakura membuang isi kuali ke tempat sampah tepat di sampingnya. Ia harus mulai dari awal lagi.

Yah, meski ini hanya bawang goreng sih...

Tapi kan, waktunya mepet. Teman-teman si Tuan Muda sebentar lagi akan datang. Sedangkan yang sudah siap baru oyakodon(2), nasi kare, dan ramen saja. "Ukh, sial." Dan dengan terus menggerutu, Sakura kembali mengiris-iris bawang. Mengulangi perbuatannya sepuluh menit yang lalu.


.

Sakura memejamkan matanya sejenak. Ia mendesah lega, akhirnya semua makanan sudah terhidang sempurna di meja makan. Sekarang ia hanya harus membuat jus tomat. Gampang. Sepuluh menit juga selesai, ditambah waktu memblender dua menit.(3)

Maka gadis dengan mata emerald tersebut dengan cekatan membuka kulkas, mencari tomat untuk membuat minuman segar kesukaan Tuan Muda Sasuke. Namun sebentar kemudian ia teringat sesuatu, "Oh iya! Tomat kan sudah habis dimakan si Rambut Ayam itu... Huh merepotkan saja." Ia menepuk keningnya sambil berjalan keluar dapur, "TEEEEN~!!!"

Mata hijau Sakura melirik setiap sudut rumah yang sepi. Mencari Tenten yang belum kembali sejak diseret Sasuke pergi dari dapur. Ia mengernyitkan kening bingung, lama sekali Tenten pergi. Sampai masakannya selesai pun, gadis bercepol tersebut belum juga kelihatan. Kemana?

Lagi, Sakura kembali berteriak memanggil, "TEEEEN~!!! Kamu kemana, sih??!" ia bersedekap. Mengetuk-ngetukkan kakinya kesal sembari mengangkat alis. Ia benci menunggu sendirian begini. 'Kemana perginya semua orang di rumah inii?! Sudah seperti rumah kosong saja.'

Setelah hampir dua puluh menit menunggu dan tak tampak adanya tanda-tanda keberadaan Tenten, Sakura menyerah. Ia mendesah seraya mendudukkan diri di kursi makan yang terletak di tengah ruang kosong antara dapur dan ruang keluarga. Tak tahu apa yang harus dilakukan lagi. "Semua tugasku sudah selesai... Mencuci beres, menyiram bunga sudah sejak tadi, menyapu kan tugas Tenten, cuci piring juga... umm, memang hanya tinggal membuat jus tomat saja, nih. Kata Tenten keberadaan jus tomat sangat wajib bagi si Rambut Ayam... Bagaimana ya? Apa belanja ke swalayan dulu? Tapi kalau nggak keburu? Ah, kenapa juga tadi harus lupa? Ukh." Sakura sibuk bicara sendiri, memikirkan apa yang lebih baik harus ia lakukan.

Bolak-balik beberapa saat di tempat tak kunjung juga memberi pencerahan bagi pertanyaan yang menggema di pikirannya. Ia terlalu bingung, walau sebenarnya hal yang dibingungkannya adalah sederhana. Swalayan hanya tinggal menyebrang dan jalan lurus dari sini, tidak jauh sama sekali. Pasti keburu kalau hanya beli tomat.

"Ya sudah deh, mampir ke swalayan dulu saja." Akhirnya dengan ragu ia masuk ke kamar untuk mengambil sweater dan uang belanja yang sudah diberikan Tenten kemarin. Disambarnya sisir untuk sedikit membenahi rambut yang agak mencuat berantakan, "Oke, siap." Dan dengan secepat kilat, ia mengunci pintu rumah seraya menjejakkan kaki menuju luar.

"Yosh, harus cepat~!"

Sedetik kemudian yang terdengar hanya derap langkah Sakura meninggalkan rumah dengan terburu. Membuahkan pandangan bingung dari gadis yang sedari tadi menatapnya, "Lho? Sakura mau kemana lagi?" ia menggaruk rambut bercepolnya.

.

"Ten, kemana si Pink satu itu?"

Gadis bercepol yang masih terlihat kebingungan setelah membuka pintu Kediaman Uchiha segera menoleh ketika mendengar sebuah suara familiar baginya, "Oh, Tuan Sasuke... Mmh, aku juga tidak tahu dia kemana. Yang jelas ia terlihat begitu buru-buru tadi." Katanya mengedikkan bahu.

"Oh." Hanya itu respon Sasuke sebelum kemudian beranjak memasuki rumah, "Ohya, ini aku beli tomat di pinggir jalan sana. Tolong buatkan aku jus tomat ya."

"Eh.. iya." Tenten menerima bungkusan plastik besar berisi tomat ranum dari tangan Sasuke. Ia lalu menutup pintu seraya menaruh bungkusan tadi dekat blender, dan mulai melaksanakan permintaan Tuan-nya.

.

.


.

Sakura menyipitkan matanya kesal begitu melihat Tenten sedang sibuk membuka tutup blender yang berisi jus tomat segar lagi nikmat. Ia menggenggam plastik berisi tomat di tangannya keras-keras. Sudah susah payah beli di swalayan... ternyata tomatnya malah sudah ada! Sudah jadi jus pula!

"Eh, Saku... Kamu dari mana, sih?" Tenten berbalik dari kesibukannya menghidangkan jus tomat dalam gelas, sesudah mengelap tangan yang sedikit berkeringat pada celemek. Bermaksud mendekati Sakura yang berdiri mematung depan pintu.

Menghela napas, Sakura membawa seplastik tomat dalam genggamannya ke hadapan Tenten. "Huh, aku sudah susah payah beli ini ke swalayan.. taunya sudah ada tomat di sini. Kamu yang beli, Ten?" ia balik bertanya masih dalam intonasi sebal.

Dengan agak bingung Tenten menggeleng, "Bukan. Tuan Muda Sasuke sendiri yang beli ini. Lha? Kamu kenapa pake beli lagi, Saku? Jadi dobel nih."

"Yah, aku mana tahu kalau si Rambut Ayam itu sudah beli duluan? Uh, kayaknya nggak apa-apa lah... Cuma untuk apa tadi aku capek-capek ke swalayan segalaaaa??!" katanya sembari meremas baju Tenten. Mungkin terlalu gemas akan kebetulan yang merugikannya ini. Lumayan kan, menghabiskan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja.

Tenten hanya nyengir kuda menanggapi omelan Sakura, ia tepuk punggung Sakura selayaknya teman memberi dukungan, "Sabar ya, mungkin ini cobaan untukmu." Dia melanjutkan meski tahu bahwa kalimat tadi sedikit tidak sinkron dengan kejadian yang menimpa Sakura sekarang. Ya, sudahlah. Sudah keburu diberitahukan.

"Ya ya..," Sakura mendengus tak sabar. Ia kemudian membawa nampan berisi jus tomat itu menuju meja makan. Dimana beberapa makanan yang terlihat sungguh lezat sudah terhidang di sana. Menunggu tangan-tangan manusia mengkonsumsinya hingga tandas nanti. Tenten memperhatikan gerak-geriknya lewat lirikan sedang ia sibuk membenahi anak-anak rambut yang keluar dari cepolan.

Gadis berambut pink di sana menuntaskan semua pekerjaannya hari ini dengan mengatur kembali peralatan makan, sampai semuanya begitu rapi dan menggugah selera. Ia lalu meminta Tenten membawakannya lilin serta korek api untuk ditaruh di meja makan agar tidak ada serangga menyusahkan layaknya lalat yang mampu mengganggu hidangan-hidangan tersebut.

"Err-kataku sih, seharusnya tanpa lilin dan korek juga nggak papa. Rumah ini kan bersih dan bebas dari segala macam polutan kayak lalat gitu." Kata Tenten sambil menjulurkan lidah pada Sakura. Namun begitu, dia tetap melaksanakan permintaan Sakura dan melemparkan korek padanya. Untuk lilin, ia sendiri yang menata dan mengaturnya di atas tatakan sebelum dinyalakan apinya oleh Sakura.

Sakura melirik Tenten sebentar, "Benar juga, sih. Tapi nyatanya kamu taruh juga lilinnya." Ia tersenyum seraya mengitari meja makan untuk keluar dari sela kursi tempatnya menyalakan lilin, "Nah, semua beres dengan ini. Tinggal menunggu teman-teman si Tuan Muda. Kapan mereka akan datang, Ten?"

Gadis bercepol di hadapan Sakura mengetukkan jari telunjuknya tanda berpikir, "Hmm... Sepertinya sih, sebentar lagi. Tadi Tuan Muda Sasuke tampaknya pergi untuk menemui mereka juga selain untuk membeli tomat."

Sakura hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Tenten. Ia tatap sekali lagi keadaan meja makan yang penuh dengan hidangan itu. Bahkan ia sendiri merasa tergoda untuk sedikit mencicip meski sudah jelas dialah yang membuat semuanya. Sebab makanan-makanan tersebut terlihat sangat menggoda, dengan banyak tomat yang bertebaran di segala penjuru piring.

Ada oyakodon yang gurih dengan topping nori(4), potongan-potongan ayam, dan kocokan telur nikmat memenuhi mangkuk-mangkuk hitam antik hingga sangat berisi dan padat, ramen berkuah yang jika mencium aromanya saja sudah membuat perut bernostalgia minta diisi, nasi kare yang sangat berbumbu kental menyebabkan kelenjar ludah memproduksi lebih banyak enzim ptialin, yakisoba berminyak dengan mie bergulung-gulung cantik nan lembut ketika dikunyah, ikan yang digoreng biasa namun terlihat menggiurkan, dan tak lupa, jus tomat segar dengan es-es berdenting ketika gelas tinggi sebagai wadahnya itu disentuh.

Glek.

Mau tak mau Sakura dan Tenten meneguk ludah ketika menatap segalanya lekat-lekat, kemudian mereka saling pandang dengan ekpresi memelas sampai keduanya meledak tertawa, "Memang sepertinya kita harus membuat ini semua dalam porsi banyak-banyak agar kita kebagian, Ten! Haha..."

"Iya, benar. Tapi rasanya sangat lancang kalau kita melakukan itu. Bagaimana jika kita membuat makanan baru yang spesial juga untuk jatah makan siang hari ini?"

Baru saja Sakura akan mengangguk, ketika sebuah suara menyela,

"Tidak usah. Nanti kalian makan bersama kami saja. Maksudku, Tenten yang akan bersama kami. Kau sih, aku tidak peduli."

Well, well... Kalian pasti sudah tahu siapa yang bicara ini, sebab dahi Sakura langsung berkerut lebih dalam dari biasanya.

.


"Memang! Memang seharusnya aku injak-injak saja tomat yang baru aku beli dan mengganti semua tomat di piring itu dengan gabus bercat merah! Nyebelin! Terjun ke jurang aja, kau Rambut Ayaaaam~!!!" Sakura menghentakkan kakinya ketika memasuki kamar diikuti dengan Tenten yang hanya bisa nyengir pasrah tak bisa berkomentar.

Akhirnya gadis bermata emerald tersebut mencoba menenangkan diri, saat sadar tak ada gunanya terus marah-marah. Tapi dia sangat gemas, dan kali ini Tuannya itu berlaku keterlaluan! Err-memang dari kemarin pun kelakuannya sudah kelewat batas, sih... Kelewat batas gila.

Ia menyisir poni pink yang jatuh ke depan menghalangi pandangan mata dengan jari, tampak sedikit frustasi. Tenten tak menyangka bahwa efek cari ribut yang dilakukan Sasuke akan berdampak sebesar ini pada Sakura. Wajahnya sampai kusut dan kehilangan cahaya ceria begitu. Mungkin memang sudah saatnya bagi Tenten untuk menegur Sasuke... Cara cowok satu itu menunjukkan perhatian memang abnormal. Apalagi kalau sudah bertemu dengan orang yang menarik bagi dia.

Aih... rasa-rasanya Tenten jadi dapat ikut merasakan penderitaan Sakura...

Maka sang gadis bercepol beranjak ke tepi kasur Sakura, menepuk-nepuk punggung teman barunya itu sedikit iba. "Sabar ya, Saku... Memang Tuan Muda suka begitu, kukira kau sudah paham?"

Sakura mendengus sebagai balasan, "Ya, aku paham. Tapi bukan berarti aku tahan. Aku belum kebal, tapi akan kupastikan nanti sore aku pasti bisa membalas segala ucapannya dengan yang lebih telak! Huh."

Tenten tersenyum saja mendengar ocehan Sakura yang diikuti curhatannya kemudian. Ia menegakkan tubuh sembari memosisikan duduk yang nyaman, siap untuk mendengarkan segalanya.

.

.

Sasuke membuka pintu utama Kediaman Uchiha tatkala berujar, "Masuk saja!" pada orang-orang yang berkumpul di depan pagar rumahnya. Tanpa mau repot-repot mengucapkan selamat datang apalagi beramah-tamah kepada tamu, ia langsung memaksa mereka cepat masuk kalau tidak mau dikunci di luar.

"Huh, dasar Teme! Nggak ada baik-baiknya pada tamu! Tahu nggak sih, kalau tamu adalah babu?" seseorang di antara mereka yang berambut pirang mencuat mengomentari sikap Sasuke sebal.

"Raja, Naruto! Jauh sekali plesetanmu itu." Dan seorang yang lain dengan tato segitiga terbalik di pipi mengoreksi kalimat sebelumnya.

Anak yang dipanggil Naruto tadi hanya mengangkat bahu cuek, "Yayaya... apa pun itulah. Kau berisik, Kiba."

"Sudahlah, langsung ke ruang makan saja. Banyak omong sekali kau, Dobe." Tukas Sasuke seraya memimpin teman-temannya yang berjumlah tak kurang dari enam itu menuju tempat hidangan yang sudah disiapkan. "Oi, Forehead-girl!" dia lalu memalingkan wajah ke arah kamar Sakura.

"Yeah, yeah. Segera ke sana Tuan Muda!!"

Sasuke mendengus ketika mendengar sahutan bernada sindiran tadi. Ternyata selain bawel, jenong, dan sok tahu, pinky girl itu juga cepat marah.

"Siapa, Sas? Suaranya bukan kayak Tenten deh." Naruto menepuk pundak Sasuke keras demi menanyakan sahutan Sakura barusan. Karena baru bekerja di sini, tentu saja Sakura belum dikenal oleh teman-teman Sasuke. Tidak seperti Tenten yang sudah akrab dengan mereka semua, bagaikan teman dekat.

Sasuke menempeleng Naruto terlebih dahulu sebelum menjawab, "Oh. Itu pembantu baru."

Naruto mengangguk-angguk, sementara tiga cowok di antara teman-teman Sasuke tidak bereaksi. Sisanya yang adalah para cewek justru mengerutkan alis. Mungkin merasa kenal dengan suara Sakura.

Dan ketika akhirnya pintu kamar Sakura terbuka menunjukkan dua sosok yang masih mengobrol, Sasuke menggumam kembali, "Lama sekali, sih."

Sakura berpaling dari kesibukannya mengobrol dengan Tenten, "Banyak komentar. Kami kan, juga sedang mendiskusikan sesuatu yang pent―

"Lho? Saku??!"

.

.


CHAPTER TWO END.

Keterangan :

(1) Yakisoba : Mie goreng Jepang.
(2) Oyakodon : Nasi dengan lauk ayam (biasanya direbus dalam kaldu) lalu diatasnya diberi kocokan telur.
(3) Saya kurang yakin juga soal waktu ini. o.O Entah bener atau enggak.
(4) Nori : Bahan makanan berupa lembaran rumput laut yang dikeringkan.

.

A/N : Iya, saya tahu ngapdet ini sekarang itu telat bangeeeeet~! Maaaaf~!!!–langsung kabur dari serbuan kubis yang dilempar readers- Yah, ini juga kalo ada yang masih mau baca, sih.. T,T

Malah interaksi SasuSaku dikit banget... HUOOO~!!!!!–gila sendiri- Ah, sudahlah. Terima kasih yang sudah mau membaca. Kalau bisa sekalian diripyu yah.–kabur naik ojek-