Semenjak pertemuannya dengan Sakura dan pria berambut merah yang diketahui bernama Gaara itu, hidup Sasuke benar-benar hancur. Tubuh yang ia bangga-banggakan sekarang sudah tidak terurus. Tubuh yang dulu berisi sekarang tampak agak kurus. Wajah yang dulu dipuja-puja oleh kaum hawa sekarang sudah kehilangan kharismanya. Wajah tampan itu sudah dihiasi oleh janggut dan kumis. Sangat-sangat tidak terurus. Dia—Sakura Haruno adalah wanita satu-satunya yang bisa membuat Uchiha bungsu itu sekacau ini.
Suara bel berbunyi menandakan ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Uchiha Sasuke si pemilik rumah itu dengan malas membuka pintu rumahnya. Pria ini sempat mendecih tidak suka kepada si tamu yang mengganggu waktunya. Tapi seketika itu onyxnya mebulat tatkala melihat seorang wanita yang sangat ia rindukan berdiri di depan pintu rumahnya. "Sa-sakura" hanya gumaman nama wanita tersebut yang mampu terlontar dari mulut Sasuke. Ingin sekali ia memeluk istrinya ini, namun seketika itu diurungkannya niat tersebut karena pria ini tidak ingin Sakura menjadi lebih membencinya.
"Silahkan masuk" Sasuke mempersilahkan tamunya itu masuk.
Saat kaki Sakura melangkah masuk ke rumah yang pernah ia tempati bersama dengan Sasuke dan Miura, saat itu pula Sakura merasakan perasaan rindunya terobati tapi disaat itu juga perasaan sakit yang mendera hatinya muncul kembali. Rasa sesak ketika mengingat kebersamaan yang sudah mereka bina selama bertahun-tahun hancur seketika akibat perselingkuhan Sasuke dan Hinata terkuak.
Sasuke mempersilahkan Sakura duduk di sofa. "Hn, kau mau minum apa?" Tanya Sasuke.
"Tidak perlu, aku disini tidak akan lama. Aku hanya ingin kau menandatangani surat perceraian kita." Jawab Sakura datar sembari menyerahkan sebuah map yang berisi surat perceraiannya.
"Apa?! Aku tidak bisa Saku. Aku tidak ingin bercerai!" jawab Sasuke.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya surat itu harus kau tandatangani! Minggu depan aku akan mengambilnya." Balas Sakura tidak kalah sengit. Mata emeraldnya menatap tajam onyx itu.
Sasuke menatap lekat-lekat emerald milik Sakura berusaha mencari keraguan di mata tersebut namun nihil, emerald itu menunjukkan keseriusan dan itu yang membuat Sasuke bertambah hancur. Pria itu mengalihkan tatapannya kearah map yang tergeletak tak berdaya di atas meja. Segera tangan kekar itu meraihnya dan— SRAAKKK! Map itu terbelah menjadi dua. Sakura membulatkan kedua matanya melihat Sasuke dengan teganya mengoyak kertas itu.
"Apa yang kau lakukan Sasuke?! Kenapa kau mengoyak kertas itu?!"
"Karena aku harus melakukannya. Aku tidak mungkin membiarkan orang yang aku cintai pergi dariku. Kau adalah miliku selamanya Uchiha Sakura dan tidak akan aku biarkan kau menjauh dari sisiku!" jawab Sasuke sarat akan emosi. Mata hitamnya menatap lekat-lekat mata istrinya.
"Kau egois Sasuke, kau tidak pernah memikirkan perasaanku!" teriak Sakura.
"Untuk hal seperti ini dan untuk terakhir kalinya biarkan aku menjadi sosok yang egois. Aku sangat mencintaimu Sakura. Kembalilah!" nada bicara pria itu melembut. Mata onyx itu tidak berpaling dari emerald Sakura.
PLAKK
Sebuah tamparan mendarat mulus dipipi kanan Uchiha bungsu itu.
"Kau pikir aku apa Sasuke? Aku selalu setia disisimu, mendampingi, disaat kau lagi kesusahan aku adalah penopangmu. Dengan segenap jiwaku aku mencintai dan menyanyangimu. Namun dengan mudah kau menghancurkan semua asa ku untuk selalu bersamamu, membangun sebuah keluarga impian. Apa kau pernah merasakan apa yang aku rasakan hah ketika melihatmu bercumbu dengan wanita jalang itu? Kau tega Sasuke." Teriak Sakura dengan emosi yang telah memuncak. Matanya sudah mengeluarkan cairan bening karena tak sanggup lagi menahan semua rasa sakit dan sesak di hatinya. "aku tidak pernah menyangka hidupku akan seperti ini. Aku menyesal bertemu denganmu Sasuke. Kau menghancurkan hidupku. Jika bukan karena Miura, aku pasti sudah bunuh diri karena frustasi. Apa kau tahu itu Sasuke? Apa kau mengerti?" teriak Sakura yang sudah kehilangan kontrol dirinya sendiri sambil tangan mungilnya mengguncang-guncang bahu pria itu. Namun Sasuke tidak menjawabnya, ia terus membuang mukanya, enggan menatap emerald yang dengan setia mengeluarkan air mata karena hatinya akan terasa sangat sakit melihat wanitanya menangis.
"Dan sayangnya kau tidak pernah tahu apalagi mengerti dengan perasaanku." Jawab Sakura lemah. Wanita itu mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Dengan cepat ia meraih tasnya dan melangkah pergi meninggalkan kediaman pria itu. Sasuke hanya memandang sendu kepergian wanita itu.
.
.
.
Seems like it was it yesterday when I saw your face
You told me how proud you were, but I walked away
If only I knew what I know today
I would hold you in my arms, I would take the pain away
Thank you for all you've done, forgive all your mistake
There's nothing I wouldn't do to hear your voice again
Sometimes I wanna call you but I know you won't be there
I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
Some days I feel broke inside but I won't admit
Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye when it comes to this
Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?
There's nothing I wouldn't do to have just one more chance to look into your eyes and see you looking back
If I had just one more day I would tell you how much that I've missed you since you've been away
.
.
.
Suara hak sepatu yang beradu dengan lantai menggema di lorong rumah sakit. Wanita bersurai merah muda itu tampak sangat kusut.
"Kaasan!" teriak bocah laki-laki memanggil Sakura yang sedang tidur-tiduran diranjang pasien.
Sakura hanya tersenyum melihat anak semata wayangnya yang tersenyum ke arahnya. Dengan perlahan kaki jenjang miliknya menghampiri ranjang itu. Ia pun mendudukan dirinya di samping ranjang itu dan mengelus-elus kepala anaknya dengan kasih sayang.
"Kaasan kenapa? Kaasan habis nangis ya? Tanya bocah berambut hitam itu ketika melihat mata ibunya yang sembab.
"Tidak kok, Kaasan tidak menangis kok. Tadi mata Kaasan dimasukin debu." Kilah Sakura.
"Oh" Miura mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Kaasan, Miura bosan dirumah sakit. Boleh gak kalau Miura main keluar?" Tanya Miura dengan tatapan puppy eyes berharap Sakura akan luluh.
"Miura… kamu 'kan masih sakit, jadi—"
"Jadi Miura gak dibolehin main diluar 'kan, Kaasan?" potong Miura dengan raut penuh kecewa. Sakura yang melihat itu merasa kasihan. "Bukan begitu Miura-kun, Kaasan pasti mengizinkan Miura untuk main asalkan Miura sudah sembuh." Jawab Sakura sambil mengelus-elus helaian rambut yang mulai menipis milik Miura. "Tapi kapan Miura sembuh? Dari dulu sampai sekarang Miura tetap sakit. Miura capek kalau setiap hari harus keluar masuk rumah sakit. Apalagi waktu dokter memasukkan obat ke dalam tubuh Miura, rasanya sangat sakit Kaasan. Miura merasa menggigil." Kata Miura sembari memeluk tubuh Sakura.
Sakura mencoba tersenyum dan membalas pelukan Miura. Sebagai seorang ibu, ia sangat mengerti apa yang Miura rasakan. Kalau bisa, ia meminta Kami-sama supaya dirinyalah yang menggantikan Miura untuk merasakan rasa kesakitan yang dialami Miura. Sangat miris ketika menyaksikan orang yang paling ia sayangi harus menahan kesakitan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah yang membuat Sakura merasa gagal menjadi seorang ibu bagi Miura.
"Miura harus kuat, Kaasan selalu berdoa untuk kesembuhan Miura. Sebaiknya Miura beristirahat supaya cepat sembuh." Kata Sakura.
"Baiklah Kaasan."
Perlahan-lahan mata onyx milik Uchiha Miura itu mulai bersembunyi dibalik kelopak matanya. Sentuhan-sentuhan lembut dari tangan Sakura terasa sangat nyaman bagi Miura. Itulah yang membuat bocah kecil ini terhanyut dan masuk ke alam mimpi.
Ibu dan anak tersebut tidak mengetahui jika ada sepasang mata yang mengamati gerak-gerik mereka dibalik celah pintu yang sedikit agak terbuka. Dengan perlahan pria itu masuk kedalam ruangan yang bernuansa putih itu.
"Sakura?" panggilnya pelan.
"Eh… Gaara-kun. Ada apa?" Sakura kaget ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Oh silahkan" ujar Sakura sambil menghampiri Gaara.
"Kondisi Miura semakin memburuk Sakura, sel darah merahnya berkurang drastis. Selain itu sel-sel kanker yang berada di dalam tubuhnya sudah menyebar, penyebarannya sudah mencapai organ-organ penting ditubuhnya. Kemoterapi yang dijalaninya sepertinya telah gagal Sakura. Dengan berat hati saya memprediksikan kalau umurnya tidak lebih dari sebulan." Ujar Gaara yang membuat Sakura terkejut dan langsung mengisak. Pria berambut merah itu pun langsung mendekap wanita itu dan berujar. "maafkan aku Sakura."
Isakan dari wanita bersurai merah muda itu bertambah keras. Mengingat putra semata wayangnya sebentar lagi akan meninggalkannya.
Tanpa mereka sadari, bocah kecil itu belum tidur sama sekali, sehingga dia dapat mendengar percakapan kedua orang dewasa itu dengan jelas. Walaupun ia tidak mengerti sama sekali penjelasan Gaara, namun ia mengerti kalimat Gaara yang terakhir, yang mengatakan hidupnya akan sebentar lagi.
Bersambung...
Arigatou Gozaimasu :)
