AS BITTERSWEET AS COCKTAIL
A GH FANFICTION BY LILPERVIEME
GINTAMA BELONGS TO SORACHI
CASE 3 :
Blessing in Disguise
"Selamat Pagi, Sensei!"
Sekerumunan anak-anak berusia 6-7 tahun menghampiri Gintoki yang baru saja tiba di pintu gerbang sebuah dojo. Dojo itu memiliki halaman yang cukup luas dan dojonya sendiri berukuran sangat besar. Pada pintu masuk gedung terpampang papan besar bertuliskan huruf kanji yang dibaca Koudoukan.
"Ah, selamat pagi. Kalian terlihat bersemangat ya," kata Gintoki sambil menepuk lembut kepala murid-muridnya.
"Ini sudah siang, Gin-san," seseorang berkacamata dan menggunakan baju pelindung kendo muncul dari dalam gedung. Di tangan kirinya ia menggenggam shinai.
"Haa... ini baru jam 9, jadi masih pagi," Gintoki berjalan dengan malas ke dalam dojo.
"Tapi jadwal latihan kan jam 8!" Laki-laki itu menggerutu karena lawan bicaranya tidak menggubris apapun yang ia katakan.
Gintoki menjadi pelatih di Koudoukan sudah hampir 1 tahun lamanya. Jadwalnya melatih murid-murid setiap hari pukul 3 sampai 5 sore, khusus hari Minggu jadwalnya melatih ialah pukul 8 pagi hingga 12 siang.
Murid-muridnya pun dari beragam umur dan kalangan, tapi karena tidak mau kerepotan ia memilih untuk handle murid berumur 6-8 tahun saja yang berniat belajar kendo hanya untuk latihan semata, bukan serius untuk mengikuti turnamen.
Kalau untuk para murid yang ingin menekuni kendo sampai ke jenjang turnamen ada satu Sensei senior yang melatih di Dojo ini, yaitu Sensei Doromizu Jirochou. Murid-murid biasa memanggilnya dengan Jiro-sensei.
Perawakan Jiro-sensei sangat sangar. Meski demikian, murid-murid yang ia latih sangat menghormati dan menyayanginya karena sesungguhnya penampilan sangarnya itu sangat tidak sesuai dengan hatinya yang seperti hello kitty.
Tapi tentu saja, bila sudah berkaitan dengan kendo, Jiro-sensei tidak bisa diajak main-main. Tidak heran banyak muridnya yang sukses di dunia perkendoan.
"Hai, hai... berbaris yang rapi ya. Lakukan pemanasan sebanyak 3 set," perintah Gintoki yang diikuti dengan murid-muridnya yang langsung berbaris rapi dan mulai melakukan gerakan pemanasan sesuai yang ia arahkan.
"Mereka sudah pemanasan tadi."
"Tidak apa, makin banyak makin bagus. Aku ganti baju dulu," Gintoki berjalan menuju ke ruang ganti sementara si kacamata hanya menghela nafas kemudian mengawasi murid-murid.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala ketika Gintoki sedang asik melatih murid-muridnya. Seorang wanita dengan rambut pony tail pendek berwarna kecokelatan memasuki dojo dengan nampan yang di atasnya terhidangkan kue mochi .
Para murid yang tadinya asik melakukan gerakan latihan pun terhenti dan langsung berlarian menghampiri wanita itu.
"Otae-san! Waa ada kue mochi," ucap seorang siswa yang kepalanya botak.
"Oi-oi, tutup dulu," Gintoki tidak sadar kalau hari sudah siang. Ia dan si kacamata berdiri di hadapan semua murid dan mereka mengakhiri latihan hari ini.
"Otsukaresamadeshita," ucap wanita yang bernama Otae itu kepada Gintoki dan si Kacamata.
"Semestinya tidak perlu repot-repot sampai menyediakan hidangan begini," Gintoki melirik ke sepiring kecil kue mochi yang ditaruh di sebelahnya.
"Gin-san belum sempat sarapan bukan? Hidangan kecil ini tidak ada apa-apanya," Otae kini sudah duduk di sebelah Gintoki. Keduanya sedang asik memperhatikan para murid yang menikmati mochinya masing-masing sambil bermain di halaman.
"Ah, Shin-chan, tolong ambilkan tehnya," kata Otae pada Shinpachi yang baru selesai melepas baju pelindung kendonya.
"Gin-san mau sekalian makan siang di sini juga?" tanya Shinpachi, ia berniat untuk masak setelah membersihkan diri. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan keringat.
"Tidak usah repot-repot, aku setelah ini ada urusan juga," Gintoki melahap mochi sampai habis kemudian menuju ruang ganti. "Aku pinjam kamar mandi ya."
"Hee...Gintoki-sensei mau kencan ya?" celetuk salah satu muridnya yang kemudian diikuti dengan sorakan murid lainnya.
"Sudah-sudah, kalau sudah selesai makan segera pulang ya. Nanti orang tua kalian khawatir," Otae menepuk lembut kepala si sumber kegaduhan.
"Baik!" ucap mereka berbarengan.
Gintoki tidak begitu menggubris perkataan murid-muridnya itu, karena pada kenyataannya ia memang sedang ingin bertemu dengan seseorang yang belakangan selalu memenuhi pikirannya.
Walaupun ia hanya mengetahui nama orang itu tanpa mengetahui apapun lagi selain pekerjaannya, ia sangat berharap bisa bertemu secara tidak disengaja hari ini. Di bar, mau pun di jalan, atau di manapun itu.
Setelah ia selesai mandi dan bersiap meninggalkan dojo, Shinpachi menghampirinya dan menawarkana segelas teh.
"Gin-san harus memperkenalku pada wanita itu suatu saat ya," godanya.
"Apaan? Aku sama sekali tidak sedang dekat atau pun ingin bertemu dengan seorang wanita," Gintoki segera meneguk habis teh lalu berjalan menuju gerbang dojo.
"Aku pergi dulu."
"Hati-hati," ucap Shimura bersaudara sambil memperhatikan sosok Gintoki berlalu.
"Belakangan ini Gin-san sering pulang cepat, tidak pernah makan bareng lagi,"
"Mungkin benar dia sedang dekat dengan seseorang. Heh? Apa kau mulai merasa kesepian, Shin-chan?"
"Bukan begitu Aneue! Justru sebaliknya, aku senang kalau akhirnya ia dekat dengan seseorang. Justru itu pertanda bagus kan?" Gerutu Shinpachi tidak terima dengan perkataan kakaknya ini. Bagi Shinpachi, Gintoki memang sudah seperti Abangnya sendiri. Ia juga banyak belajar tentang kendo darinya. Walau tentu Jiro-sensei lebih jago tapi ia merasa nyaman bersama Gintoki.
"Tentu saja," Otae tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan tangan kanannya. Mereka pun kembali memasuki dojo.
Gintoki berjalan melewati berbagai toko di pinggir jalan. Baju pelindung kendonya sengaja ia tinggalkan di dojo karena ia malas menentengnya kemana-mana.
Kini ia sudah berdiri di suatu toko buku. Dari jendela kaca terlihat majalah Jump edisi terbaru dipajang di rak buku. Ia pun segera memasuki toko dan mengambil majalah kesukaannya itu.
Walaupun umurnya sudah 20an, Gintoki masih suka membaca majalah itu. Ia mengikuti Jump sejak SMP, dimana ia selalu menabung agar bisa membeli majalah itu dengan uang sendiri.
Setelah membayar majalahnya di kasir ia langsung meninggalkan toko buku dan berjalan menuju suatu tempat yang selalu ia kunjungi selama sepekan ini.
"Selamat datang," sapa pelayan yang bertugas saat itu.
Jam menunjukkan pukul 2 siang, bar terlihat sangat sepi. Dalam hati Gintoki agak kecewa karena ia tidak menemukan sosok yang ia rindu.
Kali terakhir ia bertemu dengan pria itu ialah di malam hari setelah ia menyelesaikan misi pertamanya. Setelahnya, pria itu menghilang bak ditelan bumi. Di TV pun ia jarang terlihat.
Gintoki langsung berjalan menuju tempat duduk di meja bar tempat biasa ia nongkrong. Di sana, Ikumatsu sudah menyapanya dan siap melayani.
"Kali ini datang lebih siang dari biasanya, Sakata-san."
"Iya, baru saja habis melatih kendo."
"Mojito?"
"...dan taco ya," tambah Gintoki.
Wanita itu pun menyiapkan pesanan Gintoki sementara yang bersangkutan mulai membuka majalah Jump yang baru saja ia beli.
Setelah beberapa saat, minuman dan makanan pesanannya terhidangkan di meja. Ia kemudian menyambar taco itu dan melahapnya perlahan sambil lanjut membaca.
"Itu Jump edisi terbaru?"
Gintoki hanya mengangguk. Ia kemudian melarutkan dirinya pada majalah itu sampai tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.
Beberapa jam kemudian, pintu bar terbuka. Katsura muncul bersama dengan sesosok aneh -seperti bebek- yang bahkan tidak pasti wujudnya.
"Oh, Gintoki! Kau di sini rupanya," sapa Katsura dengan menepuk punggung sahabatnya yang masih asik membaca Jump.
"Hmmm hmmm,"
"Cih asik banget baca apaan coba?"
"Hmmm"
Karena kesal dikacangin, Katsura pun segera memasuki ruang di belakang bar untuk berganti pakaian dan menuju ke balik meja bar untuk membantu asistennya melayani pelanggan yang mulai berdatangan.
Setelah semua pesanan pelanggan beres, Katsura kembali memperhatikan sahabatnya yang masih asik membaca seolah-olah raganya saja yang ada di sana namun jiwanya melayang entah kemana.
"Gintoki, ada cewek cantik di bekalangmu, ngelirikin kamu terus noh."
"Ooo."
Katsura terdiam. Ia mulai berpikir untuk beberapa saat. Lalu berkata lagi, "Hijikata-san belakangan ini tidak pernah mampir ke sini. Apa mungkin ia sudah menemukan bar baru ya? Gawatt!"
"Paling juga lagi sibuk. Belakangan lagi banyak kasus kan?" Tatapan Gintoki masih terpaku pada halaman-halaman majalah itu sementara sahabatnya sudah tersenyum licik.
Katsura menyadarinya kalau sahabatnya ini tertarik pada Waka Kepolisian Kota itu.
"Kasus anak perempuan itu masih belum selesai ya? Belum lagi kasus kematian direktur keuangan perusahaan terkenal itu. Eh tapi kalau kasus itu sudah murni karena serangan jantung ya?"
Gintoki menahan nafas ketika kasus itu dibahas. Ia ingin mengatakan kalau pria tua itu mati di tangannya tanpa perlawanan. Tapi Gintoki mengurungkan niatnya.
"Hah!" Katsura menepuk tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya, "jangan-jangan Hijikata-san bunuh diri karena terte-"
Belum sempat Katsura menyelesaikan kalimatnya, Gintoki meraih kerah kemejanya lalu kedua mata merah itu menatap dingin seperti ingin membunuh.
"Tidak mungkin pria terhormat seperti dia bunuh diri hanya karena itu. Sekali lagi kau mengatakannya aku gundulin palamu."
Katsura, Ikumatsu, serta makhluk bebek jadi jadian itu tersentak kaget sekaligus terhibur dengan reaksi Gintoki.
Mereka baru saja mendapatkan kelemahan pelanggannya.
Gintoki mulai merasa lelah. Ia melirik jam tangannya. Ternyata sudah jam 6 sore.
Ia sudah menghabiskan waktu lebih kurang 4 jam di bar itu hanya dengan membaca Jump dan menikmati Mojito, dan tentunya beberapa interupsi dari Katsura dan para pegawainya.
Ia kembali kecewa. Ia merasa keberuntungan tidak memihak padanya (lagi) kali ini. Ia hendak meraih dompet untuk membayar sampai akhirnya ia sadar dompetnya tidak ada di saku.
Keringat dingin pun muncul di keningnya, gawat... tidak mungkin tertinggal di toko buku bukan? Oh apa aku ngebon aja dulu ya, pikirnya.
Seorang wanita menghampiri dan menduduki kursi di sebelahnya yang kosong.
Tidak tidak... kenapa wanita itu duduk di sana?! Aku mau ngebon hoi bisa jatuh imageku!
Katsura hanya memperhatikan wajah sahabatnya yang mendadak terlihat pucat. Ia mengira-ngira kalau Gintoki gugup karena seorang wanita bertubuh ramping, berambut panjang bergelombang, menggunakan dress merah ketat sampai di atas lutut mendekatinya.
"Lagi sendirian aja?" Wanita itu mencoba memulai percakapan.
"Begitulah,"
"Lagi nunggu seseorang?"
"Ngga juga."
"Kalau begitu mau aku temani?" Kini wanita itu sudah menempelkan sisi lengan kirinya ke lengan kanan Gintoki yang membuat si empunya tangan risih.
Gintoki menarik lengannya namun ditahan oleh wanita itu. Katsura yang mendadak tersenyum licik hanya memperhatikan Gintoki tanpa mau membantu, padahal sudah jelas si rambut perak itu butuh bantuan.
Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Gintoki menoleh dan membelalakkan matanya. Ia membeku. Rasanya seperti petir menyambar tubuhnya, gelombang badai mengoyak raganya.
"Ah... aku cuma mau nyerahin ini." Pria bersurai hitam yang sudah berdiri di samping Gintoki itu meletakkan dompet di meja.
"Seorang warga menyerahkannya padaku tadi di jalan. Tidak kusangka kau ceroboh juga."
Gintoki masih terdiam, ia ingin mengucapkan terima kasih tapi bibirnya seperti terkunci rapat. Wanita di sebelahnya masih merangkul lengan kanannya, sementara Katsura tetap menyimak seolah-olah sedang menyaksikan adegan di drama-drama Kuurrea.
"Welcome, Hijikata-san," sapa Ikumatsu kepada pria itu. Namun pria itu hanya tersenyum.
Kemudian, Hijikata melirik ke arah wanita yang duduk di sebelah Gintoki yang kebetulan juga sedang menatapnya dengan tatapan polos.
"Kalau begitu aku pergi du..."
Gintoki refleks menghempaskan rangkulan di lengan kanannya dan dengan cepat mengenggam pergelangan tangan Hijikata.
"Ga minum dulu? It's on me."
Hijikata yang kaget akibat kelakukan Gintoki awalnya merasa ragu untuk menerima tawaran itu. Namun setelah berpikir untuk beberapa saat, ia pun mengiyakan.
"B-baiklah..."
"Wow, Gintoki," goda Katsura yang langsung dibalas dengan tatapan galak oleh Gintoki.
Hijikata kini duduk di sebelah Gintoki. Wanita yang sedari tadi berusaha menggoda Gintoki kini sudah melipir ke pelanggan lainnya, sepertinya ia sedang mengincar sugar daddy yang duduk di ujung bar sendirian.
"Campari Bitter?" Gintoki menebak minuman yang ingin Hijikata pesan.
"Tidak, Mojito."
Katsura tersenyum lalu segera menyiapkan minuman yang dipesan pelanggan setianya itu. Diam-diam ia memperhatikan ekspresi kedua lelaki di hadapannya.
Yang satu membuang muka sambil memainkan jemarinya di gelas kosong yang ada di depannya, sementara yang satu lagi hanya menatap lurus ke meja bar. Satu hal yang menarik perhatian Katsura ialah terlihat semburat merah menghiasi wajah keduanya.
Setelah frustasi karena rasa gugup yang menyelimuti dadanya, Gintoki membulatkan tekad untuk memulai percakapan.
"A-..."
"Sudah lama di sini?"
Keduanya kaget. Iris biru bertemu dengan iris merah. Hijikata yang baru sadar kalau Gintoki juga ingin bicara langsung gugup.
"Lumayan, dari jam 2-an."
"Tadi mau bilang apa?"
"Oh itu... Kamu jarang kelihatan. Pasti polisi lagi sibuk-siibuknya ya?"
"Begitulah. Banyak kasus terjadi seminggu ini." Hijikata mulai terlihat serius, tatapannya menatap tajam lurus kedepan. Gintoki bisa melihat ada rasa lelah tergambar di wajahnya, walau samar.
Maaf, aku menjadi salah seorang yang menjadi dalang masalahmu, Tuan Polisi, batinnya.
"Pembunuh dari anak itu masih belum ditemukan ya?" Gintoki tau pertanyaan ini tidak mungkin dijawab oleh orang yang ditanya karena masalah profesionalisme. Tapi tetap saja Gintoki terdorong untuk bertanya.
Katsura yang sudah meletakkan segelas Mojito di hadapan Hijikata pun berubah serius, menunggu jawaban.
"Belum. Kami masih menyelidikinya."
Hijikata berbohong. Ia sebenarnya sudah tau kalau pembunuhan kali ini ada hubungannya dengan sindikat gelap yang bersembunyi di balik pemerintahan. Tapi hal itu tidak mungkin ia bongkar begitu saja karena masih belum ada cukup bukti.
Gintoki dan Katsura menghela nafas. Mereka tahu ini bukan kasus yang gampang, karena anak itu ditemukan di gang terpencil di sisi cafe sehingga tidak terjangkau cctv. Banyak orang yang berlalu-lalang tetapi tidak ada satu pun orang yang melihat adanya orang mencurigakan yang meletakkan mayat di sana.
Sebagai tambahan informasi, mayat itu dibungkus dalam karung dengan kondisi telanjang. Di tubuhnya terdapat sedikit memar seperti bekas ikatan yang kuat di pergelangan tangan dan kaki. Selain itu tidak terdapat luka parah yang dapat menyebabkan kematian. Setelah diotopsii, dalam vagina korban terdapat luka. Bisa dipastikan ia diperkosa. Namun sayangnya tidak ada jejak dari para pelaku seperti sidik jari, darah, maupun sperma yang bisa digunakan sebagai barang bukti.
Namun sayangnya, semua informasi yang Hijikata ketahui itu disimpannya baik-baik.
"Pembunuhan yang rapi ya, pelakunya pasti sudah mempersiapkan dengan matang rencananya," gumam Gintoki.
"Kasus ini mengerikan. Banyak orang tua mulai gusar dan takut melepaskan anaknya. Beberapa pelangganku banyak yang curhat, mereka khawatir," Katsura ikut memberi komentar.
"Di dojo tempatku bekerja juga sampai memulangkan murid sebelum hari mulai gelap dan memastikan anak-anak pulang tidak sendirian. Beberapa kali aku sampai harus menemani muridku pulang karena orang tuanya masih sibuk bekerja."
"Pihak kepolisian juga sudah memberi peringatan pada warga agar berhati-hati. Kami menghimbau sekolah agar melakukan kegiatan tidak lebih dari jam 5 sore. Dan beberapa polisi kami terjunkan ke lapangan untuk rutin melaksanakan patroli."
"Aku sering melihat polisi berseliweran di jalan. Bahkan beberapa diantaranya sering mampir kemari setelah patroli atau saat beristirahat. Mereka banyak curhat lho, Hijikata-san," goda Katsura berusaha mendinginkan suasana yang awalnya begitu tegang.
"Apa mereka mengeluh tentangku?"
"Tidak ada, mereka hanya mengeluh karena tidak dapat uang tambahan meskipun harus patroli."
"Cih, itu kan memang sudah tugas mereka," kali ini malah Gintoki yang menggerutu, sementara Hijikata hanya diam sambil menghirup rokoknya yang sudah ia nyalakan sejak mulai menceritakan kasus itu.
"Ah kamu mau tambah minuman lagi?" tawar Gintoki ke Hijikata yang melihat gelasnya sudah kosong.
"Hmm... Chita Whisky ya,"
Gintoki pun memesan minuman yang sama. Mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan meminum cairan berwarna keemasan itu. Tapi ia tidak menyangka kalau Hijikata menambah terus minumannya entah untuk yang keberapa gelas sampai wajahnya memerah.
"Oi,oi... kau mulai mabuk," Gintoki menepuk bahu Hijikata. Kemeja putih Hijikata dibiarkan terbuka 3 kancing yang membuat belahan dadanya terlihat.
Dan Gintoki dengan senang hati menikmati pemandangan itu sejak tadi.
"Aku tidak mabuk, tenang saja."
"Hijikata-san pasti sangat lelah ya? Sesekali memang perlu melepas penat," Katsura menuangkan whisky itu ke gelas Hijikata lagi dan Hijikata pun langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Pelan-pelan! Besok kamu tidak kerja memangnya?" Gintoki melirik lagi jam tangannya. Sudah pukul 9 malam.
"Aku kerja tadi karena ada kasus yang harus aku tangani, jadi besok mungkin akan ambil cuti. Tapi sepertinya tidak bisa," pria bersurai hitam itu menyandarkan dagunya di meja, tangan kanannya memainkan gelas yang berisi setetes whisky. Katsura hendak menawarkannya lagi namun Gintoki menahan.
"Sudah cukup. Kamu besok harus bekerja, sekarang sudah malam lebih baik kamu istirahat saja di rumah," Gintoki mencoba merampas gelas di tangan Hijikata namun pria itu mengelak.
"Gamau, tambah lagi!"
Hijikata menyodorkan gelas ke arah Katsura yang membuat Katsura ragu harus menuangkan cairan keemasan itu atau tidak karena sahabatnya sudah memberi death glare padanya kini.
"Oke, sudah saatnya pulang," Gintoki menarik tubuh Hijikata kearahnya dan karena Hijikata sedang mabuk, keseimbangannya pun tak terjaga, yang membuat tubuhnya menabrak Gintoki.
Bruk!
Sekarang sudah tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Gintoki menatap tajam ke mata biru itu, yang pandangannya terlihat mulai kabur. Wajah Hijikata sudah sangat merah, Gintoki ingin sekali menghajarnya hingga pingsan lalu memulangkannya secara paksa kalau saja ia tidak ingat orang yang ada di hadapannya ini adalah petinggi kepolisian.
Tanpa ia sadari, wajah Hijikata sudah terbenam di dadanya. Gintoki bisa merasakan debaran yang kencang, entah itu suara jantung Hijikata atau suara jantungnya.
Gintoki pun memeluk Hijikata. Ia sendiri tidak tau apa yang sedang ia lakukan sekarang di depan sahabatnya dan beberapa pelanggan yang ada di sana. Sekarang, ia merasa seperti sudah memiliki dunia.
Katsura yang melihat pemandangan ini langsung tersenyum. Sejak SMA dulu ia sudah tau kalau sahabatnya ini memang memiliki ketertarikan yang berbeda meskipun ia terkenal di kalangan perempuan. Gintoki pun sudah berkali-kali pacaran dengan mereka dan bertindak seolah ia menikmatinya.
Tapi kini, untuk pertama kalinya ia melihat Gintoki menjadi diri sendiri, dan ia senang akan hal itu.
"Kalian berdua, get a room sana," Katsura berlagak seolah ia kesal.
"Apa-apaan...!" Gintoki pun mendapatkan kesadarannya kembali dan hendak menjauhkan tubuh Hiijikata saking gugupnya.
Sayangnya, pria yang tengah mabuk berat itu justru semakin membenamkan wajahnya dan menarik baju Gintoki seolah ia tidak ingin dipisahkan darinya.
"Temani aku," bisik Hijikata yang membuat wajah Gintoki merah semerah merahnya.
Entah apa yang sudah ia lakukan, hari ini ia merasa sangat beruntung. Tidak hanya dipertemukan kembali dengan orang yang menarik perhatiannya , tetapi juga diberi kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh... ya lebih jauh.
"Zura," Gintoki memanggil sahabatnya sambil tetap mendekap sosok yang mengacaukan pikirannya itu.
"Di ujung koridor lantai dua," kata Katsura sambil menyerahkan sebuah kunci pada Gintoki.
"Thanks."
Gintoki segera berdiri, di hadapannya Hijikata terlihat sedikit kecewa karena Gintoki melepas pelukannya. Namun dalam beberapa detik kemudian Gintoki sudah mengangkat tubuh Hijikata dan menggendongnya ke lantai dua... ala bridal style.
Ia sudah tidak peduli lagi dengan pikiran orang yang melihat mereka. Ia menggap mereka semua tidak ada, yang ia pikirkan sekarang hanya seorang pria yang terlihat rapuh dalam dekapannya ini.
Sesampainya di depan kamar ia merasa sedikit kesusahan membuka pintu yang terkunci.
"Hei, pegangan yang erat,"
Hijikata menuruti perkataan Gintoki, ia pun melingkarkan tangannya pada leher pria tersebut. Kini tangan Gintoki dapat dengan leluasa membuka pintu yang terkunci.
Cklek!
Begitu pintu terbuka, Gintoki langsung menyalakan lampu dan ruangan yang cukup besar dengan double bed terpampang di depan muka. Gintoki bergegas menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuh Hijikata di atasnya.
Ia hendak menutup pintu namun Hijikata menahan dan menarik tangannya sehingga tubuh pria bersurai hitam itu sudah berada tepat di bawah tubuhnya sekarang.
Lagi-lagi tatapan mereka bertemu. Gintoki berusaha menyelami lautan biru yang kelam itu, begitu pun sebaliknya. Perlahan ia menyentuhkan ujung hidungnya pada hidung Hijikata sementara orang di hadapannya ini hanya diam dan terus menatap matanya, kemudian bibir mereka pun semakin mendekat...
Tok tok...
Gintoki tersadar dan segera bangkit untuk menoleh ke arah suara. Seekor bebek jadi-jadian berada di ambang pintu dan membawa sebuah papan bertuliskan, gunakan ini.
Ia melemparkan beberapa kemasan plastik kecil dan sebuah tube yang sudah tidak asing bagi Gintoki kemudian menutup pintu. Gintoki pun berdecik.
Aku hutang banyak padamu, Zura, Bebek, batinnya.
Kini fokusnya kembali pada si surai hitam yang berbaring lemas di atas kasur. Matanya tertutup sehingga membuat Gintoki curiga ia ketiduran.
"Oi-oi, kau sudah membuatku melangkah sejauh ini dan sekarang kau malah ketiduran? Tanggung jawab oi!"
Gintoki memanggil-manggil Hijikata sambil menggoyangkan tubuhnya. Perlahan mata biru itu kembali terbuka.
"Hngg... dimana?"
"Di kamar bar."
"Kondo-san...?"
Gintoki melongo. Kondo-san? Siapa itu? Sejak kapan namanya berubah menjadi Kondo-san?
Hijikata yang memanggil nama lelaki lain membuat Gintoki turn off dan sekaligus kesal, tentu saja.
Gintoki langsung bangun dari kasur hendak meninggalkan Hijikata namun tiba-tiba saja lelaki itu bergumam,
"...kasus kemarin, kematian ayah anak itu... aku..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hijikata kembali tertidur membuat Gintoki kebingungan.
"Kemarin ada kasus?" Gintoki membeku. Jadi ia sudah ketinggalan berita, atau memang kasus ini ditutupi?
Tidak, kalau memang kasus ini sudah dipublikasikan pasti banyak pelanggan sudah membicarakannya, begitu pun dengan Katsura.
Kemarin... Jangan-jangan orang yang tertembak kemarin malam...pikir Gintoki begitu mengingat adanya orang yang tertembak saat di perjalannya pulang kemarin.
Ayah anak itu...? Anak itu... Apa mungkin... anak perempuan yang ditemukan meninggal diperkosa?
Gintoki membalikkan badan dan melihat ke wajah Hijikata. Ia tertidur pulas, tapi bisa terlihat wajahnya sangat kelelahan. Pemandangan ini membuat Gintoki merasa kasihan dan ingin melindunginya.
Gintoki mendekat ke kasur dan menimpa tubuh yang lemah itu perlahan. Ia memeluknya dengan erat, mencium aroma tubuhnya dan rambutnya yang harum dan lembut. Ia bernafas lembut di telinga pria bersurai hitam sehingga membuat tubuh pria itu gemetar sedikit karena geli.
Oh.
Gintoki menjilati telinganya perlahan membuat tubuh pria itu bereaksi.
"Ahh!"
Mendapat reaksi itu, tangan Gintoki bergerak dari leher menuju ke dada Hijikata. Ia meremas gumpalan daging itu perlahan yang membuat Hijikata bereaksi lebih mantap.
Gemas dengan reaksi yang Hijikata berikan, Gintoki mengecup bibirnya perlahan kemudian mengulumnya. Hijikata pun membalas ciumannya dan kini mereka melakukan french kiss.
Sambil bercumbu, Gintoki menggosok adik kecilnya ke adik Hijikata yang mulai mengeras. Tangannya pun tidak berhenti meremas buah dada Hijikata yang cukup menonjol dan kencang akibat sering latihan. Terkadang ia memainkan puting yang sudah mengeras itu dan melintingnya.
Kini suhu tubuh keduanya sudah tinggi, wajah Hijikata memerah, air liurnya mengalir dari ujung bibir akibat pergulatan sengit lidahnya dengan Gintoki.
Gintoki dengan sigap membuka celana Hijikata dan mengulum si adik.
"Kau?! Apa yang kamu lakukan?!" Hijikata yang sudah memperoleh kembali kesadarannya akibat ulah Gintoki pun dengan refleksnya meremas rambut perak itu.
Tidak mempedulikan reaksi dari si rambut hitam, Gintoki tetap melanjutkan aksinya.
"Hei... G-gintoki...cukup...aku bisa...Ngghh ahh!"
Mendengar namanya disebut, Gintoki semakin semangat mengulum. Tangannya memeras si adik dengan keras sehingga membuat Hijikata terus merintih dan menangis.
"Ngg! Ahh! Gintoki...!"
Hijikata hendak keluar namun Gintoki menahannya dengan menekan ujung kepala si adik dengan ibu jarinya. Tubuh Hijikata menggeliat dan tangannya meremas sprei dengan kencang.
Melihat reaksi itu, Gintoki cepat cepat meraih tube dan memasukannya ke lubang Hijikata dan mengeluarkan sedikit isinya ke dalam sana.
Entah sejak kapan si adik Gintoki sudah terbalut dengan pelindung dan siap menerobos ke dalam tubuh Hijikata.
Dan salam sekali dorong, Gintoki menyentuh titik terdalam Hijikata yang membuatnya semakin mendesah seksi.
"Ahhh! Terlalu dalam..."
"Sorry aku ga bisa nahan lagi," Gintoki langsung melangsungkan serangan bertubi-tubi pada Hijikata dan membuat pria yang di dekapnya itu tak henti-hentinya mendesah. Tangan Ginroki masih meremas adik Hijikata untuk menahannya agar tidak keluar duluan.
Saat ia merasa sudah di ujung tanduk, Gintoki melancarkan serangan terakhir yang lebih dalam dan kencang.
"Cum!"
Mereka berdua pun keluar bersamaan. Keduanya terengah, Gintoki menintih tubuh Hijikata dan memeluknya dengan erat. Hijikata masih bergetar hebat di sekujur tubuhnya, matanya tertutup, nafasnya tersengal, detak jantungnya menggebu, dan bibir mungil itu terbuka dan tertutup.
Melihat pemandangan itu Gintoki pun tersenyum.
"Hijikata..."
"Hmmm?"
Cup! Gintoki mengecup bibirnya dengan lembut. Hijikata membelalakkan matanya, merasakan hawa hangat mengalir dari bibir Gintoki. Perlahan ia pun menutup matanya.
Gintoki menggendong Hijikata memasuki sebuah taksi yang dipesankan oleh Katsura. Ia berpesan kepada si bapak taksi untuk mangantarkan Hijikata ke alamat yang tertera pada ID Card Hijikata. Lalu, taksi itu pun menjauh dari pandangan Gintoki.
Saat kembali memasuki bar, Katsura yang sedang berberes di belakang bar tersenyum ke padanya.
"Bagaimana?"
Gintoki pun tertawa kecil. Ia duduk di kursi bar di hadapan Katsura. Si bebek berdiri di sebelah Katsura sambil membantunya mengelap gelas. Sementara Ikumatsu yang sudah selesai merapikan meja duduk di sebelahnya, ikut kepo.
"Aku rasa aku menyukainya."
"Aku tau itu, Gin-san," celetuk Ikumatsu.
"Tapi, seharusnya aku tidak melakukannya sampai sejauh itu. Tidak seharusnya aku berurusan dengan polisi."
"Kenapa? Selama kamu menyukainya itu sudah cukup kan? Hijikata-san juga kelihatannya merasakan hal yang sama,"
"Itu karena ia sedang mabuk," mendengar itu Katsura menangkap raut sedih di wajah Gintoki.
"Apa kau berbuat kriminal sampai tidak mau berhubungan dengan polisi? Duitnya banyak lho," goda Katsura.
"Males aja, sibuk tau polisi itu,"
"Ah iya sih..."
"Ngomong-ngomong, kemarin ada kasus apa?" Gintoki mendadak teringat gumaman Hijikata tadi.
"Huh? Ngga ada. Berita masih itu-itu aja sih. Si direktur korup PT ENCORE yang ketangkep, terus perkembangan kasus anak perempuan yang dibunuh, apalagi ya? Itu saja."
Jadi, kasus penembakan pria tua kemarin tidak disebarkan ke media ya... pikir Gintoki.
"Kalau Direktur yang ditemukan meninggal di kamar hotel kan kasusnya ditutup dengan kesimpulan karena serangan jantung," lanjut Katsura.
Gintoki kembali teringat wajah pria tua yang nyawanya ia rengggut itu. Ia cepat-cepat menghapus pikiran itu dan menggantinya dengan wajah seksi Hijikata saat terangsang.
Wajahnya kembali memerah.
"Oi-oi, kau sempat-sempatnya membayangkan hal mesum ya?" Katsura menampol kepala Gintoki dengan lap.
"Shit!"
"Pulang sono mau tutup nih,"
"Iya-iya... Btw thanks ya. Kalian malaikat banget."
Gintoki langsung menaruh beberapa lembar uang di meja bar untuk membayar minuman.
"Loh kok segini doang? Service roomnya?"
"Cih dasar pelit"
"Ah lu ga ikhlas bilang makasihnya"
"Oke, neeh!" Gintoki menambahkan beberapa lembar lagi uang kemudian berjalan menuju pintu bar.
"Hati-hati pulangnya," sahut Ikumatsu.
"Jangan lupa kabarin Hijikata-san ya," celetuk Katsura yang membuat Gintoki kesal dan langsung buru-buru beranjak meninggalkan bar.
TBC…
Author's Note :
Hai minna!
Makasi buat yang udah ngasih tau kalo ch 3 ini ada masalah sama penulisannya haha, serius pas aku upload aku liat di app mobile FFN fine fine aja. Tapi begitu liat di web ternyata jadinya bold semua ya hmmm. Pokoknya makasih deh buat yang udah ngasih masukan.
Dengan diperbaikinya part ini aku harap kalian lebih enjoy bacanya ya. Oh iya tentu aja ada ch selanjutnya yang aku upload! Dicek yaaa, monggo
Salam,
Lil.
