17.00 KST

Ong Seongwoo, asisten baru Kepala Divisi Choi dalam urusan perencanaan. Ia masih baru, namun pengalamannya dalam duni pertambangan tidaklah sedikit. Meskipun bukan sebagai orang lapangan – ia mengkhususkan diri sebagai quality checker sehingga kerjaannya sebagian besar di laboratorium. Sisanya di pantry atau ruang rapat – ia tetap paham dengan sleuk beluk perencanaan pertambangan dan penambangan. Sedikitnya 2 perusahaan telah ia jambani sebelum menjadi asisten kepala divisi.

Badannya tak besar, namun tinggi. Wajahnya kecil, sangat tampan. Bibir tipisnya selalu melontarkan jokes-jokes renyah yang tak pernah gagal membuat siapapun yang mendengarnya terpingkal-pingkal. Ia sangat jago membuat guyonan dari hal-hal sederhana sehingga setiap ia mau pindah site ataupun pindah perusahaan, ia akan selalu dibilang "kami pasti rindu guyonanmu" sebagai salam perpisahan.

Seongwoo merupakan pria sehat di usia 27 tahun. Ia tidak pernah memiliki kekasih yang berhubungan dengannya cukup lama. Paling lama adalah kekasihnya saat kuliah dulu. Mereka menjalin kasih selama 20 bulan. Cukup lama kan? Namun harus kandas karena Seongwoo lulus dan ia kerja di pinggiran Korea. Sangat jauh dari Universitas K, tempat ia dan mantan kekasihnya kuliah. Sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.

Seperti yang tadi sudah diberitahu, badan Seongwoo tidak besar. Berisi juga tidak. Ia memiliki badan ideal yang setiap pria muda mendambakan proporsinya. Namun sebagai pria yang sudah cukup berumur, tampang dan bentuk tubuhnya sangat tidak menunjukkan fisik manusia 27 tahun. Mungkin memang karena gen turunan dari keluarganya.

Saat ini sudah pukul 17.00 dan Seongwoo sudah duduk manis di meja kantornya. Waktu ini adalah waktu dimana karyawan mulai memberesi barang-barangnya dan bersiap-siap kembali ke rumah masing-masing. Berbeda dengan orang kontraktor seperti Daniel, Seongwoo punya rumah dan setiap sore akan memulai perjalanan sejauh 3 jam menuju rumahnya. Memang jauh, tapi Seongwoo memilih seperti itu. Ia sudah membeli rumah di kota terdekat, dan ia tak berencana untuk meninggalkan kosong rumahnya selama berminggu-minggu. Ia masih single dantidak ada orang yang bisa ia percaya untuk menggantikan tinggal di rumahnya.

Daniel tadi mengabari kalau ia akan mengunjunginya –setelah Seongwoo mengabari bahwa ia masih ada rapat, tampaknya Daniel tetap berniat mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan sang asisten. Sehingga ia memberesi meja-mejanya dengan penuh suka cita. Anak itu, Daniel, sangat menggemaskan untuknya. Menyenangkan diajak bicara.

Seongwoo mendengungkan lagu-lagu kesukaannya selagi memberesi file-file yang tadi digunakannya saat rapat.

"Senang sekali hyung?" Park Jihoon, orang admin di kantor Seongwoo menangkap gelagat beda dari hyung yang baru ia kenal 3 hari itu.

"Ah, hahaha. Moodku lagi bagus saja."

"Hmm, bukan karena si sipit berbadan besar itu?" Jihoon menebak.

"Apaan sih. Sipit badan besar apa?" Sengwoo mengelak namun..

"Ahahaha, telingamu memerah hyung!" Jihoon tertawa sambil menyentil telinga mungil Seongwoo lalu kabur dengan bahagia.

"Ya! Park Jihoon!" kesal Seongwoo namun masih dengan senyum kecil terpatri di ujung bibir tipisnya.

Seongwoo tak tahu apakah ini cinta. Atau sekedar sayang. Atau hanya perasaan membuncah yang sesaat.

Yang jelas ia merasa senang setiap bersama Daniel. Itu saja.

"Seongwoo goon, kau belum pulang?" security memasuki ruang kantor dan menemukan Seongwoo masih berleha-leha di kursinya. Kakinya diangkat ke kursi yang seharusnya milik meja sebelahnya, dan ia sedang bermain hp.

"Bentar lagi, Pak Jung. Aku menunggu temanku. Dia mau menjemputku," ujar Seongwoo.

"Oh baiklah. Akan kutunggu di luar ya."

"Siap, Pak."

Seongwoo kembali berkutat dengan hpnya.

Dalam hati ia membatin. Lama betul Daniel. Padahal jarak dari kantor kontraktor ke owner tidak jauh. Ini sudah hampir 20 menit.

Dengan hpnya ia memainkan game yang sedang gencar ia mainkan. Sebuah game puzzle. Ia bisa bermain sampai 10 level dalam sekali jalan, menunjukkan seberapa seringnya ia memainkannya. Selian gamenya, background song nya juga kesukaan Seongwoo sehingga ia selalu senang memainkan game tersebut.

Tiba-tiba, pandangannya gelap.

Seperti ada yang sengaja menutupi matanya.

"Dani?" Seongwoo bermain asal tebak saja. Ini tangan yang besar. Ia tak kenal siapa lagi yang memiliki tangan sebesar ini. Dengan satu tangan, hampir satu wajah Seongwoo ditutupinya. Ia tak tahu tangan Daniel seperti apa. Ia belum sampai pada tahap 'sentuh-sentuh' bagian tubuh –bahkan tangan— Daniel.

Orang yang dibelakangnya hanya diam. Seongwoo sedikit takut sebenarnya. Namun pikiran bahwa itu Daniel yang membuatnya lebih sedikit tenang.

Sedikit.

Lalu orang tersebut dengan lincahnya berganti menutup kedua mata Seongwoo dengan salah satu tangannya, dan tangan satunya sibuk mencari yang lain.

"Dani, kalau kau benar ini kau, guyonanmu sungguh tid-mmpphhh!" omelan Seongwoo terhenti begitu saja.

Seongwoo tak tahu apa yang membuatnya berhenti berbicara namun yang jelas ada sebuah benda kering yang memaksa mulutnya terus terbuka. Mulutnya disumpali sesuatu. Bila seongwoo membayangkan bentuknya, mungkin seperti kain karena benda itu mengitari pipinya hingga belakang kepalanya. Seongwoo jelas merasa ada yang tidak beres.

"Nnggg! Nnnggg! NNNGGG!" Seongwoo berusaha teriak. Namun nahas hanya dengungan ambigu yang terdengar.

"Diam."

Suara ini. Seongwoo kenal. Tapi tak tahu siapa.

"Nnngg.. Nggg.."

Seongwoo pasrah. Ia hanya menangis karena ketakutan.

Tangan orang itu menjauh dari wajah Seongwoo namun berganti dengan benda lain yang menutupi matanya. Kain lagi.

'Ya tuhan. Salah apa hamba? Hari ini sial sekali.'

Seongwoo berpikiran macam-macam.

Dengan kasar dan sekali hentak, orang itu mendorong badan kurus Seongwoo sampai terjatuh di lantai. Dan ditambah lagi Seongwoo belum ada asupan selain snack yang didapatnya saat rapat tadi – karena rencanya mau makan sama Daniel makanya dia menahan untuk tidak makan apa-apa lagi selain snack itu—membuat tenaganya jelas semakin tidak sebanding dengan pria yang mendorongnya itu.

"Seongwoo ssi," ornag itu berbisik di telinga Seongwoo.

Dapat ia rasakan jemari orang itu mengelus pipi tirus Seongwoo. Kedua tangan Seongwoo yang masih bebas mendorong badan besar yang ada di depannya namun tidak berhasil. Manusia itu jauh, jauh, sangat jauh lebih berbobot ketimbang dirinya.

/ oke adegan saya cut di sini. Mbayangin mama ong dibeginiin sama orang asing tu bikin sakit sendiri :''(

saya janji nanti ada nc khusus buat ongnyel u.u/


Dengan tongkat sapu yang ia bawa, Daniel mengayunkannya ke tubuh besar yang mengungkung Seongwoo.

BHUAK! DUAKK! BUK!

"Pergi kau! Menjauh dari Seongwoo!"

Daniel memukul punggung orang yang menindih badan Seongwoo sehingga ia mengerang kesakitan dan membalikkan tubuhnya.

"DASAR BREN*SEK! KAU APAKAN SEONGWOO KU HAH?"

Daniel hampir lepas kendali. Ia memukul-mukul pria itu dengan sapu namun tangann besarnya mampu mematahkan sapu yang memang tidak terlalu kuat itu. Tak habis akal, Daniel menggenggam udara dan memeregangkan sedikit jari tengahnya hingga tulangnya sedikit lebih menonjol, kemudian ia hunuskan kepalan itu ke tubuh sang pemerkosa.

Sang pelaku berusaha menghindar sambil membetulkan celananya yang sedikit terbuka. Ia menghindari Daniel, ia sadar kalau diladeni Daniel bisa tidak peduli ia mati atau hidup. Pria itu lalu lari terbirit-birit keluar ruangan dan menjauh dari lokasi kejadian.

"JANGAN LARI KAU BA*INGAN! BREN*SEK! KE SINI KAU!"

Suara Daniel yang sangat besar mengagetkan Seongwoo yang masih terbaring di lantai dengan sangat menyedihkan. Langsung Daniel mengangkat gagang telepon dan memencet nomor telepon keamanan site tersebut.

"Pak! Ini dari kantor owner! Hentikan orang yang barusan keluar dari kantor owner sambil lari-lari. Disini Kang Daniel, orang dari divisi produksi kontraktor DHE!"

"Pak tapi kami..," barusaja mau membuat alasan, Daniel menaikkan lagi nadanya.

"DIA BARUSAJA MEMPERKOSA SEORANG KARYAWAN DI KANTOR OWNER! HENTIKAN SEKARANG ATAU KULAPORKAN SECURITY KALIAN LENGAH DALAM BERTUGAS!"

Dalam sekejap, Daniel beberapa kali menaikkan nadanya, membuat Seongwoo yang masih ketakutan semakin bergetar. Badannya kedinginan dan merinding hebat akibat trauma.

Daniel ingin menangis karena marah dan juga sedih. Pujaan hatinya sedang dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Daniel membuka bajunya dan menutup bagian bawah tubuh Seongwoo yang telah tanggal dan penuh dengan bekas basah entah apa itu. Daniel tak mau tahu. Ia hanya ingin Seongwoonya tidak apa-apa –meskipun ia sangsi mengingat pria itu menggigil hebat di pelukannya.

"Hyung..," suara berat Daniel menggetarkan gendang telinga Seongwoo.

Seongwoo masih menangis. Ikatan tangannya sudah dilepas dan Daniel bisa merasakan dinginnya tangan Seongwoo akibat diikat dan juga karena ketakutan.

Setelah melepaskan ikatan tangan dan kaki, Daniel melepas kain yang menyumpal mulut Seongwoo. Daniel bisa melihat gigi mungil dan bibir tipis Seongwoo yang sellau tertawa didepannya. Namun sekarang bibir itu merintihkan tangisan yang menyedihkan.

"Nnngaah.." Mulut Seongwoo sudah bebas dari kain.

"D-Dan.. Da-Dani..," Seongwoo terbata memanggil pria yang menyelamatkannya itu.

"Ne hyung. Aku disini, hyung," Daniel menahan air matanya. Ia mau membuka penutup mata Seongwoo. Tak baik untuk reputasinya sebagai penolong kok malah ikut menangis. Padahal hatinya sungguh tersayat.

Siapa yang tidak?

Rencana mau kencan malah jadi berantakan.

Daniel mulai membuka ikatan di belakang kepala Seongwoo. Pria yang lebih tua itu mengeratkan tangannya di punggung lebar Daniel. Masih menggigil namun tak secepat tadi. Daniel bisa merasakan degup jantungnya dan Seongwoo sangat cepat. Mereka saling berbagi kehangatan.

Ikatan kedi kepalanya sudah terlepas. Perlahan-lahan kain penutup matanya mulai tanggal dan jatuh.

"Hyung," Daniel memanggil lembut orang di pelukannya. Menunjukkan seberapa besar perhatian dan cintanya.

Kain penutup mata sudah jatuh dan kedua mata Seongwoo mulai menyesuaikan kkondisi sekitar. Ruangan itu memang sejak awal remang-remang karena Daniel tidak menyalakan lampunya. Penerangan hanya berasal dari lampu luar gedung dan cahaya bulan.

Perlahan-lahan wajah yang familiar baginya terpampang jelas di matanya. Badan Seongwoo bergetar semakin hebat. Daniel yang masih memegang pundak Seongwoo merasakan gigilan tubuh Seongwoo mulai menghebat.

"Ssshh, sshhh, Tenang hyung. Aku disini," Daniel memeluk Seongwoo namun yang dipeluk masih menggigil hebat. Bahkan ketika Daniel menarik tubuh Seongwoo, pria itu seakan-akan menahan tubuhnya. Pasti karena Seongwoo lega telah melihatku, pikir Daniel.

Seongwoo yang ditarik paksa ke pelukan Daniel, mulai meluluhkan hatinya dan memeluk erat pria yang bertelanjang dada itu. Wangi tubuh Daniel entah mengapa sangat menyejukkan hati Seongwoo. Sangat berbeda dengan pria yang tadi menariknya dengan paksa.

Setelah cukup lama Seongwoo di pelukan Daniel, pria yang lebih muda itu melonggarkan jarak diantara mereka. Seongwoo masih sesenggukan dan meskipun matanya memejam namun air mata masih turun. Daniel menenangkan hyungnya itu lagi.

"Ssshh, sshh.. Sudah hyung. Kau nanti kelelahan," Daniel emngucapkan itu sambil mengapus beberapa bulir air mata yang sudah terjatuh.

Daniel dengan sigapnya menggendong Seongwoo dengan kedua tangannya. Tangan kiri menyangga kaki, dan tangan kanan menyangga punggung Seongwoo. Baju kemeja barunya ia ikatkan ke pinggang Seongwoo yang sudah tak berkain sehelai benangpun.

"Ke mobilku yuk hyung? Kita rawat lukamu dulu," Daniel menawarkan bantuannya.

Seongwoo yang mengalungkan tangannya di leher Daniel dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Daniel mengangguk saja.

Tubuh Daniel memang lebih membentuk dibanding Seongwoo. Bahkan Daniel heran. Meskipun tinggi mereka lumayan jauh, tapi berat adiknya, si Jieun dan Seongwoo tidak jauh berbeda. Berarti Seongwoo kurus sekali kan?

"Kita ke hotel. Aku tak bisa membersihkanmu di mess. Akan banyak keributan bila kubersihkan di mess," ujar Daniel.

Seongwoo mencakar-cakar leher Daniel.

"Aarggh, aarrghh! Hyung! Kenapa aku dicakar?" Daniel menumpahkan kekesalannya namun tetap menggendong dengan hati-hati.

Seongwoo masih di leher Daniel dan berkata…

"Kita ke rumahku saja."

=TBC=

*Kotak Curhat Author (KCA)*

SIAPA YANG BELOM NONTON WANNAONE GO? HAHAHA, WAJIB NONTON YA KALIAN. SOALNYA KAPAL KITA YANG PALING SAKTI INI BERLAYAR DI JALAN TOL /EH

Sori capslock jebol.

tapi serius mereka mah bikin aing yang lagi ldran jadi baper :"

satu sisi bahagia, satu sisi baper. nah ongniel nyebelin :"