ROTI PANGGANG

Genre : Humor, Family

Cast : BTS and Sweet Yoonji (Perubahan marga untuk mendukung cerita)

Disclaimer : This story is mine

Rate : Aman

Warning : OOC, Typo(s), dan sebagainya.

.

.

.

.

.

"Yoonji-ya, berhenti belajar dulu. Kita makan malam."

"Sebentar oppa. Aku selesai sedikit lagi."

Hoseok membuka pintu kamar Yoonji lebih lebar dan berjalan mendekati meja belajar Yoonji. Sekarang yeoja itu sedang berkutat serius dengan buku dan pulpen dihadapannya. Terlihat dahinya yang berkerut samar. Sebenarnya ia tak bisa berkonsentrasi penuh sedari tadi. Bayangan hantu dari film horror yang ia tonton bersama teman-temannya tadi masih terbayang. Bahkan sesekali Yoonji menolehkan kepalanya kebelakang. Merasa sesuatu seperti dibelakangnya.

"Sedang apa?"

"Tugas science."

Hoseok duduk di tempat tidur Yoonji dan mulai merebahkan badannya. Matanya menutup perlahan.

Yoonji melihat Hoseok dari ujung matanya. "Kenapa oppa?"

"Aku belum tidur 3 hari."

"Biasanya kan kau kuat, oppa."

"Besok aku harus ke Jepang."

"Berapa hari?"

"Mungkin 1 minggu."

Yoonji menutup buku pelajarannya dan ia rapikan. Menata rapi di rak."Oppa, belikan boneka kumamon. Okay?"

"Hahaha tenang saja Yoonji-ya. Kau sudah selesai? Bisa kita ke ruang makan sekarang?"

Yoonji mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan yang terhubung dengan dapur.

"YOONGI OPPA!" Pekiknya.

Yoongi yang saat itu tengah meminum air mineralnya sedikit terlonjak kaget mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ia kini membalikkan badan dan merentangkan tangannya untuk memeluk Yoonji.

"Oppa, bogoshippo." Serunya manja.

"Nado." Sahut Yoongi sambil mengelus punggung Yoonji.

"Setiap hari dia menanyakanmu hyung."

"Hahaha, jinjja?"

Yoonji melepas pelukannya dan menatap tajam Namjoon yang tengah menata piring di meja makan. "Oppa! Tidak setiap hari kok!"

"Hahaha, kau malu ya Yoonji-ya." Goda Seokjin. Ia kini tengah meletakkan sup ayam pedas di meja makan.

"Iya hyung, Yoonji selalu tanya. Yoongi oppa kapan pulang? Hahahahaha" Goda Hoseok.

"Hosiki oppa! Aku tidak seperti itu!"

"Hahaha. Okay aku percaya."

"Ada apa oppa tiba-tiba pulang?"

"Apa aku sudah tidak diterima lagi di rumah ini?"

"Anni. Bukan begitu. Biasanya kan oppa selalu tidur di studio yang gelap itu."

"Itu tempat kerja Yoonji-ya."

"Tempat kerja yang gelap."

"Aish sudahlah. Yoonji-ya, sekarang panggil Jimin, Taehyung, dan Jungkook untuk makan malam."

Yoonji mengangguk mantap mendengar titah oppa tertuanya.

Ia berjalan kearah kamar Jungkook yang berada di lantai bawah. Yoonji mengetuk pintu itu, mengingat dua minggu yang lalu dia sempat kena marah oleh Jungkook gara-gara masuk kamar tanpa mengetuk pintu.

Lebih dari lima kali Yoonji mengetuk pintu tapi tak ada sahutan dari dalam. Sekarang satu-satunya tempat keberadaan Jungkook pasti diatas. Kamar Jimin.

"Taetae oppa dulu saja."

Kini Yoonji berjalan keluar dan beralih ke kamar Taehyung.

"Oppa?"

Yoonji menyembulkan kepalanya di pintu kamar Taehyung. Ia terlihat tengah memakai kacamata tebalnya dengan laptop yang menyala dihadapannya.

"Ye, Yoonji-ya."

"Makan?"

"Pergilah duluan. Aku akan menyusul."

"Okay."

Yoonji kembali berjalan menaiki tangga yang menghubungkannya ke lantai dua. Kamar Jimin ada di sayap kanan. Ia berjalan malas dan segera mendobrak pintu itu. Tenang saja. Jimin tak akan bisa marah dengan Yoonji.

Benar kan?

Jungkook dan Jimin tengah fokus dengan layar persegi panjang di depan mereka. Jari mereka berdua sibuk memencet tombol dengan sangat berisik. Tak jarang mereka mengumpat kasar. Mereka berdua memang punya hobi yang sama di bidang game. Yoonji berjalan mengendap menuju stop kontak dan mencabut salah satu nyawa disana.

'Blam'

Seketika layar itu berubah gelap.

"Waktunya makan, oppa." Yoonji berkata pelan.

"Argh!"

"Yoonji-ya, sedikit lagi aku menang. Ini pertama kalinya aku akan mengalahkan Jungkook."

"Apa ini berarti kalian menyuruhku agar membawa Yoongi oppa kesini? Menyeret kalian untuk makan?"

Mereka berdua menunduk lesu. "Ne."

Oh ayolah siapa yang mau diseret oleh hyung bergelar macan betina itu.

.

.

.

.

.

Mereka semua kini sudah berkumpul di meja makan dengan sajian lezat chef Seokjin. Dia masak banyak hari ini.

"Kenapa banyak sekali hyung?" Tanya Jungkook.

"Sengaja. Besok aku akan ke Jeju untuk shooting. Jadi sekarang aku masak banyak."

"Berapa hari, hyung?"

"Mungkin lima hari atau satu minggu."

"Aku juga harus ke Busan besok. Proyek perusahaan sudah berjalan. Aku harus melihatnya."

"Aku juga harus ke Jepang besok. Wah bisa kebetulan sekali."

Yoonji menunduk lesu. "Yoongi oppa, apa besok juga akan kembali ke studio? Tidak kan oppa?"

"Aku sebenarnya pulang untuk mengambil pakaian saja."

"Aish Yoongi hyung! Buatkan aku satu lagu dulu. Aku ada tugas membuat lagu dengan tema musim panas."

"Kau selalu melimpahkan tugas musikmu pada Yoongi."

"Jangan seperti itu. Belajarlah mandiri."

"Aish, Namjoon hyung, Seokjin hyung, kenapa tidak mendukungku?"

"Itu tugasmu Kookie, buat sendiri lagumu."

"Ah hyung, jebal. Aku biasanya mendapat nilai bagus karena lagumu."

"Sudah aku bilang kerjakan sendiri tugasmu Jungkookie. Kau sudah tahun terakhir di sekolah."

Jungkook mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ia mendapat nilai terbaik tanpa campur tangan hyung komposernya itu?

Taehyung angkat suara. "Kau pergi keluar saja. Cari inspirasi lagumu."

"Ne, Kookie. Kau bisa ikut denganku besok. Aku akan ke taman bermain. Pasti seru. Kau mau?" Tawar Jimin.

Jungkook mendesah kesal. Berbeda dengan Yoonji yang mendengarnya dengan mata berbinar.

"Oppa, boleh aku ikut?"

"Tidak bisa Yoonji-ya. Semuanya anak laki-laki." Kini Jimin sedikit mencondongkan badannya. "Dan kami sudah dewasa."

Yoonji mengerucutkan bibirnya sebal. "Jadi aku hanya dengan Taetae oppa besok dirumah?"

Taehyung menggeleng. "Aku akan ke toko buku. Mungkin sampai sore."

"Argh! Kalian jahat."

"Yoonji-ya. Kau kan sudah besar." Kata Seokjin. "Tak apa sesekali dirumah sendiri."

"Tapi kan besok hari libur. Dan aku sendirian!"

"Ajak saja teman-temanmu kesini."Sahut Hoseok.

"Yup. Kau boleh mengajak teman-temanmu kesini. Asal jangan pergi keluar sendirian. Oppa tidak mau kau kenapa-napa."

"Tenang saja Yoonji-ya, besok akan kubelikan gulali yang besar. Dan permen kapas. Ah kalau ada boneka kumamon akan kubelikan yang besar untukmu juga untuk Yoongi hyung. Aku tidak akan lupa."

"Janji?"

Jimin mengangguk. "Janji."

"Okay sekarang kita bisa makan." Seokjin kini bersiap untuk berdoa.

"Tunggu." Potong Namjoon. "Taehyung-ah."

"Ye, hyung."

"Lepaskan kacamatamu."

.

.

.

.

.

"Oppa, bagaimana ini? Aku tidak mau dirumah sendiri."

"Aku juga tak akan bisa membuat lagu bagus tanpa sentuhan ajaib Yoongi hyung."

"Sekarang bagaimana oppa?"

"Aku juga bingung, Yoonji-ya. Pergi dengan Jimin hyung tak akan menyelesaikan masalah. Tapi ada baiknya juga. Andai saja Yoongi hyung tidak sibuk. Pasti dia akan membantuku.

"Andai mereka tidak sibuk."

"Ah sudahlah, aku mau makan cemilan didapur. Kau mau?"

"Aku sudah kenyang oppa."

"Yasudah aku ke dapur dulu. Tadi aku lihat ada roti tawar diatas kulkas. Sandwich sepertinya enak."

Yoonji menepuk jidatnya. "Astaga oppa. Jangan makan itu. Rotinya sudah kadaluarsa oppa. Makanya aku letakkan di luar lemari. Aku lupa membuangnya"

"Aish Yoonji. Untung kau bilang."

Yoonji tertawa. "Iya oppa. Kalau mau buat sandwich ambil saja roti yang masih baru di lemari dapur. Yang disana masih baru. Hahaha."

"Siapa juga yang mau makan makanan kadaluarsa. Hahaha."

Sesaat kemudian tawa mereka berdua terhenti.

.

.

.

.

.

"KKYAAA!!! OPPA!! Astaga."

Yoonji baru saja menutup pintu kulkas ketika melihat Seokjin dengan muka penuh masker berwarna hijau di sampingnya.

"Hahaha, mian. Belakangan ini jerawat mulai muncul diwajahku. Ini masker herbal dari manager. Kau ini kenapa? Apa masker ini menutupi ketampananku?"

"A-a tidak. Aku hanya berpikir hantu yang kulihat tadi di film bisa jadi nyata." Jawabnya sambil tersenyum lebar.

"Dia ke bioskop dan tidak mengajakku, hyung." Jawab Jungkook sambil menyiapkan sebuah piring.

"Oppa! Aku pergi dengan teman-temanku. Kau bisa jadi satu-satunya namja kalau ikut."

"Hahaha sudahlah. Sedang apa kalian?"

"Kami mau buat roti panggang. Special untuk hyungdeul. Dengan selai cokelat."

"Dan keju."

Seokjin mengambil alih pintu kulkas dan mengambil jus jeruknya. "Tumben sekali kalian mau pergi ke dapur. Kalian tidak sedang ingin sesuatu kan?"

"Tidak."

"Yasudah. Aku mau nonton tv. Serial drama yang kubintangi sudah mulai."

"Okay."

.

.

.

.

.

Yoonji menarik selimutnya sebatas hidung. Hampir menginjak tengah malam dan dia masih kesulitan untuk tidur. Matanya masih terbuka lebar menatap sekeliling dengan waswas. Bahkan suara ranting dan daun yang bergesekan pun terdengar sangat mencekam di telinganya. Padahal lampu kamarnya masih menyala.

"Astaga. Aku tak akan mau pergi menonton film horror lagi." Gumamnya.

Setelah bergelung dengan pikirannya, akhirnya Yoonji memilih untuk menumpang tidur di kamar salah satu oppanya. Dengan langkah sedikit terburu ia membuka knop pintu kamar.

Gelap.

Rencana awal dia ingin pergi ke kamar Namjoon atau Seokjin. Karena dua oppa yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Yoonji juga sama takutnya dengan hantu. Tapi rencana itu hanya menjadi rencana karena kamar Seokjin dan Namjoon berada di sayap kiri dan berakhir sekarang ia telah memasuki kamar Hoseok yang berada tepat di samping kanan kamarnya.

"Oppa." Serunya sambil memanjat naik ke tempat tidur Hoseok.

Hoseok yang merasa tidurnya terganggu kini membuka mata dan melihat Yoonji tengah berusaha menarik selimutnya untuk berbagi.

"Boleh aku tidur disini?"

Hoseok tersenyum dan menarik Yoonji untuk mendekat. "Kau kenapa?"

Yoonji diam. Dia tak mungkin berkata jujur. Hoseok bisa lebih ketakutan parah jika tau Yoonji kesini karena takut hantu. Karena percayalah, Hoseok ribuan kali lebih takut hantu dari Yoonji.

"Aku hanya ingin tidur dengan oppa."

Yoonji memeluk erat tubuh oppanya dan mulai memejamkan mata. Ia sangat mengantuk sekarang. Apalagi Hoseok yang mengusap-usap kepalanya.

"Tidurlah."

.

.

.

.

.

Pagi harinya kediaman keluarga Kim mendadak heboh. Namjoon belum membuka pintu kamar mereka sedari tadi. Entah apa yang sedang dia lakukan. Seokjin sejak terbangun terus sibuk menghubungi sang manager untuk menunda jadwal hari ini. Begitu pula Hoseok yang sedari tadi tengah bernegosiasi dengan sang manager. Yoongi juga terlihat menggulung badannya di sofa dengan selimut tebal.

"Ya! Tae cepatlah sedikit! Perutku sakit."

Itu Jimin. Sejak tadi ia memukuli brutal pintu kamar mandi yang saat ini sedang digunakan Taehyung. Entah mengapa sejak bangun tidur tadi, ia merasa ada yang salah dengan perutnya.

"Sabarlah. Perutku juga sakit. Kenapa tidak pakai kamar mandimu saja?" Teriak Taehyung dari dalam toilet.

"Sudah kubilang sedang rusak."

Tak lama kemudian Taehyung keluar dari dalam kamar mandi dan membuat Jimin langsung menerobos masuk.

"Astaga apa kita salah makan hyung?" Tanya Taehyung pada Yoongi. Ia kini tengah duduk di sofa samping Yoongi.

Yang ditanya hanya menggumam pelan. Rencana hari ini Yoongi akan ke studio pagi-pagi sekali karena harus finishing beberapa lagu. Tapi semua rencananya gagal total ketika ia merasakan perutnya mulas luar biasa dan berakhir dia sudah masuk kedalam toilet lebih dari lima kali.

Seokjin dan Hoseok yang telah selesai berurusan dengan manager mereka kini ikut bergabung bersama Yoongi dan Taehyung di sofa. Muka mereka berempat terlihat sangat pucat.

"Kenapa kalian masih disini?"

Mereka serempak menoleh mendengar pertanyaan itu. Itu Namjoon yang sudah rapi dengan kemejanya.

"Kami diare."

"Aku juga." Namjoon melihat jam yang melingkar erat di pergelangan tangannya. 10:21. Sangat terlambat dari jadwal awalnya. "Tadi aku sempat sakit perut tapi sekarang tidak. Aku harus pergi. Ini sudah sangat terlambat dari jadwalku."

Mereka semua hanya mengangguk mengiyakan. Kecuali Yoongi tentu saja. Sepertinya kini ia telah berpetualang di dunia lain.

Namjoon baru saja menapaki tiga langkah kakinya saat merasakan perutnya melilit. Jimin yang saat itu baru saja membuka pintu kamar mandi langsung ditabraknya hingga terhuyung.

Pagi yang sulit.

.

.

.

.

.

Mereka semua kini tengah berkumpul di ruang tengah. Sekitar satu jam yang lalu, Seokjin menyuruh Jungkook untuk menghubungi salah seorang dokter dan memintanya untuk datang kerumah. Tak ada yang berniat untuk beranjak dari rumah sampai saat ini. Bahkan Namjoon pun ikut terkapar disana tak berdaya. Berakhir mereka terlentang lemah di sofa lengkap dengan Jungkook dan Yoonji yang entah mengapa lebih sedikit bicara hari ini.

"Kalian keracunan makanan." Kata dokter itu.

"Mwo? Bagaimana bisa?"

"Aku juga tidak tahu."

"Aku memasak dengan benar tadi malam." Bela Seokjin.

"Kalau memang seperti itu, bisa saja ada makanan yang tidak terbiasa di perut kalian."

"Ah mungkin juga."

"Baiklah, masih ada pasien yang menungguku. Aku harus segera kembali." Dokter itu menyerahkan resep obat di meja. "Ini resepnya. Kalian akan segera sembuh. Tapi kusarankan agar beristirahat hari ini."

Mereka semua mengangguk mengerti. Kini sang dokter tengah diantar oleh Jungkook hingga sampai di pintu utama.

Mereka masih mengeluh perut sakit ketika Jungkook sudah kembali dari ruang tamu.

"Yoongi hyung tidak ke studio?"Itu Jungkook.

Yang ditanya hanya menggumam.

"Yoongi hyung, kau sedang tidak sibuk kan?"

"Tidak."

"Buatkan lagu untukku." Serunya sambil tersenyum memohon.

"Iya nanti." Jawab Yoongi dengan mata setengah tertutup. Sungguh diare sangat mengganggu.

"Jin hyung, apa yang kau berikan di makanan kami tadi malam?" Rengek Jimin.

"Aku tak memasukan bahan aneh. Percayalah. Semua seperti biasanya."

"Aish hyung. Yang benar saja."

"Kenapa kalian menuduhku. Aku tak melakukan kesalahan apapun."

Mereka terus berdebat saat itu. Tak terlihat bahwa sekarang Yoonji dan Jungkook tengah saling menyikut satu sama lain.

.

.

.

.

.

Sore hari kediaman keluarga Kim diisi dengan acara menonton film bersama. Beauty and the Beast. Siapa lagi yang akan meminta untuk film itu diputar kalau bukan si kecil Yoonji. Diare yang melanda sudah berangsur membaik sekarang. Tak ada lagi keluhan tentang toilet maupun sakit perut.

"Gomawo hyung. You are the best." Itu Jungkook.

Jungkook dan Yoongi baru saja keluar dari studio mini milik Yoongi di rumah itu. Menyelesaikan sebuah lagu permintaan Jungkook untuk tugasnya.

"Lagumu sudah selesai Kookie? Cepat sekali." Tanya Jimin.

Jungkook mengangguk sambil tersenyum cerah.

"Itu laguku bukan lagunya Jungkook."

"Ya hyung! Aku juga membantu."

"Apa? Diam dan menghabiskan cookies milikku."

"Hehehe. Yoongi hyung keren!" Ucap Jungkook sambil mengangkat dua jempolnya.

"Sudah kuduga."

"Ah yang benar saja. Scheduleku berantakan hari ini."

"Aku juga dimarahi sama manager."

"Aku juga."

"Aku sudah mengirim asistenku untuk ke proyek. Dan belum ada kabar sampai sekarang."

"Ah diare ternyata menyusahkan."

Itu keluhan mereka. Beruntung tadi dokter Jung cepat datang dan memberi mereka obat penawar.

Kini Yoonji mendekat kearah Hoseok dan memeluk lengannya manja. "Aku senang sekarang. Ambil sisi positifnya. Oppadeul tidak jadi pergi dan dirumah sama Yoonji. Yoongi oppa juga mau bantu Kookie oppa membuat lagu. Aku sayang oppadeul."

Seokjin tersenyum dan mengusak rambut Yoonji gemas disampingnya. Sedangkan Hoseok memilih memeluk tubuh kecil adiknya itu erat.

"Kami juga sayang Yoonji."

"Aa hyung. Sekarang kan kalian sudah sembuh." Jungkook angkat suara. "Kami mau bilang sesuatu."

"Oppa tidak akan marah kan?" Tanya Yoonji.

"Soal apa?"

"Sesuatu penting. Tapi oppa semua harus berjanji tidak akan marah."

"Ada apa sebenarnya Yoonji-ya."

"Jin oppa selalu bilang kan kalau kita tidak boleh membuang makanan. Itu tidak baik."

Mereka serempak mengangguk.

"Hyungdeul janji jangan marah."

"Sebenarnya ada apa?"

"Janji dulu tidak marah."

Agak lama mereka terdiam lalu berakhir dengan Hoseok yang mengiyakan permintaan Yoonji.

"Sebenarnya roti panggang semalam itu..."

"Yang kalian makan."

"Roti basi."

"Kadaluarsa."

"MWO!!"

.

.

.

.

.

END untuk chap ini

By: Sin Chami

Terinspirasi dari pengalaman saya yang membuat roti panggang selai cokelat dengan bahan roti tawar yang basi dan saya bagikan ke semua kakak-kakak kos saya. Roti tawarnya udah kadaluarsa tapi masih banyak berlembar-lembar.. kan sayang kalau dibuang.. jadi buat nutupin (?) jamur yang ijo itu aku panggang saja rotinya tapi syukurnya kakak-kakak kos saya tak sakit perut seperti uri bangtan INI KISAH NYATA

Love and Comment

Terimakasih...