.

Day 12

Southeast Ocean

Iris hazel itu memfokuskan pandangannya pada teleskop bersepuh perunggu yang ia genggam. Bergumam sesaat, sebelum akhirnya mendesah kecil dan turun dari layar kapal tersebut. Sedikit berlari menghampiri Raka, yang masih dengan santainya bersiul-siul sembari mengemudikan kapal sesuai arah angin. Santai sekali, pikirnya berkata. Andaikan hidup memang setenang air laut seperti saat ini, mungkin akan jadi menyenangkan

"Bagaimana?"

"Negatif. Tak ada apa-apa." Lovino mendesah kesal. Dengan ini, genaplah sepuluh hari mereka terapung-apung di tengah laut. Lama-lama mual juga ia melihat laut dan laut terus, dan makan ikan laut yang rasanya juga tak karuan. "Ayolah, dasar angin sialan! Kalau seperti ini kita bisa terkejar oleh orang-orang di belakang sana!"

Bagaikan terayun pada sebuah ayunan bayi, kapal itu mengapung dengan tenang pada air laut yang damai. Ditemani langit yang kini mulai merubah warnanya menjadi merah membara, pertanda sore hari telah menjelang. Masih tak nampak sebuah batu, apalagi pulau. Aneh, sang Alter berkedok navigator ini berucap dalam benaknya, sementara menurut perhitungannya, pulau terdekat seharusnya sudah dapat ia lihat walau hanya ujungnya saja, karena perkiraan jaraknya tak lebih dari 10 mil.

Ia mendesah lelah. Sementara mendecak kesal karena melihat sang pembalap yang sepantasnya mengemudikan kapal layar yang bertenagakan sebuah motor kecil tersebut malah bersantai memancing. Memang, terima kasih kepada sang pembalap yang sudah menjadikan mereka pemenang sementara ketika melewati hutan di benua Clubs sana dan berhasil mendapatkan kapal terbaik pula. Sebuah kapal besar seperti kapal bajak laut, dilengkapi dengan motor kecil untuk menambah kecepatan yang 80% masih bergantung pada kekuatan angin menggunakan layar besar tersebut. Tetapi gayanya yang selalu bersantai dan berkesan tak pedulian itu membuatnya kesal juga.

"Hei, kau tak mau membantuku mencari arah?"

"Untuk apa dicari? Nanti juga kita terbawa ke sana sendiri..." dan ucapan itu terhenti ketika Raka merasakan pancingannya bereaksi cukup liar. Segera, ia meminta tolong kepada sang navigator untuk membantunya menarik hasil pancingannya, yang dimana, segera dijawab tidak tanpa basa-basi oleh Lovino sendiri. Untuk apa ia membantu si bodoh itu memancing? Ada-ada saja...

Sorak bahagia terdengar dari sisi sang pembalap-sambilan-memancing barusan. Bersorak bahagia karena berhasil mendapatkan tangkapan yang bagus. Seekor ikan yang agak mirip seperti belut, tapi juga mirip seperti memilik sisik reptilia... Tunggu―

―itu bukan ikan, ya?

Iya, bukan. Bukan ikan. Melainkan sejenis ular laut.

"IDIOT! CEPAT KEMBALIKAN ULAR ITU KE LAUT!"

Itu anak ular laut, dan sebentar lagi induknya akan segera melibas kapal ini―

―seperti yang sedang terjadi sekarang.

Seekor ular laut besar, bagaikan belut raksasa dengan sisik kasar seolah terbuat dari kumpulan bijih besi yang ringan. Gigi-giginya yang besar dan berkilat, beserta dengan mata yang memandang awas kepada mereka. Marah karena anaknya sudah diambil dengan paksa melalui pancingan milik Raka, membuat kemunculannya yang muncul ke permukaan laut membawa suatu ombak besar.

Lovino menatap ngeri pada kapal yang seketika terbelah dua karena serangan dari sang ular laut. Bingung, panik dan kalut. Ia tak tahu harus bagaimana lagi selain berteriak dan diikuti dengan lompatan dari dirinya, hendak meraih pemuda yang kini jatuh bebas hendak memasuki dalamnya air.

"RAKA!"


Thesis

Part One of Dialectic Trilogy and for Silan Haye's Universechall : Steampunk

Hetalia : Axis Powers © Hidekazu Himaruya

WARNING

Steampunk!AU/RomaIndo/Parental!ScotIndo/Slight ScotRoma/Male!Indonesia/Alur maju-mundur/Lots of Flashback/Kinda sappy


Bilamana waktu dapat diputar kembali, akankah kau izinkan aku kembali ke masa itu?


Bulan biru kembali bersinar untuk kesekian kalinya. Pada planet yang mempunyai dua buah bulan―merah dan biru, muncul silih berganti kecuali pada tanggal tertentu―maka itu menjadi pertanda laut sedang tenang dan berangin kencang. Waktu yang cocok untuk berlayar lebih lanjut. Apa daya, kondisi kapal yang baru saja rusak dan sialnya dihajar ular laut, membuat mereka terdampar di pulau tak bertuan yang ditumbuhi pepohonan Cavaria ini.

"Dasar ular laut bodoh! Sialan!"

Sumpah serapah akan ular laut yang sudah membuat mereka terdampar di pulau tropikal tak berpenghuni yang dilantunkan sang navigator hanya bisa membuat Raka yang sedang mengeringkan pakaiannya tertawa kecil. Navigator seperti ini seru juga, benaknya berucap. "Ya, ya. Masih syukur kita bisa selamat. Kalau dipergok siren, sudah 100 persen kita tak akan selamat. Kau tahu betapa kuat ilusi mereka." Raka terkekeh. "Tapi untunglah, kita tak tenggelam. Beruntung sekali kita hanya terbawa ombak dan sampai di satu pulau."

Siren memang bukan makhluk jinak. Cantik, tetapi terlalu membunuh. Sebelum sistem keamanan seperti saat ini ada, sosok-sosok siren seperti pembunuh dengan wajah Marilyn Monroe dan dapat memainkan pikiran kita berupa ilusi, tidakkah itu sudah terdengar cukup menakutkan? Karena hal itulah, tak banyak yang berani mengambil resiko melewati jalur Southeast Ocean, sarangnya makhluk-makhluk mitologi laut.

"Siren itu bukanlah yang harus kau takuti. Ilusi mereka tak sekuat itu. Mereka itu masih termasuk golongan lemah, dan kau cukup tusuk saja jantung mereka dengan tombak khusus. Nanti juga mati sendiri." Lovino mendecak kesal, menendang pasir dan kemudian berjalan tertatih-tatih, basah kuyup ke arah api unggun yang dinyalakan sang pembalap. "Lagipula lumayan. Jantung siren bisa dijual mahal." mudah baginya, seorang Alter terlatih seperti dirinya yang sudah biasa dihadapkan pada makhluk-makhluk aneh. Sekali waktu, James pernah menyuruh dirinya mengalahkan segerombolan centaurs di Hutan Ilusi buatan Alter berbakat satu itu.

Pikiran sesaat itu segera ia kesampingkan dengan melepas T-shirt hitam dan flight jacket yang sudah tergantung manis pada salah satu dahan pohon kelapa yang agak merunduk. Membiarkan dirinya bertelanjang dada sambil memeras bajunya yang basah. Bagus, dalam waktu-waktu dekat ini, ia pasti akan terkena bersin-bersin.

Alter satu itu tak sadar bahwa ia sedang diperhatikan secara seksama oleh sang pembalap. Bagaimana iris cokelat Belgia itu menatap terpesona pada lekuk tubuh yang mempesona, terbalut pada bentukan otot yang membentuk tubuh yang proposional. Lengkap dengan lekuk pada abdomen yang indah serta punggung yang tegas berhiaskan tato berukiran unik―

―membuatnya menampar pipinya sendiri.

"Kau kenapa, idiot?" Alter dengan iris hazel tersebut bertanya heran. Perlakuan pembalap satu itu memang selalu agak mengejutkan, tetapi yang satu ini, benar-benar sudah kelewat aneh. "Duduk tak akan menyelesaikan masalah. Jadi, ada apa?"

"Se-serius, tak apa-apa..." Raka menunduk pelan. Kentara sekali perilaku salah tingkahnya, yang ia berusaha tutupi dengan segera membangun―lebih ke arah memompa―tenda mereka. "Cari saja kayu bakar lebih banyak. Biar aku pompa dulu tendanya..."

Lovino yang menatap kebingungan, hanya berlalu pergi. Sementara Raka menarik nafas lega ketika mengetahui isi tendanya tak basah sama sekali. Berterima-kasih saja dirinya pada ransel 4 dimensi yang sama sekali tak terkena air di dalamnya, sehingga semua barang-barangnya tetap aman dari air… Well, itu memang hanya pengalih sementara, supaya otaknya yang sialan satu ini tidak berpikir yang aneh-aneh lagi.

"Ayolah Raka... Waraslah sedikit..."


Kurang dalam satu jam, Alter berkedok navigator tersebut sudah kembali dengan membawa setumpuk kayu bakar dan binatang buruan yang cukup untuk persediaan mereka selama dua kali makan. Darimana ia mendapatkan semuanya itu? Seringkali dalam hati Raka, ia merasa curiga akan sosok navigatornya yang demikian sempurna, seolah tanpa celah dalam tiap-tiap perbuatannya. Pikiran itu masih demikian berkecamuk bahkan ketika kayu bakar tersebut sudah ditumpuk untuk dibakar menjadi api unggun.

"Hei Lovi, aku boleh bertanya sesuatu yang sedikit... Pribadi?"

Rasa penasaran itu bertumbuh menjadi sebuah susunan pertanyaan mudah. Sekarang tinggal masalah navigator ketus ini mau merespon dirinya atau tidak saja. Dalam hatinya Raka berharap semoga malam ini, lelaki yang tujuh senti lebih tinggi darinya itu mau menjawabnya. "Tergantung pertanyaannya," gigitan pertama dilayangkan sang navigator pada porsi dagingnya yang sudah ia rasa cukup matang.

"Kau... Maksudku, aku penasaran darimana kau belajar semuanya ini? Bagiku kau terlalu sempurna untuk seorang yang terlampau muda dan kau pun juga tak pernah terdengar namanya. Apa kau salah satu anggota kerajaan?" ya, sebab satu-satunya golongan manusia sempurna dengan pelatihan sangat ekstrim untuk menjadikan mereka berbakat hanyalah para anggota kerajaan, yang mendapatkan fasilitas demikian.

Lovino terpaksa menahan tawanya. Navigator yang masih bertelanjang dada tersebut hanya dapat mengeluarkan sebuah ekspresi tertawa yang tertahan sebelum akhirnya meledak menjadi gelak tawa yang kencang. "Aku? Anggota kerajaan? Hmpft. Kau pasti idiot sekali, ya." kata-kata tersebut terangkai seperti menghina. Tapi ayolah, baru kali ini ia dipandang dengan figur yang berkuasa seperti anggota kerajaan. Bahkan di antara para Alters pun, ia hampir tak pernah dianggap. Selalu adiknya itu yang dielu-elukan. "Tidak, tidak. Aku bukan anggota kerajaan. Aku juga tidak seberuntung dirimu yang bisa berkenalan sampai bisa dipercaya keluarga inti kerajaan Clubs."

Eh?

Darimana lelaki ini tahu bahwa ia memang dekat dengan King of Clubs, Ivan Braginski? Ia memang bercerita tentang sepotong kisah hidupnya, tetapi perihal ia berkenalan―sampai bahkan dipercaya oleh King satu itu, ia tak pernah berkata-kata pada siapa pun. Lalu darimana lelaki ini bisa tahu? Ia terus melumat makanannya, sembari melanjutkan pertanyaannya. "Lalu darimana kau belajar semuanya? Waktumu untuk mendapatkan buruan sebanyak ini kurang dari satu jam saja sudah terbilang tak masuk akal."

Lovino kembali mendesah. Kali ini ia meneguk air dalam botol yang terbuat dari kaleng yang ia khususkan untuk air mineral saja. "Berburu secepat itu ada caranya sendiri. Dulu aku pernah belajar dari seorang yang sangat kukagumi. Seorang yang bahkan sampai waktu kematiannya saja tak sempat aku kalahkan dalam duel si―Maksudku pedang." cepat, ia mengganti kata-kata itu. Mana ada manusia yang mengerti sihir? Bahkan bagi kaumnya saja, sihir itu sulit dipelajari. Beruntung saja ia adalah Alter berhoki tinggi, yang dirundung nasib baik sepanjang hidupnya. "Triknya banyak sekali. Aku tak pernah sempat mempelajari barang setengahnya saja. Dulu aku dibawa ke pengasingan supaya aku dapat selamat dari seorang pembunuh berantai yang juga sempat mengincarku―yang sayangnya, sudah sempat membunuh kakekku ketika aku kembali." Tak sepenuhnya bohong, bahkan sebagian besarnya bisa dikata benar, dengan sedikit pengubahan dan penyesuaian.

"...maaf." mungkin prasangkanya terlalu berlebihan. Tetapi jika memang kasusnya demikian, mengapa Raka tak pernah mendengar tentang kejadian itu sebelumnya? Kasus penuh tragedi tersebut, apalagi kisah pembunuh berantai, tak mungkin tak terlewatkan olehnya, mengingat siapa sebenarnya dirinya... "A-aku tak tahu, soalnya akU sendiri juga tak ingat ketika waktu aku kecil dulu―ah, itu tak penting―Lalu, kemana pembunuh itu sekarang? Dan... Kenapa kami tak pernah mendapat kabar itu?" tetap saja ia penasaran. Lelaki dengan seuntai rambut melingkar di depannya ini bagaikan berselimut misteri.

"Aku tinggal pada satu tanah di luar lima benua Velschrede. Satu daerah terpencil dimana hanya kami yang bisa menjangkaunya. Tempatku lahir tak ada di peta, dan kemana pun kau pergi, kau tak akan bisa menjangkaunya." Lovino terus menjawabnya. Jika ia ingin membuat impresi yang tetap baik di mata sang pembalap, ia harus terlihat terbuka, kan? "Dan soal pembunuhnya, belum tertangkap. Tapi soal kasus kematian mendadak King of Hearts kemarin―King Ludwig, kurasa kau tahu―jelas-jelas itu merupakan bagian dari acara pembunuhan si Pencuri Identitas satu itu."

Tuh, kan. Segalanya terlalu sempurna.

Bagi Raka Pratama Mandala, tak ada hal yang lebih menakutkan ketimbang menjadi sosok yang demikian sempurna. Menyenangkan, dan sangat bermanfaat di banyak waktu, tetapi lain daripada itu, Raka selalu memiliki ketakutan tersendiri pada semua sosok yang nampak 'sempurna' baginya. Ia memang seorang yang tak pernah mengenyam pendidikan, tetapi pengalaman hidupnya sudah mengajarkan asam-manis dinamika hidup yang membentuknya menjadi seorang yang sangat idealis, selalu punya prinsip dan ketetapan harus optimis pada segala hal yang dilakukannya. Tetapi―

―semuanya itu sudah tak ada artinya lagi, ketika ia belajar bahwa orang kedua ini adalah seorang yang demikian sempurna.

Hanya saja, satu hal yang Raka―dan tak ada manusia yang tahu―bahwa sesungguhnya King Ludwig adalah seorang Alter dengan pangkat tinggi. Ditugaskan untuk membaur dengan manusia dan memimpin mereka langsung agar mereka dapat menghidupi negeri dengan makmur. Misi sang mantan―karena ia sudah meninggal―kekasih dari adiknya itu memang berbeda, dan karena ialah Alter yang paling dapat diajak kompromi dan penuh tanggung jawab, maka tentu saja lelaki kekar tersebut menerima pekerjaannya. Tapi sekali lagi, siapa yang sangka bahwa Ludwig akan ikut terbunuh?

"Y-ya, aku tahu." Ragu-ragu, bibirnya mencoba mencari kata yang nyaman untuk melanjutkan pembicaraan ini. "Darimana kau tahu tentang semuanya itu? Bahkan detektif kerajaan Kingdom of Hearts saja belum tahu ada apa dengan King Ludwig."

Lagi, lelaki itu terkekeh pelan, dilanjutkan dengan tatapan jenuhnya yang biasa. Mata hazel yang mencerminkan kesinisan tanpa ujung. Tentu saja, ia 'kan seorang Alter, mana mungkin ia bisa ketinggalan berita? "Aku punya caraku sendiri untuk mengamati dunia ini, dan kurasa, aku tak perlu memberitahukan caranya kepadamu." Lovino mulai berucap, dan kemudian segera memasuki kemahnya. "Malam ini giliranmu jaga duluan, bukan? Kalau begitu aku tidur dulu…"

Sebelum Raka sempat mencegat lelaki itu masuk ke dalam kemahnya lagi, ia sudah memasang wajah pasrah. Ya sudahlah, toh ia juga merasa pertanyaannya selanjutnya tak terlalu penting. Mengapa ia memusingkannya? Sekarang lebih baik ia berjaga malam, kalau tak ingin disambit oleh navigator ganas satu itu.

Tetapi kantuk memang hal yang sukar dilawan. Raka terlelap secepat angin laut yang membawa kapal ke pesisir pantai, terbuai dalam mimpi di bawah sinar bulan biru yang menghangatkan pada pasir putih yang hangat. Seolah dari kejauhan, dalam mimpinya, desiran pasir yang beradu dengan angin membentuk melodi pengantar tidurnya tanpa sadar bahwa sedari tadi, sang navigator yang ia takuti menatapnya dengan senyuman hangat dari balik kemahnya. Senyum yang bahkan tak pernah muncul untuk diberikan kepada siapa pun, dan tangan-tangan kekar tersebut mulai membelai rambut hitam kecokelatan milik Raka.

"Kau tak akan percaya siapa sebenarnya aku, dan aku pun tak akan memberitahukannya kepadamu. Tetapi percayalah," kecupan itu mendarat pada kening sang pemuda berkulit sawo matang satu itu, selagi tangan-tangan kekar tersebut membopong tubuh yang berselimutkan flight jacket miliknya yang telah kering ke dalam kemah mereka. "Aku bisa menunjukkan kepadamu semua rahasia di dunia ini, bukankah itu yang James mau untukmu juga, bukan?"


Day 16

Isle of Cavaria

"Hei! Apa yang kalian lakukan pada pohon Cavaria-ku?!"

Dua hari terjebak di pulau―yang awalnya mereka kira tak bertuan tersebut―membuat mereka tahu bahwa pulau itu ditinggali sekelompok makhluk-makhluk berwarna kuning cerah selutut dengan pakaian mekanik yang melayani seorang wanita penggila mesin bernama Sey. "Berani-beraninya memanjat dan seenaknya mengambil buah Cavaria-ku ini. Kau kira Cavaria mudah ditanam, apa?!" bentakan itu terus berlanjut, seiring dengan turunnya perlahan sang pembalap dari pohon setinggi 11 meter tersebut.

"Cavaria-ku? Memang kau kira pulau ini punyamu, hah, cewek gosong?!"

"Pemilik pulau ini dan seluruh isinya adalah aku! Hei, siapa yang kau maksud cewek gosong?!"

"Jelas kau lah, idiot! Kulit gelap begitu, kalau bukan gosong, lalu apa?! Dibakar gitu, ya?"

"Ini alami, kau yang bodoh! Gosong terpanggang, apanya?!"

...dan kenapa ketika Raka sudah sampai selamat di bawah, dua orang ini sudah mulai bertengkar?

"Hei, hei. Ada apa ini?" ia berusaha melerai dua orang yang masih bertengkar tak jelas tersebut. "Dan nona, maafkan perlakuan kami yang agak lancang. Kalau kami boleh tahu, siapa namamu, nona?" senyum yang ramah itu ia lantunkan, membuat gadis yang rambutnya dikuncir dua itu mendesah kecil. Sudah sedikit tenang sepertinya.

"Agak?! Ufft..." ia mendesah kesal. Raut mukanya begitu kentara tengah menahan kesal, sementara tangan kanannya mengacak-acak rambutnya sendiri. "Seselvya Chelles. Panggil saja aku Sey." gadis dengan vest putih lengkap dengan rok cokelat muda yang dihiasi lining berwarna cokelat tua itu memperkenalkan diri. Tak luput dari ujung mata Raka, bahwa gadis muda itu menyematkan pin yang berukiran burung magpie, simbol kerajaan milik Clubs. "Kau sendiri siapa, heh?!"

Raka melancarkan senyum manisnya kembali. Menghadapi wanita dengan senyum memang paling efektif, sekali pun wajahnya masih kalah pamor dari sang navigator."Nama saya Raka Pratama Mandala. Sekali lagi, maafkan akan kelancangan kami, Nona Sey. Sejujurnya, kami sudah dua hari terdampar disini karena diserang ular laut." tuturnya, "Kami kira tempat ini pulau tak bertuan. Bagaimana―"

"―siapa namamu tadi?"

Keras, wanita itu memotong tenunan kata-kata indah milik Raka. Kalau saja wajah terkejut itu tak muncul pada raut muka Sey, mungkin Raka tak akan terima dipotong sekasar itu. "Uh... Raka? Saya Raka Pratama Mandala."

"Ah? Aku tak mendengar kau akan mengikuti World Grand Prix?" wajah gadis itu kentara sekali kebingungan. Dengan pandangan awas ia melirik dari rambut hingga ujung sol sepatu Raka, kemudian berlanjut kepada Lovino yang masih mendecak kesal, apalagi karena dilihat-lihat tak jelas oleh gadis eksentrik satu itu. "King bilang kau pasti akan mampir, jadi aku disuruh bersiap―"

"―dan seandainya kau punya makanan, aku akan sangat berterima kasih~" Raka memotong cepat, dengan segera meraih lengan Sey. Tentu, Lovino tak melewatkan kedipan mata yang hampir saja tak ia sadari; hal itu semakin menambah kecurigaan sang Alter dan kekesalannya. Curiga, karena jelas sekali si pembalap itu menyembunyikan satu atau banyak hal, dan kesal karena berani-beraninya anak itu menyembunyikan sesuatu darinya!

Apa yang semakin menambah kecurigaan Lovino adalah perilaku wanita itu; sedari tadi sang wanita berkulit gelap itu akan 'marah' dan menunjukkan perilaku kesal akan segala respon verbal yang ia berikan. Sedangkan ini? Jangankan marah, walau memang tak terlihat jelas, tetapi masih bisa ia lihat kalau wanita itu kini berlaku "tunduk" kepada Raka. Tidakkah itu terlihat begitu aneh? Pertanyaan itu sendiri tak pernah terjawab, bahkan ketika mereka tiba pada sebuah pondok di pedalaman pulau.

"Kau," dengan wajah garang, ia menunjuk kepada Lovino, "tunggu disini. Jangan berani kemana-mana." diikuti dengan sebuah bungkusan dilemparkan kepadanya. Samar-samar tercium bau moka khas buah Cavaria. Sang Alter hanya menerimanya dengan jutek. Bagaimana tidak? Sudah dilempari benda seperti ini dan sekarang ia disuruh diam? Dikiranya ia ini anjing apa? Tetapi wewangian dari sekotak berisi dua porsi chicken panini terbaik dan satu pak air serta teh manis tentu menggiurkan setelah tiga hari dua malam hanya memakan tupai bakar-yang-Tuhan-tahu-bagaimana-menyedihkannya. Setidaknya satu makanan yang terlihat rapi dan memang pantas makan sudah cukup untuknya.

Lovino menyobek sedikit dari panini tersebut. Menggigit perlahan roti isi tersebut tanpa menyadari bahwa sepasang iris cokelat Belgia menatap awas dari salah satu lubang di pintu kayu tersebut.

Ya, Lovino Vargas harus menjadi orang terakhir yang tahu kalau ialah Ace of Clubs.


"Maafkan perlakuan saya! A-anda tahu keluarga King of Clubs, tak pernah memberitahukan siapa Ace-nya..."

"Hahahaha serius tak apa-apa. Mengapa harus gugup seperti itu, sih?" tawa lepas itu kembali terdengar, bersamaan dengan senyum yang anehnya berkesan sangat meyakinkan. "Atau jangan-jangan, kau ingin menangkapku, Sey?" kedipan sugestif itu kembali muncul dan Sey tak dapat menahan diri untuk tidak merasa merinding. Sungguhkah ini mantan navigator terhebat 15 tahun yang lalu? Ia sendiri benar-benar tak percaya King Ivan memilih seorang yang bahkan nyaris tak pernah berada dan berjaga di sampingnya.

"Euh, tidak seperti itu. Saya berada di sini karena memang saya ada kepentingan dan kebetulan dititipi pesan oleh King." ucapnya, setelahnya mengeluarkan secarik perkamen yang sudah agak lusuh terkena air laut. "Katanya : Tujuan selanjutnya adalah Spades. Pergilah ke Port 512-A dengan kapal yang sudah disediakan. Nanti anda akan bertemu dengan si detektif jabrik itu."

"Tugas lagi, kurasa?" ia menggaruk kepalanya lagi. Sudah berapa lama, ya, ia tak bertemu dengan detektif kepala tulip itu? Mendengar kepala tulip itu disebut-sebut saja, ia harus menahan tampang mualnya, teringat akan masa-masa kurang mengenakkan di masa dulu. "Tapi aku sedang berlomba, loh. Apa tak bisa ditunggu saja?"

"Sepertinya King percaya kalau kau bisa menyelesaikan pertandingan ini secepat mungkin." Sey mendesah kecil, serius, mengapa King-nya itu begitu percaya pada anak urakan satu ini? Ia sungguh tak habis pikir, walau ia berusaha mencari akal logis untuk menjawab misteri tentang anak ini. "Karena itu, ya... Anda tahu bagaimana King Ivan. Jelas tidak bisa menunggu." lalu menyodorkan sepucuk surat kecil.

Raka mendesah berat. Mengapa Ivan harus meminta hal-hal aneh di saat yang sangat tidak pas, sih? Lagipula tak banyak hal spesial menjadi Ace, posisi tangan kanan King yang secara resminya, tak berada dalam tatanan keluarga kerajaan itu sendiri. Memang, Ace adalah mereka yang dapat memenuhi kriteria kualitas individual sang raja sendiri, tetapi itu tak membuat Raka merasa dirinya spesial. Seorang anak hutan yang tak sengaja menjadi Ace, berkeliaran antar negara untuk membumi dan mendapatkan informasi dan opini yang lebih pro-rakyat. Tugasnya berbeda sekali dengan Ace lainnya yang tak akan berada jauh dari rajanya dan selalu berjaga kapan pun di samping sang pemimpin.

"Ah, soal investigasi Dragon itu, kan? Aku yakin kau tahu, karena hanya para pemegang lencana sepertimu yang mendapat izin ke informasinya." Raka berkata seraya mengambil sebuah surat yang disodorkan padanya. "Memang Dragonnya sudah ditemukan? Penelitian 60 tahun yang lalu ini kudengar sudah dihentikan, mengapa dicari lagi sekarang?"

"Kalau keluarga kerajaan sudah mengeluarkan perintah investigasi segera, mereka pasti tahu bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan penelitian ini." tutur Sey. "Saya tak tahu banyak, apalagi saya baru dimasukkan dalam tim belakangan ini. Tetapi dugaan pertama saya, penelitian pencarian ini bertautan erat dengan..."


Pembicaraan dalam ruangan tersebut berlalu dengan intens. Sementara dengan seksama, telinga dan mata yang berusaha curi-curi dengar dan lihat milik Lovino mencoba mengikuti alur perdebatan dua manusia yang sangat kentara menyembunyikan sesuatu darinya. Hei, ia ini Alter! Masa' ia tak boleh tahu rahasia orang...

…yah, ia tahu sih, manusia itu gila privasi. Tetapi sungguh, kadang ia tak mengerti, apalah pentingnya privasi? Seumur hidup ia tidak mengenah bahwa ada sesuatu hal pun yang harus ia sembunyikan, begitu pula dengan warga yang berada di lingkungannya. Semuanya dibiarkan terbuka, dan mungkin itu salah satu alasan mengapa kehidupan para Alters dapat damai namun penuh konflik di saat yang bersamaan. Tapi ini―

―Ah sudahlah, sepertinya ia tak akan sanggup mengikuti pembicaraan mereka lebih lanjut.


Raka keluar dari kamar tersebut. Menjumpai sosok Alter yang kini telah jatuh terlelap pada salah satu bagian dari ruang tengah tempat lelaki itu disuruh menunggu sebelumnya. Mau tak mau, Raka harus merasa bersalah juga. Bukankah karena dirinya, maka navigator-nya ini malah terlelap tidak pada tempatnya? Padahal ia dan Sey sudah menyiapkan satu kamar untuk orang ini, dan sekarang ia harus bersusah membopong lelaki yang nampaknya tak ada niatan terbangun itu ke kamarnya.

Sepanjang membawa tubuh yang tak disangka cukup berat itu, ia berpikir lagi akan pembicaraannya dengan Sey. Dragon? Ia harus berpikir bahwa itu adalah suatu hal yang konyol. Semua makhluk legendaris yang ada di dunia ini, dan tak ada satu pun makhluk bernama Dragon. Semuanya, semuanya ada, dan karena dalam mitosnya, Dragon hanyalah sesosok makhluk yang dulu pernah muncul sekali di dunia, yang kemudian mengambil sisi dan kemudian mendadak lenyap dalam salah satu perang besar pada masa itu, terlebih karena alasan bahwa para manusia yang bersisi dengan sang Dragon, akhirnya balik melawan makhluk itu dan menyegelnya jauh di dasar bumi.

Tetapi itu kan, perkataan nenek moyang mereka yang tak tahu benar apa salahnya.

Katakanlah Raka lupa akan masa kecilnya, katakanlah bahwa sejauh yang ia ingat tentang dirinya adalah kisah ketika umurnya menginjak tiga belas tahun, ketika ia pertama kali ditemukan oleh―yang kala itu masih merupakan seorang Prince―Ivan. Ketika akhirnya ia mulai mengembara di hutan, hidup berkawan dengan alam, sampai ketika umurnya lima belas ia mendapat tawaran pertama untuk bermain dalam World Grand Prix untuk pertama kalinya, jatuh cinta pertama kali pada detektif jabrik, dan mengusut kasus pertamanya. Selanjutnya pun, hidupnya adalah sesuatu yang menyenangkan dengan ia yang diangkat menjadi Ace of Clubs seiring dengan naiknya Ivan menjadi King of Clubs generasi ke-42.

Tetapi bahkan semuanya itu tak membuatnya percaya pada mitos.

Ia tak punya kepercayaan, karena untuk apa percaya pada takhayul selagi ia harusnya mempercayai hanya dirinya sendiri untuk selamat? Kehidupannya sudah cukup kasar dengan hidup menerima cercaan di kala ia masih bocah, dan terima kasih, ia tak mau masa tuanya ikut menjadi kasar, bagaimana pun ceritanya.

Sesampainya ia pada kamar yang sudah disiapkan, ia mendesah berat. Akhirnya sampai juga, benaknya berpikir. Ia tatap lekat pada sosok dengan untaian rambut auburn tersebut, tak sadar mengelusnya perlahan, dan kemudian jemari-jemari tegas miliknya mengedar sampai pipi sang Alter yang di luar dugaannya, halus sekali. Ia terkekeh pada sosok yang kini mulai mendengkur perlahan, merasa lucu saja, bahwa inilah sosok yang akan mudah marah ketika nanti ia terbangun.

"Heh, coba kalau ia terus selucu ini. Mungkin lama-lama aku bisa jatuh cinta padanya..."

Dan di saat itulah, ia menjumpai sebuah kubus dengan ukiran indah, menggelinding jatuh dari cengkeraman Alter yang tengah terlelap itu. Refleks, manusia itu mengambilnya.

"Ini boks apa, ya?"

Dan ketika jari-jari berlapis kulit sawo matang itu membuka tutup kotaknya, ia dijemput oleh sebuah cahaya yang membutakan.


27 tahun yang lalu

Secret Harbour, Kingdom of Diamonds

Apakah semua kisah manusia dimulai dengan permulaan indah, dimana sang pemeran utama menjadi seorang raja yang bijak? Atau mungkin, jika sang pemeran utama terlahir menjadi putri yang elok? Kenyataannya dunia ini tidak selalu sebaik itu, untuk melahirkan semua pemeran utama dalam latar yang indah nan sempurna dengan akhir idaman semua orang, bagaikan kisah-kisah dalam Hikayat yang telah lama terlupakan.

Inilah sebuah perawalan dari kisah mengenai seorang anak yang terbuang, tak diinginkan, dan terbawa pada alur yang menyedihkan; lahir di waktu perbudakan di Velschrede masih merupakan legal, dan sama sekali tak menyalahi aturan hukum.

"TIDAK!"

Teriakannya begitu kencang. Tetapi di antara kerumunan yang tak berbelas kasih, mana mungkin suara kecil itu terdengar? Suara kecil nan parau, memohon untuk belas kasih yang tak pernah sampai dari sesosok anak yang kini hendak dijual menjadi budak, berasal dari Distrik Melayu.

Puluhan tahun yang lalu, dunia indah bernama Velschrede ini tidaklah seindah bayanganmu. Di masa itu segalanya memang sudah maju, tetapi bagaimana para manusia yang menghuni tempat tersebut, semuanya berhati busuk. Dominasi, kapitalisasi, dan perbudakan dimana-mana. Kingdom of Diamonds yang kala itu masih merupakan kerajaan baru, demi menambah devisa negeri, terpaksa melegalkan perdagangan budak.

Dan anak ini, anak tak bernama dengan iris Belgian Chocolate ini, tak luput pula dari anak-anak naas yang dijual.

Kapal layar tersebut hendak berlabuh menuju sebuah kerajaan yang jauh di Utara sana. Akan berlayar untuk menjual anak-anak bernasib sial ini kepada para mereka, majikan-majikan yang mungkin saja tak punya hati. Ah, betapa menderitanya mereka. Lagipula semenjak mereka diikat dengan rantai penuh karat dan dikenakan pakaian usang berbau ikan amis saja, itu sudah merupakan bentuk humiliasi yang begitu menyakitkan.

Tak usah kau sebut-sebut suara tangis anak-anak yang meraung-raung akan ibunya. Akan rumahnya, dan akan segala lagu pengantar tidur dari kakak-kakak mereka. Mereka semua ini diculik, mereka semua ini sebelumnya punya hidup yang layak bersama keluarga mereka di tanah yang sedang memperjuangkan emanisipasi kemanusiaan tersebut.

Ya, semuanya kecuali dia.

Maka, tak henti-hentinya ia bertanya 'Kapankah ini semua akan berhenti?'

Atau, kapankah ia akan menemui akhir yang bahagia?

"Kau salah memilih kata, anak kecil."

Suara-suara penuh kericuhan terdengar keras. Memang, namanya juga kapal pedagang, seharusnya memang ramai, tetapi kericuhan yang terjadi pada kapal yang ia kira-kira baru berlabuh selama setengah jam tersebut terjadi dengan cukup abnormal. Bagaimana mungkin bisa ada kericuhan sampai terdengar bunyi tembakan yang beruntun? Rasa-rasanya jika seorang budak lari saja juga hanya akan tertembak sampai sekali-dua kali saja, dan dibiarkan mengapung mati di lautan, tak usah sampai beradu tembak berulang kali.

Anak itu tak tahu. Ia hanya mampu mendengarkan suara derap kaki yang demikian berat. Awalnya anya seorang, dan kemudian diikuti dengan banyak derap lainnya. Kendati ia masih belia, nalurinya sudah tajam untuk menghadapi keadaan sekitarnya, dari tapak kaki hingga arah suara angin, ia bisa tahu, siapa dan darimana suara itu berasal. Hanya suara alam yang bisa ia percaya, dan nalurinya belum pernah salah. Derap langkah berat yang muncul kali pertama tadi telah menghantam bagian atap tempat ia dan budak anak-anak lainnya ditempatkan.

Ia tak akan pernah lupa.

Lelaki itu, lelaki dengan rambut semerah darah, dengan mata hijau yang demikian menusuk bagaikan racun. Sosok muda sepantaran awal dua puluh tahunan itu begitu kuat menghajar para pedagang dan tentara bayaran yang menjaga kapal tersebut. Sulit dipercaya, sungguh, bahwa ada seorang yang demikian tangguh seperti orang ini.

Dalam mata anak berusia tiga tahun, itu memang sebuah pemandangan yang berdarah. Tak perlu dihitung lagi berapa banyak darah yang tertumpah, seolah darah-darah itu telah mengecat seluruh ruangan. Tak ayal pula wajahnya terciprat beberapa tetes, tetapi bahwa betapa kuatnya lelaki itu melawan semuanya, membuatnya demikian terkesima.

Kala itu anak itu masih belum mengerti apa-apa. Ia masih bocah, belum mengerti barang satu hal pun, namun dalam ujung pikirnya sudah terpatri bahwa ia bisa seperti lelaki yang kini telah menggiring anak-anak lainnya keluar dan menaiki sekoci yang paling besar.

Lelaki itu nampak bersyukur karena jumlah budak anak yang harus ia bimbing tidaklah banyak, sehingga satu sekoci saja bisa memuat cukup banyak anak-anak. Para budak dewasa lainnya sudah mengendarai sekoci lain, berpergian sesuai tujuannya mereka masing-masing. Anak dengan iris Belgian Chocolate tersebut masih menatap kagum pada sosok yang garang, namun demikian membelai hangat, kasih yang terpancar dari balik kilau mata hijaunya.

Ayun-ayun di tengah lautan yang luas, hingga akhirnya menjelang malam hari, tibalah sekoci yang diisi anak-anak yang dikendalikan oleh sang pria berambut merah membara tersebut ke sebuah daerah bebatuan di benua Diamonds. Setelah itu semuanya cukup kabur bagi anak tersebut, tetapi ia masih ingat bahwa lelaki itu satu per satu menghantarkan semua anak-anak yang diculik tersebut kembali pulang ke rumah keluarga mereka masing-masing.

Terkecuali dirinya.

"Nak, kau sungguh tak punya keluarga?"

Anak itu mengangguk.

"Namamu siapa?"

Sebuah gelengan kepala. Bukannya ia tak bisa menjawab, tetapi anak itu memang tak punya nama. Mendengar hal itu, sang lelaki berambut merah menggendong sang anak tak bernama tersebut pada lengannya yang kekar, mengecup pipi anak yang kala itu masih demikian dekilnya.

"Baik, kalau begitu, perkenalkan. Namaku James." Ucapnya, "dan karena kau tak punya nama, maka mulai sekarang, namamu adalah-"

Dan bagaikan terayun dalam mimpi, ia tak dapat mendengar siapa nama yang dipanggil oleh sang pria yang menyelimuti kehangatannya dengan kemampuan bertarung yang brutal.

"Begini caranya kau memegang pensil."

Tangan kekar tersebut membimbing tangan kecil dalam memegang batangan berisi graphite yang bernama pensil. Temuan termutakhir pada masa tersebut, lengkap dengan karet penghapus yang benar-benar efektif digunakan di atas kertas, sebuah proses hasil serat kayu yang sangat tipis namun berguna dalam banyak hal.

Tangan-tangan kecil tersebut terasa begitu susah dalam memegang pensil tersebut. Tangannya gemetar, terasa berat untuk menulis sepatah kata di atas kertas yang menanti untuk dicoret oleh goresan pensil. Perlahan, namun pasti, ia menuliskan sebuah kata pertamanya. Nama lelaki penolongnya.

"Kau menulis namaku? Wah, hebat." Elusan di atas rambutnya tersebut tak dapat membuatnya tidak tersenyum. Nampak jelas di wajah anak yang telah setahun tinggal bersama dengan sang penolongnya di sebuah hutan yang jauh pada benua Clubs. Jauh, demikian tak terjangkau, dan membuat mereka terpacu untuk hidup berdampingan dengan alam. "Karena kau sudah pintar menulis namaku, ayo kita keluar, biar aku mengujimu, apa saja yang sudah kau ingat."

Ia masih ingat bahwa dulu ia tinggal pada sebuah rumah pohon yang berada pada ketinggian hampir mencapai sebelas meter, dan juga masih merupakan sebuah tanda tanya besar mengapa lelaki bernama James tersebut dapat melompati dahan-dahan tinggi tanpa takut jatuh, selagi membopong dirinya di atas pundaknya yang tegas. Tetapi bagaimana pun menakutkannya, perasaan menyenangkan dan tegang setiap lompatan dan landasan dari kaki-kakinya yang demikian lincah melompati antara satu dahan dan yang lainnya tak akan pernah terlupakan olehnya. James sendiri baru turun dari dahan-dahan tersebut ketika akhirnya ia tiba pada satu tempat lapang yang berada jauh di tengah hutan tersebut.

Tempat lapang yang diisi oleh sebuah danau besar, sementara dari kejauhan dapat ia lihat akan banyaknya burung-burung dalam berbagai jenis. Di ujung danau sana, samar-samar terlihat akan banyaknya bunga-bunga yang tumbuh. Entah berapa banyak jenis yang ada, tetapi pemandangan jernihnya air dan indahnya taman bunga di ujung sana, sudah membuatnya seolah telah melihat apa yang mereka sebut "Taman Surga".

Pada salah satu rakit yang ia ingat telah dibangun olehnya dan James di waktu-waktu sebelumnya, mereka menaiki rakit tersebut, perlahan mendayung rakitnya sampai mereka tiba pada tengah danau. Betapa jernihnya air tersebut, sampai ia dapat melihat dasarnya. Ia dapat melihat indahnya bunga-bunga mistis yang dapat hidup di dalam air tersebut, dan juga ikan-ikan yang berenang. Melihatnya, seolah danau ini adalah akuarium besar miliknya, dan mana mungkin ia akan lupa betapa indahnya segala makhluk yang ada di sini?

"Ingat, ini namanya air."

Ia merasakan tetes demi tetes tersebut. Merasa demikian hidup. Ia merasakan dirinya tertawa lepas, berkata-kata sesuatu, tetapi entah mengapa ia tak tahu apa yang ia katakan, walau ia tahu bahwa ia tengah mengungkapkan rasa suka cita-nya. Sensasi dingin yang berkata bahwa "ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang kau lihat" sampai tanpa kata-kata, dan begitu pula semua kesenangan yang ia rasakan kala itu. Ia ingat, bahwa ia menyebut segala pertanyaan yang dilontarkan oleh sang lelaki yang begitu mengasihinya, dan ia masih ingat akan senyuman yang tak akan pernah tergantikan dengan harta apa pun yang ada di dunia ini.

Satu-satunya yang dapat ia tangkap, hanyalah perasaan bahwa ia hanya ingin tumbuh dengan sang penolongnya. Tumbuh dengan kuat, dan menyaingi lelaki yang telah dengan begitu berani membawanya kepada kebebasan. Merasakan alam hijau yang sebelumnya tak pernah ia rasakan, semilir yang lembut, menyapu kulit sawo matangnya dengan sangat nyaman.

Dan ia bersyukur karenanya.

Ia bersyukur akan kebebasan di tahun itu. Bersyukur akan kebebasan yang telah ia dapatkan. Semakin lama, semakin ia rasa bahwa ada perasaan spesial yang tumbuh untuk sang penolongnya, yang kian lama ia lihat sebagai sosok seorang ayah. Mungkin, mungkin seorang ayah. Ia tak pernah kenal satu sebelumnya, dan semoga ia tak salah menganggap orang ini.

Tetapi kala itu, ia masih belia. Masih bocah.

Ia masih terlalu polos nan idealis…

…sampai ia tak sadar, bahwa sudut pandangnya tidak lagi tentang danau indah tersebut.

Yang ia lihat kini berbeda. Ia melihat dirinya berada. Tangan-tangannya sudah tidak lagi mungil kala beberapa saat yang lalu, kini telah berubah menjadi sesosok yang tinggi, dengan tangan yang berhiaskan jemari yang nampak kuat. Ia rasakan dirinya menyentuh pipi tersebut, dan kemudian rambutnya.

Dan kala itu ia sadar, ketika ia tak sengaja beradu pandang dengan cermin yang berada tak jauh dari dirinya. Itu bukan sosok anak kecil yang ia kira adalah dirinya. Sosok dengan kilau hazel dan rambut auburn itu menatap serius ke arah kaca. Ia tahu siapa orang ini, ia kenal orang ini. Tetapi mengapa rasanya sangat tak familiar?

Ia tak dapat mengontrol tubuh yang kini telah mengeluarkan selaras senjata api, pula, tak dapat mengontrol berbagai wujud umpatan yang terlantun dengan fasihnya. Namun ia tahu, bahwa antara dirinya dan orang ini, mereka terikat oleh sebuah kaitan batin yang tak bisa terlepaskan. Seolah berkata bahwa semenjak puluhan tahun yang lalu, atau bahkan mungkin lama sebelum hari itu, mereka telah terikat akan takdir. Maka, bukankah itu menjadi satu alasan paling logis mengapa ia dapat merasakan dendam yang mengalir?

Bayangan akan sosok berkulit gelap, dengan surai hitam kecokelatan. Aroma tubuh yang tercium bagaikan aroma pantai, dengan kilau toksin yang menyengat. Seringai kejam dan bayangan akan manusia itu membentuk sebuah nama. Nama yang dilantunkan penuh dendam oleh sang Alter muda yang kini telah bersiap dengan segala macam alat penjagalnya, beserta dengan hasrat dan motivasi untuk membunuh yang amat kuat.

"Kali ini, aku akan benar-benar membunuhmu, Antonio."

Bayang-bayang akan memori pahit sang lelaki pemilik rambut auburn, akan bagaimana sosok yang sama yang kala itu tengah membelainya dan mendayung rakit tersebut. Akan bagaimana dahsyatnya latihan yang menggunakan kekuatan yang sangat hebat antar sihir dan teknologi mutakhir, semuanya itu masuk ke dalam kepalanya dengan cepat, seolah memori lelaki itu adalah miliknya...

Oh, ia mengerti sekarang.

Ini memang bukan ingatannya. Ini adalah ingatan dari lelaki itu yang terjadi di saat bersamaan.

Ia melihat lagi, dirinya, yang menjadi lelaki itu, menaiki sebuah motor besar yang di mana pada rodanya, digantikan dengan sebuah booster besar dengan gear yang kentara sekali terlihat, dilapisi oleh bangku cokelat dari kulit kelas atas. Struktural kompleks akan mesin yang terlihat dari sisi motor yang transparan, semakin membawa keantikan dan mau tak mau membuat dirinya harus merasa menganggap lelaki yang kala itu hanya terlihat sepantaran remaja berumur 18 tahun itu nampak gagah.

Ia hanya butuh satu kata akan lelaki itu : terkesima.

Cepat, pemandangannya berganti. Seolah seperti putaran film yang dipercepat. Kini waktu telah menjelang malam, dan dirinya masih seolah 'menjadi' sang lelaki dengan kriwil anehnya yang agak mencuat ke atas tersebut. Mengendap-endap pada rimbunnya hutan yang dipenuhi oleh baobab tinggi, dan berlari sehening mungkin.

Ia tahu bahwa kali ini ia bisa menghabisi Antonio itu. Seorang yang sudah merenggut kehidupan tenang James Kirkland, dan yang telah menarik nyawa kakeknya. Setidak-peduli apa pun dirinya terhadap sang kakek, tetapi bagaimana pun, kakek tetaplah kakek. Ia masih punya rasa hormat, rasa respek, dan tak usah ditambah lagi, figur kakek yang demikian penyayang mau tak mau memberikannya sebuah kesan tersendiri di hatinya.

Dan karena maniak yang kini berada di depannya, kini ia kehilangan semuanya itu.

Maniak itu, Antonio, kini berada di depannya. Berdiri mematung, menatapnya kosong.

Pisau kecil itu ia tujukan kepada sang Pencuri Identitas, tanpa kata-kata dan ancang-ancang, apalagi memperhatikan wajah sang Antonio yang nampak ketakutan, ia melemparkan pisau-pisau yang telah ia beri kekuatan sihir. Satu per satu menusuk tanpa ampun kepada tubuh yang kenyataannya masih lebih tinggi darinya itu. Melihat darah yang terciprat dimana-mana dari tubuhnya, sosok itu menyunggingkan seringai kejamnya―

―yang segera berubah menjadi sangat pucat ketika ia melihat bahwa sosok "Antonio" itu memudar.

"JAMES!"

Kian cepat ia menghampiri lelaki itu. Lelaki yang sebenarnya adalah sosok yang sangat ia kasihi, dan kini, malah ia "bunuh". Dengan serangan tadi, ditambah dengan tidak adanya tanda-tanda evasi atau perlawanan, jelas saja lelaki ini tidak selamat...

"O-oh, Lovi." Terputus-putus, suara itu terdengar. "La-Lama tidak ber-jumpa. Sudah... berapa lama, ya?"

"Sudah, diam saja kau, idiot!" seruan itu terdengar parau. Kentara sekali sang Alter muda tengah menahan tangis. Apa yang telah ia lakukan?! Mengapa ia begitu bodoh! "Jangan bicara lebih banyak lagi! Nanti kau tak akan selamat, dan kau 'kan bukan Alter lagi... Ka-kau tak akan selamat..."

Terasa hangat di pipinya, tangan itu menyeka. Sudah berapa lama ia tak merasakan kelembutan dan elusan yang diam-diam sangat ia rindukan itu? "Pergi... Ke arah barat daya... Jangan pikirkan... Aku. Pikirkan tentang anak itu-"

"Anak itu―" dan terhenti, ketika sosok berambut merah membara tersebut terkulai, tak ada tanda-tanda kehidupan lagi. "Hei, James. Idiot, bodoh, sialan, bangun kau." Terus, ia terus berucap demikian, tetapi mana mungkin ada respon? Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia hanya mampu melipat tangan tubuh yang kini telah tak bernyawa itu dan menidurkannya sementara pada rerumputan yang kasar ini, selagi dirinya mengejar hingga ke sebuah pondok di atas pohon yang kini telah bersinar oleh lentera. Lekas, ia melompati dahan-dahan yang ada dengan lincah hingga ia sampai pada pondok di atas pohon tersebut.

Dan disitulah, ia bertemu dengan lelaki itu. Tengah menggendong sesosok anak kecil dengan kulit sawo matang.

"Hola." Pendek, lelaki berkulit gelap itu menyapa dirinya. "Akhirnya kita bisa bertemu, Lovino."

"Akhirnya?!" ia tak tahu lagi. Memangnya sekarang ia masih butuh kontrol diri? "Apa maksudmu dengan akhirnya! Kau..."

"Ssssh, nanti anak ini terbangun." Masih menepuk-nepuk dengan lembut pada pundak anak kecil tersebut, dan perlahan meletakkannya pada ranjang kecil milik anak itu kembali. "Kau tak mau ia melihat apa yang akan kita lakukan, umm?"

Sebuah alat semacam jam pasir dikeluarkan oleh lelaki dengan iris toxic green tersebut. Diputar-balikkannya dengan cepat, dan seketika, dimensi yang berada di sekitarnya berubah menjadi sebuah ruang dimensi yang berbeda. Ruang waktu dan tempat hasil ciptaan individi Sang Pencuri Identitas.

Ia tak akan mungkin menang, dengan lawannya yang seperti ini.

Tetapi bukan Lovino namanya, jika ia tak berjuang melawan dahulu. Dengan cekatan ia keluarkan segala ilmu yang telah ia pelajari. Panah, pedang, pisau, sampai sihir pun, segalanya ia keluarkan, dan dengan lihainya sang lawan menangkis dan mempertahankan dirinya dengan sangat santai, seolah serangan-serangan yang ada tidak menjadi permasalahan baginya. Lawannya itu sendiri lama-kelamaan nampak bosan, dan mulai mencoba maju.

Samar-samar ketika dua mata itu bertatapan, nampak kerinduan pahit dari lawannya, entah mengapa.

Jelaslah ia tak punya probabilitas untuk menang. Sejak awal sihir dimensi ini dikeluarkan oleh lawannya, ia sudah tahu bahwa ia kalah jauh. Ia masih belum bisa setara dengan lelaki ini, dan serangan yang ia terima hanya berupa hantaman ringan yang membuatnya tak berkutik saja, sudah membuatnya miris. Seberapa lama lagi ia harus melatih dirinya? Bahkan ketika akhirnya dirinya hampir memejamkan kedua matanya, barulah lelaki itu berhenti.

"Baik, akan kutunggu kau. Kuberi kau waktu 23 tahun lagi, dan pastikan kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan anak ini." Kecupan di pipi mendarat dari bibir kasar milik Antonio kepada dirinya. "Selama itu, aku akan terus menunggu, dan memperhatikanmu."

Dan dimensi seiring dengan sosok itu hilang, bagaikan debu yang tertiup angin.

Lovino kembali menyeka air matanya. Bukan, bukan karena masalah babak belur di sekujur tubuhnya, namun karena kini ia tengah menimbun tubuh yang telah ia bungkus dalam kain kafan putih di sebuah taman dandelion dan melati di tengah-tengah kumpulan hutan baobab ini. Mengapa dirinya begitu bodoh? Mengapa ia sampai tak sadar kalau orang ini bukanlah Antonio bangsat yang ia cari-cari itu? Sekarang ia harus rela menengak pahit dan sesak karena telah membunuh orang yang paling ia sayang ini.

Sekiranya ia telah menimbun, ia pikir ia akan langsung meminta permohonan berhenti saja. Ia tak bisa hidup seperti ini. Bukankah awalnya ia ingin menjadi anggota inti dari Divisi IX hanya untuk menarik kembali sosok James Kirkland, membersihkan namanya, lalu menangkap dan mengurung sosok Antonio itu selamanya di Kegelapan Terdalam? Ya, semuanya hanya untuk itu

dan bukan untuk mengubur lelaki ini…

Kala ia kembali ke pondok tempat anak itu tinggal, ia masih menemui anak itu terlelap dengan damai. Perlahan namun pasti, ia angkat anak itu dalam gendongannya. Memeluknya hangat, diiringi dengan setetes air mata yang secara tak sadar membangunkan anak itu.

"Oh halo, anak kecil." dengan sesantai mungkin, menyapa anak yang baru saja terbangun sembari menyeka sisa darah yang ada di pipinya dan kemudian menurunkan anak itu. "Maaf karena sudah membuat pipimu kotor. Ada apa?"

"Di mana papa?"

Suara itu terdengar begitu lirih dari bibir ranum tersebut. Syukur karena pendengarannya cukup baik, ia bisa mengerti perkataan anak yang baru saja kembali membawa boneka kelinci. "Papa? Maksudmu papa-mu yang berambut merah dengan mata hijau permata?" dan sebagai jawaban, anak itu mengangguk kecil, masih merapatkan pegangannya pada boneka kelinci yang tersobek pada ujungnya. "Memang kenapa?" Mengarahkan boneka itu pada sang Alter muda, dan kemudian berkata lagi.

"Ika." katanya, "telinga Ika lepas. Sobek. Aku mau minta papa jahitkan kembali."

'Jadi rupanya ini anak yang dibicarakan oleh si brengsek itu...' sang Alter menatap lekat sesaat pada sepasang mata cokelat Belgia tersebut. Menatap pada kejujuran anak ini, akan betapa sedihnya mengetahui bahwa dua iris cokelat gemilang itu akan segera mengetahui tentang kotornya dunia. Mengetahui, bahwa ia hanya akan menemani anak ini sebentar saja sudah membuatnya cemas. Mengapa Antonio tidak membunuh anak ini sekalian saja?

"Papamu tak akan kembali dalam waktu dekat," ucap sang Alter. Tentu, apalagi yang perlu ia ucapkan? "Jadi tak apa-apa kan jika aku yang memperbaiki Ika?"

Anak itu tampak begitu bersemangat. Melihat sorak girangnya, lekas Lovino menggendongnya, kemudian melangkahkan kedua kakinya masuk sembari membiarkan sang anak bertumpu pada lengannya. Melirik sesaat pada tawa bahagia anak itu dan mendesah kecil dalam sebuah senyuman sembari bertanya :

"Siapa namamu?"

Tanpa ia tahu, bahwa nama yang terlantun dari bibir manis tersebut akan menjadi nama yang memetakan takdirnya nanti.

Ia ingat sekarang. Ia ingat.

Segalanya yang tadi dipertunjukkan di depan matanya, semuanya adalah masa lalunya.

.

"Raka." Anak itu lirih, berucap. "Namaku Raka."

.

.

To Be Continued


A/N : ...okeh, lama-lama ini fantasinya malah lebih kerasa dari steampunk-nya, but whatever.

Yesh, tinggal satu chapter lagi _( :3 9 /_)_

Dan bagi yang bertanya-tanya, ceritanya memang ngebingungin. Ini memang rencananya mau dibuat trilogy, sih. Jadi pertanyaan-pertanyaan dan koneksi yang tak terjawab di cerita ini bener-bener bikin pusing. But, hey, saya punya motto loh, "Kalau tidak membingungkan, saya nggak akan publish ceritanya" dan iya makasih, motto saya keren banget emang.

Intinya, kalau ada paragraf/bagian yang di-italic, itu flashback. Lain dari itu, masih mengikuti alur biasa. Flashback yang ada waktunya memang nggak selalu punya time set yang tepat, jadi mungkin akan banyak kebingungan dan… iye, makasih, sekali lagi.

So, ada yang bersedia ngasih tanggapan? OwO