"Kau menelepon bukan hanya untuk menanyakan kabar, 'kan?"

Kuluman senyum terbentuk di bibir Sakura setelah mendengar ujaran dari speaker ponselnya. Sebelumnya, mimik yang terpampang di wajahnya adalah kecemasan, terlihat jelas dari bibir yang digigit keras hingga memucat. Representasi kecemasannya berpindah pada jemari yang diketuk-ketuk pada meja dan derapan kaki berulang pada lantai saat bibirnya mengulum senyum begitu saja.

"Apa maksudmu? Kau berprasangka buruk padaku?" Sakura mendengus menahan tawa. Apabila bukan prasangka buruk, apa lagi label yang lebih tepat untuk menamai dugaan menanyakan kabar hanya sekadar basa-basi?

"Bukan begitu," sahut Tsunade. Napasnya dilepas keras-keras sampai terekam mikrofon ponsel. "Kau terdengar cemas sedari tadi."

Kali ini Sakura memutuskan untuk melepaskan tawanya. "Oh, ternyata aku memang tidak bisa menyembunyikan itu dengan baik."

Jemarinya berhenti mengetuk meja. Benaknya melayang pada malam saat Sasuke Uchiha tiba-tiba menyebutkan nama yang sudah dia kubur selama beberapa dekade. Sakura memejamkan mata penuh penyesalan ketika mengingat refleks tubuhnya yang menunjukkan karakteristik seseorang yang adrenalinnya tengah dipacu. Langkahnya terhenti, bahunya menegang, dan dirinya lekas berlari. Bagus sekali. Padahal dia bisa berperangai jauh lebih tenang daripada itu. Perangai yang tak akan membuat kecurigaan yang sudah tertanam dalam diri Sasuke semakin berkembang.

"Aku hanya ... ini sangat aneh. Ada orang yang mengenaliku sebagai ... Haruno Sakura."

"Apa?! Bagaimana bisa? Dia sebaya denganmu—maksudku, kau pasti mengerti, atau bagaimana?"

"Tidak, tidak. Kau masih ingat pilot orang Jepang waktu itu? Dia orangnya," ucap Sakura dengan nada lirih. Dia berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar seperti seseorang yang sedang dilanda panik; mencegah kalang kabut yang melandanya turut menyerang Tsunade. "Tidak, bukan mengenal, lebih tepatnya. Dia mencurigai namaku. Sayuri ... dia bilang tidak cocok denganku. Namaku lebih cocok Hanami, Haru, atau Sakura. Kurasa dia berpikir begitu karena warna rambutku—"

"Dan mungkin memang karena itu?"

"Aku akan berpikir begitu jika dia tidak menyebut nama lengkapku. Haruno Sakura."

Embusan napas panjang Tsunade terdengar sampai telinga Sakura. "Bagaimana kau akan menghadapi itu?"

"Satu-satunya solusi yang muncul dalam benakku sekarang adalah membatasi interaksiku dengannya."

"Memang sebelumnya tidak?"

Sakura nyaris tersedak air liurnya sendiri. "Bu-bukan begitu," ujarnya. Gugup mendadak merambati tubuhnya, apalagi otaknya memutar ulang gagasan bahwa Sakura melarang diri untuk tidak menyerah pada Sasuke, terlebih tertarik padanya. Gagasan itu tentu saja tidak akan muncul apabila Sakura merasa biasa saja.

"Menurutku ini akan lebih mudah jika kau terus terang saja padanya. Hanya jika dia masih mencurigaimu atau mengintimidasimu dengan kecurigaannya. Jika tidak, kau bisa melupakannya. Dan dia bisa menjadi teman yang baik ... kurasa?"

Sakura mengernyit. "Dia adalah orang terakhir yang bisa masuk kategori teman yang baik. Serius, Tsunade, dia adalah orang paling tidak ramah yang pernah kutahu." Sontak ingatan saat Sasuke memberinya sandwich menyusup ke dalam otaknya. Tidak juga, sebenarnya. Ralatan itu sudah menempel di ujung lidah. Namun, keraguan memaksa untuk menelannya kembali.

"Kapan terakhir kali kau benar-benar punya teman yang baik?"

Bibir Sakura menganga. Dadanya terasa tertohok. Tanpa dia mengungkapkan soal ada atau tidaknya peran teman baik dalam hidupnya, Tsunade pasti bisa memprediksi sendiri. Apalagi Sakura selalu bercerita pada Tsunade seolah-olah hanya wanita itu saja yang akan tahu tentang itu. "Aku—" ditariknya satu kali napas panjang, "aku kenal dengan banyak orang baik."

"Tapi tidak cukup baik untuk kaupercayai sebagai teman," tandasnya.

"Kau tahu ini tidak mudah untukku." Suara Sakura melirih. Membeberkan rahasia sebesar itu pada orang asing selalu menjadi hal tersulit baginya. Kata orang, perpisahan adalah salah satu hal yang paling berat untuk dilalui dalam hidup. Namun, bagi Sakura, dia lebih memilih untuk mengalami perpisahan lagi dan lagi ketimbang membocorkan rahasia yang sudah dia tutupi bertahun-tahun. Sebab, terlalu banyak risiko, kecemasan, dan rasa takut yang mengikuti.

"Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu, Okaasan. Dan kali ini aku tidak bisa menahannya lagi." Debar jantung Sakura mendadak meningkat dengan pesat. "Kau tidak bisa menyembunyikan ini selamanya. Aku dan Shizune ... tidak bisa selalu ada untukmu. Tanpa kami, suatu saat kau akan benar-benar sendiri jika begini terus. Pasti akan ada orang yang mengerti kondisimu. Pasti. Tapi kita tak akan pernah tahu jika kau tidak memberi kesempatan itu pada siapa pun."

Sakura tertegun. Dia tahu apa yang Tsunade katakan memanglah benar. Dirinya pun pernah berpikir soal itu, bukan hanya satu atau dua kali. Namun, mendengar langsung dari tutur kata orang lain membuatnya merasa tertampar. Tapi itu saja tidak cukup. Baginya, risiko yang mengikuti akan jauh lebih besar daripada dia harus merasa sendiri. Dan Sakura memutuskan bahwa pembicaraannya dengan Tsunade sudah cukup sampai di sini.

"Ini sudah larut. Kau sebaiknya beristirahat," tutup Sakura secara halus. Ada getar nostalgia yang membuatnya merasa tengah mengucapkan hal tersebut pada Tsunade yang masih anak-anak.

Tanpa menunggu tanggapan lagi, Sakura memutus hubungan telepon secara sepihak. Dia termenung cukup lama sampai akhirnya berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimut.

Lamunannya berlanjut sampai tubuhnya dililit selimut. Dia membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika dia menyampaikan rahasianya pada orang lain. Tersebar. Ilmuwan-ilmuwan dengan rasa ingin tahu yang tinggi berkehendak untuk menelitinya. Dirinya dijadikan ajang percobaan. Ajang narasumber bagi pers-pers yang dikejar setoran. Dan hal-hal lain yang akan membuat hidupnya tak normal dan tak akan pernah sama lagi.

Namun, jika dia tetap menyimpannya sendiri, dirinya membayangkan jika Tsunade dan Shizune sudah tak bisa menemaninya. Ke mana dia akan bicara soal masalahnya? Ke mana lagi dia akan berlari untuk meredam rasa kesepiannya? Jawabannya adalah tidak ada tempat lagi. Dan dia benar-benar sendiri. Jauh lebih sendiri daripada saat ini. Dan Sakura tak bisa membayangkan bagaimana kondisi hidupnya nanti.

Sudah lama sekali semenjak terakhir Sakura dilanda sentimen sampai air mata menggantung di sudut matanya. Dan likuid yang merembes melalui celah kelopak mata yang sudah Sakura tutup rapat membuat label terakhir kali air matanya menetes berganti.

.

Terlepas dari percakapan terakhirnya dengan Tsunade, Sakura tetap membatasi interaksinya dengan Sasuke. Bahkan bukan sekadar membatasi interaksi, tetapi betul-betul menghindari. Sakura tahu dengan menghindar, Sasuke akan semakin mencurigainya. Namun, dia pun berpikir bahwa tak masalah jika kecurigaan itu semakin memuncak apabila Sakura tidak memberi Sasuke kesempatan untuk menyelidiki atau menggali apa pun tentangnya lebih jauh lagi.

Terhitung sepuluh hari Sakura berhasil menghindari Sasuke. Pernah beberapa kali mereka bertemu dan saling sadar, dan Sasuke selalu mencari celah untuk bicara dengannya, tetapi Sakura selalu berhasil menghindar dan memastikan bahwa Sasuke tidak mengikutinya.

Apa yang dia lakukan sekarang memang melelahkan, Sakura mengakui. Bukan hanya soal fisik yang dipaksa berlari atau otak yang diputar untuk mencari celah bersembunyi, ditambah pula kecemasan dan ketakutan yang menyusupi nurani. Namun, dia tak punya pilihan selain ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah menghindar, serta berharap Sasuke menyerah untuk mencoba berinteraksi dengan dirinya lagi.

Sakura menutup kotak logam sebesar genggamannya rapat-rapat. Dia baru saja membenarkan kancingnya yang lepas menggunakan alat menjahit yang ada di dalam kotak logam itu. Dirapikannya kusut yang terbentuk akibat jahitan sambil mematut diri di depan cermin. Setelah Sakura merasa penampilannya sudah rapi, dia segera keluar dari toilet khusus staf bandara.

Belum sampai sepuluh langkah dia berjalan, telinganya menangkap namanya dipanggil. Dan kepekaan terhadap suara berat itu membuat Sakura sontak mempercepat langkahnya. Tanpa menoleh pun dia tahu bahwa yang memanggilnya adalah Sasuke.

Langkah cepatnya terdistraksi ketika heels-nya menginjak sesuatu yang membuatnya tergelincir. Tubuhnya nyaris jatuh membentur lantai apabila tidak ada tubuh yang menyangga bahu dan tangan yang memegang lengannya. Sakura mendecak dalam hati atas kecerobohannya. Dia buru-buru memutar tubuh dan hendak berterima kasih pada sosok di belakangnya. Namun, niatnya tertelan kembali saat dirinya sadar siapa yang ada di sana.

"Kau perlu berkunjung ke dokter THT," sinis Sasuke.

Degup jantung yang sudah terpacu oleh pergerakan cepatnya kini semakin meningkat. Sakura mengepalkan tangan dan mendelik. Dia berusaha menyingkirkan tangan Sasuke dari lengannya, namun tak kunjung memberikan hasil. "Maaf, telingaku memutuskan untuk tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan."

Dahi Sasuke mengernyit. Dia menatap mata Sakura yang sudah diputar ke arah lain. Pegangannya pada tubuh yang lebih kecil darinya mengerat, memastikan agar wanita itu tidak lari lagi.

"Apa? Mencurigakan?"

"Hm," sahut Sakura singkat, masih dengan pandangan yang enggan menatap lawan bicaranya.

"Kata itu lebih cocok untuk mendeskripsikanmu."

Sakura bukanlah tipikal orang yang akan menunjukkan emosinya apabila sedang tidak menyukai atau merasa terganggu oleh seseorang. Tapi, rasa terganggunya oleh kehadiran Sasuke adalah suatu pengecualian setelah dalam waktu lama dirinya tidak begitu. Dia menggertakkan gigi dengan keras, sengaja agar Sasuke tahu bahwa dirinya kesal. Lengannya disentak lagi agar pegangan Sasuke lepas, namun hasilnya masih gagal.

"Bisa kau singkirkan tanganmu dari lenganku sekarang, Kapten?" Sakura mencoba bicara dengan nada sesopan mungkin, meskipun bibirnya bergetar karena rasa kesal. "Ada banyak orang di sini."

Alih-alih menggubris, Sakura merasa Sasuke semakin mengintimidasi dirinya. Pegangan tangan pria itu mengencang sampai Sakura yakin akan ada kusut yang terbentuk nanti. Tatapan mata tajamnya benar-benar membuat nyali Sakura menciut untuk sekadar balas melempar tatapan yang tak kalah mengintimidasi. Dan kondisi ini semakin membuatnya sangat tidak nyaman.

"Kau menginjak kancing seragamku," kata Sasuke.

Refleks mata Sakura memindai seragam yang Sasuke kenakan. Kancing ketiga di kemejanya memang tidak ada. Dia mengembuskan napas panjang. "Dan aku akan terus menginjaknya selama kau masih membatasi pergerakanku."

Sasuke menjauhkan tangannya dari lengan Sakura. Wanita itu refleks mundur dan mengangkat kakinya yang tak langsung menapak lantai karena ada entitas yang membatasinya. Tepat setelah Sasuke mengambil kancingnya, pria itu buru-buru melangkah lebar menuju Sakura dan memegang lengan kemeja wanita itu erat-erat.

"Aku sudah tidak menginjak kancing seragammu," kata Sakura sambil menyentak lengan.

"Tapi kau punya alat menjahit di tanganmu."

Kedua mata Sakura melebar. Tanpa diberi instruksi dari otak, napas santainya berubah memburu. Apakah dia sengaja merencanakan ini?! "Tidak," tanggap Sakura tanpa berpikir lebih jauh lagi.

"Aku tahu bahwa kotak itu berisi alat menjahit, Sayuri." Entah hanya perasaan Sakura saja, atau Sasuke memang menggunakan intonasi mengejek saat menyebutkan namanya.

"Tidak yang kumaksud adalah aku tidak ingin membantumu."

"Aku tidak mungkin terbang dengan keadaan seperti ini."

"Itu bukan urusanku."

Sasuke mendecak. Cengkeraman pada lengan kemeja Sakura semakin erat hingga wanita itu meringis. Dan Sakura mulai merasa kemarahan membakar dirinya saat dia tak menemukan satu kilas pun rasa bersalah muncul di wajah Sasuke.

"Kau benar-benar tidak bisa menolongku?"

Sakura memicingkan mata. "KAU BAHKAN TIDAK BENAR-BENAR MEMINTA TOLONG PADAKU!"

Ruangan mendadak terasa lengang. Entah hanya perasaannya saja, tapi dia mendengar suaranya menggema. Sakura tahu dia baru saja melakukan kesalahan dengan menaikkan volume sekaligus oktaf dalam suaranya. Dia yakin, yakin sekali, dirinya dan Sasuke sedang menjadi pusat perhatian di ruangan ini karena suaranya. Meskipun tak ada yang mengerti bahasa yang dirinya ucapkan, tetap saja hal ini terasa memalukan.

"Baiklah," ucap Sasuke. Lelaki itu mengatur napasnya cukup lama, seolah-olah meminta tolong adalah hal yang benar-benar sulit baginya. "Bisakah kau menolongku untuk menjahitkan kancing ini?"

Sudah cukup Sakura merasa malu karena bentakannya tadi. Bila dia menolak permintaan tolong dari Sasuke, beban atas penilaian negatif orang lain terhadap dirinya akan bertambah. Dan dia tak menginginkan hal itu.

Masih diliputi rasa malu, Sakura terpaksa menjawab, "Ugh, baiklah. Tapi lepaskan aku dulu."

Sasuke melepas cengkeraman sambil mengalihkan pandangan pada seluruh ruangan. Mereka masih menjadi sentral perhatian. Dia membersihkan tenggorokan, kemudian berkata, "Tidak ada yang bisa ditonton di sini," menggunakan bahasa Jerman yang sudah pasti dipahami semua orang di dalam ruangan. Dan pusat perhatian pun membuyar.

Sakura masih merasakan panas di wajahnya. Dan entah mengapa, panas yang menjalar terasa semakin memekat. Dia berdeham sebelum berucap, "Lepas seragammu." Deham lagi. "K-kau pasti mengenakan kaus di balik seragammu atau semacamnya, 'kan?"

"Itu akan menghabiskan banyak waktu. Langsung saja."

Sakura mencoba menetralisasi debaran jantungnya yang tiba-tiba meningkat sampai pompaan darahnya terdengar di telinga. Dia mengatur napas sambil mengangkat wajah dan mencari tempat duduk kosong. Ada lahan untuk tiga orang di salah satu sudut ruangan. Dia melangkah ke sana tanpa menginstruksikan Sasuke untuk mengikuti.

"Jangan salahkan aku jika jarum tak sengaja menusukmu," ancam Sakura.

"Heh," Sasuke menarik salah satu sudut bibirnya, "kau bahkan terlihat seperti orang yang akan sengaja menusukkan jarum itu." Tiba-tiba bibirnya terkatup rapat menahan erangan terkejut karena tusukan benda runcing di ulu hatinya.

"Kau yang meminta," sinis Sakura. Dia menggigit bibir bawah untuk menahan senyum.

Sakura kembali mengatur napas untuk mengontrol tangannya yang mulai gemetar. Dia memindahkan jarum dari tangan kanan ke tangan kiri, sementara tangan kanannya dikibaskan agar getarannya berhenti. Dan dia masih tak mengerti mengapa panas di wajahnya masih tak mau pergi.

"Jadi kau menghindariku karena ingin menyembunyikan rahasiamu?" selidik Sasuke.

"Rahasia apa? Soal kau menyebut Haruno Sakura?" Sakura tertawa sinis. "Jangan membuatku tertawa. Aku hanya sedang menghindari seorang penguntit, bukan menyembunyikan rahasia."

Dahi Sasuke mengernyit. "Penguntit?" Dari intonasi bicaranya, Sakura tahu Sasuke merasa sangat terganggu atas dakwaan itu.

"Kau bahkan sampai tahu nama nenekku, apa lagi kalau bukan penguntit?" Sakura bersyukur Sasuke tidak dapat mengobservasi wajahnya dalam keadaan seperti ini. Selama ini dia pandai mengamuflasekan ekspresi wajah untuk tetap tenang saat mengujar kebohongan. Namun, kali ini ada rasa khawatir berlebih yang meliputinya.

"Oh," gumam Sasuke. "Sudah bertahun-tahun lamanya semenjak aku belajar tentang hereditas di pelajaran SMA, tapi ingatanku masih cukup kuat soal tidak adanya kemungkinan seorang nenek yang memiliki wajah sama persis dengan cucunya."

Sakura terdiam. Dia mengangkat dagu dan menatap wajah Sasuke lurus-lurus. Lelaki itu tidak tampak seperti seseorang yang sedang bercanda. Satu spekulasi muncul di benak Sakura. Sasuke mungkin pernah menemukan fotonya di masa lalu dengan namanya tertulis di sana. Atau malah identitas lengkapnya. Dia benar-benar ingin tahu kebenarannya. Namun, dia terus menyugesti bahwa itu bukanlah hal penting.

Mengatur agar dirinya tetap tenang, Sakura melanjutkan menjahit kancing pada seragam Sasuke. Gemetar pada tangannya kembali sehingga dia perlu mengibaskannya lagi. Tangannya yang mulai membasah membuatnya sulit memegang jarum karena licin. Beruntung hal itu terjadi ketika dirinya sudah berada di pengujung pekerjaannya.

"Berhentilah. Kau membuat dirimu semakin menjadi seseorang yang perlu aku waspadai." Sakura mengikat simpul pada benang agar jahitannya tidak lepas. "Dengarkan aku, Herr Kapitän," kali ini bahasa Jepang sudah bertransisi menjadi bahasa Jerman—memutus satu-satunya kesamaan mereka di sini. "Pernah lihat bunga bakung berwarna merah muda? Ya, hal itu benar-benar ada. Tidak ada yang salah dengan namaku. Jadi, hentikan kecurigaanmu padaku tentang apa pun itu."

Sementara Sasuke masih bungkam, Sakura membelit benang pada telunjuknya, kemudian mencoba untuk memutus benang tersebut dalam satu tarikan. Gagal. Memahami gerak-gerik Sakura yang tampak bingung, dia mengambil alih benang tersebut dan langsung memutusnya.

"Danke," bisiknya datar. Sasuke beranjak dari duduk. "Aku masih merasa kau memang menyembunyikan sesuatu, Sayuri. Tapi kau benar. Itu bukan urusanku."

Seiring dengan punggung Sasuke yang menjauh, Sakura seharusnya merasa lega karena apa yang tengah dihindarinya belakangan ini sudah mengibarkan bendera putih. Namun, alih-alih merasa lega, justru dirinya merasa hampa. Dia sadar mungkin ini hanya risiko dari dirinya yang benar-benar akan sendiri di sini. Tetapi, jika hanya itu, seharusnya dia sudah terbiasa. Yang membuatnya tak nyaman adalah apa yang dirasakannya sekarang lebih rumit daripada biasanya.

Sakura mencoba mengabaikan perasaan yang menggelayuti dadanya. Dia menggeleng. Besok pasti sudah lupa, batinnya, atau setidaknya lebih baik seiring dengan waktu berjalan. Dia yakin akan hal itu, karena selama ini memang seperti itulah pola perasaannya.

Yang nyatanya tidak.

.

Intensitas pertemuan tidak sengajanya dengan Sasuke semakin besar, dan hal itu benar-benar mengganggu Sakura.

Sebenarnya, jika memang hanya bertemu—berpapasan—mungkin tidak akan semengganggu itu. Namun, di setiap pertemuannya, Sasuke selalu melakukan sesuatu yang menimbulkan rasa tidak nyaman dalam hati Sakura. Selalu. Meskipun perangainya hampir sama persis, tapi Sakura tak pernah bisa membangun imunitas untuk itu.

Setiap kali berpapasan dengannya, Sasuke selalu menahan pandangan padanya. Sakura bisa saja mengabaikannya dan menganggap hal tersebut sebagai angin lalu. Namun, tatapan tajam yang Sasuke arahkan padanya betul-betul membuatnya tidak nyaman. Dia hafal betul itu bukan tatapan tajam yang pria itu berikan pada orang lain. Yang ini lebih tajam—terkesan mengintimidasi.

Sakura berkesimpulan dari interaksi terakhirnya dengan Sasuke, mereka akan bertingkah seperti seseorang yang tidak pernah kenal satu sama lain. Meskipun selama ini pun perkenalan mereka hanyalah sebatas mengenal lapisan terluar saja. Namun, yang Sasuke lakukan padanya membuat dirinya merasa menjadi pihak yang benar-benar salah. Seolah-olah mereka berhubungan sangat baik sebelumnya, dan Sakura-lah yang merusak relasi tersebut. Padahal jelas-jelas tidak sedalam itu.

Atau mungkin Sakura saja yang terlalu perasa, dalam ukuran yang berlebihan. Dan jika memang dirinya begitu, watak tersebut baru menjadi bagian dirinya akhir-akhir ini, karena seumur hidup dia yakin sekali batasan sifat perasa dalam dirinya hanya sekaliber perempuan pada umumnya.

Hari ini dia tidak bertemu dengan Sasuke dan berharap akan tetap begitu sampai hari selesai. Setidaknya, perasaan tidak nyaman yang masih menjamur di hatinya tidak akan diperbarui secara paksa untuk sementara.

Sakura meraih tasnya dan berpamitan pada beberapa orang yang masih ada di ruangan staf bandara. Dia segera berjalan keluar bandara dengan langkahnya yang santai. Belum sampai dia lepas dari naungan bangunan, langkahnya dihentikan ketika samar-samar terdengar namanya dipanggil di tengah keramaian.

"Sayuri, 'kan?" Dia menemukan Kakashi Hatake, kapten berambut perak dengan masker di wajah sebagai ciri khasnya, berjalan mendekatinya. Sudut matanya sempat menangkap eksistensi Sasuke di sebelah Kakashi dan Sakura mencoba mengabaikannya.

Mata beriris abu-abu gelap Kakashi menahan pandangan pada tas yang Sakura sampir. "Wah, wah, sepertinya kau sudah mau pulang, ya?"

Sakura mengangguk. "Seperti yang terlihat."

"Kebetulan sekali," kata Kakashi. "Mau sekalian kuantar?"

"Kau baik sekali. Tapi, tidak, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri," tolaknya halus. Bibirnya mengulas senyum.

Kakashi menaikkan sebelah alisnya. "Kau yakin? Bukankah kau orang baru di sini?"

Sakura mengangguk. "Benar. Tapi aku belum pernah tersasar," ungkapnya. "Satu kali pun."

"Baiklah." Kakashi mengangguk. Dari sipitan matanya, Sakura yakin Kakashi tengah tersenyum di balik maskernya. "Bagaimana dengan makan malam bersama kapan-kapan?"

Refleks dahi Sakura mengernyit. Sebelumnya dia berpikir bahwa tawaran mengantar pulang dari Kakashi hanyalah tawaran biasa. Namun, dilihat dari ajakan selanjutnya, Kakashi terlihat memiliki intensi lain.

Sakura menahan diri untuk menghela napas keras-keras karena khawatir dianggap tidak sopan. "Aku—"

"Taruhan," suara lain memotong. Tanpa menengok pun Sakura tahu itu adalah suara Sasuke. "Dia pasti akan bilang tidak."

Kakashi tertawa. "Kau meragukanku, Sasuke?"

Rasa risi menyergap seluruh tubuh Sakura. Dia benar-benar ingin segera menjauh dari sini. Dari bandara, Kakashi, dan Sasuke. Terlebih Sasuke.

Sasuke menggeleng. "Dia," sorot matanya tertuju pada Sakura yang masih menolak untuk menatapnya, "adalah tipikal wanita yang akan selalu mengatakan tidak pada tawaran seperti itu."

Cukup sudah. Masa bodoh dengan tata krama.

Ketidaknyamanan yang terhirup ke paru-paru Sakura membuatnya memutuskan untuk membalik tubuh tanpa tedeng aling-aling. Ketukan heels-nya pada lantai terdengar semakin keras karena menjadi lampias emosi dari si pemilik kaki. Tak ada yang salah dalam tutur kata Sasuke. Tidak ada. Sakura memang hendak mengatakan tidak. Yang salah adalah Sasuke yang mengungkapkannya dengan cara seperti itu, tepat di depan wajah Sakura. Seolah-olah memang sengaja memancing emosinya, atau mungkin memang ingin mencercanya.

Sebelum melangkah terlalu jauh, sempat dia menangkap percakapan yang dibuka lagi oleh Kakashi dengan, "Kau sepertinya punya dendam pribadi, eh? Dia pernah menolakmu?" Kemudian ditanggapi, "Semacam itu."

Jawaban Sasuke terngiang di telinganya bahkan sampai dirinya memijak apartemen. Dua kata itu terdengar taksa, entah menjawab pertanyaan Kakashi yang mana. Bisa jadi yang pertama saja, yang kedua saja, atau kedua-duanya. Jika menjawab yang kedua saja, tak ada masalah bagi Sakura. Dia memang pernah menolak untuk membantu Sasuke, akhirnya membantu pun lantaran dipaksa pandangan orang-orang. Tapi yang pertama benar-benar mengganggunya. Pria itu benar-benar menyimpan "semacam" dendam padanya? Atas dasar apa?

Dada Sakura semakin bergemuruh memikirkannya. Argh, rasanya dia tidak ingin berurusan lagi dengan Sasuke. Tidak bertemu sama sekali jika bisa. Sebuah keinginan sederhana yang sifat dari terwujudnya adalah oposisinya. Oleh karena itu, Sakura tak menduga bahwa dia berkesempatan tak bertemu sama sekali dengan Sasuke sampai hari ini, setelah satu minggu terlewati. Bahkan tidak mendengar kabar apa pun tentangnya, yang mendorong rasa ingin tahu (sebenarnya lebih rumit daripada itu, namun Sakura tak ingin mengakui) dalam dirinya.

Fokusnya pada monitor membuyar. Isi kepalanya semakin berputar, membuat letak tubuh dan pikirannya terpisah jauh sekali. Lingkungan bekerjanya masih ramai seperti biasanya, tapi telinganya seolah-olah terkatup hingga dia merasa sepi. Sakura benar-benar tenggelam dalam pikirannya dan kecemasan tak menentu saat ini.

"Sayuri!"

Sakura tersentak karena suara Ino dan tepukan keras di bahunya. Dia mengerjapkan mata dan memegang dadanya erat-erat. Napasnya memburu dan debaran jantungnya meningkat. Dia ingin sekali menghardik Ino karena membuatnya terkejut, tetapi dia tahan. Dirinya sadar Ino tak akan melakukan itu jika dia tidak melamun selagi masih dibubuhi pekerjaan.

"Jangan melamun," tegur Ino.

Sakura masih berkedip beberapa kali untuk sepenuhnya menarik diri dari lamunannya. Dia menghela napas panjang. "Maaf."

Sakura langsung mencoba fokus lagi. Satu menit terlewati sampai ada beberapa orang yang mengisi antrean di depan konter. Setelah konter kosong kembali, tepat sebelum dia tenggelam dalam pikirannya lagi, Ino kembali menegurnya.

"Pikiranmu tidak sedang di sini, ya?" tanya Ino.

Sakura menggeleng. "Tidak. Aku hanya ... sedang tidak fokus saja."

"Kau bisa bercerita padaku kalau mau." Ino menatap mata Sakura dengan sorot meyakinkan. "Tenang saja, ini tidak akan menjadi gosip atau apa pun. Jika aku adalah satu-satunya yang kau beri tahu, maka aku tetap akan menjadi satu-satunya yang tahu."

Sakura tersenyum menahan kikikan. Dia mengerti mengapa Ino sampai bicara begitu. Reputasi Ino sebagai wanita cerewet yang sangat berpotensi untuk membeberkan rahasia sudah begitu dikenalnya. Meski Sakura yakin, kalaupun dia bercerita, Ino pasti akan berpegang teguh pada kata-katanya. Yang biasa Ino sebarkan adalah gosip-gosip lumrah yang perannya hanya meramaikan suasana saja, bukan untuk mencela atau niat negatif lainnya.

"Kau baik sekali," kata Sakura. "Tapi aku benar-benar tidak apa-apa."

"Baiklah. Tapi jangan melamun lagi, Sayuri. Untung saja baru aku yang menegurmu."

Sakura mengangguk. Namun, benaknya mengkhianati anggukan yang baru saja dia lakukan. Eksistensi Sasuke yang hilang sepenuhnya selama seminggu kembali menyusup ke dalam kepalanya. Padahal saat dia menghindari pria itu saja, dia masih sesekali berpapasan dengannya. Namun, kali ini sama sekali tidak.

"Tenang saja, ini tidak akan menjadi gosip atau apa pun." Kata-kata Ino yang tiba-tiba terngiang di telinganya membuat Sakura ingat bahwa Ino selalu memiliki informasi berlebih tentang orang-orang. Dia melirik Ino sejenak. Ada perdebatan batin antara bertanya soal Sasuke pada Ino atau tidak. Dia mengatur napas dan mencoba untuk menetralkan pikirannya. Dan Sakura memutuskan untuk mengupas rasa ingin tahunya melalui rekan kerja di sampingnya.

"Ino," panggil Sakura.

"Ya?"

Sakura meneguk ludah sebelum bertanya, "Kau lihat Kapten Uchiha akhir-akhir ini?" Dia sudah menyiapkan sanggahan bila Ino menuduhnya macam-macam. Apalagi wanita itu pernah membahas gosip yang tersebar tentang dirinya dan Sasuke karena kancing lepas waktu itu. Namun, rasa terkejutlah yang menjadi respons Ino. Dan perasaan tidak enak menyerang Sakura saat mimik muka Ino berubah sendu.

"Kau tidak tahu?"

Sakura menggeleng.

Ino menghela napas panjang. Kesenduan benar-benar mewarnai wajah wanita itu sepenuhnya. Sakura mendadak sulit menelan salivanya.

"Dia ... Kapten Uchiha ..."

Cara Ino bicara yang jauh dari watak cerewetnya semakin membuat perut Sakura terasa teraduk.

"... kecelakaan."

"Apa?!" Mata Sakura melebar. Napasnya mendadak terasa berat.

"Ya. Kudengar ... kudengar dia ...," Ino tampak semakin sulit bicara. Bibirnya bergetar. Wanita itu menarik napas panjang, "ada potensi dia tidak bisa ... menjadi pilot lagi."

Sekujur tubuh Sakura melemas. Dia bisa saja jatuh bila kursi yang didudukinya tak memiliki sandaran. Sakura ingat betul pertemuan terakhirnya dengan Sasuke. Pertemuan yang membuatnya berkeinginan tak berurusan ataupun bertemu dengan pria itu lagi. Dan selama seminggu ke belakang, keinginannya terkabul. Tapi seharusnya tidak seperti ini. Sama sekali tidak seperti ini.

Sakura membekap mulutnya rapat-rapat. Seakan-akan informasi itu baru masuk dicerna otaknya, dia berbisik pada telapak tangannya, "Sasuke ... kecelakaan ...?"

.

.

tbc

.

.

Keterangan:

Danke: Terima kasih

Herr Kapitän: Pak Kapten/Mr. Captain


Note:

Halooo! Kayaknya dari lamanya update makin ketebak, ya, chapter ganjil bagiannya siapa:) hahaha. Kelihatan gitu dari siapa yang gak produktif nulis kemaren-kemaren (...) /dor

Oh, iya, kami mengucapkan terima kasiiih banyak buat yang udah mendukung fic ini sampai bisa dapat penghargaan Best Romance Straight MC di IFA 2016. Tanpa dukungan teman-teman semua kami belum tentu bisa sejauh ini :") It means so much, really. Thank you, thank youu so much!

Dan terima kasih juga untuk yang review, fav, follow, dan yang sudah membaca sampai sini! :)